Setelah Desember 2015 ke Semarang dan akhirnya 10-13 Maret 2017 ini saya dan beberapa teman saya yang hampir sama dan ditambah oleh satu orang lainnya, Alhamdulillah berkesempatan kembali melakukan perjalanan tausiyah cinta. Kali ini agak ke Timur Jawa, tepatnya ke kota Malang.
Kalau yang pernah baca cerita saya waktu ke Semarang pasti paham kenapa saya menamakan perjalanan tausiyah cinta.
Ya karena merekalah yang membersamai saya, mengerti saya, mendoakan saya dan In Syaa Allah kami saling mencintai karena Allah.
Tiket pergi pulang, sudah dibeli sekitar tiga bulan yang lalu, ada juga yang menyusul. Ada yang naik kereta dan adapula yang memilih pesawat. Semua keputusan masing2, terkait pekerjaan, waktu dan dana. Tapi niatnya sama, melakukan perjalanan tausiyah cinta, bagaimanapun menujunya, bagaimanapun kembalinya. Karena cara tak selalu sama, tapi kesamaan hati bisa meleburkan apapun juga.
Ada baiknya saya perkenalkan (lagi) teman2 saya dan tokoh lain yang ikut dalam perjalanan kali ini, semua tokoh fakta ya (yaiyalah inikan bukan drama) 😁
Diar: aktivis berbagai komunitas, skr lagi kuliah S1 di Sahid jurusan Tekhnik Industri, single, introvet, tapi masalah tabungan jagonya apalagi nyuruh orang buka tabungan (maklum kerja di bank)
Lia: saya memanggilnya mba/kak Lia, ibu satu anak yang sudah abg dan sebentar lagi masuk sma ini adalah seorang psikolog, sekarang bertanggungjawab dengan puluhan anak smp/sma di yayasan yang bergerak di bidang pendidikan, lewat kepiawaiannya pola pikir anak2 ini mengalami perkembangan yang luar biasa, padahal baru sekitar hampir dua tahun di bawah kepemimpianannya. Kalau baru kenal terkesan galak, ceplas-ceplos dan itu juga yang saya alami :), tapi mba Lia memang punya cara tersendiri dalam memberikan perhatian dan mencintai saudaranya.
Lisa Harlina: Namanya sama dengan saya, hanya beda di nama belakang, single asli Minang ini seorang guru Fisika, sabar dengan bukti yang otentik berhasil menaklukan muridnya dengan berbagai karakter, mentor di yayasan. Lisa ini waktu ke Semarang gak ikut, jadi yang tadinya cuma kenal saya, maka kali ini ada Lisa lain diantara kita. *eaaa
Nana:Bu dosen dari berbagai kampus ini jagoannya matematika, ceplas ceplos juga orangnya menurut saya, di yayasan megang kendali pendanaan untuk anak2 SD di GeKA (Gerakan Kakak Asuh) Istilahnya temen2nya kalau mau zakat, infaq dan sodaqoh bisa melalui dia, jadi kudunya lembaga amil zakat bisa belajar banyak. 😁
Niken: Mba Niken saya memanggilnya, kakak tingkatnya kang Hafidz Ary/Akmal Sjafril yang terkenal di twitter itu, justru sekarang jagoannya Bahasa Inggris dan bebikinan nasi ala timur tengah. Mba Niken penanggungjawabnya Gerakan Kakak Asuh loh, jadi boleh dibilang juga ibunya sekitar hampir dua puluhan anak yatim.
Riza:Adik paling kecil, single dan sudah menaklukan empat gunung di pulau Jawa, termasuk gunung Semeru loh. Tugasnya selalu bikin itinerary, walau gak semua baca juga dan menelaah, terbukti setiap hari ada aja yang nanya “habis ini kemana za?” Mentor di yayasan dan bendahara GeKA ini mirip2 sayalah suka becanda, walau usia saya tetpaut puluhan purnama. #halah
Saya: Boleh panggil Lisa, tapi karena ada dua Lisa ya panggil Epri (gak pake aja), sukak becanda walau akhirnya berujung minta maaf karena takut lawan bicara tersinggung, single loh saya (kalik aja belum tau ya), gak usah kebanyakan deh nyeritain diri sendiri, takut narsis. Tapi yang pasti saya bahagia, Allah tempatkan hidup saya bersama mereka, Allah tuliskan bagian cerita saya dengan mereka. Ya kalau mau tanya2 tentang saya, bisa japri kok. #berasabeken
Selain kami tokoh lain yang juga diperkenalkan sepertinya ada tiga orang, walau mereka sekilas saja, tapi cukup berperan. Jadi kalau cerita selanjutnya ada nama mereka dan bertanya “mereka siapa sih?” bolehlah dibaca lagi disini. #iyainajalahya
Redy: Pak Redy yang kata dia sendiri adalah kembaran pak Rudy (kami sih percaya aja, karena memang gak pernah ketemu) selama di Malang dia driver kami, tapi driver kurang mumpunilah, karena banyak gak tau jalan, banyak nanya jalan dan lebih jago kami yang baru sekali, dua kali ke Malang. (Pake google map sih 😁)
Wafi: Pak Wafi ini driver jeep pas ke Bromo, berbanding terbalik dengan pak Redylah pokoknya.
Ibnu: Teman saya yang direpotin sebelum berangkat ke Malang untuk tanya ini itu tentang Malang.
Tokoh2 di atas akan ada dicerita perjalanan tausiyah cinta (episode Malang) ini, jadi kalau kamu mau terus nyimak, ada baiknya tanya sekarang saja, sebelum menyesal sesudahnya. Karena berbeda dengan Semarang waktu itu, kali ini cerita dibagi-bagi, walau cintaku tetap tak bisa dibagi. Pengen jitak yang nulis? Sama kok hahaha *jitak diri sendiri
Sekian prolognya ya, untuk bagaimana perjalanan tausiyah cinta ke Malang ini, selanjutnya akan diceritakan di episode tulisan berikutnya ya. (Pede aja ya ada yang baca blog ini).
Jadi bukan kemana kita melakukan perjalanan, tapi dengan siapa kita melakukan perjalanan itu. (Quote wajib).









