Yang menjadi urusan bagi umat dan kaum intelektual adalah bagaimana MUI meneguhkan khidmat ulama untuk mewujudkan kemandirian bangsa dan kesejahteraan umat.
Yang menjadi urusan bagi umat dan kaum intelektual adalah bagaimana MUI meneguhkan khidmat ulama untuk mewujudkan kemandirian bangsa dan kesejahteraan umat.
Dr. Hideki Wada, seorang psikiater berusia 61 tahun yang ahli dalam kesehatan mental LANSIA, baru-baru ini menerbitkan buku berjudul “Tembok Berusia 80 Tahun.”
“Jika ingin mengetahui Islam (yang moderen), demokrasi dan pengakuan atas peran wanita, maka datanglah ke Indonesia.”
Sebagai orang yang tinggal di Sumbar, sepanjang pemahaman dan pengetahuan saya, apa yang dikemukakan Buya Syafii dan Irsyad Syafar, kedua-duanya mempunyai nilai kebenaran. Kalau dicermati, resonansi Buya bukan hanya kepada Irwan Prayitno yang dituju, tetapi juga kepada lawan bertandingnya di Pilkada Sumbar, dalam hal ini Muslim Kasim dan Fauzi Bahar.
Dalam perspektif tersebut, Smart Surau bukanlah proyek sesaat. Ia harus dipandang sebagai gerakan kebudayaan dan peradaban. Sebab sejarah Minangkabau menunjukkan bahwa surau pernah menjadi institusi pendidikan yang sangat penting. Dari surau lahir ulama, pemimpin, cendekiawan, dan tokoh masyarakat yang berperan besar dalam perjalanan bangsa. Surau bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga tempat belajar, berdiskusi, membangun solidaritas sosial, serta menanamkan nilai-nilai akhlak.
Terkait pandangannya terhadap polemik M. Natsir dan Soekarno, Irman Gusman mengatakan bahwa pandangan dan pilihan politik boleh saja berbeda, tetapi persahabatan itu abadi sifatnya. “Inilah yang diteladankan Natsir dan Bung Karno,” katanya.
Congratulations
Pria mengunjungi wanita di malam hari di kamar pribadinya. Esok harinya Pria dapat pergi. Bila ada anak yang dilahirkan si wanita, maka anak atau anak-anak dipelihara dan dibesarkan oleh keluarga wanita serta saudara mereka yang lain baik perempuan dan laki-laki pihak ibunya
Gubernur menguraikan secara singkat inti dari sumber-sumber baik yang bersifat potensial maupun yang actual sedang akselerasi dan eksplorasi. Lalu apa yang ingin dicapai dari lima pokok LoI tadi.
Saya jadi teringat Ibu Dr. Nurhayati Subakat, Founder dan President dari Paragon Technology Innovation (PTI) di Indonesia. Dengan bendera “Wardah”, produk kosmetik untuk semua orang, semua wanita dan ratu kecantikan dunia, sejak 20 tahun lalu menjadi pelaku bisnis kecantikan atau kosmetik global terbesar dari Indonesia saat ini. *
Apa kesamaan dan perbedaan antara garis keturunan ibu (matrilineal line) di Minangkabau dengan salah satu komunitas di negeri awan selatan Tiongkok tersebut dalam sejarah, perkembangan serta kenyataan di alam supra modern ini. Ini semua agaknya perlu diamati langsung.
Prof. Haedar Nashir, Prof. Abdul Mu’ti, Prof. Fahmi Idris dan Dr. Fadli Zon Menerima Tanda Kehormatan di Antara 141 Orang, 25 Agustus 2025
Shofwan Karim Usia 5 Th
“Kepada Saudara-Saudara yang hari ini dilantik, marilah kita bekerja dengan sungguh-sungguh, dengan ikhlas, dan dengan penuh tanggung jawab untuk menjalankan semua amanah. Sekali lagi, marilah kita bekerja memenuhi harapan rakyat yang tinggi kepada kita semua,” kata Mendag Busan.
Alumni UMY dilantik menjadi Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag.
Pada Mukatamar ICMI tadi, menggantikan kepemimpian 2015-2020 Ketua Umum Prof Dr Jimly Asshidiqie yang tak bersedia kembali menjadi Ketua Umum, banyak tokoh lain yang ikut berkontestasi. Masing-masing mereka mempunyai tim sukses. Alhamdulillah dan hebatnya tidak ada satupun mereka yang “main” uang serta iming-iming lainnya. Dan suasana demikian sudah berlangsung lama sejak Muktamar-muktamar sebelumnya. Meski kadang-kadang cukup panas, tétapi Selalu khidmat dan Ikhlas.
Mendag berharap para pejabat Kementerian Perdagangan selalu berkolaborasi, menjaga kekompakan, profesional, berinovasi, menciptakan berbagai terobosan dalam menjalankan tugasnya, serta meletakkan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi.
Semasa hidupnya, Uda selalu menjadi sosok penggerak perjuangan. Dalam benak kami, ketika membicarakan KB (Keluarga Besar) PII, nama Uda Masfar Rasyid selalu muncul, sebagai salah satu eksekutor utama cita-cita besar Dr. Mohammad Natsir di Sumatera Barat.
Di antara mereka ada yang sampai ke “tanah tepi”, tetapi banyak pula yang “gigit jari”.
Kelihatannya Muhammadiyah aman-aman saja. Memang ada komitmen dan kontrak amanah bagi yang ”duduk”. Itu bakal dipetik Muhammadiyah? Bagi yang “terduduk” ?.
Begitu kesadaran pendidikan dan kesadaran ilmiah meningkat dalam masyarakat Muslim, segalanya akan berubah menjadi lebih baik dan persepsi tentang mereka akan secara otomatis meningkat. Biarkan dan mari meningkatkan perjalanan menuju kebangunan rohani, jasmani dan ujungnya peradaban dan rasa hormat dimulai dengan sungguh-sungguh
Haedar mengatakan bahwa dakwah kultural di tengah umat dan bangsa di dalam berbagai aspek kehidupan haruslah ditata dalam kesejukan, mencerahkan, membahagiakan serta moderat dalam berfikir meski tetap harus disiplin dalam ibadah, shahih dan valid dalam bertindak.
