Titip (2)

Hari ini, seperti lima tahun yang lalu
mengantarnya nya menuju ruang ilmu
kepak keduaku kini telah lepas
mengembarakan usia agar tak sia-sia
meniti langkah menuju ridho-Nya

ada sesak memenuhi ruang dada
saat jarak meninggalkanmu disana
tapi semua ini ikhtiar
karena kau hanyalah titipanNya
aku kembalikan dalam keluasan ilmuNya

jika waktu melipat cepat
momen ini akan bersua dalam masa
usahamu akan berbalas
cinta tertinggi, cintaNya

SAF, 12 Juli 2026

Bergerak

Subuh menyisir hari
mengawal fajar menjejak pagi
langit temaram dan berpendar perlahan
akhir pekan yang sempurna
saatnya bergerak

Sepatu laju setapak demi setapak
gawai berpendar memantau langkah
perlahan menyusuri alurnya
mencari jeda antar nafas
nikmati ritme mengurai lelah

kadang detaknya memerah
saatnya kurangi hasrat dan rehat perlahan
mengukur diri menjaga batas
berlebihan tak disarankan

Lagi dan lagi
pagi yang itu mengulang
ada rindu di rute-rute itu
ada bahagia kecil di keringatnya
ada harapan yang panjang membentang

bergerak,
ada hidup yang menunggu dijalani

02-06-2026




Titip

Hari ini telah lepas satu kepakku
Menuju ladang ilmu
Ku-titip-kan
Kami berusaha : tega, ikhlas, tawakal, ikhtiar, dan percaya
Dengan segala harap dan doa
Untukmu, untuk kami, untuk kita
Untuk masa depanmu
Untuk menjadi hambaNya yang lurus
Berlayarlah dalam samudra ilmu penuh hikmah

Cinta dan doa kami, selalu
Untukmu….

Menunggumu

sebatang hari merapuh ke ujung senja
resah yang terlipat dalam baris nafas makin kentara
gundah desau angin menaut ranting-ranting
sendirian, rimbun sang sahabat telah berlalu

jika fana berkaca pada kekal
tak lebih dari sekilas mimpi di tidur panjang
menghitung depa dalam putaran masa
melupakan garis yang telah tergaris pada nasib

menatap jarum berdetak sang laju
berasa langkah masih panjang menuju
sedang rindu yang pekat telah berkarat
membatu hati dalam cermin diri yang diingkari

tapi setiaku akan membajaku disini
menyapa pagi dan merindu lagi
tak pernah beranjak
hingga hadirmu menyejuk kesejatian

7 November 2019

Kering

hari telah membujuk langit untuk temaram
janji berbingkai kelabu dan harap akan jernih tetesanmu
namun silau menatap lembarmu
biru masih menggantang tak bercadar

bumi kecoklatan dalam sepoi angin kering
berurat tanah pecah tanpa basah
semampunya hamparan itu bertahan
bahkan rumput-rumput tak lagi punya daya

pandangku menyusur kisahmu
kudapati rengkuh penuh peluh dalam asamu
sungguh ….
ini masih panas yang belum juga berganti

tapi takjub tak selalu tentang hijau
atau gemilang rupa yang memanjakan
karena di keringmu ku lihat warna baru
keindahan bumi bertasbih merengkuh takdir

Gunungkidul, 31 Oktober 2019

Usaha Tak Lagi Punya Daya

Hati hanya lembut saat mata sayu mengingatNya
Kembali membatu saat jauh dariNya
Garis hidup yang direntang antara penciptaan dan Mahsyar
Direguk manisnya, dikecap gurihnya, lalu dicampakan sisanya
Dipinggirkan untuk dipungut setan-setan
Membawanya di timbangan kiri yang memberatkan
Berakhir menuai takdir siksa di neraka
Saat itu usaha tak lagi punya daya

Intervensi di Awal Pagi

Sekujur raga mengucap hormat pada hari
memulai langkah dalam sapa dan doa
memasuki dunia kecil yang penuh gairah
membawa banyak nuansa dalam selintas kata-kata

Namun..
tetiba saja goncangan menerpa
satu dari banyak tangan-tangan itu berulah
sikap tak sopan dan tingkah berandal
bagai sabetan pedang menebas sabar pecah berantakan
berakhir eksekusi kata api yang menyambar

Intervensi di awal pagi
hari seharusnya bermula dalam damai
selaras gairah jiwa masa-masa belajar
yang optimis dan ceria
sayang kini ia terluka

Merapi di Ujung Februari

Menatap utara pagi ini aku tertegun takjub dalam kagum yang tak terperi
Segagah yang pernah kujangkau bertahun yang lalu
Semegah pencakar langit yang menembus gemulung awan hingga meruncing puncaknya
Terpahat guratan tajam didindingnya, menegaskan waktu yang dilewatinya
Tinggi menjulang penuh wibawa sekaligus keangkeran : kengerian

Terpekur berdua dengan saudaramu menghias horison utara dalam jangkauan mata
Membelai langit pagi  temaram bercahaya semburat dalam lapis mendung Februari
Kau tinggalkan jejak masa dengan keindahan yang menghancurkan dan kepedihan yang mempesona

Tak bisa hilang dalam ingatan, gemuruhmu dan abumu yang melintas hidupku
Mengusir para pemukim menjauh dari kakimu
Berduyun menempuhi jarak meninggalkanmu sendirian

Tak bisa hilang dari jejakku, saat langkah gontaiku merengkuh puncakmu
Menjadi saksi saat mentari meminangmu di fajar pagi, lalu membelaimu perlahan
Menyapu pandang dipunggungmu dan mematri euforia yang tak kan pernah hilang

Merindumu kini terbiaskan dalam pandang menujumu
Untuk suatu hari kembali menapaki punggungmu
Menuju puncakmu dalam rindu

 

 

 

 

Kasihmu Mengukir di Dinding Hatiku

untuk Umi Rachmawati

Hujan Februari bukan yang pertama menyisirku dalam kabut senja
Masih banyak hitungan tak terhitung yang telah lewat, tentang waktu
Kau masih disitu selalu, menungguku di hari-harimu
Menjauh sebentar untuk melihat surya, lalu berbalik memelukku dalam sendu

Aku bukan Ali untuk Fatimah
Aku hanya sosok kerdil dalam jangkauan cahaya bulan
Bermitra dengan tekad, membawamu berlayar menuju pulau asa
Tenggelamkan sampan beban dan terbang bersama angin ke surga

Minggu mengular membelit hari, tersadar raga yang lelah butuh merebah
Kau tepiskan jengah lalu ulurkan tangan menadahku membaringkanku
Meski tak tersembunyi di wajahmu peluh hari yang kau lalui
Engkau masih menggores puisi cinta dalam tarian kasih sayang

Sungguh indah kau rangkaikan itu
Aku menikmat kidung kisahmu dalam nadiku
Biarkan berprosa rangkaian kata-kata kala senja
Kasihmu mengukir di dinding hatiku