Pengumuman Penting Dengar Hai Dengar!!

Hai guys, girls, and gays… Kan aku pernah mengalihkan wordpress ini menjadi web betulan. Eh namun, kemarin-kemarin tuh sempat main tenis alias maintenance terus. Nah sekarang sudah siap saji tuh!

Jadi, silahkan beralih ke web aku di http://www.ceriterabarbara.com yiiaa. Semua kisah di wordpress ini teralihkan ke sana semua kok. Jangan sungkan untuk cek-bebi-cek ke sana, okay?! 😉

S A L A M A N I S E L A L U N T U K M U

 

Posted in Uncategorized | 1 Comment

Sore Hari Mengenang Whitney Plus Diskusi Mengenai Pengawal Pribadi

Aku kaget sekali pagi-pagi karena sebuah kabar dukacita yang kudapati. Salah satu penyanyi idolaku–yang lagu-lagunya menemani dari masa pra-menstruasi sampai umur segini–telah meninggal dini. Memang aku nggak kenal sii, namun bagaimanapun doi menorehkan sejarah tersendiri dalam aku punya memori–yang walaupun hanya sekelas floppy. Ya, aku bicara tentang tante Whitney.

Beberapa lagunya pernah menjadi jajaran soundtrack kehidupan. Dari percintaan, pertemanan, pekerjaan, sampai ke ranah pendidikan.

I Will Always Love You terngiang-ngiang di telinga saat aku mengamati foto kecengan-seumur-umur yang selama ini kuselipkan baik-baik di dompetku–sebaik aku menyimpan kembalian angkot di balik beha, kalau-kalau ribet ngubek-ngubek tas untuk mencari tempat recehan.

Saving All My Love For You bercerita tentang aku yang menabung kecengan demi mendapatkan pasangan betulan di masa depan. Perbanyaklah kecengan! Cinta berbalas atau tidak itu urusan belakangan!

I Believe In You And Me bercerita tentang aku yang percaya banget sama sang pasangan-masa-depan-yang-belum-ketauan-rimbanya untuk mengarungi kehidupan bersama selamanya–yang sampai sekarang titik terangnya masih remang-remang.

When You Believe bergema di hati saat aku tak pede saat mengerjakan ujian, baik ujian perkuliahan atau–lagi-lagi–ujian percintaan.

Balik lagi ke Whitney, aku inget dulu ada parodiannya The Bodyguard–film hits doi bareng Kevin Costner yang waktu itu badannya rada keker–sebelas-duabelas sama Billy Bujanger. Judulnya Bodi Kuat. Karakter Whitney Houston yang namanya Rachel Marron jadi Reseh Manyun, diperankan sama Titik Dijey. Ah jadulnya aku. Brb bakar ktp.

“The Bodyguard–Kostum nyanyi Whitney Houston yang sebelas-duabelas sama kostum tinju Mike Tyson“

Nah, speaking of witch, kemarin-kemarin aku sempat bersua dengan teman lama, Dina namanya. Masih sama seperti beberapa tahun lalu, ia masih bersama kekasihnya yang tinggal di kota yang berbeda. LDR–Long Desperate Distance Relationship–gitu deh. Dan masih seperti 3 tahun lalu pula, kebiasaan pacarnya belum berubah.

“Aku masih seperti yang duluuu…” Samar-samar sepertinya aku bisa membayangkan pacar Dina menyenandungkan lagu itu.

Setiap 10 menit, akan terdengar bunyi lagu “Lady Entebelum”–ente belum kek, ente udah kek, emang gue urusin–dari hapenya. Di ujung sini, selalu terdengar jawaban yang cenderung sama: “masih sama Barbara”, “masih di tempat makan”, “udah”, “oke”, dan akhirnya “love you too!“–yang sukses bikin aku kejengkang ngangkang ke belakang.

“Memangnya dese nggak kerja?” Tanyaku bingung, setelah dia menutup teleponnya untuk yang ke-empat kalinya dalam kurun waktu 50 menit terakhir.

“Dia kan jajaran direktur…”

Ish pongahnya!! Dalam hati aku nyeletuk sembari garuk-garuk.

“… Jadi kerjaannya, ya kaya bos-bos di sinetron gitu. Tanda tangan, meeting, dan lain-lain. Kaya sibuk, padahal nggak juga.”

“Udah berapa lama sih total pacarannya?” Aku mencoba mengingat-ingat , karena semenjak terakhir aku mengenalnya, pacarnya masih juga orang yang sama.

“Udah 4 tahun lebih.”

“Pake baju, baju singlet… Buju Buset! Dan itu selalu dia lakukan selama 4 tahun ini?

“Itu tuh apa?

“Ya nelepon kamu saban berapa menit!”

“Iya.” Dengan melemparkan ekspresi ‘otot kawat tulang besi… So what, emang kenapa sii?’

“Ga sayang pulsa emangnya?

“Lupa ya? Kan dia anak orang kaya, yang sekarang jadi orang kaya juga. Beli pulsa sih kaya beli ciki.”

“Kalau dia nelepon ngobrol apa ajya?

“Ya standar lah, cuman nanya ‘sedang apa dan dimana’?

“Jadi dari dulu pacar kamu Sammy Simorangkir?”

Dina melongo. Rupanya ia tak mengikuti perkembangan blantika musik Indonesia masa kini.

“Anyway, kamu ga risih dan ribet diteleponin terus begitu?” Tanyaku lagi.

“Nggak dong. Artinya kan dia perhatian. Dia memastikan bahwa aku akan sampai lagi di rumah dengan aman.” Dina menyeruput beras kencurnya. “Gini Bar, setiap perempuan tuh butuh semacam bodyguard sebagai sosok untuk melindungi. Nah, aku sama dia kan jauhan. Jadinya dia menelepon aku setiap beberapa menit sekali itu sebagai kompensasi atas ketidakhadirannya dia dalam keseharianku.” Matanya berbinar. Bibirnya bergetar.

Perbincangan kami yang menuju serius teralihkan oleh seorang ibu-ibu dengan gesper bulu yang menarik perhatian kami. Baru kami mau berkomentar tajam perihal item bulu si ibu, saat itu pulalah teman kami yang lain–Marini–tiba dengan menenteng tas berwarna magenta lucu, Hermes KW satu.

Kami cipika-cipiki. Di belakangnya berdiri mematung seonggok pria berbadan body-builder dengan kacamata hitam berbingkai kuning. Berdiri agak miring tak bergeming.

