Generasi Gemilang atau Generasi yang hilang ?

Februari 27, 2021

Lahirnya Generasi Gemilang tidak bergantung pada sebuah bangunan sekolah yang megah

Lahirnya Generasi Gemilang itu karena peran Guru-Guru yang Sehat dan Gagah

Guru yang terpenuhi kebutuhan jasmani dan rohaninya

Guru yang terpenuhi pangan, sandang, dan papannya. Tentu saja pangan, sandang, dan papan yg memenuhi kriteria kesehatan, bukan pangan sandang papan dengan trade mark Prihatin

Bagaimanakah seorang Guru bisa sehat jika masih selalu memikirkan kebutuhan pangan, sandang, dan papan anak istrinya ?

Bagaimanakah seorang Guru bisa tenang mengajar jika sambil memikirkan belum bayar rumah kontrakan ?

Bagaimanakah Guru dan keluarganya bisa sehat jika hidup dilingkungan rumah yg kumuh, kotor dan tertutup dari sinar matahari ?

Katanya Adab sebelum Ilmu ? Katanya mencari keberkahan ilmu ?
Katanya Adab menghormati, mendahulukan dan memuliakan Guru ?
Tapi mendahulukan kesehatan Guru saja kita belum mampu ?

Apakah mendahulukan membangun sebuah gedung sekolah yg megah itu adalah lebih mulia daripada mendahulukan membangun kesehatan dan kebahagiaan Guru ?

Apakah Allah Ta’ala ridho melihat gedung sekolah nan megah sementara keluargaNya, wali-waliNya, yaitu Guru penghapal dan pengamal Qur’an itu tinggal di rumah kontrakan dengan bersusah payah ?

Masalah di seberang lautan adalah membangun gedung sekolah yg megah melulu

Masalah di pelupuk mata adalah kondisi Guru yg belum terpenuhi kebutuhan dasarnya sejak dahulu

Berlomba-lombalah dalam menyejahterakan Guru dahulu, bukan cuma berlomba-lomba dalam membangun sekolah yang megah ke segala penjuru

Cobalah Pengurus Yayasan Sekolah berkunjung ke rumah Guru, bukan malah Guru yang diwajibkan berkunjung ke rumah orang tua murid dahulu…yang kadang membuat Guru jadi kaku terpaku dan kehabisan waktu karena harus bertamu setiap akhir minggu

Cobalah di data satu persatu Guru yang sekiranya perlu dibantu

Bagaimanakah Allah akan ridho dan memberkahi pembangunan gedung-gedung sekolah itu, jika masih banyak hati Guru yang dibuat pilu…

Pilu.. jika Guru sakit, Guru harus berobat.. tetapi harus ditalangi dana pribadi dulu…setelah sekian lama baru diganti oleh manajemen sekolah, bagaimana jika ketika sedang sakit itu, Guru sedang kesulitan dana atau ada kebutuhan primer yg lebih mendesak ?

Akhirnya, Guru memilih tidak berobat atau menjalani pengobatan yg murah tetapi tidak tepat…yg seharusnya penyakitnya ditangani oleh ahlinya akhirnya ditangani oleh seorang/dokter yg tidak punya kompetensi, akhirnya penyakitnya tidak sembuh-sembuh…akhirnya berdampak kepada tugasnya sebagai Guru, berdampak kepada keluarga, rekannya, dan murid-muridnya

Maka…ketika Allah ta’ala terpa semua lini dengan badai pandemi.. akhirnya gedung-gedung sekolah itu menjadi tidak berarti

Tetapi Guru, di tengah badai apapun tetap berdiri dan sangatlah berarti

Jika Guru sakit maka istrinya bisa ketularan sakit begitu pula anaknya dan rekannya bisa ikut sakit, murid-muridnya pun bisa ketularan sakit, jika semua sakit-sakitan…berputar terus menjadi lingkaran penyakit…maka akan ada generasi yg hilang

Jika Guru sehat maka istri dan anaknyapun sehat, rekan dan murid-muridnya juga sehat, kondisi sehat sangat kondusif membuat murid menjadi cerdas jasmani dan rohaninya sehingga lahirlah Generasi Gemilang

Sudah saatnya melahirkan Guru Gemilang

Guru Gemilang akan melahirkan Generasi Gemilang

Semoga kegundahan ini datangnya dari gagal faham karena kurangnya ilmu

Mohon dibukakan pintu maaf lahir bathin jika penulis keliru

Dan kebenaran datangnya dari Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Tahu


