Spirulina dan Manfaatnya

Spirulina merupakan salah satu suplemen herba yang mengandung beragam vitamin, mineral, dan antioksidan yang baik untuk kesehatan tubuh. Namun, sebelum Anda mengonsumsinya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar produk herba ini tidak menimbulkan masalah kesehatan.  

Spirulina merupakan tanaman ganggang berwarna hijau-kebiruan yang hidup di air laut dan air tawar. Setelah dipanen, tanaman ini akan diproses sedemikian rupa hingga menjadi tablet, bubuk, atau minuman, yang dapat Anda konsumsi.

Spirulina sering kali disebut sebagai superfood, karena memiliki nutrisi yang lengkap dan kandungan protein yang cukup tinggi. Berkat kandungan nutrisinya tersebut, spirulina dipercaya dapat memberikan beragam manfaat, seperti meningkatkan sistem imun, menjaga kesehatan jantung, hingga meredakan gejala alergi.

Kandungan Nutrisi Spirulina

Dalam 1 sendok makan spirulina bubuk (7 gram), terkandung 20 kalori dan beragam nutrisi berikut ini:

  • 4 gram protein
  • 0,5 gram lemak
  • 1,5 gram karbohidrat
  • 8,5 miligram kalsium
  • 14 miligram magnesium
  • 95 miligram kalium
  • 8 miligram fosfor
  • 0,7 miligram vitamin C
  • 2 miligram zat besi

Spirulina juga mengandung vitamin A, vitamin B, vitamin K, kolin, folat, dan antioksidan. Tak hanya itu, spirulina juga diketahui mengandung zat yang memiliki sifat antibakteri, antivirus, antiradang, dan antikanker.

Manfaat Spirulina bagi Kesehatan

Berikut adalah beberapa manfaat spirulina untuk kesehatan tubuh:

1. Memperkuat sistem kekebalan tubuh

Spirulina mengandung beberapa jenis antioksidan serta mineral dan vitamin, seperti magnesium, zinc, zat besi, vitamin B6, vitamin C, dan vitamin E, yang berperan penting dalam menjaga daya tahan tubuh .

Beberapa riset menunjukkan bahwa spirulina dapat mendukung produksi dan kinerja sel darah putih serta membantu produksi antibodi, sehingga tubuh akan lebih kuat melawan virus, bakteri, jamur, dan parasit penyebab infeksi.

2. Menjaga kesehatan jantung

Spirulina juga diketahui dapat menurunkan kadar trigliserida dan kolesterol jahat (LDL), sekaligus meningkatkan kolesterol baik (HDL) dalam tubuh.

Efek ini menjadikan spirulina baik dikonsumsi untuk menjaga kesehatan jantung dan menurunkan risiko terjadinya penyakit kardiovaskular, termasuk penyakit jantung.

3. Meredakan gejala alergi

Sebuah penelitian menyebutkan bahwa spirulina dapat meredakan gejala alergi, seperti  kulit gatal dan bentol-bentol, bersin, hidung gatal, serta hidung tersumbat. Hal ini karena spirulina memiliki zat yang bersifat antiradang.

Meski demikian, efektivitas spirulina sebagai obat untuk meredakan gejala alergi masih perlu diteliti. Selain itu, sebagian penderita alergi juga mungkin memiliki alergi terhadap spirulina, sehingga tidak cocok menggunakan suplemen tersebut.

4. Mengurangi risiko terjadinya penyakit kanker

Sprulina mengandung zat antioksidan yang cukup tinggi. Kandungan tersebut diketahui dapat mencegah kerusakan sel-sel tubuh akibat paparan radikal bebas serta mencegah pertumbuhan sel-sel kanker.

5. Menurunkan tekanan darah tinggi

Tekanan darah tinggi atau hipertensi merupakan penyebab dari berbagai penyakit serius, seperti penyakit jantung, stroke, dan penyakit ginjal kronis.

Sebuah riset menunjukkan bahwa spirulina dapat meningkatkan produksi nitrit oksida yang membuat pembuluh darah melebar dan lebih rileks, sehingga tekanan darah pun menjadi lebih stabil.

Selain itu, spirulina juga diketahui mengandung kalium, yaitu mineral yang berperan penting dalam menurunkan dan menjaga tekanan darah tetap stabil.