“Kamu masih ajyah dikawal sama si Macho?” bisikku saat kami lagi cipiki.

“Hihi… iya. Masih belum bosen doi ngintilin gue.”

“Bisa capcus dulu nggak doi? Risih aku gegosipan diliatin sama laki-laki non-banci.”

Setelah Marini mengisyaratkan pria itu agar melipir. Si Macho–begitulah panggilannya–sontak pergi ke pojokan, kadang ke parkiran, menunggu gadis idamannya bergosip lucu bersama teman-teman perempuannya selama hampir 3 jam.

Si Macho memang bukanlah pacar Marini. Bukan pula bodyguard pribadi. Mana mampu dia nyewa orang buat jagain doi? Tasnya saja nyicil tiga kali. Namun si Macho memang menyimpan hati pada Marini. Berhubung si Macho badannya kekar berisi pun bermobil Mersi, Marini tak segan menjadikannya pengawal selama beberapa bulan ini. “Toh dianya yang menawarkan diri!” Serunya tak peduli.

Kesimpulan dari perbincangan kami sore itu adalah namanya perempuan, kepingin juga dijaga dan diperhatikan kan?

Mendengarkan cerita mereka, aku hanya manggut-manggut imut. Tak tahu rasanya di-bodyguard-in. Lagipula aku juga bukan diva. Jadi belum perlu lah sosok seorang bodyguard yang selalu mengawasi kegiatanku yang segudang nan menyita waktu serta energi sehingga butuh suplemen untuk menjaga metabolisme badan. Latihan untuk ngisi iklan infotainment.

Kembali lagi ke topikku semula, tentang aku yang ikut-ikutan berduka atas sang diva yang sebenarnya. Satu lagu Whitney Houston yang jadi lifetime soundtrack aku adalah Run To You. Bagaimana tidak? Dari dulu aku selalu ngejar-ngejar laki-laki lucu dengan hasil akhir yang itu-itu selalu: menanggung malu. Ditolak melulu!! Nyeruput susu, campur lem UHU.

“Lem UHU… Obat jitu saat menanggung malu”

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Mejeng Seksi

Haluuu temans, fans, kecengans, mantans, pria2 tampans, perempuan2 kecentilans… Udah pada punya buku aku belum? (atau paling tidak, minjem lah… atau paling tidak, baca lah… atau paling tidak, ngintip lah…) Ada setetes kabar nih. Di beberapa toko, buku aku pernah mejeng seksi di jejeran Best Seller.

Ada jerapah suka ngiler… Bukannya pongah, bukannya pamer. Cuman kepingin minta doa dan dukungannya semoga aku dan penulis aku (si mbak maknyes yang imut dan lucu) bisa terus mengeluarkan buku tentang aku, supaya bisa selalu menghibur kamu… 🙂

Mejeng Nihyeee… 🙂

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pacaran Serius?! Doesn’t Mean Nggak Bisa Putus!

Hai… Ih udah lama banget ya kita tak bersua di dunia maya? Pertama-tama aku mau ngucapin Minal Aidin wal Faidzin. Maafin kalo aku terlalu ngangenin.

Belum ada perubahan yang terjadi secara signifikan sepanjang Ramadhan (tentu saja aku tak membahas tentang tingkat keimanan). Walau telah lewat lebaran, sudah dua minggu liburan, aku masih saja jomblo menawan. Yang artinya masih pula perawan – yang sebagai gadis metropolitan, bisa dibilang ini menjadi hal yang bisa aku banggakan. Yaa gini-gini juga kan aku masih menjunjung tinggi adat ketimuran. *ini bukan pencitraan*

Namun sepanjang bulan kemarin hingga awal bulan hari ini, ada beberapa kejadian yang cukup mencengangkan.

Di suatu malam nan syahdu, di sebuah kedai yang kurang laku, Nadine, salah satu teman karibku, menghampiriku yang sedang gigit-gigit kuku akibat memandangi yang lagi bercumbu rayu di sebuah bangku, arah jam satu.

“Hosh hosh hosh…” Nadine terengah-engah akibat lari-lari kecil demi menghampiri aku yang lagi duduk tenang ditemani sebuah buku. Buku tentang akuuuu, yang baru terbit ituuuuu!!!! 😀 *sekalian promosi*

 

Ohh Emm Jii – 4L4Y Seksi!! *edisi promosi*

“Opa-opa minum jamu… Kenapa kamu?” tanyaku.

“Bok, masa ya… akhirnya gue putus!!” kata Nadine setenang air tak berriak.

“SUMPAH DEMI APPPAAAAHHH???” eh malah aku yang teriak.

Si pasangan yang lagi bercumbu rayu di arah jam satu melirik keki ke arahku. Suara melengking barusan rupanya cukup mengganggu. Sebagai permohonan maaf, aku mengangguk kecil, bibir tersenyum dikulum, tangan melambai-lambai lunglai… ala-ala Puteri Masako. *puteri Jepang!* *bukan puteri penyedap masakan!*

 

Puteri Masako nan elok jelito… yo yo yo… *ini Jepang apa Padang?*

Setelah suasana kembali terkondisikan – si pasangan kembali mesra-mesraan – aku kembali fokus pada Nadine.

“Akhirnyaaaa…” komentarku antusias.

Sebenarnya mendengar kabar tersebut tidaklah terlalu mengagetkan. Karena jauh-jauh hari sebelumnya si Nadine ini memang sudah sering curhat bahwa ia sedang dalam kondisi gamang mengambang terhadap si pacar – yang sekarang sudah menjadi mantan – yang sudah bersama-sama dengannya selama 5 tahun 3 bulan.

Ia lalu menceritakan proses putusnya kepadaku dengan lancar. Tanpa tersirat sedikit pun penyesalan di matanya. Seakan-akan kehilangan orang yang telah mengarungi kehidupan sayang-sayangan selama sekian tahun bukanlah sebuah beban yang segitunya harus dimasukkan ke dalam hati.

Salah satu pemicu yang menyebabkan Nadine jadi punya setetes pemikiran untuk putus-nggak-putus-nggak sama sang mantan adalah karena ia sedang dekat-dekat gitu sama seorang laki-laki baru. Namanya Alex. Profesinya adalah… Eh aku lupa, apa ya profesinya? Yah sebut sajalah profesinya adalah seorang selingkuhan profesional. Alex dan Nadine baru saja mengenal satu sama lain selama kira-kira setengah tahun terakhir. Namun rupanya enam bulan mampu memampatkan waktu 5 tahun bersama pacar terdahulu menjadi masa romansa yang lebih singkat namun jauh lebih padat. Semacam kejar paket saja.

