.

blog-indonesia.comWelcome to Smart Alzind Cerdas Istimewa Bakat Istimewa (CI-BI)

Jumat, 31 Oktober 2008

MODEL MATA PELAJARAN ILMU PENGETAHUAN ALAM (IPA), SAINS

SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)
MATA PELAJARAN
ILMU PENGETAHUAN ALAM

BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN

DIREKTORAT PEMBINAAN SMP
DITJEN MANDIKDASMEN
DEPDIKNAS JAKARTA, 2006

KATA PENGANTAR

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Bab IV Pasal 10 menyatakan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah berhak mengarahkan, membimbing, dan mengawasi penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Selanjutnya Pasal 11 Ayat (1) juga dinyatakan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi. Sehubungan dengan hal tersebut, maka dalam rangka pelaksanaan kurikulum 2004 Departemen Pendidikan Nasional berwenang untuk menetapkan kerangka dasar, standar kompetensi lulusan, untuk setiap jenjang pendidikan maupun standar kompentensi dan kompetensi dasar bagi setiap mata pelajaran. Sedangkan Pengembangan perangkat pembelajaran, seperti silabus dan sistem penilaian merupakan kewenangan satuan pendidikan (sekolah) dibawah koordinasi dan supervisi pemerintah kabupaten/kota.

Dalam rangka membantu sekolah dan pemerintah daerah untuk keterlaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah merasa perlu menerbitkan Pedoman Pengembangan Silabus untuk setiap mata pelajaran. Sebagaimana kewenangan yang diatur dalam konteks desentralisasi pendidikan maka pendidikan ini dimaksud sebagai alternatif pilihan bagi sekolah atau kabupaten/kota untuk acuan dalam mengembangkan silabus.

Panduan Pengembangan Silabus ini berisi rambu-rambu untuk mengembangkan silabus mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam yang mencakup teori dan konsep dalam menjelaskan standar komptensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar.

Mudah-mudahan buku panduan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang memerlukannya.













DAFTAR ISI

halaman
HALAMAN JUDUL ……………………………………………………..
i
KATA PENGANTAR …………………………………………………..
ii
DAFTAR ISI ……………………………………………………………..
iii
I. PENDAHULUAN ………………………………………………….

A. Latar Belakang ………………………………………….
B. Karakteristik Mata Pelajaran ………………………….
C. Karakteristik Peserta Didik …………………………… 1

1
2
8
II. PENGERTIAN, PRINSIP, DAN TAHAP-TAHAP PENGEMBANGAN SILABUS ................................................

A. Pengertian Silabus ...................................................
B. Pengembang Silabus ...............................................
C. Prinsip Pengembangan Silabus ................................
D. Tahap-tahap Pengembangan Silabus ......................
11

11
11
12
13

III. KOMPONEN DAN LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN SILABUS .................................................................................

A. Komponen Silabus ....................................................
B. Langkah-langkah Pengembangan Silabus ...............
14

14
15

IV. PENUTUP ................................................................................
21
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................
21
GLOSARIUM ..................................................................................
22

LAMPIRAN .....................................................................................
30

































I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab IV Pasal 10 menyatakan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah berhak mengarahkan, membimbing, dan mengawasi penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Selanjutnya, Pasal 11 Ayat (1) juga menyatakan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi. Dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, wewenang Pemerintah Daerah dalam penyelenggaraan pendidikan di daerah menjadi semakin besar. Lahirnya kedua undang-undang tersebut menandai sistem baru dalam penyelenggaraan pendidikan dari sistem yang cenderung sentralistik menjadi lebih desentralistik.

Kurikulum sebagai salah satu substansi pendidikan perlu didesentralisasikan terutama dalam pengembangan silabus dan pelaksanaannya yang disesuaikan dengan tuntutan kebutuhan peserta didik , keadaan sekolah, dan kondisi sekolah atau daerah. Dengan demikian, sekolah atau daerah memiliki cukup kewenangan untuk merancang dan menentukan materi pokok/pembelajaran, kegiatan pem belajaran, dan penilaian hasil pembelajaran.

