Hari ini katanya hari blog nasional. Nulis lagi ah.
AI dan Penelitian
Masih Diceritakan
Saya masih menceritakan tentang blog ini sebagai salah satu hasil karya saya. Bahwa blog ini dulu sempat mengalami kejayaan. Masa orang masih senang membaca dan belum ada gadget (handphone) yang membuat orang lebih mudah membuat video daripada menulis.
Tadi pagi di kelas saya juga cerita tentang blog ini, tapi saya tidak yakin ada yang ngecek keberadaan blog ini. Percaya aja. ha ha ha.
Meja Kerja Berantakan
Saya sering merasa bersalah melihat meja kerja saya yang berantakan. Alasan saya adalah ini kan meja kerja. Ya berantakan adalah normal. hi hi hi. Tapi pada kenyataannya saya juga tidak tahu harus bagaimana. Yang membuat saya tenang adalah melihat meja kerja orang lain yang juga berantakan.
Nah baru saja saya menemukan foto ini, foto Andrew Wiles yang menyelesaikan salah satu problem matematika yang sangat susah yaitu Fermat’s Last Theorem. Lihat mejanya. Berantakan. Ha ha ha. Dia menyelesaikannya dalam 7 tahun. Waktu yang “singkat” untuk masalah yang sangat susah. Tapi ada saja yang komentar, “Coba kalau mejanya lebih rapih. Bisa kurang dari 7 tahun itu”. Boleh, boleh. Tapi yang penting ternyata yang meja kerjanya berantakan bukan hanya saya.