Mereka berbulan madu, terbang ke Mekkah 31 Agustus, besoknya. Pilihan “Honeymoon” yang amat tekesan. Di keluarga besar kami, mungkin ini plihan langka. Akan tetapi pilihan ini amatlah membahagiakan dan membuat keluarga ta’ajub serta berdecak kagum.
Dari Dr Aqua Dwipayana forwarded WA 29/8/2024
“Kantor kita di Vatikan memiliki tradisi kerja sama bilateral yang permanen. Hari ini kita lihat potensi untuk kerja sama permanen yang punya masa depan dengan forum lintas agama dari Indonesia. Artinya bahwa kita akan buat struktur kerja sama dan rencananya tidak hanya sebatas Indonesia, tetapi lintas Asia dan dunia, maka kita juga bergerak dari Indonesia ke level Asia,” urainya
“
Rupanya demokrasi dan tegaknya hukum harus selalu diperjuangkan. Dan Sumatera Barat serta warga Minang di manapun berada selalu bercermin dengan pengalaman. Semua berharap pada mekanisme demokrasi 5 tahun lagi dan seterusnya kelalaian dan keabaian atau apapun namanya, tak terulang. Semoga.
Taiwan and Indonesia enjoy close relations, and there are over 250,000 Indonesian nationals on the island. Regarding the 27,000 Indonesian new immigrants and migrant workers in Taipei City, the mayor stressed that the city offers a comprehensive care and guidance network which helps safeguard their rights, making these individuals a part of Taipei’s diversified society.
“Tak seorang pun akan menaruh kebenaran ke dalam pikiranmu, itu adalah sesuatu yang harus kau temukan sendiri.”
Dia rela mundur daripada korban rakyat berjatuhan lebih banyak lagi. Tafsir politik lainnyanya Mubarak mirip dengan Suharto. Lebih sadar atas mudarat yang lebih besar kalau terus bertahan di puncak kekuasaannya.
Tiap tahun bulan Juli ada Canada Day. Di Jakarta sering namanya untuk publk yang diundang nama agendanya Canada Day Picnic. Saya diundang beberapa kali di Fairmont Roof Top Hotel Jakarta.
Dari penjara Irman menulis buku “Menyibak Kebenaran” 3 jilid. Temannya dari Malaysia. Sekarang PM Malaysia Datok Dr. Anwar Ibrahim datang ke Jakarta dan mengucapkan simpati dan empati kepadanya. Waktu itu Dr. Anwar Ibrahim, mengatakan, “saya berkali-kali masuk penjara. Maka itu Irman Gusman jangan khawatir, kita berjuang dan kebenaran akan menang”. Belakangan terbukti Dr. Anwar Ibrahim menang menjadi PM Malaysia. Dan kini, Irman Gusman menang di MK dan nama baiknya kembali sepeti sedia kala dan seperti disebut tadi tetap DCT DPD Nomor Urut 7 seperti semula.
Ujungnya maka di dalam Anggaran Dasar disepakati menjadi yang kedua tadi. Dengan demikian tidak perlu mendirikan khusus lagi organisasi kekeluargaan untuk perantau Minang yang tidak hanya untuk kepentingan akademik atau ilmu pengetahuan tetapi juga lebih luas dan mencakup. Asal ada hubungan tali darah dan perkawinan dengan orang Minangkabau dari manapun asalnya, mereka dapat bergabung secara sukarela ke KMM-Taiwan.
“Saya ingin anak saya kuliah dan menguasai Bahasa Mandarin. Menurut pikiran saya”, kata Ibu ini. :”Hanya dua bahasa yang paling pokok dikuasai anak muda untuk berhasil dalam bisnis. Bahasa Inggris dan Bahasa Mandarin. Kalau Bahasa Inggris rasanya tidak susah karena beraksara latin. Bahasa Mandarin? Wow, pengucapannya dan karakter-aksaranya sangat beda.”
Tulisan berikut mencoba mendiskripsikan dan menganalisis secara terbatas , pertama, tentang hubungan perguruan tingi dengan tranformasi sosial-budaya. Kedua, wacana dalam menjawab pertanyaan tentang apa yang menjadi intelectual mind-set atau pemahaman intelektual tentang pluralitas dalam kehidupan bermasyarakat yang beradab dan bermartabat.
Sementara Muhammad bin Abd al-Wahhâb menjadi pemimpin syariah, pengawal akidah dan kehidupan spiritualitas. Sampai saat ini, gelar Malik atau Raja dan “keluarga kerajaan” negara Arab Saudi dipegang oleh keluarga Saud. Namun Mufti Umum Kerajaan, tidak selalu dari keluarga Muhammad bin Abd al-Wahhâb misalnya Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ibn Abdullah Ali Ibn Baz (1909-1999).
“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.” (Q.S. al-Nisa’/4:9).
Selain itu para Lansia di sini yang sehat wal afiat selalu produktif bekerja sesuai dengan kemampuannya. Bekerja di berbagai sektor dan bidang yang relevan dengan bakat, minat dan skill mereka. Banyak pula yang menjadi relawan pada berbagai pusat palayanan publik.
Imnati Ilyas Shofwan Haflah Milad 70 (@1) Chiang Kai-Shek (@2) Sultan Padang Resto 30/05&07/06/2024 Alhamdulillah dan bersyukur kepada Allah swt atas berkah umur, sehat dan rezeki. Semoga terus kuat beribadah … Lanjutkan membaca Imnati 70 Th
Arkoun Farandae Iqbal: International Education Student Exchange to Japan May 25th-30th, 2024
Mei 25, 2024 Khatib di Taiwan : Khutbah dalam 3 Bahasa (2) https://shofwankarim.wordpress.com/2024/05/26/khutbah-dalam-3-bahasa/ Khutbah dalam 3 Bahasa Salat jumat di mana-mana di Taiwan selalu dalam 3 bahasa. Bahasa Mandarin, Arab … Lanjutkan membaca Khutbah dalam 3 Bahasa
Yayasan Pusat Kebudayaan Minangkabau (PKM) akan diresmikan melalui Alek Melewakan, Rabu (2/6/2021) besok, bertempat di Ladang Tari Nan Jombang Kecamatan Kuranji Kota Padang.
