Little Did You Know

To whom it may concern…

You might think that my silence is a punishment, that I was rage and trying to keep you away because you did me wrong.

But little did you know, I might have a confession later, about the thoughts of running to you and fall to your arms, about the nights of talking to you without any fear and worries, about the days when you stay still next to me and listen to all my cries.

Little did you know, you have probably got me high without I even noticed.

Until now.

I have faced the scariest time of being ignored and being forgotten, that it changed some parts in my heart. The most important bits.

But I also know the value of standing tall. About waiting for yourself and healing your own wounds. Fixing your broken heart is encouraged by forgiving your own thoughts.

And so I am taking my time. To settle the pain. To accept me for who I am, the one you love. To be able to see myself as what you put in your eyes.

Little did you know, I want to give you our happiness.

So let me away for a while. For later, I can come back to you, as you did to me before.

Don’t be sad. Let’s be happy together.

 

*

Last Note From 2016

happy-new-year-4

When I wrote this first paragraph, I was eating a slice of chocolate cake alone, at the corner of an open lounge in one of the mall in Yogyakarta—the city that most people relate to thousands of memories.

As I slurped my iced coffee, I started to think about this year that soon will pass. 2016. What a year.

We said it’s a hard year, for so many violence and sadness and hatred were spread almost everyday. It’s like there was no space for us to take a very deep breath of relieve. But was it?


For me, 2016 was begun with a wave of dark feeling. I just broke up with someone I thought would’ve been my last. I didn’t say it’s a mistake, but the pain was real. For someone who has an issue with anxiety and depression like me, it was really a big deal. Months after, the pain was never really gone, but I got companies. And for that, I was very thankful.

I joined a youth community called TEDxTuguPahlawan and it was as if God really put me there to find “people of my kind” with the similar interests and ideology. And with them, I realized that sometimes in life, the chemistry among strangers does exist, and you can be best friends in a split of second, then you will prove that soulmates are not always in a form of lovers. They are one of the best thing that ever happened to me this year 🙂

For some reasons, I was also pushed (kicked, exactly) to get out of my comfort zone. Or was it my uncomfort zone…? Then I also realized, the people you thought you knew pretty well, might have been the reason you can hardly be happy. Pay attention to how they act when they’re near you, and how they talk about you behind. See carefully about how they treat you when you have everything and when you lost everything. It’s quite a sight! I was glad to find the courage for taking myself away from their negativity. It’s a matter of time though. Someone once told me, “You overthink too often, and you’re lack of confidence, that’s why you become very negative.” Dude, trust me, if that particular stressed person hasn’t killed himself because of what you said, then you’re very lucky and unfortunate at the same time.

I found many new friends, and rebuilt myself this year. And for that, I think I know what I want to do for the upcoming year ahead. I believe, most of you also facing the same problem in this strange year, when the closest ones suddenly turned their back on you and confronted you as if you’re the monster they need to destroy. This year, a trust has been a very devilish thing in the world. But please don’t stop doing that, for it might be the key to get a better world ahead.

1. Love deeper
For we have been hurt, but that showed us the truest people who never stop believing in us.

2. Hold no grudge
For we may never forget the feeling, but everyone is a student of life, and as we could be wrong, they can also be better.

3. Be stronger
For ourselves, because if we can’t keep ourselves up, we would never be there for those who’ve been fighting for us.

4. Appreciate more 
For us to respect ourselves more and care about those who want to see us happy. They exist, and we will stand with them like what they did when we’re ground low.

5. Be fearless
For God has put us in a way beyond our expectations, and for such a fate, we need to fear less.

6. Be honest
For people might deceit others and even themselves, but they can’t deny Death. Once it comes, we don’t want to leave any unfinished business behind.


I really wish we could stay together for what comes may. A truly happy new year.

Sincerely yours,
Cintalangitbiru

Henshin!

change

“Those who cannot change their minds cannot change anything.” — George Bernard Shaw

Saya tuh dulu nggak suka sambal. Padahal saya orang Jawa Timur, yang mayoritas makanan khasnya pasti melibatkan cabai dalam jumlah banyak. Malah ada stigma yang mengatakan bahwa lidah Jawa Timur tuh kalau nggak nemu pedes, nggak sreg. Sayanya malah ‘durhaka’, memusuhi sambal. Hahaha

Ibu saya, penggila sambal kelas berat. Bisa tuh beliau makan sambal dengan rawit segenggam. Nggak dihitung jumlahnya pokoknya asal cawuk (mengambil dengan cara meraup), baru deh pedesnya ‘pas’. Dulu waktu kami masih lengkap tinggal serumah, setiap beliau masak, biasanya ada sambal di cobek terpisah. Yang cabai rawitnya cuma 1-2 biji, buat saya dan bapak saya. Resepnya dikasih bawang atau tomat. Kata ibu saya, “Sambelnya orang sakit”. Itu pun kami masih sering kepedesan. Saya dulu kalau sok-sokan pengen makan pedas, ngambilnya cuma sekuku kelingking. Hahaha.

