Mengintip PR Anak TK di Taiwan

Terhitung dua bulan sudah anak saya sekolah. Seperti dalam tulisan sebelumnya (tullisan pertama, kedua, dan ketiga), anak saya masuk TK yang terafiliasi SD terdekat dari rumah. Sekolah milik Pemerintah sehingga uang sekolahnya banyak disubsidi dengan biaya yang kami bayarkan senilai Rp 1.500.000,- untuk satu semester, sudah termasuk tas sekolah, tiga set tempat makan beserta tasnya, dan makan di sekola (snack pagi, makan siang, dan snack sore). Sungguh ekonomis bukan? Terlebih mengingat anak masuk pukul 7.50 pagi dan pulang 15.50 sore.

Satu kelas campuran sejumlah 14 anak dengan rentang usia anak dari 2 hingga 5 tahun. Ada tiga guru pengampu. Semester ini dibantu mahasiswa magang selama beberapa hari dalam sepekan. Yang menarik adalah anak kecil kami ini juga mendapatkan tugas sekolah alias PR. Kalau saya amati, PR biasanya diberikan di hari Selasa dan dikumpulkan keesokan harinya. Kadang, diberikan di akhir pekan. Yang pasti, jika ada libur panjang seperti peringatan Mid-Autumn atau Teachers Day, akan ada PR untuk dikerjakan di hari libur.

Reading Passport
Continue reading →

Membeli Daging Halal di Taiwan

Membeli daging halal di Indonesia tidak pernah jadi hal yang perlu dipikirkan. Dikarenakan hidup di negara yang mayoritas muslim, beli daging ‘merasa’ pasti disembelih secara islam dan pasti halalnya. Jadi, agak taken for granted padahal nggak pasti juga ya.

Nah, karena sekarang tinggal di negara yang mayoritas bukan Islam, tentu mencari daging halal menjadi perhatian khusus. Kalau beli daging di pasar tradisional (aka Chongqing Market), tidak bisa dipastikan kehalalannya. Opsinya adalah beli di supermarket yang menempelkan label. Alhamdulillah, ada banyak PXMart (semacam swalayan) yang mempunyai banyak opsi makanan halal. Salah satunya daging. Hanya saja, harganya lumayan pricey jika dibandingkan yang tak berlabel halal. Satu paket dibandrol di harga 200 NTD. Lumayan ngos-ngosan kalau segini harganya.

Paket ayam di PXMart
Continue reading →

Memasak dan Membawakan Bekal untuk Keluarga

Bekal pekan pertama
(sudah tidak kober memfoto lagi :’)

Kemarin, saya menyimak kulwap di WAG komunitas. Bahasaannya mengenai bagaimana kegiatan memasak bisa menjadi healing bagi ibu-ibu. Tidak ada yang istimewa sih karena saya juga merasa begitu. Ala bisa karena biasa. Kebahagiaan karena orang tercinta menyukai dan menikmati masakan yang kita buat. Apresiasi menjadi penyulut utama kemauan untuk terus memasak bagi keluarga.

Nah, yang menarik justru respons dan komentar. Pertanyaan bagaimana bisa tetap tidak menyukai memasak padahal sudah bertahun-tahun menikah; bagaimana mengubah sudut pandang menjadikan memasak sebagai bahasa cinta; bahkan ada yang sampai fase menangis saat memasak saking overwhelmednya. Wow! Ternyata memasak bisa se-depresing itu. Saya sungguh tidak menduga.

Continue reading →

Periksa Gigi di Hualien

Setelah enam bulan menetap di Taiwan, saya dan anak memenuhi persyaratan untuk mendapatkan dan menggunakan National Health Insurance (NHI). Target utama dapat NHI adalah periksa gigi! Pasalnya, sebelum berangkat ke Taiwan, kami sempat periksa Gigi ke Faskes 1. Namun, anak perlu dirujuk ke pedodontist dan belum sempat karena kadung beli tiket dan waktunya mepet. Periksa di Taiwan tanpa NHI artinya biayanya juauuhh lebih mahal.

Akhirnya, bersabar menunggu 6 bulan (sambil harap-harap cemas semoga white spotnya nggak berubah jadi karies) dan langsung cuss setelah dapat NHI.

Saya tanya-tanya tetangga tentang klinik gigi mana yang rekomen. Selain bisa menangani anak, aksesnya mudah oleh kendaraan umum, dan tentu juga, bisa Bahasa Inggris! Alhamdulillah, dapat! Terlebih, kliniknya persis di depan halte. Duh, enaknyaa.

Continue reading →

Gak Kopen

Sejak awal mengurus anak, alias sejak pasca melahirkan, saya di rumah secara penuh. Langsung mengundurkan diri saat kehamilan masuk masa akhir trimester akhir. Saya memang berkomitmen untuk fokus mengurus anak di saat-saat penting ia membutuhkan saya. Paling tidak dua tahun pertamanya.

Mencari bunga

Selain hamil dan mempersiapkan kelahiran yang terbaik yang saya mampu, saya juga belajar menyusui secara daring (sekarang, sudah banyak kursus menyusui luring ataupun daring). Saya mulai skimming belajar MPASI juga. Tapi, belajar bab ini baru mulai intensif mendekati anak usia 6 bulan.

Continue reading →