Academic Writing ~ Plagiarism

Wuih, ini nih yang paling berbahaya kalo kita lagi jadi mahasiswa. Sejak S-1 saya udah di-warning oleh pembimbing dan pembahas thesis untuk hal satu ini, syukurnya dulu saya menulisnya dalam bahasa Indonesia, setidak-tidaknya lebih mudah untuk mengenali bahwa idea yang sedang ditulis tidak hasil copy-paste, berhubung literatur yang saya gunakan juga hampir 90 persen berbahasa Inggris, jadi hanya ide pokok saja yang tertuang dalam penulisan thesis yang sedang saya garap, bahkan untuk membuat sebuh quotation saja terasa begitu sulit, karena harus menterjemahkannya dengan baik dan sempurna.

Masalah mulai muncul saat saya melanjutkan S-2 di luar negeri, thesis pastinya harus dituliskan dalam bahasa Inggris, dan referensi yang digunakan juga dalam bahasa Inggris. Beruntungnya, penelitian saya kebanyakan angka, tabel, grafik, dan teman-temannya. Dan untuk hal tersebut dalam menuliskan literature review tentunya akan mencantumkan citation yang cukup lengkap. Dan paling sulit adalah ketika menuliskannya dalam kalimat. Terkadang, saat saya membaca begitu banyak literatur, menuliskannya kembali terasa sulit karena akan dibayang-bayangi oleh kalimat-kalimat yang memiliki kemiripan. Salah satu caranya adalah dengan melakukan note-taking saat membaca referensi secara real-time. Sehingga, ketika ingin membahas mengenai idea yang sama, saya dapat menuliskannya dengan menggunakan bahasa saya sendiri.

Menulis sebuah review untuk literatur tertentu akan menjadi semakin sulit saat saya melanjutkan master di bidang sosial, dalam hal ini education. Referensinya memiliki mayoritas konten berupa kata-kata, frase, dan kalimat, dan sangat sedikit ditemukan angka, tabel, grafik, dsb. Untuk itu, perlu usaha yang lebih keras bagi saya untuk dapat menghindari apa yang disebut dengan plagiarism. Menuliskan kembali idea dari referensi yang telah ada ke dalam bahasa sendiri bukanlah sebuah hal yang mudah. Untuk membantu saya mengecek kembali parafrase yang saya gunakan sudah cukup unik, sehingga dianggap tidak melakukan copy-paste, maka saya meminta bantuan online plagiarism checker di internet. Itupun yang gratisan, sehingga tingkat accuracy-nya tentunya meragukan. Tapi, namanya aja usaha, daripada tidak sama sekali. Kalo sedang putus asa dan sedikit kesulitan mem-parafrase, saya akan meng-quote-nya secara langsung (ga mau susah, hehe).

Beberapa contoh computer screeshoot di bawah ini adalah salah satu bukti kalo kalimat yang saya tuliskan dalam academic writing saya setidak-tidaknya unik menurut plagiarism checker gratisan. Dan tetap saja, saya masih menemukan beberapa tanda merah, yang artinya ada kemungkinan melakukan plagiat untuk frase-frase tertentu. Untuk memastikannya ya tentunya perlu dipastikan, frase apa yang dimaksud, apakah istilah umum, atau terminologi-terminologi khusus yang tidak dapat diwakilkan oleh frasa lainnya.

PlagiarsmPlagiarsm2Plagiarsm3

A Day Before

image

Today, Sunday August 28th, just a day before our new students from Mindanao, Philippines are coming to study with full scholarship in our schools, Sekolah Sukma Bangsa, Aceh. This is one of preparations which are going during this very hectic week. Yup, only in a week preparation, all school members work and collaborate very well done!

I just arrive in Pidie, the place where the students will be welcomed. And hopefully, everything is going well. Today, I also can see a lot activities in this school.

image

image

Well, I will update reporting if I have something unique to tell you later.

Caleu, Aceh, Indonesia

Tell You What, I’m not Smart at All

Dulu, waktu masih pelajar (SD, SMP, SMA), saya hanya menyenangi matematika. Saya hanya fokus belajar subjek tersebut. Walaupun untuk menyenangkan orang tua, saya tetap berusaha mendapat nilai baik untuk semua subjek. Tapi, saya hanya senang dengan pelajaran hitungan, angka saja. Ya, angka!

Bagaimana dengan pelajaran yang lain? Bahasa misalnya. Ok, kali ini saya mau bahas kemampuan saya berbahasa Inggris. Ya, saya tidak pernah dipilih oleh guru untuk mengikuti debat bahasa Inggris. Ya, saya emang kalah mampu dengan teman-teman lainnya untuk hal satu ini. Paling bontot malah. Sampai SMA bahasa Inggris saya masih pas-pasan. Saya tidak pernah mengambil kelas tambahan untuk pelajaran ini, hanya matematika ya, sekali lagi pelajaran hitungan adalah segala-galanya buat saya. Salah satu guru bahasa Inggris saya malah lupa dengan nama saya sepertinya, apa mungkin karena saya ‘bodoh’ sekali ya? Karena itu saya tidak pernah memfavoritkan beliau, bukan berarti saya benci, hanya tidak termasuk kategori favorit bagi saya.

Karangan bahasa Inggris saya termasuk bagus, setidaknya menurut orang tua dan saya sendiri. Nilai saya juga paling rendah 8, itupun jarang, saya sering dapat 9 (karena itu tadi, walaupun saya ga terlalu senang dengan pelajaran tertentu, tapi nilai wajib 9). Dulu, bagi orang tua dan keluarga, nilai bagus pertanda anaknya pintar, terlepas dari faktor lain, seperti social interaction, dsb. Nah, karena menurut guru saya, bahasa Inggris saya tergolong tidak bagus, jadi saya tidak pernah ingin meng-explore lebih untuk pelajaran yang satu ini. Bahkan saya sempat baca komik, novel, dll saat beliau mengajar di kelas. Haha…

Sampailah saya di universitas dengan bahasa Inggris yang masih sangat berlepotan. Walaupun demikian, textbook saya semuanya berbahasa Inggris. Bahkan saya tidak senang membaca textbook yang berbahasa Indonesia, karena dalam ilmu teknik, translasi malah jadi membingungkan bagi saya. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan study ke luar negeri. Nah, pada titik ini, salah satu teman sangat dekat saya meng-underestimate saya mentah-mentah, karena dya tau kalo bahasa Inggris saya memanglah tidak terlalu baik, kalo bagi saya jelek malah. Nilai TOEFL saya untuk melamar beasiswa masih di bawah standar yang disyaratkan. Temen saya bilang, “udahlah jangan liat lagi website beasiswa, disini aja qe (di Aceh), ga usah kemana-mana, berapa emnag TOEFL qe sekarang?”. Saya sempat shock, dan langsung berjanji sama diri sendiri untuk tetap melanjutkan kuliah ke luar negeri, terlepas nilai TOEFL saya jelek atau bagus.

Sampai hari ini kemampuan bahasa Inggris saya masih sangat jauh dari standar yang telah ditargetkan sejak beberapa tahun silam (2011), walaupun saya telah menyelesaikan satu master di negara non-native English speaking (ya iyalah, makanya ga maju-maju haha). Dan sekarang study lagi di kampus non-native, bukannya di negaranya lagi. So, kemampuan saya segini-gini aja kali ya. Entahlah!

Anyway, udah ah, capek nulis…

Becoming A Learner

Learner

 

What can we learn from this picture? There are some differences between fixed-self and learning self. When I say that I need more challenges, I don’t believe other people works immediately until I made my own mistakes, I always want to have new experiences, and I trust myself and my own ability, meaning that I have a learning identity.

People with a learning identity see themselves as learners, seek and engage life experiences with a learning attitude, and believe in their ability to learn. A learning identity develops over time from tentatively adopting a learning stance toward life experience, to a more confident learning orientation, to a learning self that is specific to certain contexts, and ultimately to a learning self-identity that permeates deeply into all aspects of the way one lives their life.

Learners embrace the challenge, persist in the face of obstacles, learn from criticism, and are inspired by and learn from the success of others. HOWEVER, the fixed identity person avoids the challenge, gives up easily, avoids criticism, and feels threatened by the success of others.

So, how about you?

Kuliah di Tampere, Rasa Indonesia

Anda tau di mana Tampere? Itu sebuah kota di Finlandia, kalo mau ke sana, anda harus menempuh 2 jam perjalanan darat dari Helsinki. Saya sedang study di kampus ini bersama 29 teman saya lainnya, teman-teman guru dari sekolah yang sama.

Sekarang saya tau bagaimana rasa teman-teman yang dulu pernah kuliah di NTUST Taiwan, saat berkunjung kesana, hampir setiap 10 m saya temukan orang Indonesia. Bahkan di kampus ini saya mendengar bahasa Indonesia kebanyakan, kemudian mandarin, dan paling sedikit justru bahasa Inggris. Itulah salah satu alasan saya tidak mengambil offering dari kampus ini, selain karena beasiswanya lebih sedikit dibandingkan dengan kampus no. 2 di Taiwan yang akhirnya saya pilih. Mungkin karena kebanyakan orang Indonesia disana, jadi kampus ini kePDan dengan menawarkan saya beasiswa yang pas-pasan pasti akan saya ambil, sorry lah yau, udah kayak kampus Indonesia, campus rank nya di bawah kampus yang menawarkan beasiswa yang lebuh besar lagi (asumsi aja ya, karena mungkin hanya saya yang alami). Inilah yang saya maksud rasa Indonesia. Sehari-hari kita ngomong dengan bahasa, jumpa orang dari negara yang sama terus di setiap sudut, bahkan diskusi tugas juga dengan bahasa, macan-macam lah.

Hal yang sama juga saya alami sekarang… Owuwooooo, ouwoooo, ouwoooo…….

Punctuality = Tepat Waktu

Pernah dengar punctuality? Kalo belum saya kasih tau ya. Itu artinya tepat waktu. Kalo mau masuk kelas, ada meeting, udah buat appointment, macam-macam lah, itu biasanya kita diminta dan harus tepat waktu. Dan ini sulit sekali ditepati oleh mayoritas orang-orang di Indonesia. Jam karet! I really hate it!

Pernah ada janji rapat dengan anggota BEM lainnya, saya sampai  memutuskan untuk mengundurkan diri di sana hanya karena masalah punctuality. Ya, saya tidak senang menunggu, jadi saya selalu berusaha untuk datang tepat waktu, bahkan sering sebelum waktu yang ditentukan.

Jadi, besok-besok kalo udah terjadwal apapun itu tolong jangan pake jam karet lagi. Kalo bisa jam nya itu update dengan internet connection, tapi waktunya tepat dan benar-benar sesuai dengan yang telah dijadwalkan. Katanya Indonesia mau maju, masalah waktu aja ga beres-beres.

Hello World! Tolong Jangan Suka Men~generalisir!

Saya kok suka kesel kadang sama orang-orang kita. Ga tau kenapa, suka banget menyamakan semua orang menurut asumsi mereka. Ya, memang asumsi, tapi kadang ngeselin karena udah keseringan. Yang kitanya ga seperti apa yang dikemukakan oleh si pembicara.

Ini saya kasih contoh ya. Nah, kita lagi pada kuliah ini, berhubung kuliahnya masih di Indonesia sampe sekarang, walaupun almamater kita kampus asing, tapi tetep aja menurut saya tu rasa Indonesia. Bagaimana tidak, bukan saya ga ada rasa nasionalisme, rasa Indonesia itu penuh asumsi. Asumsi kalo kita belum pernah bergadang untuk tujuan studi, asumsi kalo kita belum banyak baca paper dengan kualitas international, asumsi kalo kita belum paham model-model tertentu, macam-macam lah.

