
Assalammualaikum,
It’s been a while ✨.
I rarely post a long story feed, but when I feel I need to write it in words, suddenly it turns out to be a very long paragraph of words in a blink of an eye.
Neva thought that these past weeks have been quite a tough journey for me and my family.
It felt like a dream.
Indeed, it was not an easy journey :'(, without the help of Allah, we surely couldn’t pass through it :'(.
The only thing that makes us stronger is when we know that we have Allah, we know that we have everything that we need to overcome these rainy yet cloudy and stormy days. This too shall pass. Ustadz said that the only thing that we should always remember when facing a problem is that when Allah gives us a problem, Allah will also give us the solution. Problem itself comes side by side, all in one package with the solution.
Indeed it was truly a deep reminder for me and my family, there are a lot of lessons to take, and a lot of things to be grateful for in life.
Nulis ini bwt jadi reminder bwt diri sendiri biar selalu inget bahwa di balik kesulitan ada banyak hikmah, kebaikan dan pelajaran yang didapet walaupun dengan berdarah-darah dan penuh air mata :’(..
Alhamdulilah bini’matihi tathimus sholihat.
MasyaAllah Tabarakallah.
Minggu, 3 Juli 2022
3 Dzulhijjah 1443 H
First Drama – No Flight Ticket To Palembang
Setiap kali lagi ada keluarga dekat yang sakit dan kita ada di kota lain rasanya hati ini bener-bener gak enak, apalagi gak bisa lihat langsung,, pengennya sih in case of emergency, we can meet them in less than an hour, or fastest.. ya kalo bisa… kalo gak harus nyari jalan tercepet, dan itu semua cukup susah terwujud kalo kita ada di tempat yang cukup jauh. Tapi kan ya itu hanyalah rencana manusia, semuanya sudah Allah yang atur dalam skenario yang paling indah dan paling baik, karena kita gak pernah tahu apa yang akan terjadi di waktu yang akan datang, terkadang kita harus safar atau ada uzur syar’i lainnya.
Pesen tiket pulang pergi Palembang biasanya bukanlah hal yang sulit. Go show, 6 Jam sebelum berangkat tiket masih bisa dibeli, memang semenjak pandemik penerbangan ke Palembang berkurang, sangat sedikit pilihan jadwalnya, flight internasional pun masih ditutup, tapi biasanya membeli tiket via online adalah hal yang sangat mudah dilakukan. Qadarallah hal ini tidak berlaku di tanggal 3 Juli 2022 kemarin, di hari itu kami sudah tidak bisa mendapatkan tiket, karena di waktu yang bersamaan sedang ada acara FORNAS, dan mungkin juga berbarengan dengan event libur anak sekolah.. :'(. Akhirnya kami memutuskan untuk ke Palembang via darat, rombongan pertama wak, kemudian rombongan kedua aku dan suami bersama tante, adik, dan mamah mertua. Saat diinfo kondisi nenek sudah sangat lemah dan kritis aku dan suami masih di BSD, dan sebelum berangkat kami harus ke Bekasi dulu :'(, sungguh perjalanan dari planet ke planet saat itu berasa sangat jauh dan lama :'(, belum lagi setelah itu kami harus berkumpul di satu titik di Jakarta, kondisinya saat itu cukup crowded.
Alhamdulilah setelah semuanya kumpul jam 14.00, perjalanan kami ke Pelabuhan Merak, antri ferry, dan menyebrang Selat Sunda Allah mudahin dan lancarin. Cuacanya bagus, tidak ada ombak, tenang, dan ferry bisa nyebrang on time.
Setelah nyebrang, perjuangan belum berakhir.. kondisi Tol Lampung – Palembang di malam hari tidak terlalu baik, harus extra hati-hati dan otomatis kecepatan mobil pun tidak bisa cepat harus perlahan, penerangannya sangat minim, gelap, lubang, dan di kanan kiri jalan banyak perbaikan jalan yang sign nya hanya seadanya terutama setelah masuk dari Perbatasan Sumsel dan Lampung. Hanya dzikir dan doa yang bisa kami lakukan saat di dalam perjalanan ke Palembang.
