Tampilkan postingan dengan label IBF. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IBF. Tampilkan semua postingan

Senin, November 09, 2009

Kiprah [anggota] TDA di IBF 2009

Akhirnya IBF 2009 ditutup secara resmi sesuai jadwal yang telah ditentukan. Minggu, Tanggal 8 Nopember 2009 berakhirlah hajatan para pecinta buku ini.

Selamat jalan IBF 2009 dan selamat datang IBF 2010 !

Pesta buku ini diakhiri dengan dominasi Mas Arswendo Atmowiloto di panggung utama. Sebagai dewan Juri, maka satu demi satu mas Wendo memanggil para pemenang lomba dan setelah acara itu selesai, maka berakhirlah pesta yang sangat ditunggu-tunggu oleh para penggemar buku Indonesia bagian Jakarta.

"Wah kowe wis dadi bos ya?" [wah kamu sudah jadi bos ya?], begitu kata mas Wendo ketika sempat mampir di stand no 90A.

"Alhamdulillah", kataku dalam hati sambil tersenyum.




Ini memang stand yang kecil kalau dibandingkan dengan stand Gunung Agung yang ada di depan stand no 90A ini.

Meski stand ini kecil, tetapi nilai sinergi dalam stand ini sungguh tak terkira besarnya. Bagaimana seorang anggota Kelompok Mastermind Cikarang 2 [KMMC2] bisa menggaet beberapa orang untuk ikut berpartisipasi dalam acara besar ini, adalah cerita seru yang ada dibalik stand no 90A.

Sewa Stand yang mahal jadi terasa murah karena dipikul bersama-sama. Mari kita lihat siapa saja yang terlibat dalam stand kecil ini.

Ada sekolah menulis kre@tif yang diasuh oleh mas Dodi. Disini ditawarkan ”CARA CEPAT MENULIS BUKU” dengan METODE 12 PAS. Para pengunjung stand ini secara otomatis mendapat sebuah buku tentang seluk beluk radio yang ternyata isinya sangat menarik. Syarat mendapat buku ini adalah mengisi formulir yang sudah disiapkan khusus oleh mas Dodi dan mbak Emma. Pasutri yang kompak dan mesra.




Ada juga pustaka lebah yang menawarkan bacaan untuk anak-anak yang sangat bermanfaat, terbukti dengan larisnya buku-buku yang dijual dan terpesonanya para pengunjung pameran bila melewati stand no 90A tersebut.

Lilo yang selama dua hari ikut menjaga pameran tidak bosan-bosannya bermain dengan mainan yang ada di stand Pustaka Lebah ini.

Kalau sedikit melihat ke rak paling atas, maka terlihat beberapa asesoris dari UbuD yang ikut menawarkan perhiasan khas Indonesia yang sangat berkelas. Harganya memang tidak murah, tapi jelas tidak mahal dan sebanding dengan kualitas yang diberikan [orang Yogya bilang "ono rego ono rupo", ada harga ada kualitas].

Masih penasaran dengan isi stand yang lain?

Di stand ini dijual juga beberapa botol minyak goreng HCO yang ternyata menarik minat para pengunjung untuk menjadi re-sellernya. Agak mengherankan memang, di ajang pameran buku ada yang jualan minyak goreng, tapi kalau memang ada pembelinya, maka tentu tidak salah berjualan disini. Toh panitia tidak keberatan dengan apa yang dijual di stand "gado-gado TDA" ini.




Ini memang stand yang paling berbeda dengan stand yang lainnya, meskipun sepintas lalu mirip dengan stand lain, tetapi apa yang dijual di stand dini benar-benar gado-gado alias campur aduk beberapa produk.

Memang produk utama dari stand ini adalah produk dari GNE, yaitu kalung yang mengandung energi biofir. Ini memang produk yang sejak tahun 2007 membuka stand khusus di ajang pameran buku ini. Meskipun tidak ada transaksi di ajang pameran ini, tetapi memang begitulah model jualan kalung ini.

Pengunjung disadarkan bahwa kalung ini sangat perlu untuk membantu tubuh dalam melakukan "maintenance" terhadap kondisi tubuh. Fungsi kalung yang memancarkan energi biofir ini membuat pemakainya mempunyai peredaran darah yang lancar. Secara otomatis kalau perearan darah lancar, maka nutrisi ke seluruh sel tubuh akan optimal dan kesehatapun menajdi prima.