Woodball adalah permainan yang mirip dengan golf, namun menggunakan peralatan berbahan kayu. Dalam woodball, pemain memukul bola kayu menggunakan mallet (tongkat pemukul) untuk memasukkannya ke dalam gate. Setiap pemain harus menyelesaikan 12 fairway (lapangan) dengan jumlah pukulan sesedikit mungkin. Pemain dengan stroke terendah adalah pemenangnya 12. Jadi, mirip dengan golf, tetapi dengan bola dan peralatan kayu. Woodball berasal dari Taiwan! Permainan ini dikembangkan di sini pada tahun 1990-an dan sejak itu menjadi populer di berbagai negara. Jadi, bisa dibilang Taiwan adalah tempat kelahiran woodball!
International Labour Day 01/05/2024
….ketika dikaitkan dengan kata kehidupan beragama. Kerukunan kehidupan beragama atau toleransi kehidupan beragama. Oleh pihak tertentu dianggap semua sama saja.
Di dalam pemahaman umum, dapat ditafsirkan bahwa relasi Jokowi-Megawati yang dulu tempratur-suhunya seperti musim semi, landscape-nya penuh bunga kini berada di peralihan ke musim panas atau melompat ke musim gugur. Kering atau dedaunan berguguran.
Prof. Amir (lhr 1937), dilantik menjadi Rektor IAIN IB melanjutkan kepemimpinan Caretaker Rektor Kolonel Purn. H. Hasnawi Karim, BA (1982-1983). Adanya istilah Caretaker Rektor, menunjukkan ada ketidaknormalan keadaan kepemimpinan.
OLeh Fuad Nasar
3 days ago

Prof. Dr. H. Amir Syarifuddin menghembuskan napas terakhir dengan tenang di kediamannya di Padang, Sumatera Barat, pada Rabu 27 Desember 2023/14 Jumadil Akhir 1445 H pukul 08.30 WIB dalam usia 86 tahun. Jenazah mantan Rektor UIN Imam Bonjol Padang (dahulu IAIN) itu disalatkan di Masjid Baitul Hikmah UIN Imam Bonjol Kampus II di Lubuk Lintah, dilanjutkan acara pelepasan untuk diberangkatkan menuju Pakan Sinayan Banuhampu, Kabupaten Agam, tempat pemakaman almarhum.
Amir Syarifuddin, selanjutnya dalam tulisan ini disebut Pak Amir, lahir pada 9 Mei 1937 di Nagari Pakan Sinayan, Kecamatan Banuhampu, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Menempuh pendidikan Sekolah Rakyat, SMP Swasta Kurai Bukittinggi, Thawalib School Padang Panjang di bawah pimpinan Angku Mudo Abdul Hamid Hakim, Pendidikan Guru Agama (PGA) di Padang, dan Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) di Jakarta. Pak Amir semasa kuliah mengalami integrasi PTAIN Yogyakarta dan ADIA Jakarta menjadi satu Institut Agama Islam Negeri Al-Jam’iah Al-Islamiyah Al-Hukumiyah berpusat di Yogyakarta dengan cabang di Jakarta pada 1960.
Semasa hidup Pak Amir dikenal sebagai ulama, tokoh pendidikan, dan cendekiawan yang disegani. Reputasinya diakui tidak hanya di lingkungan UIN Imam Bonjol, tetapi Sumatera Barat dan Indonesia. Ia tidak sebatas intelektual kampus, namun sekaligus intelektual publik.
Dalam kapasitas sebagai Rektor maupun Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat di masanya, Pak Amir kerap diminta pendapat dan pandangannya tentang apa yang terjadi di masyarakat. Seorang intelektual publik memang lazimnya terlibat di dalam public discourse kehidupan masyarakat.
Selesai mengemban amanah sebagai Rektor IAIN Imam Bonjol dan Ketua Umum MUI Provinsi, Pak Amir diminta menjadi Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI Pusat). Ia terpilih sebagai Ketua MUI Bidang Informasi dan Komunikasi yang pertama masa khidmat 2005 – 2010 dan Anggota Dewan Penasihat MUI Pusat dari tahun 2010 hingga 2015. Dalam pengabdian kenegaraan ia diangkat menjadi Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR-RI) Utusan Daerah masa bakti 1992 – 1997.

Pengalaman Berinteraksi
Saat-saat yang tidak terlupakan dalam pengalaman interaksi saya dengan Pak Amir ialah ketika menyikapi munculnya kasus kelompok Jam’iyyatul Islamiyah di Sumatera Barat yang isunya terpantau secara nasional. Tokoh Minang yang saya hubungi ialah Pak Amir yang pernah menjadi Ketua Umum MUI Sumatera Barat dan kebetulan sedang berada di Jakarta.
Dalam pertemuan di Ciputat Pak Amir mengungkapkan informasi mengenai keberadaan kelompok sempalan tersebut dan keputusan Fatwa MUI Sumatera Barat tentang Jam’iyyatul Islamiyah yang sebagian ajarannya menyesatkan. Menurut Pak Amir, MUI Sumatera Barat mendukung SK Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat yang melarang kegiatan organisasi tersebut. Fatwa MUI diperkuat oleh keputusan Panitia Peninjau Aliran Kepercayaan Masyarakat (PAKEM) Kejaksaan Agung dan hasil penelitian Badan Litbang Kementerian Agama.
Kenangan lain adalah ketika Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) sekitar tahun 2008 mengadakan diskusi terbatas tentang zakat perusahaan dalam perspektif syariah dan kemaslahatan umat. Sebagai unsur pimpinan BAZNAS saya merekomendasikan Prof. Dr. Amir Syarifuddin sebagai narasumber ahli fikih dari MUI yang berkompeten untuk membahas masalah zakat ini.
Pak Amir hadir menyampaikan makalahnya dalam diskusi di kantor BAZNAS Jalan Kebon Sirih No 57 Jakarta Pusat. Pernyataannya dalam diskusi yang masih terngiang di telinga saya hingga kini di antaranya, ”Dalam masalah zakat ini tidak boleh kita sembarangan menetapkan hukum, karena menyangkut kehalalan untuk mengambil harta orang.”
Saya mendapat kesan positif bahwa ulama ahli fiqih yang pernah menjadi Ketua Umum BAZIS Provinsi Sumatera Barat itu sangat teliti (meticulous) dan hati-hati (careful) dalam mengeluarkan pendapat yang akan menjadi rujukan umat. Sikap hati-hati berbeda dengan sikap kaku.
