Bismillah..
Harus saya akui, saya ini perfeksionis. Barangkali ini ‘bawaan’ juga dari salah satu job desc saya di kantor sebagai ‘reviewer’, yang harus memastikan akurasi dari suatu desain. Bahkan saking telitinya me-review, desain yang kelihatannya sudah ‘perfect’ pun akan saya cari-cari kesalahannya, atau minimal mempertanyakan sesuatu di dalamnya. Don’t get me wrong, jangan salah paham, ini penting sodara2…dalam banyak ‘case’, tidak ada desain yang sempurna, banyak celah untuk ‘improvement’ dan saya sendiri punya tanggungjawab moril untuk memberi input yang sesuai, selain memastikan saya melakukan tugas saya dan membiasakan diri untuk menjadi teliti dalam banyak hal. Beberapa kali saya mendapatkan hasil review yang asal-asalan, sehingga menyulitkan yang direview sendiri, harus memperbaiki banyak hal dan bekerja ekstra keras pada akhirnya.
Kebiasaan (buruk?) ini kebawa-bawa juga sampai ke urusan memposting sesuatu di medsos misalnya. Saya akan membacanya berulang-ulang sambil memikirkan kira-kira bagaimana orang lain akan menanggapi postingan itu, sebelum akhirnya saya memutuskan untuk meng-klik tombol ‘Post’ atau ‘Publish’. Tidak terhitung berapa kali sudah saya batal memposting sesuatu (*percayalah, tulisan ini sendiri sudah tidak terhitung revisi dan draft ke-berapa yang akhirnya saya putuskan untuk diposting :)). Dan, berkaitan dengan urusan sosmed ini, selain perfeksionis, saya juga cenderung introvert. Well, klo ini barangkali bukan cuma di medsos, emang bawaan dari orok. Walopun saya masih ingat dulu di awal-awal saya punya FB, saya juga suka kok bikin status lebay bin alay, karena yang baca paling klo bukan teman main, ya sodara sendiri. Itupun bukan juga status tentang masalah pribadi atau semacamnya. Apalagi beberapa tahun belakangan ini ketika semua manusia di dunia ini sepertinya sudah punya akun di medsos, dari kakek nenek sampai bayi dari orok, bikin saya makin paranoid. Sepertinya tidak ada ruang privasi lagi, semua bisa di akses di medsos. This is what I hate most about socmed, since I realy love my privacy. Makanya saya jadi lebih berhati-hati memposting sesuatu di medsos. Bukan cuma membatasi update status sendiri, untuk berkomentar di status orang lain bahkan suami sendiri pun saya mikir 1000x. Karena saya tidak tahu siapa saja yang bisa baca, apa yang mereka pikirkan dan rasakan, and ultimately for one simple reason, I’m just ‘perfectly’ an introvert and shy person 😉
Mungkin sedikit berlebihan ya, sampai mikirin apa pendapat orang segala klo mau update status, tapi begitulah. Tidak ada ‘asap’ kalau tidak ada ‘api’. Tidak ada orang yang suka digosipin, tapi jangan sampai kita sendiri yang memancing orang lain untuk bergosip. You CAN’T stop people from talking about you, but you CAN stop giving them something to talk about. Saya pernah merasakan sendiri bagaimana status dan komen seseorang itu bisa begitu menyinggung bahkan menyakitkan, sampai kepikiran berhari-berhari. Padahal yang buat status atau komen mungkin sama sekali tidak tahu menahu ada pembaca yang tersinggung, woles aja… buat saya pribadi, ini yang saya jaga, jangan sampai diam-diam di sana ada yang merasa tersakiti, terdzolimi dan lalu mendoakan keburukan untuk saya…call me paranoid, but sh*ts do happened my friend…
Namun ternyata, ada juga orang yang terlalu naif, klo tidak bisa dibilang less educated and careless. Hanya karena dia jarang atau tidak pernah melihat ‘kedekatan’ sepasang suami istri di medsos, di tambah rumor yang tidak jelas, maka dia lalu berkesimpulan bahwa rumahtangga mereka dalam masalah dan tanpa tedeng aling-aling berinisiatif mencarikan calon istri baru untuk si suami. Terlalu naif karena sampai lupa (atau pura2 lupa) kenyataan bahwa semua rumah tangga pasti punya masalah, ataukah memang sudah lama menunggu ‘kesempatan’ ini, wallahu a’lam. Dia berteman dengan si suami ini dan sama sekali tidak mengenal istrinya, juga sebaliknya. Maka atas nama ‘pertemanan’, tanpa peduli apa masalah mereka apalagi berusaha membantu memberikan solusi terlebih dulu, dgn semangat ’45 dia malah menawarkan diri menjadi mak comblang utk si suami ini. Mungkin karena sudah punya calon teman perempuannya yang kebelet nikah, walopun bisa juga si suami itu yang memang kegenitan minta dicariin istri baru…pheww…
However, si mak comblang ini sepertinya lupa memikirkan, gimana klo seandainya si suami ini yang dzalim terhadap istrinya? Apa resikonya untuk teman yang mau dijodohkannya? Gimana kira-kira perasaan istri yang sekarang jika tahu hal itu, padahal mereka belum benar-benar berpisah dan memang tidak ada niat berpisah? Jika makcomblang ini perempuan, gimana perasaannya kalau hal yang sama terjadi pada dirinya, suaminya ditawari temannya untuk nikah lagi? Dan mirisnya lagi, mereka semua ada dalam ‘lingkaran’ yang sama, yang selalu diajarkan untuk tabayyun dan menjunjung tinggi adab, akhlak dan ukhuwah, meskipun tidak saling kenal….aahh ukhuwah..lagi-lagi, utopiskah??
