December 5, 2025

Kenikmatam Ibadah dan Doa

Bismillahirrahmanirrahim, nyimak kajian Habib Novel Alaydrus malam ini insyaAllah membuat fadlil terbuka pandangan terkait ibadah dan doa.

Disampaikan oleh Habib Novel Alaydrus dalam kajian tersebut, kenikmatan ibadah dan doa para alim ulama sesungguhnya terletak pada komunikasi hamba kepada Tuhannya. Panjatan munajat doa tersebut sebagai sarana atau cara hamba agar dapat mendekatkan diri kepada Tuhannya.

Continue reading →
July 25, 2024

Berdamai Dengan Tuhan

Postingan kali ini disebabkan karena membaca status fb salah satu teman yang tengah dirundung duka karena adiknya meninggal dunia.

Masing – masing orang pasti memiliki permasalahan dalam hidupnya. Permasalahan yang mungkin tidak enak dan menyesakkan dada.

Sangat wajar jika seorang kehilangan orang yang disayangi merasakan kesedihan. Kita pasti berpikiran itulah takdir Tuhan. Jika kita merenungkan takdir Tuhan, maka itulah sebenarnya obat dari kesedihan dan sesaknya dada.

Continue reading →
July 25, 2024

Ngaji koq Berbayar, Agama koq Dijual. Guru agama kok narif

Upah Guru Ngaji

Sering sy mendengar kata tersebut terucap ataupun tertulis di masyarakat awam ketika berkomentar terkait aktifitas religius namun berbayar.

Tulisan ini adalah pandangan pribadi saya terkait kata2 diatas.

Saya punya analogi sebagai berikut :

Continue reading →
November 15, 2022

Kisah Habib Ali Al Habsyi

Menyambut Haul Solo
Bagian ke 3
KH. Muhajir Madad Salim

Lebih dari seratus tahun yang lampau, jika al Habib Ali Shahibul Maulid mengadakan Majlis Maulid Tahunan beliau di kota Sewun, maka yang datang hadir di sana lebih dari 40 ribu orang. Jika melihat jumlah penduduk Hadromut di jaman itu, 40 ribu orang itu sudah sangat banyak . Namun yang istemewa adalah cara al Habib Ali menjamu dan menghormati puluhan ribu tamunya itu.

Beliau menggambarkannya begini : “Di hari-hari perayaan Maulid, berkumpul tidak kurang dari 40 ribu orang, dan (meskipun) semua biaya dan nafkah mereka aku sendiri yang menanggung, bahkan sampai soal kayu-kayu bakar akupun sediakan semua untuk mereka” “Tetapi (karena) kami hidupkan agama, kami kuatkan pondasinya, maka Allah menitahkan kepada Dunia : Wahai Dunia … Siapa gerangan yang berhidmah kepada-Ku, maka layanilah dirinya. Namun siapa yang berhidmah kepadamu, maka perbudaklah dirinya”

Pada kesempatan yang lain al Habib Ali pernah berkata : “Aku ingatkan kalian atas nama Allah. Dirikanlah agama. Jika agama kalian tegakkan, maka dunia akan datang sendiri kepada kalian, sebab dunia itu ikut dibelakang agama” “Lihatlah diriku, sama sekali aku tidak pernah pergi (berdagang) ke tempat lain tetapi dihari ini siapakah yang mampu melakukan apa yang seperti aku lakukan ? Bahkan seorang raja sekalipun. ! Siapa sekarang yang mampu menjamu para tamunya, setiap harinya dengan 100 kantong beras dan memotong 200 ekor kambing dalam sehari untuk mereka ?”

Ternyata rahasia kedermawanan al Habib Ali tersebut bukan karena beliau kaya (meskipun memang beliau seorang yang kaya), namun rahasia beliau itu terletak dari keistiqamahannya menegakkan syari‟ah dan agama .

Kita jika ingin mendapatkan maziyyah yang serupa (sesuai dengan maqam kita masing-masing) maka hendaklah meniru al habib Ali. Kuatkan Tadayyun dan ghirah keagamaan kita, maka (tanpa susah payah mencarinya di kantor / pasar) harta dunia akan datang sendiri mengetuk pintu rumah kita .

Dikisahkan oleh Habibana Salim bin Abdullah as Syathiriy, Sang Maha raja Ulama, bahwa suatu hari al Habib Ali kedatangan tamu seorang awam yang miskin. Tetapi si miskin ini sangat cinta dengan al Habib Ali, dan berangan – angan dapat mengundang beliau untuk mampir ke gubuk Reyotnya .