Padahal seingatku, sebelum Nadine bersua dengan Alex, ia dan si mantan telah memiliki wacana untuk mengikat tali dengan simpul mati, berjanji setia hingga aki-nini. Oh, kurang serius apa coba?

***

Kasus lain yang kurang lebih 90% sama hakikatnya dengan kisah percintaan Nadine – masih seputar PHK, Pemutusan Hubungan Kasih – terjadi pada temanku yang lain.

Kemarin siang, selang dua mingguan dari aku dan Nadine punya percakapan, aku sedang goler-goleran di kontrakan. Ditemani sepiring gorengan, aku membaca kembali buku yang bercerita tentang aku itu lhooo… Nggak bosen-bosen deh bacanya, soalnya lucu-lucu gemes gitu!! Teleponku berdering mengeluarkan musik Pitbull yang sedikit-banyak mirip sekali dengan nuansa musik yang di putarkan di bar dangdut sepanjang Pantura.

Eh nomor Paramita tertera di sana.

“Hawoh!” sapaku sok imut.

“Bar, ketemuan yukk!!”

“Ada apa nih? Kok tiba-tiba?”

“Pingin cerita”

“Tentang Jeki apa tentang Joni nih?” Karena aku tahu, kalau ia sudah bilang kata sandi ‘pingin cerita’, pasti ceritanya tak jauh dari kisah asmaranya. Dan dua orang itu adalah kisah asmaranya akhir-akhir ini.

“Dua-duanya!! Cuss ah! Dimandosseh1 ?”

“Ke kontrakkan aku ajya yah!! Aku soalnya lagi baca buku Ohh Emm Jii… Itu loooh buku yang tentang aku ituuuhh!! Lucu bangett!! Aku udah sampe bagian dimana… “

TUUT TUUUT TUUUUTTT…

Sialan! Teleponnya ditutup.

Oh ya btw, Jeki adalah pacar Paramita selama kurun waktu 5 tahun terakhir. Orangnya luar biasa baik dan penurut. Jarang marah dan selalu memberikan apa yang Paramita minta. Kalau aku lihat mereka berpacaran, lagaknya sudah kaya mau kawin besok. Lengket-lengket minta diselepet. Dan tatapan mereka satu sama lain, sangatlah mencerminkan hubungan yang serius.

Sementara Joni, yah siapa lagi kalau bukan lelaki lain dalam kehidupannya, yang baru saja dikenal oleh Paramita 2 bulanan lalu.

Tak harus melapor ketua RW, karena tak sampai 2×24 jam kemudian, Paramita dan aku pun bersua. Tanpa preambul yang berarti, ia langsung membuka dengan…

“Cyin… masoseh yes… Akikuk Putusanjaya!!” 2

 

Entah siapa itu Putu Sanjaya… Namun kamu tahu dong Putu Wijaya??!

Hening. Perasaanku saat mendengar berita ini sama seperti saat aku mendengar berita dari Nadine.

Dua bulan sebelumnya, Paramita terus-terusan membicarakannya. Betapa si Joni begitu jenaka, betapa perhatian namun juga manja, dan betapa Joni mengembalikan jiwa bebasnya.

Jawabanku pun sama seperti jawaban yang kuberikan kepada Nadine.

“Akhiiirraaattt, cyiiinn…” 3 begitu jawabku. Hanya saja, kali ini lebih tenang, tidak terlalu antusias. Mungkin karena aku pernah menerima curhatan yang persis sama sebelumnya. Jadi responnya anti-klimaks.

***

Putus cinta memang hal yang sudah biasa. Namun akan menjadi luar biasa saat pemutusan tersebut dialami oleh pasangan yang sudah berjalan melebihi masa kerja presiden beserta jajaran kabinetnya – seperdua puluh abad lamanya. Dan yang paling membuatku tak habis pikir adalah, yang menyebabkan putusnya hubungan itu adalah karena adanya PIL – Pria Idaman Laki-laki Lain.

Tanda tanya besar pun muncul di benakku. Kalau mereka bisa saling jatuh cinta 5 tahun sebelumnya dan saling melengkapi selama 5 tahun kemudian, apakah cinta bisa terkikis begitu saja seiring berjalannya waktu? Oh, betapa cinta adalah bangunan pasir, dan PIL adalah ombak kecil-kecil. Bangunan pasir lama-lama tergerus jua apabila riak ombak berhasil mendekatinya.

Tapi ada yang hal yang paling membuatku tak habis pikir. Saat hati menggebu-gebu bersama seseorang yang baru, tak bisakah perasaan itu dirasakan lagi bersama pacar terdahulu??

Hidup memang dilalui banyak pilihan. Lebih baik salah pilih daripada tak ada pilihan sama sekali. Namun sampai kapan kita harus pilah-pilih. Bukankah pada suatu titik, sinetron pun harus berhenti. Kita punya Tersanjung sebagai bukti. (Eh, Tersanjung berhenti di session 4 berapa sih?). Nggak mau kan, hidup jadi seperti sinetron berseri? Hobinya tebar drama sana-sini.

Dunia dirudung mendung, kehilangan Tersanjung 😥

Ah jadi serius gini! Hihihi… Yaudasiiii, urusin diri sendiri ajya kaliiiii!! *pasang bulu mata Syahrini* *lirik kanan-kiri* *siapa tahu lewat laki-laki idaman hati*

CATATAN KAKI DARI EDITOR

1 Dimana

2  Wahai temanku, masa ya, gue putus!!

3 Akhiiiirnya, duhai kawan!!

4 Season

Posted in Uncategorized | 1 Comment

Permisiii… Promosiii…

Hai kawan-kawan…

Sebelumnya di blog ini, aku pernah mengadakan konferensi kecil-kecilan mengenai buku aku yang waktu itu akan segera terbit. Nah setelah melewati berbagai suka dan tawa, maka dengan agak sedikit malu-malu-bangga-jumawa, aku menginfokan bahwasanya buku tentang aku yang ditulis oleh mba Thya ‘Maknyes’ Said sudah mejeng seksi di rak-rak toko-toko buku terdekat di hati Anda. Dengan buku ini pula, aku menancapkan kuku – yang baru di-meni-pedi ini – di dunia modelling, karena yang jadi model di sampul depannya siapa lagi kalau bukan… ehem… uhuk… cyek cyek sacyu duwa cyek saaund… *cek mike dulu* *biar dramatis* … AKKUUUUUUHHH!!!

