this is about “Cintanya Ayah”
Posted on: August 10, 2013
Assalamu’alaikum wr.wb.
Minggu, 03.30 Wita…
Seorang sahabat yang sekarang sudah sangat jarang bertemu, mengirimkan sms kepada saya menjelang saya tidur, dia bilang ” aku sengaja ngirim ini untuk kamu Yul…eh tapi ku copas dari twitnya Ust. Felix Siauw sih… 🙂 , karena kamu seorang putri dan kamu pasti merasakan…”. Begitu membacanya, rasa haru langsung meliputi sanubari saya *pengen nangis.
Ceritanya tentang cinta seorang Ayah kepada putrinya.
1. Allah menganugerahkanku satu putri Alila namanya, padanya cintaku penuh seperti ayah lainnya.
2. Kudidik dia sepenuh ilmuku dan kuajarkan padanya tentang Tuhanku, kubimbing dia dalam berdoa, kubacakan padanya ilmu yang kutahu.
3. Baginya asupan hanya yang baik dan kucukupkan hanya yang terbaik, urusan harta tak kupikir walau raga dipanggang matahari terik.
4.takkan kubiarkan ia menangis karena dunia, kulindungi dia dari kejamnya manusia.
5. pernah kusampaikan “di sekolah bertemanlah dengan perempuan saja”, tidak perlu bermain dengan lelaki karena engkau wanita.
6. kupesankan saat hari pertama ia berseragam putih-merah. dan juga “laporkan ke guru mu bila ada lelaki mengganggu dan salah”
7.kusampaikan berapi-api “bila ia tetap mengganggu dan guru mu acuh, tidak mengapa biar nanti Ayah bakar diapunya rumah!”
8. haha… mungkin bagi mu berlebihan dan tak mengerti, tak mengapa, engkau akan paham saat engkau jadi ayah seorang putri.
9. hanya menatap binar bening matanya saja, engkau akan korbankan apapun yang engkau punya.
10. colotehnya yang mendadak jadi syair tatkala bepergian, dan setiap bentakan padanya jadi selaksa penyesalan.
11. bagimu pelukannya bahkan lebih engkau rindu dari pada pelukan ibunya, bagimu genggam tangannya bercanda riang itulah uang muka surga.
Sekarang , engkau mengerti mengapa ayah terbata mengeja akad nikah, menangis tertahan ketika semua serah terimamu menjadi sah.
Sekarang aku pun memahami mengapa Baginda Rasulullah, menjadikan ayah seorang putri menjadi wali nikah.
Aku pun mengerti mengapa tatkala lelaki menyukai wanita, maka yang pantas di datangi bukanlah wanitanya, namun ayahnya.
Ayahnya yang menghidupi, membimbing, mengajari, melindungi, maka dialah yang pantas menilai kepantasan calon suami.
Ayah di anugerahi Allah amanah dan itu adalah engkau putriku…, maka takkan ayah sia-siakan, takkan ayah lalaikan, karena ayah menyayangimu.
Dan bila saat itu pasti menghampiri, Ayah selalu berdoa, lelaki itu semisal Nabi…
*so sweet banget.
Cinta Abah saya juga seperti di atas, walaupun ada beberapa poin yang tidak sekaku dan seagresif itu… tapi saya memahaminya.

Love You, Abah.
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Bulan Ramadhan akan segera berlalu, tinggalkan kita yang akan selalu merindu, semoga tahun depan dengannya kita kan bertemu. Syukuri akhir bulan Ramadhan ini dan semoga Allah meridhoi ibadah kita kepadaNya. Amin. Insya Allah.
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan mengharap pahala (keridhoan) Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR. Bukhari). Amin Ya Rabb. Semoga.
Sekarang, kita mulai bersiap-siap untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri. Horee! Saya selalu happy dengan datangnya Hari Raya Idul Fitri, ini adalah hari istimewa bukan? tentu saja, Idul Fitri itu identik dengan yang namanya kebahagiaan dan kemenangan. Dimana pada hari itu, semua umat muslim merasa gembira dan senang karena telah melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh.
Dalam Idul Fitri selain ditandai dengan adanya ”mudik” untuk bersilaturahim, hari raya Idul Fitri juga ditandai “sesuatu yang baru”, mulai dari yang sifatnya fisik, materi dan juga yang abstrak sifatnya; apalagi kalau bukan kemunculan “jiwa“ yang baru (manusia baru). Dari beberapa sumber dinamakan Idul Fitri karena manusia pada hari itu laksana seorang bayi yang baru keluar dari dalam kandungan yang tidak mempunyai dosa dan salah. Idul Fitri juga diartikan dengan kembali ke fitrah (awal kejadian). Dalam arti mulai hari itu dan seterusnya, diharapkan kita semua kembali pada fitrah. Di mana pada awal kejadian, semua manusia dalam keadaan mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan.
Moment Idul Fitri bagi saya selalu spesial, selain bisa berkumpul bersama keluarga, moment idul fitri juga adalah momen kita kembali ketitik nol, right? kita kembali membuatnya resolusi-resolusi baru, tanpa harus menunggu tahun baru, karena kita kembali “baru”, harapannya menjadi manusia yang lebih baik lagi, that it’s! dan kesempatan juga untuk bermaaf-maafan…
Tentunya selama perjalanan hidup kita, banyak di antara manusia yang melakukan kesalahan dan khilaf, melakukan dosa dan salah kepada sesama manusia terutama kepada Allah swt. Untuk itu, memahami kembali makna Idul Fitri (kembali ke fitrah) artinya kita harus dengan membangun kembali pengabdian kepada Allah dengan jalan bertaubat dan dosa kepada sesama manusia dapat terhapus dengan silaturrahim.Amin.
Maaf dan memaafkan menjadi salah satu bentuk tradisi hubungan antar manusia, akan tetapi tradisi ini sering kali juga hanya merupakan ritual belaka atau hanya semata lip service. Dengan kata lain, perilaku tersebut dilakukan namun tidak disertai ketulusan yang sungguh-sungguh. Sebuah maaf dan pemberian maaf perlu dilandasi kesadaran. Permintaan maaf dan memberi maaf adalah sebuah komitmen dalam diri dan oleh karena itu harus datang dari hati yang tulus.
Sebenarnya, maaf dan memaafkan ini bisa kita biasakan atau budayakan dan terus dilakukan dalam keseharian, tidak hanya menunggu moment hari raya saja, karena sebenarnya saling maaf memaafkan itu menyehatkan, baik secara fisik maupun mental. Dari sisi spritual, orang yang selalu minta maaf kepada Allah atau kepada sesamanya serta memaafkan kesalahan oranglain, hatinya akan menjadi lapang karena ia sadar akan kelemahannya. Sadar akan kedudukannya yang penuh khilaf.
sedangkan dari sisi psikologis, proses memaafkan dan minta maaf khususnya kepada sesama itu seringkali memang memerlukan kerja keras, kemauan kuat dan latihan mental karena terkait dengan emosi manusia yang fluktuatif, dinamis dan sangat reaktif terhadap stimulan luar, banyak juga mitos yang mengatakan bahwa dengan memberi maaf atau meminta maaf maka beban psikologis yang ada akan hilang, ini menurut saya bukan mitos tapi fakta, dengan catatan permintaan maaf khususnya perlu ditindaklanjuti dengan perilaku yang konsisiten yaitu adanya perubahan.
Informasi lain yang pernah saya baca yaitu dari makalah Wardhati & Faturochman menjelaskan tentang beberapa penelitian di luar negeri terkait dengan proses maaf dan memaafkan ini antara lain peneliti yang dilakukan oleh Darby dan Schlenker yang menemukan bahwa meminta maaf sangat efektif dalam mengatasi konflik interpersonal, karena permintaan maaf merupakan sebuah penyataan tanggungjawab tidak bersyarat atas kesalahan dan sebuah komitmen untuk memperbaikinya.
McCullough dkk (1997) juga mengemukakan bahwa memaafkan dapat dijadikan seperangkat motivasi untuk mengubah seseorang untuk tidak membalas dendam dan meredakan dorongan untuk memelihara kebencian terhadap pihak yang menyakiti serta meningkatkan dorongan untuk konsiliasi hubungan dengan pihak yang menyakiti. Worthington dan Wade (1999) menyetujui pendapat yang mengatakan bahwa secara kesehatan memaafkan memberikan keuntungan psikologis, dan memaafkan merupakan terapi yang efektif dalam intervensi yang membebaskan seseorang dari kemarahannya dan rasa bersalah
So….,Memaafkan adalah proses untuk kembali pada kondisi nol, Formula ”to forgive and forget” dalam buku psikologi beragamanya Komaruddin Hidayat bisa kita tanamkan dalam diri khususnya di moment Fitri kali ini, karena formula ini akan efektif untuk mengubah dunia, optimistik dalam menapaki hari-hari esok mulai dibangun. Dan semua ini kembali pada pribadi masing-masing orang. Ini pilihan masaing-masing akankah ia memelihara rasa atau luka yang justru kian bertambah ketika di ingat-ingat? Atau akankah mengurangi dan melupakannya lalu diganti dengan cara pandang baru terhadap kehidupan. Kita sebaiknya belajar untuk hidup berprasangka baik dan rendah hati, jangan merasa paling beriman dan bertakwa di hadapan orang lain.
