Posted by: yunita01 | December 19, 2018

I’m a woman, hear me roar!

Dalam satu sesi wawancara yg saya ikuti, penanya sempat bertanya mengenai isu gender di tempat saya bekerja. Tanpa mikir, saya pun dengan penuh percaya diri menjawab klo di tempat saya aman dari isu itu. Orang2 yg bekerja di tempat saya adalah orang2 intelek, profesional, dan kekinian…
Saya sama sekali tidak percaya ada yg masih menganggap hanya gender tertentu saja yg bisa memegang suatu posisi tertentu. Apalagi hal ini jelas diatur dalam kode etik perusahaan, yg harusnya orang2 terpelajar ditempat saya inilah yg paling memahami dan mematuhi kode etik itu…
Namun ternyata saya salah…karena entah dilakukan secara sadar atau tidak, ternyata isu gender ini memang masih ada saja pelakunya. Sebagai perempuan apalagi, kita beruntung punya indra perasa yang lebih peka…gestur dan gelagat seperti ini mudah saja kita rasakan..
Saya jadi paham kenapa dalam wawancara itu penanya harus menanyakan hal ini. And to be honest, I’m not ready yet to deal with this kind of situation..karena prasangka baik tadi barangkali, saya tidak percaya masih ada org ke-kuno-an begitu, terlebih di tempat saya…
But nway, daripada bikin stress, baiknya dinikmati saja, Girls! Ini hanya bagian dari pelajaran dan pengalaman hidup yang harus dilalui. Nikmati dan syukuri tiap detiknya, kurangin ngeluh dan ngeles, terus berusaha melakukan yg terbaik, maka insyaAllah yang terbaik juga yg akan didapatkan. Yakinlah bahwa kita ada di posisi itu karena kerja keras kita, karena kita mampu, and we well deserved it! Klise mungkin, tapi proven…

Lagian percayalah, menghadapi bapak2 itu sebenarnya tidak sesulit menghadapi mamak2 nya dirumah yang nyuruh bapaknya minta cuti liburan. Sayangnya, mamak2 di rumah itu sepertinya belum nyadar, ini bosnya bapak’e juga mamak2…menejer di rumah vs menejer di kantor kira2 sapa pemenangnya ya? Ahahaha…

Posted by: yunita01 | July 14, 2018

Parenting Homework

Sebagai orangtua jaman now, seharusnya kita belajar untuk tidak mengulangi kesalahan sama yg mungkin dilakukan orangtua kita di jaman dulu, dengan keterbatasan informasi dan fasilitas yang mereka (tidak) punya dulu..

Sebenarnya tak perlu jauh-jauh kita belajar, cukup dengan memperhatikan orang-orang di sekitar kita, bagaimana interaksi kita dengan mereka, bagaimana kita ingin atau tidak ingin diperlakukan, dan dengan mengevaluasi diri kita sendiri, maka kita seharusnya merasa wajib mengajarkan dan membiasakan anak-anak kita hal-hal berikut:

Meminta maaf, agar anak tidak menjadi angkuh dan terbiasa mengakui kesalahannya.

Berterimakasih, agar anak terbiasa bersyukur dan membalas kebaikan orang lain kepadanya.

Bertanggungjawab, agar anak selalu menjaga amanah dan tidak lari dari nya, atau mudah melempar tanggungjawab.

Untuk anak laki-laki, ajarkan akhlak seorang ‘gentleman’ dan kesatria, bagaimana menghargai dan mendahulukan perempuan.

Untuk anak perempuan, ajarkan keanggunan seorang ‘ladies’, tapi tetap tangguh dan tidak cengeng.

Anak adalah amanah terbesar orangtua yang akan dimintai pertanggungjawabannya. Mari kita jaga dan siapkan dunia yang lebih baik untuk mereka…

*though it will always be ‘work in progress’, because parents do make mistakes…

#latepost

~8thn bersama Khansa Nuri Mufidah

Posted by: yunita01 | June 22, 2018

Sinetron

Seringkali hidup ini lucu dan nggemesin macam sinetron…

Yang salah merasa benar dan sibuk koar-koar, play victim, dan menjadi cengeng bin alay… apalagi ada sosmed yang selalu setia memfasilitasi menyalurkan bakatnya itu :p

Yang benar justru merasa salah dan memilih diam..pasrah tak berdaya meski dihina dan dilecehkan, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan…*apasiii 🙂

Tapi mungkin lebih baik begitu ya, supaya tetap ‘balance’…karena apa jadinya klo semua sibuk bicara, curcol, dan membela diri…kasian para penonton jadi makin sibuk kepo nanti… 🙂

Semoga saja endingnya juga seperti sinetron kebanyakan, happily ever after…

Bedanya dengan sinetron, in real life, kita bisa memilih, mau memerankan tokoh yang mana…

~Jumat pagi di awal Syawal 1439H

Posted by: yunita01 | June 13, 2018

Untitled

Ketika asa menjadi asap…

Awalnya membumbung tinggi, namun seketika lenyap tak berbekas

Ketika buku, teori, dan kata tak jua menjelma menjadi amal

Semestinya saatnya menoreh kecewa pada diri…

Muhasabah..introspeksi..

Sementara di sana, ada sudut hati yang lain tengah menumpuk kecewa dan terluka…

Tertatih..berjibaku melapangkan hati yang kian sesak dan perih mengobati luka yang menganga..

Sendiri…..

Dan diri berlari menjauh

Seolah tak peduli dan tak mau tahu…

Esok akan baik-baik saja, dia akan baik-baik saja…begitu pikirnya…

Benarkah wahai diri?

Karena nyatanya, asa kembali menjulang tinggi,

Kata kembali menjadi penghias mimpi..

Dan siklus itupun berulang kembali…entah sampai kapan…

~pagi hari di penghujung Ramadhan 1439H

Posted by: yunita01 | February 27, 2018

Belajar dari Onta dan Penunggang Kuda

Bismillah..

وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara.” (QS:Ali Imran | Ayat: 103).