Saya kasih tau ya gaya belajar saya waktu undergraduate aja, itu S1, di Aceh lagi, yang konon pendidikannya paling bontot secara kualitas. Saya bisa ga tidur sampe 3 hari, betul-betul ga rebahan, kalo ga ingat kesehatan, mungkin saya ga tidur sampe tugas atau target saya selesai. Di jurusan saya, teknik kimia Unsyiah, kita penelitian bukan lah sebuah tugas akhir, penelitian sifatnya juga cukup complicated, tapi tetap diujikan seperti layaknya seminar dan bukan untuk sidang sarjana. Saya memulainya sejak semester 3, dan baru selesai semester 7. Mulai dari berburu begitu banyak jurnal international, kita hack sampai ke situs-situs di negara-negara maju. Kenapa harus di hack? Karena pada saat itu, library kampus belum menyediakan akses kesana, kecuali kita punya teman yang cukup berbaik hati mencarikan referensi yang kita maksudkan di luar negeri. Saya bela-belain meluangkan waktu malam untuk ke warnet terdekat, berhubung siangnya saya cukup sibuk, kuliah setiap semesternya 24 SKS, belum lagi organisasi dan urusan-urusan lainnya. Kita anak teknik, ga tidur berhari-hari udah jadi rutinitas, so jangan menjudge kita belum pernah merasakan gaya belajar seperti ini.

Yang saya ceritakan di atas belum seberapa kalo dibandingkan dengan saat menyelesaikan tugas akhir. Ya kita merancang pabrik kimia, salah satu syarat sarjana. Saya pribadi mengerjakannya dengan sepenuh hati, bukan hanya demi sarjana. Saya senang, tantangan merencanakan sebuah konstruksi pabrik itu menurut saya cool abis. Kita ga tidur lagi berhari-hari, apalagi saat sedang kepo-keponya dan perhitungan masih setengah jalan. Pernah saya harus membayarnya dengan sakit tifus, saat dua minggu full mengerjakan neraca massa dan neraca energi untuk memulai sebuah perancangan. Tebal tugas akhir saya tidak lebih dari 2 rim kertas memang, hanya 735 halaman. Tapi saya sempat menggunakan dua printer di rumah sampai rusak salah satunya karena kebanyakan nge-print. Jadi berburu jurnal, membaca paper, bergadang, udah jadi hal yang cukup biasa.

Kalo mau dibandingkan dengan gaya belajar saya saat master di jurusan yang sama tetapi di negara yang berbeda, jauh sekali. Di titik ini saya boleh dibilang menggunakan dua tahun yang sangat produktif. Bahkan untuk berlibur, saya harus mencuri-curi waktu. Anda tau, saya tetap menjalankan reaktor penelitian saya di lab saat saya sedang liburan weekend? Demi liburan ke beberapa negara tetangga, saya menyiapkan semua kemungkinan yang dapat terjadi saat saya sedang tidak di tempat. Let say, seperti menyiapkan substrate yang excess berhubung penelitian saya sifatnya continue, dsb. Belum lagi saat dikerjar deadline seperti akan mengikuti international conferences, dengan data yang harus lebih berkualitas, kejar tayang, jam 3 pagi rasa jam 2 siang, kita udah ga tau lagi perubahan siang-malam di luar sana.

Tapi hanya saja, itu semua kembali kepada tantangan, kebutuhan, urgensi, dan pertimbangan-pertimbangan lainnya. Saya melihat posisi saya sekarang sebagai mahasiswa, tetapi tantangan seperti anak sekolahan. Terus kalo kita masih bisa dan punya waktu lebih untuk tidur sehat kenapa harus tidak menggunakannya? It’s my big question. Send me to other place, please! I want to travel, jeh apa hubungannya??? Kira-kira seperti itulah, sedang super sibuk aja saya sempat liburan, apalagi tidak sibuk! I need to boost my motivation, I have no desire if only stay in one place! Very bored! You know bored??? Di tambah lagi kalo ada yang mencoba-coba men-generalisir.

 

Theory, Theory, and Theory

Tell you what, I am doing my second master thesis now, huft! No, no, no! I could not do that. Two years ago, I just completed my first master in Engineering, and I took my Ph.D. in that area as well. But…. after very complicated consideration, I did not continue my study. I returned to my hometown, and looked for a husband, and job! Hahaha, funny right? A husband! It’s our culture. When we have a higher degree, many people say that we will overcome difficulties to find a husband (for women only). Although I’m not really sure for that, but at least I try to obey the rules! Several months later, I did not meet my future husband yet, but I got a job. After a long journey, I decided to be a teacher. If you want to know why, please read my previous stories, hehe…

One year as a teacher, then I continue my study in Teacher Education, yup, of course still master! My background is not education, so I could not take straight to Ph.D. And right now I’m in the middle of my thesis research, with all research activities, let say, data gathering, and data analysis. What next? I must read a lot of related theories about my study. I must be able to see the connection between previous theories and recent investigation of my research. So what? Yaa, I have to do that! The hardest part for me. I don’t have that skill yet. This is social science. Something about words and very abstract. I sometimes could not understand at all.

In a nutshell, I can’t continue telling my story here, I have another job to do! Read, read, and read!!! Then what?

I Feel So Sleepy

Recently, I have problem with my body I guess. I feel so sleepy for a whole day, especially at working hours, and I dunno why. I try to investigate what happened. It could be due to my current activities. I spent my days around four different places, Bireuen, Pidie, Aceh Besar, and Banda Aceh for the last two weeks. So, I think that I am too tired because I ride my own motorbike. I also did some unusual things, such as washing clothes by myself (hand-washing), and I couldn’t deal with my room temperature without fan or air conditioner. It makes me feel exhausted, sometimes, I couldn’t sleep well at night.

I’m trying to experience a simple lifestyle, but I’m not sure whether I can handle it or not. But anyway, thank for reading my unimportant story 😝😝😝

My Travel Blog

Hi guys, If you want to know more about my stories, especially my trip, travel, and anything about outdoor activity, I will share them here. Check it out!

Though I don’t think that I have enough time to write it, but let see.

I Want to Hear More Good News

Level kemalasan saya bertambah akhir-akhir ini… Seperti biasa kurangnya tantangan maupun target pribadi yang boleh dibilang cukup kendor… Tapi itu biasa terjadi pada saya, dan yang saya takutkan kalo sampe keterusan kan jadi ga baik!

Pagi awal Agustus (1 Agustus maksudnya), saya membuka salah satu akun media sosial dan menuliskan sesuatu di sana, hari itu saya sangat khawatir dengan diri sendiri, yang lambat laun terus merosot. Untuk itu saya rasa membuat komitmen pribadi yang diketahui khalayak ramai itu terkadang penting.

August.JPG

“Welcome August! Hopefully I can hear more good news from now on”. Kalimat sederhana ini setidaknya menjadikan saya lebih produktif pada hari-hari berikutnya. Ya, walau kadang tetap ‘malas’. Kalau boleh saya akui, tidak sepenuhnya malas, hanya saya merasa kurang tertantang atau hidup yang kurang dinamikanya.

Pertengahan Agustus ini, saya dan partner akan melakukan sejenis piloting penelitian kami di sekolah setingkat SMA kalo di Indonesia. Hal ini boleh jadi salah satu yang membuat saya menjadi lebih produktif. Nah, salah satu kabar baik saya dapat di bulan ini datang dari BEJ – Biochemical Engineering Journal, salah satu paper saya tiba-tiba diterima di sana… hahaha… Ga terlalu surprise sih, pasalnya udah sempat di tolak sama Bioresource Technology Journal (yang konon IF-nya upto 5). Tapi, memang ini paper ter-cupu yang saya punya dari total 3 papers lainnya yang sudah saya ajukan.

SD.jpg

Yah, seperti itulah lika-liku kehidupan, hah? Apa hubungannya coba dengan tulisan ini. Saya memang begitu adanya dari sejak lahir, selalu menganut paham “the power of deadline”, jadi kalo tidak terdesak, saya leyeh-leyeh dulu sampe ga tau mau mengelak kemana lagi. Tapi, jangan pernah dekat-dekat kalo saya udah mulai serius ya, bisa ga dengar dan ga merasa terganggu dengan apapun keadaan sekitar. Di periode yang sangat produktif (ga bertahan lebih dari dua hari biasanya, atau bahkan hanya dalam hitungan jam) ini, saya bisa menyelesaikan hampir semua target-target yang sempat tertunda (atas izin Allah tentunya), dan saya percaya ini adalah bagian dari cara kerja otak seorang procrastinator sejati. Tapi jangan ditiru ya teman-teman.

Pagi ini saya dapat notif dari salah satu teman seperjuangan di media sosial, kalau-kalau ada tulisan saya yang cupu lainnya di salah satu media. Ya, saya jarang-jarang menganggap sesuatu terlalu serius, itupun sudah melalui berbagai encouragement dari beberapa orang lainnya. Jadi saya pick out salah satu tulisan di blog ini, dan munculah dia seperti gambar berikut.

MI.jpg

Anyway, cara saya di atas cukup manjur sepertinya. Mengutarakan komitmen diri secara terbuka, kemudian ya dijalanin saja mbak eee…

A Year Reflection from My Students

Beberapa waktu lalu, saya pernah menulis artikel atau lebih tepatnya curcol Setahun Penuh Jejak selama saya menjadi guru di salah satu sekolah di Aceh. Yup, boleh dibilang ini salah satu dari takdir saya. Bagaimana saya melewati hari-hari penuh tantangan sebelumnya sampai akhirnya nyangkut di sini, hahaha *maksa ketawa.

Kali ini saya mau melihat siapa saya dan bagaimana saya menurut perspective siswanya. Refleksi ini saya peroleh setelah kurang-lebih setahun saya mengenal mereka, jadi kira-kira pertengahan 2015. Anehnya, saya yang biasanya meminta mereka memberikan komentar secara lisan, saat itu saya meminta secara tertulis. Saat membaca macam ragam komentar mereka, saya kadang tertawa, menangis, terharu, merasa bersalah, dan sebagainya. Melalui tulisan ini, terima kasih semua bagi yang udah merasa terbantu akan kehadiran ibuk cantik *eh, mohon maaf juga karena ibuk belum bisa men-cover semua permintaan kalian, dan juga merasa bersalah karena masih jauh dari sempurna buat kalian semua.

Dan inilah beberapa komentar terpilih (karena terlalu banyak untuk ditampilkan semua)… Happy reading!

Coretan Mimpi yang Terwujud (Part 2)

Masih ingat postingan tahun lalu disini? Yup, saya beberapa pekan terakhir ini mendapat surprise dari “anak-anak ajaib” yang pernah saya sebutkan sebelumnya. Sayangnya dalam beberapa bulan terakhir memang saya tidak punya cukup waktu buat mereka, karena terhitung Desember 2015 kemarin, saya kembali melanjutkan study. Namun, saya mencoba tetap up-to-date untuk mereka, tetap memotivasi, dan menfasilitasi semampu saya jika diminta. Dua dari mereka telah menyelesaikan sekolah tahun ini, dan akan melanjutkan ke universitas. Salah satunya telah diterima di jurusan Teknik Kimia Universitas Syiah Kuala melalui jalur SNMPTN, tinggal menunggu kabar beasiswa bidik misi, mudah-mudahan lulus yaa. Satu lagi juga tidak kalah, telah diterima di Jurusan Kimia Institut Pertanian Bogor melalui jalur beasiswa daerah. Mixed feeling sih, secara itu “baunya” ke-kimia-kimia-an semua. Tapi, apapun pilihan kalian, sebenarnya tetap kita dukung kok 😀

Nah, mereka kan bertiga. Satunya masih akan melewati final year di sekolah. Dan cukup bersemangat untuk mengikuti jejak kakak-kakaknya. Kemarin kabarnya envy abis sama seniornya dan mau belajar mati-matian untuk membuat jejak-jejak mimpi, dan ga kalah penting minta di-tag di blog gurunya, haha. Pasalnya, mereka sepertinya sedang terkena syndrome “banyak bermimpi” yang saya propose di tahun pertama mengenal mereka saat bergabung di sekolah. Tapi yakinlah, siapa saja yang bersungguh-sungguh, insyaAllah akan mendapatkan apa yang dicita-citakannya. Sekarang mungkin capaiannya hanya satu langkah kecil saja, tapi dengan komitmen yang kuat, capaian besar pun akan tercapai nantinya. Anyway, congratulation guys! Four words only “from zero to hero”. Dan yang lain tetap semangat ya…

*Selamat juga buat yang keterima di FK dan FKH Unsyiah

A Final Touch with Julie… Thank You my Best Teacher!

