Pernahkah kalian menulis diary sewaktu dulu masih kecil? Ketika senang, sedih, ataupun bahagia, disampaikan dalam bentuk goresan pena ke kertas-kertas diary yang warnanya lucu-lucu. Yang ada gemboknya gitu, ya ampun unyu-unyu banget. Ngaku dehhhh…. pasti pada punyaa kaaannnn……..~~!!
Kemarin-kemarin waktu dewi rajin sedang menyambangiku, di saat memberes-bereskan buku-buku lama, bertemulah saya dengan dirinya. Tumpukan buku lusuh yang berdebu, penuh nostalgia, memanggil-manggil saya untuk membukanya. I may not seem like one, tapi dulu saya sempat punya diary dan terkadang menuliskan keluh kesah kehidupan di sana (saya pun seorang perempuan biasa lho, walaupun kalian mungkin meragukannya). Aih jadi malu.
Dengan penuh deg-degan, saya membuka lembaran diary dan saya terbawa kembali ke masa-masa itu (dan kegiatan beres-beres pun dengan senang hati dipause heula). Waktu membaca ulang tulisan lama saya yang ternyata dari dulu buruk rupa itu, saya kembali mengingat-ingat kejadian lama yang membuat saya di kala itu tertawa, sedih ataupun kesal. Ada juga tulisan ketika saya sedang keseeelll banget, tapi saya lupa sama sekali itu tentang kejadian apa ya?? I realize i’m getting old and my long-term-memory is slowly killing me, hhhh.
Saya pun sadar, betapa naif dan polosnya pola pikir saya saat itu, masalah-masalah kecil mampu membuat dunia remaja saya berumit penuh intrik. Alah. Soalnya waktu lugu dulu, lingkup dunia kita masih sangat kecil, berputar sekitar itu-itu saja, either sekolah, rumah, teman, sekolah, rumah, teman, dll. Mana ada dulu mikirin inflasi, saham dan ekonomi dunia (kayak yang sekarang mikirin aja wkwkwkwk). Dan bagaimana dulu di saat puber, terasa betapa mudahnya menyampaikan isi hati.
Sekarang, ketika sudah dewasa, saya rasa kita semua sudah berubah (hopefully ke arah yang lebih baik tentunya), namun terkadang kita berfikir terlalu complicated. Dalam mengambil sebuah keputusan misalnya, atau dalam melakukan sesuatu, banyak sekali hal-hal yang kita jadikan pertimbangan, sehingga kita jadi takut untuk melangkah. Kita berfikir terlalu logis dan berhati-berhati, dan sering menghiraukan isi hati. Mau ngomong sesuatu pun, kita mikir lamaaa sampai bikin otak mumet. Saya tidak mengatakan itu jelek, berfikir matang sebelum berbuat itu tindakan yang bagus sekali, tapi terkadang ada saat-saat dimana kita bisa make it simple, follow our heart and take a risk, like when we were young.
Karena hal itu, saya pun menyarankan adek saya (yang sekarang notabene dalam masa puber hihi) untuk menulis diary. Menulis apapun itu, kebahagiaan, kekecewaan, ide ataupun mimpi. Apalagi ketika sedang emosi, biasanya kita tanpa sadar jadi pujangga semalam, bahasa inggris tiba-tiba jadi lancar jaya, dan begitu gampang menggoreskan kata-kata. Lalu, mungkin nanti ketika kamu sudah dewasa nanti, dan membaca diary itu, kamu akan teringat, tertawa terbahak-bahak, dan bernostalgia. Kita memang tidak bisa kembali ke masa itu, tapi kita bisa menyimpannya sebagai kenangan berharga, sebagai jendela mungil untuk mengintip masa kecil kita, sebagai bagian dari perjalanan hidup kita, and a reminder of how time flew by so fast, and that we need to cherish every moments in life.
