An-Nur:26

“Perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula).”

Jangan salah paham. Tulisan ini bukan semacam siraman rohani. Aku tidak ahli soal itu. Namun, petikan terjemahan Surah An-Nur ayat 26 di atas memang sempat menetap di tepi memori.

Karena itulah, ketika dua sahabat tengah berkunjung ke ruang kerjaku di sudut lantai dua sebuah menara di Kelapa Gading, aku mengutip wahyu Ilahi itu. Entah bagaimana awal percakapan kami, tetapi obrolan berujung pada pembahasan soal jodoh. Kata orang, jodoh itu urusan Langit. Dan Dia-lah sebaik-baik perancang takdir.

Saat itu, aku belum tahu bahwa dua sahabat yang bertamu ke ‘ruang pojok’ itu sudah menjalin komitmen hidup. Kalau dipikir-pikir, unik juga ketika tiba-tiba wejangan soal jodoh aku lontarkan kepada mereka. Sungguh, aku jauh dari kata ‘tepat’ kalau diminta memberi nasihat perkara jodoh.

Namun, barangkali itulah sinyal semesta. Sayangnya, aku tidak pandai membaca peta. Diam-diam, dua sahabatku itu saling suka dan telah mengungkapkan perasaan masing-masing.

Hingga suatu pagi di awal 2026, salah satu dari mereka mengajakku ke kafetaria kantor untuk menyesap segelas kopi. Wajahnya mendadak lebih serius dari biasanya.

“Sebenarnya kami sudah jadian sejak tahun lalu.”

Aku spontan kaget. Meski begitu, mestinya aku tidak terlalu terkejut mendengarnya karena sinyal-sinyal dari keduanya sebenarnya sudah sangat kentara. Kios bermain anak-anak di rumahku saja pernah mereka sambangi berdua. Nih fotonya, diambil Juli 2025.

Di luar itu, yang jelas, aku ikut senang mendengarnya. Yang satu orang Jogja asli dan terlampau kultus dengan statusnya sebagai warga Tanah Mataram, sedangkan yang satunya lagi pernah berandai-andai untuk bisa menjadi warga Jogja. Sangat cocok, bukan?

Sejak pengakuan yang disaksikan segelas kopi pahit buatan barista kantor, aku diamanahi sebuah rahasia. Dunia belum berhak tahu soal kabar baik itu. Sampai akhirnya, bulan demi bulan berlalu dan komitmen mereka naik tingkat, menuju akad.

Di persimpangan jalan, sayangnya, aku memilih rute yang berbeda. Aku memutuskan keluar dari tempat kerja yang mempertemukanku dengan dua adik-adikku ini. Meski begitu, aku bahagia pernah menjadi bagian dari perjalanan kisah mereka.

Aku percaya, mereka berdua adalah perwujudan kalam Ilahi yang ayatnya aku kutip di atas. Tomi, laki-laki ‘kalem’, dan Syade, perempuan ‘ceria’. Keduanya saling melengkapi lewat kebaikan hati dan pikiran masing-masing.

Kini, lembaran baru sudah dibuka. Kertasnya masih kosong melompong. Aku berharap Syade dan Tomi bisa mengisi bab demi bab dengan cerita-cerita yang menyenangkan. Sampai tua nanti.

Sebab, pada akhirnya, pernikahan bukan semata-mata soal menemukan orang yang tepat, melainkan komitmen terus belajar untuk jadi orang yang tepat bagi satu sama lain.

Semoga, ketika kelak rambut mulai memutih dan langkah tak lagi setegap hari ini, kalian masih menjadi dua orang yang saling menggenggam, saling menguatkan, dan selalu menemukan alasan untuk pulang.

Kenapa di Stasiun Kita Berjalan Lebih Cepat?

Aku terlambat sekian detik. Delapan gerbong Commuter Line tujuan Bogor telanjur melaju beriringan ketika kaki kananku menapaki lantai peron. Napasku keluar setengah-setengah setelah lututku dipaksa melahap dua anak tangga sekaligus dalam sekali langkah.

Sambil menata kembali degup jantung, aku memilih menepi ke salah satu bangku kosong. Ada ibu-ibu paruh baya berjilbab merah hati duduk di sampingku, dengan keresek bergaris hitam-putih di dekat kakinya. Ukurannya cukup besar. Mungkin isinya barang belanjaan.

Kulihat di papan informasi, kereta selanjutnya tiba lima menit lagi. Mestinya tidak masalah bagiku untuk menaiki kloter berikutnya. Tapi kenapa ya, setiap mengunjungi stasiun aku selalu terbawa suasana yang serba terburu-buru? Terbawa laju manusia-manusia lain yang mengejar absensi kantor atau janji temu dengan klien.

Sementara aku? Aku tidak punya agenda penting lain. Sangat mungkin bagiku untuk berjalan santai, toh tidak dikejar waktu.

Lantas, apa yang membuat kakiku otomatis melangkah cepat, meniru orang-orang lain yang juga berjalan dengan pace kilat?

Aku tidak secara sadar memerintahkan kaki untuk berjalan terburu-buru. Kakiku sendiri yang spontan tunduk pada rezim “jalan cepat” yang bisa dengan mudah ditemukan di stasiun-stasiun KRL pada pagi hari.

Behavioral Contagion

Fenomena di atas ternyata pernah dijelaskan secara sistematis oleh psikolog asal Amerika Serikat, Ladd Wheeler. Lewat jurnalnya yang berjudul Toward a Theory of Behavioral Contagion (1966), Wheeler menggunakan istilah behavioral contagion untuk menggambarkan proses ketika seseorang secara spontan dan tanpa banyak pertimbangan meniru perilaku orang lain hanya karena berada dalam lingkungan yang sama.