Right here, I am going to express what I have learned from the beginning of this course until now. It is fabulous that I have ever had a teacher like you Julie 😀

This is my second master degree but in a different field of study (engineering and education). I spent my first master in the Republic of China which has Chinese (Mandarin) as the first language, and English becomes the second language just like in Finland, even in Indonesia, English as a foreign language. Currently, I admit that my English is still very bad, in particular, my academic writing. In the beginning of this course, I was overcoming the difficulties in understanding some terminologies coming from educational articles. As a consequence, I spent too much time to read educational articles, especially, in the philosophical education discipline. As my English proficiency achievement, basically I don’t have any problem in reading comprehension part, however, my problem then comes from my writing ability. Previously, I don’t really pay attention on how to use English expression in writing, particularly academic writing. And now I realize that English expression is compulsory to practice consistently. Up to now, I start being aware of my English improvement. Recently, my previous professor from Taiwan is constantly asking me to revise my own publication due to reviewers’ recommendation. I am surprised that I could recognize my writing weaknesses, I found some grammatical errors from previous writings easily, likewise, I could identify the wrong word choices in the texts written. I would also thank this course that helped me so much.

Overall, I do improve. However, I must be able to remind myself that I should pay more attention to my bad English. Just because I didn’t really care for it. I am an easy going person, as I knew that my partners could understand what I meant, meaning that my English was acceptable. Hahaâ€Ķ.

A Five-Consecutive-Day with Mary

Day 1 (7 March 2016)

We started the class by introducing about five-day courses. Our teacher, Mary, introduced herself at the glance. She also mentioned that we are going to have daily tasks and post-course assignments. Then we continued by interviewing our colleague and wrote her/his profile down. The teacher added more explanations about the course outline, course material resources, and action research as well. What I found during this class was how teacher managed the appropriate course and addressed it in proper time.

 

Day 2 (8 March 2016)

This is my second day with Mary. She displayed some correction codes from the previous task. She offered numerous advice to be implemented on my writing in the future. In a group, we attempted to identify our writing problems and mistakes. Then, we did diagnostic exercise both in a pair and in a group. In addition, we did self-correction for our previous writing. In the end of the class, we addressed a short presentation about Indonesia students’ problems when they write texts in English. What a great day! What I have done today became one of process learning, particularly at improving my writing skills.

 

Day 3 (9 March 2016)

Today, we talked about academic discourse in academic texts. In a pair, Mary asked me to find out any problematic language issues dealt with in an academic text (e.g. Chant, 2009) and captured some feature problems (e.g. punctuation, phrasal verbs, etc.). We identified these features and prepared them in power point documents then submitted to Moodle. In addition, I did brainstorming about my future action research, then wrote it as an essay. The essay must be submitted right before 6 pm on the same day, while we were having the other session with Julie. Fortunately, I did very fast brainstorming and tried to arrange the outline in a short time. I accomplished my essay prior to lunch time. However, I left some grammar mistakes there. It was one of my weaknesses. I need to pay attention more in “articles” usage. Somehow, it was a very tough day for me. But, I enjoyed it. I love to be pressured. Stay curious, stay foolish, and stay hungry with new knowledge.

 

Day 4 (10 March 2016)

Mary gave me feedback about my essay draft. I did some revision on my writing to be submitted by the end of the class. We did discussion and helped each other to improve our essays both in grammar and content. To be honest, I really enjoy the class rhythm. We were forced by task deadline and had to work with it properly. Somehow, I have already accustomed to doing something very fast. It was easy for me if we talked about engineering or natural science area, however, to work on social science would be slightly hard. Now, I am able to face these problems. Hopefully, everything is getting easier and better.

 

Day 5 (11 March 2016)

Today we had a very short class with Mary and supposed to be the last meeting with Finnish teacher during this week. Actually, I was very excited with all experiences that I had done with them. I really don’t want to pass this day, I don’t want to have any kind of farewell session with them. However, Mary could manage our class very well. We did survey/Gallup poll. We tried to conduct the small public opinion poll. I asked five respondents to give their opinion related to my issue. The respondents are my classmates. They did very well. I took water/land/air pollution problems in Indonesia to be discussed with them and asked their perspectives and arguments. Overall, this week was my very exciting week, I don’t think I was tired, or it was the tiring week. As long as we enjoyed what we did, everything is going to be fine. I took every single thing as my challenge, no matter what, I tried to complete what I started by the deadline. Somehow, I do love to study with you. Thank and see you in Finland 😀

A Week with Eero, Tuovi, and Paivi

Day 1 (11 April 2016)

In the first day, I found that teachers introduced themselves by presenting their career and life story as well as their education background. It is very important to know, then I can decide what kind of discussion or questions should I ask which are relating to their career disciplines. Prof. Eero started the discussion about identity, expertise, and agency. Prior to starting this lesson, in the previous week, I had already done three summaries including three different topics (identity, expertise, and agency). Hence, by accomplishing these summaries, at least I had background knowledge right before the lectures provide their lessons. Prof. Eero attempted to address some issues concerning to these topics, then we had discussion session for each topic delivered. He explained theories of learning. Historically, these theories have changed by the time. Actually, I don’t really understand what he tried to explain, my education background is engineering, and in the beginning, it seems hard for me to capture verbal communication. However, I got some points on how the learning is defined as a theoretical concept, as well as what the most common learning theories is. In addition, we also had a discussion about the direction of our thesis topic. I found that we are late to start thinking about it. But, it will be fine I guess, as long as we can manage our time properly. When I was going to start my master degree last three years, I had already kept in touch with my professor (supervisor) before departing to the country that I had decided to study. He gave me a lot of advice regarding my research topic. Then, once I was there and was going to start my study, I had had a clear direction on what I was going to do. And I hope I am going to meet my advisor as soon as possible in order to have a discussion about my thesis topic. I don’t think it will be easy for me. I need to switch my mind from natural to social science, it means I need more time to digest and decide what I have already known and what I am going to do my research. I am also thinking whether the topic that I choose is applicable enough, and can be implemented and suggested to my school.

 

Day 2 (12 April 2016)

Today, Tuovi started the lesson by providing the lecture about the practical theory of teaching. This practical theory comes from her teaching experience as a teacher for more than 30 years. She explained the important values of the Finnish school implemented. I knew about during introduction to Finland in the matriculation session with Pekka. Yes, I agree that Finnish school applies the equality, informality, and honesty. What I really concern is about teacher’s autonomy. It is a big issue in Indonesia due to some political issues in this country, teachers do not have a particular autonomy to design their own curricula, teaching needs and learning environment. Teachers also have a problem in their expertise, there are many students’ evaluation standards provided by the government, and there is a particular inspection system of schools and teachers that influence teachers’ trust. In addition, she also addressed the roles and relations of a teacher. They are divided into personal (internal) and interpersonal (external) level. In terms of personal level, teacher action should be adjusted with capabilities, values, and sense of identity. Once teacher can associate his/her action with those aspects, then the teacher is able to encounter the interpersonal level. She also explained about Robert Dilts, NLP hierarchy. It recommends teachers to questioning what, who, where, when, why, and how about their students. I think Tuovi is a really good teacher to her students, she has her personal top 7 objectives as a teacher in order to, ultimately, encounter the students as people and challenge them to wonder the world and make it better. We also had an active discussion session with her, and a lot of questions raised related to teaching in practice. In a particular case, I got the other point of view about teacher roles. How Finnish does not have any punishment to students with a particular violation, etc. They really try to understand their student as a person, also respect them.

Then, we had a session with Prof. Eero. Right here, Eero attempted to address what is teaching expertise. For this part, I have already tried to have some main ideas from his paper on how Eero differentiate expert teacher from novice teacher. There are 6 propositions that he produced to answer all those issues. Eero seems very familiar with this topic, however, he overcomes difficulties to explain to us in English. It can be understood, we are in the same boat, and English becomes our constraint to communicate each other. In some case, our messages cannot be completely delivered and understood by others. For this session, I am really interested in narrative learning (narratives of becoming an expert). It is believed that narrative can help professional learning from it autobiographical root. I can see that through narratives, people can take different roles towards themselves and their own development. Yes, I agree that it is an old-fashioned approach/method in teaching expertise. However, we understand that narratives will help people (students) to find their identities. In addition, we also believed that identity will influence both personal and social students’ development.

The session was continued by Paivi. Actually, we did our group portfolio about “what a god teacher is like” yesterday. And today, we attempted to make it as a theoretical concept. Also, in the end of the class, Paivi asked to explore our strengths on our expertise as teachers. Again, we did it in the group. For me, this was really interesting. We collaborated with the group in order to define both our individual and school expertise. I think, this is part of portfolios to record our development as postgraduate students. What I can do in the future is trying to file all students’ portfolios properly. The lectures that I have got during these two days tell me a lot about how to find my identity as well as our students’ identities. Furthermore, Eero also offered me the other point of views of becoming an expert teacher. Thank you, Eero, Paivi, and Tuovi J

 

Day 3 (13 April 2016)

Paivi took the first turn to provide us her lecture about academic portfolios. As I mentioned previously, from the first day that we met, Paivi always asks to do something (some concepts, common teacher practices, etc.) in pairs or groups. She explained about learning diary as one of the portfolios to record our academic life. It has a purpose to do critical reflection about what we have already learned. Hence, the portfolio may become a proof for our personal development as well as career. It shows us the collection of our study or career-path performance. I also understand portfolio is long life self-reflection. It can show our expertise as a teacher, a child, a student, or other. Yup, I am going to collect my portfolios in order to develop myself, in career/study as well as my personal development.

Then, Eero continued the lecture with a qualitative study. Today, we discussed our personal and school expertise that we have already done before. We categorized it based on our perspectives. Thus, it will not be very objectives, because one has a different perspective with others. It was really fascinating. We worked in groups. I don’t know what you thought about us. Once you ask to work in groups, we will do it freely, just like at home. Yes, I really love to do something differently (not only listening to lectures passively). After completing our works, then the lesson was continued by qualitative discussion relating to what we did previously. This was the best part for me. I believed that with discussion, my perspective about some concepts, theories, practices, etc. will develop. I got another point of views about different issues, problems, and aspects. We can share our knowledge, give constructive feedback, and support each other. Honestly, I am not good at verbal communication. Previously, I see everything with numbers, pictures, schemes, diagrams, etc. However, at this time, I am training myself to be more communicative verbally. It will help me to solve many problems in the future. As a teacher, I also apply this approach to my students in order to help them in learning cooperatively.