Hemat saya Pak Amir adalah ulama yang hati-hati dalam mengupas hukum agama dan menyampaikan fatwa keagamaan. Satu ketika saya mengirim pesan pendek (SMS) minta pendapat beliau mengenai suatu masalah yang sedang hangat di masyarakat, bagaimana pandangan hukum Islam? Pak Amir menjawab, ”Akan saya pelajari lebih dulu.”
Bercermin dari sikap kehati-hatian Prof. Dr. Amir Syarifuddin, saya merenung kenapa kita yang punya ilmu sedikit ketika ditanya mengenai hukum agama, mudah memberikan pendapat dan ber-ijtihad tanpa dasar ilmu yang memadai. Seorang ulama dan guru besar di bidang syariah dan fiqih sekaliber Pak Amir, toh tidak gegabah (reckless) dalam menyikapi suatu masalah, terutama menyangkut hukum Islam yang memiliki dimensi pertanggungjawaban dunia dan akhirat.
Pak Amir adalah sosok teladan yang punya kepedulian keilmuwan dan kepedulian kemanusiaan hingga usia lanjut. Saya berjumpa kembali dengan Pak Amir sewaktu menghadiri pemakaman jenazah almarhum Prof. Dr. Nasrun Haroen bulan Mei 2015 di TPU Tunggul Hitam Padang. Ketika itu usia Pak Amir sudah 78 tahun. Takdir Allah, saya sedang berada di Padang menghadiri suatu acara di Asrama Haji Tabing dan saat itu mendapat informasi bahwa Pak Nasrun Haroen berpulang.
Menegakkan Muruah IAIN-UIN
Setahun setelah meraih gelar doktor, Pak Amir diminta menjadi Rektor IAIN Imam Bonjol Padang menggantikan kekosongan setelah selesainya masa jabatan Rektor Drs. M. Sanusi Latif. Semula Pak Amir menolak permintaan Prof. Dr. Zakiah Daradjat (Direktur Perguruan Tinggi Agama Islam) untuk menjadi Rektor IAIN Imam Bonjol.
Ia sebenarnya tidak mengharapkan jabatan Rektor, meski sebelumnya pernah menjabat Dekan di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pertimbangan subyektifnya bukan karena tidak mampu mengemban tugas, tapi sebagai akademisi ia ingin menghindari jabatan yang berurusan dengan uang dan proyek. “Jabatan Rektor itu sangat mudah untuk tergoda, karena di situ uang bisa mengalir hanya lewat tanda-tangan.” kata Pak Amir seperti dikutip oleh Riga Firdaus Asril di Harian Umum Haluan.
Takdir Allah telah menentukan bahwa Pak Amir menjadi Rektor IAIN Imam Bonjol dan sukses mengemban amanah dalam bimbingan dan perlindungan Allah. Pak Amir dilantik sebagai Rektor oleh Menteri Agama H. Munawir Sjadzali, MA di Kampus Jalan Sudirman No 15 pada tahun 1983. Ia menjabat Rektor selama dua periode sampai 1992. Dalam autobiografinya dapat dibaca jejak langkah Pak Amir menegakkan marwah IAIN-UIN sepanjang pengabdiannya.
Kepemimpinan Pak Amir berjalan dua periode. Waktu itu tidak ada calon lain yang diajukan oleh Senat sebagai calon Rektor, selain Amir Syarifuddin. Karakter kepemimpinan dan kepribadian Pak Amir yang sangat hati-hati dalam mengemban amanah, jujur, bersahaja, dan tidak ambisius mengejar jabatan, menjadikannya sosok idola di mata murid-murid dan para koleganya. Ia salah satu pimpinan yang berjasa terhadap perkembangan IAIN Imam Bonjol Padang.
Dr. Raichul Amar dan tim penulis, dalam buku IAIN Imam Bonjol 1966-2016 Tonggak Sejarah Kebangkitan Perguruan Tinggi Islam di Sumatera Barat menceritakan langkah pertama Amir Syarifuddin setelah dilantik menjadi Rektor adalah bersilaturrahmi dengan Gubernur Sumatera Barat Azwar Anas, Rektor Universitas Andalas (Unand) dan Rektor Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP Padang).
Silaturrahmi dengan Gubernur dipandang penting karena IAIN berada “di wilayah kekuasaan” Gubernur/Kepala Daerah. Begitu pula membangun hubungan dengan pimpinan perguruan tinggi lainnya, apalagi sesama lembaga pendidikan tinggi milik pemerintah, harus saling bekerjasama. Sementara itu insan pers baginya merupakan mitra kerja yang efektif dalam mensosialisasikan IAIN dan memajukan kampus.
Dalam banyak hal Pak Amir menegakkan dan menjaga muruah IAIN Imam Bonjol menjadi perguruan tinggi yang diperhitungkan dan tidak dipandang orang dengan sebelah mata. Ia meneruskan cita-cita dan perjuangan para Rektor pendahulunya semenjak Rektor Pertama Prof. Dr. H. Mahmud Yunus. IAIN Imam Bonjol Padang harus bisa berdiri sama tinggi duduk sama rendah dengan semua perguruan tinggi lainnya. Setelah kepemimpinan Pak Amir, Rektor IAIN Imam Bonjol Padang terpilih Prof. Dr. Mansur Malik.
Salah satu legacy Pak Amir sebelum mengakhiri masa jabatannya adalah peluncuran program peningkatan kualitas ilmiah bagi para dosen yang dinamakannya “Halaqah Ilmiyah” atau Studi Purna Sarjana (SPS). Program “pascasarjana” di IAIN Imam Bonjol yang digagas Pak Amir dijadikan role model di beberapa IAIN lainnya.
Program Studi Pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang diresmikan tahun 1994 di Kampus Jalan Sudirman No 15 oleh Menteri Agama Dr. H. Tarmizi Taher. Hadir Gubernur Sumatera Barat Drs. H. Hasan Basri Durin, Kakanwil Kementerian Agama Sumatera Barat Drs. H. Fauzan MA, Direktur Perguruan Tinggi Agama Islam, dan Direktur Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah Prof. Dr. Harun Nasution. Pak Amir ditunjuk sebagai Direktur Pelaksana Program Studi Pascasarjana yang kala itu berafiliasi dengan Program Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Sewaktu transformasi IAIN menjadi UIN Imam Bonjol, konon beliau sebagai sesepuh IAIN sangat serius menekankan bahwa perubahan IAIN menjadi UIN tidak boleh mengakibatkan fakultas dan jurusan ilmu-ilmu keislaman mengalami kemunduran dan penurunan minat mahasiswa. Pesan dan amanat Pak Amir insya allah tetap dipegang oleh seluruh unsur pimpinan UIN Imam Bonjol Padang sampai sekarang.