Adalah sentimen kesukuan yang membuat perang antar suku menjadi budaya bangsa Arab kala itu di masa jahiliyah. Ashobiyah, fanatik kesukuan yang sangat tinggi kemudian menjadikan perang adalah satu-satunya solusi bagi mereka, meski pemicunya hanya persoalan sepele.

Perang al-Basus adalah konflik antara bani Bakr dan Taghlib yang berlangsung hingga 40 tahun (494-534 M). Dikisahkan, al-Basus adalah bibi dari Jasas bin Murrah al-Bakry. Wanita ini memiliki seekor onta yang dinamai Sarab. Suatu hari Sarab masuk bercampur dengan onta milik tokoh Arab ketika itu, Wail bin Rabi’ah at-Taghliby, yang lebih dikenal dengan sebutan Kulaib. Sialnya, saat itu mood Kulaib sedang buruk karena istrinya sendiri, Jalilah binti Murrah, mengganggap saudaranya, al-Jasas, lebih mulia darinya. Kulaib pun memanah onta bibi Jasas, Sarab, yang nyasar ke pemukimannya. Matilah si onta dan terjadilah malapetaka itu. Jasas marah dengan perlakuan Kulaib yang membunuh onta bibinya. Namun Kulaib balik mengancam, kalau mau, ia bisa membunuh semua ontanya. Jasas naik pitam, lalu menghujamkan pedangnya kepada Kulaib. Norma di masa itu, apapun pun kedudukan seseorang, ia tidak pantas dibunuh karena seekor onta. Sementara Kulaib jelas-jelas adalah seorang penguasa Arab. Jasas sadar ia telah melakukan kesalahan besar, namun sesal tak berguna lagi. Genderang perang telah ditabuh. Mengalirlah darah antara dua kabilah, Taghlib dan Bakr, selama 40 tahun lamanya (Ayyamul Arab fi al-Jahiliyah oleh Muhammad, Jad, Hal: 142, http://www.kisahmuslim.com).

Ada pula kisah tentang dua orang penunggang kuda bernama Dahis dan Ghubara. Keduanya adu pacu, kemudian salah seorang dari mereka memukul kuda kompetitornya agar tidak lebih dulu memasuki garis finish. ‘Keisengan’ ini yang kemudian memicu pecahnya perang antar dua kabilah. Ribuan orang terbunuh karenanya (al-Kamil fi at-Tarikh, 1/473, http://www.kisahmuslim.com). Jaman now, kisah ‘konyol’ di bidang olahraga seperti ini tentu tidak asing lagi kita dengar…

Dan masih banyak lagi kisah-kisah di masa jahiliyah yang mungkin membuat sebagian kita, yang merasa sudah ‘tercerahkan’ ini, hanya mengerutkan kening atau bahkan menertawakan kebodohan mereka. Padahal, disadari atau tidak, barangkali kita juga telah/sedang melakukan ‘kebodohan’ serupa. Disadari atau tidak, saat ini kita juga masih berkutat pada masalah yang sama. Ketika loyalitas kita hanya dibangun berdasarkan kesukuan dan klub sepakbola kebanggaan daerah masing-masing :). Sehingga semangat pembelaan yang menyala-nyala itu tidak lagi ADIL melihat kompetensi dan bukti, tapi cukup dengan mendengarkan narasi-narasi indah di atas kertas, maka apapun rela dilakukan demi membela se-suku nya, eh maksudnya, klub kesayangannya… 🙂

“Sejarah pasti akan berulang, meski dalam bentuk dan wajah yang berbeda, namun esensi dan pembelajarannya sama saja. Karena itulah sejarah itu ada, untuk diambil pelajarannya”, kira-kira begitu yang pernah disampaikan ustadz Anis Matta dalam salah satu tulisannya. Dan begitulah kenyataannya, banyak kemiripan sifat dan kejadian, khususnya di masa jahiliyah dengan kondisi kita sekarang. Masa-masa kegelapan dan kebodohan dimana cahaya Islam kemudian datang mencerahkan, menjadi solusi, dan mencerdaskan bangsa Arab yang kala itu berada pada titik nadir kebodohannya. Tidak bisa dipungkiri, loyalitas dan fanatisme kesukuan yang berlebihan akan membuka lebar-lebar potensi konflik, bahkan dalam kelompok terkecil di masyarakat. Dan ironisnya, efek, resiko, dan korban yang ditimbulkan justru jauh lebih besar dibanding sebab munculnya konflik itu sendiri.

Karena itulah Nabi SAW datang membawa Islam untuk membimbing kita, melepaskan jubah kesombongan yang disebabkan karena asal-usul kita, kemudian mempersatukan hati-hati kita, sepenuh hati dalam naungan ukhuwah yang berjanji untuk senantiasa berlaku adil, bahkan mendahulukan kepentingan saudara kita dibanding kepentingan kita sendiri, apapun suku mereka…

Mari belajar dari ‘kebodohan’ onta Sarab dan penunggang kuda, yang menjadi penyebab ‘sepele’ pertikaian puluhan tahun dan bencana kemanusiaan yang memakan ribuan korban jiwa…

Wallahu’alam bish shawab.

Ibroh di akhir pekan, Ahad, 25th Feb ’18.

~Ummu Khansa~

 

*Disclaimer: the above is the author’s personal opinion meant to offend some people, for educational purpose only 🙂

Posted by: yunita01 | February 7, 2018

Ad Din an Nasihah

Bismillah…

Kita semua tentu paham pentingnya mempunyai kemampuan komunikasi yang baik. Dalam setiap sisi kehidupan kita, dalam setiap status, posisi, dan tanggungjawab yang kita punya, komunikasi adalah salah satu kunci kesuksesan untuk menjalaninya. Saya sendiri bukanlah orang yang punya skill komunikasi yang bagus, buruk malah, below average, tapi setidaknya dalam pengalaman saya, komunikasi yang tulus dan jujur itulah yang akan ‘berhasil’. Meskipun tidak menyelesaikan semua masalah –malah terkadang hanya menambah masalah–, tapi setidaknya ada perasaan lapang ketika akhirnya kita bisa bicara, dan juga karena memang itu adalah hal yang tepat untuk dilakukan pada kondisi tertentu. Dalam agama kita juga jelas sudah diajarkan untuk berkata yang baik, atau diam. Jadi, bicara justru lebih didahulukan, tentunya untuk mengharapkan kemaslahatan. Jika diam adalah emas, maka bicara adalah berlian.