Nway, dari kasus di atas saya belajar lagi, bahwa di medsos khususnya, ‘asap’ dan ‘api’ itu bisa ‘diadakan’ oleh orang yang sama. Ada orang2 dengan motif tertentu yang memang sengaja menciptakan masalah, justru dari sesuatu yang sebenarnya sedang tidak ada masalah, atau bisa jadi memang bermasalah tapi yang bersangkutan enggan mengumbarnya di medsos. Saya belajar, bahwa bukan cuma orang yang suka ‘ribut’ di medsos itu yg bisa memicu masalah…ternyata mereka yang ‘adem-ayem’, males update status dan komen pun bisa ‘dicurigai’ sedang bermasalah, sehingga ada yang sok2 memberi solusi, yang notabene malah hanya menambah masalah baru…
Maka dengan melihat kondisi ini, saya menghimbau para istri2 pengguna medsos, waspadalah dengan para mak comblang di luar sana yang mungkin cuma haus pujian, dengki, suka ‘kepo’ dan ‘stalking’ akun pasangan suami istri. From now on, don’t be such an introvert and shy-shy cat lah...sering-seringlah ‘mengumbar’ kemesraan dgn pasangan di medsos, minimal ‘like’ atau komentari statusnya, it’s okay! Misalnya, kalau suami update status soal kenaikan BBM atau protes ke pemerintah, segeralah komentari, baik yg agak nyambung seperti “maju terus pantang mundur, ayah!”, ataupun yg kagak nyambung sama sekali seperti, “beb, jgn lupa mampir beli galon”…..nyambung atau kagak, yg penting pesannya sampai, dan itu adalah, “hey, I’m (still) exist!” 🙂 (*Note: You may take this too seriously and try it at home, at your own risk…;))
But again, please don’t get me wrong..saya bukan sedang ‘menistakan’ profesi mak comblang. Malah menurut saya profesi ini sangat mulia, dan fyi saja, saya sendiri boleh dibilang mantan makcomblang 🙂 Hanya saja, makcomblang yang baik dan ‘profesional’ itu harusnya tidak egois, hanya mencari jalan pintas, menghalalkan segala cara, dan memancing di air keruh. Toh masih banyak jomblo di luar sana yang benar2 butuh bantuan Anda, hanya perlu usaha lebih keras dan lebih ‘terhormat’ saja untuk menemukan mereka…dan insyaAllah ‘usaha’ seperti itulah yang akan menuai pahala dan mendatangkan berkah dan manfaat yang banyak, bukan sebaliknya…
At the end, ternyata sulit menjadi perfeksionis dan introvert, sementara di luar sana harus berhadapan dengan situasi dan orang-orang ‘tak terduga’. Perlu manajemen resiko yang lebih baik sepertinya, karena kondisi ini tidak jauh beda dengan urusan safety dan keselamatan kerja karena menyangkut hajat hidup orang banyak (halaah..). Tapi yang pasti, apapun yang kita lakukan, sebaik dan sekeras apapun ‘effort’ yang kita buat, kita memang tidak akan pernah bisa menyenangkan semua orang. Akan selalu ada pihak yang ‘diuntungkan’, pun ada yang akan merasa dirugikan. Jika ada orang-orang yang menyukai kebaikan untuk saudaranya, ternyata ada pula sebaliknya. Namun di lain pihak, kita sendiri juga berhak untuk bahagia dan membahagiakan orang-orang yang kita cintai, dengan cara-cara yang lebih bijak dan dewasa. Dan ada saat kita tidak boleh terlalu cepat berpikir utk menyerah pasrah dan lalu membahagiakan orang-orang yang salah macam makcomblang ‘kekinian’ di cerita kita tadi…setuju? Yassalam deh…
وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِينَ آمَنُو
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman…” (QS. Al-Hasyr: 10)
Dari Abu Ad-Darda’ dia berkata: Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ وَلَكَ بِمِثْلٍ
“Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama.” (HR. Muslim no. 4912).
*Disclaimer: Hanya demi untuk keperluan edukasi, maka kesamaan tokoh, profesi, sikon, dan peristiwa adalah bukan kebetulan semata… 😀