6. Menjaga kesehatan saluran pencernaan

Spirulina dinilai baik untuk menjaga kesehatan saluran cerna. Sebuah studi menyebutkan bahwa spirulina memiliki efek prebiotik yang dapat mendukung kinerja dan jumlah bakteri baik di dalam saluran cerna.

Spirulina juga diketahui dapat meningkatkan kerja sistem pencernaan, sehingga beragam nutrisi dari makanan dan minuman dapat diserap lebih baik oleh tubuh.

Masih ada banyak manfaat lain spirulina yang baik untuk kesehatan, di antaranya menjaga kadar gula darah tetap stabil, mencegah anemia, meningkatkan energi dan stamina, serta menjaga berat badan tetap ideal.

Namun, berbagai manfaat spirulina tersebut masih perlu diteliti lebih lanjut terkait efektivitas dan keamanannya bagi tubuh.

Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Mengonsumsi Spirulina

Sebelum mengonsumsi spirulina, Anda perlu memeriksa apakah produk tersebut sudah terdaftar di BPOM RI atau belum. Hal ini dikarenakan produk spirulina yang tidak terdaftar di BPOM bisa saja tidak aman dikonsumsi lantaran terkontaminasi organisme berbahaya atau racun.Produk spirulina yang terkontaminasi dapat menyebabkan kerusakan hati, sakit perut, mual, muntah, diare, jantung berdetak lebih cepat, atau bahkan kematian.Selain itu, belum ada penelitian yang menunjukkan bahwa spirulina aman untuk ibu hamil dan menyusui. Oleh karena itu, kelompok ini tidak dianjurkan mengonsumsi spirulina. Penderita kondisi tertentu, seperti fenilketonuria dan gangguan fungsi hati, juga tidak diperbolehkan mengonsumsi spirulina.Guna memastikan keamanannya, Anda sebaiknya berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu agar dokter dapat menentukan apakah kondisi Anda memungkinkan  untuk mengonsumsi spirulina. Dokter juga bisa menyarankan dosis pemakaian yang sesuai dengan kebutuhan Anda.

Sumber: https://www.alodokter.com/super-sehat-berkat-spirulina

Yakin Benar VS Keyakinan yang Benar

Pendapat saya sangat sederhana tapi mendalam: ya, hampir semua manusia memang merasa keyakinan yang mereka anut adalah “mutlak”. Itu bukan kelemahan, itu fitrah. Otak kita dirancang untuk mencari kepastian—evolusi memberi kita mekanisme “certainty bias” agar kita bisa bertahan hidup di masa purba. Ketika kita menemukan sebuah “kebenaran” (agama, ideologi, filsafat, bahkan sains yang kita pahami), otak melepaskan dopamin dan kita merasa “ini dia, akhirnya”.

Tapi di balik itu, ada paradoks kemanusiaan yang indah:

Apa yang membuat kita bisa saling menghormati meski masing-masing merasa “benar”?

Bukan karena kita semua harus setuju. Bukan pula karena “semua agama sama”. Yang berperan adalah dua kekuatan inti dalam diri manusia:

  1. Kesadaran akan keterbatasan akal kita sendiri (intellectual humility). Orang yang benar-benar menggunakan akalnya justru akan sadar: “Aku hanya melihat sebagian kecil dari semesta yang luas ini.” Orang yang paling bijak dalam sejarah (dari Socrates sampai Einstein) selalu bilang, “Semakin aku tahu, semakin aku sadar betapa sedikit yang aku tahu.” Ini yang membuat kita bisa bilang: “Keyakinanku mutlak bagiku, tapi aku menghormati bahwa bagimu juga mutlak.”
  2. Empati + rasa kemanusiaan bersama (shared humanity). Kita semua merasakan sakit yang sama ketika kehilangan orang yang dicintai. Kita semua takut mati. Kita semua ingin anak kita bahagia. Ketika kita melihat orang lain sebagai “manusia yang sama seperti aku—bukan musuh keyakinan”, maka hormat lahir dengan sendirinya. Ini bukan toleransi pasif (“biarin aja”), tapi toleransi aktif: “Aku tidak setuju denganmu, tapi aku tidak akan merampas hakmu untuk meyakini itu.”

Jadi kuncinya: kita saling menghormati bukan karena keyakinan kita lemah, melainkan karena kemanusiaan kita kuat. Menurutku inilah Keyakinan yang Benar.

