Hope for Humanity

Heal the world …
To make it better place …
For you and for me, and the entire human race

There are people dying
If you care enough for the living
Make it better place for you and for me

Lirik lagu Heal the World yang diciptakan pada tahun 1992 oleh Michael Jackson di atas rasanya jadi harapan universal bagi kemanusiaan sepanjang waktu. Begitu pula ketika kita kini menghadapi sick world dengan adanya upaya penghapusan salah satu human race di muka bumi: Palestinian. Race dalam kamus Bahasa Inggris bukan hanya mengacu pada kelompok manusia sekecil “ras” saja, melainkan juga sebesar lingkup “bangsa”.

Jadi, tidak salah jika kita memberi penekanan pada rakyat Palestina saja sebagai sasaran ethnic cleansing oleh Zionis saat ini meskipun mereka sebetulnya merupakan bagian dari bangsa Arab. Toh, bangsa Arab selain mereka kini justru dipertanyakan integritasnya karena dengan power yang dimiliki para pemimpinnya pun, tak kunjung ada sanksi tegas untuk penjajah Israel. Begitu pula rakyat di kelas menengah ke atas yang konon masih ramai memadati restoran-restoran dan tempat perbelanjaan yang diboikot.

Kelompok terhormat seperti pelajar atau mahasiswanya, misalnya di Saudi, juga belakangan dikritisi karena tak ada taring dalam membela Palestina. Hal itu kontras dengan pemandangan di negara barat, yang notabene dihuni mayoritas nonmuslim, tempat kekuatan mahasiswa makin menyala melalui berbagai protes. Segmen pendukung Palestina satu ini yang pada tulisan sebelumnya aku sebut sebagai posisi penting bagi terwujudnya Free Palestine. Mereka memberi harapan besar pada kita terhadap generasi masa depan yang kelak akan menjadi pemimpin dunia. Keluhan-keluhan yang dilayangkan generasi terdahulu kepada generasi Z sebagai generasi manja, mudah baper, dan serba instan mulai bisa dikompensasi dengan aksi-aksi kemanusiaan mereka. The real hope for heal the world.

Walaupun anak-anakku masih jauh dari usia mahasiswa, jujur saja dengan kondisi dunia yang sakit saat ini aku kerap overthinking tentang mereka di masa depan. Bisakah mereka kelak jadi bagian dari orang-orang yang making the world a better place? Bagaimana caranya mendidik kepekaan mereka akan penderitaan manusia lain? Dulu aku sulit untuk mengasosiasikan situasi orang susah di sekitar mereka sebelum adanya krisis kemanusiaan di Gaza. Namun sekarang, aku dipermudah untuk memberikan pengertian dan contoh kepada mereka akan adanya manusia-manusia di belahan dunia lain yang tidak seberuntung mereka. Bahkan, mereka dengan sendirinya sudah hafal dengan “mantra-mantra” yang sering aku rapal seperti:
– jangan sisakan makanan, di Gaza banyak orang tidak makan seharian karena tidak ada makanan
– jangan boros air dan minum air putih yang banyak, di Gaza banyak anak kecil harus mengumpulkan tetes demi tetes air untuk mendapatkan air
– jangan beli produk-produk yang diboikot, lebih selektif dalam memakai uang, bisa jadi uang kita dipakai Amerika / Israel untuk membiayai roket, misil, dan senjata pembunuh rakyat Palestina
– jangan malas mengaji dan menghafalkan Al-Qur’an, di Gaza saja sudah hancur lebur seperti itu masih banyak yang semangat menambah hafalan
dan lain sebagainya.

Semua itu merupakan langkah kecil yang kami lakukan agar dari rumah sendiri setidaknya ada calon-calon pejuang kemanusiaan. Bayangkan jika efek ini dinormalisasi di seluruh keluarga. Semoga kelak masa tua kita, mereka akan bersatu dengan yang beridealisme sama dalam melawan ketidakadilan.

The Cruelest VS Extraordinary People

Jika menilik tulisanku sebelumnya, kita bisa melihat persamaan antara sosok-sosok yang menyentuh hati seperti Pak Purnomo dan Ridwan, yakni kepedulian kepada penderitaan orang lain. Para ODGJ (Orang dengan Gangguan Jiwa) yang dirawat Aipda Purnomo, begitu bapak polisi tersebut juga dikenal, tidak baik-baik saja ketika di jalanan. Mereka terlantar entah sudah berapa lama, dicemooh dan dipandang hina oleh masyarakat sekitarnya pula. Padahal, banyak di antara mereka yang masih mild gangguan mentalnya ketika meninggalkan rumah, tetapi tidak mendapat dukungan moral dari keluarganya sendiri. Sementara itu, sebelum akhirnya mendidikan ponpes Sam’an, Ridwan menyadari bahwa kehilangan penglihatan telah menjatuhkan mental anak-anak tunanetra sehingga ia ingin menyelamatkan mereka.