Banyak hal yang perlu dipersiapkan oleh daerah karena sebagian besar kebijakan yang berkaitan dengan implementasi Standar Nasional Pendidikan dilaksanakan oleh sekolah atau daerah. Sekolah harus menyusun Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan KTSP, kalender pendidikan, dan silabus dengan cara melakukan penjabaran dan penyesuaian Standar Isi yang ditetapkan dengan Permendiknas No. 22 Tahun 2006 dan Standar Kompetensi Lulusan yang ditetapkan dengan Permendiknas No. 23 Tahun 2006

Di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dijelaskan:
• Sekolah dan komite sekolah, atau madrasah dan komite madrasah, mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasar¬kan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan di bawah supervisi Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota yang bertangung jawab terhadap pendidikan untuk SD, SMP, SMA, dan SMK, serta Departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama untuk MI, MTs, MA, dan MAK ( Pasal 17 Ayat 2)
• Perencanan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanan pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pembelajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar (Pasal 20)

Berdasarkan ketentuan di atas, daerah atau sekolah memiliki ruang gerak yang luas untuk melakukan modifikasi dan mengembangkan variasi-variasi penyelengaraan pendidikan sesuai dengan keadaan, potensi, dan kebutuhan daerah, serta kondisi peserta didik . Untuk keperluan di atas, perlu adanya panduan pengembangan silabus untuk setiap mata pelajaran, agar daerah atau sekolah tidak mengalami kesulitan.

B. Karakteristik Mata Pelajaran IPA

Pada aspek biologis, IPA mengkaji berbagai persoalan yang berkait dengan berbagai fenomena pada makhluk hidup pada berbagai tingkat organisasi kehidupan dan interaksinya dengan faktor lingkungan, pada dimensi ruang dan waktu. Untuk aspek fisis, IPA memfokuskan diri pada benda tak hidup, mulai dari benda tak hidup yang dikenal dalam kehidupan sehari-hari seperti air, tanah, udara, batuan dan logam, sampai dengan benda-benda di luar bumi dalam susunan tata surya dan sistem galaksi di alam semesta. Untuk aspek kimia, IPA mengkaji berbagai fenomena/gejala kimia baik pada makhluk hidup maupun pada benda tak hidup yang ada di alam semesta. Ketiga aspek tersebut, ialah aspek biologis (biotis), fisis, dan khemis, dikaji secara simultan sehingga menghasilkan konsep yang utuh yang menggambarkan konsep-konsep dalam bidang kajian IPA. Khusus untuk materi Bumi dan Antariksa dapat dikaji secara lebih dalam dari segi struktur maupun kejadiannya. Dalam penerapannya, IPA juga memiliki peranan penting dalam perkembangan peradaban manusia, baik dalam hal manusia mengembangkan berbagai teknologi yang dipakai untuk menunjang kehidupannya, maupun dalam hal menerapkan konsep IPA dalam kehidupan bermasyarakat, baik aspek politik, ekonomi, sosial, budaya, dan pertahanan-keamanan. Oleh karena itu, struktur IPA juga tidak dapat dilepaskan dari peranan IPA dalam hal tersebut.

1. Struktur Keilmuan IPA

Agar peserta didik SMP dapat mempelajari IPA dengan benar, maka IPA harus dikenalkan secara utuh, baik menyangkut objek, persoalan, maupun tingkat organisasi dari benda-benda yang ada di dalam jagat raya. Dimensi objek IPA meliputi:
a. Benda-hidup: mencakup (a) Plantae (tumbuhan), (b) Animalium (hewan) termasuk di dalamnya manusia, (c) Fungi (jamur), (d) Protista, (e) Archeobacteria, dan (f) Eubacteria
b. Benda tak hidup: mencakup (a) bumi (tanah dan batuan, air, dan udara), (b) tata surya, (c) galaksi, dan (d) jagat raya (alam semesta)

Berdasarkan tinjauan dari segi dimensi tingkat organisasi benda alam dapat dibuat gradasi mulai dari : (1). Sub-atom (proton, elektron, dan neutron), (2). Atom, (3). Molekul, (4).Unsur, senyawa, dan campuran, (5). Zat dan (6). Benda. Sebagai contoh bendanya berupa pohon, maka dari segi zat pohon tersusun atas zat padat berupa serat, zat cair berupa air dan zat terlarut di dalamnya terkandung juga gas yang terdapat dalam sel maupun antar sel.

