Menuju Rumah Tangga Bahagia

Menurut Prof. Dr. Khalid Basalamah, Lc., M.A jika suami istri sudah baik, suami menunaikan kewajibannya kepada istri, begitupun sebaliknya istri menunaikan kewajibannya pada suami, maka rumah tangga bahagia akan tercapai. Dan rumah tangga yang baik akan memberikan efek positif yang luar biasa pada masyarakat sekitar.


Maka dari itu akad nikah adalah perjanjian yang kuat (QS. An Nisa : 21). Karena baiknya rumah tangga akan memengaruhi baiknya masyarakat.
Dalam Al Qur’an surat Ar Ruum : 21 disebutkan bahwa pernikahan merupakan tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Kapan pernikahan menjadi tanda-tanda kebesaran Allah? Saat kita mengikuti panduan Allah SWT baik dalam Al Qur’an maupun hadits.


Rumah tangga yang bahagia adalah cita-cita bagi setiap pasangan. Pada kesempatan kali ini saya ingin mengutip bagian awal sebuah buku berjudul Menuju Rumah Tangga Bahagia. Buku yang ditulis oleh DR. Najla’ As Sayyid Nayil. Buku ini memiliki judul asli Kuuni Zaujatan Shalihah yang artinya Jadilah Istri yang Sukses.


Buku ini diawali dengan membahas tentang arti kebahagiaan.
Menurut DR. Najla’ As Sayyid Nayil kebahagiaan adalah sebuah perasaan. Ia adalah kata-kata yang sulit untuk didefinisikan. Ia adalah sesuatu yang bersifat maknawi (esensi) dan suatu perasaan batin yang terbit dari hati yang membawa banyak makna serta memberi banyak arti bagi pemiliknya.

Kebahagiaan adalah perasaan ridho dan puas, suatu perasaan yang dinikmati oleh setiap orang yang memelihara perkara -perkara wajib dan sunnah. Perasaan yang dirasakan oleh orang yang selalu mengingat Allah SWT, berbakti dan menjaga sholatnya. Ia adalah perasaan yang hanya dirasakan oleh siapa saja yang mengenal Allah SWT dan mendapati dampak kenikmatan-Nya atas dirinya.
Puncak kebahagiaan adalah manakala seseorang patuh pada Tuhannya. Dia hanya selalu berhubungan dan bergantung pada Allah SWT. Apa yg diperintahkan ia kerjakan, apa yg dilarang ia tinggalkan. Kemudian dia istiqomah melakukan itu sampai ia wafat, maka itu adalah puncak kebahagiaan. Karena dengan mengenal Allah SWT semua akan menjadi mudah, bila mendapat nikmat dia akan bersyukur dan berbagi. Dan bila mendapat cobaan dia akan bersabar dan bisa melaluinya.


Kebahagiaan hanya akan dirasakan manusia dari cinta yang tulus. Kehidupan yang baik dan anak-anak yang sholih. Kebahagiaan yang dirasakan suami pada istri sholehah apabila dipandang menggembirakan, apabila disuruh mentaati, apabila ditinggal bepergian menjaga harta dan kehormatannya.

Kebahagiaan akan dirasakan istri pada suami yang sholih, penuh cinta, senantiasa menjaga diri serta bertakwa kepada Allah SWT. Kebahagiaan keduanya akan semakin bertambah dengan lahirnya anak-anak sholih yang berbakti dan mendoakan mereka.


Kebahagiaan itu mahkotanya adalah sesuatu yang dapat mengantarkan kebahagiaan abadi di syurga kelak. Kebahagiaan yang sebenarnya adalah yang kita pupuk di dunia dan bisa membawa sampai ke kebahagiaan yang abadi di syurga.


Kebahagiaan yang tersimpul dalam romantika keluarga tentu lebih baik dari kebahagiaan yang terwujud dalam harta. Sebab menggapai ridho Allah SWT itu adalah tujuan yang tertinggi. Kebahagiaan dalam rumah tangga itu adalah satu dari anak tangga kebahagiaan yang abadi.