 

Day 4 (14 April 2016)

The teacher started the class by explaining the concept of students’ agency. Again, this is Paivi expertise. She attempted to provide a critical review of the multidisciplinary concept of agency, and also offer to us a way of conceptualizing agency at our expertise area as a teacher. Nowadays, I know that the concept of agency plays a very important role in education, and some other subject-matters. Therefore, it is important to discuss how professional agency can influence our students’ performance in the classroom. Agency in education is associating to identity (teacher identity). Without a well-developed identity, we cannot be agents to our students. What I have learned during these four days, the issues about identity, expertise, and agency, gives other concerns to me. I now can see the connection amongst them. Once we find our identity, we can be an expert as well as an agent. In short, I found that the lectures from my teachers are very valuable and useful. Hopefully, I still can learn more with you face-to-face or online. I’m even considering to take it as my thesis topic. I will re-think about it, it looks really interesting for me. Yes, I got some new learning experiences during this week. I can say new because my prior concerns are quite different.

Again, Tuovi took her turn to perform (ups, teach) and discuss her 30 year anniversary, even older than my age, haha. Compared to her, of course, I am still a rookie. I took the chance as a teacher one year ago. Before, I was an engineer, and also a scientist. Yup, I have many identities, absolutely. Tuovi mentioned the steps to teacher expertise. She called rookie time for first 2-3 years. Yes, I agree with her. I am in that position now. What she faced at that time almost matches with me. Then, as a teacher, she had passed her first routine, at this time she was considering her family more than works. Yup, I can see that. My sister is also a teacher. When I was at home and had no other activities, I helped taking care of her small children. I think, this is the hardest for every teacher with the same experience to re-consider whether they are going to continue being a teacher or not. Then, she moved to real routine phase. At this time, everything was going automatically. Yes, she adopted a door handle pedagogy. Although I am still a rookie, I did it! Bad teacher J Yes, prior to starting my lessons for next day, I do teaching simulation at night. Sometimes, I just imagine my students’ faces, subject-matters that I am going to teach, classroom environment, my expectation, students’ limitations and interests, etc. Even, I dreamt about it. So, we are in the same boat.

Then, Eero moved to a narrative perspective on learning and curriculum. In this lecture, he explained the importance of learning form narratives or teaching with narratives. The results of this learning are narrative characteristics. He also emphasized that identity is an important concept in understanding actions, agency, and also behavior. Identity (positioning) influences on what we perceive and receive. Yup, I take this as my new knowledge and learning experience.

After lunch, we continued to deliver our group presentation about identity and teacher expertise. During presentation and discussion, I found a lot of new concepts, theories, etc. We did deep discussion as well. To be honest, I am not the one who have a good understanding of educational psychology. However, I am attempting to gather a lot of related information to solve many puzzles on my brain. I am interesting in all new knowledge, for that I am struggling to do my best. I never learn something only to accomplish assignments given by teachers, but I learn something to understand, if possible, to implement it in my real life. Overall, I really enjoyed this day. I like to do a presentation, I like to transfer my knowledge to others, and I like to respond other people works as well.

 

Day 5 (15 April 2016)

This is our face-to-face last meeting with Eero, Tuovi, and Paivi. We continued to do group presentation about the agency. They defined what is traditional classroom learning (i.e. students listen to the teacher in the classroom), alternative classroom learning (students have their own autonomy), transformative and creative learning (a group of students with their autonomy gathers at some places for discussion). Collaboration and agency in the classroom involve narrative learning activities as our focus. Agency contains the concept “authenticity” or “initiative” in doing the activity. There are two types of agency: individual and collective/shared agency. Furthermore, narrative plays pedagogy and emphasizes the sense-making process and construction of motivation through narrative elements relating to students’ interests. They play drama, part theater, musical, etc. In our school, teachers have already applied this narrative learning. However, our goals on the agency to explore students’ identities do not achieve yet, and it seems still on the surface.

Then, we did an evaluation, reflection, and gave feedback about all lectures that we have acquired during these five-consecutive days. The evaluation focused on contents, learning methods (lectures, group works, lessons, presentations, etc.), outcomes, and what do you take with you from this course. We also did criticism about the educational system in Indonesia, then we compared it to the practice that we have already done in our school. What I can see here is, the lectures were very helpful and gave a lot of new issues that we can learn and explore more in the future. Nice to meet you all. Send me to Finland as soon as possible, please! I also plan to continue my Ph.D. there. It is a must right after graduating from this program. I am thinking that I really want to feel educational environment there. No matter what, I am going to be there, and meeting you again. I am not satisfied with the educational system in Indonesia. That is why, I tried to have my education abroad, and bring the values to Indonesia. Again, thank you very much!

How I Become A Teacher!

The reflection of my first experience as a graduate student in Education major.

The understanding about the importance of education becomes a crucial focus, especially for basic, secondary and upper secondary teachers. This problem starts from how Indonesian (our society) thinks about teacher profession and how Indonesian’s government appreciates teacher as an important profession. Right after graduation from upper secondary (senior high) school, pupils will consider doctors, engineers, and lawyers as the best choice ever that provide a good future for them. Once worked at one of all those areas, an employee will obtain a very promising salary, accommodation and family’s support.

Becoming a teacher, however, becomes a nightmare for some. It was happened to me as well. By taking engineering as my major both in undergraduate and in master degree, I was confused to become a teacher. Working for one year as an engineer let me reconsider it. What I found is Indonesian’s future generation is getting worse especially in their behavior and understanding of education as a compulsory thing for their own sake. In order to work this kind of problems out, as a young generation who has a responsibility to be involved in this area, I myself re-thought to take care of future generation for their better life.

As the comparison, teacher as a popular profession in Finland, Canada, and Israel. Based on orientation course, I found the other perspective about teacher’s work and profession. The teacher is motivated applicants and has finished master’s degree in research-oriented approach. There are several reasons why teacher profession is popular in Finland; teachers are respected in society, teaching is valued as an academic career, there is no unemployment for teacher (labor market is stable enough in this area), education offers both theoretical and practical knowledge, and also a situational reason that teacher education department located in different parts of the country in Finland.

Finnish teachers are valued, trusted, and well educated in their country. Basically, we found that Indonesian’s teachers are well-educated as well. However, due to some political issues in this country, teachers do not have a particular autonomy to design their own curricula, teaching needs and learning environment. Teachers also have the problem in their expertise, there are many students’ evaluation standards provided by the government, and there is a particular inspection system of schools and teachers that influence teachers’ trust. All those mentioned above are related to the strength of Finnish teacher education compared to Indonesia. The other strength is “no one left behind”, Finnish takes it as one of the educational cultures in the schools. Finnish students’ achievement results are most equal, and there are very few Finnish students obtain low achievement in groups.

Several years ago, as a comparison when I was in secondary school (around 2005), the teachers acted as speaker, ruler, controller, conformer, self-protective and completed, yet what characteristics expected of teachers nowadays are a listener, understander, reformer, open and receptive, also incomplete. These criteria become a new challenge for the new generation teachers around the world. When a teacher can adapt it well, the sense of school participation to student increases, and everyday life and school come closer to students and teachers.

Regarding teacher autonomy and responsibility, as mentioned previously, when a teacher is valued means an education is valued as well, the ethos of teaching are known as a service to society. The other different perspective that I found is about how Finnish recruited teacher candidates. Finnish puts a great deal or consideration on it, in order to provide a well-educated teacher. Hence, only the best ones are recruited in teacher education, of course, with some particular requirements. There is no evaluation standard to hire a teacher, and there is no standardized assessment of evaluating students. Teachers themselves evaluate students. Teachers have freedom and cannot be controlled by others, can take responsibility for the development of school and are able to cooperate with other stakeholders. Indonesia’s government directly interfere with teachers’ responsibility and makes some particular things become worse. They do not know whether only teachers know better what students need, they must let teachers themselves select which curricula are chosen for teaching-learning activities because one-size-fits-all approach does not fit education. Hence, it will influence teachers’ psychology to be able to cooperate and have more confident.

The other success key of the Finnish educational system is Finland goes against evaluation-driven centralized school model. I try to pick out some of them which encourage the differences between Finnish and Indonesian educational system. In Finland, students rarely take exam, education is free, students have free meal every day, teachers are given the same status as doctors and lawyers, only 10% of applicants get in class of teacher education, the national curriculum is only broad guidelines, and teachers and students have a big portion of autonomy. Nevertheless, the government of Indonesia will use one-size-fits-all approach for national curriculum determination. They offer it in detail and all schools must follow these guidelines. The government also determines the assessment and the evaluation models for both teachers and students. The other funny thing what I found here is the teacher applicants competition is less than other university majors. Once applicants cannot pass the other majors, they will turn to teacher education major. These facts exhibit that there is no particular treatment in order to provide good teachers.

Finnish believes that well-educated mothers have a direct correlation with the children’s quality. Because highly educated mothers will spend more time with their children in development activities and outdoor/playing activities as well. In addition, Finnish has gender quality in all areas. Because of these reasons, Finnish provides particular supports for families whereas it is very hard to get in my beloved country, Indonesia. They offer maternity clinics, maternity packages, child health clinics, and even family counseling.

Furthermore, both Finnish and Indonesian educational system has the same grading scales, but not for grading definition. Grades are given on a five-scale point scale, A-B-C-D-E. In Finland, A, B, C, D, and E stand for excellent, very good, good, satisfactory and sufficient, respectively. However, in Indonesia, A, B, C, D, and E stand for very good, satisfactory, sufficient, insufficient and failed, respectively.

The school of education in University of Tampere (UTA) provides three intake options, they are lifelong learning and education, primary teacher and early childhood education. Besides, they also provide internal intake both for students and for the staff. Recently, UTA works on 8 different research projects with external funding, two of which are Higher Education in Transition (HET) and Learning and Development in School (LDS). I put my concentration on these two areas, because they cover the research-based development of learning environment, and research on learning technologies, school welfare, and school management. In addition, they focus on formal and informal teaching and learning settings from early childhood to adulthood education. All those kind of complicated disciplines is surprised me. Even though my education background is not education or teacher education, but I can feel the differences between Finnish and Indonesian educational school and system.

During orientation course, flying teachers also provided some facts about Finland which are covered by Finnish nightmares, everyman’s right in Finland, famous Finns in several areas (e.g. sports, movies) and introduced Finns as people. Different countries have different cultures, of course. I took them as a new knowledge.

We were introduced to the essay, learning diary and reading group as the assignment models applied in Finland. The essay is a written product using some references to support the ideas, but learning diary is the critical reflection on the topics dealt during the classes, just like what I am doing now. The last one is reading group, the purpose of this assignment is to obtain better and deeper understanding of the selected books, and then in the end after taking notes, students may produce a summary or an essay.

In conclusion, several good things and new knowledge have been obtained after following this orientation course.

EVERYDAY LIFE OBSERVATION

Basically, this is my pre-assignment for one of Finland lectures, Pekka. And I don’t think it is really important to be shared here, but I just want to do it without any reason…

We had two days off due to students’ graduation day event last week. When we left our campus (Bireuen), everyone looked fine and happy. We met again on Monday. Two of my roommate (seven in total) was infected by influenza virus. I noticed one of them has blood type O, and the other has blood type B. I already predicted that this virus would be spreading and infecting the whole member of the room. Because the one with O stays closer to me, then I was the first victim of this infection. A couple days after, another roommate who has blood type A got the infection as well. After analyzing, I observed that one of the friends from another room also has blood type A, and was infected already when she came back to school on Monday. We have ‘contacts’ in the classroom instead of the dormitory, so it could be possible for my roommate to be infected by her. Unexpectedly, another roommate with B was also infected later. I think, the spreading speed of virus infection has a correlation with human’s blood type.