Download Mess
Melihat direktori “Download”ku
Isinya sampah semua
Mau dibuang tapi sayang
Ada yang lebih seru. Anak-anak sekarang gak punya banyak folder. “Documents” dan “Downloads”. Itu saja. Semuanya dicemplungkan di situ. Tidak ada sub-direktori atau sub-folder.
Buku-buku yang saya koleksi
Ada sebuah pertanyaan, buku-buku apa yang saya koleksi? Gak kepikirian juga oleh saya ya. Saya memang menyukai buku. Masih buku fisik juga. Belum ebook. Meskipun ada buku-buku yang sudah saya bagikan, tetapi masih banyak buku yang saya koleksi. Buku apa yang saya koleksi. Ini dia hasil telaahan singkat saya.
Ada buku-buku dari pengarang kesukaan saya yang tetap saya simpan, misalnya Michael Lewis. Saya mulai menyukai tulisan dia semenjak membaca buku “The New New Thing”. Sejak itu saya menyukai buku-bukunya. Tidak semua bukunya bagus, menurut saya. Ada juga bukunya yang “jelek”, tetapi masih tetap saya koleksi juga. Pengarang lain yang sejenis adalah Malcom Gladwell. Keduanya memiliki style penulisan yang berbeda tetapi saya menyukainya.
Kedua adalah buku-buku yang berjenis “sejarah teknologi”. Yang ini saya menyukai cerita-cerita tentang Silicon Valley. Bagaimana dia terjadi dan sekarang seperti apa. Sebentar, nanti saya berikan contoh buku-buku yang saya maksudkan. Karena memang kiblat teknologi dan bisnis teknologi masih ke Silicon Valley, jadinya buku-buku tech juga banyak yang saya sukai. Contoh bukunya adalah “Lift Off” (tentang SpaceX).
Ketiga adalah buku “bisnis teknologi” atau buku bisnis yang menjelaskan teknologi. Contoh buku yang saya maksud adalah “Long Tail”-nya Chris Anderson. Atau buku “Zero to One”, “Pivot (Tarzan Economic)”.
Keempat adalah buku karangan Dan Brown. Sebetulnya ini mungkin bisa masuk ke kategori pertama yaitu buku dari pengarang yang saya sukai meskipun jenisnya adalah novel. Semenjak DaVinci Code, saya termasuk yang memiliki beberapa bukunya. Selain Dan Brown ada lagi penulis lain yang entah kenapa saya koleksi juga, misalnya J. K. Rowlings dengan buku-buku Harry Potter-nya. (Semua dalam format aslinya, dalam Bahasa Inggris. Entah kenapa saya lebih mudah membaca buku-buku dalam Bahasa Inggris.)
Yang terakhir adalah buku-buku tentang Steve Jobs. Saya sudah memiliki beberapa buku tentang Steve Jobs dari berbagai pengarang. Yang mungkin juga saya kumpulkan adalah buku tentang Elon Musk. Ini baru dua buku dan keduanya eBooks. Boleh jadi untuk Elon Musk saya akan mengumpulkan eBooksnya. Tapi ini bisa berubah.
Demikianlah catatan singkat tentang buku-buku yang saya koleksi.
Merelakan Kecewa
[Chorus]
… apakah kini waktunya?
… untuk merelakan kecewa
Aku punya cita-cita
(akupun tahu)
Kau juga menyukai itu
Bertahun-tahun ku berjuang
Untuk menggapai cita-cita itu
Darah dan peluh tercurah
Nafas dan pikiran ku rentang
Namun dia tak kunjung datang
Aku kecewa
Kau (pun) kecewa
… apakah kini waktunya?
… untuk merelakan kecewa
[Mr. GBT, 2026]
Sembunyi
Aku dan dia – sudah mengenal lama.
Sejak kecil. Kami bermain bersama.
Aku dan dia – berbagi cerita.
Sejak muda, Kami bersahabat.
Suatu hari dia bercerita.
Ada seseorang yang ingin
dia pinta hatinya.
Entah kenapa hati ini jadi menderita.
Reff:
Kepada hati.
Sembunyi.
Sembunyilah.
Sembunyi.
Agar dia tak mengetahui.
Kemudian hari dia bercerita.
Ada seseorang
yang menolak dirinya.
Entah kenapa hati ini ingin bercerita.
[Reff 2x]
[Outtro]
… pintaku
… kepada hati
… sembunyilah
[Mr. GBT. 2026]
Ngopi-ngopi di Singapura
Salah satu hobby saya saat ini adalah ngopi. Sebetulnya ini bukan hobby sekarang saja. Mungkin hobby ini sudah lebih dari 10 tahun. Lain kali akan saya ceritakan mengenai perjalanan belajar ngopi saya. Kali ini saya ingin bercerita tentang ngopi di Singapura.
Satu hal yang sering menyebalkan dalam perjalanan adalah kopi yang tidak enak di hotel. Aneh saja. Teh yang disediakan di kamar hotel sudah mulai bagus-bagus. Kok kopinya masih kopi sachet yang bikin sakit perut. Padahal sudah banyak kopi dalam bentuk drip bag yang enak-enak. Akibatnya saya bawa kopi sendiri. Untungnya saya selalu punya persedian kopi dari Java Halu Coffee (teh Rani) dan Glic (mang Indra Odonk).
Kopi pertama pagi ini adalah drip bag dari Java Halu Coffee. Ada beberapa varian proses. Kali ini yang saya seduh adalah yang washed. Enak menikmati kopi di pagi hari sambil sarapan di kamar. Memang kali ini kami (saya dan anak saya) tidak memesan kamar yang sudah disertai dengan sarapan. Jadi kloplah.

Sebelum berangkat ke Singapura saya sudah menyiapkan daftar tempat kopi yang ingin saya kunjungi. Sebelumnya saya meminta pendapat dari netizen di aplikasi medsos Threads. Dari jawaban-jawaban tersebut saya buatkan urutannya. Hanya saja kali ini saya tidak mengunjungi tempatnya berdasarkan urutannya tetapi berdasarkan jarak dengan tempat dimana saya berada.
Pagi ini kami berencana pergi ke toko buku Kinokuniya yang berada di Orchard Road. Berarti saya mencari kedai kopi dari daftar tersebut yang dekat dengan Orchard Road. Ketemu. Namanya Alchemist The Heeren. Sekalian saya janjian dengan kawan sayam Chris. Beres makan siang saya mencari tempat ini. Oh ternyata The Heeren adalah nama gedungnya. Gampang mencarinya. Ternyata Alchemist ini berada di salah satu bagian luar dari gedung The Heeren ini. Tempatnya kecil dan agak kurang nyaman karena terbuka dan panas. Hanya ada kipas angin dan tidak ada AC. Kebetulan Singapura kali ini sedang sangat panas.
Saya mencoba kopi Colombia diseduh dengan cara filter (V60). Panas. Tujuannya ingin mengetahui rasanya. Padahal enakan diseduh dingin (Japanese) ya. Lain kali kalau ke sini mau coba yang dinginnya. Atau katanya yang enak juga adalah “Dark Matter” yang diseduh putih (Cappuccino?). Kopinya enak dan seduhannya enak. Bold. Tidak encer. Jeleknya hanya satu, disajikan dengan gelas dari kertas! Padahal saya minum di sana bukan dibawa pulang. Harusnya disajikan di gelas beling. Itu saja minusnya.