“Ini cover depannya, kakaaa… Ada komentar Ringgo Agus Rahman-nya, kakaa…”

Info lengkapnya juga bisa dicyek-cyek di sini: http://www.gramediashop.com/book/detail/9789790815384/Ohh-Emm-Jii

Semoga cyeman-cyeman bisa menikmati anuku yang baru dikeluarkan ini. Doakan pula semoga si penulis tak kehabisan ide untuk mengemas ceritaku sehingga cerita-ceritaku bisa berkelanjutan nan berkesinambungan.

Silahkan dibeli, dibeli, dibeli, dan diapresiasi 🙂

P.S: Oh ya kalau teman-teman mau bertemu dengan sang penulis, doi bakalan iksis bingit di acara talkshow bedah buku di Gramedia, Merdeka, Bandung, tanggal 9 Juli 2011. Dateng yiiaaa… 😉

Posted in Uncategorized | 9 Comments

Konferensi Pereus

Hai Temaaann…

Maaf banget yah, aku sudah lama sekali tak nge-blog. Aku sedang tak sempat menulis nih, karena sekarang ini aku sedang dalam peroses pembuatan buku. Bukan aku sih yang membuat bukunya, melainkan seorang penulis bernama Thya “Maknyes” (boleh difollow twitternya: @maknyes, cacaaa!!) yang menjadikan aku sebagai tokoh utama di bukunya. Jadi beberapa waktu belakangan ini aku dan dirinya memang sedang fokus dalam penyelesaian buku ini.

Kesibukanku yang sangat padat ini membuat badanku sering lelah dan metabolisme tubuh kurang sempurna. Jadi, sangat mempengaruhi performa. Maka aku pun menyadari bahwa aku harus menjaga kesehatan secara maksimal dari sekarang! Karena itulah aku memilih $&*%@?+% (disensor… belum dapet sponsor) sebagai penunjang kesehatan pencernaanku. *pesan ini dipersembahkan oleh obat pencahar*

Kembali lagi ke persoalan buku… Buku apa sih yang sedang kugarap? Kok nampaknya sibuk sekali, seperti petani yang sedang menggarap sawah atau orang PDKT yang sedang menggarap jadian. *itu mengharap, ca!* Yang pasti bukan buku Fisika macam Martin Kanginaan atau buku Bahasa Indonesia macam J.S badudu. Yaaahhh… bukuku sih buku ala-ala gitu. *malu-malu ulet bulu*

Buku ini diambil dari kisah-kisah keseharianku, baik yang pernah kuceritakan di blog ini maupun yang masih terselubung dalam tabir kejujuran yang belum terkuak. Kalo dipikir-pikir, memang sih aku bukanlah perempuan super yang menaklukan monster, atau mendamaikan dunia yang keblinger, apalagi bisa terbang ngider-ngider, dan jago berkelahi bak Billy Bujanger. Namun kan sebenarnya aku itu (bisa dibilang agak) pinter walau agak caper.

Aku juga bukanlah Wonder Woman.

“Tadaaa!!! Inilah dia… Wonder Woman pasca muter-muter!!!”

Muter-muter sebentar saja, aku pusing. Apalagi muter-muter agak lama untuk ganti kostum ala Wonder Woman – yang sekarang kepopulerannya sudah tergantikan oleh Wonder Girls. *mendadak nyanyi* *mana suaranyaaa!!* *I said nobody nobody but you…* *prok prok!*

“Ga jauh beda ah… Imutnya sih, aku ga kalah… Yaah, cuman beda nasib ajyah…”

Aku juga bukanlah perempuan terkenal, artis, bintang film, penyanyi, atau apapun yang berlabel selebriti. Aku hanyalah seorang insinyur yang kurang tepat guna karena menjelma menjadi penyiar radio yang lebih suka berkutat dengan manusia seutuhnya ketimbang dengan beton atau baja.

Namun, kok bisa sih kisahku dijadikan buku? Ada penerbit yang tertarik pula!

Yah, mungkin karena aku adalah sosok perempuan Indonesia asli yang mandiri dan percaya diri. Walaupun sebenarnya aku pun memiliki kelemahan (yang salah-satunya ialah pria-pria tampan). Aku juga bisa dibilang tak takut akan apapun (eeeuuhh… kecuali pocong), bisa dilihat dari tempat tinggalku yang terletak di kompleks pekuburan.

Kisah yang diangkat bukan melulu seputar kisah percintaan, namun juga ada kisah persahabatan, kehidupan, seputar pekerjaan, mistis alias setan-setanan, sampai pencitraan. *ehem* *benerin kerah*

Secara keseluruhan, buku ini merupakan kumpulan kisah sederhana dan tak banyak menuntut apa-apa. Kami hanya ingin membuat pembaca tertawa. Atau paling tidak, nyengir-nyengir bahagia. Atau paling tidak, senyum-senyum manja.

Kalau sudah terbit nanti, saya mohooooonnnnnn sekali… plis pada beli! Mana tahu kaan suatu saat aku bisa jadi sekelas Barbara Mori!! 🙂 *khayal babu pagi-pagi*

“Itu loooh… yang main telenovela ‘Ruby’!!”

Posted in Uncategorized | 9 Comments

Jagalah Rahasia Pada Tempatnya

(Cerita sebelumnya…)

Namun, si Dadang main di Malang, si Buluk main di Kenya – lain padang lain ilalang, lain lubuk lain ikannya. Tiap orang pasti punya pertahanan diri yang berbeda-beda dalam menjaga rahasia. Berikut adalah contoh bagaimana mereka mengatasi sebuah keadaan dimana mereka harus menyimpan sebuah rahasia rapet-rapet, serapet khasiat jamu galian singset.

Seperti misalnya teman kuliahku, si Lupita, anak Matematika. Doi ini sebenarnya lumayan bisa dipercaya, hanya saja orangnya pelupa.

Salah satu contohnya adalah sebuah percakapan di suatu senja nan kemerahan, dimana aku sedang ada perlu sama Herman sehubungan dengan dia ngutang. Waktu itu Lupita menyandang gelar sebagai pacar Herman. Maka ia sering dipanggil Herwoman.

Aku: “Hey, Man!!” *lari-lari kecil* *pake high-hills 1*

Setelah aku dan dia berjarak beberapa senti, aku pun mengibaskan rambutku yang harum mewangi, habis dimasker strawberry.