Dimensi tema/persoalan IPA dapat dikaji dari aspek-aspek berikut (Walde University, 2002:), yaitu:
a. Tema/persoalan IPA sebagai proses penemuan (Science as inquiry): menyangkut (a). Penemuan ilmiah dan (b). Metode ilmiah.
b. Tema/persoalan IPA dari aspek fisika (Physical science) menyangkut: (a). Sifat materi dan perubahan sifat dalam materi, (b). Gerak dan gaya, dan (c). Transfer energi
c. Tema/persoalan IPA dari aspek biologi (Living science) menyangkut: (a). Struktur dan fungsi dalam sistem kehidupan, (b). Reproduksi dan Penurunan Sifat, (c). Regulasi dan Tingkah Laku, (d), Populasi dan Ekosistem, (e). Ke ragaman dan Adaptasi organisme.
d. Tema/persoalan IPA dari aspek Bumi dan Antariksa (Earth and space science) mengkaji: (a). Struktur sistem bumi, (b). Sejarah Pembentukan Bumi, dan (c). Bumi dan Sistem Tata Surya
e. Tema/persoalan IPA hubungannya dengan teknologi (Science and techno-logy) mengkaji (a). Rancangan-rancangan teknologi, (b). Keterkaitan IPA dan teknologi
f. Tema/persoalan IPA dari perpektif personal dan sosial (Personal and social perpectives) mengkaji, (a). Kesehatan diri, (b). Populasi, sumber daya, dan lingkungan, (c ). Bencana alam, (d). Resiko dan keuntungan, serta (e). Sains, teknologi, dan masyarakat.
g. Tema/persoalan IPA dari sisi sejarah dan hakikat IPA (History and natural of science) mengkaji, (a). IPA sebagai hasil rekadaya/usaha keras manusia, (b). Hakikat IPA sebagai ilmu, dan (c). Sejarah perkembangan IPA sebagai ilmu.

Khusus untuk tema/persoalan yang berkait dengan aspek biologi dapat pula didekati dengan apa yang sudah dikembangkan oleh BSCS (BSCS, 1996) yang meliputi :
a. Pola-pola evolusi dan produk perubahan (Evolution: patterns and products of change).
b. Interaksi dan interdependensi (Interaction and interdependence).
c. Penjagaan/pemeliharaan keseimbangan yang dinamik (Maintenance of a dynamic equilibrium).
d. Pertumbuhan, perkembangan, diferensiasi (Growth, development, and differentiation).
e. Kelangsungan genetik (Genetic continuity)
f. Energi, materi dan organisasi (Energy, matter, and organization)
g. Ilmu Pengetahuan Alam, teknologi, dan masyarakat (Science, Technology, and Society)

Bentley dan Watts (1989) mengemukakan bahwa persoalan atau tema IPA dapat dikaji dari aspek kemampuan yang akan dikembangkan pada diri peserta didik , yakni mencakup aspek mengkomunikasikan konsep secara ilmiah, aspek pengembangan konsep dasar sains, dan pengembangan kesadaran IPA dalam konteks ekonomi dan sosial. Sementara Djohar (2000) mengajukan struktur keilmuan IPA seperti tampak pada gambar 1.









