Welcome n Plz Go Covid 19

Desember 20, 2020

Senin sore itu saya mulai gelisah…karena belum ada kabar dari suami….perihal hasil swab pcr nya. Sampai tengah malam belum ada kabar jg…mungkin beliau masih sibuk operasi bedah mikro. Karena lelah menunggu akhirnya saya ketiduran jg…pk 01.00 kaget…Gilang, anak laki laki kami mengetuk pintu dan memberi kabar bahwa hasil swab Ayahnya positif dan Ayahnya dalam 30 menit kedepan in syaa Allah sampai di rumah, minta disiapkan kamar sendiri dan baju baju, isolasi mandiri. Gilang putera kami komentar, “Kalau Papa positif….berarti kita serumah bisa positif semua, Ma ?” Saya jawab, “Kita harus ikhlas Gil, tetap berfikir positif terhadap kehendak Allah…in syaa Allah semua ada hikmahnya…ini yg terbaik qodarullah” sambil saya menyiapkan kamar untuk suami isolasi mandiri.

Yang jadi masalah, Ahad kemarin, kami menerima tamu dalam rentang waktu lama dari siang sampai tengah malam…ada keponakan, cucu, dan kakak sekeluarga yg datang berkunjung sampai setelah makan malam masih berlanjut, dan celakanya saya tidak pakai masker. Suami tetap pakai masker. Segera kami beritahu mereka hasil swab suami yg positif, semoga mereka semua tidak bergejala apapun. Tapi ada keponakan/ suami istri yg demam dan batuk setelah dari rumah kami, mereka segera swab di EMC Sentul, Alhamdulillah hasilnya negatif.

Dua hari suami diisolasi, saya mulai merasakan gejala gak enak…badan lemas…sendi-sendi tulang nyerii semua….kepala sakit tidak berkurang…mual…dan muntah…badan menggigil terus menerus meskipun bolak balik minum paracetamol. Akhirnya saya jg harus isolasi di kamar sendiri…alat makan alat minum, pakaian …terpisah semua…saya buat air rendaman sabun sendiri agar virus dipakaian yg nempel segera mati. Hari ketiga….saya dan suami setelah sholat Subuh memaksakan diri rontgen paru di RS PMI…hasilnya buruk. Keesokannya saya dites swab pcr di RS EMC Sentul….hasilnya sehari kemudian…yaitu positif…hasil swab suami masih positif…CT 20…kami lanjut isolasi mandiri sampai hari ke-8 tapi kondisi memburuk…nafsu makan turun drastis…anak kami yg ketiga mulai bergejala demam dan batuk…gawat…serumah bisa terpapar semua kalau kami tetap isolasi mandiri di rumah…kamipun bertambah sesak saturasi menurun…dan batuk tidak berhenti, akhirnya kami memutuskan untuk dirawat di RS saja.. kami dibawa Gilang Kamis malam pk. 20.30 ke RSCM Kiara, Alhamdulillah ada hazzmat dan masker lengkap yg bisa dipakai Gilang selama nyetir mengantar kami ke Jakarta, suami sepanjang jalan tidak mau pakai masker karena sesak…yaa Allah semoga putra kami Gilang kuat…tidak terpapar virus dari kami. Saya berpesan kepada Gilang, “Gilang, nanti selesai antar Mama dan Papa, sampai di rumah, di garasi langsung buka dan buang semua hazzmattnya…Gilang cuci tangan dg sabun…masuk rumah mandi keramas…ganti pakaian semuanya dan istirahat yaah”

Sampai di Kiara, kami langsung transit masuk dikamar isolasi B, ada kapasitas 2 bed, ada seorang ibu usia 60an sedang terbaring lemah…dilorong sebelah…penuh berjajar pasien yg termenggeh-menggeh nafasnya….membuat suasana hati kami jadi horror ketar ketir….yaa Allah….selamatkan kami.

Sambil nunggu saya berbaring menahan kantuk di samping si ibu yg terlihat kedinginan tidur tanpa selimut…”Yaa Allah beri kekuatan dan kesembuhan bagi ibu ini”.

Suami duduk di kursi, menunggu diambil sampel darah dan rontgen paru. Tak lama ambil sampel darah..kami langsung ke ruang rontgen. Dari ruang rontgen transit lagi di ruang UGD yg kosong ada 5 bed…sekitar setengah jam kami menunggu sebelum masuk ruang rawat di lantai 6. Alhamdulillah….saya dan suami dirawat di satu ruangan berdua, kapasitas 3 bed, ada toilet yg bersih full air panas…AC sangat dingin.