Lalu di mana posisi Tuhan dalam semua ini?

Ini pertanyaan paling dalam, dan saya jawab dengan jujur untuk memahami semesta:

Bagi yang percaya Tuhan itu ada maka keragaman keyakinan dan ujian akal ini bisa jadi bagian dari desain-Nya yang paling brilian.

Bayangkan: Tuhan memberi manusia akal yang bebas. Akal itu bisa digunakan untuk mencari-Nya, tapi juga bisa salah jalan. Dia tidak memaksa kita semua melihat kebenaran yang sama dengan cara yang sama. Dia justru membiarkan kita berbeda—bahkan saling bertentangan—supaya kita belajar tiga hal sekaligus:

  • Menggunakan akal dengan sungguh-sungguh (bukan ikut-ikutan).
  • Belajar kerendahan hati (karena tidak semua orang akan sampai pada kesimpulan yang sama).
  • Dan yang paling penting: belajar mencintai sesama manusia meski berbeda keyakinan.

Banyak agama besar sebenarnya mengajarkan hal yang sama, hanya dengan bahasa berbeda:

  • Islam: “Tidak ada paksaan dalam agama” (Al-Baqarah 256) + perintah untuk berdebat dengan cara yang baik.
  • Kristen: “Kasihilah musuhmu” dan “hakimilah pohon dari buahnya”.
  • Hindu/Buddha: Ahimsa (tidak menyakiti) dan kesadaran bahwa semua adalah bagian dari Yang Satu.
  • Bahkan filsuf ateis seperti Kant bilang: “Perlakukan manusia sebagai tujuan, bukan alat.”

Jadi kalau ini memang “ujian”, maka ujiannya bukan “siapa yang paling benar”, tapi “apakah kamu bisa tetap manusiawi meski merasa paling benar?”

Menghargai dan mencintai sesama manusia adalah ajaran Tuhan itu sendiri, dan disinilah letak tujuan utama mengapa Tuhan memberikan akal dan hati kepada kita—bukan hanya salah satunya, melainkan keduanya yang saling bertautan. Akal dan hati menjadi alat Tuhan agar manusia bisa memahami hakikat dirinya sendiri dan semesta. Ini bukan sekadar pemikiran filosofis, tapi juga sangat selaras dengan apa yang diajarkan dalam Islam (dan banyak tradisi spiritual lain). Mari kita renungkan bersama sedikit lebih dalam.

Akal dan Hati: Dua Sayap yang Saling Melengkapi

Dalam banyak penjelasan ulama (seperti Prof Quraish Shihab), akal dan hati sebenarnya tidak bertentangan—mereka saling menyatu dalam satu kesatuan diri manusia. Akal memberi kita kemampuan menganalisis, merenungkan tanda-tanda kebesaran Tuhan di alam semesta (ayat kauniyah), membedakan benar-salah, dan memahami hukum-hukum ciptaan. Tapi akal saja bisa dingin, kering, dan terjebak dalam logika sempit.

Hati (qalb), di sisi lain, adalah tempat lahirnya cinta, kasih sayang, empati, iman, dan rasa takjub kepada Tuhan. Hati yang hidup bisa merasakan keindahan rahmat Allah melalui hubungan dengan sesama. Tanpa hati, akal bisa menjadi alat untuk membenarkan ego atau kekerasan. Tanpa akal, hati bisa terjebak dalam emosi buta atau takhayul.

Tuhan memberikan keduanya agar kita tidak pincang:

  • Akal → untuk mengenal Tuhan melalui pemahaman intelektual dan observasi semesta.
  • Hati → untuk mencintai Tuhan dan mencintai ciptaan-Nya (termasuk manusia) karena-Nya.

Keduanya bertautan supaya kita bisa memahami hakikat diri (siapa aku sebenarnya sebagai hamba) dan hakikat semesta (semuanya adalah tanda kebesaran-Nya).