Saya melihat ada korelasi yang erat antara kapan memilih untuk bicara atau diam, dengan menjadi seorang pemberani atau pengecut. Seorang pemberani akan mengatakan apa yang menurutnya benar, dimanapun, kapanpun, pada siapapun, meskipun mungkin seluruh dunia akan menentangnya. Ketika orang lain lebih memilih untuk diam, si pemberani dengan penuh percaya diri akan memastikan apapun pendapat, pilihan, kritik, dan komentarnya didengarkan oleh ‘forum’. Saya pribadi ‘diam-diam’ menyimpan kekaguman dengan orang semacam ini dan terkadang berharap bisa melakukan hal yang sama. Honestly, terkadang saya merasa menjadi pengecut ketika memilih untuk diam, beraninya cuma nulis di blog :). Namun ketika kemudian sang pemberani ini terjebak untuk ngotot dan menganggap dirinya lah yang paling benar, maka disitulah saya – dan kita semua barangkali-, akan kehilangan respek padanya. Buat saya pribadi,  untuk hal-hal tertentu, cukuplah meyakini dalam hati bahwa “sepakat untuk tidak sepakat” adalah “win-win solution”. Diam juga tidak selamanya berarti pengecut. Diam juga berarti menghindari kejelekan yang lebih banyak. (*ini penulis nda konsisten amat yak, paragraf pertama nyuruh ngomong, sekarang nyuruh diam…harap bersabar, ini ujian…).

Again, by personal experience only, salah satu alasan kenapa kita mampu berbicara dan mengatakan sesuatu yang mungkin menurut kita lebih baik disimpan sendiri, adalah karena kita berada di zona nyaman kita. Kita cenderung mudah berbicara apapun itu pada orang (atau lingkungan) yang kita kenal dekat dan merasa nyaman dengannya. To them, we can easily share our crazy thoughts and ideas. We can go mad and give the most ‘bitter advice’ without being afraid they’ll hate us. They’ll know that we only say it because we care for them and truly seeking the best for them, and vice versa. So maybe just based on that, we should know, whether now we are in the ‘right place’ with the ‘right people’, or not?? (Ps: kalimat-kalimat barusan in English karena saya sungguh berat mem-bahasaIndonesia-kannya dengan kalimat yang singkat, padat, dan tidak menghabiskan waktu pembaca membacanya…..atau sama saja yak? 🙂 Btw, sebenarnya obsesi saya menulis dlm bahasa Arab, tapiii…ah sudahlah, nda perlu dibahas, cukup judul tulisan ini saja dulu yg berbahasa Arab, itupun entah sudah benar penulisannya atau tidak, wallahu ‘alam).

Anyways, tentunya lebih mengasyikkan dan meng-kaya-kan berada di lingkungan ‘nyaman’ seperti itu. Kita enjoy saja menikmati opini yang berbeda, tanpa harus menyetujuinya. Dan sebaliknya, kita bebas mengungkapkan opini kita, tanpa merasa inferior, tanpa perlu persetujuan semua orang, atau bahkan takut di bully dan semacamnya. Ada tips bagus dari seorang teman di salah satu grup watsap saya…katanya, kalau baca chat di grup itu, bacalah dengan ‘nada rendah’, maka akan terasa santai, seserius apapun pembicaraannya. Kalau chat selalu dibaca dengan ‘nada tinggi’, se-bercanda apapun pembicaraanya akan berasa serius, bikin baper, and stressful. (*Sekedar info bahwa teman saya ini kebetulan adalah seorang penyanyi, jadi mohon maaf kalau ada yang kurang ngerti bagaimana mengimplementasikan tips ini, khususnya yg masih bermasalah dgn ‘pitch control’ :))

Last but not least, agama ini adalah nasihat. Nasihat sendiri berarti sesuatu yang bersih, murni, ungkapan tulus yang berharap hanya dan hanya kebaikan saja bagi yang memberi dan tentunya yang menerima. Kita semua membutuhkan nasihat, because nobody’s perfect. Bahkan Nabi SAW berkata, “Jika saudaramu meminta nasihat, maka berilah nasihat dan mudahkanlah dalam memberi”. Saya melihat indikasi yang kuat dalam hadits ini bahwa justru meminta nasihat adalah kebiasaan seorang mukmin, disamping anjuran untuk memberi/menerima nasihat. Sehingga tidaklah mungkin seorang mukmin yang baik keimanannya akan menolak nasihat atau marah ketika dinasihati, oleh siapapun itu. Namun kembali lagi, niat sebaik apapun jika disampaikan dengan cara yang salah, tidak akan sampai juga pesan kebaikan yang diinginkan, kemungkinan besar malah hanya akan memperburuk situasinya. Butuh kemampuan komunikasi yang baik, kematangan berfikir, pengenalan medan/orang yang cukup, lingkungan yang ‘nyaman’ tadi, dan kelapangan dada untuk menerima apapun feedback bakal yang muncul.

