
“Those who cannot change their minds cannot change anything.” — George Bernard Shaw
Saya tuh dulu nggak suka sambal. Padahal saya orang Jawa Timur, yang mayoritas makanan khasnya pasti melibatkan cabai dalam jumlah banyak. Malah ada stigma yang mengatakan bahwa lidah Jawa Timur tuh kalau nggak nemu pedes, nggak sreg. Sayanya malah ‘durhaka’, memusuhi sambal. Hahaha
Ibu saya, penggila sambal kelas berat. Bisa tuh beliau makan sambal dengan rawit segenggam. Nggak dihitung jumlahnya pokoknya asal cawuk (mengambil dengan cara meraup), baru deh pedesnya ‘pas’. Dulu waktu kami masih lengkap tinggal serumah, setiap beliau masak, biasanya ada sambal di cobek terpisah. Yang cabai rawitnya cuma 1-2 biji, buat saya dan bapak saya. Resepnya dikasih bawang atau tomat. Kata ibu saya, “Sambelnya orang sakit”. Itu pun kami masih sering kepedesan. Saya dulu kalau sok-sokan pengen makan pedas, ngambilnya cuma sekuku kelingking. Hahaha.
Sejak pindah ke Depok delapan tahun lalu, entah kenapa saya malah jadi kangen sama yang pedas-pedas. Itu aneh banget buat saya, karena dulu, cabai bubuknya Indomie aja tuh bisa bikin saya berlinang air mata. Serius, nggak lebay, saya dulu secupu itu. Hwahaha. Kalau makan gorengan, rawitnya ditutul-tutul, udah langsung jadi sugesti kalau itu pedas. Nah, begitu menghabiskan waktu hampir setahun di Depok, saya mendadak bisa dengan pede bilang bahwa nggak ada sambal yang pedas di sana. Makan ayam bumbu balado ataupun cabai hijau, blas nggak ada pedes-pedesnya. Sampai saya suka minta ditambahin sambal lagi ke ibu warung biar lebih menggigit pedasnya. Tapi tetap saja, sepedas-pedasnya sambal di Depok/Jakarta, nggak ada yang bisa bikin kuping saya berdenging seperti ketika makan sambal ulegan ibu saya atau ibu-ibu dari Jawa Timur lainnya. Sebutlah ini kesukuan buta, tapi urusan makanan, nggak ada yang bisa ngalahin gurih pedasnya Jawa Timur! (*pernyataan ini dibuat dengan kesadaran penuh bahwa ada kemungkinan saya ditimpuk penggemar berat Nasi Padang, yang fyi, saya kurang doyan)
Waktu pulang ke rumah untuk libur semesteran, yang saya comot pertama kali dari hidangan di meja makan adalah sambal. Tiap mau bungkus makanan dari luar pun, saya request yang pedasnya sedang (maklum, masih pemula, nggak sanggup kalau ikut levelnya Ibu saya). Ibu saya sampai bengong.
Pernah suatu malam, sepulangnya dari tempat teman, saya masuk dapur pas ibu dan adik saya lagi makan nasi goreng. Kebiasaan ibu saya, kalau habis bikin sambal bajak (sambal yang bahan-bahannya digoreng setelah diuleg), wajannya dipakai untuk membuat nasi goreng buat “membersihkan” sisa-sisa sambal. Otomatis rasanya pasti jadi macam nasi diurap sambal. Jadi seperti biasanya pula, ibu saya langsung wanti-wanti, “Kamu udah makan? Yang di piring itu nasi goreng sambel, puedes lho! Kamu ambil sayur yang di mangkuk aja, lauknya juga masih ada kok.” Template omongan beliau karena tahu anak sulungnya ini rada cemen soal sambal…. dulu, sebelum Negara Api Warung Tegal menyerang.
Dengan cuek, saya makan sesuap nasi goreng keramat tersebut. Lalu sesuap lagi, dan lagi, dan lagi…
“Pedes opo, nggak blas ngene kok,” protes saya karena merasa tertipu dengan rasa gurih biasa ala nasi goreng Jawa pada umumnya.
Ibu saya mendelik. Pasalnya, beliau yang jagoan sambal saja sudah bolak-balik ambil tisu buat mengelap keringat dan hidung yang berair.
“Kok tumben kamu sekarang kuat makan sambel?!” tanyanya dengan raut bingung. Saya juga nggak tahu gimana jawabnya…. Wong sampai sekarang saja saya juga sering takjub sama upgrade kemampuan indera pengecap saya.
Sejak itu, ibu saya jadi hobi nyangoni saya sambal bawang buatannya tiap saya balik ke perantauan. Pedasnya subhanallah…. (Kalau mau, bisa pesan ke saya, satu toples kecil, Rp 15.000 saja *malah promosi)
Dari kondisi itu, saya jadi sadar satu hal: selalu ada perubahan. It’s the only constant in life, kalau kata Heraclitus. Kalau sampai ada orang yang bilang bahwa dia tidak pernah mengalami perubahan, kemungkinannya adalah dia orang yang naif, atau dia orang yang malas, atau dua-duanya. Selalu ada proses yang membuat kita tak lagi sama dengan diri kita dahulu. Kalau kamu termasuk orang yang fokus pada hasil, ya wajar sih kalau kamu menganggap bahwa perubahan tak selalu nyata. Padahal, bisa jadi dalam proses itu ada hal-hal yang dirombak total. Tatanan kosmos saja bisa berubah dalam satu milidetik lho, apalagi satu semesta? Apalagi perasaan saya terhadap kamu? Eh.
Kata W. Somerset Maugham, “If you don’t change your beliefs, your life will be like this forever. Is that good news?” Hayo, apa enaknya hidup lempeng melulu nggak ada tanjakan atau belokan? Perubahan membawa perbedaan. Itu bagian dari kehidupan. Kalau ngotot semuanya harus serba sama, bisa jadi semesta ini nggak ada, dinosaurus nggak akan punah, Indonesia nggak akan jadi republik, kita nggak akan berantem atas nama demokrasi. Big Bang was really a good thing, Dude. Kalau nggak, kamu mana bisa ketemu saya di luar alam ruh? :’)
Intinya, kalau seseorang yang tadinya antisambal saja bisa berubah jadi penggemar sambal, berarti yang awalnya musuhan bisa juga berteman ‘kan? ………Eh, apa mungkin lidah saya saja yang jadi kebas kebanyakan makan micin selama jadi anak kosan ya? 
P.S. Hari ini, saya juga berhasil nonton satu video labah-labah imut edisi Natal lho. KEAJAIBAN PERUBAHAN! (meskipun waktu mencoba nonton untuk yang ketiga kalinya, saya nyerah)