Demikianlah manusia diciptakan oleh Sang Khalik. Prefrontal cortex, bagian yang paling cepat berevolusi dari otak manusia, membuat kita mampu merasakan lapar dan takut, bahkan menjaga kita tetap hidup. Bagian itu jugalah yang merupakan pusat kognisi manusia dan membedakan kita dengan hewan. Dari sini saja kita sudah punya asumsi bahwa semua manusia seharusnya bisa dengan cepat berempati ketika melihat manusia lain disakiti, apalagi dibunuh secara mengerikan. Okelah, tidak perlu sampai bicara empati. Minimal otak kita langsung mengirim sinyal “takut” atau “ngeri” saat menyaksikan adanya tubuh-tubuh manusia lain diperlakukan secara tidak manusiawi, apalagi ditambah dengan situasi latar yang luluh lantak penuh debu dan puing. Familier dengan itu semua? Sudah lihat juga aneka rupa citra kesakitan dan kematian yang dulunya tak pernah terbayangkan, bahkan untuk sekadar melihatnya dalam film?

Jika iya, berarti kita sama! Kita semua hari ini adalah Palestina, bukan? Semoga pembaca tulisan ini tak ada yang berlagak “tidak tahu” dengan kondisi pembantaian paling kejam di muka bumi seperti seorang spokewoman Israel ketika ditanya wartawan tentang beheaded baby in Rafah. Astagfirullah … belum pernah aku sebaper delapan bulan belakangan ini karena sebuah isu kemanusiaan. Pandemi Covid-19 yang melewati beberapa puncak kekritisan saja sudah cukup membuatku bolak-balik mengikuti seminar kesehatan mental. Ternyata itu semua tidak ada apa-apanya dibandingkan keguncangan jiwa yang kurasakan day by day akibat serangan tanpa henti Zionis kepada warga Gaza.

Ada banyak fakta yang bisa kita argumenkan kenapa genosida di Palestina saat ini–meskipun pihak kontra masih saja mengelak sebutan genosida tersebut–menjadi krisis kemanusiaan terburuk sepanjang sejarah manusia. Dari segi intensitas, korban jiwa yang jatuh, level kehancuran, tersedotnya perhatian warga dunia, bahkan mungkin dari biaya yang dikeluarkan oleh Zionis laknatullah dan sekutunya juga tidak ada peristiwa terdahulu yang bisa menandingi. Parahnya lagi, ada satu hal yang tidak mungkin terjadi dalam perang-perang (oh, maaf, penjajahan) lainnya, yakni tidak ada satu pun kekuatan yang sanggup menghentikan kegilaan tersebut. As many netizens said, the humanity has failed, the world are facing the enemy who are more evil than devils.

Hanya kuasa Allah saja yang mampu membalikkan keadaan di sana. Namun, tidak perlu menunggu kapan saatnya janji itu tiba. Mari kita melanjutkan ikhtiar apa saja yang bisa menyulitkan langkah Zionis untuk mematahkan ketahanan para mujahid dan orang-orang luar biasa di bumi tanah nabi tersebut. Kita semua berhutang budi kepada mereka. Bukan saja karena ketidakberdayaan kita, melainkan juga banyak pelajaran hidup yang kita dapat dari perjuangan mereka, dari kebaikan akhlak-akhlak mereka.

From Ordinary People to The Extraordinaries

Disclaimer: Tulisan ini ditujukan untuk memenuhi Tantangan Mamah Gajah Bercerita edisi Juni 2024
Tema: Kemanusiaan –> Subtema: Tokoh atau Pahlawan Kemanusiaan Versi Saya

Suatu hari, di beranda YouTube-ku muncul rekomendasi podcast dari channel yang aku ikuti. Dalam podcast tersebut, sang host mewawancari seorang polisi yang mendedikasikan sebagian waktu dan—tentu saja–hartanya untuk menampung orang gila di jalanan. Bayangkan, “orang gila” yang inginnya kita hindari sebisa mungkin, entah karena takut atau jijik, justru diajak sang polisi masuk ke rumahnya! Nah, agar kita lebih nyambung tentang polisi mana yang aku maksud, berikut aku sematkan videonya.

Podcast polisi Purnomo yang merawat banyak orang gila di rumahnya

Tahu tidak yang membuatku lebih takjub lagi selama menyimak riwayat polisi tersebut menjadi pengayom orang-orang gila? Sikap istrinya yang taat kepada suami. Meskipun awalnya memberikan respons lazim sebagai manusia normal, beliau akhirnya bisa meluruskan niatnya untuk turut merawat orang-orang gila yang ditemukan suaminya di jalanan, bahkan mengesampingkan rasa sakitnya dari serangan “pasien” yang belum “jinak”.