Alhamdulillah…di RS kami tidak kekurangan makanan…malam itu ada adik yg mengantarkan roti dan air minum, ada kakak yg mengantarkan pudding…kue, kerudung, buah dll, ada residen suami yg tengah malam masih membawakan bingkisan kue-kue kaleng, ada sejawat yg mengantarkan air zam zam, dr. Heny mengantarkan susu milo, kopi, burger, jahe, dll

Alhamdulillah…ada Kepala Departemen Bedah, dr.Sonar Panigoro yg titip termos air panas untuk kami minum obat. Mungkin beliau sempat pengalaman sehari di rawat di Kiara karena positif covid jg, dan beliau menyadari tidak nyamannya tidak ada air panas untuk minum obat.

Ada perawat yg membawakan buah-buahan, ada yg membawakan kue nogosari dan cemilan kripik, bahkan ada Pak Satpam yg mengantarkan salad buah dan sop buah. Ada yg membawakan masker, gelas sekali pakai, larutan nacl untuk cuci hidung,

Di rumah…Alhamdulillah…anak anak kami Binar, Gilang, Tiara, dah Fahma jg tidak kekurangan makanan…ada tante Vima dan Bude Lena sekeluarga yg setia mengirimi anak-anak makanan, ada dr. Adit kirim klapertart dan lasagna…ada Teh Ika yg ngirimin cemilan banyak bgt…ada Teh Nonon….Teh Enzo….ibu-ibu Posku Kuttab Al Fatih sholihah yg mengantarkan makanan ke rumah…Bu Mia, Mama Cica, Teh Yuli, Teh Astrid, Mba Sasti, Teh Ochie, Bu Ria, Bu Hasna, Bu Novi, Teh Ratna dan Teh Wini …terimakasih lillah…sudah memenuhi kebutuhan anak anak kami di rumah….semoga Allah Ta’ala membalasnya dg limpahan Rahmat dan berkahNya fiddunya wal akhirah.

Tidak di rumah, tidak di RS…akhirnya kami sibuk membagi-bagikan makanan agar tidak mubazir, kami kasihkan lagi ke petugas yg nyapu lantai, yg ngepel lantai, yg membersihkan sampah, petugas kurir, perawat.

Ada yg bilang sejatinya, rejeki kita itu cuma yg sempat masuk ke mulut kita…yg kita kunyah makan, telan dan kita nikmati…apakah betul ? Bukannya rejeki abadi kita adalah yg kita bagi- bagikan…kita titipkan lewat orang-orang…yg kelak akan dikembalikan pahalanya kepada kita di akhirat ?

Sebelum masuk RS, GD saya normal saja 150an, setelah diberi obat batuk dextametason, GD langsung naik jadi 280, 330, 370….akhirnya saya sebelum makan disuntik insulin dulu 6-8 unit..tes GD 3-4 x sehari…yaa Allah

Minum obat oral 3x sehari, vit D 500 iu, sistenol, omeprazole, fluimucyl, obat drip infust anti virus remdesivir 6 vial selama 6 hari, vit c, fluimucyl setiap malam, dan diberi 5 macam obat yg disuntik via infust setiap pagi dan sore. Obat antivirus yg diberikan gratis kepada kami itu, harganya 3 juta/vial x 6 = 18 juta/orang untuk antivirusnya saja. Subhanallah.

Hari kedua ada surprise, seorang perempuan dg hazzmat lengkap masuk menyapa dengan sangat ramah dan sumringah…”Ibu…saya datang…ayo tebak siapa saya ? Hihihi…spontan saya jawab, Mba yg kemarin kan ? “Hahaha…suami saya langsung jawab, “Ini Salimah, De. Sekarang dia endut…jadi ade gak ngenalin heheheh.”

” Ah dokter bisa aja Bu, ini karena aku pakai baju teletabies…hahaha…”Kami spontan tertawa berderai derai…tidak mengira setelah 16 tahun lalu sempat bareng di Taiwan…akhirnya bertemu di ruang penderita covid 19…dan Sali masih seorang perawat yg luar biasa berani datang menantang maut untuk sengaja menengok dan menghibur kami, gayanya tetap bersahaja melayani…memeriksa kebersihan ruangan dan toilet kami. Dulu waktu di Taiwan, Sali sempat dilamar seorang dokter digestive dari India. Pulang ke Indonesia, Sali sudah 2x menikah dan kedua suaminya meninggal, putranya 1 bernama Atta kls 4 SD. Semoga Allah senantiasa menjaga Sali dan Atta…dicukupkan semua kebutuhan…sehat wal afiat fiddunya wal akhirah…barakallahu fiikuma…terimakasih Sali sudah datang menguatkan…bighhugh

Terimakasih kepada tim perawat mas Rian Crene seko Pati, mas Yanuar seko Purwokerto, A Soni dari Dramaga, mba Vany, mba Anne, mba Anggie dan semua relawan covid di Kiara RSCM.

