Indonesia memiliki potensi wakaf yang sangat besar. Berdasarkan paparan Kementrian Keuangan, potensi wakaf di Indonesia mencapai Rp217 triliun. Sayangnya, realisasi wakaf di Indonesia masih sangat kecil. Hal tersebut disebabkan oleh masih kurangnya pemahaman masyarakat terkait wakaf. Di antaranya adalah pemahaman bahwa wakaf hanya bisa dilakukan oleh orang kaya raya, bahwa yang bisa diwakafkan adalah tanah atau harta tak bergerak lainnya.
Alhamdulillah, sudah terdapat alternatif solusi wakaf yang lebih memudahkan: Quantum Wakaf. Istilah quantum ini mengacu kepada istilah quantum di Fisika yang berarti jumlah terkecil atau unit dari sesuatu. Misal, foton adalah kuantum tunggal dari cahaya. Dari istilah quantum tersebut, terbentuklah konsep Quantum Wakaf yang bermakna program percepatan wakaf yang memungkinkan seseorang untuk dapat berwakaf sekarang juga dengan jumlah uang yang “kecil” untuk menghasilkan nilai wakaf yang “besar”. Dengan demikian, Quantum Wakaf memungkinkan setiap keluarga untuk memiliki amal jariyah wakaf dengan cara mudah, ringan, terencana, optimal dan amanah.
Salah satu dokumentasi akad Quantum Wakaf
Quantum Wakaf adalah salah satu ikhtiar untuk memperoleh kebaikan di akhirat melalui penunaian wakaf yang merupakan amal jariyah dengan pahala yang terus mengalir meski sudah meninggal dunia. Quantum Wakaf juga merupakan ikhtiar kebaikan di dunia melalui penyiapan harta waris sehingga kelak tidak meninggalkan keluarga dalam keadaan yang lemah (tidak sejahtera).
Di sisi lain, wakaf merupakan sumber dana abadi yang dapat digunakan untuk kesejahteraan umat dan masyarakat luas,seperti untuk pembangunan sekolah, pondok pesantren dan rumah sakit. Dengan wakaf, umat Islam dimungkinkan untuk menebarkan rahmat seluas-luasnya di bumi ini secara berkelanjutan.
Untuk informasi lebih lanjut, Silahkan untuk mengakses Quantum Wakaf Media, media edukasi dan konsultasi terkait Quantum Wakaf.
Saya penyuka sejarah, tapi sebatas amatiran. Dan salah satu tema yang sedang saya coba akrabi adalah Bagelen. Mungkin karena saya merasa, sedikit banyak sejarah nenek moyang saya terkait dengan Bagelen. Keluarga besar saya asli Cilacap Timur, dekat dengan Kebumen. Zaman Mataram Islam, daerah ini masuk wilayah Bagelen, yang membentang dari barat sungai Progo sampai timur sungai Donan, Cilacap.
Sejarah mencatat bahwa Bagelen adalah pemasok prajurit/ksatria yang handal dan gagah berani. Prajurit/ksatria bagelen memiliki peran yang cukup penting di berbagai palagan dari zaman awal Mataram Islam. Pada perang Jawa, Bagelen merupakan salah satu basis pendukung Pangeran Diponegoro. Oleh karena itu, sangat logis apabila saat itu Bagelen juga merupakan sentra pembuatan senjata dan tosan aji, termasuk keris. Sayangnya masih sedikit literatur terkait keris tangguh Bagelen. Dugaan saya, Bagelen hanya dianggap sebagai sub dari tangguh Mataram, sehingga kurang menonjol. Sebagai pendukung loyal Mataram, sangat mungkin apabila gaya keris Bagelen menyerupai tangguh Mataram.
Karena itulah, beberapa minggu yang lalu sewaktu kawan perkerisan yang di Kebumen menawarkan keris “lokasian” yang konon bertangguh Bagelen, langsung saya mahari. Terus terang saya penasaran.
Kerisnya dalam kondisi berkarat, warangka kusam dengan deder yang pecah. Katanya sengaja dipecah untuk melihat kondisi pesi yang sudah menyatu dengan deder. Secara umum bilah dan pesi masih utuh. Ricikannya masih jelas dikenali. Dhapur pulanggeni lurus. Alhamdulillah berhasil kami restorasi.