Go International

Ntahlah! Orang bilang saya kebanyakan tidur sehingga saya jadi kebanyakan mimpi. Tapi saya pernah mendengar kalimat ini, “you cannot have empty or neutral mind, as long as you work the mind will contain dreams, if you stop working it will contain regrets”. Saya tidak ingin menjadi orang yang menyesal. Jadi singkat cerita ni ya, hobi jalan-jalan saya tidak akan terwujud kalau saya enggak kreatif. Dan saya harus keluar sebentar dari aktivitas rutin, jika tidak ingin “gila”.  Berawal dari rasa penasaran akan perkembangan teknologi terutama dibidang yang saya tekuni, dan berawal pula dari keinginan saya memperkenalnya kepada generasi-generasi di bawah saya (ecieeeee, ini fitnah), maka sampailah kami semua untuk menghadiri salah satu konferensi ilmiah berskala internasional yang diadakan oleh Universitas Syiah Kuala dan Jurusan Teknik Kimia UNSYIAH di Banda Aceh. Bagi saya jujur saja ini hal yang sudah sangat biasa, kalau saya menghadirinya sendiri. Tapi kalau saya datang dengan pasukan research club dan anak-anak Mensa (agak lebay), ini jadi hal yang sangat luar biasa.

Awalnya saya menanggapinya sebagai hal yang cukup biasa, tapi ini berubah sesaat setelah sebagian dari panitia dan peserta seminar yang hadir terus menanyakan beberapa hal dari pasukan saya. Bahkan salah satu invited speaker dari Jepang (yang ganteng itu :D) merasa surprise karena seminar yang sepatutnya diikuti oleh mahasiswa master dan doctor, kok malah dipenuhi oleh anak-anak dari sekolah menengah. Anehnya lagi, bahkan mahasiswa undergraduate yang hadir sebagai peserta sangat sedikit jumlahnya. Salah satu hal yang paling saya sesali di negeri ini. Bandingkan saja jika konser diadakan, maka akan berbondong-bondong orang hadir sampai kehabisan tiket dan berdiri pun rela. Sebaliknya untuk sebuah event knowledge sharing, hanya segelintir saja yang datang, itupun “mungkin” hanya untuk mengejar sebuah sertifikat.

Namanya juga anak-anak, semangatnya naik-turun, terkadang memperhatikan dengan seksama, terkadang terkantuk-kantuk, atau hanya melamun. Wajar saja, mereka masih belajar menjadi pendengar yang baik dalam Bahasa Inggris, ditambah lagi bahasa yang digunakan adalah bahasa scientific. Yang penting mereka masih tetap mau diajak lagi sebagai ”korban” saya untuk keluar dari aktivitas rutin.

Berikut adalah beberapa momen yang sempat diabadikan dalam frame!

IMG_1022

Kali ini kita yang nunggu Pak Umar datang (balas dendam pak Umar ni yeeee XD)

IMG_1054

Guru sama siswa sama aja, thank miss Lena, nice shoot!

IMG_1061

Saat lunch break, kita malah poto-poto, udah adat!

IMG_1071

Saat pada “sok serius” dengerin lecture dan presentasi, mudah-mudah paham ya…

IMG_1066

Saat mencoba menjawab penugasan dari ibuk cantik itu 😛

IMG_1094

Seperti biasa, apapun kegiatannya, tetep berakhir dengan makan-makan (padahal udah makan berkali-kali)

Setahun Penuh Jejak, Happy Anniversary! (8 September 2014 – 7 September 2015)

Caleu, 2 September 2014, pukul 08.00 pagi.

Hari Selasa, saya memaksakan diri untuk mengikuti proses microteaching dan wawancara setelah sehari sebelumnya melewati serangkaian tes tulis di sekolah ini, ya tempat dimana jejak-jejak itu mulai dibuat. Pilihan yang sulit harus saya pilih, sulit sekali. Anda tahu, sebuah tempat yang boleh dikatakan remote area, sebuah tempat yang jauh dari keramaian, tetapi cukup bersahabat. Beberapa hari sebelumnya saat mengikuti gowes 20K —belum terhitung jarak dari rumah sampai garis start (PP)— sempat membuat saya yang mempunyai hobi kurang sinkron dengan kenyataan (eh kesehatan, red) hampir jatuh sakit. Jadi boleh dibilang, saya memang terlalu memaksakan diri untuk kekeh ke Caleu saat itu. Tapi siapa sangka, ini menjadi awal yang cukup bernilai terutama untuk proses pematangan pribadi. Bagaimana sulitnya bagi saya yang cukup idealis dengan target-target yang telah saya tentukan memilih untuk hadir di sini. Jujur, lagi-lagi kalau saya boleh berterus terang, saya berencana menyelesaikan program doktor setidaknya saat berumur tidak lebih dari 30 tahun. Dan sesuai perhitungan, jika saya tetap melanjutkannya, target itu insyaAllah terwujud (dengan asumsi, program hanya memakan waktu 3-4 tahun). Baik, lupakan itu, tangguhkan dulu, teruskan apa yang sudah dipilih, selesaikan pilihan ini.

Caleu, 8 September 2014, pukul 07.30 pagi.

Hari Senin, target untuk setahun sudah saya tulis. Banyak, tetapi cukup realistis. Saya mencoba menikmati hari-hari saya, berbaur dengan siswa, dengan rekan kerja dan siapapun itu. Pernah bahkan sering mungkin, saya ingin menyerah. Menyerah karena belum cukup dewasa memaknai proses yang sedang saya lewati, menyerah karena banyak pihak yang kurang setuju dengan pilihan saya, menyerah karena saya “dinilai” kecil, menyerah karena saya merasa “lelah”. Saat rasa itu datang, lagi-lagi saya mengingatkan diri akan tujuan hidup. Mencoba merasakan bahwa ini adalah investasi saya yang paling mahal. So, kenapa harus menyerah?

Caleu, 7 September 2015, pukul 06.30 pagi.

Hari Senin, saya kurang sehat. Seperti biasa, kesehatan saya selalu menurun saat harus melalui hari-hari yang melelahkan. Saya buka lagi coretan setahun silam, coretan target setahun yang pernah saya tulis, cukup bangga, walaupun belum semua terealisasi. Mimpi-mimpi itu telah berubah menjadi jejak-jejak kaki. Happy Anniversary!

Dedicated to all my students

You are my motivation, you make me stay longer #wish

Perbedaan Kurikulum 2013 dan KTSP

Kurikulum 2013 sudah diimplementasikan pada tahun pelajaran 2013/2014 pada sekolah-sekolah tertentu (terbatas). Kurikulum 2013 diluncurkan secara resmi pada tanggal 15 Juli 2013. Sesuatu yang baru tentu mempunyai perbedaan dengan yang lama. Begitu pula kurikulum 2013 mempunyai perbedaan dengan KTSP.

Kurikulum

Pada KTSP proses pembelajaran yang lebih dominan adalah aspek kognitif, psikomotor, dan afektif, sedangkan pada kurikulum 2013 dalam proses belajar mengajar nantinya yang lebih dominan adalah afektif, psikomotor, baru kognitif. Artinya siswa dalam proses  lebih  menonjolkan afektif dan psikomotornya. Kurikulum 2013 sangat menekankan penyeimbangan antara aspek kognitif (intelektual), psikomotorik (gerak) dan afektif (sikap). Berbeda dengan KTSP 2006 yang pada tahap implemntasinya cenderung lebih fokus pada aspek kognitifnya.

Aspek standar isi

Jumlah mata pelajaran yang ada di dalam setiap jenjang di kurikulum 2013 berkurang. Contoh: untuk sekolah dasar yang awalnya 10 menjadi 6 mata pelajaran, tetapi esensi yang diharapkan dari setiap pembelajaran tetap ada, sehingga cara yang digunakan didalam kurikulum 2013 adalah integrasi beberapa pelajaran ke pelajaran lain. Integrasi ini disebut pembelajaran tematik. Pengurangan jumlah pelajaran pada kurikulum 2013 berimbas pada penambahan waktu belajar. Untuk tingkat sekolah dasar terdapat penambahan 4 jam dalam 1 minggu.

Standar proses pembelajaran

Perubahan yang signifikan terjadi pada pendekatan pembelajaran yang dilakukan. Pembelajaran yang pada awalnya menggunakan pendekatan behaviorisme dan kognitifisme, sekarang mulai bergeser menuju kedekatan konstrutivisme. Hal ini akan berimbas pada guru di kelas yang pada awalnya cenderung menggunakan guru sebagai sumber pembelajaran (teacher-centered leaning), menjadi siswa dan lingkungannya sebagai sumber pembelajaran (student-centered leaning).

Perubahan standar penilaian

Pada kurikulum KTSP 2006 penilaian yang dilakukan cenderung menggunakan penilaian akhir tanpa ada penilaian pada proses pembelajaran. Pada kurikulum baru ini, penilaian akan proses belajar turut dimasukan. Nantinya akan ada penilaian portofolio terhadap pribadi siswa.

Berikut ini adalah perbedaan kurikulum 2013 dan KTSP

No Kurikulum 2013 KTSP
1 SKL  (Standar Kompetensi Lulusan) ditentukan terlebih dahulu, melalui Permendikbud No 54 Tahun 2013. Setelah itu baru ditentukan Standar Isi, yang bebentuk Kerangka Dasar Kurikulum, yang dituangkan dalam Permendikbud No 67, 68, 69, dan 70 Tahun 2013 Standar Isi ditentukan terlebih dahulu melaui Permendiknas No 22 Tahun 2006. Setelah itu ditentukan SKL (Standar Kompetensi Lulusan) melalui Permendiknas No 23 Tahun 2006
2 Aspek kompetensi lulusan ada keseimbangan soft skills dan hard skills yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan Lebih menekankan pada aspek pengetahuan
3 Di jenjang SD Tematik Terpadu untuk kelas I-VI Di jenjang SD Tematik Terpadu untuk kelas I-III
4 Jumlah jam pelajaran per minggu lebih banyak dan jumlah mata pelajaran lebih sedikit dibanding KTSP Jumlah jam pelajaran lebih sedikit dan jumlah mata pelajaran lebih banyak dibanding Kurikulum 2013
5 Proses pembelajaran setiap tema di jenjang SD dan semua mata pelajaran di jenjang SMP/SMA/SMK dilakukan dengan pendekatan ilmiah (saintific approach), yaitu standar proses dalam pembelajaran terdiri dari Mengamati, Menanya, Mengolah, Menyajikan, Menyimpulkan, dan Mencipta. Standar proses dalam pembelajaran terdiri dari Eksplorasi, Elaborasi, dan Konfirmasi
6 TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) bukan sebagai mata pelajaran, melainkan sebagai media pembelajaran TIK sebagai mata pelajaran
7 Standar penilaian menggunakan penilaian otentik, yaitu mengukur semua kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan berdasarkan proses dan hasil. Penilaiannya lebih dominan pada aspek pengetahuan
8 Pramuka menjadi ekstrakuler wajib Pramuka bukan ekstrakurikuler wajib
9 Pemintan (Penjurusan) mulai kelas X untuk jenjang SMA/MA Penjurusan mulai kelas XI
10 BK lebih menekankan mengembangkan potensi siswa BK lebih pada menyelesaikan masalah siswa

Itulah beberpa perbedaan Kurikulum 2013 dan KTSP. Walaupun kelihatannya terdapat perbedaan yang sangat jauh antara Kurikulum 2013 dan KTSP, namun sebenarnya terdapat kesamaan ESENSI Kurikulum 2013 dan KTSP. Misal: pendekatan ilmiah (Scientific Approach) yang pada hakekatnya adalah pembelajaran berpusat pada siswa. Siswa mencari pengetahuan bukan menerima pengetahuan. Pendekatan ini mempunyai esensi yang sama dengan Pendekatan Keterampilan Proses (PKP).  Masalah pendekatan sebenarnya bukan masalah kurikulum, tetapi masalah implementasi yang tidak jalan di kelas. Bisa jadi pendekatan ilmiah yang diperkenalkan di Kurikulum 2013 akan bernasib sama dengan pendekatan-pendekatan kurikulum terdahulu bila guru tidak paham dan tidak bisa menerapkannya dalam pembelajaran di kelas.