Terimakasih kepada Tim dokter Robert Shinto Internist, dr. Cici dyl yg telah memberikan formula tepat untuk melawan virus covid 19 di tubuh kami dg ijin Allah Ta’ala

Terimakasih kepada Bi Uda/Meidiana Bangun dan Bu Dewi, Kepala Ruangan Kiara lt.6 yg telah menyiapkan ruang rawat spesial untuk kami berdua.

Terimakasih Pak Sunardi seko Tegal, Kepala ruangan lt.7 yg rajin nengok bawakan kami nasi uduk dll.

Terimakasih kepada Direktur Medik dan Keperawatan RSCM, dr.Sumaryono yg telah membantu, memonitor dan mendukung kesembuhan suami saya.

Terimakasih tak terhingga kepada, Chairman CT Corp, Bapak Chairul Tanjung berkolaborasi dengan Bank Mega, Astra, dan Indofood. sudah berjasa besar menyempurnakan segala sarana dan prasarana sehingga Kiara RSCM dapat dioperasionalkan optimal sebagai Pusat Penanganan Covid 19.

Sungguh luar biasa… dalam waktu 2-3 bulan saja, Beliau mampu menjadikan Kiara RSCM yg proyeknya terbengkalai selama 10 tahun…terkendala dengan banyak masalah, akhirnya berkat bantuan dan hibah dari Beliau Kiara RSCM bisa berfungsi sesuai dengan tujuannya.

Terimakasih untuk semua curahan doa dan air mata Ibunda tercinta, Hj. Ratna dan Ayahanda Murtani, saudari-saudariku, Kak Lena, Kak Euis, Kak Tina, Kak Anne, Kak Iyul, Vima dan Wa Emi. keponakan, cucu, kerabat, teman-teman di KontaQ, Ustadzah Dian dan Guru-guru di AT Taufiq, Teman dan Guru-Guru di Kuttab Al Fatih Bogor….tak lupa do’a anak-anak yatimnya mba Pious dari PonPes Lamongan yg turut mendo’akan kami….masyaa Allah….jazakumullahu khairan katsiran.

Terimakasih Mba Anggie, Mba Hanum, dan Bang Harun yg sigap bekerjasama mensteril seluruh ruangan di rumah kami sehingga anak-anak tenang dikarantina di rumah.

Untuk melawan Covid 19…akhirnya saya dan suami harus ikhtiar maksimal dirawat di RS….padahal seumur pernikahan kami, saya tidak pernah opname…bahkan melahirkan ke-4 anak kami saja, saya tetap di rumah.

#Stayhealthy

#tetap jaga protokol kesehatan dimanapun berada

# tetap pakai masker

# preventive better than curative

penyakit ini sangat sangat luar biasa…semoga dijauhkan semuanya

#keephappylillah


Toleransi atau Natalisasi ?

Januari 1, 2015

Kami sekeluarga pergi liburan di Taman Safari Indonesia, tanggal 27- 28 Desember 2014.

Nuansa Natal terlihat di mana-mana, di hotel dipasang pohon Natal super besar, di pangung-panggung pertunjukkan, di setiap wahana permainan, karyawan yang memakai atribut natal, dan di restauran juga di pasang pohon Natal besar, kemudian sengaja diperdengarkan musik dan lagu-lagu Natal seperti “Holly night, Merry chrismas, jingle bels,, dll. Yang diputar berulang-ulang.

Seolah-olah TSI dan seluruh karyawannya serta semua para pengunjungnya sedang merayakan Natal bersama. Anehnya, kami perhatikan, sebagian besar pengunjungnya adalah ibu-ibu dan anak-anak berjilbab.

Begitu pula ketika acara makan malam, yang disediakan untuk para pengunjung yang bermalam, di restauran di sediakan panggung acara semuanya bernuansa Natal, ada cemara Natal besar, spanduk dan interior Natal, para karyawan yang memakai atribut Natal, dan penyanyi yang menyanyikan lagu natal. Sekali lagi, kami perhatikan, sebagian besar tamu yang bermalam dan makan malam di restauran itu adalah ibu-ibu dan anak-anak berjilbab. Dan kemungkinan besar para karyawan yang melayani kami, yang hampir semua memakai topi santa juga muslim.

