Kemarin-kemarin persepakbolaan Indonesia lagi hits. Yang aku rasakan sih, perhelatan sepak bola di akhir tahun ini rasanya benar-benar menggebu-gebu. Bagai deru dan debu. Setuju?!
Dan kalau ditelaah lebih lanjut, cewek-cewek yang tadinya masa bodoh jadi mendadak heboh. Laksana flu di penghujung tahun, perempuan-perempuan nampaknya tertular virus bola, akhirnya jadi pada demam deh. Apalagi dengan sosok buwley bernama Irfan Bahdim. Ah menurutku sih mukanya mirip abis sama Mike Lewis versi lebih atletis. Walaupun seleraku lebih ke Bambang Pamungkas *elus kumisnya*, namun tak dapat dipungkiri bahwa kebanyakan selera cewek-cewek kita memang bule adanya. Lihat saja saat Indonesia bertanding melawan Filipina. Sosok Irfan Bahdim dilupakan begitu saja, dan semua mata tertuju pada Younghusbands bersaudara serta pelatih mereka – yang pada akhirnya jatuhnya ke pelukan Rahma jua!! #TepokJidat
“Siapa ituu pria yang selain si pelatih? Mengganggu pemandangan!”
Lalu mengapakah terjadi hal yang demikian? Mengapakah para perempuan di sini ngiler sekalee ketika disodori pria bule. Bahkan sepertinya walaupun disodorkan seonggok bule pengangguran yang biasa berseliweran di jalan-jalan atau pusat pergaulan… ngunyah menyan kolak kolangkaling… nggak akan nolak, ciiing! Hayyooo ngakuuu!!! *kedip-kedip mata kiri* *ala-ala Maisy*
“Maissy pun lebih ‘normal’ di masa tuanya”
Ngomong-ngomong tentang bule. Sahabatku, Rebecca, pernah punya cerita dengan seorang bule. Begini ceritanya… *mata menerawang* *menghela napas panjang* *sembari tari kejang* *terbayang kumis mas Bambang*
Kisah ini terjadi di tahun 2006. Dia baru pada lulus kuliah dan langsung diterima kerja di sebuah perusahaan di Bandung, namun harus ditrening di Jakarta (bukannya ‘pake trening’ di Jakarta, melainkan ‘menjalani trening’ di Jakarta! #SundaBocor). Ketemu lah dia dengan seorang bule di sebuah mall. Rebecca lagi curi-curi waktu sebelum balik lagi menuju Bandung.
Yah namanya bule, dari model sampai gembel, dari musisi kenamaan sampai kuli bangunan, penampakkannya sama. Teuteup tampang bule – yang entah bagaimana – dicap tampan. Coba kalau di sini! Tiap profesi, bisa dipastikan beda mukanya. Walaupun badan kuli bangunan lebih oke daripada para artis kenamaan, tetap saja artis terlihat lebih tampan. Padahal yaa komposisi mukanya yaa begitu-begitu saja, ya matanya dua, ya hidung dan mulut masing-masing satu, yaa ada jidat ya ada dagu, namun ada sesuatu yang membuat para bule terlihat lebih menohok kalbu. Bisa jadi karena postur tubuhnya yang tinggi, kulitnya yang lebih terang, bola mata berwarna-warni, atau bentuk hidung yang lebih mancung.
Ambillah contoh Nunung dan Audrey Hepburn. Tengoklah model rambut nona Hepburn yang berponi seperempat dahi. Terlihat lucu lagi seksi. Coba kalau Nunung yang berponi model ini. Nilailah sendiri! *kabur naik vespa* *vespa dari busa* *OVJ sekali, kaka!!*
Sontaklah Rebecca langsung terpana kala pertama berjumpa. Apalagi mereka bertemu dalam keadaan rapuh. Rebecca baru saja berpisah dengan pacar ke-8-nya (sementara waktu itu pada usia yang sama dengannya, aku baru pacaran sekitar… heemmm… *kupas memori*… waktu SMU sekali… setelah itu siii… tak ada lagi… yak, aku hanya pacaran sekali! *keki* *ambil tali* *frustasi*).
Panjang anunya – pendek cerita, mereka mulai berjalan bersama. Jalan-jalan dalam kapasitas kencan… walaupun belum pacaran. (Daaan terlepas dari status pacar, berarti Rebecca telah berkencan dengan non dan/atau calon-namun-tak-jadi pacar sebanyak… puluhan kali! *iris urat nadi* *super iri*)
Si bule berasal dari Polandia. Tak heran apabila doi memiliki nama yang lebih banyak huruf konsonannya. Maka kita panggil saja ia Rhoma, demi mempertahankan nama baiknya serta mempermudah pelafalan nama. Rhoma si orang Polandia adalah pebisnis pohon kelapa. Hmmm… tak heran kalau ia suka merayu bin menggoda! *bersenandung Rayuan POHON Kelapa* *Itu PULAAAUUUU!!!*
Selama perkenalan, Rebecca sering bercerita padaku tentang bagaimana Rhoma memperlakukannya dengan istimewa nan romantis seada-adanya. Yah namanya juga abege umur dua puluh empat, labil berat, hobinya curhat. Tiap ada pria mapan nan belum terikat yang mendekat, apalagi ekspatriat, langsung diembat. Hitung-hitung nabung buat jadi calon pasangan di pelaminan.
Kala itu mereka sudah berkencan kira-kira empat mingguan. Pada awalnya, Rhoma sering bertandang ke Bandung demi menengok Rebecca, sekaligus menyogok sahabatnya – aku – untuk menyetujui hubungan mereka. Ah kala itu sih aku senang-senang saja. *colek tante Fety Vera* *itu SEDANG_SEDANG sajyaaa!!!*… Wong, namanya juga pebisnis, uangnya banyak, jadi kami selalu diajak jalan-jalan ke tempat-tempat yang asyik-asyik, biar klik.