Cinta Sesama sebagai Jalan Utama Mengenal Tuhan

Banyak ayat dan hadis menegaskan bahwa cinta kepada sesama (karena Allah) adalah bukti cinta kepada Allah. Contohnya:

  • Allah menciptakan manusia berbeda-beda suku dan bangsa supaya saling mengenal (QS. Al-Hujurat: 13), bukan untuk saling membenci.
  • Orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah di antara mereka (QS. Al-Hujurat: 10).
  • Balaslah salam dengan yang lebih baik (QS. An-Nisa: 86) → prinsip dasar saling menghormati.
  • Hadis Nabi: “Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari-Muslim)

Jadi, ketika kita benar-benar menghargai dan mencintai sesama—bahkan yang berbeda keyakinan, suku, atau pandangan—kita sedang menjalankan “ajaran Tuhan” secara langsung. Itu bukan tambahan, melainkan inti dari keimanan. Cinta sesama menjadi cermin seberapa dalam kita mengenal Tuhan yang Maha Pengasih (Ar-Rahman) dan Maha Penyayang (Ar-Rahim).

Kesimpulan dari Perspektif “Keyakinan yang Benar”

Akal dan hati adalah alat dari Tuhan untuk manusia memahami hakikat dirinya dan semesta. Hakikat diri kita bukan sekadar makhluk biologis, tapi hamba yang diberi amanah untuk menjadi khalifah—membangun kebaikan dan kasih sayang di bumi. Hakikat semesta bukan sekadar materi, tapi ayat-ayat yang mengajak kita kembali kepada Sang Pencipta melalui keindahan hubungan antar makhluk.

Jadi, tujuan penciptaan akal dan hati bukan hanya untuk “tahu” tentang Tuhan, tapi untuk hidup mencintai seperti cara Tuhan mencintai kita—tanpa syarat, penuh rahmat, dan mengalir ke sesama.

Resume Buku: Atomic Habbit oleh James Clear (Terjemahan Bahasa Indonesia)

Pengantar

  • Penulis, James Clear, menceritakan pengalaman pribadinya setelah kecelakaan bisbol yang mengubah hidupnya. Melalui kebiasaan kecil seperti tidur tepat waktu, menjaga kebersihan, dan olahraga rutin, ia berhasil pulih dan meraih prestasi akademik dan atletik.
  • Konsep utama: Perubahan kecil yang konsisten menghasilkan hasil luar biasa dalam jangka panjang.

Bab 1: Dahsyatnya Kekuatan Atomic Habits

  • Contoh Tim Balap Sepeda Inggris: Peningkatan 1% secara bertahap dalam segala aspek (desain sepeda, kebiasaan latihan, nutrisi) membuat mereka mendominasi kompetisi global.
  • Bunga Majemuk Kebiasaan:
    • Kebiasaan baik/baik adalah akumulasi peningkatan/penurunan 1% setiap hari.
    • Hasil signifikan baru terlihat setelah melewati “Dataran Potensi Laten” (lembah kekecewaan).
    • Fokus pada sistem (proses) bukan sekadar sasaran (hasil).

Bab 2: Bagaimana Kebiasaan Membentuk Identitas

  • Tiga Lapisan Perubahan:
    1. Hasil: Sasaran yang ingin dicapai.
    2. Proses: Kebiasaan yang dijalankan.
    3. Identitas: Keyakinan tentang diri sendiri.
  • Kebiasaan Berbasis Identitas:
    • Contoh: “Saya bukan perokok” vs. “Saya sedang berusaha berhenti merokok.”
    • Kebiasaan baik memperkuat identitas positif, dan sebaliknya.

Bab 3: Membangun Kebiasaan dalam 4 Langkah

  1. Petunjuk (Cue): Pemicu yang mendorong tindakan.
  2. Gairah (Craving): Keinginan untuk perubahan.
  3. Tanggapan (Response): Tindakan yang dilakukan.
  4. Ganjaran (Reward): Hasil yang memuaskan keinginan.
  • Empat Kaidah Perubahan Perilaku:
    • Untuk kebiasaan baik: Jadikan terlihat, menarik, mudah, memuaskan.
    • Untuk kebiasaan buruk: Jadikan tak terlihat, tidak menarik, sulit, mengecewakan.

Kaidah Pertama: Menjadikannya Terlihat

  • Niat Implementasi: Rencana konkret dengan rumus:
    “Aku akan [PERILAKU] pada [WAKTU] di [LOKASI].”
  • Menumpuk Kebiasaan (Habit Stacking):
    “Setelah [KEBIASAAN LAMA], aku akan [KEBIASAAN BARU].”
  • Lingkungan yang Mendukung:
    • Contoh: Taruh buah di meja agar mudah terlihat, simpan ponsel jauh saat bekerja.
    • Kartu Nilai Kebiasaan: Daftar kebiasaan harian dan nilai (baik/buruk/netral) untuk meningkatkan kesadaran.