Demikian pula ketika sarapan, esok harinya, karyawan yang melayani kami, semua memakai topi santa.

Begitu pula yang terjadi di tempat-tempat wisata lainnya. Begitu pula ketika kami berbelanja di Mall, dll. Mengapa ini bisa terjadi di negara yang mayoritasnya muslim ?

Jika ini terjadi di Eropa, Amerika, atau Australia, yang mayoritasnya beragama Kristen dan merayakan Natal, tentu saja wajar di mana-mana ada nuansa Natal. Ketika terjadi di Indonesia, seolah-olah mayoritas rakyat Indonesia merayakan Natal, ini sungguh aneh. Apakah ini bukti bahwa segelintir konglomerat yang menguasai perekonomian rakyat, yang kebetulan beragama kristen, menggunakan kekuasaannya untuk menekan penguasa mendukung natalisasi di Indonesia ?

Tolong jaga perasaan kami, mayoritas muslim yang tidak merayakan Natal. Natal bukan perayaan agama kami, mengapa kami dikondisikan untuk ikut di dalamnya ?

Kami hanya ingin berlibur di TSI dan di tempat wisata lainnya, bukan untuk merayakan Natal. Kami hanya ingin belanja kebutuhan kami di Mall, bukan untuk merayakan Natal.

Sesungguhnya siapa yang toleransi dan intoleransi ?


Tanggapan terhadap Opini Romo Franz Magnis Suseno yang Mendukung Perkawinan Beda Agama

September 15, 2014

images

Opini Romo Franz terkait gugatan uji materi UU No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, yang diajukan oleh 4 alumni dan seorang mahasisa Fakultas Hukum UI, dimuat di Harian Republika, Rabu, 10 September 2014.

Di dalam artikel tersebut, dikutip bahwa beliau, (di satu sisi kepribadiannya), mengatakan, “Negara tidak boleh menghalang-halangi perkawinan antara dua insan yang berbeda agama.” Tapi di sisi lain kepribadiannya sebagai penganut dan pemuka Katolik, Romo Magnis mengatakan bahwa, “Di dalam agama Katolik, perkawinan hanya sah jika dilakukan dengan aturan Katolik.”

Sungguh kami tidak memahami bagaimana pada saat yang bersamaan, satu pribadi memiliki dua opini yang bertentangan dalam menyikapi satu masalah. Mengapa Negara tidak boleh menghalangi perkawinan beda agama ? Mengapa di dalam agama Katolik, atau agama Islam, atau agama Hindu, atau agama Buddha, atau agama apapun itu perkawinan beda agama dilarang atau tidak sah ?

Bukankah jika suatu agama menyatakan bahwa perkawinan hanya sah jika dilakukan dengan aturan agama tersebut, itu artinya yang menyatakan hal tersebut adalah Tuhan, atau pernyataan tersebut berasal dari perintah Tuhannya ?

Sebagai seorang individu atau pribadi yang beriman kepada Tuhannya, bukankah sudah seharusnya taat dan mendukung perintah Tuhannya ? Dalam agama apapun pasti ada yang namanya jalan kebaikan dan jalan keburukan, jalan kebaikan akan lurus menuju surga Tuhannya dan jalan keburukan akan tersesat dari jalan Tuhan. Manusia bisa berada dalam jalan kebaikan karena bimbingan Tuhan dan manusia berada dalam jalan keburukan karena mendengar bisikan setan, setan dinyatakan oleh Tuhan sebagai musuh manusia, jika ingin berada dalam jalan kebaikan yang lurus menuju kepada Tuhan maka manusia tidak boleh mendengar bisikan setan.

Sebagai seorang individu yang percaya kepada Tuhan, bukankah sudah seharusnya menyatakan sikap untuk mendukung Tuhannya ? Bukan malah mendukung setan yang adalah musuhnya ?

Negara Indonesia adalah representasi dari sekumpulan individu beragama yang berkuasa, maka sudah seharusnya kumpulan individu yang beragama dan berkuasa ini juga mendukung perintah agamanya (perintah Tuhannya) bukan malah mendukung warganegaranya agar tersesat.

Setiap individu, ketika berperan sebagai pemimpin untuk diri sendiri dan sekaligus menjadi pemimpin keluarga, atau pemimpin masyarakat, atau pemimpin daerah, atau pemimpin Negara maka dia tidak bisa melepaskan dirinya dari keterikatan kepada keimanan atau kepercayaan agamanya dan kelak juga tidak bisa melepaskan dirinya dari tanggungjawab dihadapan Tuhannya.