Wheeler membedakan behavioral contagion dari sekadar imitasi atau konformitas. Dalam hal ini, seseorang tidak bermaksud meniru tindakan orang lain. Namun, secara spontan otaknya berpikir begini: “Orang-orang kok jalan cepat? Ya sudah, aku juga.”

Fenomena di Dunia Kerja

Fenomena di atas ternyata bisa terjadi dalam lingkup yang lebih luas dan kompleks. Bahkan, ada yang beranggapan behavioral contagion paling mudah terjadi di lingkungan kerja. Di dunia kerja, kita mungkin pernah merasa “terbawa” oleh suasana kerja yang dibangun rekan-rekan di sekitar.

Efeknya bisa “baik” atau “buruk”. Sesuai dengan definisinya, yang menular bisa saja budaya yang baik, atau justru sebaliknya. Namun, apakah demikian adanya?

Misalnya begini. Kita terbiasa berangkat kerja dengan santai. Begitu tiba di kantor, kita memilih menaruh tas, lalu berjalan ke pantry untuk menyeduh segelas kopi hitam. Setelahnya, kita masih bersantai dengan membuka media sosial dan scroll isu-isu menarik hari itu.

Namun, kebiasaan itu berubah ketika pimpinan mulai datang lebih pagi. Tanpa mengucapkan perintah lisan, dia memberikan contoh perilaku “rajin”: datang ke kantor, lalu langsung duduk dan membuka laptop. Semua pegawai melihatnya dan mulai muncul rasa segan. Perlahan, budaya itu mewabah. Orang-orang mulai datang lebih pagi tanpa disuruh dan tak lagi berlama-lama menyeduh kopi.

Fenomena yang sama bisa terjadi pada budaya lembur. Coba bayangkan sebuah kantor yang sebenarnya tidak memiliki kewajiban lembur. Namun, pimpinan memilih pulang lebih malam. Posisi middle management akhirnya ikut-ikutan. Mau pulang duluan, takut kena omel.

Budaya lembur—yang semestinya tidak wajib—akhirnya merembet ke seluruh struktur organisasi. Orang-orang masih berada di kantor setelah jam kerja, entah karena memang masih ada pekerjaan ataupun sekadar “menunggu bos pulang”.

Yang menarik, kejadian di atas bukan disebabkan oleh aturan resmi, melainkan perilaku pimpinan. Apakah ini sama dengan behavioral contagion?

Menurutku, berbeda.

Behavioral contagion tumbuh secara spontan karena otak manusia menyesuaikan diri dengan lingkungan yang dominan. Sementara budaya lembur pada contoh di atas lebih banyak tumbuh karena rasa takut terhadap pimpinan. Dengan kata lain, seseorang lembur bukan karena perilaku itu secara alami “menular”, melainkan karena ada tekanan sosial yang ia rasakan.

Merujuk tulisan Wheeler, behavioral contagion perlu didasari oleh kecenderungan alamiah manusia untuk mengikuti perilaku yang dominan di sekitarnya, bukan karena paksaan atau rasa takut.

Kalau menurut kamu bagaimana?

Riana

Langkahku terhenti di depan Gereja St Matthews saat pikiranku tiba-tiba saja kau curi. Suhu udara lima derajat di atas titik beku tampaknya tak cukup dingin untuk membuatku bergegas menuju satu-satunya tempat berpenghangat yang kumiliki: apartemen studio yang kusewa dengan uang hasil bekerja sebagai penulis lepas di penerbit lokal.

Memang, pengujung musim dingin selalu dengan mudah menyentil sudut pikiranku yang telah lama kau huni, Riana. Suara ranting kering yang terdesak angin malam masih lekat di indera pendengaran, mengiringi bisikanmu saat itu di telinga kananku. “Aku tak bisa melanjutkan ini. Jika kau masih kukuh dengan keyakinanmu, biarlah aku juga.”

Kau pernah melempar mimpi untuk bersanding denganku, berjalan menuju altar itu. Tapi Riana, aku juga pernah menebar harapan untuk bisa mengikatmu dengan akad suciku.

Hubungan ini sejak awal memang terlalu ringkih, Riana. Terlalu banyak kebisingan di sekitarmu, dan aku, yang merunyamkan niat baik kita.

Malam itu, akhirnya kau lah yang lebih bernyali untuk mengakhiri. Beda denganku yang terlalu berkecamuk dengan rasa takut kehilanganmu. Namun aku hargai keberaniamu, Riana. Keberanian untuk tidak mendustai takdir langit.

Pahit memang, saat melihat sudut matamu berdenyut menahan linangan air mata, mencoba tegar. Namun justru kaulah yang saat itu meyakinku bahwa ini jalan terbaik.

Itu dua tahun lalu. Saat pengujung musim dingin di Auckland tidak terlalu menusuk kulit seperti saat ini. Butuh waktu cukup lama bagiku untuk menetralkan pedihnya perpisahan.

Sore tadi, notifikasi media sosial berdenting di ponsel. Berasal dari akunmu. Kau mengunggah sebuah pesan pendek sederhana, berisi deret angka tanggal dan sebait alamat. “Mohon doa restu.” Katamu singkat.

Otakku memproses kata demi kata yang termuat di layar. Aku membayangkan dirimu sendiri yang mengatakannya di depanku, dengan katup bibirmu menahan angin dingin dari pelabuhan.

Akhirnya kau menemukan sosok itu, Riana. Kau memang berjanji untuk segera membuka lembaran baru. Namun tak kusangka akan secepat ini.

Pada akhirnya, aku harus ikut bahagia. Meski ada sejumput rasa tak rela.

*cerpen ini ditulis di Auckland, New Zealand, Agustus 2018

Bakmi Jawa Bersama Bapak

Bara api tepercik liar saat arang di dalam tungku dikipas kencang. Di atasnya, wajan besi bekerja keras memanasi seporsi bakmi jawa yang dipesan Bapak.