Saya mendengar dari kalangan dosen UIN Imam Bonjol Padang, salah satu yang berkesan bagi mereka tentang kepemimpinan Pak Amir adalah kepribadian baiknya dan sikap ilmiah yang dilandasi ketajaman dan ketenangan berpikir. Dalam pembinaan pengabdian kepada masyarakat melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mahasiswa, ia sebagai Rektor mengunjungi lokasi KKN IAIN Imam Bonjol ke nagari-nagari di Sumatera Barat.

Ketua Umum MUI Sumbar
Salah satu episode pengabdian Pak Amir sebelum akhir masa jabatan Rektor, ia diamanahi sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat masa bakti 1995 – 2000. Satu ketika Pak Amir bertemu dengan Gubernur Sumatera Barat Drs. H. Hasan Basri Durin di kantor gubernur. Gubernur meminta kesediaan beliau menjadi Ketua Umum MUI Provinsi. Pak Amir menolak secara halus tawaran itu. “Saya khawatir akan menghadapi kebijakan pemerintah yang tidak sejalan dengan sikap saya, Pak Gubernur.” ucapnya. Ia membayangkan situasi dilematis yang pernah dihadapi Buya Hamka sebagai Ketua Umum MUI Pusat berkenaan dengan kebijakan pemerintah waktu itu hingga Buya Hamka meletakkan jabatannya. Hasan Basri Durin memaklumi kekhawatiran Pak Amir. Gubernur menjawab, “Itu kan keadaan waktu dulu. Sekarang tidak begitu lagi, Pak Amir.”
Dalam Musyawarah Daerah MUI Sumatera Barat, Pak Amir secara pribadi ataupun sebagai Rektor tidak menerima undangan menghadiri Musda MUI. Selesai shalat Isya hari terakhir Musda, ia ditelpon oleh Sekwilda Provinsi Sumatera Barat Drs. H. Sjoerkarni yang hadir di Musda MUI selaku utusan Pemerintah Daerah. “Pak Amir, Anda terpilih untuk menjadi Ketua Umum MUI, malam ini juga Anda akan dilantik.” ujar Sjoerkani melalui tilpon. Pak Amir tidak bisa mengelak.
Saat pidato pengukuhan sebagai Ketua Umum MUI Provinsi Sumatera Barat, ia menyampaikan, “Walaupun saya tidak mengharapkan jabatan ini, namun karena sudah dipilih oleh musyawarah, saya terima jabatan ini. Saya tidak berjanji apa-apa dalam jabatan saya nantinya. Saya hanya akan berusaha berbuat sebaik mungkin”.
Dalam bidang keilmuwan, Pak Amir sangat berkompeten di bidang Fiqih dan Ushul Fiqih. Ia menguasai Fiqhud Dakwah sehingga paham mana yang pokok (ushul) dan mana yang ranting (furu’) dalam masalah agama. Ia tidak mencampur-adukkan dalil dengan interpretasi menyangkut hukum agama. Di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah, Pak Amir duduk sebagai Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah periode 2005 – 2010.
Sebagai ulama yang memiliki kapasitas mubaligh, ia tidak pernah membangkit-bangkitkan soal-soal khilafiyah yang dapat memecah-belah persatuan umat. Hemat saya, ketenangan berpikir dan kearifan Pak Amir dalam membaca fenomena sosial dan menyikapi berbagai isu keumatan dari sudut pandang Islam patut diteladani oleh ulama dan mubaligh yang muda-muda.
Guru Besar Hingga Akhir Perjalanan
Dalam disertasi Prof. Dr. Isnawati Rais di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang diterbitkan dengan judul Pemikiran Fikih Abdul Hamid Hakim (Ditjen BIPH Depag, 2005), nama Amir Syarifuddin dicantumkan dalam daftar murid-murid Abdul Hamid Hakim (Angku Mudo) sederetan dengan A.R. Sutan Mansur, Hamka, Zainal Abidin Ahmad, H.M.D. Datuk Palimo Kayo, Duski Samad, H.S.M. Nasaruddin Latif, Mawardi Muhammad, A. Hasjmy, Rasuna Said, Rahmah El Yunusiyyah, Salim Amany, Mukhtar Yahya, Imam Zarkasyi, H.M. Chatib Quzwain, Fauzan MA, Ghazali Amna, Harun Yunus, Hasan Ahmad, Engku Imam Ahmad Sofyan, dan Abbas Usman.
Perjalanan karier Pak Amir dimulai dari Asisten Dosen IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yakni asisten dari Prof. Dr. Toha Yahya Omar. Tamat doktoral (Sarjana Lengkap) tahun 1964. Pada tahun 1968 mengikuti pendidikan non-degree di Belanda pada Universitas Leiden dengan fasilitas tugas belajar dari Kementerian Agama. Ia pernah menjabat Wakil Dekan Fakultas Tarbiyah dan Dekan Fakultas Syariah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Mengikuti Sekolah Staf Pimpinan Administrasi (SESPA) Kementerian Agama sebagai persyaratan jabatan Eselon 1 (satu).
Pak Amir menamatkan pendidikan Doctor by Research dengan judul disertasi “Pelaksanaan Hukum Kewarisan Islam Dalam Lingkungan Adat Minangkabau”.
Pembimbingnya Dr. H. Anwar Harjono, SH dan Prof. Dr. Harun Nasution. Ia merupakan doktor kedua yang dihasilkan Program Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 1982 setelah Dr. Aminuddin Rasyad. Ia banyak belajar dan mengajar dalam puluhan tahun pengabdiannya di perguruan tinggi agama Islam.
Disertasi hasil penelitiannya tentang hukum kewarisan Islam dalam lingkungan adat Minangkabau diterbitkan oleh PT. Gunung Agung Jakarta (1984) dan memperoleh penghargaan dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sebagai buku terbaik di bidang ilmu sosial. Menurut Dr. Shofwan Karim, disertasi Pak Amir merupakan riset paling akurat karena bukan hanya dilakukan dengan studi kasus di Minangkabau dan Indonesia, juga studi literatur langsung di Leiden University, Belanda.