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI, TEMAN, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN.
Mudik Yang Di Rindukan
Posted on: August 5, 2013
Bulan suci Ramadhan sebentar lagi akan meninggalkan kita *sedih rasanya kalau membayangkan kita tinggal menunggu hari-hari mendekati penghujung bulan Ramadhan. Sekarang sudah mulai memasuki hari libur (cukup) panjang, hampir sebagian besar orang khususnya yang ada di kota-kota besar mulai bersiap-siap untuk kembali ke kampung halaman atau kota kelahirannya masing-masing, dengan membawa serta sanak keluarga inti untuk merayakan hari lebaran.
Peristiwa ini tentunya sudah familiar di telinga kita, peristiwa ini disebut dengan istilah mudik atau pulang kampung. Mudik yang menjadi fenomena sosial ini merupakan bagian warisan yang turun temurun (tradisi) dan membudaya (terjadi karena proses kebiasaan), bahkan konon katanya adanya istilah mudik ini cuma ada di Indonesia lo! begitu juga dalam keluarga saya. Abah yang berasal dari Pantai Hambawang nan jauh di sana (*lebay, cuma tiga jam doang, hahaha, kesannya kaya di negeri antah berantah), tiap tahunnya juga biasanya melakukan mudik! eh tapi itu beberapa tahun yang lalu *kira-kira 7-8 tahun yang lalu, sebelum orangtua Abah meninggal dunia, Nini Pantai… begitu saya memanggil Almh nenek saya tercinta… Memory of Mudik menjadi sebuah kenangan berarti bagi saya, dulu mudik atau pulang kampung menjadi moment yang istimewa bagi kami sekeluarga khususnya kami bertiga (adik-adik saya). Saatnya berkumpul dengan keluarga yang ektra large itu sesuatu…. *Abah anak pertama dari tujuh bersaudara, maka kebayang dun ya ramainya kala itu, karena adik-adik Abah juga melakukan “ritual tahunan” itu dan kebersamaan dengan para sepupu yang belum tentu bisa kumpul tiap hari itu yang selalu saya nantikan.
Secara terminus dan berbagai sumber yang ada, istilah mudik berasal dari kata “udik“ yang berarti kampung atau desa. Jika diartikan secara umum bahwa mudik berarti balik atau pulang ke daerah asal. Sedangkan mudik menurut Kamus Bahasa Indonesia WJS Poerwadarminta (1976) adalah pulang ke udik atau pulang ke kampung halaman bersamaan dengan datangnya hari lebaran.
Walaupun di era modern sekarang atau yang di sebut sebagai era IPTEK (Informasi Teknologi dan Komunikasi) dengan berbagai produk atau gadget yang canggih seperti handphone, blackberry atau BBM, internet melalui jejaring sosial (facebook, twitter dll) atau fasilitas canggih lainnya, bagi saya pribadi mudik tidak bisa tergantikan, feel atau sense-nya itu sangat berbeda. Secara psikologis mudik itu juga memiliki arti penting bagi manusia itu sendiri, bahkan sebuah kebutuhan.
Begini ceritanya, perjuangan yang panjang selama sebulan penuh menjalankan ibadah puasa, pastilah menghabiskan tenaga, pikiran bahkan perasaan. Setelah berjuang sebulan penuh, jiwa akan lelah sekaligus bahagia. Raga akan kurus sekaligus sehat, maka pantaslah jiwa-raga dan juga rasa membutuhkan oase. Maka pulang kampunglah diagnosa dari rasa “haus” tersebut, yaitu dengan mudik dan berlebaran di kampung halaman menjadi terminal yang dituju tempat yang diharapkan bagi pemenuhan kebutuhan berikutnya dalam diri manusia. Artinya mudik menjadi sebuah kebutuhan dan memiliki makna tersendiri bagi manusia. Kebutuhan semacam ini menurut Abraham Maslow merupakan suatu kebutuhan mendasar bagi manusia.
Secara psikologis, setiap orang ingin berjumpa dengan masa lalunya, tanah kelahirannya, dan keluarga besarnya. Romantisme ini disebut dengan reuni, walaupun pola dan budaya silaturahimnya termasuk unik. Dalam tradisi mudik ini, kampung halaman kemudian menjadi seperti tiruan surga yang menunjukkan bahwa manusia rindu dengan “rasa kemanusiaan” mereka yang mereka tinggalkan. Perwujudan dari sebuah kekuatan dan dorongan untuk mudik memberikan isyarat adanya ruang makna kesadaran eksistensial manusia untuk melakukan perjumpaan dengan asal muasalnya atau fitrahnya. Selain itu, mudik juga bisa menjadi semacam terapi jiwa yang menguatkan hubungan kekeluargaan, yaitu semacam memiliki efek perbaikan hidup atau rehabilitasi untuk rasa kehilangan bagi mereka yang hidup jauh dari orang tua dan keluarga.
Dalam psikososial, dengan mudik juga akan terjalin proses interaksi sosial (social contact), dengan itu kita bisa meluangkan perasasaan-perasaan yang ingin di sampaikan kepada orang lain, baik itu kepada kedua orang tua tercinta dengan mengucapkan maaf lahir batin atas kesalahan yang pernah di lakukan, berbagi kepada tetangga,keluarga, maupun para sahabat ketika pada saat waktu kecil berada di kampung halaman tentunya secara langsung. Dengan aktivitas itu maka proses komunikasi terjalin akan memberikan sebuah reaksi terhadap perasaan yang ingin di sampaikan, antara lain di wujudkan dengan saling memotivasi diri, saling memberikan sugesti, di jadikan sebagai ajang sharing baik permasalahan yang bersifat pribadi maupun yang bersifat sosial.
Walaupun faktanya, di televisi atau di media massa, mudik kerapkali juga menimbulkan permasalahan rumit di dalamnya, misalnya: kemacetan, kecelakaan, kejahatan serta berbagai permasalahan sosial yang muncul hanya pada saat momen mudik ini berlangsung, namun mudik tetap merupakan sesuatu hal yang dirindukan serta menjadi suatu agenda yang direncanakan bagi sebagian orang. Ini menjadi bukti bahwa ikatan psikologis, hubungan persaudaraan yang begitu kuat betul betul ada sebagai karakter masyarakat muslim khususnya di dalam bangsa ini, mudik itu menjadi warna tersendiri pada budaya Islam di Indonesia.
Tentunya kita kalau mau mudik harus pandai untuk meminimalisir resiko dari mudik tersebut, banyak pertimbangan dan juga kesiapan yang perlu dilakukan baik dari sisi ekonomi, fisik bahkan dari sisi psikologis. Khususnya dari sisi psikologis, yaitu adanya Mindfulness atau kualitas kesadaran diri (consciousness). Ini mencakup keadaan sadar terjaga (awareness) dan perhatian (attention) yang melibatkan proses mental seperti kognisi (perencanaan-pengawasan), motivasi, dan juga keadaan emosi (Brown & Ryan, 2003).
Konsep kesadaran diri dalam psikologi humanistik menunjuk sebagai kapasitas yang dapat membuat individu mampu menempatkan, mengamati dirinya, maupun membedakan dirinya dari orang lain; serta kapasitas yang memungkinkan individu mampu menempatkan diri dalam kesadaran masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang tanpa kehilangan dirinya (May dalam Koeswara, 1988).
Atkinson dkk (1999) mengemukakan dua macam kesadaran yaitu kesadaran aktif, menitikberatkan pada proses mental dalam membuat rencana, mengambil inisiatif, dan memonitor diri sehingga akan memunculkan regulasi diri; dan kesadaran pasif, seperti kesadaran sederhana dari pikiran, emosi, penginderaan, dan kesan.
Teori kesadaran ini menarik jika diaplikasikan untuk memberi penjelasan ke dalam aktifitas mudik yang dilakukan manusia. Mudik adalah aktifitas tahunan oleh karenanya harus merupakan agenda yang sudah dirancang dan dipersiapkan jauh-jauh hari. Mudik dadakan hanya akan membuat berbagai persiapan menjadi tidak lengkap. Dari mulai jadwal keberangkatan yang mempertimbangkan kepadatan, masa mudik di kampung halaman sampai jadwal mudik balik yang juga harus mempertimbangkan berbagai hal. Kesadaran seperti ini akan membangun sebuah keinginan atau kebutuhan akan tingkat kenyamanan dan keselamatan selama perjalanan mudik.
Jadi, mudik harus berdasarkan pertimbangan yang rasional bukan hanya berdasarkan pertimbangan emosional. Semua harus dipersiapkan, diperhitungkan dan diantisipasi secara cermat. Yang penting, mudik yang dilakukan bukan karena lantaran perilaku ikut-ikutan. Mudik yang dilakukan adalah kembali merengkuh kasih sayang Allah lewat silaturrahim. Dengan mudik, insya Allah kita kembali diingatkan kembali pada jati diri manusia, bukan hanya sekedar hamba Allah, tetapi juga orang yang memberi manfaat pada sesama dan semesta.