Bapak, yang usianya sudah menyentuh 71 tahun, duduk berjejer denganku. Kami berdua sengaja memilih meja yang menghadap pertunjukan utama malam itu: atraksi Bu Paino yang mengaduk mie kuning di kubangan kuah kaldu mendidih. Oh, tidak lupa sebutir telur bebek yang dicemplungkan agak belakangan.

Kami banyak terdiam. Suara lentingan bara api lebih sering mengisi ruang sunyi yang terbentang di antara aku dan bapak, meski badan kami hanya berjarak dua jengkal. Bukan, bukan karena kikuk. Obrolan-obrolan ringan sebenarnya sudah kami bangun sepanjang perjalanan dari rumah ke warung bakmi jawa yang jaraknya 500 meter. Kami memang lebih memilih berdiam menikmati ketrampilan ‘Chef Paino’ yang sedang berakobrat dengan sotil-nya.

Tadi bapak mengajakku jalan kaki. Hitung-hitung olahraga, katanya. Dia memang jadi lebih sering mengejek perutku yang mulai gembul. “Ojo lemu-lemu,” titahnya singkat, padat, dan sedikit menyakitkan. Jadilah bapak dan anak lanangnya berjalan kaki menuju warung bakmi jawa langganan.

“Kowe kelingan ora mbiyen kerep melu aku golek gudeg bengi-bengi?”

Bapak mengulas lagi kebiasaan-kebiasaan lama kami. Dulu, ketika aku masih duduk di bangku SMP dan SMA, bapak cukup sering mengajak safari kuliner malam di Jogja. Mulai dari gudeg, bakmi jawa, sate, hingga soto. Favorit bapak adalah Gudeg Permata yang buka lapak di halaman Bioskop Permata, tak jauh dari Puro Pakualaman.

Pernah juga kami berdua sekadar motoran ke daerah pedesaan, tanpa ada tujuan yang pasti. Kebiasaan keliling tanpa arah ini sepertinya menurun ke anaknya.

Bapak selalu paham topik perbincangan yang membuatku membuka diri untuk berbincang. Selain bernostalgia soal kebiasaan lama, bapak juga bertanya tentang gambaran perjalanan ke depan. Kebetulan, kompas hidupku baru saja dikalibrasi. Aku perlu menyetel ulang seluruh itinerary.

Tentang keputusanku untuk resign dari tempat kerjaku yang kemarin, bapak menopangkan telapak tangannya di punggungku. Full support, kata anak sekarang. Bapak tahu latar belakang pilihanku. Pesannya cuma satu: apapun kegiatan yang aku geluti harus ditekuni dengan serius.

“Di sini nasi gorengnya juga enak. Tapi sekarang aku lagi pengen bakmi godog,” kata-kata Bapak soal preferensi menu memecah keheningan. Kami hanya memesan satu porsi bakmi godog. Sebenarnya kami sudah menyantap makan malam. Hanya saja, jelang tengah malam adalah jam-jam rawan memunculkan rasa lapar yang semu. Jadilah sepiring bakmi buat berdua.

Ketika Bu Paino menghidangkan mahakaryanya, bapak tidak lupa memintakan ekstra piring dan sendok buatku. Kami bagi sepiring bakmi godog itu sama rata, meski potongan telur bebeknya lebih banyak tertumpah ke piringku.

Rasanya memang tidak berubah. Kuah panas, kaldu gurih, dan legit mie kuning teramu sempurna di tangan Bu Paino. “Ikut Master Chef, Buk!” pikiran intrusifku berjalan.

Bapak dan aku melumat bakmi godog dalam diam. Ibadah makan tengah malam ini tampaknya menjadi obat rindu atas rumpangnya rasa tenang di pikiranku. Selama ini, entah karena apa, aku merasa ada bagian dari diri yang berongga. Padatan di hatiku terasa seperti menyublim, menyisakan secuil gumpil yang kosong.

Kini rongga itu mulai terisi. Kepulanganku ke Jogja, dengan ritme hidup yang lebih lambat, membuat aku mengenali diri kembali.

Bakmi godog yang aku santap kali ini terasa lebih sedap. Bukan karena bawang putih yang dipakai Bu Paino lebih banyak. Tapi karena bapak memilih tetap di sampingku ketika anak lanangnya ini goyah.

Di perjalanan pulang ke rumah, dengan bapak berjalan di samping kananku, aku menitipkan sedikit harapan kepada Tuhan. Sehatkan dan damaikan hidup bapak hingga ujung usianya.

Bulan tak lagi bulat sempurna. Purnamanya sudah lewat seminggu. Tipisnya cahaya langit membuat jalanan menuju rumah sedikit remang karena lampu yang dipasang warga tak berdaya tinggi. Namun, langkahku terasa ringan tanpa ragu. Ada bapak di sampingku.

Harga yang Harus Dibayar

Seekor kucing berbulu abu merebah tepat di samping kaki kiriku, ketika kopi susu yang kusesap tersisa sepertiga gelas. Ekornya mengayun manja, seirama dengan langkah kuli panggul yang keluar masuk Pasar Wage.

Pagi ini burung gereja tak terlalu gaduh. Awan juga memilih menyingkir untuk membiarkan manusia-manusia tersengat teriknya surya. Tak terkecuali aku, yang akhirnya meneduh sebentar setelah bersepeda berkeliling kota.

Duduk di teras kedai sambil menyaksikan pedagang yang wara-wiri, juga mengagumi Kelenteng Hok Tek Bio yang mulai membuka gerbangnya, merupakan kemewahan baru bagiku. Tidak ada lagi kekhawatiran-kekhawatiran yang kerap menggantung di ujung dahi.