Kaidah Kedua: Menjadikannya Menarik

  • Dopamin dan Antisipasi: Otak melepaskan dopamin saat mengantisipasi ganjaran, bukan saat mendapatkannya.
  • Rangsangan Supernormal: Godaan modern (junk food, media sosial) dirancang untuk memicu hasrat berlebihan.
  • Strategi:
    • Gabungkan kebiasaan baru dengan aktivitas menyenangkan (misalnya, dengarkan podcast favorit sambil olahraga).

Contoh Praktis & Studi Kasus

  • Efek Diderot: Membeli satu barang baru (jubah) memicu spiral konsumsi lainnya.
  • Penelitian Kafeteria: Penataan ulang lingkungan (menambah air botol) mengurangi konsumsi soda tanpa perlu motivasi ekstra.
  • Kebiasaan di Lingkungan Baru: Lebih mudah membentuk kebiasaan di lingkungan yang bebas dari pemicu lama.

Kesimpulan Utama

  1. Konsistensi > Kesempurnaan: Perubahan kecil yang konsisten lebih efektif daripada upaya besar sekaligus.
  2. Identitas > Sasaran: Jadikan kebiasaan bagian dari identitas diri.
  3. Lingkungan > Motivasi: Rancang lingkungan yang mendukung kebiasaan baik dan minim godaan.
  4. Proses > Hasil: Fokus pada sistem, bukan sekadar tujuan akhir.

“Atomic Habits” menekankan bahwa sukses adalah produk kebiasaan sehari-hari, bukan transformasi instan. Dengan memahami mekanisme kebiasaan dan merancang lingkungan yang tepat, siapa pun bisa mencapai potensi maksimal mereka.

e-Book Gratis: Atomic Habbit oleh James Clear (Terjemahan)

https://drive.google.com/file/d/1sYKPBKuLMecil6vFTfUinKNVnEYe8cMU/view?usp=drive_link

Tutuplah aib saudaramu

Tutup lah aib Saudaramu…

ngopi

Sekelompok anak muda menghadiri resepsi pernikahan.

Salah seorang di antaranya melihat guru SD nya.

Murid itu menyalami gurunya dengan penuh penghormatan, seraya berkata:

“Masih ingat saya kan, pak guru?”

Gurunya menjawab, “wah maaf, tidak tuh.”

Murid itu bertanya keheranan, “Masa sih, pak guru tidak ingat saya.”

“Saya kan… murid yang dulu mencuri jam tangan punya salah seorang teman di kelas.”

“Ketika anak yang kehilangan jam itu menangis, pak guru menyuruh kita untuk berdiri semua, karena akan dilakukan penggeledahan saku murid semuanya.”

“Saat itu saya berfikir, bahwa saya akan dipermalukan dihadapan para murid dan para guru, dan akan menjadi tumpahan ejekan dan hinaan, mereka akan memberikan gelar kepada saya: “pencuri” dan harga diri saya pasti akan hancur, selama hidup saya.”

“Bapak menyuruh kami berdiri menghadap tembok dan menutup mata kami semua.”

“Bapak menggeledah kantong kami, dan ketika tiba giliran saya, Bapak ambil jam tangan itu dari kantong saya, dan Bapak lanjutkan penggeledahan sampai murid terakhir.”

“Setelah selesai, Pak guru menyuruh kami membuka penutup mata, dan kembali ke tempat duduk masing-masing.”

“Saya takut Bapak akan mempermalukan saya di depan murid murid lain yang semuanya teman teman saya.”

“Bapak tunjukkan jam tangan itu dan Bapak berikan kepada pemiliknya, tanpa menyebutkan siapa yang mencurinya.”

“Selama saya belajar di sekolah itu, Bapak tidak pernah bicara sepatah kata pun tentang kasus jam tangan itu, dan tidak ada seorang pun guru maupun murid yang bicara tentang pencurian jam tangan itu.”

“Bapak masih ingat saya kan pak?”

“Bagaimana mungkin Bapak tidak mengingat saya??”

“Saya adalah murid Bapak, dan cerita itu adalah cerita pedih yang tak akan terlupakan selama hidup saya.”