Saat itu dia maju dan berkata kepada al Habib Ali : “Ijinkan saya mengundang Tuan Habib untuk datang kerumah saya dan membacakan Maulid disana”. Habib Ali tahu persis tentang kemiskinan tamunya ini.

Maka beliau berniat untuk menggoda / menjahili si miskin tamunya ini. Kata beliau : “Engkau mengundang aku sendirian itu tidak etis. Biarlah aku bersama anak-anakku, jika engkau membolehkannya .” Si miskin berpikir, jika yang datang hanya al Habib Ali bersama anakanaknya maka dia pikir masih mampu menjamu. Maka dia menjawab : “Baiklah kalau begitu, saya mengundan Tuan beserta anak-anak Tuan untuk datang kerumah membaca Maulid.”

Al Habib Ali berkata lagi : “Nanti dulu, kalau dipikir jika hanya kami yang engaku undang, kami jadi tidak enak hati dengan para Tamu yang ada dirumah kami. Sebaiknya ,selain kami, tamu-tamu itu pun kamu undang saja” Si Miskin tercenung sembari menelan ludahnya.

Dia pikir jika para tamu ikut di undang datangi Maulid, maka jumlahnya bisa puluhan orang. Sedang yang di rumah hanya tersedia makanan perjamuan untuk satu dua orang saja .

Hanya saja sudah kepalang tanggung, si Miskin terpaksa menurutinya . “Baiklah, para tamu itu juga saya undang datang.” Medengar itu al Habib Ali berkata : “Bagaimana dengan para Santri-Santriku ? Apakah tega aku pergi ,membiarkan mereka di pondok sendiri ?” Si Miskin sudah kehilangan akalnya. Keringat dingin sudah membanjiri wajahnya. Jika para Santri Rubath Sewun itu ikut di ajak datang maulid, maka keseluruhan yang datang bisa Ratusan orang.

Saking bingungnya, dia tetap mengiyakan saja apa yang dikatakan oleh al Habib Ali. Kata dia: “Baiklah, saya mengundang Tuan, anak-anak Tuan, tetamu serta murid – murid Tuan untuk membaca Maulid di rumah saya” “Nah, begini kan enak” Kata al habib Ali al Habasyi .

Sementara sepanjang perjalanan dari kediaman Habib menuju rumahnya, si Miskin ini memeras otaknya, bagaimana yang akan dia kerjakan nanti dalam urusan Maulidnya itu .

Di rumah hanya tersedia makana-makanan untuk menjamu satu dua orang saja. Tetapi nanti yang datang al habib Ali beserta rombongannya yang mencapai ratusan.

Sesampainya di rumah, dia cerita “nasib buruknya “itu kepada Istrinya. Namun alih-alih istrinya mau beredia menenangkan pikiran kacaunya itu, istrinya malah marah besar dan memaki-maki dirinya : “Engkau ini bagaimana, Suamiku. Di mana otakmu itu ?!. Engkau undang ratusan orang kemari sedangkan engkau tidak mempunyai apa – apa ?” Si Miskin itu cuma diam saja. Dia pikir, sudah kapalang tanggung. Apa yang akan terjadi biarlah terjadi. Semua sudah dia pasrahkan kepada Allah Ta‟ala .

Namun kebingungan dia hanya berlangsung sebentar saja. Karena tiba – tiba datang beberapa pembantu al Habib Ali menemui dirinya sambil membawa aneka ragam bahan makanan dan uang yang jumlahnya sangat banyak. Mereka berkata : “alHabib Ali titip salam untukmu. Habib kemudian menyuruh menyerahkan barang-barang ini untukmu, agar di jadikan perjamuan di saat maulid di rumahmu” “Alhamdulillah ! “Teriak si Miskin.

“Habib Ali sebenarnya mengerti keadaan memiskinanmu dan merasa senang dengan kecintaan dirimu kepada beliau. Hanya beliau ingin bercanda denganmu saja, sebenarnya!” Pesan penting dari beberapa kisah diatas adalah : Seseorang yang memegang teguh agamanya, maka tidak akan jatuh miskin dan rejeki akan selalu datang sendiri kepadanya, dari mana saja .