Kebahagiaan adalah harapan setiap orang yang berakal, maka setiap istri hendaklah mengejar kebahagiaan itu bersama suami dan anak-anaknya. Caranya dengan membimbing mereka kepada hal-hal yang dicintai Allah SWT. Berjalan bersama suaminya di jalan kebahagiaan dengan tenang, tentram, dan kasih sayang. Mendidik anak-anaknya agar menjadi anak yang sholih. Kemudian saling tolong menolong dalam ketaatan kepada Allah SWT. Mewujudkan lingkungan keluarga yang tentram yang dapat membantu ketaatan kepada Allah SWT


Untuk mewujudkan rumah tangga yang bahagia dapat dimulai sejak sebelum melakukan pernikahan. Kepada setiap gadis yang hendak menikah, hendaknya memahami jika ingin membangun rumah tangga muslim yang bahagia lagi kokoh maka batu batu pondasinya harus diletakkan pada tempatnya yang benar terlebih dahulu


Batu yang pertama adalah dengan menentukan tujuan. Sedangkan batu yang kedua adalah dengan memiliki pedoman yang menjadi pijakan dalam memilih pasangan hidup. Pedoman ini harus selaras dengan penentuan tujuan.
Tujuan menikah antara lain :

  1. Merealisasikan fitrah yang dikodratkan Allah SWT pada manusia. Memelihara dari syahwat yang diharamkan. Hendaknya meluruskan niat terlebih dahulu bahwa menikah itu untuk mengharap ridho Allah SWT.
  2. Memilih partner hidup. Maksudnya teman dan sahabat yang bisa berbagi dalam kehidupan ini. Partner hidup dalam suka dan duka, yang bukan hanya untuk setahun dua tahun melainkan untuk seumur hidup. Pilihlah teman hidup yang baik, karena pasangan hidup itu saling mempengaruhi. Seseorang itu tergantung agama kekasihnya, sehingga hendaklah melihat terlebih dahulu akhlak perilaku calon pasangan hidupnya.
    “Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. Tirmidzi no. 1085. Al Albani berkata dalam Adh Dho’ifah bahwa hadits ini hasan lighoirihi).
  3. Kesetaraan dalam agama adalah yang utama dan pertama. Selanjutnya kesetaraan dalam pendidikan dan ekonomi juga harus diperhatikan. Meskipun sebenarnya kalau kesetaraan dalam agama sudah ada, maka kesetaraan dalam hal yang lain tidak diperlukan lagi.
  4. Memudahkan mahar. Perempuan yang paling sedikit maharnya adalah yang paling banyak keberkahannya.
  5. Melihat calon suami. Karena hal ini lebih mendorong untuk menerima pinangan.
  6. Jangan lupa istikharah. Shalat minta petunjuk kepada Allah SWT. Agar Allah yang memilihkan.
  7. Manfaatkan masa-masa peminangan untuk mencari tahu tentang calon pasangan. Belajar tentang tugas tugas sebagai istri, sehingga esok benar-benar siap memasuki pernikahan
    Demikian yang bisa saya sampaikan pada kesempatan kali ini, semoga bermanfaat bagi pasangan yang akan melaksanakan pernikahan. Pada bab-bab selanjutnya dalam buku Menuju Rumah Tangga Bahagia juga akan dibahas lengkap tentang kiat-kiat menciptakan rumah tangga yang bahagia dalam ridho Allah SWT. Wallahu a’lam bissawab.

Membangun Kemampuan Resiliensi

Hidup di akhir zaman membutuhkan ketahanan atau resiliensi. Ketahanan terhadap rupa-rupa tantangan dan ujian yang acapkali kita temui dalam kehidupan ini.


Ketahanan ataupun resiliensi ini haruslah menjadi karakter bagi keluarga kita. Khususnya jika kita memiliki anggota keluarga dari generasi Z, yaitu anak-anak yang lahir di periode 1996 sampai tahun 2023. Gen Z dikenal sebagai generasi yang lemah, mudah mengeluh, tidak tahan banting dan mudah lari dari masalah. Meski tidak semua Gen Z demikian adanya.


Bagaimana cara membangun ketahanan atau resiliensi pada keluarga kita. Tentunya kita tidak ingin keluarga kita memiliki mental yang mudah menyerah dan tidak memiliki daya juang. Kita ingin mereka menjadi anak-anak yang tangguh yang dapat survive menghadapi kerasnya zaman. Kita ingin mereka menjadi pewaris peradaban yang memiliki kemampuan problem solving untuk dirinya sendiri, keluarga, serta umat. Kita ingin mereka menjadi khalifah di muka bumi ini sesuai dengan peran dan potensi masing-masing.

Pengertian Resiliensi


Dilansir dari situs hellosehat.com resiliensi adalah Resiliensi atau resilience kemampuan seseorang untuk beradaptasi dengan situasi sulit.