Ketika Mereka Berani Bermimpi

Langit cerah pada minggu kedua bulan September ini telah menemani hari pertama saya menemukan mereka yang punya harapan besar untuk masa depan. Tidak sedikit dari mereka yang terlihat begitu antusias untuk datang ke sekolah dengan tujuan. Mereka terus berlari mengejar apa yang mereka sebut “lautan Mimpi”. Yah, siswa-siswi Sekolah Sukma Bangsa Pidie. Saya terkagum. Sejumlah harapan tersirat dalam diri mereka, harapan untuk menjadi lebih baik, lebih berguna, lebih sukses, dan sebagainya.

Mari kita lihat bagaimana mereka semua berani bermimpi besar. Sebagian besar mereka adalah perwakilan dari kelas X-XII MIA/IPA.

Ketika...

Kegiatan belajar-mengajar selalu dimulai dengan sebuah kalimat yang bisa memberikan motivasi untuk setiap anggota kelas. Motivational words minggu pertama adalah sebuah kalimat dari Brian Tracy, “All successful people, men or women, are big dreamers, they imagine what their future could be, they then work every day toward their vision, purpose and goal”. Maknanya, mereka yang sukses adalah orang-orang yang bisa membayangkan bagaimana masa depan mereka dengan terus berusaha untuk mencapai visi, tujuan dan target tersebut. Di saat yang sama pula, para siswa dibawa bermimpi dengan mesin waktu untuk membayangkan kira-kira profesi apa yang akan mereka tekuni 15 tahun mendatang. Sangat bervariasi. Mulai dari menjadi Dokter spesialis, CEO NASA dan Microsoft, Pembuat robot, Guru, Pengusaha, Apoteker, Akuntan, Ahli Sejarah, Psikolog sampai menjadi seorang Da’i dan mimpi-mimpi besar lainnya. Tidak hanya disitu, mereka juga mulai berkomitmen menuliskan “100 Wishlists” untuk mereka wujudkan satu persatu di masa mendatang.

Wright bersaudara bermimpi bahwa manusia bisa terbang. Pada zaman itu, impian mereka dianggap gila dan mustahil untuk dilakukan. Mereka di ejek dan dikatakan gila, bahkan di tolak oleh orang-orang terdekatnya sendiri termasuk orang tuanya. Namun mereka tidak putus asa dan bahkan mewujudkan impiannya melalui penemuan pesawat terbang untuk pertama kalinya.

Peradaban manusia menjadi maju karena gabungan mimpi-mimpi yang direalisasikan dengan izin Tuhan, maka jangan sekali-kali menjadi bagian orang-orang yang mati, orang-orang yang pasrah dengan keadaan, takut dengan mimpi yang besar. Allah SWT tidak akan merubah nasib suatu kaum sampai mereka merubah keadaan mereka. Maka bermimpilah, karena mimpi adalah kehendak yang Dianugerahkan Tuhan kepada kita.

Alhamdulillah ya Allah

Ternyata apa yang saya pernah mimpikan dari dulu itu bukan hanya mimpi. Orang bilang mungkin saya hanya bisa berkhayal tingkat tinggi. Tapi saya selalu punya mimpi besar dan harus saya buktikan pada diri saya sendiri. Ntah bagaimana usaha demi usaha, walaupun harus jatuh bangun, disertai doa dengan harapan usaha itu tidak sia-sia. Jujur, saya sangat menikmati prosesnya. Tak peduli hasil. Tentunya saya punya ekspektasi dan target, tapi hasil akhir semua dikembalikan kepada Yang Maha Memutuskan. “Kun Fa Yakun”, “Man Jadda Wa Jada”, kalimat-kalimat yang selalu bisa membesarkan hati saya.

Kadang saat orang lain mencoba mengukur kemampuan saya, dan mengatakan kalimat-kalimat yang merendahkan, itu hak dia, tak perlu buang-buang energy untuk itu. Talk less do more, kalimat yang selalu di doktrin saat saya menjalani pelatihan sebagai Graduate Trainee di salah satu perusahaan. Di dinding beberapa ruang di Training Centre banyak sekali saya temukan kata-kata seperti “No pain no gain”, “I’m possible, not Impossible”, dan sebagainya.

Agama pun mengajarkan kita untuk terus berusaha, menuntut ilmu seumur hidup, sebagaimana hadist “Tuntutlah ilmu dari ayunan hingga liang lahat”. Al-quran pun menyebutkan “Maka lanjutkanlah pekerjaan yang lain jika perkerjaan sebelumnya telah selesai”.

Jadi, saya rasa tidak ada alasan untuk tidak berbuat apa-apa selama kesempatan itu masih ada. Selama masih bisa bernafas, sehat rohani dan jasmani, jangan berhenti berusaha. Apa yang menurut orang lain tidak mungkin, belum tentu tidak mungkin bagi kita. KEMAUAN! Jangan pernah menyerah KAWANâ€Ķ

 

***

Terspesial untuk yang selalu memotivasi saya untuk tidak menyerah, dan mereka selalu percaya saya, bahkan saat “keceplos” saya katakan jika saya tak akan mungkin mampu, tapi mereka bilang saya pasti bisa. Mereka itu KELUARGA!

(Mami-ka, čŽčŽä― )

18 MONTHS TO GO

15 Agustus 2012 M atau 26 Ramadhan 1433 H atau 14 hari lagi bersama keluarga tercinta sebelum balik lagi ke sebuah tempat yang indah nan terpelajar tapi susah cari makan. What a great destinationâ€Ķ Tapi demi mencapai cita-cita bersama (saya dan keluarga), ini harus saya lakukan.

18 months to go, adalah sebuah goals reminder yang saya cantumkan di halaman depan blog saya. Disana  saya menuliskan target jangka pendek selama saya melanjutkan studi untuk jejang master. Anehnya tidak ada kata-kata graduate disana, jangan sampe ga tamat juga Ya Allah. 3 target penting terkait dengan masa-masa belajar saya, yaitu menguasai mandarin, mempublikasi beberapa paper (ini gaya aja “beberapa”) dan mengikuti berbagai konferensi di dalam (Taiwan) maupun di luar negeri (termasuk Indonesia), hahaha.

Belum banyak hal yang telah saya lakukan sebagai langkah untuk mecapai tujuan di atas. Pasalnya semester pertama saya masih  disibukan dengan kuliahan di kelas, mana lagi materi kuliah yang tergolong rumit bagi saya yang background pendidikan sebelumnya jauh di bawah standar, bahkan standar Indonesia sekalipun. Tapi Alhamdulillah, overall terhandle dengan baik. Satu semester telah berlalu, latihan dan latihan eksperimen untuk menunjang thesis telah saya lakukan, tapi saya belum merasa udah memulai sama sekali. Kalo nilai posisi mulai saya beri 0 (nol), maka posisi saya sekarang masih minus 5 untuk mencapai posisi 100 sebagai nilai target.

Belum ada usaha yang berarti memang, tapi saya anggap itu sebagai masa-masa adaptasi. Dan sekarang, bukan lagi saatnya bermain-main, waktu semakin berkurang, tak lama lagi 18 months to go berubah menjadi 17 months! Saya harus fokus! Talk less do more.

Sebagai mahasiswa asing, di tambah lagi muslim, banyak hal yang pasti wajib dipikirkan selama menjalani hidup di luar negeri.  Belajar saja tentulah tidak cukup, tempat ibadah yang tepat dan nyaman, makanan halal, dsb akan menjadi pertimbangan sangat penting bagi saya pribadi. Begitu juga dengan tempat tinggal dan roommate.

Intinya adalah, saya harus punya strategi khusus untuk menghadapi hari demi hari dalam mencapai cita-cita mulia yang satu ini. Udah dhuhur tuh, mari kita memenuhi kewajiban!

Qigu Salt Mountain & Anping Fort

Masih dalam suasana yang seharusnya libur bagi yang merayakannya, saya masih harus berada di sebuah meja persegi di sebuah ruangan sempit akibat equipment/devices di lantai 8.  Nah, sebenarnya ada hal gak penting-penting amat yang mau saya tulis di post kali ini. Apakah itu?

Kemarin Minggu (1/4), saya dan dua orang teman lainnya (Tia dan Kak Is) melakukan sebuah ekspedisi tanpa planning ke beberapa tempat di kota Tainan. Untuk akhirnya tiba di tempat ini, kami punya cerita lumayan panjang dan berliku-liku (udah macam jalan aja nih). Awalnya, saya dan Tia udah merencakan ke Disney Land -nya Taipei, tapi karena beberapa faktor seperti ga tenang hati karena tugas, lab dan midterm, juga oleh sebab sangat menipisnya dana yang masih tersedia, maka kami berdua di ajak oleh Kak Is untuk mengikuti rencananya beliau (ga segitunya juga, cuma diajak dan kaminya yang sangat bersemangat untuk  ngekor).

Well, Jumat sore, ada sebuah komentar masuk di akun facebook saya, dan itu adalah komen dari Kak Is. Beliau ngajak kami untuk berekspedisi ke Pingtung. Dengan mata berbinar-binar, saya mau-mau aja ikut kesasar kesana, heheh :D. Nah, malam harinya Kak Is berubah pikiran untuk ke Kaohsiung (lebih deket lagi dari posisi kami bertiga, yaitu di Tainan), dengan pertimbangan karena susah menentukan waktu yang tidak terlalu singkat (minimal 2 hari), jadinya Kak Is memilih Kaohsiung untuk di-explore minggu ini. Masalah kembali datang, Kak Is kembali berubah pikiran untuk “hanya” pergi keliling Tainan minggu ini, berhubung Kak Is sudah merencanakan ke Pingtung minggu depan saja, jadi sekalian jauh aja ekspedisinya. OK, sekarang sudah conform kalo kita mau jalan-jalan disini aja. Dan Kak Is memutuskan agar kami ke Anping dulu saja dengan bus nomor 2 biar gratis (kalo weekend bus yang ini ga bayar).

Minggu pagi, jam 8.30 alarm saya berbunyi. Sebenarnya saya setel 6 alarm hari itu, pukul 5.00, 5.30, 6.00, 6.30, 7.30 dan 8.30. Tapi sebelum tidur saya sempat me-deactivate-kan 3 alarm pertama (ya iyalah, malam itu, atau tepatnya disebut pagi, saya baru tidur jam 5.45). Nah alarm 6.30 tetap saya aktifkan untuk berjaga-jaga kalo saya masih mood sepedaan pagi itu (malamnya saya selalu punya planning untuk keluar pagi buat olahraga, tapi paginya selalu saja tertunda untuk lebih mementingkan tidur, hehe). Sudah ditebak, saya ga denger tuh alarm sama sekali. Alarm 7.30 berbunyi, saya memencet tombol stop dengan mata tertutup (secara udah biasa dilakukan). Sampai akhirnya alarm 8.30 kembali berbunyi. Dan saya langsung terkejut melihat LED BB saya kedap-kedip, pertanda ada pesan atau panggilan masuk. Ternyata saya benar, dengan kondisi baru bangun tidur, Kak Is udah sms kalo jam 9.00 udah di depan huĮ’chē zhàn (train station), ini artinya saya hanya punya waktu 15-20 menit untuk bersiap-siap, karena masih harus gowes dari dorm menuju stasiun lagi nantinya.

