tempat penghimpunan daya kebajikan dan daya pengetahuan
Dari Karmawibhangga menuju Kemanfaatan
Pada tataran pertama, manusia belajar membaca kehidupan melalui karma: setiap perbuatan memiliki akibat. Inilah semangat yang tergambar dalam Karmawibhangga di kaki Borobudur. Perbuatan baik dan buruk tidak berdiri tanpa konsekuensi. Cara kita berpikir, berbicara, dan bertindak ikut membentuk apa yang kemudian kita alami. Dalam ungkapan Jawa yang sering digunakan untuk membaca relief ini: ngunduh wohing pakarti, memetik buah dari perbuatan sendiri.
Pemahaman ini penting karena mengajarkan tanggung jawab. Manusia tidak boleh terus-menerus menyalahkan dunia atas keadaan yang sebagian merupakan akibat dari tindakannya sendiri. Jika keputusan buruk menghasilkan kerugian, ada yang perlu dievaluasi. Jika kebiasaan buruk menghasilkan penderitaan, ada yang perlu diubah. Karma, dalam pengertian ini, mendidik manusia untuk melihat hubungan antara tindakan dan akibat.
Tetapi manusia tidak berhenti di sana.
Sebab kehidupan tidak hanya terdiri dari akibat perbuatan pribadi. Ada begitu banyak kondisi yang berkelindan di luar kendali kita: keputusan orang lain, kondisi ekonomi, tubuh, lingkungan, sejarah, cuaca, bencana, ketidakpastian, bahkan tindakan orang yang sama sekali tidak kita kenal. Karena itu, hukum sebab-akibat tidak dapat disederhanakan menjadi formula mekanis: aku berbuat X, maka dunia pasti memberiku Y.
Lanjutkan membaca “Borobudur Kamulan Bhūmisambhāra”