Aku: “Si Herman mana sih? Kok seharian ga masuk kampus?”

Lupita: “Eeeh diaaaa…” *ada setetes jeda* *sambil ngelus dada* *yang seukuran gada*

Wajahnya menunjukkan bahwa ia berpikir keras, seperti mengingat-ingat sesuatu. Bola matanya melirik ke arah kiri, yang artinya ia sedang mengingat-ingat, bukan sedang mencoba mengarang sebuah jawaban.

Lupita: “… Diaa… eeuuh duh gue lupa deh.”

Aku: “Kamu lupa si Herman kemana?”

Lupita: “Nggak. Gue lupa apakah gue boleh bilang-bilang ke elo mengenai dia pergi kemana?” *dengan tetap menunjukkan ekspresi berpikir keras*

Si gadis bernama Lupita ini memang ikon pelupa pada masanya. Karena itu pulalah, namanya diabadikan untuk sebuah istilah ‘lupa’. Jadi kalau mau bilang ‘aku lupa’ jadinya ‘aku lupita’. Naah banci-banci masa kini memodifikasi sehingga terdengar lebih hits cenderung seksi. Untuk kata yang sama ‘aku lupa’, bisa diubah menjadi ‘akikuk lupiting’ atau ‘akika lupitus’ sampai yang tak masuk akal seperti ‘aklamasi lupis manis meringis’. *makin pusing, cyin* *nenggak Combantrin*

Ohya, contoh Lupita di atas adalah perpaduan antara pelupa dan terlalu jujur. Beda kasus dengan temanku yang lain. Namanya Juju Ramadhani. Beliau ini adalah gadis paling jujur dan besar bujur. Berikut adalah penggalan kisah kejujurannya, dimana latar belakang kasusnya adalah aku mencari Herman, masih dalam pengejaran dalam rangka penagihan hutang. Juju Ramadhani satu kelompok dengan Herman di praktikum Mekanika Tanah. Jadi kala itu mereka memang sering bersama-sama.

Aku: “Ju, si Herman mana ya?”

Dengan secepat kilat, tanpa banyak ahm-ehm, ba-bu, pem-ban-tu, ia langsung menjawab,

Juju. R: “Kata si Herman sih lagi ngumpet di himpunan matematika (Jurusan Matematika – red). Dan katanya, gue ga boleh bilang-bilang sama elo.”

Karena kejujuran Juju Ramadhani inilah aku bisa menemukan Herman dan mendapat kembali piutangku yang sudah beberapa minggu belum terbayarkan.

Ada lagi temanku yang jauh berbeda sama Lupita dan Juju Ramadhani, namanya… kita sebut saja dia Mawar. Mawar ini tak seindah dan seharum-semerbak namanya. Dia ini bagaikan bunga bangkai yang senangnya memutar balikkan fakta. Memang sih ia menutup rahasia itu rapat-rapat, namun kan bukan berarti harus mengubah kebenarannya sampai harus mengarang cerita segala.

Contoh kasus nyata adalah saat aku mencari Herman, sebelum aku bertanya pada Juju Ramadhani. Sekedar informasi, pencarian Herman ini memang cukup menyita waktu, sehingga menurutku sih butuh satu bab yang mengulas tentang betapa Herman sulit sekali dicari. Mungkin bisa diberi judul ‘Finding Herman’. *oh sungguh kurang kreatif*

Aku: “Hei Mawar, kamu tahu ga sih kemana si Herman.”

Mawar: “Oooh tau dooong!”

Aku: “Kemana ya si Herman? Susah banget gue mau nagih hutang”

(Dia terlihat bingung… amat sangat bingung… sampai tampaknya ia tak paham apa yang dikatakan olehku)

Mawar: “Tadi gue liat ada di pasar kaget di depan (setiap Jumat ada pasar kaget di depan kampus – red). Tapi kayanya dia jualan kok.”

Pergilah aku ke tempat yang diinfokan oleh Mawar. Kamu harus tahu, lokasi percakapan kami ke depan kampus itu lumayan jauh. Waktu itu aku habis makan. Akibatnya adalah kalikibeun. *Sunda bocor*

Namun sesampainya di sana, aku tak dapat menemukan Herman. Yang kutemukan justru teman kami yang lain yang asyik berjualan kutang di sana. Karena kesal, aku sudah tak mempercayai Mawar lagi. Aku merasa ia telah membohongiku. Aaaahh!! *buang muka* *hapus air mata* *ala-ala Pay Su Cien*

Bahkan aku sampai pada level tak mau lagi bertanya sesuatu padanya, takut jawabannya ngaco.

Namun tak berapa lama kemudian, sebuah kebenaran terkuak. Hh-apakah yang sebenarnya terjadi? Hmm-benarkah si Mawar sejahat yang diduga? Ternyata kenyataan yang terkuak adalah bahwasanya si Mawar ini bukan jahat hatinya, comel mulutnya, melotot matanya, membesar-menyempit lobang hidungnya, bak Leli Sagita di sinetron bulan puasa. Dia… hanya… budek… kupingnya. *memperkecil volume suara* *tertunduk malu* *memilin-milin baju* *ala-ala pembantu*

Dan disinyalir beginilah percakapan berdasarkan versi Mawar.

Aku: “Hei Mawar, kamu tau Aga si temannya Shierman?”

(Shierman adalah nama teman kami… Orang tua mana yang memberi nama anaknya Shierman)

Mawar: “Oooh tau dooong!”

Aku: “Kepalanya Shierman? Suka banget gue mau ngasih kutang.”

(Oh beginilah alasan ia bingung)

Mawar: “Tadi gue liat ada di pasar kaget di depan (setiap Jumat ada pasar kaget di depan kampus – red). Tapi kayanya dia jualan kok.”

Ya iyalah… sudah barang tentu waktu itu aku tak dapat menemukan Herman kala itu. *langsung merasa berdosa*

Memang bermacam-macam tipe temanku berdasarkan cara mereka menangani sebuah rahasia:

  1. Ada yang menjaga dengan sekuat tenaga namun pelupa luar biasa.
  2. Ada yang berusaha mengalihkan issue wacana namun tak bisa bersandiwara.
  3. Ada yang teguh hatinya dalam menjaga rahasia namun latah seada-adanya, yang akhirnya tuh rahasia keluar juga.
  4. Yang paling parah, ada yang tak bisa dipercaya. Dikasih amanat, ia berkhianat. Dikasih Amanda, ia melahap. Apalagi Amanda kukus-keju.