So, my dearest friends, bro, sis..please…do advice me, criticize me, talk me through, because then I know you care for me, you love me….and please don’t hesitate to ask me for advice, not for money, okay 🙂

Luv y’all…

Posted by: yunita01 | February 5, 2018

let’s talk about parenting

“Umi, kenapa Allah ciptakan manusia?”, tanya Sasha suatu malam menjelang tidur. Sepertinya memang pillow talk adalah waktu yang paling efektif to have ‘serious’ mother-daughter conversation buat anak beranak yang sama-sama sibuk dan jarang bertemu di siang hari ini :). Kembali ke pertanyaan Sasha yang ‘simple’ tadi, saya berfikir ini saat yang tepat untuk menjelaskan konsep ibadah kepada gadis kecil berusia 7 tahun ini. Mulailah saya berusaha menjelaskan tentang ayat yang masyhur dalam Al Qur’an bahwa Allah tidaklah menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaNya. Bahwa ibadah itu bukan cuma shalat, puasa, tapi juga semua hal baik yang dilakukan dengan mengharap keridhoan Allah. Dan percayalah Dilan, berusaha menjelaskannya dengan bahasa sesederhana mungkin yang bisa anak pahami, itu yang berat, aku tak yakin kamu sanggup, biar aku ajah…

Di lain waktu sepulang sekolah, tetiba terlontar pertanyaan ‘sederhana’ lainnya, “Umi, Allah itu asalnya dari mana?”. Saya berkata dalam hati, ooo hoho..ini momennya menjelaskan tentang konsep aqidah di Qur’an surat Al Ikhlas, ngeri2 sedap. Jangan ditanya bagaimana jungkir baliknya saya mencoba menyederhanakan penjelasan tentang ini. Satu pemilihan kata dan istilah yang ‘salah’ saja akan diikuti dengan pertanyaan baru yang lebih kompleks. Dan ‘celakanya’, jawaban yang diharapkannya sama ketika misalnya kita ditanya makanan empek2 itu asalnya dari mana, simple, jelas dan terang jawabannya :). Betul kata opa Einstein, jika kita tidak bisa menjelaskan sesuatu secara sederhana, berarti kita tidak memahami hal tersebut dengan baik.

Nway, pertanyaan-pertanyaan seperti itu, menurut saya pribadi, tidak muncul dengan sendirinya. Dalam artian, tidak semua anak akan bertanya hal yang sama atau serupa. Saya bukan sedang memuji anak sendiri, (dikit mungkin ya..klo bukan kita yg muji, sapa lagi…hehehe…) karena saya tau dan saksikan sendiri, banyak anak-anak hebat di dekat kita yang bertanya hal-hal yang jauh lebih dahsyat dan diikuti jawaban ayah/bundanya yang jauh lebih emejing. They make a realy great team! Tapi poin saya adalah, anak itu perlu sekali ‘dikondisikan’ dan diarahkan untuk menjadi kritis dengan menanyakan hal-hal yang ‘tepat’, khususnya kepada orangtuanya, ibunya apalagi, madrasah pertama seorang anak. Saya pribadi justru bersyukur ketika anak saya ujug2 bertanya semacam itu, karena kebersamaan kami yang barangkali tidak sebanyak anak-ibu yang lain sehingga saya sangat terbantu mendidik anak dengan pertanyaan-pertanyaan dari anak itu sendiri, yang jelas-jelas dia sangat tertarik dengan jawabannya, instead of dia harus dipaksa-paksa belajar sesuatu yang dia tidak/belum tertarik utk pelajari. Dan kata ulama, ilmu itu jika diibaratkan gudang dengan banyak pintu, maka pertanyaan yang tepat adalah kunci untuk membuka pintu-pintu ilmu itu. Semoga tidak ada orangtua yang justru menghindari pertanyaan-pertanyaan seperti itu karena ketidaktahuannya. Dan semoga ketika anak kita sudah bertanya dengan benar, kita orangtuanya mau betul-betul mendengar, bukannya mengalihkan pembicaraan, atau malah menertawai dan menganggapnya tidak penting sama sekali.

From personal experiences, bagaimana mengkondisikan anak agar dekat dengan nilai-nilai Islam, tidak perlu cara-cara yang ribet, apalagi jika waktu kita terbatas bersama mereka. Ketika mengantar Sasha ke sekolah di pagi hari misalnya, di mobil kami akan sama-sama mendengarkan dzikir pagi (al ma’tsurat). Dan meskipun saya tidak pernah menge-tes nya, saya yakin dia sudah hafal beberapa ayat dan dzikir di dalamnya. Sasha juga senang sekali ikut ketika saya membersamai adek-adek SMU di kegiatan mentoring pekanan. Dia akan duduk dan ikut mendengarkan apa yg saya sampaikan, bahkan sesekali ikut berkomentar, bertanya atau menjawab pertanyaan saya. Though it’s annoying sometimes because it will make me out of focus and forgot what I need to say next 🙂

Kita juga sangat bersyukur dengan banyaknya orangtua jaman now yang kesadaran ber-Islam nya sudah baik dan menyadari pentingnya pendidikan keislaman bagi anak-anak mulai dari usia dini. Kita saksikan sekarang, ketika sekolah-sekolah Islam sudah menjadi pilihan utama, anak-anak diikutkan liqo’, TPA, rumah tahfidz, islamic camp, atau sejenisnya, meskipun barangkali salah satu atau bahkan kedua orangtua nya sholat saja masih bolong-bolong :). Saya jadi teringat cerita teman tentang seorang ibu pegawai bank yang datang ke pertemuan orangtua di sebuah sekolah Islam dengan mengenakan seragam kerja lengkap dengan rok mini nya! Tak bisa saya bayangkan bagaimana ekspresi para ustadz di sekolah itu :). Maybe that’s way we should never judge a book by it’s cover only…hehehe. Sekarang ini, bahkan di sekolah-sekolah umum pun, kita saksikan siswi-siswi nya sudah banyak sekali yang berpakaian menutup aurat, hafalan Qur’annya banyak, dan pemahaman agamanya pun baik.

Tentu saja, tumbuhnya semangat ber-Islam pada banyak orangtua dengan berusaha mendekatkan anak-anak dengan Din ini, tanpa ada lagi keraguan dan prasangka seperti yang lalu2, tidak terlepas dari kerja keras, profesionalisme, dan keikhlasan teman-teman pendidik, baik di institusi formal maupun non formal, dan tentu saja dengan pertolongan Allah pada orang-orang yang mau menolong agamaNya, alhamduliLLAH. Namun sebagai orangtua seharusnya tidak juga mengandalkan sepenuhnya pendidikan anak dimana mereka bersekolah atau dimana mereka belajar agama di luar rumah. Lalu kemudian orangtua menjadi malas meng-upgrade ilmunya, malas membaca, mengkaji, bertanya, dan menambah wawasan. Buat saya, belajar teori itu selalu penting bro/sis, bukan praktek doang yang bikin ‘perfect’. Macam ketika beli kamera, mentang-mentang sudah tau cara pakainya, kemudian kita malas membaca manualnya (saya buanged inih :)). Padahal, kalau kita buka2 lagi manualnya, ternyata banyak fitur2 di kamera tadi yang belum kita gunakan, yang seharusnya bisa menghasilkan foto yang lebih bagus.