Harapannya dengan mudik kita dapat kembali me-recharge hati dengan bersilaturrahim kepada keluarga dan teman-teman di kampung halaman. Sedangkan bagi yang tidak atau belum sempat untuk mudik, tetap bersilaturrahim dengan tetangga sekitar agar kasih sayang Allah SWT tetap tercurahkan. Selain itu, mudik juga akan menjadi titik awal lagi untuk kita semua memulai kehidupan dengan semangat baru di kemudian hari. Amin ya robbal alamin…
Puasa dan Manfaat Psikologis
Posted on: July 14, 2013
Pertama-tama, saya mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa dan ibadah-ibadah lainnya di bulan Ramadhan yang suci ini. Semoga ibadah-ibadah yang kita lakukan dalam bulan ini khususnya diterima oleh Allah SWT. Amin. #kangen… sudah lama tidak publish tulisan di blog, karena kesibukan yang sungguh luar biasa di bulan ini !banyak hal yang mesti saya kerjakan (tentunya prioritas kerjaan untuk umat mesti diidahulukan-termasuk dalam kategori pekerjaan yang urgen dan penting), lagipula sekarang tidak ada alasan buat nulis sesuatu yang “special” lagi, secara biasanya ada aja orang yang bikin “kesel” dan akhirnya perlu saya tulis di blog supaya dibaca sama kamu ;6
sebelum saya menulis, saya harus mengaku terlebih dahulu bahwa sebenarnya tulisan kali ini bukanlah sebuah bahasan yang dapat dikatakan original. Bahkan sudah sangat seringkali ditulis oleh beberapa tokoh (khususnya yang juga konsen di bidang yang sama dengan saya) tapi kembali dengan prinsip saya bahwa tiap orang itu uniq, maka tipe dan gaya penulisannya pun akan berbeda. So saya juga tidak mau dunk melewatkan moment bulan puasa untuk saya jadikan bahan tulisan, and then pastinya tulisan ini ala saya.
(berprofesi sebagai psikolog dan juga dosen yang memiliki passion di bidang tulis menulis membuat saya merasa “bertanggungjawab” untuk menulis manfaat puasa dari sisi psikologis, up to date untuk dimasukkan dalam blog saya ditambah saya lagi giat-giatnya berusaha untuk (selalu) mengintegrasikan ilmu psikologi dan islam, saya juga masih ingat apa yang pernah dikatakan oleh dosen saya pak Fuad Nashori kata beliau “mengintegrasikan dua hal yang berbeda bukanlah hal yang mudah, tapi kita harus coba apalagi kalau sudah terkait dengan agama kita dan ilmu pengetahuan ” , heheh, yaa..walaupun tulisan saya ini jauh dari yang namanya kesempurnaan! tapi namanya juga usaha! toh saya menulis tiap kata yang dirangkai kalimat per kalimatnya dari hati kok! semoga bermanfaat)
oke, mari kita mulai…Marhaban Yaa Ramadhan… kedatangan bulan Ramadhan tentunya disambut dengan gembira oleh umat Islam, tidak terkecuali di daerah saya, di kota Banjarmasin. Ibadah puasa yang kita lakukan di bulan suci ini termasuk aturan Allah yang wajib hukumnya dijalankan oleh setiap muslim. Hal ini sebagaimana diungkapkan dalam Al-qur’an surat Al-Baqarah ayat 183:
“Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum agar kamu bertaqwa” (QS.2:183)
Namun, tulisan kali ini tentunya tidak akan membahas tentang puasa dari sisi agama Islam atau berbicara masalah fiqih puasa *saya bukan ahlinya, tapi lebih bagaimana manfaat puasa itu bagi kesehatan psikologis kita.
Agama Islam adalah agama yang begitu sempurna, Islam tidak akan mensyari’atkan kecuali ada hikmahnya atau manfaatnya yang dapat kita dapatkan (itu apabila kita mau). Sebagaimana apa yang telah diciptakan Allah SWT atas segala sesuatunya pasti ada hikmahnya, begitu pula dengan puasa yang kita lakukan selama satu bulan penuh ini. Puasa, terlepas dari bentuk kewajiban (keimanan) kita kepada Allah SWT juga bermanfaat bagi kesehatan manusia. Kita mungkin sering mendengar kalimat “berpuasalah maka niscaya kamu sehat”, bukan begitu?. Dari sisi kesehatan fisik seringkali di ulas, misalnya bagaimana puasa dapat memperbaiki kesehatan sistem tubuh, antara lain mengurangi tekanan darat atau kolesterol, selain itu juga puasa dapat membuat kita terkontrol dalam makan minum dan lain sebagainya, tapi tahukah anda? ternyata puasa juga memiliki manfaat untuk kesehatan psikologis kita.
Puasa atau shaum secara umum menurut bahasa dapat diartikan adalah pengendalian nafsu (diri). lebih spesifik lagi puasa juga dapat diartikan menahan diri baik itu menahan diri dari makan minum, merokok, berkata kotor, bersetubuh sejak terbit fajar sampai terbenam matahari. Rasulullah juga semakin menegaskan bahwa puasa tidak hanya menahan diri dari dorongan nafsu makan dan minum serta syahwat saja namun semua organ tubuh yaitu pikiran dan hati juga dalam kendali, dimana tali kendali itu sebagai jalan untuk menciptakan kebaikan. Jadi selama berpuasa khususnya di bulan Ramadhan yang suci ini kita harus memperbanyak kebaikan, termasuk dalam kebaikan untuk mengembangkan kepribadian kita dan kalau sudah berbicara masalah kepribadian maka ini masuk kedalam dimensi psikologis. Right?
Manfaat puasa bagi kesehatan jasmani atau fisik sebenarnya juga secara langsung implikasinya akan sampai kepada kesehatan psikis atau jiwa kita. Hal ini sejalan dengan temuan-temuan di bidang medis khususnya di dunia kedokteran jiwa bahwasanya puasa dapat meningkatkan kecerdasan emosi manusia (Hadziq:2005). Berbicara masalah kecerdasan emosi maka yang muncul adalah hal yang positif dalam aspek-aspek kecerdasan emosi mis: pengelolaan emosi, motivasi diri dan lainnya. Selama kita berpuasa sesungguhnya kita sedang membiasakan diri kita untuk bersabar atau ini juga masuk kedalam bentuk regulasi diri atau pengaturan diri. Kecerdasan emosi (EQ) ini nantinya akan sangat mendukung kesuksesan atau keberhasilan hidup (menurut penelitian 80% EQ jauh lebih berperan dibandingkan dengan IQ seseorang yang hanya sekitar 20% pengaruhnya dalam keberhasilan hidup).
Bahkan lebih jauh lagi, puasa dapat dijadikan sebagai bentuk terapi untuk menangani gangguan jiwa (Cott:1977). Selain itu kecemasan yang dirasakan manusia dapat disembuhkan dengan cara puasa, begitu pula dengan penyakit-penyakit psikologi lainnya antara lain insomnia atau gangguan tidur. Dalam sebuah penelitian kepercayaan diri dan konsep diri yang optimis juga dapat ditingkatkan dengan ibadah puasa (Nashori:2005), luar biasa bukan?! semuanya itu adalah indikator dari mental yang sehat sehingga tidak rapuh dalam menghadapi tantangan hidup yang besar.
Dari buku yang pernah saya baca judulnya tentang psikologi islami, puasa juga mempengaruhi tingkat kecerdasan seseorang yang dikaitkan dengan prestasi belajarnya. Dalam dimensi psikososial puasa juga mengajarkan kita cara berempati yaitu prose merasakan dapa yang orang lain rasakan melalui penghayatan tidak makan dan tidak minum.
Puasa merupakan pendidikan dan cara kita untuk meluruskan jiwa. Hakikat puasa pada dasarnya adalah pengembangan kepribadian kita (sisi aspek emosi, sosial, tingkah laku dan juga pola pikir/kognisi).
Semoga kita memperoleh manfaat dari berpuasa. Amin.
Simple About LOVE and MARRIAGE…
Posted on: June 23, 2013
Assalamu’alaikum wr.wb.!
Tulisan ini “fresh from the oven”, maksudnya benar-benar hasil obrolan barusan, dini hari tadi, sembari sahur bersama ayahnda dan ibunda tercinta *by the way tidak terasa sebentar lagi kita akan memasuki bulan suci Ramadhan (bulan puasa), saya langsung melempar memory jauh kebelakang, sahur bersama adalah saat-saat yang selalu saya nantikan, dimana biasanya personil keluarga saya akan berkumpul dengan lengkap, dan hal itu adalah sesuatu yang benar-benar tidak ternilai harganya! *kangen adik-adik saya, tapi tahun ini kami tidak bisa berkumpul dengan lengkap, yang satu masih sibuk KKN-nya (baru start malah), sedangkan yang satu, tentu saja sangat sulit untuk mendapatkan izin dari kanitnya, tapi saya yakin mereka juga akan merindukan moment ini.
Biasanya, sambil menikmati sahur, ustadzah dadakan akan langsung beraksi alias ibunda saya, beliau akan memberikan ceramah atau kultum di meja makan (materinya biasanya diperoleh dari hasil pengajian yang diikuti beliau, disore hari selama bulan puasa di mesjid deket rumah atau ceramah-ceramah di televisi) tentunya menjadi sebuah pelajaran tambahan menarik dan “menghibur” karena ibunda saya akan membawakan dengan sangat ekpresif dan sesuai dengan stylenya, tapi tetap nyantol-lah di kepala isi ceramahnya, (thanks maa… love you)
Trending topicnya hari ini tentang Cinta.