Romo Magnis, mengapa Romo mendukung seseorang yang ingin kawin dengan orang yang berbeda agama, di Indonesia ini, di Negara yang Romo ketahui mayoritasnya adalah beragama Islam, yang Romo ketahui bahwa dalam Islampun sama seperti dalam agama Romo, bahwa perkawinan hanya sah jika dilakukan dengan aturan Islam. Dua orang yang kawin beda agama dalam Islam sama dengan melakukan perzinaan. Jika Romo mendukung perkawinan beda agama di Indonesia ini, apakah memang menjadi tujuan Romo, agar generasi muda Islam melakukan perzinaan dan akhirnya murtad dari Islam ?

Jika Romo tinggal di Italia atau di Vatikan, apakah Romo akan menyuarakan hal yang sama, suara yang bertentangan dengan suara para pemimpin Katolik di sana ?


Yuuk kembali ke Allah !

Juli 8, 2014

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Saya seorang muslim.
Tuhanku adalah Allah SWT, yang menurunkan Taurat, Zabur, Injil, dan Qur’an.
Nabiku adalah Muhammad SAW, yang menyampaikan Qur’an dan As Sunnah.
Allah berFirman (QS. An-nisaa ayat 59) : “Yaa ayyuhalladziina aamanuu athii’uullaaha wa aathii’uurrasuul wa uulil amri minkum.
Fa in tanaaza fi syai’in faruddzuuhu ilallaahi warrasuuli in kuntum tu’minuuna billaahi walyaumil akhiri. Dzaalika khairuw wa ahsanu ta’wiilaan.

Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad) dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Qur’an) dan Rasul (sunnahnya) jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

Siapakah yang diseru untuk taat kepada Allah dan Rasul ? Yaitu semua orang beriman, termasuk orang beriman yang menjadi ulil amri. Ketaatan orang-orang beriman kepada ulil amri adalah dalam rangka ulil amri menjalankan ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya.

Nabi Muhammad berpesan :
“Kutinggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat apabila kalian berpegang teguh kepada keduanya, yaitu , Kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya”. (HR. Malik)

Ulil Amri yang selama ini berkuasa di Indonesia, terbukti menolak menerapkan hukum Allah yang terdapat di dalam Al Qur’an dan As sunnah.

Dan, setelah menyaksikan rangkaian debat capres, tidak ada satupun yang berjanji untuk menjalankan syariah (Qur’an dan sunah) dalam rangka menjalankan ketaatannya sebagai calon ulil amri yang harus tunduk taat kepada Allah (Qur’an) dan tunduk taat kepada Rasul (sunnah), maka saya memutuskan,  9 Juli 2014, tetap GolPut karena Allah.

 


Hijab Petition

April 23, 2014

Assalammu’alaikum wr wb. Kami mohon dukungan untuk “Hijab Petition” di sini http://www.avaaz.org/en/petition/Mr_President_Yudhoyono_Give_muslim_policewomens_rights_to_wear_hijab/?ekavHab
Syukran, semoga dicatat Malaikat Rokib sebagai amal baik dan mendapat pahala amar ma’ruf nahi munkar dari Allah SWT. Wassalam.


Dukung Polwan Berjilbab !

Februari 4, 2014

polwan berjilbabKami sangat mendukung opini tajuk Republika yang berjudul “Polwan
Berjilbab”, edisi Rabu, 5 Juni 2013.

Mengingat :
1. Dasar negara Indonesia adalah Pancasila, khususnya sila ke-1
KeTuhanan Yang Maha Esa, di mana setiap warga negara harus mewujudkan
sila kesatu ini dalam aktifitas sehari-hari sesuai dengan tuntunan
Tuhan Yang Maha Esa yaitu Allah SWT bagi yang muslim, yang salah satu
tuntunanNya adalah berjilbab menutup aurat.
2.  Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam
yang jumlahnya terbesar di dunia.
3. Di negara-negara lain, Polwan dan tentara perempuan sudah
diperbolehkan berjilbab, bahkan di negara di mana muslimah menjadi
minoritas seperti di Australia dan Amerika Serikat.

Oleh karena itu, sangat menyedihkan dan memalukan jika Indonesia tidak
segera memenuhi hak Polwan muslimah.

Terimakasih.