Sejak pindah ke Depok delapan tahun lalu, entah kenapa saya malah jadi kangen sama yang pedas-pedas. Itu aneh banget buat saya, karena dulu, cabai bubuknya Indomie aja tuh bisa bikin saya berlinang air mata. Serius, nggak lebay, saya dulu secupu itu. Hwahaha. Kalau makan gorengan, rawitnya ditutul-tutul, udah langsung jadi sugesti kalau itu pedas. Nah, begitu menghabiskan waktu hampir setahun di Depok, saya mendadak bisa dengan pede bilang bahwa nggak ada sambal yang pedas di sana. Makan ayam bumbu balado ataupun cabai hijau, blas nggak ada pedes-pedesnya. Sampai saya suka minta ditambahin sambal lagi ke ibu warung biar lebih menggigit pedasnya. Tapi tetap saja, sepedas-pedasnya sambal di Depok/Jakarta, nggak ada yang bisa bikin kuping saya berdenging seperti ketika makan sambal ulegan ibu saya atau ibu-ibu dari Jawa Timur lainnya. Sebutlah ini kesukuan buta, tapi urusan makanan, nggak ada yang bisa ngalahin gurih pedasnya Jawa Timur! (*pernyataan ini dibuat dengan kesadaran penuh bahwa ada kemungkinan saya ditimpuk penggemar berat Nasi Padang, yang fyi, saya kurang doyan)


Waktu pulang ke rumah untuk libur semesteran, yang saya comot pertama kali dari hidangan di meja makan adalah sambal. Tiap mau bungkus makanan dari luar pun, saya request yang pedasnya sedang (maklum, masih pemula, nggak sanggup kalau ikut levelnya Ibu saya). Ibu saya sampai bengong.

Pernah suatu malam, sepulangnya dari tempat teman, saya masuk dapur pas ibu dan adik saya lagi makan nasi goreng. Kebiasaan ibu saya, kalau habis bikin sambal bajak (sambal yang bahan-bahannya digoreng setelah diuleg), wajannya dipakai untuk membuat nasi goreng buat “membersihkan” sisa-sisa sambal. Otomatis rasanya pasti jadi macam nasi diurap sambal. Jadi seperti biasanya pula, ibu saya langsung wanti-wanti, “Kamu udah makan? Yang di piring itu nasi goreng sambel, puedes lho! Kamu ambil sayur yang di mangkuk aja, lauknya juga masih ada kok.” Template omongan beliau karena tahu anak sulungnya ini rada cemen soal sambal…. dulu, sebelum Negara Api Warung Tegal menyerang.

Dengan cuek, saya makan sesuap nasi goreng keramat tersebut. Lalu sesuap lagi, dan lagi, dan lagi…

“Pedes opo, nggak blas ngene kok,” protes saya karena merasa tertipu dengan rasa gurih biasa ala nasi goreng Jawa pada umumnya.

Ibu saya mendelik. Pasalnya, beliau yang jagoan sambal saja sudah bolak-balik ambil tisu buat mengelap keringat dan hidung yang berair.

“Kok tumben kamu sekarang kuat makan sambel?!” tanyanya dengan raut bingung. Saya juga nggak tahu gimana jawabnya…. Wong sampai sekarang saja saya juga sering takjub sama upgrade kemampuan indera pengecap saya.

Sejak itu, ibu saya jadi hobi nyangoni saya sambal bawang buatannya tiap saya balik ke perantauan. Pedasnya subhanallah…. (Kalau mau, bisa pesan ke saya, satu toples kecil, Rp 15.000 saja *malah promosi)


Dari kondisi itu, saya jadi sadar satu hal: selalu ada perubahan. It’s the only constant in life, kalau kata Heraclitus. Kalau sampai ada orang yang bilang bahwa dia tidak pernah mengalami perubahan, kemungkinannya adalah dia orang yang naif, atau dia orang yang malas, atau dua-duanya. Selalu ada proses yang membuat kita tak lagi sama dengan diri kita dahulu. Kalau kamu termasuk orang yang fokus pada hasil, ya wajar sih kalau kamu menganggap bahwa perubahan tak selalu nyata. Padahal, bisa jadi dalam proses itu ada hal-hal yang dirombak total. Tatanan kosmos saja bisa berubah dalam satu milidetik lho, apalagi satu semesta? Apalagi perasaan saya terhadap kamu? Eh.