Gambar 1 menunjukkan bahwa kajian IPA untuk SMP jika ditinjau dari dimensi objek, tingkat organisasi, dan tema/peroalannya aspek fisis, kimia, dan biologi, akan banyak sekali jenis kajiannya. Oleh karena itu, agar peserta didik SMP dapat mengenal kebulatan IPA sebagai ilmu, maka seluruh tema/persoalan IPA pada berbagai jenis objek dan tingkat organisasinya dapat dijadikan bahan kajian, sepanjang tetap dalam kerangka pengenalan. Dengan kata lain, kajian IPA untuk SMP hendaknya luas untuk memenuhi keutuhannya. Dengan demikian, IPA sebagai mata pelajaran hendaknya diajarkan secara utuh atau terpadu, tidak dipisah-pisahkan antara Biologi, Fisika, Kimia, dan Bumi Antariksa. Selain tidak jelasnya keutuhan konsep IPA sebagai ilmu (karena aspek IPA, teknologi dan masyarakat tidak terlingkupi), juga berat bagi peserta didik SMP karena konsep IPA menjadi kumpulan dari konsep-konsep Biologi ditambah dengan Fisika, Kimia, dan Bumi Antariksa. Hal ini mengingat tingkat berpikir sebagian besar peserta didik SMP masih pada taraf perubahan/transisi dari fase kongkrit ke fase operasi formal. Hanya sebagian kecil peserta didik SMP yang sudah dapat benar-benar pada tataran operasi formal, karena fase formal mulai dicapai oleh anak pada usia 14 tahun, itupun penyelelidikannya dilakukan pada bangsa-bangsa Anglosakson (Carin dan Sund, 1989).

2. Metode dan Sikap Ilmiah Bidang IPA

IPA sebagai ilmu terdiri dari produk dan proses. Produk IPA terdiri atas fakta (misalnya: orang menghirup udara dan mengeluarkan udara dari hidungnya, biji kacang hijau muncul hipokotil dan dan epikotilnya dan akan bertambah panjang ukurannya saat ditanam pada kapas yang disiram air), konsep ( misalnya: udara yang dihirup ke dalam paru-paru lebih banyak kandungan oksigennya dibandingkan udara yang dikeluarkan dari paru-paru, logam memuai bila dipanaskan), prinsip (misalnya: kehidupan memerlukan energi, benda tak hidup tidak mengalami pertumbuhan), prosedur (misal, pengamatan, pengukuran, tabulasi data, analisis data) teori, (misalnya: teori evolusi, teori asal mula kehidupan), hukum dan postulat ( misal, hukum Boyle, Archimedes, Postulat Kock). Semua itu merupakan produk yang diperoleh melalui serangkaian proses penemuan ilmiah melalui metoda ilmiah yang didasari oleh sikap ilmiah.

Ditinjau dari segi proses, maka IPA memiliki berbagai keterampilan IPA, misalnya: (a) mengidentifikasi dan menentukan variabel tetap/bebas dan variabel berubah/tergayut, (b) menentukan apa yang diukur dan diamati, (c) keterampilan mengamati menggunakan sebanyak mungkin indera (tidak hanya indera penglihat), mengumpulkan fakta yang relevan, mencari kesamaan dan perbedaan, mengklasifikasikan, (d) keterampilan dalam menafsirkan hasil pengamatan seperti mencatat secara terpisah setiap jenis pengamatan, dan dapat menghubung-hubungkan hasil pengamatan, (e) keterampilan menemukan suatu pola dalam seri pengamatan, dan keterampilan dalam mencari kesimpulan hasil pengamatan, (f) keterampilan dalam meramalkan apa yang akan terjadi berdasarkan hasil-hasil pengamatan, dan (g) keterampilan menggunakan alat/bahan dan mengapa alat/bahan itu digunakan. Selain itu adalah keterampilan dalam menerapkan konsep, baik penerapan konsep dalam situasi baru, menggunakan konsep dalam pengalaman baru untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi, maupun dalam menyusun hipotesis.

Keterampilan IPA juga menyangkut keterampilan dalam berkomunikasi seperti (a) keterampilan menyusun laporan secara sistematis, (b) menjelaskan hasil percobaan atau pengamatan, (c) cara mendiskusikan hasil percobaan, (d) cara membaca grafik atau tabel, dan (e) keterampilan mengajukan pertanyaan, baik bertanya apa, mengapa dan bagaimana, maupun bertanya untuk meminta penjelasan serta keterampilan mengajukan pertanyaan yang berlatar belakang hipotesis. Jika aspek-aspek proses ilmiah tersebut disusun dalam suatu urutan tertentu dan digunakan untuk memecahkan suatu permasalahan yang dihadapi, maka rangkaian proses ilmiah itu menurut Towle (1989) menjadi suatu metode ilmiah.