Orang dengan resiliensi diri yang tinggi mampu beradaptasi sehingga dapat mengatasi stres, tekanan, atau tantangan dalam kehidupan dengan cara yang sehat.
Menurut psikolog Ade Wulandari, S.Psi, Psi resiliensi adalah kemampuan keluarga untuk menjaga efektivitas fungsi keluarga, termasuk di dalamnya merawat anggotanya dan menguatkan ketika terjadi masalah dalam keluarga.

Faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Resiliensi


Dikutip dari American Psychological Association (APA), ada sejumlah faktor yang memengaruhi seberapa baik kemampuan seseorang untuk beradaptasi dalam keadaan sulit, meliputi: cara memandang dan berinteraksi dengan dunia, ketersediaan dan kualitas sumber daya sosial, seperti teman dan keluarga, serta strategi yang spesifik untuk menghadapi tantangan hidup.


Dengan begitu, membangun resiliensi bukan berarti kita dapat bersikap tabah dan berusaha menghadapi kesulitan yang dialami seorang diri.
Sebaliknya, kemampuan untuk berinteraksi dan mendapatkan dukungan dari orang lain merupakan bagian penting dalam meningkatkan resiliensi diri.

Pentingnya Membangun Resiliensi


Resiliensi merupakan aspek penting dalam kehidupan. Beberapa manfaat resiliensi yang dapat kita rasakan antara lain sebagai berikut :
Mengurangi risiko gangguan mental, termasuk stres, depresi, dan kecemasan.
Mampu lebih cepat pulih dari kegagalan dan trauma yang dialami.
Menyesuaikan diri lebih cepat dengan perubahan hidup, baik positif maupun negatif.
Meningkatkan kemampuan dalam berinteraksi dan membangun hubungan yang sehat.
Menjaga kesehatan fisik dan meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.

Manfaat Resiliensi
Ketahanan keluarga atau keluarga yang resilien akan memiliki manfaat sebagai berikut :
Ikatan yang lebih kuat
Lebih fleksibel
Lebih berdaya

Langkah Langkah Meningkatkan Resiliensi Keluarga


Pertama, keluarga harus komitmen menjalankan fungsi keluarga, antara lain :
Agama
Sosial budaya
Cinta kasih
Perlindungan
Reproduksi
Pendidikan
Ekonomi
Pembinaan lingkungan


Kedua, ketika masalaah datang, langkah-langkah yang harus dilakukan antara lain:
Mengenali potensi masalah
Menyelesaikan sesuai prioritas
Coping, adaptasi, dan fleksibel
Merujuk pada ahli bila diperlukan
Potensi masalah yang biasa  muncul dalam sebuah keluarga antara lain :
Kesehatan
Keuangan
Pergaulan
Komitmen
Pendidikan anak
Media social
Kehilangan
Bencana alam


Ketiga, melakukan self talk positif. Berbicara pada diri sendiri alias self-talk dengan menggunakan afirmasi positif dapat membantu meningkatkan resiliensi saat menghadapi tantangan hidup.
Misalnya, katakan pada diri sendiri, “Saya mampu mengatasi ini,” atau “Setiap kesalahan adalah pelajaran,” untuk memperkuat keyakinan diri.


Keempat, mencoba menantang diri sendiri. Jangan takut untuk melangkah keluar dari zona nyaman. Cobalah untuk mengambil risiko dalam situasi yang memicu ketakutan atau keraguan dalam diri sendiri. Dengan mencoba hal-hal baru dan menghadapi ketakutan, kemampuan kita dalam mengatasi rintangan akan semakin terasah.


Kelima, tetap ingat untuk menjaga diri. Menjaga diri alias self-care merupakan langkah penting lain untuk meningkatkan resiliensi diri.
Hal ini mencakup merawat kesehatan fisik dan mental, di antaranya dengan tidur cukup, mengonsumsi makanan sehat, dan berolahraga secara rutin.
Meluangkan waktu untuk melakukan hal-hal yang membawa kebahagiaan bagi diri juga akan membantu mengatasi stres dengan lebih baik.


Keenam, mulai terhubung dengan orang dekat. Membangun hubungan yang kuat dan positif dengan orang terdekat, seperti pasangan, teman, dan keluarga, dapat membantu di kala menghadapi rintangan hidup. Mereka bisa membantu memberikan dukungan selama melewati momen baik dan buruk. Bergabung menjadi sukarelawan (volunteer) atau anggota komunitas dengan minat yang sama juga bisa membantu tetap merasa terhubung dengan orang lain.


