Adakah kata terlambat?
Adakah terlambat untuk sebuah perayaan?
seperti halnya ucapan selamat yang bisa jdi basi dalam tiga hari,apakah perayaan juga bisa terlambat?
Tahun baru sudah berlalu satu bulan lebih, tapi saya baru mau merayakan dengan sebenar-benarnya mungkin hari ini. Ketika saya merasa ingin menjalani hidup dengan lebih baik, berikrar untuk mencapai mimpi dengan lebih serius,menjalani mimpi-mimpi dengan batas realita yang lebih jelas, memandang idealisme sebagai sebuah kesadaran bukan sebagai keharusan.
Barusan saya tercekat sendiri dengan kalimat saya: ‘idealisme sebagai kesadaran bukan keharusan?’
Apakah tahun ini saya sudah sampai titik cynical ini?
Saya baru menyadari bahwa pikiran itu mulai tebersit…
Tulisan ini pertama dibuat awal tahun yang lalu, ketika saya berpikir untuk merefleksikan kembali prioritas saya pada tahun tersebut; ternyata tulisan ini tak pernah selesai di tahun yang sama. Dengan segala keterbatasan (baca: kemalasan) akhirnya tulisan ini baru saya lanjutkan di tahun 2012. Setahun setelah pertama kali tulisan ini terbersit di kepala saya.
Hari ini tanggal 15 Februari 2012, saya baru berkehendak merayakan segalanya.
Pada hari ini: saya punya gaji tetap, saya punya banyak teman yang menelfon saat saya sakit, saya punya suami, saya sebentar lagi melahirkan. Ah ternyata…betapa cepat waktu berlalu…pertanyaan masih sama: apakah masih perlu perayaan?
Saya rasa tidak; saya punya banyak janji bagi diri saya, yang ternyata walaupun diucapkan dengan lantang tetap saja tak banyak berpengaruh dalam hal usaha mewujudkan. Maka semuanya dimulai dengan ini.
Saya berjanji menulis lagi; maka bentuk riilnya adalah menyelesaikan tulisan ini.
Saya berjanji menjadi lebih baik: maka bentuk rrilnya adalah saya minum jus jeruk hari ini.
dan masih banyak lagi..yang nyata-nyata dan mudah-mudah saja dulu lah..
mencoba membiasakan diri menjadi manusia yang lebih baik dan berguna ke depannya..amiinn…