Sekilas keris ini menyerupai keris tangguh Mataram. Namun keris ini memiliki beberapa kekhasan: Gonjonya yang agak tinggi dan tebal, mbathok mengkurep; Gandik lebar tapi pendek; Bilahnya agak lebar dan nglimpa. Pamornya kurang menyala. Dan yang lebih kentara adalah bobotnya yang relatif lebih berat dari keris tangguh Mataram seukurannya. Sepertinya kandungan bajanya lebih banyak. Apakah benar ciri keris Bagelen seperti itu?
Menurut beberapa sumber di Internet, keris Bagelen umumnya lurus, jika berluk, tidak serengkol keris Mataram, cenderung menyerupai luk tangguh Segaluh. Apakah ini terkait dengan akar sejarah Bagelen yang jauh sampai zaman Galuh?
Semoga restorasi keris ini menjadi bagian dari melestarikan budaya, menyesap sejarah, mengenang dan meneladani spirit para pendahulu. Di balik keris Bagelen yang sederhana, tersimpan kekuatan. Sebagaimana telah diejawantahkan oleh para ksatria dari Bagelen yang gagah berani…
Salah satu kelemahan generasi zaman sekarang adalah kurang paham jejak leluhurnya. Seperti saya sendiri, saya tidak bisa menyebutkan nama kakek generasi ke 5 (wareng). Kalau kakek generasi ke-5 saja tidak tahu apalagi generasi di atasnya. Di keluarga besar saya, tidak ada catatan silsilah keluarga. Tidak ada prasasti. Yang ada hanya keris warisan turun temurun.
Keris Warisan
Apakah dengan menganalisis keris warisan, kita bisa menerawang gambaran leluhur kita? Mungkin saja, sebab zaman dahulu ketika pakem keris masih dipegang teguh, keris sedikit banyak bisa mencerminkan siapa pemiliknya. Misal, keris berluk 5 yang hanya boleh dimiliki keluarga bangsawan, keris cengkrong yang konon banyak dimiliki para ulama/mubaligh atau keris pandawa cinarita yang banyak dipakai para dalang. Tantangannya adalah keris warisan itu hanya sekeping puzzle dari ribuan keping puzzle utuh. Kita perlu menyambungkan dengan keping-keping lain yang mungkin sudah hilang.
Oleh karena itu, pada mudik Idul Fitri yang lalu, saya tanyakan keris warisan tersebut ke bapak saya. Sewaktu masih kecil, keris tersebut disimpan oleh kakek saya di atas para-para rumah beliau. Seingat saya waktu itu ada tiga buah keris. Tapi ternyata keris yang disimpan bapak tinggal dua buah. Satu keris tertanam di warangka timoho yang masih lengkap. Satu lagi, keris yang terjebak di gandar yang termakan rayap. Saya kemudian meminta izin kepada bapak untuk merestorasinya di Solo.
Alhamdulillah dua keris tersebut berhasil kami bersihkan dan warangi. Keris yang berwarangka ternyata keris luk sembilan dengan ricikan yang masih jelas dikenali untuk dhapur Panimbal. Keris yang satu lagi adalah keris lurus dengan sisa ricikan yang termakan zaman. Saya hanya menemukan dua sogokan serta bekas sekar kacang, jalen dan lambe gajah. Saya menduganya berdhapur sinom dengan greneng yang sudah hilang. Kedua keris tersebut berbesi pulen namun ringan, bilahnya ramping berpucuk nyujen, pamornya nyeprit. Sepertinya bertangguh Majapahit. Warangka bawaan Panimbal hanya saya poles dan untuk Sinom saya berikan warangka seadanya dulu karena belum menemukan warangka yang pas.
Konon keris berdhapur Panimbal dulu banyak dimiliki oleh para abdi dalem atau orang dengan tugas tertentu. Sedangkan keris Sinom konon adalah keris yang sering diberikan oleh orang tua kepada anaknya ketika baru merintis karir. Dengan kondisi kerusakan bilah keris Sinom dan sisa warangka (gandar) yang lebih parah, saya menduga kalau keris Sinom ini berusia lebih tua dari keris Panimbal.