Pada jam yang sama, dua pekan lalu, aku pasti sedang terduduk di jok belakang ojek daring, sembari merapal doa-doa supaya hari itu dimudahkan. Bayangan-bayangan buruk yang muncul sejak terbangun, sialnya tidak mudah lepas dari pikiran.

Apakah aku yang lemah? Atau semesta yang terlalu banyak menuntut?

Di tengah lamunan, ditemani kucing abu-abu yang kini sudah berganti pose duduk, dering notifikasi ponsel berbunyi. Ada pesan masuk dari rekan kerja yang sudah kuanggap adik sendiri, menanyakan kabar. Kuceritakan soal rutinitas pagi yang berjalan lebih lambat, juga soal rencana-rencana ke depan.

“Akhirnya bisa duduk di kafe pagi-pagi dengan tenang,” katanya.

Aku tersenyum membacanya. Benar juga. Akhirnya aku bisa bernapas lebih lega sambil membaca buku yang baru saja diberikan oleh sahabat.

Namun, aku tidak boleh lupa: demi menebus secuil ketenangan ini, ada harga yang harus kubayar. Oh bukan, bukan aku saja. Kita semua membayar semua pilihan hidup kita dengan pengorbanan-pengorbanan yang bisa jadi tidak kita sadari.

Seperti aku yang memilih melepas kemapanan demi meredam sesaknya pikiran, orang lain pun melakukan hal yang sama. Ada yang sampai lupa nikmatnya tidur nyenyak demi mengejar target-target pekerjaan. Ada yang sampai lupa seperti apa damainya akhir pekan karena terbiasa dikejar deadline. Pengorbanan-pengorbanan itu dilandasi ambisi dan tujuan yang cuma dimengerti kepala pemiliknya. Jelas tidak ada yang salah.

Jadi, apapun harga yang kini sedang Kamu bayar, semoga sepadan. Aku dengan pilihanku sekarang, Kamu dengan pilihanmu sekarang. Semoga Tuhan memberkati setiap langkah kita.

===

Teguk terakhir kopi susu menandakan aku harus segera beranjak lagi. Matahari berdiri meninggi. Aku memutuskan melanjutkan bersepeda meninggalkan Pasar Wage yang kian ramai. Tidak terasa, kedai kopi yang berukuran 4 kali 5 meter ini sudah diisi lima orang lainnya. Tadinya aku cuma sendiri.

Kukayuh sepeda lipat ke arah timur, menjauhi kelenteng yang makin siang, warna merahnya makin menyala. Namun, baru juga 30 meter bergerak, ada yang menarik mataku di sebelah kiri jalan. Sebuah bangunan tua berdinding kayu jati dengan pintu terbuka. Di dalamnya, rak-rak buku berjajar, dengan koleksi bacaan beragam: dari komik hingga novel misteri. Semuanya disewakan.

Ah mampir dulu. Dasar aku, terlalu mudah terdistraksi keadaan. Nggak apa-apa deh, ga ada kerjaan ini.

Kursi Penumpang

Sukses terus buat sahabat yang sedang duduk di kursi penumpang, sekian ribu feet di atas lautan Hindia sana. Sampai jumpa lagi sahabat, tentu dengan cerita-cerita seru kita nanti.. 😀 😀 😀

Reananda Hidayat's avatarMy Unspoken Thoughts

Kursi penumpang dapat memberikan definisi yang berbeda. Kereta, bis, pesawat, apapun. Duduk di atasnya dapat membangkitkan ingatan tentang rumah. Padanya orang-orang menitipkan janji, bisa jadi air mata. Dirinya menyimpan kenangan. Dari mereka yang pulang untuk bertemu keluarga, atau, dan tentu saja, mereka yang pergi merantau merangkai mimpi. Setiap penumpang menitipkan kisahnya masing-masing. Baiklah, mungkin tidak semua, setidaknya saya.

Lima tahun lalu, saya pergi merantau ke Bandung. Tiga bulan lalu, saya pulang ke rumah sebagai seorang sarjana. Tanyakan pada dua kursi, entah di gerbong mana, di kereta Harina. Dua kursi itu pasti masih menyimpan kisah milik saya. Kursi pertama membawa mimpi, kursi kedua berisikan jawaban. Keduanya menyimpan nada bahagia, dan bisa jadi air mata di dalamnya.

Lalu saya membayangkan seorang kawan, yang akan bertemu dengan kursi penumpang miliknya beberapa jam ke depan. Dia akan terbang bersamanya, sekian ratus menit, melintasi zona waktu. Saya tidak tahu yang mana kursi penumpangnya, namun…

View original post 304 more words

Review Buku: “W.S Rendra – doa untuk anak cucu”

Bandung sore ini sukses basah kuyup lagi. Setelah berhari-hari udara panas melanda, sore ini sangat asyik kalau kita meringkuk di atas kasur, tarik selimut sebatas leher, katupkan kelopak mata. Tapi tidak. Sore ini terlalu sayang dilewatkan hanya dengan tidur atau sekedar bermalasan di depan tivi. Mari ngeblog lagi!

Siang tadi, kala mentari masih gagah berani menyilaukan umat manusia, saya bermotor menuju Togamas Bandung untuk berburu satu buku. Bukan buku biasa. Bukan novel atau ulasan sejarah. Kali ini saya membeli buku kumpulan puisi. Kalau boleh jujur, bukan karna saya sedang sindrom-tiba-tiba-penikmat-puisi. Bukan. Tapi lebih karena pengarangnya. W.S Rendra! Penyair favorit saya sejak zaman saya berseragam putih biru, hingga sekarang.