Beres dari sana saya mau ngopi lagi. Biasanya jatah ngopi saya hanya dua kali (2x). Kalau “terpaksa” baru ngopi lebih dari dua kali. Ini adalah kondisi “terpaksa”. Ha ha ha. Kan jarang-jarang ke Singapura. Jadi sekalian berburu kopi pas ada waktunya. Tujuan saya adalah kopi yang dekat dengan hotel kami di daerah Bencoolen. Pilihan jatuh ke kopi Apartement. Ke sana bisa naik bis terus jalan. Aman. Setelah jalan 5 menit sampailah saya ke Apartement coffee. Ndilalah … ada antrian yang panjang. Saya paling males kalau makan atau ngopi yang harus antri panjang. Lewat! Skip!

Ayo cari tempat lain lagi. Ada yang dekat sini namanya Kurasu. Sebetulnya Kurasu juga ada di Jakarta, tapi karena sudah kadung pengen kopi lagi ya sudah jalan ke Kurasu. Hanya 9 menit jalan ke sana. Dan ternyata ini malah sangat dekat dengan hotel kami, Oakwood Bencoolen. Ternyata coffee shop Kurasu ini ada di tempat makan di salah satu gedung. Gak glamor tempatnya.
Sampai ke Kurasu ada antrian juga dong. Masuk saya. Antrian nunggu 1 orang. Sebetulnya bisa nunggu, tapi melihat padatnya ruangan yang kecil jadi tidak menarik. Setelah mikir-mikir, akhirnya saya putuskan untuk take away saja. Saya bisa bawa pulang dan ngopi di hotel saja. Toh hotel hanya 2 menit jalan dari sini. Bawa pulang jadinya.


Sebetulnya masih bisa ngopi satu kali lagi. Eh, tapi jadinya 4x ngopi. Harus bertahan agar tidak kebanyakan ngopi. Stop! Tulisan ini juga stop.
Asyik Buat Gambar dengan AI
Saat ini saya sedang senang membuat gambar dengan menggunakan AI. Sumber datanya adalah dari foto saya, kemudian dipermak oleh AI sehingga hasilnya adalah gambar AI dari foto tersebut dengan style yang diminta. Ini memang untuk keperluan pribadi saya saja. Jadi untuk masalah HaKI (Intellectual Property) belum jadi masalah untuk saya. Nanti ini kita bahas secara sepintas ya.
Awalnya saya hanya menggunakan Gemini karena dia yang paling bagus dari koleksi style-nya. Sekarang ChatGPT juga punya tools untuk membuat gambar yang bagus-bagus juga. Keduanya memiliki koleksi style yang berbeda.
Awalnya dengan Gemini saya menggunakan style “Steampunk”. Hasilnya seperti ini. Bolak balik saya mencoba upload foto-foto saya yang lainnya sampai habis token harian saya. ha ha ha.

Untuk ChatGPT yang saya suka adalah style untuk membuat “statue” (patung). Hasilnya seperti ini. Sayangnya wajah saya berubah jadi “bule”. Terus saya minta untuk mempertahankan wajah saya.

Hasil minta wajah dipertahankan lebih tidak berubah wajahnya, tapi jadi tidak seperti patung lagi. Wajahnya masih wajah manusia. Bukan terbuat dari marmer.