Ala kulli hal, tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar. Dimanapun, kapanpun, usia berapapun, belajar itu seumur hidup. Beruntunglah kita orangtua yang hidup di jaman sekarang, ada banyak sekali dan dekat sekali pilihan kita untuk belajar apapun itu. Ini berarti, luas sekali kesempatan untuk anak-anak generasi penerus kita untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik, bahkan dari entitas terkecil keluarga, tak perlu jauh2. Sayang sekali jika kita tidak bisa memanfaatkan fitur yang sudah sedemikian canggih itu, hanya karena tidak tahu atau tidak mau tahu. Dan selamanya, anak adalah amanah dan titipan yang nantinya akan dimintai pertanggungjawabannya, dan orangtua lah teladan dan contoh terdekat bagi anak-anaknya.

Di sisi lain, Allah tidak akan membebani hambaNya diluar batas kemampuan mereka. There’s no way to be a perfect parent, but there are million ways to be a good one…

SemangadDilan! *teteuup… 🙂

Prolog :

Sesekali pengen jadi penulis ‘profesional’ (baca: menulis sesuai profesi) meskipun tidak dibayar :). Dan sesekali memang harus posting yang berbau ilmiah untuk audiens kalangan terbatas seperti tulisan ini. Karena sebenarnya sewaktu blog ini dilaunching, penulisnya berjanji untuk mengisinya bukan hanya dengan tulisan-tulisan ‘sampah’ seperti di blog jaman old yang sudah lenyap tak berbekas itu (thank God!), tapi juga untuk menulis sesuatu yang mungkin akan sedikit ada manfaatnya, yang berhubungan dengan hobi, minat, passion, dan juga profesi penulis sebagai tukang insinyur tentunya. Besides, when writing is a passion, then to write about your passion is taking it (writing) to the next level…
Oia, tulisan ini ditulis dalam bahasa Inggris selain supaya lebih mudah ‘dipahami’ oleh the magnificent Mr. Google ;), juga karena feeling saya mengatakan, teknologi termasuk devices ini masih jarang dipakai di Indonesia. Kalaupun ada, pemakainya (baca: engineer) pasti sudah terbiasa membaca literatur dalam bahasa Inggris.

Anyways, buckle up…semoga bermanfaat…


I’m writing this as a reminder and a lesson learned from my last project undertook in one of the biggest mining company in Indonesia. We’ve recently installed a new ESP (Electrostatic Precipitator) on our reduction kiln no. 4 to comply with the latest government standard on dust particulate. The ESP system also include all it’s dust handling equipment, up to the stack.

One of the major equipment installed is the 3.3 kV rated Induced Draft (ID) fan to exhaust gas from the kiln discharge end to the new stack. The ID fan motor speed is rated to maximum 990 RPM, and it’s controlled by a medium-voltage variable speed drive (VSD) which is GE MV6 series manufactured in China. The VSD use both hardwired and modbus TCP/IP connection for controlling and monitoring in our Allen-Bradley ControlLogix series PLC.

During design phase, I was certain that MVI56E-MNET module for the VSD modbus communication to the PLC is suitable and will work just fine, though I noticed that there are 3 other types of the module, MNET-C, MNET-CR, and MNET-R. I thought the MNET type would cover all functions that the other 3 modules don’t have, and I also done test and simulation and proved that the communication works. And so I confidently procured MNET module, and (luckily) I also procured MNET-CR module, just in case.

The difference between those modules, in general are:

  • Additional suffix ‘C’ stands for ‘Client’, means it’s a client only module without server. Suffix ‘R’ stands for ‘Remote’, means it’s suitable for remote IO rack configuration since it uses smaller backplane image size.
  • MNET and MNET-R is a client and server module.
  • MNET-C and MNET-CR is a client only module.
  • MNET and MNET-C module uses full-size of 250/248 word backplane image and internal database size of 10000 words.
  • MNET-R and MNET-CR only use 42 word backplane image with 5000 word in it’s internal database.

The VSD manual stated that it’s controller configured as modbus TCP server by default, with IP address 192.168.xx.xx, slave address 5 on port 703. So I thought all I should do is to set those information in the MNET module parameter setting, and it should communicate well, just like the test I did before. I used Prosoft Configuration Builder software to set all module parameters, following the module manual. The software comes in the CD within the module package, really helpful tools and easy to use.

Anyway, lately on a tight plant shutdown and commissioning schedule, when I almost giving up seeing the modbus communication didn’t work and we’re not reading any data from the VSD, though I was in doubtful of getting respond on time, I emailed Prosoft technical support anyway, hoping for a quick solution. My email was sent on 11.52 AM, and I had their reply less than 30 minutes, on 12.13 PM. Such a quick, short, but very enlightening reply!

Turns out that MNET type of module didn’t allow us to use any other port except port 502. So they suggest to use module MNET-C/CR instead which allow the default TCP port 502 to be changed to a user-defined port number. In this case, the VSD was set to use port 703 for it’s external communication. We can’t use port 502 since it’s already used for the VSD internal HMI screen connection.

As mention above, luckily I had also procured MNET-CR module. At that time, we wouldn’t have time to procure new module. Frankly speaking, should I didn’t had that module procure at the first place, I believe until now the modbus communication will still be a pending issue to the project. So I quickly changed the module and set it as required. This is the other major different between MNET and MNET-C/CR module. On MNET-C/CR module, there is “MBAP Port Override” feature that can be enable to allow us to define non-standard (502) TCP port number. On first attempt, it worked and we were able to read datas required from the VSD. I was excited, problem solved! I thought…….