Ketujuh, kelola emosi negatif dengan baik. Seseorang dengan resiliensi tinggi bukan berarti tidak pernah mengalami emosi negatif. Mereka akan tetap merasakan perasaan benci, marah, sedih, maupun putus asa, tetapi mampu memproses dan mengelola emosi tersebut dengan cara yang sehat.


Kedelapan, jadikan setiap momen bermakna. Pastikan untuk melakukan sesuatu yang dapat memberikan makna dan tujuan setiap hari.
Jangan lupa juga untuk menetapkan tujuan yang jelas dan dapat dicapai. Hal ini bisa membantu tetap fokus dan termotivasi, bahkan dalam menghadapi situasi sulit sekalipun.


Kesembilan, belajar dari pengalaman. Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Untuk meningkatkan resiliensi diri, jadikan hal ini sebagai pengalaman dan pelajaran penting dalam hidup kita.
Dengan memahami kesalahan yang pernah diperbuat pada masa lalu, kita dapat menentukan strategi yang lebih baik untuk mengatasi tantangan tersebut ke depannya.


Terakhir namun yang paling penting adalah selalu menjaga hubungan baik dengan Allah SWT. Selalu mendekatkan diri pada Allah baik dengan ibadah maupun dengan zikir. Allah telah berjanji akan senantiasa memberikan bimbingan dan perlindungan bagi hamba-Nya yang senantiasa berzikir baik pagi maupun petang.


Demikian yang bisa saya sampaikan. Secara umum, setiap orang butuh waktu untuk membangun resiliensi diri. Janganlah berharap bahwa kita bisa langsung tangguh menghadapi segala rintangan dalam semalam saja.
Tetaplah yakin serta percaya bahwa segala sesuatu pada akhirnya akan berhasil kita lewati.


Apabila masih merasa kesulitan setelah melakukan tips-tips di atas, cobalah untuk menemui psikolog. Mereka dapat membantu mengidentifikasi masalah yang kita hadapi.

Empat Tingkatan dalam Menghadapi Ujian dari Allah

Beberapa saat yang lalu saya mengunjungi salah seorang ustadzah saya yang saya sayangi. Beliau ini seorang hafidzah dan pengasuh pondok pesantren tahfidz untuk mahasiswi.


Qadarullah beliau diuji dengan sakit autoimun selama 18 tahun lamanya. Namun meski begitu beliau tetap bisa mengasuh pondok pesantren tahfidz dengan dibantu suami dan para musyrifah.


Saat mengunjungi beliau saya mendapatkan inspirasi dari beliau tentang perjuangan saat sakit dan beragam ikhtiar yang sudah beliau lakukan. Diantaranya tentang rasa syukur saat sedang sakit. Ya, bagaimana agar tetap bersyukur walaupun sedang kesakitan.


Beliau bercerita bahwa saat kesakitan dan berusaha mengingat nikmat -nikmat Allah yang sudah dikaruniakan pada beliau. Beliau merasa lebih tenang, lebih rileks, dan lebih bisa mengelola rasa sakitnya. Subhanallah.


Pengalaman beliau ini senada dengan penjelasan dari Ust Wiwi Hardi pada website muslimah.or.id. Beliau mengatakan bahwa ada 4 tingkatan sikap manusia ketika menghadapi cobaan atau dalam menerima takdir Allah.


1. Marah
Tingkatan yang pertama adalah marah dengan takdir yang Allah berikan. Boleh jadi ia marah dalam hatinya dengan bergumam, boleh jadi ia ucapkan dengan lisannya. Orang yang marah dengan takdir Allah, maka ia dikhawatirkan terjerumus dalam perbuatan kesyirikan dengan sebab ia mencela takdir. Dan marah kepada takdir pada hakikatnya marah kepada Allah.
Allah SWT berfirman,
“Dan di antara manusia, ada yang menyembah Allah di pinggiran. Jika ia diberi nikmat berupa kebaikan, maka tenanglah hatinya. Namun jika ujian menimpanya, maka berubahlah rona wajahnya, jadilah ia merugi di dunia dan di akhirat.” (QS. Al-Hajj: 11).
Jika ia marah dengan lisannya, akan muncul kata-kata berupa umpatan, celaan, bahkan perkataan celaka dan yang semisal dengannya. Jika ia marah dengan perbuatannya, ia akan melakukan perbuatan seperti menampar pipi, merobek kerah baju, menarik narik rambut dan perbuatan yang semisal.