Selama ini saya dan keluarga selalu nyaman membicarakan masalah cinta, karena cinta itu peristiwa yang alamiah dan sangat manusiawi, saya pikir malah cinta itu anugerah, justru cintalah yang memanusiakan manusia, sama halnya dengan konsep pendekatan dalam psikologi humanistik, bahwa cinta dan kasih sayang masuk ke dalam hierarki kebutuhan manusia (by:Maslow). Kalau dalam islam (terus usaha dong untuk selalu mengintegrasikan keduanya) cinta itu adalah fitrah manusia, bagian dari naluri manusia. Lagipula setahu saya islam tidak mengharamkan cinta, tapi cinta dalam islam akan diarahkan, agar cinta berjalan pada koridor yang semestinya. So… kesimpulannya cinta itu adalah anugerah. Allah yang karuniakan, Allah yang menjadikan rasa cinta dalam diri kita, tapi…. Remember this! Cinta itu universal maksudnya makna cinta itu luaaas sekali tidak hanya sekedar disempitkan dengan nafsu atau syahwat belaka! Okelah cinta dengan lawan jenis, tapi tidak sebatas itu saja kita bisa saja cinta pada orangtua, saudara sesama manusia dan segala sesuatunya (tentunya cinta kita kepada Allah swt dan Rasullullah saw juga agama kita sebagai penunjuk arah dalam kehidupan tetap berada dipuncak utama) # saya sendiri malah tiap hari jatuh cintanya… insyaAllah, jatuh cinta dengan kehidupan yang Allah berikan untuk saya *life is beautiful.
Obrolan kami bermula dari sebuah pertanyaan dari ibunda saya tentang seseorang yang selama ini menjadi tokoh utama dalam cerita saya. “udah sampe mana…? Kapan diajak ke rumah…?” Pertanyaan yang sifatnya langsung dan udah terlalu sering, to the point! (untuk jawaban yang saya berikan saat itu, mohon maaf tidak saya tuliskan di dalam blog karena terlalu privacy sifatnya).
Intinya begini, dalam keluarga saya membicarakan tentang lawan jenis, menjadi hal yang biasa. Kami selalu terbuka membicarakan dengan siapa kami suka dan dengan siapa kami tidak suka, namun tentu saja kami juga diwajibkan untuk mampu menjaga hubungan dengan lawan jenis secara benar! Artinya harus selalu menjaga kehormatan baik kehormatan pribadi dan juga keluarga, dan mutlak tetap berada di koridor jalur-Nya, Allah swt dan aturan agama Islam.
Saya sendiri, jujur selama ini jarang (tapi bukan berarti tidak pernah) yang namanya jatuh cinta! Saya bilang sih jatuh cinta itu adalah sebuah rasa yang bisa tiba-tiba ada aja. Ajaib. Jatuh cinta itu memang sesuatu yang menyenangkan dan percaya tidak percaya menghasilkan energi yang luar biasa. Jatuh cinta itu bagi saya tidak semudah membalikkan telapak tangan kita! (begitu juga sebaliknya, proses melupakan dan sembuh dari patah hati, itu juga butuh proses yang lama, tapi jangan kapok jatuh cinta, karena rasa perih yang pernah dialami adalah jalan yang benar menuju kedewasaan, artinya kita mau naik level).
Jatuh cinta bagi sebagian orang mungkin very easy, tapi tidak bagi saya, prosesnya jatuh cinta itu menurut saya rumit dan butuh sinyal dari Allah. Degupnya datang kalau di izinkan sama Allah. Cinta itu adalah masalah rasa! Cinta memang sulit di tebak datangnya, ia juga tidak memilih korbannya, karena hati tidak memilih tapi dipilih (kutipan perahu kertas, Dee) * walaupun jujur saya akui, sometimes status jomblo sejak SMA sampe kelar kuliah (S1) membuat saya kesel dan merasa sedikit terintimidasi juga, tapi saya pikir So what?! emang kenapa kalau jomblo? saya sering bilang ke mereka “jomblo itu bukan nasib tapi pilihan hidup!” dan jangan “jual” diri terlalu rendah, karena hanya berdasarkan tekanan dari lingkungan sekitar.
Cinta itu adalah (proses) belajar, selamanya… belajar penyesuaian diri, bahkan tidak akan selesai sampai kita menikah. Kita jatuh cinta dan menjalin hubungan tujuannya pastinya ingin menikah (setidaknya itu prinsip saya), walaupun memantapkan diri untuk melangkah menuju pernikahan bukanlah keputusan yang bisa diambil dalam waktu sekejap. Menikah itu sebuah komitmen jangka panjang yang mempunyai berbagai macam konsekuensi. Banyak hal yang perlu dipersiapkan, dari sisi psikologis terutama, antara lain kematangan emosional atau kedewasaan emosional *saya sendiri sebagai psikolog kerapkali juga tidak bisa mengatakan diri memiliki kecerdasan emosi yang tinggi, masih perlu banyak belajar dan terus melakukan refleksi diri. Selain itu yang terus ditekankan oleh orangtua saya selama ini, pernikahan itu butuh yang namanya keterbukaan! Komunikasikan secara jujur! *kembali lagi men from Mars and women from Venus jadi perlu banyak melakukan komunikasi terbuka, supaya tidak terjadi miscommunication.
Ada lagi? tidak dapat dipungkiri menikah juga membutuhkan yang namanya kemampuan finansial, namun disini tidak diartikan sempit. Yah paling tidak bisa diartikan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan uang yang terbatas tanpa sokongan dari orangtua. Kemampuan finansial disini juga butuh yang namanya pembicaraan khusus dengan pasangan, artinya terciptanya sebuah kompromi dalam mengelola bersama pemasukan yang didapatkan tiap bulannya, kemampuan untuk menabung dan menahan diri untuk tidak membeli barang yang tidak dibutuhkan, dan juga kemampuan untuk mencari investasi masa depan..
Pernikahan itu penuh dengan dinamika dan sifatnya juga fluktuasi #katenya…, kadang seperti roda kehidupan, kadang kita berada di atas (bahagia), kadang kita berada di bawah (menghadapi masalah). Maka saling motivasi untuk mempertahankan hubungan juga perlu dalam pernikahan, agar seperti apa pun situasinya, pernikahan yang dijalani tetap terjaga. Proses mengenali pasangan dalam pernikahan itu berlangsung seumur hidup namun yang paling penting dari hal di atas yaitu menikah memiliki tujuan ibadah, Cinta antar manusia itu tetap harus berada dibawah cinta kita kepada Allah dan Rasulullah. Have you?
“Mensyukuri cinta-NYA dengan mencintai makhluk ciptaan-NYA…”
Wassalam.
who am I ?
Posted on: June 17, 2013
Assalamu’alaikum Wb. Wb.
Pukul 03.00 am
Selamat dini hariii… selamat hari Senin # hari ini kepagian bangunnya, gara-gara tidurnya juga terlalu pagi *merasa capek dan alhasil ngga bisa tidur lagi…, tapi Alhamdulillah saya jadi punya banyak waktu buat menulis dan bikin bahan buat kuliah, tapi kali ini seriusan, mencoba untuk lebih religius tulisannya, halah..
Dari Lisan Nabi Mulia….
“Allah mengenali seseorang yang mengenali kadar kemampuan dirinya”
Dari hadist di atas maka sudah bisa tebak, pada hari ini saya akan menulis tentang sebuah topik yang tidak bisa dikatakan up date sih (karena sebenarnya saya sendiri sudah seringkali membawakan materi ini di seminar kecil atau pelatihan-pelatihan buat para remaja khususnya, tapi kali ini saya akan membahasnya lebih kental dengan nuansa keislamannya, yaaah hitung-hitung salah satu usaha saya juga untuk menintegrasikan psikologi dan islam, InsyaAllah, walaupun masih jauh dari sempurna, namanya juga masih berusaha) *Lagipula judul (pertanyaan) di atas perlu kita terus tanyakan pada diri kita termasuk saya sendiri, baik di awal masa kehidupan (maksudnya ketika kita sudah mampu menggunakan anugerah akal) sampai akhir kehidupan kita.
Oke let’s talk about who am i? kali ini berbicara masalah “mengenal diri” *topik ini sebenarnya baru beberapa hari yang lalu saya dijadikan tema untuk mengisi program acara religi di RRI, kebetulan dapat “jatah dadakan” dari Fakultas, tapi tulisan ini disederhanakan dari apa yang sudah dishared kan kemarin. Sejauh mana kamu mengenal dirimu ?
