*Alasan Resign bisa di baca disini disini
Agustus menjadi bulan yang bersejarah karena tepat setahun lalu saya memutar haluan, meninggalkan karir yang sudah mapan untuk menjadi ibu Rumah Tangga plus plus. Sehingga saya merasa, di bulan ini saya harus melihat lagi perjalanan saya 1 tahun kebelakang. Kalau dulu hal ini saya lakukan di awal tahun, but from now on, it would be on August…
Sebelum ada yg bertanya, saya jawab duluan ya… Ibu rumah tangga plus plus hanya istilah saya ajah, karena saat ini saya menggeluti network marketing di bidang Kesehatan dan Kebugaran, online dan offline yg juga menuntut perhatian dan waktu. Keluar rumahnya pagi sekalian nganter anak sekolah, terkadang pulangnya sore dipasin sama jam jemput anak pulang sekolah. Dan karena ga ada jam kerja, dirumah juga msh bisa nyambi kerjaan. Ga heran klo terkadang sibuknya ngalah2in pas kerja dulu… Tapi satu hal, jam kerjanya fleksibel bs saya sesuaikan dengan aktifitas utama saya sebagai seorang Ibu.
Berasa ga berasa, eehh udah berlalu 1 tahun ajah… time flies… Hana sdh kelas 3 SD, Danish juga udah naik TK Senior… dan saya? Udah nambah tua satu tahun tentunya hehehe…
So many things happened in the last 1 year. Kembali ke kota asal dan memulai hidup baru bertiga sama anak2 menjadi episode baru yang penuh warna warni. Suami masih disana karena butuh proses yg ga singkat buat PNS ngurus kepindahan. Yang ada istri ikut suami, nah klo suami ikut istri ga bisa jadi alasan kepindahahan haha… Hal ini sdh menjadi pertimbangan sebelumnya, jadi kami terima kondisi ini sebagai konsekuensi dari pilihan. Tapi Alhamdulillah, suami mengunjungi kami lebih sering dari yg kami prediksi sebelumnya plus komunikasi yg intensive via telepon, membuat kami ber3 tidak merasa kehilangan sosok beliau. Dan kepindahan ini juga membuat kami dekat kembali dengan keluarga besar setelah hampir 10 tahun kami terdampar jauh karena pekerjaan… Menjadi hiburan tersendiri berkumpul kembali dengan orang tua, saudara2, dan keluarga besar juga teman2 jaman sekolah dan kuliah yang ketemuannya sengaja ato ga sengaja 🙂
Setahun ini juga menjadi proses pendewasaan buat saya dan juga anak2. Awal2 pindahan, interaksi dengan anak selalu menjadi ajang yg menguras emosi dan stok kesabaran, dan errr.. sampai sekarang sih to be honest. Ternyata emang enakan ngantor daripada ngurus anak dan rumah *hush takut kualat. Mulai dari riuhnya pagi hari, urusan sepele mainan yg ga pernah diberesin, dan lain2 sampai pertengkaran kecil antar saudara. Selain itu, terbiasa dengan asisten sekian lama, membuat saya dan anak2 “manja” dan “tau beres”. Kaget plus capek saat semua urusan domestic dan luar mesti di kerjakan sendiri. Belum lagi anak2 yg msh serba dilayani. Pengennnya bs spt boboi boy yg bisa jadi 3 hehehe. Lebay yah, but it’s true… Hari demi hari saya belajar me-menage segala hal urusan anak dan rumah, dan melakukan semua dengan happy… Klo sempet dikerjain, klo ga ya ntaranlah… ga ngoyo deh klo urusan beberes rumah. Anak2 juga udah belajar “ngurusin diri sendiri” dan mendapat tugas ringan, minimal beresin mainan. Tapi kami msh beradaptasi dengan perubahan2 ini, masih berproses, anak2 ini yg msh susah move on nya. Percaya ga, udah setahun berlalu, anak2 ini msh menolak mandi klo ga pake air anget. Kebiasaan sejak orok soalnya… Daripada tiap pagi tarik2an urat leher, saya ngalah deh… kerjaan ngerebus air menjadi to do list di pagi hari…