Oh ya, keluaran hasil gambar masih bisa kita permak (customization) lagi. Misalnya, untuk yang patung bisa kita tambahkan nama kita atau kata-kata yang lainnya.
Selain ini masih ada banyak lagi style yang saya coba, misalnya gambar yang lebih kartun atau anime. Jadinya sekarang saya sering buat gambar dari foto-foto saya. Nah, tinggal sekarang harus beli token untuk melakukan ini. Kalau pakai yang gratisan bisa tapi kadang harus nunggu sampai besok lagi supaya bisa gratis lagi.
Post/Follower
Saya menyukai hal-hal yang “aneh” atau “lucu” – dari kacamata saya tentunya. Kali ini saya melihat statistik dari akun Instagram saya (@rahard). Jumlah postingan saya adalah 5152 dan jumlah followernya juga 5152. Jadi satu follower dapat satu postingan. Ha ha ha.

Kalau orang yang populer, jumlah follower jauh lebih besar dari postingannya. Statistik di atas menunjukkan bahwa saya bukan orang populer. Asyik. Tos!
News IS Good News
Ada pepatah Barat yang mengatakan bahwa “No news is good news”. Jadi kalau tidak ada berita-berita artinya (dunia ini) sedang baik-baik saja. Sedangkan kalau ada berita, artinya (dunia) sedang tidak baik. Memang kalau kita perhatikan bahwa saat ini berita yang banyak diminati(?) adalah berita buruk. Setidaknya cerita yang disampaikan oleh media massa adalah hal-hal yang negatif; mengandung kemalangan atau masalah.
Saya termasuk orang yang tidak suka menceritakan kesedihan. Yang saya ceritakan adalah yang menyenangkan. Kebahagiaan. Jadi kalau ada berita atau cerita dari saya, artinya sedang ada yang baik.
Motto saya: hidup ini adalah sebuah perayaan.