Surat Edaran Jaksa Agung yg Mendukung Korupsi

Februari 4, 2014

neraca keadilanBeberapa hari yang lalu, Metro TV mengangkat Editorial Media Indonesia dengan topik Surat Edaran Jaksa Agung bernomor B-113/F/Fd.1/05/2010 yang ditujukan kepada seluruh kejaksaan tinggi, yang isinya berseberangan dengan semangat pemberantasan korupsi.

Melalui surat itu, korps Adhyaksa dihimbau agar dalam kasus dugaan korupsi, jika terdakwa koruptor  dengan kesadarannya sendiri telah mengembalikan kerugian keuangan negara, yang nilai korupsinya kecil, perlu dipertimbangkan untuk tidak ditindaklanjuti proses hukumnya.

Bagaimana mungkin Kejaksaan sebagai salah satu tonggak penegak hukum, justru melakukan perbuatan yang membebaskan para koruptor. Surat Edaran tersebut akan semakin menyuburkan perilaku korup, karena pejabat negara yang bermental korup tentu akan berfikir, “Kalau begitu, bisa kita akali, jika mau korupsi, nilainya yang kecil-kecil saja, syukur-syukur tidak ketahuan, kalaupun ketahuan, toh tinggal kita kembalikan saja kepada negara, beres perkara, kita tidak perlu menjalani hukuman.”

Kasus korupsi yang dinilai kecil dalam isi surat edaran tersebutpun tidak jelas berapa batasannya ? Tapi,  sekecil apapun nilainya, tetap saja harus ada sanksi hukum.  Bukankah Nenek Minah yang tanpa ijin memetik  3 buah kakao di perkebunan milik PT Rumpun Sari Antanpun  harus diganjar 1 bulan 15 hari penjara dengan masa percobaan 3 bulan ? Padahal, nenek Minah seorang  yang miskin, dan tujuannya  memetik buah kakao itu untuk dijadikan bibit yang akan dikembangbiakkan di lahannya sendiri.

Pengembalian harta hasil korupsi karena kesadaran sendiri dari tersangka atau terdakwa koruptor, mestinya tidak menghapuskan hukuman, tetapi bisa meringankan atau mengurangi hukuman, karena kita menghargai keberanian, kejujuran dan itikad baiknya dalam mengembalikan harta milik negara.

Justru, pejabat Kejaksaan Agung yang mengeluarkan surat edaran tersebut mestinya diusut dan dihukum.


Sudah Kering Keringat, Baru Dibayar !

Januari 30, 2014

buruhHari Raya Imlek tahun ini jatuh pada hari Jumat, tanggal 31 Januari, ketemu 2 hari libur kerja yaitu hari Sabtu dan Minggu. Itu artinya bagi para PNS, yang biasanya gajinya turun tiap tanggal 1, tetapi karena tanggal 1 jatuhnya di hari Sabtu, berarti  dua hari dapur gak ngebul, hehehe. Hari Senin, baru bisa ambil hasil keringat selama sebulan yang sudah lewat.

Coba yaa, negara ini bisa belajar dari Toru Kumon, di Kumon, pembayaran les dilakukan di akhir bulan berjalan, bayar lunas dulu baru les, sehingga Kumon bisa menggaji tenaga pengajarnya di awal les, tidak perlu menunggu mengeluarkan keringat dulu.

Mestinya Pemerintah bisa dong mengatur ketika tanggal 1 jatuhnya di hari Sabtu atau hari libur, maka PNS diberikan gajinya sebelum tanggal 1, jadi dimajukan, bukan malah diundur.

Bukankah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan memberikan upah sebelum keringat si pekerja kering.

“Berikan kepada seorang pekerja upahnya sebelum keringatnya kering.” (HR. Ibnu Majah, shahih).  Maksud hadits ini adalah bersegera menunaikan hak si pekerja setelah selesainya pekerjaan, begitu juga bisa dimaksud jika telah ada kesepakatan pemberian gaji setiap bulan.

Menunda penurunan gaji pada pegawai padahal mampu termasuk kezholiman.

“Menunda penunaian kewajiban (bagi yang mampu) termasuk kezholiman” (HR. Bukhari no. 2400 dan Muslim no. 1564)

Bukankah, mayoritas penyelenggara negara ini adalat umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ?


Tradisi Jahiliyyah Merayakan Tahun Baru

Desember 30, 2013

taipei 101Tradisi berasal dari bahasa Latin “Traditio” artinya diteruskan, adalah suatu kebiasaan yang sudah berakar yang dilakukan berulang-ulang dari generasi ke generasi berikutnya.