Saya kemudian membayangkan bahwa keris sinom tersebut diberikan oleh kakek generasi ke berapa dari orangtuanya sewaktu mulai ngenger/mengabdi. Beberapa tahun kemudian beliau mendapat kepercayaan untuk menjalankan tugas tertentu. Mengembara ke barat sampai Cilacap Timur. Beranak-pinak sampai kemudian lahirlah saya. Tentu saja itu hanya rekaan yang penuh dengan ketidakpastian. Wallahu a’lam…
Tapi ada pesan yang masih bisa dibaca dengan cukup jelas dari dua keris warisan tersebut. Keris Panimbal mengingatkan untuk senantiasa menunaikan panggilan/ kewajiban selaku hamba Allah di muka bumi dan Sinom mengingatkan untuk memiliki growth mindset dan selalu berkembang layaknya pucuk daun asem. Di sor-soran kedua keris tersebut terdapat pamor nunggak semi dan bawang sebungkul. Pamor ini juga mengingatkan untuk selalu bersemangat, tak kenal menyerah, seperti pokok pohon yang meski ditebas tetap tumbuh bersemi atau seperti bawang yang bisa tumbuh dan berkembang meski telah tercerabut dari tanahnya…
Semoga restorasi keris warisan ini merupakan bagian dari menjaga warisan leluhur, mengingat perjuangan serta meneruskan semangat dan cita-cita kebermanfaatan di muka bumi ini. Allahummaghfirlahum warhamhum…
Beberapa waktu yang lalu, saya melihat buku aktivitas Ramadan anak saya. Ternyata tidak banyak berubah dari buku aktivitas Ramadan ketika saya masih SD (lebih dari 30 tahun yang lalu). Hampir semua buku aktivitas Ramadan hanya mengeksplorasi aspek kualitatif dalam bentuk checklist dan isian sehingga sulit untuk dievaluasi. Padahal, aspek kuantitatif berupa score (terkait realisasi dan target) sangat diperlukan dalam mengevaluasi amal ibadah kita selama bulan Ramadan. Score tersebut juga bisa menjadi bahan motivasi kita dalam beribadah.
Contoh Buku Aktivitas Ramadan
Rasulullah SAW pernah bersabda, “dan barang siapa berpuasa Ramadan dengan penuh iman dan penuh perhitungan (ihtisab), niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang lampau.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dari hadist tersebut kita bisa menurunkan rumus: Sukses Ramadan = Iman + Ihtisab. Iman disini meliputi keyakinan bahwa Allah SWT telah mewajibkan kita berpuasa di bulan Ramadan untuk kebaikan kita, bahwa Allah SWT telah menjanjikan pahala yang berlipat-lipat di bulan Ramadan, bahwa Rasulullah SAW telah mencontohkan bagaimana cara menjalankan Ramadan dengan sebaik-baiknya, bahwa Allah SWT menyediakan satu malam di bulan Ramadan dengan kadar seribu bulan.
Setelah kita yakin, maka kita tinggal melaksanakan ihtisab, yakni penuh perhitungan dalam beramal. Kita berhitung jangan-jangan ini adalah Ramadan kita yang terakhir. Kita berhitung agar puasa kita tidak batal dan tidak rusak. Kita berhitung agar kita mendapat bonus pahala dari setiap detik Ramadan yg kita lewati. Kita berhitung agar Lailatul Qadr tidak lepas dari tangan kita. Kita berhitung agar mendapat ampunan-Nya.
Dengan latar belakang itu, saya mencoba menyusun worksheet “My Ramadan Score” yang bisa menghitung score aktivitas Ramadan. Worksheet ini bisa menjadi alat alternatif self assessment amalan Ramadan sekaligus suplemen buku/form aktivitas Ramadan yang sudah ada.
My Ramadan Score
Worksheet ini terdiri dari dua bagian utama, yakni sheetKey Performance Indikator (“KPI”) dan sheet “Input”. Sheet KPI merumuskan indikator kinerja utama ibadah kita selama bulan Ramadan, yang diturunkan dalam rincian aktivitas ibadah, bobot, periode pengukuran, ukuran dan target. Pada bagian ini, ibadah wajib dan sunah sengaja dipisahkan sebagai pengingat bahwa jangan sampai kita mengejar sunah Ramadan namun meninggalkan ibadah wajibnya. Adapun bagian kedua berupa sheet Input sebagai tempat untuk mengisikan realisasi aktivitas ibadah kita.