Senin 4 Juli 2022
4 Dzulhijjah 1443H
Second Drama – Palembang Blackout dan Evakuasi Kebakaran RS Siloam
Alhamdulilah Pukul 01.30 kami sudah tiba di Palembang, lalu langsung ke RS Siloam dan mengunjungi nenek. Seluruh keluarga inti sudah berkumpul dan semuanya sedang mentalqin, mendoakan, dan ngaji untuk nenek papa. Kondisi Beliau masih sadar, masih bisa mengenali satu per satu dari kami, namun fisiknya sudah sangat lemah, tapi semangat beliau berdzikir dengan lantang sungguh membuat kami semakin semangat untuk berdoa dan berdzikir menemaninya walaupun sambil berlinang air mata :'(. Kondisi nenek naik turun, terkadang kami berkumpul, lalu sebagian istirahat dan bekerja, lalu berkumpul lagi. Siangnya ibu mertua pamitan pulang ke Jakarta. Tidak ada yang pulang ke rumah, kecuali adikku yang punya anak-anak kecil. Kami tinggal di hotel yang dekat dengan RS Siloam. Setelah Magrib, hotel mati lampu, namun kemudian langsung switch ke genset. Sama halnya dengan di RS. Setelah Magrib kamipun ke RS untuk kembali menemani nenek berdoa dan berdzikir. Sekitar Pukul 21.00 listrik PLN kembali hidup, terjadi switch dari genset kembali ke listrik PLN. Tidak berapa lama kemudian ada pengumuman code brown, code brown, code brown. Jujur gak ngerti apa-apa, tapi tiba-tiba suster lari bawa tabung oksigen ke kamar. Mukanya agak panik tapi berusaha tetap tenang. Kemudian suster mw mengganti oksigen yang awalnya dari dinding ke tabung oksigen manual, kami mulai panik dan bertanya ada apa. Suster bilang ada kebakaran di lantai 2, dan saat ini sudah berhasil ditangani tapi jaga-jaga jadi disiapin tabung oksigen manual. Setelah dicek tabung tersebut kosong, kemudian dia pun berlari mengambil tabung yang lain. Saat kami mengintip ke arah jendela, di bawah semua orang sudah berlari dan menunjuk-nunjuk ke arah rumah sakit, tempat asalnya api. MasyaAllah deg-degan. Di saat kondisi semua keluarga sedang berkumpul, nenek papa sangat lemah dan butuh oksigen, sungguh hanya bisa berdoa. Kemudian keluarlah pengumuman kedua code red, code red, code red. Suster pria mengumumkan ke kamar bahwa akan ada evakuasi, layaknya perang, yang pria tinggal di kamar untuk membawa nenek papa, dan yang wanita segera bawa barang berharga dan turun melalui tangga darurat. Kami pun berpencar, sungguh tidak menyangka bahwa hari itu, detik itu kami harus mengalami hal ini :'(.
Kami pun berjalan cepat sambil terus menoleh ke belakang memastikan bahwa semua anggota keluarga lengkap, tapi lama-lama kami terpisah, di tangga ada macam-macam pasien, ada yang bawa kotak bayi, ada orang-orang tua, kami pun melewati lantai 2 yang sudah dimatikan lampunya dan bau hangus dari asap, aku bertiga dengan wak nuning dan tante pi, kami sampai di bawah di Lapangan Parkir PSx kami belum melihat anggota keluarga yang lain. Alhamdulilah kemudian satu persatu anggota keluarga turun dengan selamat mama, nek mama, tante eti, tante ria, sampai akhirnya kami melihat bed tempat tidur nek papa beserta oksigennya berhasil turun.. Ya Allah sujud syukur. Nek Papa dibawa dengan lift barang oleh adikku cacan, dan Om Taufik. Setelah Nek Papa turun, lift dimatikan dan pasien yang lain digotong ke bawah dengan tandu melalui tangga darurat. Yang pria tersisa Wak Cak dan Mas Abi yang tidak bisa ikut lift diperintahkan untuk segera lari ke tangga darurat untuk turun. Wak Cak sudah turun, kemudian tersisa Mas Abi yang belum turun, sudah deg-degan takut suami kenapa-kenapa karena dia sering jadi volunteer dan bantu orang, takut nya dia terjebak, ya Allah udah gak ngerti lagi, alhamdulillah ternyata gak lama kemudian dia turun sambil bantu pasien yang digotong dengan tandu, pasien tersebut membawa alat perekam jantung di atas badannya. Alhamdulilah ya Allah, semuanya sudah lengkap, dan semuanya dalam kondisi baik.
Saat itu sebagian pasien ICU semua nya dipindahkan ke Ambulans.