Setiba di stasiun, kami masih harus menunggu Kak Is sekitar 45 menit (haisss Kak Is ish ish ish…). Dan, sambil menunggu bus nomor 2, kami membuka-buka peta Anping. Tidak beberapa lama, munculah bus nomor 99 dengan tujuan Qigu Salt Mountain (äļƒč‚Ąéđ―åąą, Chiku Yanshan). Dan tiba-tiba aja kami berubah pikiran lagi, dan memutuskan untuk naik bus tersebut. Cukuplah kami bertiga membuat kemacetan di pintu bus. Pasalnya terjadi miskomunikasi disini, saya mendengar supir menyebutkan yi ge ren (satu orang) san shi liu (NT 36), tapi Tia malah ngitungnya NT 48 (darimana kah angka ini datang, 1 orang bukan, 3 orang lebih-lebih bukan). Saya pikir Tia mendengar shi liu (NT 16) nya saja, jadi kalo san ge ren artinya NT 48. Nah, Kak Is apa kabar? Kenapa beliau tidak muncul dalam perdebatan kali ini. Rupa-rupanya, Kak Is masih berpikir apa yang dikatakan supir (peace Kak Is, kalo ga salah baca pikiran kakak ya :D). Jujur, kami berdua lebih berharap sama Kak Is soal kumunikasi yang lebih berat, pasalnya si kakak sudah hampir dua tahun disini.

Dan, di tengah perjalanan, kami istirahat untuk buang air. “Kita jangan lama-lama disini, nanti cam kena marah lagi sama supirnya“, sela Kak Is. Begitu kami baru saja selesai, sang supir sudah memanggil-manggil dari luar, dan dugaan Kak Is kali ini tidak meleset!

Setelah melanjutkan perjalanan, maka tibalah kami di tempat tujuan, kami berpose-pose ga jelas, dengan batasan waktu yang diberikan supir er shi fen zhong (20 menit). Karena kami bertiga takut kehilangan bus, alias ga mau bertapak pulangnya, makan tepat 20 menit sudah kembali ke bus sambil berspekulasi kalau-kalau orang-orang sudah memenuhi bus tersebut. Dan, karena kami sudah sangat sigap, maka dugaan kali ini meleset. Disana hanya ada seorang supir.

Bukan hanya itu, Kak Is lagi-lagi berkomedi disana (lho? perlu ganti judul postingan kali ini sepertinya, tokoh utamanya udah jauh meleset). “xue sheng, eh apa Nur (saya -red)? xue sheng, xian sheng?”, “xian sheng hai kak”, “bukan xue sheng Nur”, (dalam hati terserah kakak lah). Kak Is rupanya berencana berbasa-basi sama si supir, dan mau manggil supir dengan student (xue sheng), hehehe :). “wo men shi xue sheng, ta men — cheng da da xue, wo shi tainan da xue”, kalimat pertama kali ini benar, tapi tetap aja kalimat kedua kembali amburadur, harusnya kan cheng da (singkatan dari cheng gong da xue, atau boleh disebut secara penuh).

Tapi, walaupun begitu, kami tetap berhasil mendokumentasikan beberapa foto disana.

Puaskah sodara-sodara dengan foto-foto turis di atas? Jika tidak maka sodara-sodara bisa mencobanya sendiri…

Sepulang dari Qigu, kami bertiga masih menyempatkan ke Anping. Dan tak banyak cerita penting disana, karena berjalan normal-normal saja. Ada satu hal yang menurut saya harus dipaparkan disini, bagaimana Tia shalat “dianggap” sebagai atraksi tambahan disana. Tak sedikit turis maupun orang lokal yang menonton bagian ini, mereka berhamburan untuk melihat atraksi baru yang dilakukan Tia di salah satu sudut lantai 2 sebuah bangunan.

Di Anping kami juga punya beberapa dokumentasi. Silahkan dinikmati!

Hadew, udah jam berapa ini? Baiklah sodara-sodara, saya mau switch ke tugas berikutnya dulu. Sampai jumpa di postingan berikutnya….

881 (bye-bye)

Qing Ming dan Saya

Judul yang aneh memang. Tapi bukan berarti saya dan Qing Ming itu bersaudara. Pasalnya, saya tidak pernah mengenal sapa itu Qing Ming. Hanya saja akhir-akhir ini sering menjadi pembicaraan teman-teman disini. Nah, yang menarik disini sebenarnya adalah efek dari Qing Ming itu sendiri, tepatnya merekan menyebutnya Qing Ming Festival, dan akan bertepatan dengan 4 April mendatang.

Festival Qing Ming adalah festival yang populer dirayakan di Cina, Taiwan dan Hong Kong. Meskipun begitu banyak masyarakat Tionghoa tinggal di Indonesia, Singapura maupun Malaysia, namun tidak ada hari libur resmi disana. Qing Ming festival atau æļ…æ˜ŽčŠ‚(qÄŦng míng jiÃĐ) atau di Indonesia lebih dikenal sebagai Ceng Beng adalah ritual tahunan etnis Tionghoa untuk bersembahyang dan berziarah ke kuburan. Festival tradisional Tionghoa ini jatuh pada hari ke 104 setelah titik balik matahari pada musim dingin (atau hari ke 15 dari hari persamaan panjang siang dan malam pada musim semi), pada umumnya jatuh pada tanggal 5 April, dan setiap tahun kabisat, Qing Ming jatuh pada tanggal 4 April. Secara astronomi, ini juga merupakan terminologi matahari. Dalam terminologi Matahari, Festival QÄŦng Míng adalah pada hari pertama dari 5 terminologi Matahari, yang juga dinamai QÄŦngmíng. Nama yang menandakan waktu untuk orang pergi keluar dan menikmati hijaunya musim semi dan juga ditujukan kepada orang-orang untuk berangkat ke kuburan.

Well, saya rasa cukuplah penjelasan apa itu Qing Ming, jujur saya ga tau-tau amat sebenarnya. Itupun tadi sebelum pulang ke dorm, saya menyempatkan diri ber-interview dengan local student di lab saya, tepatnya teman disamping meja saya. Awalnya dia udah jelasin panjang lebar secara oral, tapi akhir-akhirnya saya ga tau bentuk tulisan pinyin nya, sampai-sampai terpaksa dia menuliskannya untuk saya. Hehehe 😀

Qing Ming yang sering disebut-sebut sebagai Spring break, memanglah sangat ditunggu-tunggu kedatangaanya. Secara di Taiwan sendiri, hari libur nasional sangatlah minim kalo dibandingkan dengan Indonesia yang dikit-dikit tanggal merah. Apalagi, libur winter sudah berakhir hampir dua bulan yang lalu. Dan sebagai mahasiswa, tentulah akan menanti libur-libur yang lain. Kalo saya pribadi sih, hanya berharap libur summer yang kononnya hampir tiga bulan itu sudah dinanti-nantikan.

Terserah deh mau libur berapa hari atau berapa bulan! Tiba-tiba statement aneh ini muncul di kepala saya. Bagaimana tidak, libur ga libur jelas kurang sekali pengaruhnya ke saya. Kegiatan belajar-mengajar di kampus memang diliburkan setiap bertepatan dengan libur nasional. So, balek lagi ke Qing Ming yang akan jatuh pada hari Rabu, 4 April mendatang, dan jelas-jelas di kelender tanggalnya berwarna merah, tapi berhubung Harpitnas ( hari kejepit nasional -gaya Indonenesia- ), maka liburlah hari Senen dan Selasanya. Lagi-lagi long weekend bagi yang merayakannya (-nya refer ke weekend). Jelas libur panjang dong, secara Sabtu dan Minggu lagi-lagi tidak ada kegiatan belajar mengajar secara resmi di kampus. Artinya, mulai besok (Sabtu) sampai Rabu depan terhitung libur, belum lagi masih ada yang menganggap Kamis dan Jumat depan sebagai Harpitnas, maka liburlah sampai dengan hari Minggu depan. Aseeeekkk…. Libur Euyyy….

Jadi? Kenapa saya ga senang ya? Jawabannya adalah Tugas, Lab dan Midterm. Jujur, jauh-jauh hari saya dan teman-teman udah sempat mem-planning-kan saat Spring break untuk mengeksplor kota tua ini (mana da, padahal mau ke laut aja -red). Tapi apa lacur, saya akan disibukkan dengan hal-hal di atas. Sedikit analisa yang saya lakukan demi berlibur, kalau tugas, jelas bisa saya kerjakan di sela-sela waktu makan atau mengurangi sedikit jatah tidur, kalau persiapan midterm, bolehlah saya belajar extra jauh hari sebelumnya (ga yakin dan jarang sekali terjadi) atau sistem kebut semalam (gaya Indonesia banget), nah yang teraakhir acem? Lab maksud saya, mana mungkin saya bawa-bawa? Dan akhirnya setelah melakukan analisa sebab-akibat, makan ketemulah root cause kenapa saya ga bisa berlibur (lho? mulai ga nyambung). Tapiii… Masih ada tapi ni, saya harus jujur, selain itu juga ada faktor X yang tidak bisa saya sebutkan disini (sssstttt… kurang dana x___x).

Sore tadi, tiba-tiba mengembanglah senyum saya! Dan dapat ajakan untuk jalan-jalan. Mungkin Sabtu dan Minggu bolehlah saya melibur-liburkan diri, berhubungan masih tergolong “anak baru”, jadi yang belum terlalu urgent “masih” boleh ditinggal (mulai make decision sendiri nih). Maka, saya memutuskan untuk tetap berlibur menjelang Qing Ming dengan dana seadanya, minimal tahan lapar lah (ini sangat tidak mungkin terjadi).

Have a nice weekend…

Saya dan Toilet (Part 1)

Teng… Teng… Teng… Teng…

Teng… Teng… Teng… Teng…

Jam 4 sore, pertanda “xiu xi” (baca: istirahat). Di kampus saya, setiap satu jam (terhitung 1 credit) ada 10 menit istirahat.  Saat istirahat, kebanyakan mahasiswa biasanya melanjutkan tidur, makan, atau mengobrol-ngobrol. Sama halnya dengan saya, tapi keseringan sih saya pake buat tidur aja. Shi fen zhong (10 menit) memang ga cukup, tapi apa boleh buat, memang tukang tidur.

Tapi berhubung saya harus shalat 5 waktu ni, pada jam-jam istirahat tertentu saya manfaatin buat shalat. Jelas lagi-lagi ga cukup 10 menit, secara wudhu aja udah 10 menit tersita, belum lagi kalo harus ke kamar kecil atau mau isi minum, dsb. Nah, pembahasan saya kali ini adalah menyangkut “tata cara” berwudhu. Sebelumnya, ada beberapa cara yang sudah “comfortable” untuk dilakukan. Pertama, kalau di dormitory, saya menggunakan selang shower buat mandi. Cara pertama tentulah tidak masalah. Yang kedua adalah -pernah saya lakukan di departemen teman saya, secara saya juga masuk 2 mata kuliah disana- dengan menggunakan restroom for disable atau kamar mandi buat orang cacat. Disini untuk berwudhu tergolong aman-aman saja, saya bisa masuk sendirian dengan tentunya mengunci dari dalam, jadi saya bisa “bergaya” sesuai selera, hehehe… Nah, cara yang ketiga adalah cara “ga kepepet”. cara ini sering saya lakukan kalo sedang di departemen saya sendiri. Pastinya sebelum menuju toilet, saya siapkan dulu apa yang disebut tempat minum kah atau botol bekas air mineral kah, apa saja yang penting bisa menampung air dari keran otomatis. So, kata-kata “ga kepepet” artinya saya tidak lupa membawa tempat untuk menampung air.