Maka ingatlah kawan!! Agar kita menjadi orang yang terpercaya, camkan!! Bahwa, apapun bentuk rahasianya, kuliah… BSI ajyaaa!!!

“Apapun rahasianya, kuliah… BSI aaajyaaa!!!”

*Catatan kaki dari editor:

1 High-heels

Posted in Pemikiran, Pertemanan | 6 Comments

Namaku Barbara, Sang Penjaga Rahasia

Sudah lama aku tak berkutat dengan tulis-menulis nih. Hal ini dikarenakan kesibukan yang merajalela dari pagi buta hingga malam durjana.

Ngomong-ngomong tentang kesibukkan yang merenggut pengorbanan jiwa dan raga, kiper yang ketampanannya merenggut perhatianku seada-adanya adalah Iker Cassilas dari Espanyola, yang tentu saja merupakan kiper cem-ceman kaum wanita. *elus2 fotonya*

“Ohh Iker… sang kiper yang bikin ngiler”

Eh apa nih? Kok lagi nggak musim bola, ujug-ujug ngomongin kiper? Begini ceritanya… *mata menerawang* *sedikit dipicingkan* *menatap matahari terbenam*

Menurutku kita semua adalah kiper. Gawang yang kita jaga ialah hati kita. Bukan hati – leafer1. Melainkan hati – hurt2.

Menjaga hati itu bisa jadi sama sulitnya seperti menjaga hasrat menggesek kartu kredit yang tak kunjung henti, menjaga mata dari selalu memantau blackberry, atau menjaga pandangan dari pria-pria seksi nan beristri.

Karena itulah benar adanya sebuah lirik hits sepanjang masa tentang menjaga hati, “Jagalah hati jangan kau kotori, jagalah hati lentera hidup ini, jagalah hati jangan kau nodai, jagalah hati cahaya Ilahi.”

Sebuah lirik yang menyejukkan bukan? Namun ada yang lebih sulit dari menjaga hati… yaitu menjaga mulut alias congor.

Makanya tayangan paling laku di tivi adalah apa? Acara gosip dan debat. Karena semua orang hobi ngomong. Makanya aku kurang suka sama cowok yang banyak ngomong, tapi cinta berat sama pria yang biasa ngemong. *terbayang-bayang Adjie Massaid* *mata berkaca-kaca sedikid*

Namun aku mau berbangga hati dulu nih mengenai menjaga mulut. Kalau ditanya siapakah yang mulutnya paling bisa dijaga? Jawabannya adalah aku! Biar tinggi-langsing-cantik begini, aku ini kurang suka bergosip (dalam arti kata mengumbar gosip orang ya, namun kalau mendengar dan mengorek keberadaan sebuah gosip sih hobi seada-adanya). Jadi bisa dibilang, aku ini menyandang predikat ‘orang yang paling bisa menjaga rahasia’. Menyandang gelar demikian, aku merasa buah mangga buah kedondong – si Rangga udelnya bodong – mau ngga sama berondong? – ih bangga doong!

Sebagai seorang perempuan agak mapan yang hidup di daerah papsyupappap metropolitan (howeehyoo), maka tak heran apabila kehidupanku sering dikaitan dengan kegiatan semacam arisan yang berkesinambungan dengan bergunjing ringan sambil menjinjing belanjaan. Nah biasanya di ajang yang kita sebut arisan, banyak perbincangan yang seharusnya disimpan namun jadi bahan obrolan sehingga ratingnya naik ke permukaan.

Tapi ako toh bedeu (dengan penekanan pada huruf ‘b’ dan ‘d’, agar terdengar geol getoh). Aku ini perempuan yang sangat terpercaya dalam hal menjaga rahasia, rendah hatinya, dan jenjang kakinya. Namun oh sayang sungguh sayang, rasa sayang-sayange, yang mengetahui predikatku sebagai orang yang terpercaya dalam menjaga rahasia, hanya aku dan orang-orang terdekatku, yang sayangnya lagi, bisa dihitung dengan jari. Selebihnya semua orang memandangku sebelah mata. Menganggapku sebagai perempuan yang comel, karena bawaanku yang (sedikit) bawel. Mungkin karena efek suara yang menggelegar bagai halilintar, makanya aku dicap pengumbar. Kurang ajyar!!

Sekali lagi dalam kesempatan ini aku mau menghimbau kepada saudara-saudari bahwa aku adalah seperti tersebut di bawah ini (garis bawahi, cetak tebali, cetak miringi, tanda petiki, huruf besar-besari) !!

’I AM A FERRY TRUSSABLE PERSENT IN KIPPING SEACREST’ 3

Kalo bahasa Indonesianya sih kira-kira:

AKU ADALAH ORANG YANG SANGAT BISA DIPERCAYA DALAM MENJAGA RAHASIA’.

Namun, si Dadang main di Malang, si Buluk main di Kenya – lain padang lain ilalang, lain lubuk lain ikannya. Tiap orang pasti punya pertahanan diri yang berbeda-beda dalam menjaga rahasia. Berikut adalah contoh bagaimana mereka mengatasi sebuah keadaan dimana mereka harus menyimpan sebuah rahasia rapet-rapet, serapet khasiat jamu galian singset.

Kecubung berbulu domba… bersambung dulu yaaa 🙂

*Catatan kaki dari editor:

1 Liver

2 Heart

3 I am a very trustable person in keeping secrets

Posted in Kepribadian | 7 Comments

BBB: Balada Bercinta dengan Bule

Kemarin-kemarin persepakbolaan Indonesia lagi hits. Yang aku rasakan sih, perhelatan sepak bola di akhir tahun ini rasanya benar-benar menggebu-gebu. Bagai deru dan debu. Setuju?!

Dan kalau ditelaah lebih lanjut, cewek-cewek yang tadinya masa bodoh jadi mendadak heboh. Laksana flu di penghujung tahun, perempuan-perempuan nampaknya tertular virus bola, akhirnya jadi pada demam deh. Apalagi dengan sosok buwley bernama Irfan Bahdim. Ah menurutku sih mukanya mirip abis sama Mike Lewis versi lebih atletis. Walaupun seleraku lebih ke Bambang Pamungkas *elus kumisnya*, namun tak dapat dipungkiri bahwa kebanyakan selera cewek-cewek kita memang bule adanya. Lihat saja saat Indonesia bertanding melawan Filipina. Sosok Irfan Bahdim dilupakan begitu saja, dan semua mata tertuju pada Younghusbands bersaudara serta pelatih mereka – yang pada akhirnya jatuhnya ke pelukan Rahma jua!! #TepokJidat

“Siapa ituu pria yang selain si pelatih? Mengganggu pemandangan!”