Tanpa Ego
Salah satu hal yang membuat kokoh atau rapuhnya sebuah hubungan adalah ego. Dalam pertemanan dan keluarga yang langgeng, ego ini dibuat menjadi sangat kecil, diperlemah, atau bahkan dihilangkan. Lihatlah dalam contoh pertemanan yang sangat erat, salah satu kawan menghina kawannya dan kawannya anteng alias cuek saja karena sudah tidak ada lagi ego. Tidak ada yang perlu dibahas bahwa saya lebih hebat dari dia atau sebaliknya. Sudah saling tahu. Tidak perlu dibahas. Maka jenis pertemanan seperti ini sangat tahan bantingan.
Dalam keluarga juga sama. Jika dalam sebuah keluarga, misalnya sang anak memecahkan gelas. Ibunya langsung memarahi anaknya, “kan sudah mama bilang!!!”. Apa manfaat memarahi ini? Padahal kalau ibunya langsung membantu membereskan pecahan gelas, maka sang anak juga tanpa dimarahi sudah tahu bahwa dia salah. Bahkan dia apresiasi bahwa sang ibu langsung mengambil inisiatif untuk memperbaiki situasi. Hal yang sama, jika ada kakak dari si anak yang memecahkan gelas itu langsung ambil sapu dan membantu membereskan pecahan gelas maka di situlah terjadi kekokohan keluarga. Tanpa perlu kata-kata. Di sini ego untuk menunjukkan bahwa saya benar dan kamu salah itu tidak membawa manfaat. Bahwa kalau ego itu dibuang, maka justru kekokohan hubungan semakin terjadi.
Salah satu cara untuk memperlemah ego adalah belajar bersabar. Sabar ini memang paling susah dipelajari dan diterapkan. Belajarnya susah dan ujiannya setiap hari.
Semakin kecil ego, semakin besar ketenangan.
Lagu Kumpul-kumpul
Seringkali kita kumpul-kumpul – acara keluarga, alumni, organisasi, atau sejenisnya. Pas di acara itu ada alat musik, baik organ tunggal (ortung), gitar, atau bahkan alat-alat musik band yang komplit. Nah, pertanyaan yang sering muncul adalah “lagunya apa”. Mulailah kebingungan. Oh ya, biasanya saya hadir sebagai pemain musiknya.
Bagi saya, acara musik seperti ini susah-susah gampang. Susahnya adalah lagu-lagu yang sering saya bawakan bersama band saya biasanya (1) lagu keras (hinggar binggar), (2) lagu yang mellow (sedih), (3) lagu yang tidak dikenal oleh kebanyakan orang. Akibatnya ya tidak cocok untuk acara kumpul-kumpul. Kalau manggung, baru okay lagu-lagu tersebut. Jadi ini aspek susahnya. Yang susah juga seringkali audience memilih lagu yang tidak saya kenal. Padahal lagu-lagu tersebut mungkin sangat umum, hanya saja saya tidak kenal. Ini repot menebak chords dan alurnya.
Lagu acara kumpul-kumpul biasanya adalah lagu-lagu yang ceria. Gembira. Yang bisa dinyanyikan secara ramai-ramai. Tentu saja ini bergantung kepada audiencenya. Kalau orang tua, ya lagu jaman dahulu. Kalau anak-anak muda, ya lagu jaman sekarang. Ini pun masih bergantung kepada genrenya.
Berikut ini adalah beberapa lagu yang seringkali muncul di acara kumpul-kumpul. Saya akan coba buat daftar yang mungkin bisa digunakan oleh banyak orang dan untuk mengingatkan diri saya sendiri.
Lagu yang umumnya bisa diterima semua orang (setidaknya di lingkungan saya).
- Commodores – Easy
- ABBA – Dancing Queen
- Kahitna – Cantik
- Chrisye – Anak Sekolah
- Chrisye – Cinta
- Me – Inikah Cinta
- Kemesraan (ini biasanya lagu penutup)
Lagu yang agak “niche” sedikit. Biasanya yang 90s.
- Oasis – Don’t Look Back in Anger
- Noah/Peterpan – Khayalan Tingkat Tinggi
Yang ini lebih niche lagi, tetapi kalau audience-nya pas bisa mengajak audience ikut bernyanyi.
- The Adams – Konservatif
Ada lagi lagu-lagu yang sebetulnya ingin saya nyanyikan di acara kumpul-kumpul ini, yang bukan manggung, tetapi belum nemu kawan yang sepakat untuk membawakannya. Materinya juga agak mellow sih. Ini dia.
- Chrisye – Seperti Yang Kau Minta
- Airplay – Roxann
- Starship – Nothing’s Gonna Stop Us
Nanti akan saya update daftar ini.
Komposisi Stock (Startup)
Sebetulnya bagaimana komposisi kepemilikan usaha dari sebuah startup? Seringkali ini menjadi bahan perdebatan ketika startup dibuat. Ini juga seringkali yang membuat tidak jadinya sebuah usaha. Masing-masing personel merasa dia yang paling penting sehingga porsi kepemilikan sahamnya paling besar. Akhirnya perusahaan tidak jadi dibangun.
Ternyata kepemilikan saham ini tidak ada standar. Nah untuk itu saya coba cari beberapa informasi contoh-contoh komposisi kepemilikian saham ketika sebuah perusahaan dibangun. Tidak mudah karena seringkali hal ini dirahasiakan. Ini tentu saja bukan sebuah standar tapi belajar dari pengalaman orang lain.

Tadinya saya pikir, founder itu harus yang paling besar. Ternyata tidak juga. Sebagai catatan, nanti dengan masuknya investor di ronde-ronde selanjutnya (jika terjadi) maka porsi saham tersebut bisa jadi terdilusi menjadi lebih kecil. Ini juga harus menjadi pembahasan tersendiri.
Di tempat lain ada contoh yang berbeda. Kali ini ada tiga (3) orang pendiri (founders) dengan komposisi Founder1 (40%), Founder2 (40%), Founder3 (20%). Jadi seluruh saham 100% dimiliki oleh founders. Ketika ada investor masuk, misalnya masuk 10%, maka masing-masing saham dari founder tersebut menjadi dilusi turun 10%. Jadinya Founder1 (36%), Founder2 (36%), Founder3 (18%), investor (10%).
Bagaimana menurut Anda?