Awalnya saya menyukai W.S Rendra karena satu hal yang sepele: tanggal lahirnya sama! 7 November. Saya tahu fakta ini dari “Buku Pintar Dunia” yang saya beli sewaktu kelas dua SMP. Semenjak itu. Saya tiba-tiba entah kenapa, jadi suka baca puisinya. Entahlah apa sebabnya. Mungkin ada semacam hubungan-kecocokan-antar-manusia-7november? Khayal!

Sampai sore ini, ketika buku berjudul “doa untuk anak cucu” tergelatak di meja belajar saya, menemani sore mendung ini, saya masih terkagum-kagum akan otaknya yang pandai menghasilkan syair yang tajam, bahkan terkadang syahdu.

doa untuk anak cucu, W.S Rendra

Rendra yang terlahir 78 tahun silam, hidupnya seolah hanya untuk sastra. Sejak remaja, buku kumpulan puisinya sudah terbit: “Balada orang-orang tercinta, tahun 1957”. Kemampuan mendeklamasikan puisi? Jangan tanya. Rendra muda berhasil menjuarai lomba baca puisi tingkat nasional mewakili UGM. Hingga bukunya yang terakhir, “Perjalanan Bu Aminah, 1997”, Rendra berhasil menelurkan ratusan karya, menggoncang berbagai panggung, dan menggetarkan batin ribuan orang yang menyaksikan, atau membaca puisi-puisinya.

Buku “doa untuk anak cucu” ini mungkin terbit bukan atas perintah Rendra sendiri.  Buku ini terbit karena begitu banyak puisinya yang belum terbukukan dan terlalu sayang kalau menjadi sekedar “artefak zaman”. Atas izin istri Rendra, Ken Zuraida, buku ini berhasil disusun dan menyajikan puisi-puisi Rendra yang selama ini sama sekali belum pernah terbit. Sekali lagi kita akan diantarkan kepada sebuah zaman di mana puisi bisa mengalir begitu lugas. Kita akan membaca sebuah pemikiran yang dibaut dalam kata-kata penyair alami. Lahir dengan bakat ini. Puisi-puisi Rendra bisa sangat lugas, atau terseok syahdu.

Semua manusia sama tidak tahu dan sama rindu

Agama adalah kemah para pengembara

Menggema beragam doa dan puja

Arti yang sama dalam bahasa-bahasa berbeda

Indah bukan?

Itu baru secuplik dari puisi-puisi Rendra dalam buku ini. Meninggal tahun 2009 lalu, Rendra meninggalkan karya-karyanya yang akan selalu pantas untuk diselami.

Buku ini bukanlah novel yang bisa kita resensikan menarik tidak jalan ceritanya. Bukan cerpen yang bisa dinilai seru tidak konfliknya. Saya sadar penikmat puisi macam ini mungkin sangat terbatas.

Saya hanya sekedar berbagi bahwa di tengah banjir novel remaja yang berkisah cinta dan romansa, masih ada sastra “aliran” lain yang meniupkan sepoi angin kesejukan. Karena membaca puisi, kita tidak dituntut merampungkan beratus halaman plot konflik. Cukup beberapa bait yang, bisa kita segera ambil intisarinya. Kata-kata dalam puisi Rendra seakan berbicara! 🙂

Menengok Mereka, yang Melihat dengan Hati

Siang di minggu ketiga bulan April ini begitu terik. Entah ini perasaan saya saja atau bukan, yang pasti mudah sekali saya merasa haus. Matahari sebetulnya masih ramah saja. Dengan setia menyoroti tingkah polah manusia di bawahnya. Hanya memang, kali ini pasukan awan sedang berlibur entah ke mana. Mereka enggan memayungi manusia-manusia berpeluh, kepanasan, kehausan seperti saya. Motor astrea grand keluaran 1995 yang saya naiki menggerung keras. Bak suara motor balap yang lama tak diservis. Seolah semakin menyoraki saya yang gelisah mencari warung terdekat. Tujuan saya kala itu cuma satu, membeli sebotol teh manis dingin, merek apapun. Ya, nampaknya niat saya untuk segera menuju ke panti harus terhambat oleh rasa haus akut ini. Sekitar seratus meter di depan terlihat plang suatu convenience store. Motor balap gadungan ini pun saya gas pol. Bagai kuda yang melengus tersiksa, motor tua ini berhasil mengantar saya ke sebuah oase di tengah terik Bandung di minggu ketiga bulan April.

Usai menyelesaikan urusan dengan kerongkongan kering saya, perjalanan pun berlanjut. Matahari masih dengan “ramah”-nya menghangatkan kami semua. Dengan gagah, motor jagoan saya melaju di tengah pekik klakson mobil-mobil yang terjebak macet di Jalan Wastukencana. Inilah keuntungan naik motor langsing. Bisa was-wis-wus menyelinap di antara kemacetan yang menyebalkan. Saya pun melaju ke arah Jalan Pajajaran, tujuan saya sedari tadi.

Setelah sepuluh menit berjibaku dengan rentetan kepadatan lalu lintas Bandung, sampailah saya di depan Asrama Kenari. Tempat di mana dua tahun ini saya mengenal malaikat-malaikat kecil ini. Oh maaf, saya belum memperkenalkan mereka. Jadi mereka ini, yang saya maksud malaikat kecil ini, adalah adik-adik baru saya. Umurnya mungkin kisaran 8-13 tahun. Jadi rata-rata masih duduk di bangku SD. Sebagian besar dari mereka adalah penyandang tuna netra. Namun beberapa ada yang memiliki penglihatan rendah atau low vision. Jarak pandang mereka mungkin hanya beberapa centi meter saja.