And so on, the pre-commissioning process was dynamic and one major change was that we had to integrate and connect the dedicated ESP remote IO chassis to the main Kiln PLC controller, which consist of remote IO’s for all Kiln system and operation. Means that all ESP logic had to be copied and downloaded on to one processor. And it was done until I had to went back home at 3 AM in the morning! Just to found out on the next day that the modbus communication was lost again…I was frustated, rushed to email the Prosoft technical support once again, early in the morning…

As before, the respond was quick and they’d asked me to send them some data including copy of the RSLogix file. After responded to that request, all I can do was wait, but honestly I was hopeless thinking that there will be no solution this time. And it was surely felt like a looong day and we were in high pressure to complete the commissioning and must be ready to run the plant on time. While thinking about some backup plan, I remember at almost at the end of the day around 6 PM, my office phone rang and it was from the prosoft engineer calling from Singapore! Still in shocked, I managed to followed his guide smoothly, step by step to find and set some paramater in the logic. Below are the important details and some snapshots of what we did:

  • In a controller tags, find MNETCR.CONTROL group tags and set WriteCmdBits[1] = binary 0000_0000_0000_0001 to enable the first command of client 0. Or just set WriteCmdBits[1] = binary 1111_1111_1111_1111 to enable all 16 commands of client 1 (even if you may have fewer than 16 commands in client 1).
  • After making this change, recall that CmdErr in MNETCR.STATUS.ClientStatus[1] tag started counting up from 0, to 4, to 30, etc.  This is because at that time the Modbus slave (the GE VSD) is powered off, so every timeout without response generates one Command Error.
  • When communications are correct, CmdReq and CmdResp will increment quickly, and closely follow each other.  For example, maybe CmdReq = 2508 and CmdResp = 2507, and value will increment several times per second.
  • CmdErr will stay at last value, and should not increment unless you create a new error by say powering off the VSD or unplugging the cable.

To get the latest value of CmdReq, CmdResp and CmdErr, set ClientStatsTrigger = 1 with a one-shot output latch (or manually enter 1 in the Controller Tags window).  ClientStatsTrigger will reset itself back to 0, so it is important any logic you may write does not hold ClientStatsTrigger at 1.

And…eureka! Problem really solved this time!

From this experience, important lesson learned for me personally:

  • When in doubt, always have backup (both material and design) and make sure it will be ready whenever required.
  • Never hesitate to ask for vendor support. Mostly they have internet site and email contact. Be brief and straight to the point/problem you’re facing.
  • Prosoft is one of the best vendor support I’ve seen so far in term of quality and response time.

Lastly, always remember, engineers never give up! Help is around you… 🙂

 

cheers,

Yuni

~a happy Instrument and Control Engineer in the middle of nowhere~

Posted by: yunita01 | November 27, 2017

[still working on] my masterpiece

Dear blog…so so sooow sorry, jika dirimu jadi jablay, usang dan berdebu begini…bahkan untuk mencari judul yang tepat untuk tulisan ini saja, sampai di sini saya belum ada ide. Mungkin karena sudah terlaluuuu lama ya, ide-ide itu berputar-putar saja di kepala, tidak juga menemukan ‘jalan keluarnya’ menjadi barisan kata-kata yang sebenarnya kalau melihat histori tulisan-tulisan di blog ini, tidak ada juga bagus2nya dan tidak layak publish sebenarnya. Kalau tulisan sederhana dan nda penting-penting amat begini saja susah, mungkin ada baiknya blog ini di tutup saja sekalian… 😦

Though I think we should never too busy to do something we love, but still, ‘that’ excuse keeps coming back. I’m too busy, I don’t have  time for this, bla..bla..bla….atau, apakah ini pertanda saatnya mencari hobi baru (lagi)? Aaah…malah membuat saya terkenang dan tambah merasa bersalah dengan semua buku-buku, peralatan renang, badminton, fotografi, video, yang dulu pernah suatu waktu saya deklarasikan sebagai hobi baru saya…’they’ll’ probably would scream out loud now, enough is enough… 🙂

Kembali ke soal tulis-menulis, saya selalu percaya bahwa tulisan yang bagus itu adalah tulisan yang jujur, apa adanya. Fiktif maupun non-fiktif, setiap tulisan pasti punya motif dan misi yang ingin disampaikan penulisnya. Namun tetap saja, tulisan yang enak dibaca itu tidak ada kesan dibuat-buat sehingga pesannya selalu sampai. Saya yakin, ‘ketulusan’ seorang penulis lah yang menuntunnya merangkai diksi yang tepat dan benar-benar terasa efeknya oleh pembaca. Lihat saja para ulama penulis kitab yang tidak hanya menulis belasan, tapi ratusan bahkan ribuan kitab yang menggugah dan menjadi referensi jutaan orang. Para ulama itu tidak punya segala macam komputer, laptop, gadget, google, atau sosmed seperti ‘penulis jaman now’ untuk dapat mem-publish karya-karya spektakuler. Mereka menulis dalam artian yang sebenarnya, hanya dengan pena dan kertas, dalam kondisi yang serba terbatas, bahkan ada yang dalam siksaan dan kurungan penjara. Karena ketulusan dan kejujuran mereka lah, sehingga karya-karya itu bisa terus hidup dan meng-inspirasi hingga sekarang.  Hmm..apalah kita ini..dengan kondisi lapang begini, menulis itu seperti pekerjaan super berat dan hanya bisa dilakukan orang-orang tertentu saja. Ketika pun akhirnya kita bisa menuliskan sesuatu, kita malah terjebak pada ujub dan riya’ belaka…tulisan kita hanya menjadi satu di antara dua motif, tendensius atau narsisius, kalau tidak keduanya…na’udzu billah min dzalik…

Di banyak motivasi tentang menulis, selalu kita diingatkan bahwa menulis itu adalah untuk meninggalkan jejak sejarah, untuk bisa ‘hidup’ lebih lama dari usia biologis kita. Kata penulis senior Helvy Tiana Rosa, setiap kita menulis, saat itu juga kita sedang memanjangkan usia. Tidak ada yang salah dengan itu, tepat sekali malah, bukti konkretnya para ulama penulis kitab itu. Tapi bagi orang awam dalam dunia tulis menulis, yang menentukan judul saja masih harus solat istikharah dan puasa senin kamis macam saya, terkadang kalimat motivasi seperti itu justru malah bikin de-motivated. Dari perspektif yang berbeda, seolah-olah kita harus menulis sebuah ‘masterpiece’ yang layak dikenang ribuan tahun lamanya. Berat coy!