Jahiliyyah berasal dari bahasa Arab “Jahala” artinya menjadi bodoh atau tidak peduli, adalah suatu sikap atau keadaan seseorang/masyarakat yang karena ketidaktahuannya (bodoh terhadap nilai-nilai Islam) sehingga melakukan perbuatan yang menyimpang dari petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Keadaan seseorang yang tidak memperoleh bimbingan dari Islam dan al-Qur’an, meskipun dia  bergelar Doktor atau sudah Professor sekalipun, bila dia :

1. Tidak tahu ilmu pengetahuan Islam
2. Meyakini sesuatu secara salah.
3. Mengerjakan sesuatu dengan menyalahi aturan atau tidak mengerjakan yang seharusnya ia kerjakan, maka dia disebut jahiliyyah.

Ketika  tinggal di Taiwan, kami  pernah bodoh ikut melakukan perbuatan jahiliyyah yang bahkan sebagian besar masyarakat Taiwan, yang bukan muslim itu, malah tidak ikut melakukannya. Dengan bangganya, kami menceritakan pengalaman kami merayakan tahun baru dengan ikut menyaksikan “fire works” di Gedung Taipei 101, gedung tertinggi di dunia, ketika itu, kepada Mrs. Lie, guru bahasa Mandarin putri kami. Mendengar cerita kami, Mrs. Lie agak terkejut dan tidak percaya bahwa kami mau melakukan itu, dan Mrs. Lie mengatakan bahwa dia ketika malam tahun baru, lebih memilih untuk berkumpul dan tidur di rumah dengan anak dan suaminya. Mrs.Lie juga memberitahukan tentang ratusan juta dolar, biaya yang dikeluarkan oleh Pemerintah Taiwan untuk pesta kembang api di Taipei 101, katanya media, Gubernur Banten, Ratu Atut, tersangka kasus korupsi juga beberapa kali menghabiskan malam tahun baru, menonton “Fire Works” di Taipei 101.

Mendengar tanggapan Mrs.Lie tersebut, kami jadi malu dan tercenung memikirkan kembali apa yang sudah kami lakukan untuk melewatkan malam tahun baru itu, kami harus memakai pakaian tebal berlapis-lapis untuk melawan udara musim dingin, berjalan jauh sekali menuju stasiun MRT,  menghabiskan uang banyak untuk konsumsi dan transportasi, mengantri berdiri berjam-jam sambil menggendong anak kami, usia 2 tahun, bercampur-baur dengan orang-orang yang bukan mahrom kami (ikhtilat), tidak tidur sepanjang malam sampai pagi hari, hanya demi menyaksikan “Fire Works“, sebuah kegembiraan sesaat yang sangat menghabiskan uang rakyat.

Pesta kembang api menjadi tradisi jahiliyyah, hampir di tiap negara, di tiap kota metropolitan, tiap daerah, tiap RT, bahkan tiap keluarga, menghamburkan uang membeli petasan kembang api, menikmati kebahagiaan palsu yang tidak hakiki. Belum lagi banyaknya korban luka bakar karena petasan kembang api.

Padahal, daripada uang dari ratusan, jutaan, sampai milyaran (berupa kembang api) dibakar hanya dalam hitungan menit, lebih baik digunakan untuk kebutuhan pokok rakyat, atau untuk memberi sodaqoh kepada anak yatim/kerabat/tetangga atau kepada siapa saja yang lebih membutuhkan uang itu.

Islam menganjurkan hidup sederhana, tidak berlebih-lebihan dalam membelanjakan rejeki titipan Allah.

  QS. AL-ISRAA’ : 26-27

TEKS AYAT, TERJEMAH (yang dalam kurung) DAN TAFSIRNYA (di luar tanda kurung)
وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلاَ تُبَذِّرْ تَبْذِيراً
26. (Dan berikanlah) kasihkanlah (kepada keluarga-keluarga yang dekat) famili-famili terdekat (akan haknya) yaitu memuliakan mereka dan menghubungkan silaturahmi kepada mereka (kepada orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros) yaitu menginfakkannya bukan pada jalan ketaatan kepada Allah.
إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُواْ إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُوراً
27. (Sesungguhnya orang-orang pemboros itu adalah saudara-saudara setan) artinya berjalan pada jalan setan (dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya) sangat ingkar kepada nikmat-nikmat yang dilimpahkan oleh-Nya, maka demikian pula saudara setan yaitu orang yang pemboros.

Buat situs web Anda sendiri, gratis di WordPress.com.Buat situs web Anda sendiri.
Mulai gratis