Bersambung

====

Tulisan-tulisan ini adalah buah karya dari Kyai Muhajir Madad Salim, semoga Allah panjangkan umurnya dalam kebaikan. Yang biasanya beliau tulis di Facebook menjelang peringatan2 Haul para habaib. Dan Alhamdulillah, ada yang sempat menyimpan tulisan2 beliau.. semoga ini menjadi amal jariah beliau

November 11, 2022

Translator – Guru

Guru tempat bergulirnya ilmu. Beliau Habib Muhammad bin Husein al Habsyi sedang menterjemahkan habib Umar bin al Jailani.

Melihat kejadian ini fadlil kepikiran bisa apa kita tanpa guru – guru kita? Belajar sendiri ototodidak ? Mau belajar mulai dari bahasa arab ? Dari Quran langsung ? Baca Quran aja nda bisa tanpa guru. Begitulah ilmu bergulir dari satu guru kepada murid, murid menjadi guru dan punya murid lagi.

Begitulah gambaran guru daripada seluruh guru yaitu Rasulullah saw yang menjadi guru untuk seluruh sahabat, sahabat menjadi guru dari sahabat setelahnya. Sampai saat ini kita memiliki guru guru untuk belajar mengenal Allah, belajar mengenal Rasulullah saw, bagaimana hidup sesuai dengan ajaran Rasulullah saw.

Guru.

November 8, 2022

Berbuat Baik

Al Isra ayat 7 :

In ahsantum ahsantum li anfusikum wa in asa’tum falaha

artinya Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri.

Jangan merasa kamu beramal untuk orang lain, beramal di jalan Allah sudah dijelaskan oleh Allah, setiap engkau berbuat baik sesungguhnya engkau sedang berbuat baik untuk dirimu sendiri. Setiap amalan yang engkau keluarkan untuk orang lain sebenarnya bisa engkau niatkan untuk kebaikan kebaikan dan hajat hajat mu. Allah yang akan memenuhi hajat dan kebutuhan mu dan jangan harap orang yang engkau beri memberikan balasan sedikitpun bahkan semisal ucapan terimakasih. Yakin Allah yang akan memberikan balasan kebaikan untuk mu.

Hakikat ikhlas, ketika berbuat baik arahnya langsung Allah.

Dipersilahkan memikirkan atau meminta hajat kebaikan atas imbal balik perbuatan baik itu kepada Allah. ikhlas tidak minta imbal balik itu kepada makhluk, tapi kepada Allah Rabul ‘Alamin harus sebesar – besarnya.

Terimakasih ya Allah sudah boleh berbuat baik, Terimakasih Allah sudah bisa berbuat baik.

Tags:
October 27, 2022

Habib Alwi bin Ali Habsyi

HABIB ALWI BIN ALI HABSYI MEMENUHI JANJI MESKI JENAZAHNYA SAJA

Al Habib Alwi bin Ali Al Habsyi Solo.
Beliau adalah putra dari Al Imam Al Allamah Al ‘Aarifbillah Qutbilwujud Al Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi (Shohibul Maulid Simthudduror) dan ayah dari Habib Anis Solo

Continue reading →
October 18, 2022

Alasan Rasulullah saw Memilih Rumah Singgah Saat Tiba di Madinah Pertamakali

Sebelum lahirnya Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam, di Yaman terdapat seorang raja bernama Sa’ad bin Ma’di Karib, panggilannya Tubba (banyak pengikut) karena pasukannya yang banyak. Dia menaklukan banyak negeri dan menyimpan orang kepercayaannya sebagai wakil.

Dia juga berhasil menaklukan Madinah dan menyimpan salah seorang anaknya sebagai wakil. Satu waktu anaknya tersebut terbunuh oleh orang yang tidak dikenal. Tubba marah dan menyerang Madinah.

Continue reading →
March 8, 2022

Tahlilan

Mau tahlilan atau kenduri selamatan berpahala dan tidak melanggar sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Maka mari kita kerjakan ketentuan dibawah ini:

  1. Suguhan selamatan atau tahlilan jangan diambilkan dari uang warisan yang ahli warisnya masih ada anak kecil atau mahjur ‘alaih (termasuk gila). Karena yang demikian, menurut ulama’ Syafi’iyah adalah tidak boleh. Berbeda dengan ulama’ Malikiyah yang memperbolehkan dengan alasan kebiasaan yang menjadi tradisi dikedudukkan seperti ada wasiat dari mayit.
  2. Jangan berlebih-lebihan sehingga rela hutang sana hutang sini demi gengsi semata. Karena ini sudah keluar dari tujuan awal, yaitu mendoakan mayit.
  3. Hidangan yang disajikan kepada tamu tahlilan atau masyarakat hendaklah diniatkan pahalanya juga untuk mayit. Terdapat hadits shahih tentang itu dan bahkan merupakan ijma’ ulama’. Termasuk ijma’ adalah mendoakan mayit.
  4. Menghadiahkan bacaan al-Qur’an dan zikir-zikir kepada mayit dapat sampai kepada mayit menurut mayoritas ulama’ Islam.
  5. Jangan meyakini tahlilan pada hari-hari tertentu, seperti 7 hari, 40 hari, 100 hari, atau 1000 hari adalah datang (tsabit) dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Meyakini meyakini yang demikian adalah bid’ah (makruh), karena takhsis bila mukhossis adalah makruh. Cukup tradisi tersebut dikerjakan karena sedekah dan membaca al-Qur’an atau zikir untuk mayit adalah diperbolehkan menurut ulama’ Ahlussunnah wal Jama’ah serta hari dan waktu bisa kapanpun, tanpa ditentukan dengan keyakinan harus.
  6. Saat mengundang masyarakat hendaklah diniatkan untuk berkumpul membaca al-Qur’an dan zikir bersama-sama. Dan dalil untuk itu sangat banyak. Imam an-Nawawi dalam at-Tibyan telah menjelaskan ini dengan sangat baik.
  7. Bagi yang belum bisa membaca surat Yasin (biasanya masyarakat kita membaca surat Yasin) sebaiknya diganti dengan zikir-zikir yang bisa dihafalnya. Jangan memaksakan jika bacaan Qur’an jama’ahnya masih salah atau belepotan semua.
  8. Dalam Tahlilan jangan dicampuri hal-hal yang berbau bid’ah munkar atau khurafat, seperti harus dengan membuat makanan khusus untuk arwah mayit, melepaskan burung dara yang diikatkan uang pada kakinya dengan karet, meyakini harus disediakan air kembang dan nanti disiramkan ke kuburan mayit yang didoakan, dan lain-lain.
  9. Hormati (jangan memusuhi) sebagian kaum muslimin yang menganggap tahlilan atau kenduri selamatan bukan sebagai anjuran agama selama mereka bisa menghormati dan tidak menyesatkan atau mensyirikkan.
Continue reading →
December 21, 2021

KISAH DUA ULAMA REMBANG, KH. BAIDLOWI LASEM DAN KH. IMAM KHOLIL SARANG

KH. BAIDLOWI LASEM. Tak banyak masyarakat Indonesia yang mengetahui tentang kiprah ulama-ulama Nusantara di Mekkah atau Haramain. Padahal begitu banyak ulama Nusantara yang mendunia karena keluasan ilmunya, bahkan menjadi guru utama di Masjidil Haram. Salah satu di antara ulama-ulama itu adalah Kiai Baidlowi Lasem. Beliau dijuluki Alamu al-Makkiyin, ulama besar Tanah Haramain.

Kiai Baidlowi lahir di Lasem, Rembang Jawa Tengah pada 12 Syawwal 1297 Hijriyah atau 17 September 1880 Masehi. Darah genetiknya masih bersambung dengan Mbah Syambu Lasem (Pangeran Sambo). Nasab beliau yakni Kiai Baidlowi bin Kiai Abdul Aziz bin Kiai Baidlowi Awal bin Kiai Abdul Latif bin Kiai Abdul Bar bin Kiai Abdul Halim bin Pangeran Sambo (Mbah Syambu) bin Pangeran Benowo bin Sayyid Abdurrahman/Joko Tingkir (Sultan Hadiwijaya). Dari nasab ini berarti Kiai Baidlowi masih mempunyai hubungan darah dengan Rasulullah Saw. Sebab, Mbah Syambu adalah seorang Sayyid (keturunan Rasulullah) yang bermarga Azmatkhan.

Daerah Lasem, tempat kelahiran Kiai Baidlowi sejak dulu dikenal sebagai tempat penyebaran agama Islam. Karena itu Lasem sampai saat ini dianggap sebagai salah satu kota santri. Konon, kiai-kiai besar di Tanah Jawa adalah keturunan dari kiai asal Lasem. Mereka tersebar ke berbagai daerah seperti Jombang, Pati, Langitan Tuban, Semarang, Jember, dan lain-lain. Sang ayah, Kiai Abdul Aziz adalah tokoh terkemuka di daerah Lasem, seorang mursyid Thoriqoh Sathoriyyah dan menguasai ilmu Syari’at dan Hakikat, kepadanya lah Kiai Badilowi belajar dasar-dasar ilmu keIslaman.

Continue reading →