Beberapa pengunjung terlihat antusias bertanya tentang bagaimana caranya membedakan produk kalung [asli] ini dengan kalung tiruannya.

Caranya tentu sangat mudah. Gunakan es batu untuk mengetest keaslian kalung ini. Bila es batu didekatkan ke kalung ini dan esnya terlihat mencair lebih cepat, maka bisa dipastikan kalung itu asli, tetapi kalau kalung sudah didekatkan dan tetesan es batu tidak berubah, maka bisa dipastikan kalung itu tidak asli.

Unggulan lain dari stand ini adalah penjualan buku-buku yang penuh motivasi, baik cerita tentang Bob Sadino [misalnya] maupun dari calon penulis best seller tahun 2010 yang menerbitkan buku "Pak Dhe ngeBloG"

Para pembeli buku "Pak Dhe ngeBloG" ini punya model yang aneh-aneh sebelum membeli buku ini.

"Lho mas Eko supporter Greenpeace ya? Aku beli bukunya deh"

"Mas aku juga anggota komunitas TDA, beli bukunya ya"

"Lho penjualan buku ini untuk membantu TK Nurul Azizi ya? Aku beli bukunya deh"

Masih banyak lagi kalimat-kalimat yang akhirnya membawa para pengunjung membeli buku itu.

"Foto dulu ya mas sambil aku pegang bukunya"

"Tolong tanda tangani bukunya ya mas...."

Kalau kalimat di atas adalah kalimat setelah mereka membeli buku itu.




Meski demikian ada juga yang bertanya ngalor ngidul tentang buku itu dan akhirnya ngeloyor begitu saja. Kok beli, megang bukunya saja tidak dilakukannya...hehehe....

Begitulah dinamika berjualan buku. Ada haru, bangga, sabar dan syukur terhadap semua hal yang terjadi ketika proses penjualan buku itu berlangsung.

Stand nomor 90A ini memang dikelola oleh seorang anggota komunitas TDA, sehingga tidak aneh ketika kemudian nuansa berbagi sangat kental di stand ini. Jaringan antar para pengisi stand ini langsung terbentuk. Rasanya semua seperti sudah menjadi kenalan lama, padahal sebagian besar pengisi stand ini baru kenal ketika hari pameran berlangsung.

Itulah energi positip [epos] yang selalu mengikuti kiprah anggota komunitas TDA dimanapun dia berada.

Secara umum pelaksanaan pameran ini terhitung sukses besar. Hampir semua acara yang ditampilkan di panggung utama juga terlihat selalu penuh pengunjung dan penuh dengan tanya jawab yang hidup.

Ada Darwis Tere, ada barisan Sang Pemimpi, ada juga bintang manis Sherina dan masih banyak lagi tokoh publik yang ikut memeriahkan acara di panggung utama.




Semua pengunjung mungkin sepakat untuk menyiapkan diri mengikuti acara tahun depan, Indonesia Book Fair yang ke 30 tahun 2010.

Selamat menunggu setahun lagi di tempat yang sama dengan nuansa acara yang berbeda. Puji syukur pada Tuhan yang telah memberi rahmatNya, sehingga acara pameran ini sukses sampai di akhir harinya.

+++

Minggu, November 16, 2008

Piknik di JCC

Pagi ini seiisi rumah pada meluncur ke JCC. Kita menikmati suasana IBF [Indonesia Book fair] 2008, yang ternyata lebih meriah dibanding hari kemarin. Mungkin karena hari terakhir, maka suasana IBF 2008 jadi kayak pasar kaget. Liputan media masa juga kayaknya dipusatkan pada hari ini. Para kuli tinta dengan "senjata"-nya masing-masing pada bersliweran di seluruh lokasi pameran.

Seperti biasa, LiLo selalu hilang begitu sudah masuk ke lokasi pameran. Sementara kakak-kakaknya pada ngglendot sama bapaknya, keliling ke masing-masing stand.

Sampai di stand demo anti virus, penjaganya begitu bersemangat menjajakan buku tentang dokter virus.

"Silahkan serahkan flash disk yang bervirus, dan dokter virus kita akan melenyapkan semua virus yang ada di flash disk itu dengan cepat"

Aku senyum mendengarnya, dan kemudian nyeletuk,"Iya ilang sak flash-disknya"

Penjaga stand yang di sebelahku tersenyum kecut mendengar celetukanku. Mungkin dia pingin marah, tapi gak bisa karena statusku adalah calon pembeli atau tamu, yang berarti raja bagi dia.