Rezba dkk. (1995) mendeskripsikan keterampilan proses IPA yang harus dikembangkan pada diri peserta didik mencakup kemampuan yang paling sederhana yaitu mengamati, mengukur sampai dengan kemampuan tertinggi yaitu kemampuan bereksperimen. Secara skematis jalinan kemampuan proses IPA dapat digambarkan pada gambar 2.

Menurut Bryce dkk. (1990) keterampilan proses IPA mencakup keterampilan dasar (basic skill) sebagai kemampuan yang terendah, kemudian diikuti dengan keterampilan proses (process skill). Sebagai keterampilan tertinggi adalah keterampilan investigasi (investigation skill). Keterampilan dasar mencakup: (a) melakukan pengamatan (observational skill), (b) mencatat data (recording skill), (c) melakukan pengukuran (measurement skill), (d) mengimplementasikan prosedur (procedural skill), dan (e) mengikuti instruksi (following instructions). Keterampilan proses meliputi: (a) menginferensi (skill of inference) dan (b) menyeleksi berbagai cara/prosedur (selection of procedures). Keterampilan investigasi berupa keterampilan merencanakan dan melaksanakan serta melaporkan hasil investigasi. Keterampilan tersebut juga harus didasari oleh sikap ilmiah seperti sikap antusias, ketekunan, kejujuran, dan sebagainya.

Mengingat dari perkembangan mental peserta didik SMP/MTs menurut Piaget (Carin dan Sund, 1989) sebagian besar pada taraf transisi dari fase konkrit ke fase operasi formal, maka diharapkan sudah mulai dilatih untuk mulai mampu berpikir abstrak. Oleh karena itu, pembelajaran IPA di SMP terutama di kelas III hendaknya sudah mengenalkan peserta didik kepada kemampuan untuk mulai melakukan investigasi/ penyelidikan walaupun sifatnya masih sangat sederhana.










































Setidaknya, peserta didik sudah mulai dilatih untuk merencanakan pengamatan/percobaan sederhana, mengidentifikasi variabel, merumuskan hipotesis berdasar pustaka bukan sekedar menurut dugaan yang rasional berdasar logika, mampu melakukan dan melaporkan percobaan/pengamatan baik secara tertulis maupun lisan. Jika hal seperti itu dibiasakan maka hasil belajar yang dapat dicapai benar-benar akan memuat unsur kognitif, afektif dan psikomotor.

Untuk peserta didik sekolah menengah dalam konteks melakukan penyelidikan/investigasi sederhana, peserta didik seharusnya sudah dilatih bagaimana ia harus mengorganisasi data untuk menjawab pertanyaan, atau bagaimana ia dapat mengorganisasi kejadian-kejadian untuk dijadikan alasan pembenar yang paling kuat. Selain itu, proses IPA juga mencakup kemampuan untuk mengkomunikasikan baik secara tertulis berupa pembuatan tulisan/karangan, pemberian label, menggambar, melengkapi peta konsep, mengembangkan/ melengkapi petunjuk kerja, membuat grafik dan mengkomunikasikan secara lesan kepada orang lain (Walden University, 2000).

Menurut DES (Cavendish, at all., 1990) proses IPA untuk sekolah menengah sudah berbeda dengan sekolah dasar, yaitu meliputi: (a) kegiatan melakukan observasi, (b) memilih kegiatan observasi yang relevan dengan investigasi/penyelidikannya untuk dipelajari lebih lanjut, (c) menemukan dan mengidentifikasi pola-pola baru dan menghubungkannya dengan pola-pola yang sudah ada, (d) menyarankan dan menilai penjelasan-penjelasan dari pola-pola yang ada, (e) mendesain dan melaksanakan percobaan, termasuk melakukan berbagai pengukuran untuk menguji pola-pola yang ada, mengkomunikasikan (baik secara verbal, dalam bentuk matematika, atau grafik) dan menginterpretasi tulisan-tulisan dan bahan ajar lainnya, (f) memakai peralatan dengan efektif dan hati-hati, (g) menggunakan pengetahuan untuk melaksanakan investigasi, (h) menggunakan pengetahuannya untuk memecahkan problem-problem yang berkait dengan teknologi.