Kembali ke cerita awal, sore itu saya ada Chinese class di Language Center. Tentunya saya harus menunaikan shalat Ashar di saat jam istirahat. Nah, hari itu saya lupa mempersiapkan tempat untuk menampung air dari keran. Dan cara ini yang saya sebut cara ke-empat, yaitu cara “kepepet”. Perlu diketahui bersama, di toilet manapun di kampus, sumber air satu-satunya adalah keran yang elevasinya sekitar 80-100 cm dari lantai. Dan itu diperuntukkan untuk membilas tangan atau membasuh muka. Well, mulai dari membasuh tangan sampai dengan telinga saat berwudhu, saya rasa tak masalah. Dan yang menjadi masalah adalah bagaiman dengan kaki? Di “tata cara” ketiga sebelumnya, saya menampung air terlebih dahulu untuk kemudian digunakan saat membasuh kaki. Namun, di cara “kepepet”, untuk membasuh kaki saya harus menaikkan kaki menuju sumber air (keran). Dan bisa Anda bayangkan kira-kira posisinya seperti apa?

Sebelum melakukan “aksi aneh” tersebut, saya sudah pastikan tidak ada manusia di toilet, dan pintu luar toilet yang layaknya selalu terbuka (ini yang paling saya benci disini) sudah saya tutup rapat-rapat. Tapi malang memang hari itu, saat saya masih membasuh kaki kanan, mengangalah pintu toilet yang letaknya di sebelah kiri saya. Cepat-cepat kaki kanan saya turunkan, dan menunggu yang bersangkutan masuk ke kamar kecil, hingga saya bisa melanjutkan “aksi aneh” setelah kembali menutup pintu. Dan, belum sempat kaki kiri saya menuju keran, denga cepat pintu kembali terbuka. Itu adalah orang yang saya kenal, yaitu lao shi (guru) yang mengajar di kelas Mandarin. Sudah bisa saya prediksi apa yang terjadi, lao shi mengajak saya ngobrol sebelum akhirnya menuju kamar kecil, jelas saya ga konsentrasi dengan topik pembicaraan, secara saya masih memikirkan nasib kaki kiri yang belum di basuh untuk menyempurnakan wudhu saya saat itu. Dalam hati saya berpikir, bagaiman kalo besok-besok saya wudhu-nya saat manusia-manusia di kampus udah shang ke (masuk kelas), artinya saya harus permisi di luar jam istirahat. Setelah tak berapa lama, maka selesailah perbincangan kami, dan saya melanjutkan wudhu dengan nyaman.

Terima Kasih Ayah, Ibu… Aku mencintai kalian…

Hari ini cuaca bisa dibilang cerah dan tak terlalu dingin seperti hari2 sebelumnya, dan seperti biasa kalo weekend suasananya adalah bermalas2an… Tapi, tidak terlalu mengecewakan, alasannya semalam sempat mengobrak-abrik semua subject, mulai dari tugas kuliah, review jurnal, catatan, review mandarin, dan tidak lupa pula online!

*****

Tapi ada yang janggal di hari ini, ntah kenapa memutuskan untuk membaca2 blog, note, dan situs2 yang membuat saya rindu berat akan kedua orang tua.

Bulan ini, Ibu (biasa saya panggil Mamak) tepat 4 tahun meninggalkan kami semua. Beliau terserang stroke selama lebih kurang 2 bulan. Sebelumnya memang ada beberapa pesan yang beliau sampaikan ke saya, dan itu menyiratkan kalo beliau akan pergi jauh… Tapi yang lebih menyedihkan adalah, hari itu (saya lupa tepatnya, sekitar akhir Desember 2007), beberapa hari sepulang saya dari kunjungan industri di dua negara tetangga, Malaysia dan Thailand, kami (saya dan Mamak) duduk di teras rumah sambil mengobrol2 tentang masa depan, saya berdiskusi kalau saya sedang menyusun proposal penelitian, saya bercerita panjang lebar dan mamak pun mendengarkannya dengan teliti… Tapi.. tiba2 beliau memotong pembicaraan dengan diskusi yang lain, Naik Haji, ya Naik Haji…

Memang beberapa waktu sebelumnya, kakak ketiga saya sempat mengutarakan hal itu, kalau kakak merencanakan kesana bersama mamak, walaupun belum pasti kapan tepatnya mereka akan kesana… Tapi, jelas mamak sudah berharap banyak, beliau minta dihafalkan do’a yang akan dipakai di Tanah Suci nantinya (penglihatan beliau mulai kabur karena komplikasi penyakit diabetes)… Yap! Tanpa pikir panjang, saya langsung berlari ke kamar, mengambil buku manasik Haji milik Ayah, dan buku2 pedamping haji lainnya yang memang ayah berikan pada saya untuk dibaca dan disimpan bersama buku2 milik saya.

Saya mulai membacakannya dan menghafalkannya untuk mamak….

Moment ini mungkin hanya salah satu yang masih berbekas di benak saya sampai hari ini, dan pastinya sampai “di cuci otak pun”, ga akan terlupakan!

*****

Tidak hanya itu, hari ini saya juga merasakan hal yang berbeda, merasakan kerinduan yang luar biasa akan Ayah yang mungkin sedang bersantai di rumah, atau mungkin sedang beristirahat, dan harapan saya, Beliau tetap Diberikan kesehatan dan kekuatan, Diberkahkan umurnya, selamat iman, dan Diampuni dosa-dosanya…

Ayah, tanpa pernah aku tahu akan perasaanmu, tegurlah aku apabila salah, nasihati aku dengan kebijaksaanmu.

Ya Allah, muliakanlah Ayah kami, sampai kapan pun, kami tak akan bisa mengganti tiap pengorbanannya.

Ayah, aku tahu engkau tak menuntut aku menjadi sempurna, engkau hanya ingin aku bisa menghargai diriku sendiri.

Terima kasih Ayah, Terima kasih Ibu, aku menyayangi kalian, dan aku mencintai kalian, karena Allah.

 

4 Maret 2012

Tainan, Taiwan

And…. Zhe ge shi wo de jia…

Kakak Tertua (Bunda Acha, Fathan)

 

Kakak Kedua (Mama Acha, Fathan)

 

Muhammad Fathan Al-Farabi

 

Ayah (Kakek Acha, Fathan)

 

Kakak Ketiga (Mami Acha, Fathan)

My Graduation Speech

Sebenarnya, yang saya sebut “my graduation speech” disini adalah pengantar yang saya sampaikan saat wisuda lokal di Fakultas saya. Jujur, saat nama saya terpilih untuk menyampaikan  speech ini, saya masih kalang kabut, berhubung wisudanya akan berlangsung besok, dan posisi saya saat itu sedang flu berat plus sakit kepala. Yang terlintas dipikiran saat itu adalah, apakah saya besok bisa berdiri di depan untuk berpidato *eleh, cem presiden aja* ?

Nah, sepulang dari kampus di hari tersebut, rupanya Ayah sudah menyusun rencana. Apa rencananya? Hehehe, simple aja sih… Well, di kampus saya, wisuda dibagi 2 hari; wisuda lokal di Fakultas, dan wisuda universitas di Academic Center. Ayah dan seorang Kakak memutuskan untuk hari di wisuda lokal, karena untuk wisuda universitas, yang bisa hadir ke ruangan hanya 1 undangan. Berhubung salah satu Kakak yang lain tidak ada ijin kantor di hari wisuda lokal (Kamis), maka Ayah memutuskan untuk memberikan kesempatan untuk sang Kakak hadir di wisuda universitas yang bertepatan dengan hari Sabtu. Ooo… Itu toh rencananya.

Tapi efeknya jelas ke saya dunk! Saya berfikir untuk menampilkan performance terbaik di depan sang Ayah. Jadi saya susunlah kalimat-kalimat di bawah ini pada malam harinya. Dan saat sedang merangkainya, saya membayangkan kalo saya akan berpidato di Aula Harvard University atau Massachusetts Institute of Technology. Owh… Semoga.

11 February 2010

BE BOLD

Berdiri di sini, mewakili teman-teman lulusan semua merupakan suatu kehormatan bagi saya serta merupakan suatu keistimewaan yang tidak seharusnya untuk saya berbicara pada upacara ini. Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala adalah Fakultas yang telah membuat perubahan besar kepada Kami, mendidik Kami, dan membawa Kami berpikir ke arah yang lebih konstruktif. “You are right to be proud of this great faculty”, Anda benar untuk bangga akan fakultas ini.

Hari ini merupakan hari sukacita bagi Kami yang berada di sini. Kami juga bersedih karena tidak ada lagi ujian atau kelas. Fakultas tidak lagi memiliki Kami. Kami harus berpisah dengan dosen-dosen Kami dan sebagian teman-teman Kami.

Kami sadar bahwa kami berkumpul di sini hari ini untuk bertepuk tangan dan akan menerima sebuah status baru. Bagaimanapun, ada beberapa pahlawan dan pahlawan di sini hari ini yang harus diakui oleh Kami ingin berbagi kemuliaan. Saya mengacu, tentu saja, kepada orang tua, para dosen dan teman-teman Kami yang telah membuat kontribusi signifikan untuk kehadiran dan keberadaan Kami di sini hari ini.

Kami semua yang berada di sini memiliki masa depan. Ada yang akan pergi ke bintang karir dan berbagai kegiatan. Ada pula yang hanya berdiam diri. Salah satu tantangan Kami adalah menemukan pekerjaan dalam depresi ekonomi. Bahkan, kemungkinan arahan pekerjaan yang layak adalah seperti menemukan sebutir pasir hitam di tumpukan pasir putih. Sehingga Kami semua diharuskan untuk berpikir kreatif dan konstruktif. Berpikir untuk sebuah perubahan besar. Mengubah mindset yang selama ini menghantui para lulusan, yaitu dipekerjakan dan bukan mempekerjakan.

Tidak pernah terlalu terlambat untuk menjadi apa yang mungkin terjadi. Tidak ada istilah terlambat bagi orang yang sudah terlambat. Tidak selalu terlalu dini atau terlalu cepat itu adalah baik. Dan itu akan membuat semua perbedaan di dunia. Berani bermimpi, berani berpikir sesuatu yang tidak mungkin, berani memulai, berani beresiko, berani memimpin dan berani-berani positif lainnya adalah kesamaan Kami. ”Dream it and you will get it”, mimpikan itu dan kamu akan mendapatkannya.

Kami membuat pilihan Kami sendiri seiring waktu, Kami akan memilih sedemikian rupa yang memungkinkan drive untuk pencapaian Kami dan akan diimbangi dengan komitmen yang sama dalam mencintai dan bermain, untuk keluarga, teman-teman dan masyarakat. Saya berharap bahwa semua dari Kami, tidak peduli seberapa sukses Kami nantinya, mengatakan bahwa tujuan Kami dalam hidup bukanlah kesempurnaan bekerja sendirian tapi kesempurnaan hidup bersama.

Congratulation untuk kita semua!!!

It’s My Dreamâ€Ķ

22 August 2011

Well, dini hari 22 August 2011, saya menggores pena di 3 lembar kertas untuk menulis 100 target ke depan yang harus dicapai lagi. Tapi kali ini baru terisi sepertiga bagian saja. Dan setiap ­point-nya punya nilai yang sangat besar bagi saya dan kehidupan saya. Optimis, usaha dan do’a! Bagi seorang yang “creative, challenging, dan underpressure”, saya rasa itu tak masalah. Ingat “Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya”. Teringat isi graduation speech yang pernah saya sampaikan sekitar 1,5 tahun yang lalu, “dream it and you will get it”â€Ķ Berani bermimpi, Insya Allah mimpi itu akan menjadi kenyataan. Yah, karena jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi, saya harus beristirahat sebentar, menyusul sahur 2 jam mendatang.