Menatap utara pagi ini aku tertegun takjub dalam kagum yang tak terperi
Segagah yang pernah kujangkau bertahun yang lalu
Semegah pencakar langit yang menembus gemulung awan hingga meruncing puncaknya
Terpahat guratan tajam didindingnya, menegaskan waktu yang dilewatinya
Tinggi menjulang penuh wibawa sekaligus keangkeran : kengerian
Terpekur berdua dengan saudaramu menghias horison utara dalam jangkauan mata
Membelai langit pagi temaram bercahaya semburat dalam lapis mendung Februari
Kau tinggalkan jejak masa dengan keindahan yang menghancurkan dan kepedihan yang mempesona
Tak bisa hilang dalam ingatan, gemuruhmu dan abumu yang melintas hidupku
Mengusir para pemukim menjauh dari kakimu
Berduyun menempuhi jarak meninggalkanmu sendirian
Tak bisa hilang dari jejakku, saat langkah gontaiku merengkuh puncakmu
Menjadi saksi saat mentari meminangmu di fajar pagi, lalu membelaimu perlahan
Menyapu pandang dipunggungmu dan mematri euforia yang tak kan pernah hilang
Merindumu kini terbiaskan dalam pandang menujumu
Untuk suatu hari kembali menapaki punggungmu
Menuju puncakmu dalam rindu