Mengingat demikian luasnya kawasan kajian keilmuan IPA berdasar ragam obyek, ragam tingkat organisasi, dan ragam tema persoalannya, maka dalam membelajarkan peserta didik untuk menguasai IPA bukan pada banyaknya konsep yang harus dihafal, tetapi lebih kepada bagaimana agar peserta didik berlatih menemukan konsep-konsep IPA melalui metode ilmiah dan sikap ilmiah, dan peserta didik dapat melakukan kerja ilmiah, termasuk dalam hal meningkatkan kreativitas dan mengapresisasi nilai-nilai.


C. Karakteristik Peserta Didik

Peserta didik adalah manusia dengan segala fitrahnya. Mereka mempunyai perasaan dan pikiran serta keinginan atau aspirasi. Mereka mempunyai kebutuhan dasar yang perlu dipenuhi (pangan, sandang, papan), kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan, dan kebutuhan untuk mengaktualisasi dirinya (menjadi dirinya sendiri sesuai dengan potensinya).

Dalam tahap perkembangannya, peserta didik SMP berada pada tahap periode perkembangan yang sangat pesat, dari segala aspek. Berikut ini disajikan perkembangan yang sangat erat kaitannya dengan pembelajaran, yaitu perkembangan aspek kognitif, psikomotor, dan afektif.



1. Perkembangan Aspek Kognitif

Menurut Piaget (1970), periode yang dimulai pada usia 12 tahun, yaitu yang lebih kurang sama dengan usia peserta didik SMP, merupakan ‘period of formal operation’. Pada usia ini, yang berkembang pada peserta didik adalah kemampuan berfikir secara simbolis dan bisa memahami sesuatu secara bermakna (meaningfully) tanpa memerlukan objek yang konkrit atau bahkan objek yang visual. Peserta didik telah memahami hal-hal yang bersifat imajinatif. Implikasinya dalam pembelajaran IPA bahwa belajar akan bermakna kalau input (materi pelajaran) sesuai dengan minat dan bakat peserta didik . Pembelajaran IPA akan berhasil kalau penyusun silabus dan guru mampu menyesuaikan tingkat kesulitan dan variasi input dengan harapan serta karakteristik peserta didik sehingga motivasi belajar mereka berada pada tingkat maksimal. Pada tahap perkembangan ini juga berkembang ketujuh kecerdasan dalam Multiple Intelligences yang dikemukakan oleh Gardner (1993), yaitu: (1) kecerdasan linguistik (kemampuan berbahasa yang fungsional), (2) kecerdasan logis-matematis (kemampuan berfikir runtut), (3) kecerdasan musikal (kemampuan menangkap dan menciptakan pola nada dan irama), (4) kecerdasan spasial (kemampuan membentuk imaji mentaltentang realitas), (5) kecerdasan kinestetik-ragawi (kemampuan menghasilkan gerakan motorik yang halus), (6) kecerdasan intra-pribadi (kemampuan untuk mengenal diri sendiri dan mengembangkan rasa jati diri), kecerdasan antarpribadi (kemampuan memahami orang lain). Di antara ketujuh macam kecerdasan ini sesuai dengan karakteristik keilmuan IPA akan dapat berkembang pesat dan bila dapat dimanfaatkan oleh guru IPA untuk berlatih mengeksplorasi gejala alam, baik gejala kebendaan maupun gejala kejadian/peristiwa guna membangun konsep IPA.