Worksheet ini memang dibuat sederhana. Tidak semua amalan ibadah dimasukkan di dalamnya. Misal, terkait zakat, hanya zakat fitrah yang dimasukkan dalam KPI ibadah wajib, sebab nishab zakat maal tidak selalu tepat di bulan Ramadan. Meski demikian, pengguna worksheet bisa memodifikasi KPI aktivitas ibadah sesuai dengan kondisi dan target yang diinginkan, seperti menambahkan KPI zakat maal. Selain itu, penentuan bobot aktivitas ibadah juga hanya untuk memudahkan penentuan score. Pada worksheet ini, bobot aktivitas ibadah wajib dan sunnah dibuat masing-masing sebesar 60% dan 40%, dengan pertimbangan bahwa hanya dengan melaksanakan ibadah wajib saja mungkin nilainya cukup tapi sangat disayangkan.
Worksheet ini bisa membantu kita untuk lebih disiplin dalam beramal ibadah selama bulan Ramadan. Harapannya, kita bisa menjadi semakin baik dalam mengerjakan yang wajib, semakin sempurna shalatnya, semakin akrab dengan Al Quran, semakin berilmu, semakin dermawan dan semakin kontemplatif. Semoga kebiasaan dan efek amal ibadah tersebut bisa terus berlanjut paskaramadan.
Meski belum sempurna, worksheet ini saya bagikan ke keluarga dan sahabat-sahabat saya. Alhamdulillah, cukup banyak yang kemudian menggunakannya dan berkomentar bahwa worksheet tersebut bermanfaat serta mudah digunakan. Tentu saja, worksheet ini masih perlu diperbaiki. Terutama reviu atas rincian aktivitas ibadah dan pembobotannya. Worksheet ini juga bisa dikembangkan lebih lanjut menjadi aplikasi smart phone sehingga lebih mudah digunakan.
Anda bisa mengunduhnya di link: My Ramadan Score. Anda juga bisa memberikan kritik, saran dan tambahan gagasan bagi perbaikan worksheet My Ramadan Score ini. Semoga dicatat sebagai bagian dari berlomba-lomba dalam kebaikan. Semoga 30 Hari Jadi Manfaat bagi kita semua…
Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jadi Manfaat yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa.
Beberapa hari kemarin, Indonesia sempat heboh dengan RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP). Di mana salah satu point kritisnya adalah memeras Pancasila menjadi trisila kemudian eka sila.
Kalau toh pun harus diperas, menurut saya pribadi, ekasila atau sari pati Pancasila justru ada di sila pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa. Sebab dari pengakuan keesaan Tuhan ini, lahirlah sila-sila lainnya.
Tuhan Yang Maha Esa telah menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya sekaligus menjadikan manusia sebagai pengelola dan pemakmur semesta. Tak ada manusia yang lebih istimewa dari manusia lainnya kecuali kadar iman dan taqwa yang membedakannya. Manifestasi iman dan taqwa adalah akhlak, termasuk di dalamnya berbuat baik kepada sesama manusia: hidup berdampingan secara adil dan beradab.
Kita tinggal di bumi Indonesia milik Tuhan Yang Maha Esa, sudah selayaknya kita mencintai negeri ini dengan saling bersatu padu. Sejatinya, cinta tanah air adalah fitrah yang Tuhan anugerahkan kepada setiap manusia.
Selanjutnya manusia Indonesia bersepakat untuk hidup berbangsa dan bernegara secara bergotong royong dan demokratis dengan berpedoman kepada hikmat dan kebijaksanaan yang bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa.
Itu semua diupayakan dalam rangka mewujudkan cita-cita keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang tercermin pada kehidupan yang aman, tenteram, damai, sejahtera, bermartabat dan berkeadilan.
Penjelasan di atas masih selaras dengan pidato Bung Karno terkait Pancasila, “Hatiku akan berpesta raya jikalau saudara-saudara menyetujui bahwa negara Indonesia merdeka berasaskan Ketuhanan Yang Maha Esa.” Di kesempatan lain Bung Karno mengatakan, “kalau aku memakai Ketuhanan sebagai suatu Pengikatan keseluruhan, tentu bisa diterima. Sebaliknya tanpa Ketuhanan Yang Maha Esa, maka saya menghilangkan satu elemen yang blinded, bahkan masuk betul-betul di dalam jiwa bangsa Indonesia.” Selanjutnya bung Karno menekankan, “… Negara kita ialah ketuhanan yang berkebudayaan, ketuhanan yang berbudi pekerti luhur, ketuhanan yang hormat-menghormati satu sama lain.”