Namun lama-kelamaan, semuanya berangsur BERUBAH!! *ala-ala Kotaro Minami*
“Pahlawan paling tampan… pada masanya”
Setiap keberadaannya ditanyakan, awalnya menghindar, namun lama-lama menghilang dari peredaran. Hanya sepucuk SMS yang diterima Rebecca pada suatu hari yang mengaskan bahwa hubungan mereka now longgar exit (editan: no longer exist).
Usut punya usut sampai kisut, Rhoma telah beralih ke lain hati. Syukur, Rebecca belum diapa-apakan. Alias masih perawan. Rebecca pun terpuruk dalam kesedihan. Musnah sudah impiannya untuk sedikit memperbaiki keturunan. Namun Rebecca adalah gadis yang kuat sekuat pohon kelapa. Tak butuh waktu lama, ia sudah mulai bisa melanjutkan hidupnya. Kami pun mulai nyalon di sebuah salon. *yaiya dong masa di bengkel*
Selain menikmati perawatan, kami juga suka sekali menikmati gosipan yang terjadi di antara kapster. Nah waktu itu, tak sengaja kami mendengarkan perbincangan para kapster salon mengenai bagaimana salah satu rekan mereka ada yang dipersunting oleh seorang bule. Kami langsung pasang kuda-kuda nguping. Jangan salah! Keahlian seperti ini serumit aksi kuda lumping!!
Kisah yang kami tangkap adalah, si kapster itu pada suatu hari menangani seorang bule. Dan karena kapster tersebut sangat oke pelayanannya, dan saat yang tepat pula yang mempertemukan mereka, maka mereka pun dipersatukan dalam suatu keadaan yang disebut oleh Utha Likumahua sebagai puncak asmara.
Aku mulai berreaksi saat si kapster-ku itu berkata, “Padahal mukanya ga cakep deh! Kok itu bule mau-maunya sih!”
Langsung lah kuajak basa-basi si mbak yang terlihat keki.
“Mba, anu, kami baru saja kehilangan saudara yang katanya diculik oleh Bule, dan sampai saat ini belum kembali…” Tentu saja aku mengarang bebas. “… takutnya dia lah saudara kami yang hilang. Boleh kami lihat fotonya si mba kapster yang dinikahi bule itu?”
Oh rupanya aku memiliki bakat untuk menjadi penulis skrip untuk sinetron.
“Ah masa sih ada saudara mba yang diculik bule?” Si kapster tampak panik.
“Jaman sekarang sih semuanya bisa terjadi, saudari!!” kataku santai. “Bisa lihat fotonya?”
Dengan lugu dan sedikit babibu tanya ini-itu, si mba kapster berjambul lucu yang melayaniku, langsung membuka dompetnya yang ber-merk GUEST berwarna ungu, dan mengeluarkan setumpuk foto koleksinya dari jaman dulu. Ia mencari-cari yang manakah kapster yang dari tadi mereka bicarakan, dan ketemu!
Di salah satu lembar foto studio, ada si kapster dan beberapa perempuan lainnya sedang difoto dengan beragam gaya manis manja… termasuk di sana ada gambar si kapster bahan gosip barusan.
“Yang ini, mba,” katanya menunjuk ke salah satu wajah yang bahkan aku sama sekali tak mengenalnya.
“Ooooh bukan yang ini saudaraku, mba. Makasih yaaa! Terusin deh pedikurnya!”
Aku pun menangkap si mba memberikan ekspresi ‘saudaranya diculik, kok nampak santai-santai saja sih? Sempat-sempatnya pedikur pula!’. Namun ah, santai sajya! *ongkang-ongkang kaki* *eh… lagi di-pedi*
Sepulangnya, Rebecca pun bertanya, “Ngapain sih lu pake minta lihat fotonya segala? Kenal juga kagak! Pake ngarang cerita segala pula!”
Dengan rileks.com aku menjawab, “Yaaah hanya penasaran saja, seperti apa sih si bule itu punya selera.”
Namun memang, penampakkan yang kulihat dari kapster ‘beruntung’ itu adalah, coba bayangkan, tak lebih cantik daripada Maudy Kusnaedi, Paramita Rusadi, Ayu Azhari, apalagi Angelina Jolie, atau siapapun artis perempewi yang menjadikan bule sebagai suami. Bahkan tak lebih cantik dari kami. Wajahnya mengingatkanku akan Sumi, yang pernah jadi pembantu di rumah Aki, namun sekarang jadi TKI. Tapi aku yakin pasti dimata si bule, si mba itu cantik sekali.
Tahun demi tahun berlalu. Sampai akhirnya… oh mama oh papa… ternyata oh ternyata… pertengahan tahun kemarin, kami baru saja mengetahui bahwasanya perempuan yang dijalin cintanya oleh Rhoma – sampai membuatnya berpaling dari Rebecca – sekarang telah menjadi istrinya.
Sang wanita, yang dulu profesinya adalah… pembantu rumah tangganya. #Sabaaarrrr!!! #ElusDada #DadaBepe
Yah begitulah sekelumit fakta tentang bagaimana kita memandang kecantikkan / kegantengan. Bule-bule itu bisa saja berjaya di sini. Namun kalau sudah dikembalikan ke negaranya, mukanya sih sama-sama saja dengan semua penduduk di sana. Yang tak cakep di sini, bisa jadi cakep di sana. Namun yang cakep di sana, pasti cakep di sini!! #Eh? #GimanaSih? #KurangKonklusifRupanya