2. Perkembangan Aspek Psikomotor

Aspek psikomotor merupakan salah satu aspek yang penting untuk diketahui oleh guru. Perkembangan aspek psikomotor juga melalui beberapa tahap. Tahap-tahap tersebut antara lain:

a. Tahap kognitif

Tahap ini ditandai dengan adanya gerakan-gerakan yang kaku dan lambat. Ini terjadi karena peserta didik masih dalam taraf belajar untuk mengendalikan gerakan-gerakannya. Dia harus berpikir sebelum melakukan suatu gerakan. Pada tahap ini peserta didik sering membuat kesalahan dan kadang-kadang terjadi tingkat frustasi yang tinggi.




b. Tahap asosiatif

Pada tahap ini, seorang peserta didik membutuhkan waktu yang lebih pendek untuk memikirkan tentang gerakan-gerakannya. Dia mulai dapat mengasosiasikan gerakan yang sedang dipelajarinya dengan gerakan yang sudah dikenal. Tahap ini masih dalam tahap pertengahan dalam perkembangan psikomotor. Oleh karena itu, gerakan-gerakan pada tahap ini belum merupakan gerakan-gerakan yang sifatnya otomatis. Pada tahap ini, seorang peserta didik masih menggunakan pikirannya untuk melakukan suatu gerakan tetapi waktu yang diperlukan untuk berpikir lebih sedikit dibanding pada waktu dia berada pada tahap kognitif. Dan karena waktu yang diperlukan untuk berpikir lebih pendek, gerakan-gerakannya sudah mulai tidak kaku.

c. Tahap otonomi

Pada tahap ini, seorang peserta didik telah mencapai tingkat autonomi yang tinggi. Proses belajarnya sudah hampir lengkap meskipun dia tetap dapat memperbaiki gerakan-gerakan yang dipelajarinya. Tahap ini disebut tahap autonomi karena peserta didik sudah tidak memerlukan kehadiran instruktur untuk melakukan gerakan-gerakan. Pada tahap ini, gerakan-gerakan telah dilakukan secara spontan dan oleh karenanya gerakan-gerakan yang dilakukan juga tidak mengharuskan pembelajar untuk memikirkan tentang gerakannya.

3. Perkembangan Aspek Afektif

Keberhasilan proses pembelajaran IPA juga ditentukan oleh pemahaman tentang perkembangan aspek afektif peserta didik . Ranah afektif tersebut mencakup emosi atau perasaan yang dimiliki oleh setiap peserta didik. Bloom (Brown, 2000) memberikan definisi tentang ranah afektif yang terbagi atas lima tataran afektif yang implikasinya dalam peserta didik SMP lebih kurang sebagai berikut: (1) sadar akan situasi, fenomena, masyarakat, dan objek di sekitar; (2) responsif terhadap stimulus-stimulus yang ada di lingkungan mereka; (3) bisa menilai; (4) sudah mulai bisa mengorganisir nilai-nilai dalam suatu sistem, dan menentukan hubungan di antara nilai-nilai yang ada; (5) sudah mulai memiliki karakteristik dan mengetahui karakteristik tersebut dalam bentuk sistem nilai.

Pemahaman terhadap apa yang dirasakan dan direspon, dan apa yang diyakini dan diapresiasi merupakan suatu hal yang sangat penting dalam teori pemerolehan bahasa kedua atau bahasa asing. Faktor pribadi yang lebih spesifik dalam tingkah laku peserta didik yang sangat penting dalam penguasaan berbagai materi pembelajaran, yang meliputi:
a. Self-esteem, yaitu penghargaan yang diberikan seseorang kepada dirinya sendiri.
b. Inhibition, yaitu sikap mempertahankan diri atau melindungi ego.
c. Anxiety (kecemasan), yang meliputi rasa frustrasi, khawatir, tegang, dsbnya.
d. Motivasi, yaitu dorongan untuk melakukan suatu kegiatan.
e. Risk-taking, yaitu keberanian mengambil risiko.
f. Empati, yaitu sifat yang berkaitan dengan pelibatan diri individu pada perasaan orang lain.