Kunjungan ini adalah kali pertama setelah hampir dua bulan saya tidak ke sana. Alasannya? Tugas Akhir! Haha. Dua kata itu dengan sukses membuat saya agak “lupa” dengan dunia luar kampus. Namun kali ini, setelah semua kewajiban itu terlaksana, setelah ketok palu kelulusan sudah menderu, setelah mulai kangen lagi dengan mereka, saya berkunjung lagi ke sana.

Asrama Kenari merupakan satu dari banyak asrama di Komplek Panti Tunanetra Wyata Guna. Asrama-asrama di panti ini dibagi berdasarkan gender dan umur penghuninya. Jujur saya belum pernah menyambangi keseluruhan asrama. Hanya beberapa saja yang pernah saya kunjungi. Dan dari sekian asrama itu, saya paling dekat dan akrab dengan penghuni Asrama Kenari ini, yang dihuni oleh anak-anak. Entahlah, mungkin saya lebih senang saja melihat anak-anak ini tertawa-tawa girang ketika mendengar deru gas motor tua saya. Breeem, breeeeem! Dan mereka akan tertawa.

Kedatangan saya, seperti biasa disambut oleh Opik. Si anak cerdas yang berasal dari luar Bandung. Opik menyandang low vision, jadi dia masih dapat menyadari kedatangan saya. Opik dan Otong memberi salam, kemudian diikuti oleh anak-anak lain. Bari, atau Sobari, meloncat dari kasur dan memanggil nama saya. Ahh, senangnya merasakan kehangatan di sini.

Otong sedang membaca tulisan Braille

Otong sedang membaca tulisan Braille

Menit-menit berikutnya saya habiskan dengan mengobrol. Menanyakan kabar, sekolah, dan keluarga mereka di kampung halaman mereka. Atau ikut menemani Bari mengambil air panas di dapur umum. Kebetulan hari ini giliran Bari mendapat tugas piket untuk mengambil air panas, sebagai stok minum untuk asrama. Bari bercerita, dia pernah terkena air panas karena kurang berhati-hati dalam menuangkan air. Tentu saja, kita saja yang memiliki pengindraan lengkap terkadang mengalami kecelakaan kecil macam itu. Ah, kasihan saya melihatnya.

Sepanjang sore kami bermain tur panti dengan mengendarai motor tua saya. Opik duduk di depan, Bari dan Otong duduk di belakang saya. Kami berkeliling panti sembari sesekali tertawa oleh deru gas motor saya yang memang terdengar lucu. Jujur, di titik itu saya sempat terdiam sebentar. Merenungi ketulusan mereka. Opik, Bari, dan Otong, naik motor tua saya saja sudah senang bukan kepalang. Mungkin bagi mereka ini sudah semacam wahana roller coaster di Dufan. Padahal saya dulu semasa kanak-kanak sering merengek ingin ini itu. Merasa pantas untuk mendapat ini itu. Ahh, saya merasa beruntung bertemu dengan sosok-sosok kecil ini. Mereka mengajari saya untuk lebih bersyukur.

Langit semakin memerah. Semburat jingga muncul di Barat sana. Sayang anak-anak itu tidak bisa melihat warna apik itu dengan jelas. Bahkan mungkin bagi Otong, dia tak tahu bagaimana warna jingga sebenarnya. Saya memutuskan untuk berpamitan. Sudah waktunya mereka pulang ke asrama untuk mandi. Saya gas lagi motor saya, breeem, breeem. Mereka tertawa lagi. Motor saya melaju menjauhi Asrama Kenari, menuju gerbang depan panti.

Siang itu, mungkin salah satu siang terpanas yang pernah saya alami. Namun sore itu, sekaligus salah satu sore terhangat yang pernah saya alami. Di luar komplek panti, kehidupan berjalan dengan begitu cepat, riuh, dan gaduh. Namun di dalam panti, saya bisa menemukan semacam alat pereda kejenuhan, sekaligus pil peningkat rasa syukur. Melalui tulisan singkat ini, saya mencoba menyebarkan kabar bahwa di dalam panti sana, ada adik-adik yang tidak suka mendengar lagu-lagu Cowboy Junior, malah lebih suka mendengar saluran radio dangdut. Namun di balik keluguan mereka, di sela kekurangan mereka, mereka memiliki hati yang begitu bersih. Tanpa mereka sadari, mereka mampu membuat kita yang menemui mereka, merasa kecil. Membuat kita berpikir, keterlaluan sekali bila kita tidak mensyukuri apa yang kita dapat selama ini.

Pesan dari Mahameru

Balonku ada lima, rupa rupa warnanya. Hijau kuning kelabu, merah muda dan biru. Meletus balon hijau, DUARR! Hatiku sangat kacau. Balonku tinggal empat, kupegang erat-erat..

Di depanku, Rino masih berjoget-joget girang menyanyikan lagu “balonku”. Dia tak peduli dengan kerumunan orang yang menyesaki dapur ber-perapian itu.  Orang-orang mencari kehangatan di dalam ruangan sempit itu. Sudah dua jam ini Rino bermain denganku, permainan apapun. Dari main suit jepang, sampai main tebak-tebakan. Umur Rino memang masih 6 tahun, tapi menurutku dia tergolong cerdas. Apalagi untuk ukuran anak yang tumbuh dengan segala keterbatasan fasilitas pendidikan di Ranupani, sebuah desa di atas awan, di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Ketika kutanya apa cita-citanya kalau besar kelak, tanpa pikir panjang Rino menjawab, “Jadi Guru! Pengin bikin anak-anak jadi pinter!” Itulah Rino, anak yang baru kukenal 2 jam yang lalu, ketika kakiku mulai menginjak tanah subur ini. Tanah yang makmur oleh abu Mahameru.