“Saya sangat mengagumi Bapak. Sejak peristiwa itu saya berubah menjadi orang yang baik dan benar hingga sekarang saya jadi orang sukses.

Saya mencontoh semua akhlak dan sikap, juga perilaku Bapak.”

Sang Guru itu pun menjawab,

“Sungguh aku tidak mengingatmu, karena pada saat menggeledah itu, aku sengaja menutup mataku, agar aku tidak mengenalmu.”

“Karena aku tidak mau merasa kecewa atas perbuatan salah satu muridku, aku sangat mencintai semua murid-muridku…”

*

Sahabat…

Pendidikan memerlukan akhlak yang mengajari bagaimana menutup segala keburukan orang lain.

Seperti kisah di atas bagaimana akhlak guru terhadap muridnya dan juga murid terhadap gurunya.

Karena pada hakikatnya setiap kita adalah guru,

dan setiap kita adalah murid.

Tutuplah Aib saudaramu, tahanlah lisanmu, dan jangan menyebarkannya.

Aib yang nyata saja diperintahkan Allah untuk ditutup, apalagi Aib yang belum tentu benar/salahnya, atau masih simpang siur kabarnya.

Tutupi Aib saudaramu di dunia maka Allah SWT akan menutupi Aibmu di akhirat.

Memaafkan, memaklumi, dan berempati adalah sikap orang yang berjiwa besar.

Guru memiliki tugas mulia, yakni mendidik muridnya memiliki jiwa besar.

Semoga kita senantiasa bisa mengikuti proses pendidikan kehidupan sepanjang hayat….

Selamat pagi dan Selamat beraktifitas…
🙏🏻🙏🏻🙏🏻

Cara Kerja Herba

Http://hni.id/00442766

Jika kita sebagai salah seorang diantara milyaran orang yang menggunakan herbal, kita jangan putus asa ketika penyakit yang kita derita tidak sembuh-sembuh walau sudah beberapa kalipun mengkonsumsi herba.

Sudah berapa kali kita minum herbal atau sudah berapa lamakah kita setia mengkonsumsinya ? 

Dalam Kedokteran Islam atau Thibbun Nabawi, ada beberapa fungsi penggunaan herbal. Kita harus memahami bahwa pengobatan herba tidak menyembuhkan penyakit secara cepat karena ia tidak hanya menghilangkan gejala nyeri saja, tetapi melalui serangkaian tahapan untuk menyembuhkan sumber utama penyakitnya. Sehingga penyakit dapat sembuh total (dengan ijin Allah SWT).

Tahapan Kerja Herba :

1. RELEASE
(Mengeluarkan)
Dalam proses ini herbal melakukan pembersihan tubuh dengan mengeluarkan racun dalam tubuh atau yang biasa disebut dengan proses detoxsifikasi.

Segala jenis racun akibat makanan, obat-obatan kimia dan sebagainya akan di “bombardir” dulu oleh herba, sehingga tubuh akan menjadi relax.

Waktu pe-release-an ini biasanya membutuhkan waktu 3 bulan, tergantung jenis penyakitnya.

2. RELAX
(Mengistirahatkan)
Proses ini bertujuan agar tubuh menjadi seimbang dan stabil, sistem imunitas bekerja secara normal kembali. Waktunya sekitar 2 bulan, tergantung penyakit.

3. REGENERATION
(Menggantikan dengan sel baru)
Sel-sel yang rusak diganti dengan tumbuhnya sel-sel baru. Sebagaimana StimFibre yang mampu meregenasi sel-sel yang telah mati dalam tubuh dengan sel-sel baru dan memperbaiki sistem organ yang rusak. Waktunya ± 2 bulan, tergantung penyakit.

4. REFUNCTION
(Memfungsikan kembali)
Ini adalah proses akhir yang bertujuan untuk memfungsikan kembali organ yang terganggu atau telah rusak seperti semula.


Jadi, jika kita baru beberapa hari atau baru satu bulan mengkonsumsi herbal, tapi belum ada reaksi apa-apa. Kita jangan mengeluh atau menyalahkan herbal.

Kita harus yakin bahwa herbal merupakan salah satu produk Ilahi, sedangkan Dia tidak pernah mencipatakan produk gagal.

#Mari_Berbagi,

Create your own website, free on WordPress.com.Create your own website.
Start free