Lalu mengapakah terjadi hal yang demikian? Mengapakah para perempuan di sini ngiler sekalee ketika disodori pria bule. Bahkan sepertinya walaupun disodorkan seonggok bule pengangguran yang biasa berseliweran di jalan-jalan atau pusat pergaulan… ngunyah menyan kolak kolangkaling… nggak akan nolak, ciiing! Hayyooo ngakuuu!!! *kedip-kedip mata kiri* *ala-ala Maisy*

“Maissy pun lebih ‘normal’ di masa tuanya”

Ngomong-ngomong tentang bule. Sahabatku, Rebecca, pernah punya cerita dengan seorang bule. Begini ceritanya… *mata menerawang* *menghela napas panjang* *sembari tari kejang* *terbayang kumis mas Bambang*

Kisah ini terjadi di tahun 2006. Dia baru pada lulus kuliah dan langsung diterima kerja di sebuah perusahaan di Bandung, namun harus ditrening di Jakarta (bukannya ‘pake trening’ di Jakarta, melainkan ‘menjalani trening’ di Jakarta! #SundaBocor). Ketemu lah dia dengan seorang bule di sebuah mall. Rebecca lagi curi-curi waktu sebelum balik lagi menuju Bandung.

Yah namanya bule, dari model sampai gembel, dari musisi kenamaan sampai kuli bangunan, penampakkannya sama. Teuteup tampang bule – yang entah bagaimana – dicap tampan. Coba kalau di sini! Tiap profesi, bisa dipastikan beda mukanya. Walaupun badan kuli bangunan lebih oke daripada para artis kenamaan, tetap saja artis terlihat lebih tampan. Padahal yaa komposisi mukanya yaa begitu-begitu saja, ya matanya dua, ya hidung dan mulut masing-masing satu, yaa ada jidat ya ada dagu, namun ada sesuatu yang membuat para bule terlihat lebih menohok kalbu. Bisa jadi karena postur tubuhnya yang tinggi, kulitnya yang lebih terang, bola mata berwarna-warni, atau bentuk hidung yang lebih mancung.

Ambillah contoh Nunung dan Audrey Hepburn. Tengoklah model rambut nona Hepburn yang berponi seperempat dahi. Terlihat lucu lagi seksi. Coba kalau Nunung yang berponi model ini. Nilailah sendiri! *kabur naik vespa* *vespa dari busa* *OVJ sekali, kaka!!*

Sontaklah Rebecca langsung terpana kala pertama berjumpa. Apalagi mereka bertemu dalam keadaan rapuh. Rebecca baru saja berpisah dengan pacar ke-8-nya (sementara waktu itu pada usia yang sama dengannya, aku baru pacaran sekitar… heemmm… *kupas memori*… waktu SMU sekali… setelah itu siii… tak ada lagi… yak, aku hanya pacaran sekali! *keki* *ambil tali* *frustasi*).

Panjang anunya – pendek cerita, mereka mulai berjalan bersama. Jalan-jalan dalam kapasitas kencan… walaupun belum pacaran. (Daaan terlepas dari status pacar, berarti Rebecca telah berkencan dengan non dan/atau calon-namun-tak-jadi pacar sebanyak… puluhan kali! *iris urat nadi* *super iri*)

Si bule berasal dari Polandia. Tak heran apabila doi memiliki nama yang lebih banyak huruf konsonannya. Maka kita panggil saja ia Rhoma, demi mempertahankan nama baiknya serta mempermudah pelafalan nama. Rhoma si orang Polandia adalah pebisnis pohon kelapa. Hmmm… tak heran kalau ia suka merayu bin menggoda! *bersenandung Rayuan POHON Kelapa* *Itu PULAAAUUUU!!!*

Selama perkenalan, Rebecca sering bercerita padaku tentang bagaimana Rhoma memperlakukannya dengan istimewa nan romantis seada-adanya. Yah namanya juga abege umur dua puluh empat, labil berat, hobinya curhat. Tiap ada pria mapan nan belum terikat yang mendekat, apalagi ekspatriat, langsung diembat. Hitung-hitung nabung buat jadi calon pasangan di pelaminan.

Kala itu mereka sudah berkencan kira-kira empat mingguan. Pada awalnya, Rhoma sering bertandang ke Bandung demi menengok Rebecca, sekaligus menyogok sahabatnya – aku – untuk menyetujui hubungan mereka. Ah kala itu sih aku senang-senang saja. *colek tante Fety Vera* *itu SEDANG_SEDANG sajyaaa!!!*… Wong, namanya juga pebisnis, uangnya banyak, jadi kami selalu diajak jalan-jalan ke tempat-tempat yang asyik-asyik, biar klik.

Namun lama-kelamaan, semuanya berangsur BERUBAH!! *ala-ala Kotaro Minami*

“Pahlawan paling tampan… pada masanya”

Setiap keberadaannya ditanyakan, awalnya menghindar, namun lama-lama menghilang dari peredaran. Hanya sepucuk SMS yang diterima Rebecca pada suatu hari yang mengaskan bahwa hubungan mereka now longgar exit (editan: no longer exist).

Usut punya usut sampai kisut, Rhoma telah beralih ke lain hati. Syukur, Rebecca belum diapa-apakan. Alias masih perawan. Rebecca pun terpuruk dalam kesedihan. Musnah sudah impiannya untuk sedikit memperbaiki keturunan. Namun Rebecca adalah gadis yang kuat sekuat pohon kelapa. Tak butuh waktu lama, ia sudah mulai bisa melanjutkan hidupnya. Kami pun mulai nyalon di sebuah salon. *yaiya dong masa di bengkel*

Selain menikmati perawatan, kami juga suka sekali menikmati gosipan yang terjadi di antara kapster. Nah waktu itu, tak sengaja kami mendengarkan perbincangan para kapster salon mengenai bagaimana salah satu rekan mereka ada yang dipersunting oleh seorang bule. Kami langsung pasang kuda-kuda nguping. Jangan salah! Keahlian seperti ini serumit aksi kuda lumping!!

Kisah yang kami tangkap adalah, si kapster itu pada suatu hari menangani seorang bule. Dan karena kapster tersebut sangat oke pelayanannya, dan saat yang tepat pula yang mempertemukan mereka, maka mereka pun dipersatukan dalam suatu keadaan yang disebut oleh Utha Likumahua sebagai puncak asmara.