So, why not just release the pressure? Just back to basic, be true, be honest, be sincere. Tak perlu pikirkan tulisan kita nanti akan dibaca, di like, dishare, atau dipiralkan di sosmed…karena kita menulis lebih dari sekedar untuk menjaga eksistensi. Kita menulis untuk menjaga komitmen. Kita menulis untuk memerangi kemalasan. Kita menulis dan mengutip ayat Al Qur’an, hadits, pesan ulama, karena kita ingin selalu diingatkan dengan nasihat-nasihat dari langit itu. Kita menulis karena ingin menjaga ‘kewarasan’ di dunia yang semakin tidak waras ini. Kita menulis bukan untuk menggurui siapapun. Justru kita menulis karena pada dasarnya kita semua ‘egois’. Kita menulis untuk diri kita sendiri. Kita menulis simply karena kita ingin menjadi lebih baik dengan menuliskan berbagai hikmah untuk menjaga konsistensi dalam kebaikan dari hari ke hari…

…dan saya sendiri menulis ini agar saya konsisten menulis……or just to be ‘safe’, I probably should say, it’s a work in progress, no pressure… 😉

Wassalamu’alaykum.

 

“I still fall on my face sometimes, and I can’t color inside the line

I’m perfectly incomplete, I’m still working on my masterpiece”

_Jessie J. – Masterpiece_

Posted by: yunita01 | January 25, 2017

perfeksionis-introvert vs makcomblang kekinian

Bismillah..

Harus saya akui, saya ini perfeksionis. Barangkali ini ‘bawaan’ juga dari salah satu job desc saya di kantor sebagai ‘reviewer’, yang harus memastikan akurasi dari suatu desain. Bahkan saking telitinya me-review, desain yang kelihatannya sudah ‘perfect’ pun akan saya cari-cari kesalahannya, atau minimal mempertanyakan sesuatu di dalamnya. Don’t get me wrong, jangan salah paham, ini penting sodara2…dalam banyak ‘case’, tidak ada desain yang sempurna, banyak celah untuk ‘improvement’ dan saya sendiri punya tanggungjawab moril untuk memberi input yang sesuai, selain memastikan saya melakukan tugas saya dan membiasakan diri untuk menjadi teliti dalam banyak hal. Beberapa kali saya mendapatkan hasil review yang asal-asalan, sehingga menyulitkan yang direview sendiri, harus memperbaiki banyak hal dan bekerja ekstra keras pada akhirnya.

Kebiasaan (buruk?) ini kebawa-bawa juga sampai ke urusan memposting sesuatu di medsos misalnya. Saya akan membacanya berulang-ulang sambil memikirkan kira-kira bagaimana orang lain akan menanggapi postingan itu, sebelum akhirnya saya memutuskan untuk meng-klik tombol ‘Post’ atau ‘Publish’. Tidak terhitung berapa kali sudah saya batal memposting sesuatu (*percayalah, tulisan ini sendiri sudah tidak terhitung revisi dan draft ke-berapa yang akhirnya saya putuskan untuk diposting :)). Dan, berkaitan dengan urusan sosmed ini, selain perfeksionis, saya juga cenderung introvert. Well, klo ini barangkali bukan cuma di medsos, emang bawaan dari orok. Walopun saya masih ingat dulu di awal-awal saya punya FB, saya juga suka kok bikin status lebay bin alay, karena yang baca paling klo bukan teman main, ya sodara sendiri. Itupun bukan juga status tentang masalah pribadi atau semacamnya. Apalagi beberapa tahun belakangan ini ketika semua manusia di dunia ini sepertinya sudah punya akun di medsos, dari kakek nenek sampai bayi dari orok, bikin saya makin paranoid. Sepertinya tidak ada ruang privasi lagi, semua bisa di akses di medsos. This is what I hate most about socmed, since I realy love my privacy. Makanya saya jadi lebih berhati-hati memposting sesuatu di medsos. Bukan cuma membatasi update status sendiri, untuk berkomentar di status orang lain bahkan suami sendiri pun saya mikir 1000x. Karena saya tidak tahu siapa saja yang bisa baca, apa yang mereka pikirkan dan rasakan, and ultimately for one simple reason, I’m just ‘perfectly’ an introvert and shy person 😉

Mungkin sedikit berlebihan ya, sampai mikirin apa pendapat orang segala klo mau update status, tapi begitulah. Tidak ada ‘asap’ kalau tidak ada ‘api’. Tidak ada orang yang suka digosipin, tapi jangan sampai kita sendiri yang memancing orang lain untuk bergosip. You CAN’T stop people from talking about you, but you CAN stop giving them something to talk about. Saya pernah merasakan sendiri bagaimana status dan komen seseorang itu bisa begitu menyinggung bahkan menyakitkan, sampai kepikiran berhari-berhari. Padahal yang buat status atau komen mungkin sama sekali tidak tahu menahu ada pembaca yang tersinggung, woles aja… buat saya pribadi, ini yang saya jaga, jangan sampai diam-diam di sana ada yang merasa tersakiti, terdzolimi dan lalu mendoakan keburukan untuk saya…call me paranoid, but sh*ts do happened my friend…