Di tengah lapangan yang dingin anginnya mulai terjadi kepanikan dimana-mana, ada yang rebutan oksigen. Ada yang menangis, ada yang ketakutan, ada yang kesakitan. Bener-bener keos. Ternyata malam itu Palembang Blackout, semua Palembang mati lampu karena ada masalah gangguan penghantar 150KV Palembang – Bukit Asam. Bukan hanya Palembang, tapi sampai ke Jambi, Lahat, Tanjung Enim mati lampu. Tidak hanya mati lampu, sinyal hape juga sempat hilang :'(.
Kami terus menemani nek papa, menyelimuti beliau dan terus mendoakannya, tidak tahu berapa lama lagi proses evakuasi dan penanganan kebakaran ini akan dilakukan. Kami pun berusaha mengambil oksigen di rumah dalam keadaan jalan yang sangat gelap, dan menelfon ke dokter agar mendapatkan rujukan untuk dipindahkan ke rs lain, karena oksigen yang ada mungkin tidak akan tahan lama. Alhamdulillah, ada sedikit titik terang, diinfo bahwa pasien yang kondisinya urgent akan dipindahkan ke IGD karena kondisinya IGD beda gedung dan insyaAllah aman. Akhirnya nenek pindah ke IGD yang super crowded karena isinya pasien-pasien yang urgent, tentunya penuh kepanikan termasuk salah satunya adalah satpam yang kehilangan kesadaran karena terlalu banyak menghirup asap saat mencari titik sumber api. Saat awal dipindahkan, oksigen dari dinding pun belum hidup dan tabung oksigen yang lama sempat tertinggal di lapangan, alhamdulilah tidak hilang dan bisa dibawa ke nenek papa. Sungguh rasanya banyak sekali yang harus disyukuri di malam itu :(. Alhamdulillah tim dari rumah sakit cepat dalam melakukan evakuasi dan segera melakukan penanganan kebakaran dengan cepat.
Selasa 5 Juli 2022
5 Dzulhijjah 1443H
Wipe The Tears And Keep Fighting
Pukul 02.00 pagi nek papa sudah kembali dipindahkan ke Lantai 5 Rawat Inap, meskipun saat itu masih menggunakan lift barang.
Kondisi nenek papa yang awalnya heart ratenya naik turun karena Beliau masih sadar dan tampaknya masih merasakan kepanikan yang terjadi saat evakuasi dan dipindahkan berkali-kali. Alhamdulillah paginya kondisi nenek kembali stabil. Walaupun masih naik turun, Kami pun terkadang berkumpul atau berganti-gantian untuk terus mengaji menemani nenek, karena nek papa pun selalu meminta kami mengaji bahkan selalu dibimbing solat saat azan sudah tiba, walaupun nek papa sudah tidak bisa banyak bergerak. Sambil dzikir, dan berurai air mata hanya ucapan semangat yang aku bisa ucapkan berulang-ulang untuk nenek papa “Nek, ini adalah hari-hari terbaik di Bulan Dzulhijjah, dan insyaAllah semua amalan baik Allah lipat gandakan pahalanya. Dan sakitnya nenek ini insyaAllah jadi penggugur dosa buat nenek, nenek harus dzikir terus berjuang lawan syaiton. Nenek harus dzikir terus karena sakitnya ini hanya sebentar nek, hanya sebentar, dan perjuangan kita yang sesungguhnya (setelah alam barzah) masih panjang… :'(“ Nangis sambil dzikir dan bacain arti sayyidul istighfar di telinga nenek sambil pegangin tangan nenek, adalah momen yang paling berat rasanya, karena arti nya sungguh sangat dalam, yaitu tentang tujuan dari dihidupkannya manusia :'(.
Sayyidul Istighfar (Istighfar Terbaik)
اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ ، لَا إِلٰـهَ إِلَّا أَنْت
ALLAAHUMMA ANTA ROBBII, LAA ILAAHA ILLAA ANTA
“Ya Allâh, Engkau adalah Rabbku, tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau
خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ
KHOLAQTANII WA ANA ‘ABDUKA WA ANA ‘ALAA ‘AHDIKA
Engkau yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menetapi perjanjian untuk taat kepada-Mu.
وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ
WA WA’DIKA MAS TATHO’TU
dan janji balasan-Mu sesuai dengan kemampuanku
أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ
A-‘UDZUBIKA MIN SYAR-RI MAA SHONA’TU
Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku,
أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ
ABUU-U LAKA BINI’MATIKA ‘ALAYYA
Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku
وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِي
WA ABUU-U BIDZAMBII FAGHFIRLII
dan aku mengakui dosaku kepada-Mu, maka ampunilah aku
فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ
FA-INNAHU LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLAA ANTA
Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau”
Artinya:
“Ya Allâh, Engkau adalah Rabbku, tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau. Engkau yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menetapi perjanjian untuk taat kepada-Mu dan janji balasan-Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku kepada-Mu, maka ampunilah aku.Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau.”
(Muttafaq ‘alaih)
Sebagai cucu paling tua, aku adalah yang paling duluan merantau kuliah kerja, kemudian menikah, aku bisa dikatakan yang paling sedikit kebersamaan nya di usia sepuh nenek papa. Alhamdulilah di akhir-akhir waktu nenek papa di dunya, masih Allah beri kesempatan untuk menemani Nek Papa. Nek, kalau dulu Nek Papa yang sering anter jemput kak ulik bahkan sampe kerja praktek di Pusri pun masih nenek yang jemput sekali-sekali :'(. Sekarang giliran kak ulik yang mengantar dan menemani nenek di hari-hari akhir nenek.
Flashback Sejuta Kenangan
Tidak berhenti rasanya air mata ini terus mengalir saat menemani nenek Papa sambil mengaji dan berdzikir, masyaAllah rasanya terbayang semua sejuta kenangan bersama Nek Papa. Dari aku lahir bayi sempat tinggal sama nenek, karena papa di Jakarta, kemudian saat Alm. Papa dipindah ke Baturaja, yang selalu aku nantikan adalah kunjungan nenek ke Baturaja, atau kunjungan kami ke Palembang rasanya gak mau pulang ke Baturaja dan mau di rumah nenek aja. Aku dan adik-adikku beserta 3 sepupu ku sangat suka bermain dengan nenek, walaupun kami mengenyam kurikulum permainan dan kelakar yang sama tiap tahunnya, tapi entah kenapa main sama nek papa adalah hal yang selalu kami tunggu-tunggu. Nek Papa bukanlah tipe Kakek yang memberikan segala apa yang cucunya mau, tidak.. Nek Papa bukanlah wishing granting factory, tapi setiap kali kami bertemu Beliau selalu saja ada surprise dan kejutan yang Beliau berikan. Mungkin nilainya tidak seberapa hanya mainan atau makanan kecil yang kalo zaman sekarang bisa dibeli dengan ojek online. Tapi semua hadiah yang nenek berikan terasa sangat spesial karena beliau membeli barang itu sendiri, terkadang jalan kaki, naek angkot, atau pergi langsung memilih dan membelinya sendiri, di usianya yang tentunya sudah tidak muda lagi. Saat kami kecil kami mungkin tidak banyak tahu tentang barang-barang yang mahal, tapi hati memang tidak pernah bisa bohong, saat suatu hadiah diberikan dengan penuh cinta, keikhlasan dan perjuangan maka pesan tersebut otomatis akan sampai ke yang menerima termasuk seorang anak kecil, dan begitulah yang kami rasakan. It’s not the price, it’s the lil thing that matters the most, it is love and the struggle.
Setelah Alm. Papa dipindahkan ke Palembang, Papa membeli rumah yang sangat berdekatan dengan rumah nenek, kami pun sangat senang dan sering bermain ke rumah nenek di sore hari. Sampai akhirnya papa meninggal di Tahun 2000, kami sempat tinggal dengan nenek papa dan nenek mama. Beliau bukanlah orang yang banyak omong cenderung pendiam jika di hadapan massa umum, Beliau senang jika berkelakar dengan keluarga dan kerabat dekat. Dari Beliaulah mungkin bakat berkelakar receh ini aku punya. Sungguh ada banyak sekali pelajaran yang kami dapatkan dari Beliau, bagi kami Nek Papa bukanlah hanya seorang Kakek, Beliau adalah pemimpin dan orang tua bagi kami. Kami banyak belajar banyak hal dari Beliau, nek papa tidak banyak bicara, tapi cukuplah segala effort yang Beliau lakukan menjadi teladan dan pembelajaran bagi kami.
Ulik, itulah panggilan Nek Papa untuk ku begitu juga dengan namaku yang disave di WA Beliau.
