Install Steam
sign in
|
language
简体中文 (Simplified Chinese)
繁體中文 (Traditional Chinese)
日本語 (Japanese)
한국어 (Korean)
ไทย (Thai)
Bahasa Indonesia (Indonesian)
Bahasa Melayu (Malay) BETA
Български (Bulgarian)
Čeština (Czech)
Dansk (Danish)
Deutsch (German)
Español - España (Spanish - Spain)
Español - Latinoamérica (Spanish - Latin America)
Ελληνικά (Greek)
Français (French)
Italiano (Italian)
Magyar (Hungarian)
Nederlands (Dutch)
Norsk (Norwegian)
Polski (Polish)
Português (Portuguese - Portugal)
Português - Brasil (Portuguese - Brazil)
Română (Romanian)
Русский (Russian)
Suomi (Finnish)
Svenska (Swedish)
Türkçe (Turkish)
Tiếng Việt (Vietnamese)
Українська (Ukrainian)
Report a translation problem

Jakarta Raya, Indonesia



Selamanya
Couple paling mantap
Se Indonesia
Ayo kita kawal
Sampai ke pelaminan
Setiap Fuji lewat
Arap langsung minat
Tatapannya yang memikat
Sungguh hebat tujuan hidupku
Cinta sejatiku
Cuma Furab satu
Namun, di balik keunggulan itu tersimpan kisah evolusi yang lebih kompleks—dan ternyata, kaki panjang jerapah punya peran yang tak kalah penting dari lehernya.
Leher jerapah memang memberi keuntungan besar. Mereka bisa makan kapan pun tanpa harus berebut dengan hewan lain di permukaan tanah. Tapi, evolusi tak memberi hadiah tanpa harga.
Agar darah bisa mencapai kepala yang terletak sekitar dua meter di atas jantung, tekanan darah jerapah harus sangat tinggi—lebih dari 200 mmHg, dua kali lipat dari kebanyakan mamalia. Akibatnya, jantung jerapah bekerja luar biasa keras, bahkan ketika hewan itu sedang beristirahat.