Saat ada yang menyerahkan flash disk model unik, sang dokter bingung. Mau dimasukkan ke card reader kok gak cocok, jadi dikembalikannya ke yang punya. Tentu saja yang punya langsung protes, terus langsung dicolokkan ke port usb dan pak dokter viruspun tersenyum [kecut].

Saat siang kusempatkan untuk nulis di komputer. Ibunya LiLo yang duduk di depanku protes karena LiLonya entah berada dimana.

"Pak LiLo dicari donk. Nanti kalau sudah ketemu jangan dilepas ya...", pintanya.

"LiLo? Jangan dilepas?!", kataku

"Imposible!", kata kakaknya.

Hhahahhahaa... =D


Sehabis makan siang, kita asyik nonton game dance. Luar biasa anak-anak muda itu dalam berdansa mengikuti musik dan menjejakkan kakinya sesuai petunjuk yang ada di monitor. Biasanya yang sering dilihat adalah yang mempunyai 5 [lima] injakan, satu di tengah dan empat lainnya di sekitarnya. Untuk yang dilihat siang ini modelnya dobel, sehingga ada sepuluh injakan yang harus diinjak sesuai petunjuk komputer.

Penonton yang begitu berjubel membuat tontonan jadi kurang jelas dilihat. Akhirnya kucoba untuk duduk saja, dengan harapan semangat kekeluargaan para penonton muncul dan tidak ada yang dengan "pe-dhe"nya berdiri di depanku.

Alhamdulillah, sesuai ilmu Quantum Ikhlas, maka para penonton di depanku pada minggir, sementara itu para penonton lain pada duduk di sebelahku. Jadilah aku sebagai penonton VIP dengan ruang kosong di depanku, sehingga orang yang tidak mau nonton tapi mau lewat tidak terhalangi oleh berjubelnya penonton.

Sore mejelang maghrib, perutpun mulai keroncongan. Anak tertuaku begitu ngiler melihat uap yang mengepul di atas "rombongan" bakpau, maka sore itupun kita asyik nongkrong di depan mobil pintar makan bak pau.

Sementara itu, LiLo datang pergi dengan gaya khasnya. Setiap ingin beli sesuatu, kalau ditolak bapaknya, maka ibunya yang dijadikan "second change", demikian juga sebaliknya bila ditolak ibunya. Sungguh dia sangat menikmati hari ini bersama mainan barunya. Arena pameran yang luas ini sudah lengkap dijelajahinya dan setiap melihat komputer yang nganggur langsung saja dia duduk dan "sok" berlagak tanpa dosa untuk njalanin komputer itu.

Jadi inget ketika LiLo tak "lepas" di time zone. Ternyata tanpa koinpun dia bisa ikut main. Caranya sok akrab dengan yang sedang main di Time Zone dan ada saja kesempatan dia untuk ikut main tanpa pakai koin.

Saat nulis di bagian ini, LiLo sedang asyik ngobrol sama penjaga stand unicef yang berada di depanku. Penjaganya ya pasti sok akrab juga dengan LiLo, jadilah mereka kayak sudah lama berkenalan. Obrolan itu baru terhenti ketika LiLo kuajak jamaah maghrib.

Malam terus berjalan dan ruangan pameran makin lama makin dingin, tapi khusus ruang pameran dalam, tempat istriku buka stand, tetep saja panas. Bisa jadi karena pengunjung di ruangan lain makin berkurang atau AC di runag pameran dalam kurang berfungsi dengan baik, atau jangan-jangan kedua-dua yang terjadi. AC -nya kurang baik dan pengunjung di ruang pameran dalam ini tetep saja rame.


Malam ini sebenarnya pengulangan kejadian tahun lalu. Bedanya, malam ini kita lengkap sekeluarga "piknik" di pameran dari pagi sampai malam dan barang bawaannya juga lebih banyak dibanding tahun lalu.

Blog inipun dibuat tidak hanya olehku sendiri dalam satu waktu tertentu, tetapi ditulis sedikit demi sedikit dari pagi sampai malam dan ada kontribusi anak keduaku dalam tulisan ini.

Di arena pameran inipun kami bisa foto bareng [he..he..he.. termasuk kesempatan langka nih] .