Kata W. Somerset Maugham, “If you don’t change your beliefs, your life will be like this forever. Is that good news?” Hayo, apa enaknya hidup lempeng melulu nggak ada tanjakan atau belokan? Perubahan membawa perbedaan. Itu bagian dari kehidupan. Kalau ngotot semuanya harus serba sama, bisa jadi semesta ini nggak ada, dinosaurus nggak akan punah, Indonesia nggak akan jadi republik, kita nggak akan berantem atas nama demokrasi. Big Bang was really a good thing, Dude. Kalau nggak, kamu mana bisa ketemu saya di luar alam ruh? :’)

Intinya, kalau seseorang yang tadinya antisambal saja bisa berubah jadi penggemar sambal, berarti yang awalnya musuhan bisa juga berteman ‘kan? ………Eh, apa mungkin lidah saya saja yang jadi kebas kebanyakan makan micin selama jadi anak kosan ya? :/


P.S. Hari ini, saya juga berhasil nonton satu video labah-labah imut edisi Natal lho. KEAJAIBAN PERUBAHAN! (meskipun waktu mencoba nonton untuk yang ketiga kalinya, saya nyerah)

Flash Fiction: November Smile

“Are you going to tell them about you and I?”
His crooked smile arched, as if he’s about to burst out laughing yet he tried to keep it down. “Honey, that ‘you and I’, is called ‘us’,” he said. “And yes, of course I will tell them about us.”

Oh God, that was the best thing I’ve heard in these few dark months. I guess rainy days are not that bad at all.

You Should’ve Stayed

Of course it wouldn’t be easy. I never promised you easy. No, I gave you my willing to protect you from anything in the future. So when I changed and you’re scared, I fulfill my duty. To keep you away.

But oh Darling, all you had to do was stay.

Just for your information, how could you not understand that a girl like me is the right one to fight all the storm that might get in your way?

And yes, Darling, all you had to do was stay.

 

The Song Of You

“It only needs one fine music in the right moment to make a heart skips a beat.”

Some beliefs said that every human was born with their own song. Their identity as a single entity in this universe. And maybe that’s why I keep on hearing that one particular song whenever I see you. It’s not about the lyrics at all–since that was about the sorrow and broken things.

But somehow, I feel like the song suits you. Everything I know about you, and anything I don’t about you. Its vibe is connected to you.

And I feel this emotional wave whenever I listen to the song, though we never get any reasonable cause at all to call each other by different names.

You have no single bit of anything I love, but in this world full of idiocy, you’re the less idiot person I’ve ever met. And that’s more than enough for me to like you.

true-color2

Short Story: The Moment

I stared up at the sun

Thought of all of the people

Places and things I’ve loved…

Malam masih belum sepenuhnya pergi. Apakah itu suara adzan? Ataukah dengung puja-puji malaikat subuh? Seingatku, detak jarum jam tak pernah terdengar senyaring ini. Dan jantungku tak pernah sesenyap ini.

You can feel the light start to tremble

Washing what you know out to sea…

Perempuan itu mencintai lautan, dengan segala biru dan pantulan pada bening permukaannya. Menurutnya, warna langit adalah pantulan dari samudera dan bukan sebaliknya. Kehidupan bermula dari sana, dan ia percaya bahwa kita semua kelak akan kembali padanya. Aku bertanya-tanya, apakah kami akan bertemu kembali sebagai ikan dan karang yang saling menemani kelak?

You can see your life out of the window tonight…

Ibuku pernah bercerita, rupa malaikat adalah salah satu bentuk terindah makhluk ciptaan Tuhan. Sayapnya tak terhitung, dan berkilauan seperti ribuan bintang yang dirangkai menjadi satu. Dulu, aku tak pernah bisa membayangkan seperti apa bintang-bintang yang dijadikan satu. Sekarang aku paham. Dari mana Ibuku tahu soal itu?

If I lose myself tonight

It’ll be by your side…

Aku memilihnya dari sekian sosok yang pernah hadir dalam hidupku. Bukan, Tuhan yang memilihkannya untukku. Padahal aku tak pernah bisa membahagiakannya secara utuh. Aku dan egoku. Ah, bahkan ia masih saja bisa melantunkan doa untukku… Kebaikan apa yang pernah kulakukan hingga Kau berkenan memberiku seorang yang mulia ini, Tuhan?

I lose myself tonight…

Nama Muhammad terus terpatri di benakku. Terikat di ujung lidahku.

If I lose myself tonight

It’ll be you and I…

Apakah terlambat jika aku ingin menciummu sekali lagi?

Lose myself tonight…

Ah, penyesalan.