Hingga kini, Purnomo, nama polisi itu, dan istrinya sudah menampung ratusan ODGJ di rumahnya yang kemudian berkembang menjadi seperti asrama. Para ODGJ tersebut tidak hanya dipungut untuk dirawat, tetapi juga dicarikan keluarganya. Pak Purnomo pun lama kelamaan tidak perlu “berburu” orang gila lagi karena jaringan teman seprofesinya di seluruh Indonesia berkenan membantunya untuk sweeping, bahkan kadang ada permintaan dari masyarakat jika ada ODGJ di lingkungan mereka yang perlu dibantu. Aku yang akhirnya kepo ke channel Purnomo Belajar Baik, dan melihat video-video aksinya, sampai tidak percaya masih ada polisi berhati malaikat seperti beliau di negeri kita.

Pada lain kesempatan belum lama ini, aku menonton sebuah tayangan di televisi tentang seorang tunanetra bernama Ridwan Efendi, yang mendirikan pondok pesantren (ponpes) khusus tunanetra dengan biaya gratis di Bandung. Ponpes tersebut berfokus pada hafalan Al Qur’an dan mengandalkan dana dari donatur saja untuk urusan operasional mereka. Wawancara dengan para siswanya sungguh membuat terenyuh. Banyak di antaranya mereka yang penglihatannya baru hilang ketika beranjak besar (tidak sejak lahir) dan menjadi putus asa dengan masa depannya. Namun, setelah dibimbing di ponpes, persepsi hidup mereka pun bergeser dari hal-hal duniawi menjadi lebih ke akhirat. Mereka pun menemukan semangat untuk kembali meneruskan hidup di tengah keterbatasan.

“Biarlah saya tidak bisa melihat di dunia ini, tetapi saya tidak mau rugi dua kali, dibutakan juga oleh-Nya di akhirat kelak, dijadikan susah.. saya tidak mau. Saya tidak ingin buta hati, jadi saya bersikeras untuk bisa menyelesaikan hafalan 30 juz,” ujar salah seorang santri yang telah menghafal 22 juz.

MasyaaAllah, merinding sekali mendengarnya. Bagaimana dengan aku yang dikaruniai mata normal, tetapi hafalan masih stuck di situ-situ saja? Aku ternganga menyaksikan kecepatan para santri membaca Al Qur’an dalam huruf braille, yang tentunya tidak mudah, bahkan konon kata sang ustaz, butuh waktu setahun untuk bisa terbiasa.

Sosok-sosok seperti Purnomo dan Ridwan Efendi inilah yang bagiku sangat menyentuh sisi-sisi kemanusiaan terdalam di hatiku. Ibaratnya, udah susah sama hidup sendiri, kok mau-maunya ngurusin orang lain yang ga ada hubungan apa pun sama kita, but they’re really existing! Mereka adalah orang-orang biasa yang menjadi luar biasa, mungkin di kalangan penduduk langit dulu, sebelum akhirnya dikenal pula kebaikannya oleh penduduk bumi.

2022 Ternyata Tahun Macam Ini

Adakah yang merasa tahun ini berjalan begitu cepat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya? Makin singkatnya waktu mungkin sudah lama kita sadari, tetapi aku merasa bulan demi bulan pada 2022 berganti lebih tergesa lagi. Bisa jadi, hal itu dipengaruhi oleh kembalinya denyut aktivitas manusia seperti sebelum pandemi sehingga kita macam sedang mengejar aneka kesibukan yang sempat melambat. Nah, bagiku, ternyata tahun 2022 diwarnai oleh kegiatan-kegiatan di bawah ini.

Read the full post »

Pembenci Sama Pentingnya dengan Pencinta

“Kalah itu sama pentingnya dengan menang. Dengan kalah, kita jadi tahu kelebihan lawan dan kekurangan kita apa. Lain kali kita tingkatkan lagi.“

Begitulah nasihat inspiratif pelatih sepak bola anakku ketika tim mereka kalah dalam bertanding. Dibenci orang sama pahitnya dengan kalah, tetapi Jessica Wildlife dalam Medium menulis bahwa haters merefleksikan kekuatan dan kelemahan terbesar kita.

“Karakter kita yang paling menonjol sering kali paling menarik kebencian,” sambungnya.

Bulan November lalu, ada satu momentum yang tidak pernah terbayang akan kualami di usia kepala tiga. Kehidupanku selama ini berjalan damai, penuh cinta dari keluarga dan teman-teman, dan sangat padat oleh kesibukan mengurus anak serta rumah. Aku mencintai kegiatan-kegiatan sosial yang melibatkan diaspora Indonesia atau warga lokal, maka aku bergabung dengan banyak komunitas untuk mewujudkannya.