2. Sabar
Tingkatan kedua adalah sabar, sebagaimana ungkapan seorang penyair arab,
Sabar itu memang seperti namanya (sebuah nama tumbuhan), yang rasanya pahit
namun hasil dari kesabaran akan lebih manis dari madu

Ketika seseorang merasakan beratnya ujian dan tidak suka dengan ujian yang menimpanya, namun ia lebih memilih bersabar sehingga ia merasa ada atau tidaknya ujian sama saja. Meskipun ia tidak menyukainya, namun keimanannya menghalanginya untuk marah.
Bersabar ketika menghadapi cobaan hukumnya wajib, dan seseorang yang tidak bersabar ketika itu akan terjerumus dalam dosa. Dan sabar adalah tingkatan yang paling minimal yang dimiliki oleh seorang Muslim ketika menghadapi cobaan. Adapun tingkatan yang lebih tinggi dari sabar, hukumnya sunnah dan lebih afdhal (utama).


3. Ridha
Tingkatan ketiga lebih tinggi dari tingkatan sebelumnya, yaitu ridha. Ia jadikan ujian dan nikmat yang menimpanya sama saja, yaitu sama-sama bagian dari takdir dan ketetapan Allah, meskipun musibah tersebut membuat hatinya sedih, karena ia adalah seorang yang beriman pada qadha dan qadar.
Dimana saja Allah tetapkan qadha dan qadarnya, seperti tertimpa kesulitan atau mendapatkan kemudahan, tatkala mendapat nikmat atau sebaliknya yaitu tertimpa musibah, semua itu sama saja baginya. Bukan karena matinya hati, namun karena kesempurnaan ridha dengan takdir Allah, sebagai Rabb yang mengatur urusannya. Jika ia melihat dalam kacamata takdir Allah, baginya sama saja antara nikmat dan musibah. Sehingga hal inilah yang menjadi pembeda antara sabar dan ridha.


4. Syukur
Ini adalah tingkatan tertinggi dan yang paling utama dalam menghadapi cobaan. Karena ia bisa bersyukur atas musibah yang menimpanya. Oleh karena itu, ia bisa menjadi hamba Allah yang penuh rasa syukur ketika ia melihat masih banyak orang lain yang lebih berat musibahnya dibandingkan dirinya.

Musibah dalam hal dunia lebih ringan dibandingkan musibah dalam hal agama, karena adzab di dunia lebih ringan dibandingkan adzab di akhirat.
Pada hakikatnya, musibah adalah penghapus dosa dan akan menjadi tambahan kebaikan di sisi Allah tatkala ia menjadi hamba yang bersyukur.


Kembali pada pengalaman ustadzah saya yang diuji penyakit autoimun tadi. Beliau juga menyampaikan kepada saya bahwa dengan adanya ujian sakit ini beliau merasakan tarbiyah atau pendidikan langsung dari Allah SWT. Dan semakin menyadarkan beliau bahwa hakikat dunia ini hanya sementara. Dan kelak di akhirat orang-orang yang termasuk golongan ahlul afiyah akan merasa cemburu pada orang-orang dari golongan ahlul musibah.


Manusia itu kelak di akhirat akan dibagi menjadi 2 macam yaitu ahlul musibah dan ahlul ‘afiyah. Ahlul musibah adalah orang-orang yang semasa hidup di dunia selalu ditimpa musibah, selalu diuji dengan berbagai macam hal, hidupnya sering susah, sengsara bertubi-tubi.
Sementara ahlul ‘afiyah adalah orang-orang yang semasa hidup di dunia enak-enak saja. Segala kemudahan didapatkannya tanpa usaha yang berarti.
Pada saat hari perhitungan kelak, Allah SWT perintahkan pada malaikat agar menghisab Ahlul musibah terlebih dahulu. Lalu dengan cepat malaikat melaporkan pada Allah, bahwa hisab mereka sebentar saja karena dosa-dosa mereka sudah digugurkan lewat musibah dan ujian yang menimpa mereka saat di dunia.
Maka Allah perintahkan agar memberikan mereka 3 hal :
1. Afiyah, kekuatan, sebagai ganti kesusahan yang mereka dapat di dunia dulu.
2. Khoiron, kebaikan, yaitu surga.
3. Manzilan, tempat yang tinggi, kedudukan yang tinggi di surga.
Demikianlah, jadi bagi kita yang sering diuji oleh Allah SWT, hal ini bukan karena Allah benci kepada kita, melainkan Allah ingin mengganti kesusahan selama di dunia dengan kenikmatan di akhirat kelak. Wallahu alam bisshawab.