Nek Papa, Kak Ulik baru belajar di beberapa bulan ini tentang beberapa bab di dalam Riyadush Shalihin, dan hal yang pertama kali kak ulik bayangkan adalah Nek Papa, karena Kak Ulik melihat banyak contoh yang Ustadz berikan tersebut ada di dalam kehidupan nyata dan Nek Papa mencontohkan hal itu dalam kesehariannya, tentang keutamaan memuliakan wanita, mendidik wanita, dan pentingnya peran seorang pemimpin dalam rumah tangga.
1. Nek Papa sangat memuliakan istrinya yaitu Nek Mama, sampai dengan awal Januari 2022 kemarin saat ulang tahun perkawinan, Nek Papa selalu berusaha memuliakan dan memberikan hadiah yang terbaik untuk Nek Mama. Beliau adalah sosok Suami yang sangat baik, sangat sabar, dan sangat sayang dengan istri. Seringkali saat kami berkumpul seringkali Nek Papa mengulang-ulang cerita tentang pertemuan Beliau dan pernikahan Beliau dengan Nek Mama, walaupun Nek Mama sudah banyak lupa hal detail. Kami pun tidak pernah bosan 😅. Tidak lupa nenek selalu memanggil Nek Mama dengan panggilan Adinda di setiap ceritanya. Meanwhile, in the other side, Nek Mama pun selalu mengclaim bahwa dirinya adalah yang tercantik no.3 di desanya, namun saat ini naik peringkat 2 dikarenakan ada yang sudah almarhumah 😅, kami sebagai netijen pun mau tidak mau dipaksa harus menyetujui self claim ini.
2. Nek Papa mendidik Anak Pria untuk menjadi Pemimpin, dan Anak Wanita untuk berkhidmat dan menjalankan perannya sebagai seorang wanita. Semenjak Papa gak ada, sosok pemimpin yang sering berinteraksi dengan kami adalah Nek Papa, kami melihat dan sering mendengarkan cerita Nek Papa tentang kisah perjuangan Beliau dari zaman muda. Metode mendidik klasik yang Beliau terapkan pun alhamdulilah membawa banyak kebaikan di dalam diri anak-anak Beliau.
Rabu 6 Juli 2022
6 Dzulhijjah 1443H
His Time Has Come
Setelah di hari sebelumnya Selasa Malam 5 Juli 2022, kami berpamitan setelah menemani nek papa. Kondisi Beliau stabil, masih sangat lemah tapi masih bisa masuk infus dan minum susu. Kami menginap di hotel dekat dengan RS, untuk berjaga-jaga jika ada kondisi urgent bisa dengan segera ke RS.
Pukul 02.00 mama menelfon, dan memberi tahu bahwa nek papa sudah berpulang ke Rahmatullah :'(. Sungguh rasanya ingin melihat saat beliau pergi untuk terakhir kalinya, tapi Allah takdirkan tidak semua dari kami bisa menemaninya di malam hari itu.
Sungguh rasa kesedihan kehilangan nenek papa tidak sebanding dengan kebaikan yang lebih banyak yang insyaAllah telah nek papa dapatkan. Nek Papa berpulang di hari-hari terbaik di Bulan Dzulhijjah, hari-hari terbaik 😭, sungguh tidak ada yang kebetulan jika Allah sudah berkehendak, pasti ada banyak kebaikan di dalamnya, dan semuanya datang dari segala pola dan amal kebaikan yang telah nek papa lakukan selama bertahun-tahun.
Di balik berurainya air mata sesungguhnya banyak sekali nikmat yang Allah berikan saat nenek papa wafat:
Alhamdulilah nenek papa wafat dalam usia 85 akhir hampir masuk usia 86. Sudah banyak bonus usia yang Allah berikan kepada Nek Papa, Beliau sudah menjalankan kewajiban umroh dan haji. Nek Papa juga punya seorang anak yang dulu wafat di saat masih bayi yang InsyaAllah bisa menjadi salah satu jalan pembuka surga bagi Nek Papa.
Alhamdulilah walaupun almarhum papa meninggal di usia muda, kami masih Allah berikan kesempatan untuk belajar dengan seorang Kakek yang sangat baik yaitu Nek Papa.
