Dapat aku rasakan guyuran air dingin membungkus sekujur tubuhku. Dari tiap tetesnya, hingga seakan meresap lembut di kulitku. Aku basuh wajahku, berurutan, kedua tanganku, tiap helai rambut di atas dahiku, kedua telingaku, dan kedua kakiku dari lutut hingga mata kaki. Aku hela tiap hikmah alirannya yang melunturkan najis-najis di raga ini. Dengan menangkupkan kedua tangan di depan mataku, tundukku akan sebuah permohonan. Perbuatan yang setelah ini akan ku lakukan, seperti yang sudah-sudah. Tak ada kebaikan yang merajainya. Hanya dosa demi dosa, mengalir seperti air buangan ke selokan. Tak kan kembali ke tempatnya semula yang sangat bersih dan segar. Ku sambar handuk di gantungan dekat pintu, mengeringkan tiap butiran air yang membasahi balutan daging dan tulang ini. Ku kenakan pakaian seadanya saja, memang seadanya, apalagi? Tak ada, hanya sisa-sisa kemaksiatan yang ingin segera ku lenyapkan dari bumi ini. Tapi aku masih punya permohonan, yang ku simpan rapat-rapat di loker hatiku. Entah malu atau apalah, aku tak sanggup mengeluarkannya. Merasa tak pantas dan tak layak menunjukkannya. Tapi biar saja ada di sini, karena ku tak yakin hal ini dapat tinggal lebih jauh dari diriku. Di luar sana, lingkungan tempat aku menghidupi diriku, orang tak mungkin mempedulikan hal ini.

Pintu kamar mandi ini sudah berkeretakan, pegangannya pun sudah berkarat. Ada beberapa lubang selebar 3 centi di sudut atasnya. Padahal tinggi pintu ini tak lebih dari satu setengah meter. Wajar saja, memang sengaja pintu ini dirancang lebih pendek dari para manusianya. Aku tak perlu banyak komentar.

Saat melangkah keluar, ingin rasanya ku buang muka jauh-jauh. Cermin retak di meja rias itu memantulkan wajahku yang tanpa harap. Kosmetik  – kosmetik murahan asalkan bisa memoles rupa ini agar terlihat menarik dan mendesirkan kebusukan setan. Ku sapukan satu per satu dengan sangat lihai, foundation, bedak,eye shadow, mascara, blush on, pemerah bibir, lip gloss, ah apalagi? Yeah, parfum wangi melati bercampur body lotion yang sangat menyengat, dapat tercium dari jarak 5 meter.

Berbalik dari meja rias, kamisol ungu dengan leher berenda telah menantiku di atas ranjang. Ada celana ketat sepaha berwarna putih bertengger di baliknya. “oh Tuhan,.. haruskah aku memakainya?”, batinku sia-sia, lebih tepat seperti penyesalan yang sudah sangat terlambat. Dan ini seolah ritual wajib bagiku di penghujung senja. Di satu sisi menyembunyikan penyesalan, di sisi lain memaksa diri mengakui realita. Tak bisa ku tolak, ku lepaskan pakaian yang tadi kusarungkan dan berganti dengan “seragamku” hari ini.

Malam hampir berlalu. Aku telah sangat lelah. Lelah karena dibayar lebih rendah dari hewan sirkus. Terbaring di tempat tidur reot, hanya menatap langit2, dinding2 dengan cat kuning yang mulai mengelupas. Lampu neon  10 watt yang mulai remang-remang seperti menambah kegetiran paling gelap dalam diriku. Dari celah-celah jendela, menyelusup suara-suara sumbang lagu Dangdut, remix campursari, balada, kontemporer, tak ada yang mampu menenangkan kegaduhan ini. Sebaliknya, hanya membawaku semakin jauh dari kebahagiaan.

Aku bangkit dari tempat tidur. Melangkah ke kamar mandi dengan deraian tangis yang memburu. Menyalakan keran,menyiramkan berliter-liter air, terus menerus, ke seluruh tubuhku. Terus menerus. Aku ingin kebusukan-kebusukan yang menggerogoti tubuh ini hilang. Aku ingin najis-najis yang mengotori raga ini lenyap. Aku ingin kemaksiatan yang meracuni badan ini tak berbekas. Aku berlomba dengan tangisku, menggosok-gosokkan sabun, batu kali,di setiap mili kulitku. Aku tak ingin lagi merasakan limbah-limbah nafsu. Aku harus mengakhiri semua ini, meski harus menyakiti diriku, aku tak peduli. Nilaiku telah lebih rendah dari seekor tikus percobaan. Rendah.. sangat rendahâ€Ķ rendah sekaliâ€Ķâ€Ķâ€Ķâ€Ķ

Tak tertahankan, aku bersandar ke dinding kamar mandi, merosot hingga ke lantai. Meraung-raung, memukul-mukul kelaminku, air meluap, menggenang, menjangkau keluar kamar mandi. Aku tak sanggup lagi. Aku butuh pertolongan. Tapi sampai kapan aku menunggu? Sampai kapan aku harus hidup di tempat terkutuk ini. Tak adakah Tuhan?? Tak adakah? Hingga tega mengacuhkan hambaNya seperti diriku iniâ€Ķ.

tahukah kau..?
betapa bodohnya cinta manusia..
seperti halnya perasaanku kini….
tak ada yg mampu menjelaskan kerumitan dalam hatiku….
aku hanya tahu,
dulu kau sangat menyebalkan,
sampai2 enggan aku menanggapimu..
tp yg terjadi, malah sebaliknya…
aku selalu menantikan saat-saat itu..
saat dimana kita berperang opini..
aku tahu aku sangat bodoh dan sepertinya mencoba menarik perhatianmu..
tp aku mengingkarinya..
aku takkan seperti itu.. tak akan…
tp kamu,
kamu lelaki dewasa,pergaulanmu luas,pengetahuanmu banyak..
kamu pasti menangkap kegundahan di hatiku,
kamu pasti bisa membaca anehnya tingkahku saat bertemu denganmu..
atau segala hal tentangmu mendadak membuatku gila!
aku tak memahami ini,
ini terlalu rumit untukku,..
aku takut..
takut jika suatu saat nanti aku sangat mengharapkanmu..
padahal, sedikitpun kau tak memikirkanku..
kita tidak sepadan..
aku tahu itu..
kita tidak sama, satu dengan yg lain..
jalan yang kau tempuh sungguh indah di mataku,
dan aku sangat ingin tahu semuanya,
sangat ingin mengenalmu hingga ke sel-sel terkecil tubuhmu..
tapi aku,
terlalu rumit untuk dijelaskan,
jalanku sangat berkelok,
penuh coba,dusta dan kemaksiatan..
mungkinkah aku kan jadi milikmu?
aku rasa tidak..
sebab aku begitu memikirkanmu..
sedangkan kau…
aku tak tahu..
aku hanya mengagumi dari balik layar…
di hadapanmu aku menciut,
tp di belakangmu aku sangat menggebu-gebu…
oh Tuhan..
mungkinkah aku kan habiskan sisa waktuku bersamanya…
sedangkan kami begitu berbeda…
sangat berbeda….
tp..
jujur ingin kunyatakan padanya….
aku sungguh mengagumimu…
memujamu…
dan mengharapkanmu…..
perasaan ini mungkin tak terbalas….
tp..
apa yg bs ku perbuat?
hanya doa..
semoga kita selalu diberikan yang terbaik, dg penuh kesabaran,..
dan keikhlasan….

Buat situs web Anda sendiri, gratis di WordPress.com.Buat situs web Anda sendiri.
Mulai gratis