Aku mulai berreaksi saat si kapster-ku itu berkata, “Padahal mukanya ga cakep deh! Kok itu bule mau-maunya sih!”

Langsung lah kuajak basa-basi si mbak yang terlihat keki.

“Mba, anu, kami baru saja kehilangan saudara yang katanya diculik oleh Bule, dan sampai saat ini belum kembali…” Tentu saja aku mengarang bebas. “… takutnya dia lah saudara kami yang hilang. Boleh kami lihat fotonya si mba kapster yang dinikahi bule itu?”

Oh rupanya aku memiliki bakat untuk menjadi penulis skrip untuk sinetron.

“Ah masa sih ada saudara mba yang diculik bule?” Si kapster tampak panik.

“Jaman sekarang sih semuanya bisa terjadi, saudari!!” kataku santai. “Bisa lihat fotonya?”

Dengan lugu dan sedikit babibu tanya ini-itu, si mba kapster berjambul lucu yang melayaniku, langsung membuka dompetnya yang ber-merk GUEST berwarna ungu, dan mengeluarkan setumpuk foto koleksinya dari jaman dulu. Ia mencari-cari yang manakah kapster yang dari tadi mereka bicarakan, dan ketemu!

Di salah satu lembar foto studio, ada si kapster dan beberapa perempuan lainnya sedang difoto dengan beragam gaya manis manja… termasuk di sana ada gambar si kapster bahan gosip barusan.

“Yang ini, mba,” katanya menunjuk ke salah satu wajah yang bahkan aku sama sekali tak mengenalnya.

“Ooooh bukan yang ini saudaraku, mba. Makasih yaaa! Terusin deh pedikurnya!”

Aku pun menangkap si mba memberikan ekspresi ‘saudaranya diculik, kok nampak santai-santai saja sih? Sempat-sempatnya pedikur pula!’. Namun ah, santai sajya! *ongkang-ongkang kaki* *eh… lagi di-pedi*

Sepulangnya, Rebecca pun bertanya, “Ngapain sih lu pake minta lihat fotonya segala? Kenal juga kagak! Pake ngarang cerita segala pula!”

Dengan rileks.com aku menjawab, “Yaaah hanya penasaran saja, seperti apa sih si bule itu punya selera.”

Namun memang, penampakkan yang kulihat dari kapster ‘beruntung’ itu adalah, coba bayangkan, tak lebih cantik daripada Maudy Kusnaedi, Paramita Rusadi, Ayu Azhari, apalagi Angelina Jolie, atau siapapun artis perempewi yang menjadikan bule sebagai suami. Bahkan tak lebih cantik dari kami. Wajahnya mengingatkanku akan Sumi, yang pernah jadi pembantu di rumah Aki, namun sekarang jadi TKI. Tapi aku yakin pasti dimata si bule, si mba itu cantik sekali.

Tahun demi tahun berlalu. Sampai akhirnya… oh mama oh papa… ternyata oh ternyata… pertengahan tahun kemarin, kami baru saja mengetahui bahwasanya perempuan yang dijalin cintanya oleh Rhoma – sampai membuatnya berpaling dari Rebecca – sekarang telah menjadi istrinya.

Sang wanita, yang dulu profesinya adalah… pembantu rumah tangganya. #Sabaaarrrr!!! #ElusDada #DadaBepe

Yah begitulah sekelumit fakta tentang bagaimana kita memandang kecantikkan / kegantengan. Bule-bule itu bisa saja berjaya di sini. Namun kalau sudah dikembalikan ke negaranya, mukanya sih sama-sama saja dengan semua penduduk di sana. Yang tak cakep di sini, bisa jadi cakep di sana. Namun yang cakep di sana, pasti cakep di sini!! #Eh? #GimanaSih? #KurangKonklusifRupanya

Posted in Percintaan | 5 Comments

Kisah Perkecengan #3 – I Sand Massage

Aku baru saja kenalan sama seorang laki-laki. Lebih tepatnya ia lah yang mengajakku kenalan. #JualMahal
Kami bertemu dalam sebuah peluncuran produk dimana aku mengisi acara di dalamnya sebagai MC. Pria itu namanya Joshua. Penampakannya seperti Rangga dalam film Ada Apa dengan Cinta. Rada buleleng cakra – bule cakep – gitu, deh!

Kami bertukar nomor hp. Dan sehari setelah pertemuan kami itu, ia mengirim SMS.
Berhubung bule penampakannya. Jadi biar keren, aku campur-campur sajalah bahasa SMS-ku dengan bahasa Indonesia-Inggris.

Joshua:
“Hai Barbara, how are you doing? :)”

Aku:
“I am writing, Joshua. Apa kabar nih? :)”

Joshua:
“Eh maksudnya aku tadi nanya kabar kamu. Aku lagi nganggur nih, lagi ga ada kerjaan. Gapapa kan aku sms?”

Aku:
“Oh it’s find! You can sand me massage every time you won’t :)”

Eh kok lama ya balasannya? Kira-kira sejam kemudian ia baru membalas SMS-ku lagi. Eeuuh… sebenarnya aku sih yang meng-SMS-nya lagi. #GundahGelisah #MulaiJualMurah

Aku:
“Hai Josh, are you ok? Kok ga replay2 lagi sms aku?”

Seperempat jam kemudian (lagi-lagi aku meng-SMS-nya duluan). #KasihDiskoun #PenawaranAkhirTahun

Aku:
“Ih kok ga dibalas2 sih SMS-ku?”

Joshua:
“Eh maaf, Barbara… maaf, aku tadi ngeliat kecoa, jadi aku ribet ngusirnya. Aku benci kecoa!”

Aku:
“Oh cookroach? Kok kamu benci sama kecoa sih? Hihi kamu lucu deh! You are fund :)”

Setengah jam kemudian (setelah aku miskol). #MulaiGratisan #EfekPenasaran

Joshua:
“Eh Barbara, SMSannya udah dulu ya. Aku ribet banget nih. C U when ICU!!”

Aku:
“Hah? Kita ketemu di ICU? Siapa yang sakit?”

Namun ia tak membalasnya lagi. Bahkan ia tak pernah menghubungiku lagi, sampai saat ini. Kenapa ya, Sodara-sodari? 😦 #Frustasi #AmbilTali

“Aaahh… Daripada #AmbilTali mendingan #MetodeRelKeretaApi”

Posted in 30 Hari Menulis, Perkecengan | 3 Comments