2 Januari 2013. Baru siang tadi aku sampai di Kota Malang, setelah menempuh perjalanan semalam penuh dari Bandung, bersama seorang kawan sekosan, Romli. Lelahnya badan tak mampu menghapus semangat untuk segera menjejakkan kaki di kemegahan puncak tertinggi Jawa. Dari Tumpang (kota terakhir sebelum memasuki TNBTS), bersama sahabat menumpang sebuah truk yang memang menuju ke Ranupani. Dari sana, petualangan pun dimulai. Pemandangan menakjubkan menyertai perjalanan kami menuju Ranupani, gerbang pendakian Gunung Semeru. Aku duduk di depan, ngobrol ngalor ngidul dengan si Bapak. Sambil sesekali menoleh ke luar jendela, sengaja menantang angin dingin pegunungan kawasan Bromo. Bulu kudukku berdiri, kedinginan. Telinga seolah mendengar sang angin berkisah, sebuah pesan dari langit, “Jagalah alam ini, Nak…”

Ranupani sore itu begitu dingin. Membuat langkahku otomatis mengantarkanku ke dalam sebuah warung kecil di depan pos pendakian. Di warung inilah kemudian aku mengenal Rino, anak si Ibu penjual nasi rawon, salah satu rawon terenak yang pernah kumakan. Entahlah, mungkin hawa dingin mampu menyulap semua makanan menjadi nikmat. Aku terduduk di depan perapian, bersama para pendaki lain yang kedinginan. Bahkan sampai terdengar bunyi gemeletuk gigi seorang pendaki. Lebih dari dua jam aku berlindung di dalam hangatnya kepulan asap tungku kayu. Suasana makin hangat ketika disambi dengan obrolan ringan bersama pendaki lain, atau bermain tebak-tebakan dengan Rino. Rino tampak takjub ketika seorang pendaki memeragakan sulap “jempol patah”. Tapi kami juga berbalik takjub ketika Rino mahir bernyanyi sambil bergoyang ke sana ke mari. Ahh, suasana malam itu begitu hangat, oleh api yang menyembul dari tumpukan kayu, dan juga hangat oleh keceriaan yang dibagikan para pendaki. Tak terasa, malam makin larut. Aku harus sadar diri kalau besok pagi aku dan kawanku mulai mendaki. Segera aku berpamitan dengan yang lainnya. Malam itu, kami memupuk energi untuk perjalan esok hari. Perjalanan yang aku yakin akan menyita banyak memori dalam database petualanganku.

3 Januari 2013. Embun mulai terangkat dari permukaan danau Ranupani. Matahari terbit dari balik bukit sebelah timur, berlawanan arah dengan tempat kami menginap malam itu. Itu baru kecantikan mula yang diberikan oleh Semeru. Baru mula. Perjalanan kami masih jauh, dan kecantikan Semeru akan kami lihat lebih banyak lagi. Pasti.

Pukul tujuh tepat, setelah mengisi perut dengan nasi rawon, lagi, kami mulai pendakian. Kami berjalan ke arah barat, disapa oleh lahan-lahan pertanian milik penduduk Ranupani. Bukit-bukit hijau cantik menyemangati kami dari kejauhan. Lebih jauh lagi, mengintip di balik bukit-bukit cantik itu, kemegahan Mahameru berseru kepada kami agar bergegas, melangkahkan kaki.

Sekitar pukul sebelas siang, langkah kami tak sia-sia. Ada “kubangan air” maha indah di depan kami. Ranukumbolo. Sebuah ceruk air raksasa, yang setia menyapa para tamu Mahameru. Di tempat inilah kemudian kami bertemu sahabat-sahabat baru. Enam orang dari Makassar, dua orang dari Bandung, dan seorang Bekasi. Kelak kami menjadi sahabat seperjalanan dan melanjutkan perjalanan bersama-sama. Malam itu kami menginap di Ranukumbolo. Bintang tampak malu-malu. Awan seperti terbang rendah, membuat langit gelap gulita. Hanya siluet bulan saja yang sedikit tersirat. Angin dingin memaksa kami untuk segera memejamkan mata. Menghimpun lagi energi untuk perjalanan esok hari.

Ranukumbolo 2

Ranukumbolo

4 Januari 2013. Bersebelas kami meninggalkan eloknya Ranukumbolo. Tujuan kami selanjutnya adalah Kalimati. Kami akan berkemah di sana malam ini. Perjalanan ke Kalimati kami tempuh dalam waktu 1,5 jam. Lebih cepat dari perhitungan kami. Segera kami dirikan tenda masing-masing. Dini hari nanti, kami akan lakukan summit attack. Pendakian Mahameru yang sesungguhnya. Perjalanan kami dua hari ini konon hanyalah pengantar tidur saja. Belum ada apa-apanya.

5 Januari 2013 – pukul 01.10. Jaket tebal sudah aku pakai. Potongan koyo kecil sudah tertempel konyol di hidungku. Cukup ampuh untuk mengusir hawa dingin yang sedari tadi mengusik. Kalimati tampak makin mati kalau gelap begini. Angin terasa berhembus dari segala penjuru. Setelah berdoa sejenak, kami mulai perjalanan kami yang sesungguhnya.

Benar saja, perjalanan kali itu sungguh terasa sangat menantang. Aku ingin bilang kalau perjalanannya berat, tapi kupikir kata menantang lebih tepat. Kalimati – Arcopodo berupa jalan terjal yang sesekali mengharuskan kita memaksa lutut untuk bekerja ekstra. Vegetasi masih cukup rapat, namun kita seolah mulai “meninggalkan dataran”. Sesekali aku menoleh ke kanan ke arah lampu-lampu kota yang berpendar indah. Seolah bersorak riuh kepada kami.

Udara mulai terasa lebih dingin dibanding tadi. Beberapa landaian kami gunakan untuk beristirahat. Sembari membasahi tenggorokan, obrolan-obrolan ringan kami lakukan. Ini cara ampuh untuk mengurangi beban di betis dan lutut.