Buku Pak Amir yang diterbitkan kebanyakan mengenai fikih atau hukum Islam sebagai buku teks perguruan tinggi dan bacaan ilmiah, seperti: Ushul Fiqh (2 jilid), Garis-Garis Besar Ushul Fiqh, Hukum Kewarisan Islam, Hukum Perkawinan Islam Di Indonesia: Antara Fiqh Munakahat dan Undang-Undang Perkawinan, Meretas Kebekuan Ijtihad: Isu-Isu Penting Hukum Islam Kontemporer Di Indonesia. Ia juga menulis autobiografi 75 Tahun Prof. Dr. H. Amir Syarifuddin: Qana’ah.
Kenangan Terakhir
Dr. Shofwan Karim, MA, mantan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat, dalam artikel “Obituari Amir Syarifuddin: Ahli Hukum Kewarisan Islam Minangkabau Itu Telah Berpulang” (Harian Umum Singgalang, 28 Desember 2023) mengenang sosok Pak Amir sebagai figur yang bijaksana di dalam memutuskan hal-hal yang prinsipil untuk lembaganya, juga politisi handal (Anggota MPR-RI Utusan Daerah, pen). Dan kalau rapat, berunding atau bertemu dengan para kolega hanya membicarakan pokok persoalan dan beliau tak pernah tergoda dengan rayuan duniawi.
Lanjut Shofwan Karim, “Sangat terkesan ketika pada masa lalu ada nuansa terjadi kompetisi tersembunyi antara pengikut ormas tertentu di lembaga yang dipimpinnya, almarhum Prof. Amir begitu piawai mengendalikan diri dan bawahannya serta koordinasi ke samping, ke atas, dan ke bawah. Dengan begitu, tak ada kesan beliau pro kekuatan tertentu apalagi ormas tertentu. Kendali manajemen dan spektrum kepemimpinannya diakui adil-berimbang dan memberikan semangat kreativitas tinggi kepada dosen, mahasiswa dan karyawan. Pada masa kepemimpinan Prof. Amir di IAIN Imam Bonjol dianggap berbagai pihak beliau sukses. Lalu setelah itu beliau terpilih aklamasi menjadi Ketua MUI Sumbar.”
Salah satu cerita yang mengandung interest pada sosok Pak Amir yang tidak dapat dilupa human kan oleh para muridnya antara lain dari penuturan Drs. H. Tulus, mantan Direktur Penyelenggaraan Haji, Pengembangan Zakat dan Wakaf, dan terakhir Staf Ahli Menteri Agama.
Setelah menyelesaikan Sarjana Muda di IAIN Syarif Hidayatullah, Pak Tulus berencana mau pulang mengabdi di kampung saja karena mengalami kendala biaya untuk melanjutkan ke jenjang doktoral (Sarjana Lengkap). melanjutkan Pak Amir tidak mau kalau ada mahasiswanya tidak bisa kuliah karena kendala biaya. Ia mendaftarkan Tulus menjadi Asisten Dosen, sehingga 6 bulan memperoleh gaji yang cukup untuk bayar uang kuliah. Putra Banyumas itu Pak tidak jadi pulang kampung dan lanjut ke program Sarjana Lengkap. “Alhamdulillah. Itu jasa beliau yang tidak akan saya 7. Beliau adalah bukan sekadar guru/dosen saya, tetapi pembimbing yang sejati.” kenang Pak Tulus.
Pak Amir sangat toleran dan sering turun tangan membantu mengupayakan solusi yang memungkinkan dalam koridor aturan untuk mahasiswa yang terkendala biaya. Selain itu, ia pun tidak segan-segan menegur mahasiswa S3 yang mendapat fasilitas tugas belajar tapi tidak kunjung tamat karena kurang fokus menyelesaikan penelitian dan disertasi.
Dalam reputasi sebagai ulama pendidik, pemikir Islam, tokoh masyarakat hingga ke level kenegaraan, tidaklah mudah mencari penerusnya dalam kualitas yang sama. Pak Amir dikenang sebagai guru sejati bagi banyak orang dan sosok cendekiawan yang belum tergantikan bagi UIN Imam Bonjol Padang hingga kini. Selama menjabat sebagai Rektor dan Guru Besar, menjadi Anggota MPR-RI maupun setelah menikmati masa pensiun sebagai guru besar emeritus, Pak Amir menjalani hidup yang bersahaja dan qana’ah, merasa cukup dengan apa yang ada dan mensyukurinya.
Kompetensi keilmuwannya dalam bidang ushul fiqih dan fiqih meneruskan keilmuwan guru yang dikaguminya yaitu Angku Mudo Abdul Hamid Hakim (Pimpinan dan Guru Besar Thawalib Padang Panjang) dan dosen senior Prof. Dr. Toha Yahya Omar (Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta). Selain kiprah di dalam negeri, ia menjadi profesor pelawat (guru besar tamu) pada Fakultas Pengkajian Islam Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM).
Pak Amir pensiun sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) tahun 2007 pada saat usianya genap 70 tahun, dengan pangkat/golongan tertinggi dan gelar guru besar. Meski telah purnabakti sebagai dosen negeri, ilmu dan panggilan jiwa pengabdiannya tetap dibutuhkan oleh UIN Imam Bonjol Padang. Ia masih mengajar dan membimbing mahasiswa di Fakultas Syariah dan Pascasarjana selagi kesehatannya memungkinkan. Ilmunya dibutuhkan oleh perguruan tinggi tempatnya mengabdi. Pak Amir adalah guru besar hingga akhir perjalanan.
Dalam rangka mensyukuri 75 Tahun Prof. Dr. Amir Syarifuddin, sejumlah muridnya yang dikoordinir oleh Prof. Dr. M. Atho Mudzhar dkk menerbitkan buku kenang-kenangan tentang Prof. Dr. H. Amir Syarifuddin Legenda Hidup (IAIN-IB Press Padang, 2012). Sebuah kehormatan bagi saya diberi kesempatan sebagai penyumbang tulisan testimoni pada buku tersebut.