Read the full post »

Tujuanku Menjadi Sukarelawan Lingkungan

Menjadi green volunteerーkuterjemahkan sebagai “sukarelawan lingkungan”ーsudah lama terbersit di benakku. Sejak awal menginjakkan kaki di Negeri Sakura, selain pengelolaan sampah yang detail, aku penasaran dengan masifnya penanaman bunga di sini. Hampir semua keluarga dan temanku yang pernah datang ke Jepang pun berkomentar tentang bunga-bunga cantik di sini. 

Di tepian jalan, sudut-sudut kota, depan stasiun-stasiun, dan tentu saja taman-tamannya, selalu bisa ditemukan hamparan bunga yang terawat baik. Bukan hanya musim semi saja pemandangan seperti itu ada, melainkan sepanjang tahun. 

Tahun demi tahun berlalu, aku ternyata hanya jadi penikmat keindahan ruang hijau di Jepang. Baru sekitar dua tahun lalu, aku mulai mencoba menanam sesuatu di kebunku. Awalnya, tujuanku merambah gardening adalah agar halaman belakang rumahku tidak sepi dan mubazir. Tren bercocok tanam selama pandemi juga sedikit banyak memotivasiku. Lama-lama, merawat makhluk Tuhan selain manusia itu menjadi panggilan hatiku sesekali. Ada efek healing yang kudapat saat melihat pertumbuhan tanamanku.

Read the full post »

Hukum Lemah, Rakyat Mati Rasa

Sudah lama, kan, enggak dengar berita-berita macam ini? Orang mah udah ngomongin coding (pakai) phyton, ini kok masih tawuran gara-gara bola. Astagfirullah!

Mbak Nisa, temanku satu pengajian yang merupakan istri seorang ekspatriat, mengirimiku pesan singkat di atas sebagai respon terhadap tragedi kerusuhan sepak bola antara Arema dan Persebaya di Stadion Kanjuruhan. Aku yang jauh saja syok, apalagi Mbak Nisa yang baru sehari menginjakkan kaki kembali di negeri sendiri setelah hidup nyaman dan tenteram di Negeri Sakura. Kejadian yang menelan banyak korban tersebut tentu mengguncangkan perasaannya.

Sejak dua minggu lalu, Mbak Nisa sering menyebut-nyebut “NKRI price die” (NKRI harga mati) ketika kami berdiskusi di aplikasi messenger. Dari obrolan kami, tampak bahwa kami sefrekuensi dalam hal keinginan untuk memberikan sumbangsih ke tanah air, tetapi masih dihantui oleh rasa was-was akan birokrasi yang tidak mendukung idealisme dan penegakan hukum yang lemah.

Bagi diaspora yang sudah lama tinggal di Jepang, sebuah negeri taat hukum, wacana BFG (Back For Good) memang menjadi isu supersensitif. Nyali mudah ciut ketika membayangkan harus keluar dari kebiasaan hidup di lingkungan yang aman dan tertib dengan segala fasilitas bonafide.

Belakangan ini, aku sendiri sangat khawatir dengan meningkatnya kasus-kasus kriminalitas yang terasa makin “berani”. Nyawa rasanya kurang dihargai. Jika kita melihat kanal berita terkini, banyak kasus pembunuhan atau penganiayaan yang seolah-olah pelaku mati rasa saat menyakiti korbannya. Sebut saja berita Brigadir J, siswa pondok pesantren Gontor, pemukulan di SPBU Palembang, hingga yang terbaru: KDRT artis berinisial “LK” yang juga membuat bulu kudukku berdiri.

Ada apa dengan manusia-manusia akhir zaman ini?

Semua kejahatan itu mungkin sebenarnya sudah terjadi sejak dulu. Namun, aku mengamini poin yang disebutkan Hotman Paris di podcast Deddy Corbuzier ini.

“Kenapa bisa makin parah? Kenapa bisa makin banyak?” tanya Deddy mempertanyakan keadilan yang makin sulit didapat oleh rakyat ekonomi lemah.

“Ya mungkin karena penduduk makin banyak. Kayaknya kurang perhatian dalam hal penegakan hukum oleh pimpinan kita, baik dalam hal pidana maupun perdata … pengawasan juga kurang … semakin mundur kita!” jawab pengacara kondang itu.

Pernyataan Bang Hotman tersebut seolah memvalidasi keprihatinanku selama ini. Aku merasa di periode kedua pemerintahan Jokowi ini, Ibu Pertiwi terlalu sibuk berbenah secara fisik, tetapi keteteran sekali dalam upaya revolusi mental. Bukankah ketaatan rakyat terhadap hukum berbanding lurus dengan kepercayaan kepada aparat penegak hukum? Lantas, bagaimana jika para aparat itu sendiri ternyata banyak yang kebal hukum dan masih diselimuti mental kongkalikong? Jangan salahkan rakyat apabila rasa kemanusiaan pun perlahan ikut mati.