Diawali dengan berbicara masalah penciptaan manusia, manusia itu merupakan makhluk hidup ciptaan Allah yang berbeda dengan mahkluk lainnya, ia dibekali dengan berbagai potensi atau fitrah *bahasa agama saya. Anugerah berupa potensi itu pastinya berbeda-beda satu sama lainnya, kalau saya bilang manusia itu punya keunikan masing-masing tentu saja potensi istimewa ini harus ditumbuh-kembangkan secara optimal melalui proses sepanjang hayat atau sampai kita meninggal dunia, Why? karena masih merupakan potensi maka fitrah yang ada itu belum berarti perlu dikembangkan, diasah, didayagunakan dan diaktualisasikan. Ibaratnya sebuah bongkahan batu, akan tetap menjadi sebuah bongkahan batu kalau tidak kita pahat, di ukir atau diapain ke’ yang pasti perlu kita temukan dulu ide, kemudian di bentuk dan ciptakan, maka akan menjadi sebuah karya seni yang bernilai tinggi.
Manusia sebagai mahluk ciptaan Allah idealnya diciptakan memang harus mampu untuk mengembangkan dirinya sendiri dan juga mampu untuk meningkatkan kualitas hidup dengan segala kelebihannya juga meminimalkan kekurangannya, bukan begitu? Ini bentuk ikhtiar manusia lo… Modal awalnya yaitu dimulai dari pertanyaan “Who Am I?”, ketika kita mulai bertanya “siapa diri kita?” maka kita secara otomatis akan mencari jawaban dan berusaha untuk mencari tahu tentang diri kita, pada akhirnya akan sampai pada mengenal diri atau lebih dalam lagi yaitu memahami diri sendiri sehingga logikanya ketika kita sudah mengerti tentang diri kita, harapannya akan mudah untuk menentukan arah untuk mencapai tujuan-tujuan dalam kehidupan sesuai dengan apa yang kita miliki (potensi).
Kalau dalam istilah psikologinya mengenal diri ini disebut dengan Self Awareness ; dimana sebuah proses pengenalan diri dengan diawali membuka diri dan melakukan identifikasi terhadap diri kita *Identifikasi banyak hal dari dalam diri kita mulai dari perasaan, pikiran, minat, bakat, kekuatan dan kelemahan, nilai-nilai, ketrampilan dan kemampuan yang dimiliki dan lain sebagainya, pokoknya yang ada dalam diri kita. Dengan self awareness maka akan menunjang efektifitas dalam kehidupan kita. Seperti orang bijak mengatakan: “kita haruslah menyelidiki diri kita untuk menemukan anugerah dan kelemahan kemudian belajar mengatasinya” .
Tapi jangan senang dulu, kalau kita merasa sudah mengenal diri kita, karena proses mengenal diri itu tidak instan sifatnya…oke lah ada yang namanya psikotes (tes psikologi), yang memang salah satu metode untuk lebih mudah mengenal diri, tapi saya sebagai psikolog mengatakan hasil psikotes sifatnya hanya sebuah prediksi, artinya apa yang dipaparkan dalam hasil psikotes itu bisa mengalami perubahan kalau kita mau (khususnya dibagian sikap dan perilaku/kepribadian), kita juga yang nantinya berperan sebagai yang punya diri dalam mengembangkannya potensi yang sudah dipaparkan dalam psikotes tersebut.
Proses memahami diri harus terus menerus dilakukan prosesnya, karena tiap kalinya dalam proses itu kita kadang lupa esensinya (baik karena ego, kurang percaya diri dll). “Ada 3 hal yang sangat KERAS; besi baja, berlian dan memahami diri “ Benjamin Franklin
Sekarang lanjut pada pertanyaannya, How? Bagaimana caranya untuk mengenal diri secara utuh? Jawabannya sering-sering melakukan Evaluasi diri atau Refleksi diri atau Intropeksi diri kata lainnya, everyday!. Rasulullah saw pernah bersabda: “Selama seseorang tidak pernah mengintropeksi dirinya, maka ia bukanlah orang yang dikategorikan sebagai yang bertakwa, dan seseorang yang tidak mengintropeksi dirinya, tidak bisa dianggap sebagai seorang mukmin“. Tapi tidak hanya itu karena banyak aaja orang merasa mengenal kepribadian mereka, mereka seolah-olah memahami diri sendiri atas nama sudah melakukan intropeksi diri, padahal belum tentu apa yang mereka tahu dari diri itu adalah benar. Maka dari itu Allah menciptakan manusia itu sebagai mahluk sosial, membutuhkan orang lain karena orang-orang lain itu juga turut andil dalam proses kita untuk mengenali diri, kita butuh yang namanya pemberian umpan balik (feed back) dari mereka. Cara ini digunakan dengan menggunakan persepsi orang lain/ penilaian terhadap diri kita (baik perilaku, sikap atau kelebihan, kekurangan dan lain sebagainya) dan ingat kita harus legowo, jangan menjadi tertutup atau blocking duluan.
“Bagian yang paling menakutkan dan sekaligus menyulitkan adalah menerima diri sendiri secara utuh, dan yang paling sulit dibuka adalah pikiran diri yang tertutup!” anonim
* Biasanya dalam menyampaikan materi saya akan menyampaikan konsep tentang JOHARI WINDOWs, yaitu kerangka analisis hubungan yang menggambarkan sebuah jendela. Jendela itu terdiri dari empat bagian yang bahwasanya memang ada beberapa hal tentang kita yang hanya kita tahu, tidak ada orang lain yang tahu, tapi ada juga beberapa hal tentang kita yang sama-sama diketahui oleh diri kita sendiri dan orang lain eh… tapi ada beberapa hal tentang kita yang hanya diketahui oleh orang lain, diri kita sendiri tidak tahu tentang hal-hal tersebut dan terakhir ada beberapa hal tentang kita yang sama-sama tidak diketahui baik oleh diri kita sendiri atau oleh orang lain di sekitar kita (masalah Ilahiah).
Intinya proses mengenal diri itu dimulai dengan membuka diri mu (menjadi orang yang open minded) yaitu dengan mempercayai oranglain dan mengutarakan informasi diri kepada oranglain sehingga ada masukan bagi kita sehingga harapanya dengan umpan balik itu kita pun mau merubah diri kita kearah yang lebih baik.
So sudah siap kah anda mendengar kritikan dan mulai perubahan ke arah yang lebih positif? Mengutip kata-kata Aa Gym, bahwa kalau mau melakukan perubahan terhadap diri sendiri dimulai dari 3 M; Mulai saat ini , Mulai dari diri dan Mulai dari yang kecil. InsyaAllah.
“Man ‘arofa Nafsahu Faqod ‘Arofa Robbahu”
“barang siapa yang mengenal dirinya, maka ia (juga) mengenal tuhannya”
Semoga kita selalu berusaha untuk menjadi hamba Allah yang terbaik tentunya mengenal Allah dimulai dari dirimu, bagaimana caramu mengenal dirimu (kehambaan mu kepada Allah)
Oke, Semoga Berkah.Wassalam.
Assalamualaikum wr.wb.
Malam… # lagi sedih banget…efek siang tadi dikampus bersama mereka! *mahasiswa/i
Note di bawah ini barusan saya baca ulang di my note di Fb saya… *seringkali saya membaca (harus) ulang semua tulisan yang saya tulis agar saya terus ingat dengan kalimat-kalimat yang pernah saya tuliskan disetiap kejadian atau peristiwa dalam kehidupan saya, intinya agar saya selalu ingat dengan masalah yang pernah saya hadapi dan bagaimana cara saya menyelesaikannya (ini juga alasan yang membuat saya ingin sekali menerbitkan tulisan-tulisan saya menjadi sebuah buku, tentunya sebagai panduan saya dan harapannya bisa bermanfaat untuk orang banyak, tapi masih belum siap untuk terbit karena saya masih ingin tulisan-tulisan saya sarat akan nilai keislaman tentunya berpedoman pada Al-Qur’an dan Hadits).
Akhir-akhir ini saya juga mengalami banyak kegalauan, walaupun kegalauan itu jarang saya tunjukkan didepan umum, karena pada dasarnya saya selalu berusaha untuk tetap ceria.. katanya sih punya karakter tangguh *padahal saya merasa sangat biasa saja…, sederhana saja yang saya pikirkan, kalau saya menunjukkan sisi lemah saya sebagai manusia, kasian yang lihat, karena saya percaya badmood dan kegalauan itu sifatnya cepat sekali menular! dan saya tidak mau menularkan energi negatif ke orang lain. Tapi kembali lagi saya hanya manusia biasa yang juga punya sisi kelemahan.
Refleksi Diri :
Today, 1 Januari 2013
Hei, gals! Cukup lama nieh g nerbitin note, note kali ini ceritanyee edisi curhat si penulis, I just want to share about my thingking and my feeling sebagai first step saya memasuki tahun 2013, you know what, why i publish this note, cause of you Allah…, sebagai bentuk terimakasih dan kebersyukuran, karena tahun lalu merupakan tahun penuh keindahan bagi saya, banyak beautiful stories about Allah dan saya ( سُبْحَانَ اللّهُ pokoknya). Saya merasa tahun lalu adalah tahun dimana saya merasa paling deket dengan Allah dibandingkan dengan tahun2 sebelumnya (semoga tiap tahunnya saya makin dekat dengan Allah, makin rajin ibadahnya dan ttp istiqomah,آمينَ ).