I woke up with the sun

Thought of all the people

Places and things I’ve loved…

Pada suatu petang kami duduk di sebuah taman kota. Aku dan kaki tuaku, yang membuatku jengkel karena menyadari bahwa segala kekuatanku tak mampu bertahan di laju jaman. Kubentak dia karena menggodaku. Wajahnya seketika memucat, senyumnya yang sedari tadi terkembang, menguap begitu saja. Ibu dari anak-anakku memberikan sebotol air untuk kuminum. Gadis itu menghembuskan napas, berjalan menjauh bersama laki-laki yang ditakdirkan menjadi pendamping hidupnya. Aku menelan air dengan rakus, berharap agar kekonyolanku mampu tertelan dan terlupakan.

You can feel the light start to tremble

Washing what you know out to sea

You can see your life out of the window tonight…

Aku sungguh ingin menghabiskan waktu barang sebentar saja untuk bersanding dengan mereka. Mengucapkan apa-apa yang seharusnya kuutarakan sedari lama. Andai saja…

If I lose myself tonight

It’ll be by your side

I lose myself tonight…

Dia tak ada malam ini. Kurasa kesehatannya tak memungkinkan untuk itu. Dan aku lebih khawatir padanya dibandingkan pada tubuhku yang mulai membusuk ini. Sungguh, jika memang jiwaku dapat menebus segala kesalahanku padanya, dapat menggantinya dengan kebahagiaan dan kekuatan baginya, aku ikhlas. Ikhlas.

If I lose myself tonight

It’ll be you and I

Lose myself tonight…

Samar-samar kudengar seseorang membisikkan nama Allah padaku. Aku seperti mendengar suara adzan ayahku di telinga saat pertama kulihat cahaya bumi yang menjadikanku manusia. Dan rasanya baru kemarin aku membisikkan lafadz yang sama pada telinga putri kecilku. Maafkan aku, Anakku. Maaf…

Lose myself tonight…

 

 

=====

For my bestfriend who just lost her father.

Short Story: Unrelate

“Kabar buruk,” ujarnya lewat pesan singkat yang masuk ke ponselku. Aku sudah merangkai sepuluh skenario lanjutan dari dua kata itu, sementara penanda di bawah namanya masih menyala, menunjukkan bahwa ia masih mengetik.

“Aku tahu mengapa kita tak bisa berbicara di telepon kemarin.”

Ah.

“Kenapa, ponselmu kemasukan debu-debu intan?” tanyaku mencoba bergurau.

“I wish! Ternyata, LINE Call diblokir oleh pemerintah di negara ini.”

Aku terpaku di tempatku, sebelum tertawa hebat tanpa bisa kukendalikan.

Kemarin malam kami menghabiskan hampir dua jam untuk mencoba mendengarkan suara masing-masing via telepon. Aku mencoba segala cara untuk mengatasinya, mulai dari menyalakan ulang ponselku, membongkar-pasang kartu teleponku, sampai berdoa pasrah. Pikirku, sinyal di Indonesia lagi-lagi menggagalkan usahaku menjangkau seseorang yang ada di belahan dunia yang lain.

Oh, Tuhan, sungguh aku benci betul hubungan jarak jauh.

(Padahal kami bahkan tak bisa disebut punya hubungan.

Sial.)

Tapi aku terbahak-bahak memikirkan kekonyolan kami kemarin. Betapa aku sebegitu inginnya menyapa pemuda itu, menceritakan perjalananku tempo hari, mencari cara agar ia juga bercerita soal kesehariannya… Dan bagaimana aku bisa menyerah dan memutuskan untuk tidur dengan lelehan air mata kekesalan.

(Kau tahu ‘kan, terkadang kita tak terganggu oleh kupu-kupu di perut. Seringkali, petunjuknya ada pada rasa kehilangan yang kuat di dada.)

Dia sempat berusaha menghiburku kemarin. “Tak apa-apa, besok kita coba lagi ya.” Waktu itu, aku juga terkekeh membaca pesannya. Seolah-olah kami adalah pasangan yang tengah menantikan sebuah keajaiban bagi kami, dan dia tetap ada di sisiku untuk menemani berjuang.

Astaga… Betapa indahnya gambaran itu.

“Are we really so meant to be together that the Government itself interferring our relationship?” selorohnya. Aku tertawa makin hebat.

Relationship, katanya… Andai saja panggilan Love dan Sweetheart yang sering ia tujukan padaku memang bukan sesuatu yang kasual di antara kami.

“Ini semacam Romeo-Juliet versi milenial, ya. Who cares about your last name? We only care about your LINE Calls!” sahutku tak kalah sarkas.

Dan dia tertawa. Aku ingat bagaimana suaranya terdengar seperti kembang api yang memecah di udara bagiku. Dia menyebut namaku melalui rekaman suara.

Sungguh, jika suaranya bisa mewujud menjadi sesuatu yang pejal, aku akan memasukkannya dalam sebuah tabung kaca dan menyimpannya sebagai hartaku yang paling berharga.