Namun ternyata, ada juga orang yang terlalu naif, klo tidak bisa dibilang less educated and careless. Hanya karena dia jarang atau tidak pernah melihat ‘kedekatan’ sepasang suami istri di medsos, di tambah rumor yang tidak jelas, maka dia lalu berkesimpulan bahwa rumahtangga mereka dalam masalah dan tanpa tedeng aling-aling berinisiatif mencarikan calon istri baru untuk si suami. Terlalu naif karena sampai lupa (atau pura2 lupa) kenyataan bahwa semua rumah tangga pasti punya masalah, ataukah memang sudah lama menunggu ‘kesempatan’ ini, wallahu a’lam. Dia berteman dengan si suami ini dan sama sekali tidak mengenal istrinya, juga sebaliknya. Maka atas nama ‘pertemanan’, tanpa peduli apa masalah mereka apalagi berusaha membantu memberikan solusi terlebih dulu, dgn semangat ’45 dia malah menawarkan diri menjadi mak comblang utk si suami ini. Mungkin karena sudah punya calon teman perempuannya yang kebelet nikah, walopun bisa juga si suami itu yang memang kegenitan minta dicariin istri baru…pheww…

However, si mak comblang ini sepertinya lupa memikirkan, gimana klo seandainya si suami ini yang dzalim terhadap istrinya? Apa resikonya untuk teman yang mau dijodohkannya? Gimana kira-kira perasaan istri yang sekarang jika tahu hal itu, padahal mereka belum benar-benar berpisah dan memang tidak ada niat berpisah? Jika makcomblang ini perempuan, gimana perasaannya kalau hal yang sama terjadi pada dirinya, suaminya ditawari temannya untuk nikah lagi? Dan mirisnya lagi, mereka semua ada dalam ‘lingkaran’ yang sama, yang selalu diajarkan untuk tabayyun dan menjunjung tinggi adab, akhlak dan ukhuwah, meskipun tidak saling kenal….aahh ukhuwah..lagi-lagi, utopiskah??

Nway, dari kasus di atas saya belajar lagi, bahwa di medsos khususnya, ‘asap’ dan ‘api’ itu bisa ‘diadakan’ oleh orang yang sama. Ada orang2 dengan motif tertentu yang memang sengaja menciptakan masalah, justru dari sesuatu yang sebenarnya sedang tidak ada masalah, atau bisa jadi memang bermasalah tapi yang bersangkutan enggan mengumbarnya di medsos. Saya belajar, bahwa bukan cuma orang yang suka ‘ribut’ di medsos itu yg bisa memicu masalah…ternyata mereka yang ‘adem-ayem’, males update status dan komen pun bisa ‘dicurigai’ sedang bermasalah, sehingga ada yang sok2 memberi solusi, yang notabene malah hanya menambah masalah baru…

Maka dengan melihat kondisi ini, saya menghimbau para istri2 pengguna medsos, waspadalah dengan para mak comblang di luar sana yang mungkin cuma haus pujian, dengki, suka ‘kepo’ dan ‘stalking’ akun pasangan suami istri. From now on, don’t be such an introvert and shy-shy cat lah...sering-seringlah ‘mengumbar’ kemesraan dgn pasangan di medsos, minimal ‘like’ atau komentari statusnya, it’s okay! Misalnya, kalau suami update status soal kenaikan BBM atau protes ke pemerintah, segeralah komentari, baik yg agak nyambung seperti “maju terus pantang mundur, ayah!”, ataupun yg kagak nyambung sama sekali seperti, “beb, jgn lupa mampir beli galon”…..nyambung atau kagak, yg penting pesannya sampai, dan itu adalah, “hey, I’m (still) exist!” 🙂 (*Note: You may take this too seriously and try it at home, at your own risk…;))

But again, please don’t get me wrong..saya bukan sedang ‘menistakan’ profesi mak comblang. Malah menurut saya profesi ini sangat mulia, dan fyi saja, saya sendiri boleh dibilang mantan makcomblang 🙂 Hanya saja, makcomblang yang baik dan ‘profesional’ itu harusnya tidak egois, hanya mencari jalan pintas, menghalalkan segala cara, dan memancing di air keruh. Toh masih banyak jomblo di luar sana yang benar2 butuh bantuan Anda, hanya perlu usaha lebih keras dan lebih ‘terhormat’ saja untuk menemukan mereka…dan insyaAllah ‘usaha’ seperti itulah yang akan menuai pahala dan mendatangkan berkah dan manfaat yang banyak, bukan sebaliknya…

At the end, ternyata sulit menjadi perfeksionis dan introvert, sementara di luar sana harus berhadapan dengan situasi dan orang-orang ‘tak terduga’. Perlu manajemen resiko yang lebih baik sepertinya, karena kondisi ini tidak jauh beda dengan urusan safety dan keselamatan kerja karena menyangkut hajat hidup orang banyak (halaah..). Tapi yang pasti, apapun yang kita lakukan, sebaik dan sekeras apapun ‘effort’ yang kita buat, kita memang tidak akan pernah bisa menyenangkan semua orang. Akan selalu ada pihak yang ‘diuntungkan’, pun ada yang akan merasa dirugikan. Jika ada orang-orang yang menyukai kebaikan untuk saudaranya, ternyata ada pula sebaliknya. Namun di lain pihak, kita sendiri juga berhak untuk bahagia dan membahagiakan orang-orang yang kita cintai, dengan cara-cara yang lebih bijak dan dewasa. Dan ada saat kita tidak boleh terlalu cepat berpikir utk menyerah pasrah dan lalu membahagiakan orang-orang yang salah macam makcomblang ‘kekinian’ di cerita kita tadi…setuju? Yassalam deh…

 

وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِينَ آمَنُو
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman…” (QS. Al-Hasyr: 10)

Dari Abu Ad-Darda’ dia berkata: Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ وَلَكَ بِمِثْلٍ
“Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama.” (HR. Muslim no. 4912).

 

*Disclaimer: Hanya demi untuk keperluan edukasi, maka kesamaan tokoh, profesi, sikon, dan peristiwa adalah bukan kebetulan semata… 😀

Older Posts »

Categories

Create your own website, free on WordPress.com.Create your own website.
Start free