Klo dirunut2, rempong pertama kali adalah urusan pindahan… Dan ada yg sampe saat ini belum kelar dilakukan, sejak pindahan sampe sekarang gitu2 ajah… yaitu unpacking barang2 pindahan kemarin. 1 kamar yang harusnya menjadi kamar tidur si bontot menjadi gudang sementara berisi kardus2 karena ga tau barang2 itu mo ditaro dimana hahaha…
Rempong kedua adalah renovasi rumah. Urusan renov merenov ini jd hal yg bothering sangat diawal2 kepindahan kami. Gimana ga, kalo renovasi dilakukan saat kami sdh menempati rumah itu, dengan kondisi rumah dipenuhi barang barang2 pindahan yg berkardus2 hanya menyisakan lorong sempit untuk masuk ke kamar. Saya sendiri menolak untuk ngontrak rumah sementara renovasi berlangsung dengan alasan pindah2an lagi nanti repot. So diterima saja kondisinya. Emang sih penambahan hanya dilakukan di bagian belakang rumah dan penambahan minor didepan dengan menutup teras, tapi tetep ajah rasanya ga punya hidup normal selama proses renovasi berlangsung. Alhamdulillah rumah mertua yg dekat banget sama rumah menjadi pelarian kami, khususnya kalau lagi lapar hahaha..Otomatis rumah hanya berpenghuni di malam hari. Sementara pajang foto before after dulu yak, completion 95% menyisakan tembok pagar yg msh polos 🙂 Tentang renovasi ini akan saya bahas di satu postingan terpisah deh… hehehe…
Rempong ketiga adalah tentang motherhood dan urusan rumah tangga. Seperti yg udah diceritain diatas, ngurus rumah ngalah2in kerjaan kantor. So jangan pernah remehin ibu rumah tangga ya.. apalagi IRT yg juga ngantor hehehe… and I “almost” give up… skrg lagi proses mencari asisten rumah tangga.. Doakan ya semoga bisa dapet. Eneg jg lihat rumah yg berantakan dan cucian yg menggunung. Biarpun seringan pake jasa laundry, tetep ajah cucian menggunung merusak pemandangan. Dalam sehari, 2 anak ini “mengkonsumsi” 3 pasang baju di sekolah plus baju tidur belum dalamannya. So dalam hitungan 3 hari ajah cucian udah numpuk lagi. Curcol ga mutu ya hahahaha… tapi ini juga bukan dalam rangka ngeluh, insyaaAllah semua dijalanin dengan happy
Dan seterusnya, masih banyak lagi hal2 yg saya review dalam setahun ini, misalnya parenting matter, financial planning, business improvement, and many more. Namun karena sifatnya private dan trendnya flat saja, biarlah menjadi catatan tersendiri dulu. Jelasnya, u/ satu tahun kedepan saya memulai lagi dengan menyusun rencana2 baru untuk di eksekusi 🙂
So, menjawab judul postingan ini, Nyesel ga Resign? Saya jawab TIDAK. Indeed, I financially lose but I gain in other aspects. Prinsip saya, tidak ada yg melebihi 100%. Kita dapat lebih disana, disini yg berkurang. Sebaliknya, kita melepaskan yg ini, akan dapat dari yg lain. Semua kembali ke niat, cara kita melihat, menyikapi dan mensyukuri.
Last but not least, harapan saya ,semoga jalan kami kedepan semakin mendekatkan diri kepada-NYA, kepada anak-anak bahwa mereka benar2 bisa merasakan kehadiran ibunya, membawa hal-hal positif dalam kehidupan mereka dan kelak memaknai semua perjalanan yg telah kami lalui bersama dan kami menjadi golongan orang2 yg selalu bersyukur.. Amin…



