Satu jam kami tempuh dari Kalimati sampai Arcopodo. Selepas itu, semuanya mendadak makin menantang. Jalanan mulai “tidak ramah”, menanjak. Langkah kami mulai terseok oleh pasir. Setelah melewati cemoro tunggal, inilah yang banyak orang sebut dengan, “pendakian yang sesungguhnya”. Jalurnya bukan sekedar landai, tapi lumayan curam. Pasir pula. Otak mulai memerintahkan jantung untuk mengatur ritme, memompa darah lebih cepat. Pikiran sesekali menyapa kaki agar teratur melangkah. Ya, kelamaan istirahat, kedinginan yang didapat.

Pasir, pasir, dan pasir. Kalau sudah begitu, mental mulai tergoda. “Kapan ini nyampenya?”. Langkah kaki mulai tak konsisten lagi. Kepala sudah mulai malas menengok ke atas. Terkadang aku lebih memilih menengok ke samping, menikmati kerlip kota di bawah sana. Malam itu cerah. Bulan tampak tepat di atas kepala. Entah jam berapa sekarang, aku malas melihat jam. Biarlah tiba-tiba aku sampai di puncak. Haha.

Semburat oranye mulai terlihat dari arah kiri. Pertanda matahari hampir saja terbit. Aku mulai tergoda untuk melihat jam. Pukul 5 pagi. Argghh, aku mulai menggantungkan niat untuk melihat sunrise. Haha. Tapi semangat malah makin menyala. Kaki tetap harus melangkah.

Dan benar saja, temanku Romli sontak berteriak, “Mbah, datar!” Puncak men, puncak! Haha. Pukul 5.40 kami sampai di puncak. Belumlah terlambat untuk menikmati sunrise. Suasana drama mendadak terjadi di puncak sana. Orang-orang berpelukan. Sujud syukur disembahkan. Tanah tertinggi Pulau Jawa. Mimpi yang sempat tertunda, terwujud juga! Bahkan saya sempat berdiri persis di tepi kawah Jonggring Saloko. (oke, jangan ditiru ya).

Mahameru 3

Mahameru

Bersama teman-teman seperjuangan.

MAHAMERU
Yang mencintai udara jernih
Yang mencintai terbang burung-burung
Yang mencintai keleluasaan & kebebasan
Yang mencintai bumi

Mereka mendaki ke puncak gunung-gunung
Mereka tengadah & berkata, kesana-lah Soe Hok Gie & Idhan Lubis pergi
Kembali ke pangkuan bintang-bintang

Sementara bunga-bunga negeri ini tersebar sekali lagi
Sementara saputangan menahan tangis
Sementara Desember menabur gerimis

24 Desember 1969
Sanento Yuliman

Kami pun turun bersama menuju Kalimati untuk bermalam sekali lagi, sebelum kembali ke Ranupani. Terimakasih Semeru, untuk segalanya yang kau berikan. Untuk dinginnya udara Ranukumbolo. Untuk gesekan ilalang Oro-oro Ombo. Untuk rintik hujan di Kalimati. Untuk peluh yang menetes di tanjakan cinta. Terlebih untuk sahabat-sahabat baru yang dipertemukan oleh-Nya.

Ini bukanlah sekedar pendakian gunung biasa. Bukan sekedar pembuktian eksistensi diri, atau termakan “kisah pendakian yang sedang populer”. Tapi ini tentang perjalanan mewujudkan mimpi, pelarian dari zona nyaman, dan terlebih, tentang pesan dari langit yang terbawa oleh abu Mahameru, “Jagalah negeri ini, dengan segala kuat raga, serapat degup jantung, dan segegap langkah menuju puncak tertinggi Pulau Jawa”.

Mahameru 5

Hasil Jeprat-Jepret Amatiran

Lama saya tidak ngeblog, dan tiba-tiba pingin nampilin beberapa foto hasil jepretan selama ini. Tentu bukan dengan kamera sendiri. Hahahaha. Rada ga modal memang. Tapi yaaah, apa daya, duit belom cukup buat beli kamera. Hehe. Mau nyumbang? :p

1. Mahameru 3676 asl.

Sunrise di Mahameru. Orang-orang berbeut berpose dengan Sang Saka Merah Putih

Sunrise di Mahameru. Orang-orang berbeut berpose dengan Sang Saka Merah Putih

Asap yang menyembul dari Kawah Jonggring Saloko

Asap yang menyembul dari Kawah Jonggring Saloko

Berkibarlah Benderaku di Puncak Tertinggi Jawa

Berkibarlah Benderaku di Puncak Tertinggi Jawa

 

Dataran Tertinggi Jawa

Dataran Tertinggi Jawa

It's time to sand-surfing. Yeeha!

It’s time to sand-surfing. Yeeha!

 

2. Rinjani 3726 asl.

Gunung Barujari and Segara Anak

Gunung Barujari and Segara Anak

3. Gresik-Bawean (Pulau di Tengah Laut Jawa)

Ngaso dhisik

Ngaso dhisik

Pulau Bawean, kecantikan yang tersisihkan

Pulau Bawean, kecantikan yang tersisihkan

Pulau Gili, Kepulauan Bawean.

Pulau Gili, Kepulauan Bawean.

 

Pintu Tua: saksi bisu harmoni Gresik baheula

Pintu Tua: saksi bisu harmoni Gresik baheula

4. Kampung Baru (village above the sea), East Borneo

Sebuah desa di atas laut.

Sebuah desa di atas laut.

Segitu dulu deh. Kalo ada jepretan baru ditambahin (berdoa biar bisa beli kamera). :p Maaf fotonya biasa sekali, maklum masih belajar. hehehe.