Okey, the first, its all about last years,
Setelah tahun 2011 berlalu dan lewat (saya bilang sih tahun itu adalah tahun penuh dgn kegalauan..#sok gaul, setingkat dewa malah, over dosis malah, eaa lebay Yul…,believe or not but its truly..,down time and saya sibuk menyalahkan diri sendiri, tp eetss..udh lewaaat..ˆ⌣ˆ ), ketika detik-detiknya memasuki tahun 2012, saya mulai dengan planing yg baru yang mana listnya banyak melibatkan Allah di dalamnya. Saya pikir saya mmg perlu pembuktian nyata, take the action! Saya berusaha untuk konsisten dengan apa yang saya putuskan (tentunya ini stlh sekian hari saya konsultasi dgn Beliau dan memantapkan hati), lagipula bukannya Allah suka dengan kekonsistenan,right?!. Saya berusaha menyelesaikan Unfinished business ditahun 2011, and then it was done!
Banyak hal yg saya pelajari tiap harinya di tahun 2012 (Allah mengirimkan org2 hebat.., yg banyak memberi saya pengalaman (makasih temen2,kaka2, bapak2, ibu2) dan pencerahan atau insight, Alhamdulillah.., itu pastinya krn Allah). Saya menikmati prosesnya, saya mulai menyadari bahwa namanya hidup, ada aja kok masalahnya, so jgn pernh merasa paling menderitaa deeh.. #saya sering bilang statement ini sama mahasiswa2 saya, hehehe, pleasee deh ibuu..#itu komentar mereka..,”bukannya tiap masalah ada jalan keluarnya” itu jawaban saya..(jelas kok sdh ada di ayat Al-Insyirooh), No problem of human destiny is beyond human beings (John F.Kennedy). Tahun 2012 juga mengajarkan saya betapa pentingnya peranan keluarga dalam kehidupan saya. Mereka (selain Allah) adalah tempat saya kembali, akhirnya… Dan saya (sdh ribuan kali saya sadar) memiliki keluarga yang Luar Biasa hebat, anugerah terindah.
Saya menikmati perjalannya.. Hidup Tak hanya berorientasi pada hasil,juga menikmati proses. Itu yg paling penting.
Dan saya sampai pada akhirnya ke akhir tahun 2012, ternyata benar rasa sakit adalah jalan yang benar menuju kedewasaan. Hidup ini tak selalu indah, seperti dongeng, ada pediihnya, ada periihnya yg perlu kita lalui, jika kita tabah dan sabar menjalani dan menyelesaikannya, maka kita akan naik kelas!. Ada ‘kejutan2’ dan ‘ternyata2’ and then setelahnya kita akan bilang ‘Ooow’ sambil bersyukur. Ternyata apa yg telah terjadi bnr2 yg kita butuhkan!
Second, simple tips for this years
Mumpung masih awal tahun, let, come on, we can make daftar list wish kita, lalu sambil ikhtiar dan doa, kita wujudkan satu demi satu, target itu perlu dalam hidup! Agar kita lebih tahu arah dan mempersiapkan apa yg perlu kita siapkan utk mencapai target itu, tapi ingat segala sesuatunya butuh proses (DUIT: doa,usaha,ikhtiar,tawakal), not instan!
Truss selalu berpikir positive,Bersikap yakin dan percaya kepada Allah,
Intinya utk tahun depan kita hanya perlu bersyukur ditiap moment yg akan kita hadapi, ubah mindset kita ttg masalah,tiap harinya kita hanya perlu merasa menjadi org beruntung! Masalah mmg membuat kita beralasn utk membenci kehidupan, tapi ternyata masih lebih banyak alasan untuk mencintai kehidupaan. So hidup adalah pilihan, dan pilihan itu kamu yg punya diri yg menentukan!!
Life is choice,, complaining , its not helping
Yang membuat kita baik adalah diri kita sendiri,Tetap tawadu’
“Selamat memasuki tahun baru #penambahan satu angka lg,selamat jatuh cinta kawan, jatuh cinta pada kehidupan”
Catatan;
Jagalah Allah, maka Allah akan menjagamu
Kalaupun Hasil Yang kita Usahakan masih Jauh dari Harapan , Usah kita berkecil hati…Tetap HUZNUDZON apapun yg terjadi..Berbaik sangkalah selalu kepada ALLAH….”Inna tawakaltu ‘alal hayyil ladzi la yamutu, la hawla wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adhim.
Wss.
“memasuki tahun 2013, ternyata banyak hal juga yang terjadi, banyak hal-hal ajaib yang hadir, tapi juga banyak hal-hal yang tidak terduga, namun tetap yakin Yul,, semua pasti akan baik-baik saja, ada Allah…” amin.
Wassalam.
Assalamu’alaikum wr.wb…
Pagiii Hari Senin….,(lagi self talk; love Monday Yul…, don’t hate Monday. Just Enjoy and let it flow…) Weekend ini seneng banget! because totally, I just stayed at my home! *walaupun Sabtu kemarin kerjaannya cuma tidur-tiduran dikasur dan baca buku *sengaja off dari kerjaan, lagi ngga enak body banget but its okey… itu tanda-tanda “alarm” dalam tubuh, kalau saya harus istirahat… tapi intinya tetap aja selalu menyenangkan ketika bisa berada di rumah full time dan saya sangat menikmati tiap menitnya, Me-Time!
Tulisan ini kali sederhana saja tentang yang saya pikirkan dan saya rasakan khususnya weekend kemarin * ini juga saya tulis spontan dipagi ini, karena niat saya yang ingiiin sekali bisa konsisten menulis tiap harinya…, jadi apapun settingannya bisa jadi tema (pelajaran) yang luar biasa, pokokya nulis aja, hehe *maunyaa… # eh… weekend ini saya juga lagi sebel sama seseorang yang ‘special’ itu, saya sengaja tidak melakukan first move apapun, kenapa coba dia cenderung menunggu momentum! Bukannya momentum itu bisa diciptakan oleh kita? kata Allah manusia wajib berusaha bukan haya menunggu kesempatan… biasanya weekend selalu ada kabar, berarti worries saya yang segede gaban untuk dia cuma sepihak aja, bertepuk sebelah tangan dunk jadinya.., hiks, jadi males ah ngomonginnya…
Back to the main topic, Oke, lets go… agenda di early morning nya Sunday kemarin, diawali dengan menemani ibunda tercinta, yaitu pergi “refreshing”* ke pasar tradisional dekat rumah (ini kegiatan cewek banget ya bo! perempuan sepintar apapun kata ibu saya ujung-ujungnya ke dapur juga Yul…) *refreshing karena bisa melihat dunia lain dari dunia yang biasanya saya lihat.
Dipasar tradisional yang penuh dengan hiruk pikuk, dinamikanya yang bergejolak dan pastinya akan kita temukan kumpulan orang-orang dengan pribadinya masing-masing baik penjual atau pembeli, bukan begitu? sebenarnya dipasar tradisional sekalipun bisa memberikan kita banyak pelajaran-pelajaran penting yang belum tentu kita dapatkan di sekolah formal bukannya hidup ini belajar, mempelajari banyak hal dari kehidupan tentunya akan banyak kebaikan yang juga bisa sebarkan termasuk dipasar sekalipun. There’re many lessons in your life and then its can be opportunities to grow up. Bukannya hidup akan lebih bermakna dan berbahagia, jika segala hal dapat menjadi perenungan bagi kita.
# Saya sendiri sudah puluhan kali ke pasar tradisional khususnya yang lokasinya berada dekat rumah dan otomatis juga banyak melakukan observasi tentang orang dan lingkungan yang ada dipasar ini. Banyak hal-hal yang bisa saya amati, apalagi saya termasuk orang yang selalu percaya setiap kehidupan itu menarik. Karena itu saya jatuh cinta pada kehidupan yang Allah berikan setiap harinya, amin.
Pemirsa! walaupun zaman sudah modern, tapi masih banyak masyarakat kita yang sering mengunjungi pasar tradisional untuk berbelanja, karena pada dasarnya “pesona” pasar tradisional tak akan padam, tetap akan eksis selamanyaaa…., padahal tahu sendiri, biasanya yang namanya pasar tradisional itu identik dengan kumuh, panas, bau dan becek, serta preman yang bergentayangan #kalau ini lebay! dibandingkan dengan supermarket kita akan melihat warna-warni yang cerah dengan cahaya lampu yang begitu terang terus wangi lagi dan ketika melewati stand makanan seperti roti atau kue, aromanya akan tercium sangat nikmat sekali dan makanan disajikan fresh from oven, ngileer… halah… alasannya kenapa ? karena dipasar tradisonal harga barang-barangnya (relatif) murah! Lagipula dipasar tradisional kita akan mendapatkan banyak pelajaran banyak, antara lain:
Bargaining! “keakraban” ini yang tidak akan didapatkan dilain tempat, yaitu interaksi antara penjual dan pembeli dengan tradisi tawar-menawar harga, ini memang menjadi ciri khas pasar tradisional, kalau sudah masuk bagian ini, biasanya saya akan mundur teratur…, saya persilahkan dengan hormat kepada ibunda saya yang maju! #secara jago banget nawarnya!. Menurut saya dalam melakukan tawar menawar itu butuh “keahlian” atau strategi dan “keberanian” dan saya tidak memiliki keduanya! *payah yaa.., kata ibu saya turunan dari ayah saya, parah… saya paling ngga tega, apalagi kalau yang jualan lebih tua. Tapi saya mau belajar kok! karena pada akhirnya tawar menawar harga adalah “kekhasan belanja dari seorang perempuan” dan dapat lebih murah di pasar tradisional itu bukannya wajib hukumnya. Tapi ingat tetap harus tawar menawar dengan bahasa yang sopan, secara… seringkali tawar menawar melibatkan adu urat! Hadeh.. ini yang saya paling hindari, buat apa? pemborosan energy kalau saya bilang! Maka pelajaran kedua, Ingat!! Jangan pernah ke pasar dalam keadaan lapar karena ketika lapar maka cenderung akan emosional, biasanya akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
*seharusnya memang idealnya secara teoritis saya harus sudah menguasai ilmu tawar menawar ini karena saya berlatar belakang pendidikan psikologi, selama saya berhubungan dengan manusia maka pendekatan psikologis bisa digunakan termasuk tawar menawar dipasar.