Alhamdulilah nenek wafat dalam kondisi yang baik, entah amalan apa yang Nenek Papa lakukan sehingga Allah berikan taufik, kemudahan dan kelancaran untuk tetap terus berdzikir dan solat walaupun sulit. Di hari-hari akhir sebelum Beliau wafat yang beliau sampaikan adalah doa dan sambutan di mesjid, dan tidak berhenti menyuruh kami untuk terus berdzikir seolah-olah sedang berada di dalam Mesjid. Nenek bukanlah seorang pengurus di mesjid, beliau hanyalah seorang jamaah mesjid biasa yang sangat merindukan ingin ke mesjid, selama 2 tahun terakhir beliau tidak bisa ke mesjid karena memang kondisinya yang mulai sulit berjalan jauh, dan diperlakukan nya prokes khususnya untuk lansia yang tidak disarankan untuk solat di mesjid. Sering sekali Beliau menanyakan tentang kondisi mesjid di dekat rumah. Mungkin niat, tekad, semangat, atau ketulusan nenek dalam mendidik anak-anak yatim yang merupakan cucu-cucunya sendiri, atau amalan hati dan amalan-amalan rahasia tersembunyi lainnya yang kami tidak tahu dari nenek yang membuat Allah mudahin nenek papa untuk berdzikir dengan sangat lantang di akhir hayatnya :'(. Karena sejatinya walaupun 1.000 orang mentalqin nenek, jika hati dan lisan nek papa tidak Allah mudahkan untuk berdzikir maka nenek tidak akan dapat berdzikir dengan penuh semangat seperti yang nenek lakukan di akhir hayat nenek.
Usia nenek boleh tua dan sepuh, tapi jiwa dan semangat beliau adalah semangat anak muda. Membaca Alquran berlembar-lembar tidak membuat beliau mengantuk (tidak seperti halnya aku, yang baru seayat sudah seperti digigit lalat tse-tse, kadang malu sama nenek yang sudah tua tapi masih semangat ngaji). Tidak hanya itu Nek Papa adalah penuntut ilmu sejati, semua buku yang aku berikan kepadanya sudah dibaca, uwak dan tante pun suka membelikan buku, dulu sebelum pandemik, nek papa sangat senang mampir ke toko buku, dan beliau juga rajin membaca koran dan perlu diperhatikan yang dibaca bukan hanya hikmah dan komiknya seperti yang sering aku lakukan, tapi beliau membaca dengan detail, itu kenapa di usianya yang sudah setua itu, Nek Papa masih ingat dan tahu akan segala hal yang terjadi di luar, walaupun tidak pernah kemana-mana. Sampai saat ini di teras rumah nenek pun masih ada majalah Intisari, Reader’s Digest, bacaan favorit nya beserta dengan 1 buah kamus, yang biasa beliau gunakan jika ada istilah yang tidak diketahui di usianya yang sudah sepuh semangat belajar itu tidak pernah lekang. Sungguh beliau adalah pembelajar sejati.
Sungguh Allah Maha Baik, Allah berikan keselamatan bagi kami sekeluarga saat ada evakuasi kebakaran,Allah wafatkan Nek Papa saat kondisi Nek Papa baik, dan Allah memberikan kesempatan kami untuk dapat mengambil banyak pelajaran bahkan di hari-hari akhir kami menemani nek papa dan mengantarkan nya ke peristirahatan terakhirnya di dunya.
Nek papa, you know that life will never be the same without you. But it was an honor to be one of your grand daughter, your story is the greatest legacy that will always remain forever in our heart :'(.
Perjuangan nenek di dunya sudah selesai, tapi kami belum nek, semoga Allah mudahkan kami semua agar dapat menyelesaikan perjuangan kami di dunya dengan baik dan indah. Dan semoga Allah mudahkan semua perjuangan yang kami lakukan, dan jadikan setiap bagian perjuangan yang kami lakukan menjadi amal kebaikan yang bernilai amal jariyah juga untuk nenek papa.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْلَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ
Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu.
Artinya : “Ya Allah, ampunilah dia (mayit laki-laki tunggal itu), belas kasihanilah, hapuskanlah dan ampunilah dosa-dosanya.”

























































































































































