Saya mendengar cerita Ibu Amir, tatkala kesehatan Pak Amir sudah tidak memungkinkan untuk mengajar di kampus, ia masih bersedia menerima mahasiswa untuk bimbingan tesis atau disertasi di rumah. Dalam masa pendemi Covid-19 tahun 2020 – 2021, masih sempat mengajar secara online melalui perangkat zoom meeting. Kegiatan mengajar tidak bisa berlanjut disebabkan kendala pendengaran dan penglihatan Pak Amir untuk membaca kitab/buku mengalami penurunan karena usia lanjut.
Sewaktu saya silaturahmi kepada beliau beberapa bulan yang lampau dan menyebut buku karya monumentalnya Pelaksanaan Hukum Kewarisan Islam Dalam Lingkungan Adat Minangkabau, respons singkat Pak Amir, “Siapa yang mengembangkan kini…” (Bahasa Minang: Sia nan mengembangkan kini).
Kepergian Prof. Dr. H. Amir Syarifuddin menghadap Allah Azza Wajalla meninggalkan keluarga, murid-murid intelektual, dan buku-buku karya tulisnya sebagai khazanah ilmu yang terbuka untuk dipelajari. Insya Allah menjadi ladang amal shaleh baginya di akhirat dan inspirasi bagi generasi penerus. Kecendekiaan, kepemimpinan, integritas dan kebersahajaannya menjadi teladan untuk semua.
Akses, 3/1/24
“Memang sakit, sehat, hidup, mati, rezeki berada di tangan Tuhan. Namun, sebagai umat manusia kita mesti berusaha melakukan yang terbaik. Sebab, yang mengubah kondisi kita ini hanya diri sendiri, di samping dikabulkan Yang Kuasa. Saya berterima kasih kepada warga Kota Padang dan sekitarnya yang ikut mendoakan saya ,” ungkap Kamardi Rais.
Pernah ditayangkan http://hariansinggalang.co.id/negarawan-komunikator-rekonsiliator/Negarawan

Pada Kamis pagi, (9/10/2014) saya meminta waktu kepada Ketua DPD RI Irman Gusman. Ada pesan dari Ketua KNPI Sumbar Adib Alfikri serta Ketua Pemuda Muhammadiyah Sumbar Murisal untuk saya sampaikan kepada beliau. Saya SMS, di sela kesibukan Ketua, saya mohon bertemu.
Dengan sabar menunggu sejak pukul 09.00, saya baru dapat bertemu pukul 15.00 hari itu. KNPI Sumbar mau musyawarah daerah (Musda) 25 sampai 28 Oktober. Pemuda Muhammadiyah akan muktamar atau musyawarah nasional di Padang, 20-23 November 2014. Kedua organisasi pemuda itu mohon dukungan menyukseskan kedua event itu kepada Ketua DPD terpilih untuk kedua kali, 2014-2019 tadi.
Akan hadir ratusan pemuda di antaranya 63 utusan organiasi kepemudaan (OKP) tingkat Sumbar bersama seluruh DPD II dn DPD I serta DPP dan Majelis Pemuda Indonesia tingkat nasional pada Musda KNPI. Dan pada muktamar akan hadir 34 provinsi wakil Pemuda Muhammadiyah se-Indonesia serta tokoh nasional semua organisasi pemuda dan diperkirakan akan ada seribu pemuda hadir di Padang.
Setelah surat kedua organisasi pemuda tadi saya sampaikan, tentu kami berbincang soal kepemudaan Sumbar khususnya dan umumnya Indonesia. Sebagai mantan pengurus dan aktivis pemuda sejak mahasiswa sampai usia 40 tahun, saya intensif mengikuti perkembangan dunia kepemudaan Indonesia, Asia-Afrika dan Dunia Global. Menghadiri 3 kali sidang umum PBB divisi kepemudaan di New York, 1984, 1988 dan 1998 dan event lainnya.
Bahkan sampai sekarang saya masih tetap mengikuti di belakang layar dunia kepemudaan ini. Saya ingin terus bayar hutang pengalaman mantan pengurus KNPI Sumbar 4 priode dan mantan pimpinan Pemuda Muhammadiyah dan IMM 1970-an. Lalu Participant, Group Leader dan Country Coordinator Indonesia-Canada World Youth, 1980-1985, dan berbagai organisasi lainnya dalam dan luar negeri. Sekarang saya penasihat Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumbar yang sebelumnya 2000-2005 adalah Ketua PWM ini.
Saya pikir di sela waktu, saya mesti menaruh perhatian terus kepada dunia kepemudaan. Di antaranya Pemuda Muhammadiyah yang akan Muktamar dan KNPI yang akan musda.
Sesuai dengan UU Kepemudaan No. 40 Th 2009, yang disebut pemuda adalah warga negara Indonesia yang berusia antara 16 sampai dengan 30 tahun. Definisi PBB malah di bawah itu. Pemuda adalah manusia muda usia 16 sampai dengan 26 tahun. Memberi perhatian kepada pemuda tidak berarti menjadi pemuda dalam makna biologis tadi. Akan tetapi tak kurang maknanya dalam ideologi, religi, idealisme, edukasi dan persuasi.
Meski dari segi usia saya lebih tua umur biologis dari Ketua DPD 2014 Irman Gusman, tetapi dalam kancah nasional dan kebangsaan, pengalaman saya belum berarti apa-apa dan jauh di bawah beliau. Oleh karena itu, saya tetap belajar kepada tokoh ini.
Salah satu adalah Irman Gusman sebagai ikon, simbol, atau sosok negarawan komunikator-rekonsiliator. Yang Saya maksud Irman menjadi pemegang initiatif komunikasi untuk mengharmonisasi ulang koalisi yang tidak sinkron bahkan bertolak belakang ujung pasca Pemilu dan Pilpers 2014.
Ikon itu sangat relevan dengan situasi belakangan ini. Gonjang-ganjing politik dan kebangsaan sejak Pilpres sampai 9/10 pekan lalu, masih retak dan teka-teki. Kekhawatiran itu, setelah 10/10 malam mulai sirna. Apalagi 10/10 itu Hashim Djojohadikusumo telah mengklarifikasi kutipan media-pers asing yang mengatakan KMP akan menggerogoti pemerintahan Jokowi-JK. Ternyata bualan media asing itu tidak benar.