Tidak cuma itu, dipasar tradisional khususnya bagi para pedagang juga menjadi sebuah ‘tantangan’tersendiri bagaimana mereka berdagang sesuai dengan adab dan etika transaksi (maksudnya berjualan dengan cara yang halal), mengikuti tata karma dalam jual beli dalam agama islam sudah ada dengan jelas. Pesan buat para pedagang “Hidup itu rangkaian pilihan lengkap dengan konsekuensi logis, kalau saya pikir ikuti saja hati nurani”
Dipasar tradisional kita juga bisa olahraga gratis! karena kita akan mengeluarkan lebih banyak keringat! Artinya secara tidak langsung kita sehat! Berkeliling di area pasar otomatis kita berolahraga bukan? Dengan berjalan kaki tubuh, otomatis kalori akan terbakar! Ditambah suasananya dan juga pengap karena banyak orang atau pengunjung pasar (apalagi hari minggu kemarin *hari pasar) maka diperlukan energy yang cukup. So nikmati waktu olahragamu, ayo hidup sehat!
Selain itu dari sisi lain, dipasar juga akan terjalin tali silaturahim! Beberapa kali saya kepasar, saya pasti ketemu teman-teman saya atau temen-temen ibu saya! Ya paling ngga itung-itung memperpanjang umur dan membuka pintu rejeki serta ibadah.., lha iya dunk… , otomatis ketemu orang yang dikenal dan ngasih senyum aja bukannya sudah masuk ibadah? . Dipasar kita juga belajar untuk mengasah kepekaan kita khususnya empati kita. Tidak jarang kita temukan orang-orang yang bisa menjadi ladang amal bagi kita *mari berbagi, sayang kalau dilewatkan! # luar biasakan, tampaknya sangat sederhana, tapi kita bisa mendapatkan pahala segitu banyaknya coba.
Semoga berkah.selamat hari Senin. Wasalam.
Assalamu’alaikum wr. wb.
Pagiii dini hari # pukul 04.00 Wita, menunggu subuh,
Hei..hei.., kali ini mau bahas soal taneman, alaah,.. hehe, ini juga gara-gara tadi siang ka Barak bilang klo barang “mati’ malah ngga bisa dijagain dengan baik… secara Hpmu rusak! flashdiskmu jugaa.. trus apalagi sekarang…. ckck, ” yulia..yulia..” *biasanya bilang sambil geleng-geleng kepala, ntar ujung-ujungnya saya dibelain sama Bu Mul… ” tapi kan klo benda hidup dijagain dengan baik sama Yulia..” love you full bu Mul. hahaha, cerita di atas pembuka dari tema yang akan saya tulis pada hari ini, eh jangan salah ini juga kerap ditanyain sama mahasiswa… “rajin banget bu nyiramnya?” ini soal hablun minal ‘alam! sahut saya dengan yakin!hihihi sok-sok-an *berat-berat.
oke, lets go…
Siang kemarin, dikelas pengantar psikologi, lagi diskusi soal manusia! #sebenarnya kalau boleh jujur nie ya… kelas pengantar psikologi adalah kelas yang paling saya “takuti”, saya biasanya harus mempersiapkan amunisi lebih (nanya dulu ama Bu mul atau Ka Barak atau goongling soal Ayat Al-Qur’an atau Hadis atau hal lain yang mungkin bisa menjadi referensi) kalau mengajar dikelas ini, Why? karena ini mata kuliah lintas jurusan, jadi semua mahasiswanya berasal dari berbagai jurusan di Fakultas Ushuluddin (Perbandingan Agama, Aqidah Filasaf, Tafsir Hadis *kelas reguler dan PKU, dan juga Psikologi Islam pastinya) melebur jadi satu, dengerin jurusannya aja saya sudah merinding disko! dan biasanya pertanyaannya “kritis” dan “kreatif”, apalagi kalau sdh dituntut “ibu apa dalilnya?” tepok jidat *biasanya ka Barak bilang, halah! lebay de’Yulia, loe kan jago “ngeles” *konotasi negatif.
Berbicara soal manusia “apakah itu manusia?” pertanyaan lugu dan sederhana tapi tetap sulit dijawabnya, kalau dari ilmu filsafat manusia mungkin tak akan kunjung usai cari jawabannya yang pasti! manusia itu unknown, misteri? halah sok berat banget bahasannya! kembali ke gaya saya aja ya ngebahasnya… jadi begini, kita masuk tema tentang manusia… secara psikologi itu kan ilmu yang mempelajari (jiwa/tingkahlaku) manusia. Berangkat dari rasa ingin tahu tentang manusia, maka ilmu psikologi tercipta oleh manusia juga dan tentunya objeknya manusia (ini juga sebagai bentuk usaha manusia untuk membuka rahasia hukum Tuhan dalam penciptaan manusia, tapi tetep aja manusia itu tidak sempurna, maka ilmu psikologi sendiri masih banyak keterbatasannya dalam mengkaji soal manusia), maka berbagai pendekatan utama ada dalam psikologi, ada psikoanalisa, behaviour, humanis, transpersonal *pleasee jangan tanya panjang lebar tentang ini apalagi klo ditanya epistemologis dan bla..bla…, haha dan psikologi islam tentunya (klo yang ini kerana menjadi kekhasan di kampus saya). Masing-masing pendekatan punya konsepnya sendiri tentang bagaimana ia memandang manusia dan masing-masing nya juga punya kelebihan dan kekurangan, terakhir pembahasannya manusia dari sudut pandang Psikologi Islam. *itulah lah kurang lebih bahasan yang kami bicarakan disiang hari itu.
Eh… lagi asyik-asyiknya membahas pendekatan-pendekatan itu tiba-tiba ada yang tunjuk tangan mau nanya, pertanyaannya sederhana tentang Islam memandang manusia, khususnya tentang eksistensi manusia yang harus dicari dalam relasi dengan Pencipta dan juga mahluk Tuhan lainnya.Dia bertanya soal contoh konkrit tentang hablun minal ‘alam, gimana bu bentuknya?, saya jawab singkat “ya.. nyirem tanamen”. Semua pada bengong! “gini lo nak… kalian tidak perlu pusing memikirkan hal-hal besar bagaimana memulainya! mulai dari hal kecil disekitar kalian…” lanjut saya lagi.
Saya pikir mencintai alam tidak harus melakukan sesuatu yang besar! mulailah dari hal yang kecil yang bisa kamu lakukan, menarik napas dalam-dalam dan kemudian menghembuskannya dan mengucapkan syukur terhadap hal itu juga wujud kita menghargai alam, right! apalagi kalau kita mau melihat sekeliling kita! buang sampah pada tempatnya aja juga salah satu bentuk mencintai alam… banyak hal yang bisa kita lakukan yang bernilai ibadah sebenarnya *Allah itu luar biasa kalau ngomongin ini, tiap aspek kehidupan itu ada pahalanya… seandainya kita memahaminya, lihatlah lebih dekat dengan sekelilingmu aja…. sementara itu udah cukup.
Makhluk Hidup ciptaan Allah itu kan bukan hanya manusia *apalagi kalau berbicara masalah Hablun minannas, wah ini bakal panjang lebar kali tinggi lagi saya ngomonginnya, bagaimana kita menjalin hubungan dengan manusia lainnya, kalau kerjaannya cuma didalam mesjid doang! juga bukan cara yang baik menurut saya untuk “mengenal Allah”
Dalam psikologi, mencintai Alam juga bisa meningkatkan kecerdasan emosi *secara EQ ini adalah salah satu kunci kesuksesan dan paling besar pengaruhnya dibandingkan dengan IQ. Empati kita khususnya akan mengalami peningkatan, lakukan yang bisa kamu lakukan mulai dari sekarang!
contohnya: nyirem tanaman dan “ngajak ngomong” *kalau ini memang aneh, hahaha tapi saya suka melakukannya, hihih, itu bisa mengasah kepekaan kita, coba deh kebayang ngga rasanya kalau kita jadi mereka? ngga dikasi minum dan makan, kan kasian, masih mending manusia bisa nyari sendiri tapi kalau tanaman?? atau ketika lihat kulit pisang aja dilantai, alternatifnya ada dua, kalian bisa menghindar atau bisa mengambilnya lalu membuangnya! tentu dunk harus memilih cara yang kedua, pikirkan kalau kulit pisang itu tidak diambil mungkin nanti oranglain yang lewat akan jatuh! kasian kan….
