Islamofobia Nyata di Depan Mata

Sebuah kisah patah hati atas industri film pilihan dan negara yang menaunginya

Dalam perjalanan panjang menonton film India, perasaan atas penyudutan Islam yang kerap kali memang dihadirkan secara sengaja berhasil dianalisis dengan sangat baik oleh Nadira Khatun, akademisi India yang bukunya baru saja saya baca: Postcolonial Bollywood and Muslim Identity (2024). Buku itu secara ritmis mengurai penyebab dari terjadinya hal-hal tersebut, yang ternyata faktor kolonialisme Inggris amat berperan besar di dalamnya: dengan terjadinya partisi berupa pemisahan warga India berdasarkan agamanya. Masih berapi-api merasakan emosi atas isi dari buku itu, saya menemukan film India berjudul Dhurandar (2025), film yang belakangan dikenal atas tuduhan propaganda yang menimpanya. Saat menonton film itu, jujur saja saya membawa prasangka itu.

Lanjutkan membaca “Islamofobia Nyata di Depan Mata”

Komentar terakhir tentang “We Are All Trying Here”

Seorang teman mengirimkan saya tautan postingan Instagram yang berisi pendapat dari sebuah akun mengenai drama We Are All Trying Here yang baru saja ditamatkannya. Itu sungguh pendapat yang bagus, dan saya banyak sepakat pada poin-poin yang ia sebutkan. Namun, ada satu hal yang mulai saya sadari: untuk memahami komentar orang itu, kita tidak perlu repot-repot menonton drama ini sampai selesai. Enam episode saja sudah cukup.

Lanjutkan membaca “Komentar terakhir tentang “We Are All Trying Here””

Turut Terkenang: Membaca Mahfud Ikhwan dan Pengalaman Menyenangkan Lainnya

Jadi, kali ini, saya akan berusaha menuliskan feedback yang saya dapatkan setelah menamatkan buku kumpulan esai terbaru dari Mahfud Ikhwan yang berjudul Terkenang Nyonya Rissa: Bacaan-bacaan Buruk dan Pengalaman Menyenangkan Lainnya terbitan Warning Books. Saya tidak bermaksud menulis review saya atas buku ini, melainkan saya hendak menuliskan pengalaman membaca saya sendiri, sebagaimana Mahfud Ikhwan, lagi-lagi menuliskan itu dengan sangat baik di buku ini.

Lanjutkan membaca “Turut Terkenang: Membaca Mahfud Ikhwan dan Pengalaman Menyenangkan Lainnya”

“We Are All Trying Here” Sejauh Ini

Saya lupa alasan persis mengapa saya memutuskan untuk menonton We Are All Trying Here. Jika dipikir kembali, apakah karena Koo Kyo-hwan? Sepertinya bukan. Apakah karena Go Youn-jung? Bukan juga. Rekam jejak penulisnya pun tidak terlalu saya pertimbangkan. Barangkali, ini murni perkara waktu. Drama sepanjang 12 episode ini hadir di saat yang tepat—saat saya merasa benar-benar siap untuk menonton serial on-going. Baru saja saya menyelesaikan episode keenam, dan rasanya saya kembali menemukan alasan mengapa saya terjebak dalam cerita ini.

Lanjutkan membaca ““We Are All Trying Here” Sejauh Ini”

Bagaimana Cara “Hidup Bersama Laut”? – Catatan Pembacaan Buku Safar Nurhan

Dalam beberapa waktu luang, saya sering merenung: mengapa Tuhan menetapkan saya sebagai warga di pulau besar yang menyerupai huruf “K” ini? Terutama jika jati diri saya sendiri tidak sepenuhnya merepresentasikan pulau tersebut—saya orang Sulawesi yang bukan orang laut. Namun, tulisan ini tidak lahir dari penyesalan akan keputusan Tuhan tersebut. Ia lahir dari sebuah penerimaan yang lampau; bahwa tidak semua orang Sulawesi harus akrab dengan laut.

Lanjutkan membaca “Bagaimana Cara “Hidup Bersama Laut”? – Catatan Pembacaan Buku Safar Nurhan”

Bercermin pada Arundhati Roy: Tentang “Mother Mary Comes to Me” dan Luka Menulis

Saya tidak menyangka. Lewat Mother Mary Comes to Me, sebuah memoar bahasa Inggris yang sempat saya tunda membacanya, Arundhati Roy berhasil membuat saya mempertanyakan kembali tulisan-tulisan saya sendiri. Terkait, apakah memang saya selama ini sudah “menulis”?

Lanjutkan membaca “Bercermin pada Arundhati Roy: Tentang “Mother Mary Comes to Me” dan Luka Menulis”

Catatan Buku yang Saya Baca di 2025

Tahun 2025 ini bisa saya katakan sebagai tahun paling rajin membaca buku sepanjang hidup saya. Saya membaca dengan tekun dan berusaha konsisten, sampai-sampai waktu menonton film pun berkurang cukup drastis. Tetapi sejauh ini saya menyukai apa yang saya lakukan. Saking sukanya, saya merasa perlu membuat semacam umpan balik atas ketekunan membaca di tahun ini.

Lanjutkan membaca “Catatan Buku yang Saya Baca di 2025”

Karya Sastra yang Menarik Perhatian dalam Seks, Teks, Konteks karya Katrin Bandel

Seks, Teks, Konteks (2025) adalah buku yang baru saja diterbitkan oleh penerbit Rumah Sukma. Buku ini menghimpun esai-esai kritik sastra yang ditulis oleh kritikus Katrin Bandel sepanjang tahun 2001–2021. Beberapa esai Katrin yang sebelumnya telah dibukukan juga dihadirkan kembali di sini. Semacam pengumpulan intisari dari perjalanan karier Katrin Bandel sebagai seorang kritikus sastra.

Lanjutkan membaca “Karya Sastra yang Menarik Perhatian dalam Seks, Teks, Konteks karya Katrin Bandel”