Pada 9/10 sore belum ada klarifikasi akan hal tersebut. Maka sore Kamis 9/10 itu saya mendapat segelintir gambaran dari Ketua DPD ini bagaimana memecahkan kebuntuan politik dewasa ini. Apalagi sampai sekarang antara Presiden SBY dan Ketua Umum PDIP, mantan Presiden Megawati belum juga tercipta suasana komunikasi mengalir dan mencair. Lebih-lebih lagi antara Prabowo dan Jokowi. Masih locked alias terkunci.
Di ujung pertemuan saya dengan beliau, Ketua DPD Irman berkata, “saya akan ajak ketua DPR Setya Novanto dan Ketua MPR Zulkifli Hasan bersama Jokowi untuk bersilaturrahim sambil makan. Tempatnya dicari yang netral,” katanya.
Saya melihat Ketua DPD ini meminta staf untuk menghubungi kedua ajudan lembaga tinggi negara partnernya itu. Sebetulnya, saya melihat Ketua DPD Irman sudah mencoba menghubungi langsung via telepon tetapi belum terjawab.
Beberapa menit staf bolak-balik. Mula dikatakan ada rapat-rapat yang menurut staf Ketua DPR RI belum bisa dipastikan waktu bertemu. Selang beberapa menit disampaikan lagi oleh staf, Ketua DPR Setya Novanto menunggu di ruangan. Saya diberi tahu maksudnya itu. Beberapa detik berselang, beliau tancap langkah ke sana. Saya pun minta diri izin berpisah.
Dalam hati saya berkata, betapa ligatnya tokoh yang satu ini. Tidak ada gengsi-gensian dan ego sektoral. Dia tidak menunggu tetapi mengejar untuk kebaikan bangsa ini. Di dalam kepala Irman Gusman yang saya baca dari tuturannya, kalau komunikasi lancar antar lembaga tinggi negara, apalagi antara pribadi para tokoh elit, maka tidak ada soal yang tidak terjawab dan tidak ada masalah yang tak ada solusi. Kalau komunikasi sudah lancar, maka musyawarah itu dengan sendiri terlaksana.
Terbukti Jumat, 10/10/2014 malam, keempat tokoh ini bertemu. Joko Widodo, Setya Novanto, Zulkifli Hasan dan Irman Gusman selama 2 jam berunding sambil dinner di hotel Hermitage, Menteng Jakarta. Mereka bersepakat untuk agenda 20/10/2014 pelantikan presiden dan wakil presiden ini akan berusaha berjalan baik, tertib dan sukses.
Suatu pernyataan yang membuat semua pihak merasa lebih tenteram dan adem. Ke depan quartet ini bertekad melanjutkan “urun-rembuk” paling kurang sekali sebulan.
Kembali kepada Irman, saya pikir tokoh ini benar-benar andal dalam berkomunikasi dan menjembatani kepentingan bangsa. Cerdas di dalam menyampaikan visi dan misi, mantap di dalam meyakinkan para pihak. Pantas saja setelah 4 putaran proses pemilihan Ketua DPD RI pekan lalu, beliau lolos kembali menjadi ketua 2014.
Pada hal semua orang tahu, proses pemilihan pimpinan DPR RI yang berlangsung sebelum pemilihan pimpinan DPD, telah melalui proses yang sangat tidak nyaman. Kini kita meminta para tokoh utama bangsa ini untuk selalu berkomunikasi terus menerus.
Kapankah saatnya antara Presiden SBY, Megawati, Prabowo dan Jokowi duduk semeja? Mungkinkah Ketua DPD 2014 Irman Gusman menjadi mediator? Kita perlu negarawan komunikator-rekonsiliator. Mudah-mudahan keinginan ini terkabul sebelum 20 Oktober ini. Kalau belum, mari kita tunggu momentumnya yang tepat. (*)
Dari sudut pandang budaya, keberhasilan Golkar juga ditopang oleh kemampuannya memanfaatkan jaringan sosial Minangkabau yang berbasis keluarga, kaum, dan nagari. Dalam masyarakat yang menjunjung nilai badunsanak, hubungan personal sering kali lebih kuat daripada hubungan ideologis. Politik bukan hanya soal gagasan besar, melainkan juga soal kepercayaan yang tumbuh dari kedekatan sosial. Karena itu, Golkar berhasil menguatkan akar politiknya melalui tokoh-tokoh lokal yang memiliki pengaruh dalam komunitas masing-masing.
Brain drain adalah kehilangan permanen talenta unggul yang hijrah ke luar negeri, sementara brain circulation adalah perputaran talenta: mereka belajar, bekerja, atau berkarya di luar negeri, lalu kembali atau tetap menjalin kontribusi bagi tanah air. Seperti ditulis Rosalie L. Tung (2008), tacit knowledge melekat pada individu dan berpindah bersama mobilitasnya. Maka, migrasi bukan sekadar kehilangan, melainkan peluang transfer pengetahuan, jaringan global, dan pembangunan ekonomi.
Konsep ini penting untuk dibedakan dari brain drain. Brain drain adalah kehilangan permanen talenta unggul yang hijrah ke luar negeri, sementara brain circulation adalah perputaran talenta: mereka belajar, bekerja, atau berkarya di luar negeri, lalu kembali atau tetap menjalin kontribusi bagi tanah air. Seperti ditulis Rosalie L. Tung (2008), tacit knowledge melekat pada individu dan berpindah bersama mobilitasnya. Maka, migrasi bukan sekadar kehilangan, melainkan peluang transfer pengetahuan, jaringan global, dan pembangunan ekonomi.
Dalam Muhammadiyah, musyawarah diarahkan untuk mencapai mufakat. Filosofinya adalah mengedepankan persamaan derajat, menghindari dominasi satu pihak, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama. Mufakat bukan berarti kompromi tanpa prinsip, melainkan kesepakatan yang lahir dari kejujuran, amanah, dan komitmen ideologis.
Di tengah konflik geopolitik global, pemikiran tokoh kemanusiaan seperti Ahmad Syafii Maarif membuktikan relevansi kuatnya terhadap urgensi kuasa lunak. Komitmen kolektif untuk membangun ‘soft power’ secara berkelanjutan harus termaterialisasi demi mendidik bangsa dan menjaga martabat kemanusiaan. Kebudayaan bukan sekadar ornamen masa lalu, melainkan instrumen utama yang memupuk peradaban damai, inklusif, dan toleran.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.