Dengan mencintai alam kita dapat belajar banyak hal sebenarnya…, cara mengasihi, menyayangi serta peduli sesama. Ketika menanam aja, kita akan terlatih untuk sabar untuk merawatnya agar tumbuh dengan subur dan tidak mati, selain itu, secara otomatis kita juga jadi terus memperhatikan perkembangan tanaman yang dirawatnya *memelihara hewan juga bisa, tapi kalau ini no..no… bukan saya banget! bahkan lebih jauh lagi hasil dari proses menanam tersebut dapat berdampak pada hubungan sosial dengan masyarakat sekitarnya. Kita akan belajar untuk beradaptasi dan saling mengerti, memahami, menyayangi serta peduli. Right! so lanjutkaan….wasalam.
Assalamu’alaikum wr.wb,
Pagi Mingguuu… # kelar jogging sama ibunda tercinta, lagi giat-giat usaha untuk menjalankan gerakan “Ayo Hidup Sehat!” # Eaaa, gara-gara sakit kemarin jadi semangat 45’. Semoga kita dapat menjalaninya dengan istiqomah! *dengan nada ngga yakin sebenarnya, hehe.
Tema di atas terinsprasi gara-gara esemes-an sama dirinya kemarin siang dan obrolan dengan adiknda nan jauh dimata tapi selalu dekat dihati, ini tentang mencintai pekerjaan.
Ceritanya dia baru balik dari Surabaya ada pelatihan selama tiga bulan lamanya, so I miss him #sebenarnya sih niat awalnya mau video call sama Sakha-ndut, keponakan saya paling cakep sedunia saya aja…, secara kangen tingkat dewaa sama si ndut itu! Just looking him, I am so feel happy! walau dia ngga ngomong dan selalu sibuk dengan dunianya sendiri *mainan, Eh.. malah keterusan ngobrol sama bapaknya. Sebenarnya bukan obrolan berat, tapi adiknda saya itu lagi complaining! Mengeluh karena dia tidak diizinkan oleh Kanitnya untuk berangkat ke Sudan! Impiannya banget dah! pokoknya pergi ke Sudan itu *ngurut dada, sejak dia memutuskan bekerja sebagai pengabdi masyarakat ini, sudah berapa kali saya dan mama khususnya dibuat deg-degan! Rasanya jantung mau copot setiap dia cerita pengalaman dia dimasa diospek, pendidikannya *keras latihannya dan belum lagi saat dia tugas daerah-daerah konflik! Ajib! cukuplah membuat kami pada akhirnya menjadi terbiasa dengan surprised-surprised darinya.
# saya yang mendengarnya saat itu cuma menghela nafas! Dalam hati berkata Alhamdulillah. Sejak awal saya secara jujur saya katakan sangat bingung dengan hasratnya yang mau masuk ke Akademik Polisi di Semarang (diposisis Brimob pula, dia berkeras tidak mau yang lain karena merasa terlalu “rawan” dan “menggiurkan”), perasaan dari runtutan keluarga tidak ada yang menjadi angkatan! Tapi dia dengan tekad yang bulat dan pastinya kesungguhan (khususnya dibagian ini, dia belajar untuk tes masuk, ajaib!! secara… belajar itu ngga ada dalam kamusnya! Ajaib kedua, dia lulus tes dan pure atas usahanya sendiri, keren!) dia biasanya selalu berkata kepada kakanya yang selalu protektif sama dia sejak kecil “…karena aq suka a! dan ini passionku Aa…kalau mati itu bukan resiko pekerjaan tapi sudah konsekuensi, semua pekerjaan ada tantangannya, lagipula kalau meninggal dunia itu sudah ada suratannya, jadi dimana aja kalau sudah waktunya ya udah…”(bijak kan adik saya, I am so proud of you bro!)
Passion! Ini memang masalah bekerja dengan passion. Passion disini bisa diartikan hasrat atau gairah, bekerja tanpa gairah itu akan hampa rasanya! Ngga akan nikmat, tapi sebaliknya kalau dilibatkan passion didalamnya maka akan muncul motivasi dalam diri. Dalam ilmu psikologi motivasi adalah hal yang penting untuk kita mencapai tujuan kita, begitu juga dengan bekerja. Jika bekerja dengan motivasi tinggi maka akan senang hati akibatnya pekerjaan pun akan terselesaikan dengan baik. Uang, kedudukan atau jabatan dan kehormatan hanyalah “efek samping”, jadi bekerja itu harus dengan passion dan ikhlas tentunya.
Saya bekerja sebagai Dosen dan profesi Psikolog juga karena passion.
Sudah dua tahun berlalu, saya bekerja sebagai dosen, secara jujur saya simpulkan saya senang sekali! *makasih Allah yang Maha Baik. Banyak hal yang terjadi selama dua tahun, banyak membawa warna dan perubahan dalam kehidupan saya. Walaupun secara jujur saya akui, dulu saya sama sekali tidak pernah membayangkan akan bekerja dikampus ini khususnya! *boro-boro membayangkan, tidak pernah kepikiran coba! Sejak saya dilahirkan didunia ini, kampus yang sekarang menjadi tempat saya bekerja terkesan “dingin” dimata saya dan saya berasumsi kalau orang-orang yang ada didalamnya hanya tahu dengan warna Hitam dan Putih! *naïf banget yak! but its true.maafkan… salah sangka!
Menyusuri kenangan, saat saya mendaftarkan diri untuk mengikuti tes sebagai dosen, saat itu sebenarnya hanya ingin menguji nyali dan ingin tahu sejauh mana kompetensi saya (I just need challenge, saya ingin merasakan hormon adrenalin saya meningkat tahap demi tahap tesnya) dan saya secara jujur tidak yakin akan lulus, karena ilmu Agama saya minim sekali….! Saya ingat waktu tahapan tes terakhir, secara lisan ditanya 3 orang penguji soal Spritual Intelligence dan Fikih Wanita serta lain-lainnya, saya jawabnya jujur aja “ngga tahu!” dan ngaco pada akhirnya! hahahha *Tapi ini juga demi Abah kok! ya ini tentang mimpi besar beliau yang ingin memiliki generasi penerus sebagai pendidik, maklum dari kakek dan saudara-saudara beliau kebanyakan bekerja sebagai pendidik, dan saya selalu berusaha untuk mengikuti apa yang orangtua saya inginkan, so I do it!). And then… saya lulus! Tapi begitu keterima…,eh saya mulai merasa gentar! saya malah berniat untuk mengundurkan diri saja *karena saya saat itu juga diterima di sebuah Rumah Sakit Pemerintah sebagai Psikolog. Tapi lagi-lagi Abah saya!*I love Him so much! Yaa beliau dengan lirih saat itu, berusaha membujuk saya dan berkata bahwa pekerjaan seorang Dosen itu adalah pekerjaan yang mulia dan jauh dari yang namanya “kejahatan” dunia.
Akhirnya Bismillah! saya memutuskan untuk bekerja di kampus ini.
Secara jujur saya akui, banyak hal yang saya mesti pelajari, kadang saya benar-benar kebingungan harus mulai dari mana belajarnya, saya ketinggalan banyaak sekali! Tapi saya harus tetap survive dan tetap berusaha menyesuaikan diri, namun tetap menjadi diri saya sendiri kok! Jadi mungkin kelihatan “berbeda”. Prinsipnya saya hanya berusaha melakukan yang terbaik dengan apa yang saya miliki hari ini.
Semangat saya juga pasang surut, tetapi semua itu saya jadikan cambuk. Saya banyak belajar pola-pola kehidupan yang baru yang menurut saya mampu mengubah hidup saya ke arah yang lebih baik, karena sesuai dengan aturan agama saya pastinya, karena sesungguhnya Ilmu pengetahuan tanpa agama pincang (Enstein). Saya juga belajar banyak dari orang-orang *rekan kerja dan juga mahasiswa/i dan juga lingkungan yang ada. Walau sebenarnya banyak gentar tersembunyi yang perlu ditemukan dan dibabat tapi saya akan berusaha, karena gentar itu enak, dan potensial untuk menahan kita melangkah ke jenjang berikutnya! Saya hanya butuh keberanian. “Jangan takut dengan kesalahan, kebijaksanaan biasanya lahir dari kesalahan” (Paul Galvin). Lagipula dihadapan Allah semua manusia sama, pada akhirnya yang membedakan keimanan dan ketakwaannya.*Tapi sekian hari saya mulai menyadar bahwa keputusan saya tepat!
Apapun usaha yang kita lakukan, lakukan dengan hati, gembira, cinta dan juga usahakan libatkan passion. Bukankah segala sesuatu yang baik ada prosesnya tidak instan…pekerjaan Pasti ada tantangannya, tapi karena bernilai ibadah (klo kata-kata ini ngutip dari bapak yang baik hati itu, hehe)
So love your job! Just Enjoy… “Saya mencintai pekerjaan saya dan saya akan bekerja dengan hati” *Minimal berkompromi dengan keadaan supaya ngga stress, sambil terus berupaya melakukan perbaikan. Amin.
Selamat Weekend! Wasalam.
