“Bu, Ayah Mana?” Saat mengunggah gambar buku yang titipan yang kubelikan untuk ponakanku di media sosial, aku menambahkan takarir, “Di Alam Barzah” sebagai jawaban pertanyaan judul buku tersebut.
Adikku bilang aku boleh membaca buku ini terlebih dulu sebelum dibacakan ke ponakanku. Menurutku, ini hanya alasan adikku membelikan buku ini untuk anaknya. Mungkin dia yang ingin membacanya, mungkin ini juga cara dia berduka.
Sebelum peluncuran buku ini, Dar!Mizan membagikan unggahan reaksi teman-teman Penerbit Mizan saat membaca buku ini. Reaksinya sudah pasti berlinang air mata. Aku pikir aku tak akan bereaksi yang sama. Nyatanya banjir air mata juga saat membaca buku ini.
Buku ini mungkin dilabeli dengan buku anak dengan ilustrasi berwarna, tetapi isinya berat untuk jiwa-jiwa yang berduka bahkan untuk orang dewasa. Butuh keberanian untuk mulai membaca dan keberanian untuk menerima reaksi diri sendiri setelah selesai membaca buku ini. Buku ini membolehkan kita untuk berduka, bersedih, dan tertawa bahkan saat kita kehilangan.
Kehilangan orang tua tak akan pernah mudah, baik saat kita masih kecil ataupun sudah dewasa. Kehilangan tetaplah kehilangan. Namun, jangan lupa kita boleh kangen, menangis, atau tertawa saat mengenang kehilangan itu. Begitulah yang kudapatkan saat membaca buku ini. Menyayat hati tapi menghangatkan juga.
*In Memoriam of My Father