II. PENGERTIAN, PRINSIP, DAN TAHAP-TAHAP PENGEMBANGAN SILABUS

A. Pengertian Silabus

Silabus disusun berdasarkan Standar Isi, yang di dalamnya berisikan Identitas Mata Pelajaran, Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD), Materi Pokok/Pembelajaran, Kegiatan Pembelajaran, Indikator, Penilaian, Alokasi Waktu, dan Sumber Belajar. Dengan demikian, silabus pada dasarnya menjawab permasalahan-permasalahan sebagai berikut.
1. Kompetensi apa saja yang harus dicapai peserta didik sesuai dengan yang dirumuskan oleh Standar Isi (Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar).
2. Materi Pokok/Pembelajaran apa saja yang perlu dibahas dan dipelajari peserta didik untuk mencapai Standar Isi.
3. Kegiatan Pembelajaran apa yang seharusnya diskenariokan oleh guru sehingga peserta didik mampu berinteraksi dengan sumber-sumber belajar.
4. Indikator apa saja yang harus dirumuskan untuk mengetahui ketercapaian KD dan SK.
5. Bagaimanakah cara mengetahui ketercapaian kompetensi berdasarkan Indikator sebagai acuan dalam menentukan jenis dan aspek yang akan dinilai.
6. Berapa lama waktu yang diperlukan untuk mencapai Standar Isi tertentu.
7. Sumber Belajar apa yang dapat diberdayakan untuk mencapai Standar Isi tertentu.

B. Pengembang Silabus

Pengembangan silabus dapat dilakukan oleh para guru secara mandiri atau berkelompok dalam sebuah sekolah atau beberapa sekolah, kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), dan Dinas Pendidikan.

1. Sekolah dan komite sekolah

Pengembang silabus adalah sekolah bersama komite sekolah. Untuk menghasilkan silabus yang bermutu, sekolah bersama komite sekolah dapat meminta bimbingan teknis dari perguruan tinggi, LPMP, dan lembaga terkait seperti Balitbang Depdiknas.



2. Kelompok Sekolah

Apabila guru kelas atau guru mata pelajaran karena sesuatu hal belum dapat melaksanakan pengembangan silabus secara mandiri, maka pihak sekolah dapat mengusahakan untuk membentuk kelompok guru kelas atau guru mata pelajaran untuk mengembangkan silabus yang akan dipergunakan oleh sekolah tersebut

3. Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP)

Beberapa sekolah atau sekolah-sekolah dalam sebuah yayasan dapat bergabung untuk menyusun silabus. Hal ini dimungkinkankarena sekolah dan komite sekolah karena sesuatu hal belum dapat melaksanakan penyusunan silabus. Kelompok sekolah ini juga dapat meminta bimbingan teknis dari perguruan tinggi, LPMP, dan lembaga terkait seperti Balitbang Depdiknas dalam menyusun silabus.

4 Dinas Pendidikan

Dinas Pendidikan setempat dapat memfasilitasi penyusunan silabus dengan membentuk sebuah tim yang terdiri dari para guru berpengalaman di bidangnya masing-masing.
Dalam pengembangan silabus ini sekolah, kelompok kerja guru, atau dinas pendidikan dapat meminta bimbingan teknis dari perguruan tinggi, LPMP, atau unit utama terkait yang ada di Departemen Pendidikan Nasional


C. Prinsip Pengembangan Silabus

1. Ilmiah: Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertangungjawabkan secara keilmuan.

2. Relevan: Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran, dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spiritual peserta didik.

3. Sistematis: Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi.

4. Konsisten: Ada hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian.

5. Memadai: Cakupan indikator, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapain kompetensi dasar.

6. Aktual dan Kontekstual: Cakupan indikator, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi.

7. Fleksibel: Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi variasi peserta didik, pendidikan, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat. Sementara itu, materi ajar ditentukan berdasarkan dan atau memperhatikan kultur daerah masing-masing. Hal ini dimaksudkan agar kehidupan peserta didik tidak tercerabut dari lingkungannya.

8. Menyeluruh: Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif, psikomotor).

D. Tahap-tahap Pengembangan Silabus

1. Perencanaan: Tim yang ditugaskan untuk menyusun silabus terlebih dahulu perlu mengumpulkan informasi dan mempersiapkan kepustakaan atau referensi yang sesuai untuk mengembangkan silabus. Pencarian informasi dapat dilakukan dengan memanfaatkan perangkat teknologi dan informasi seperti multi media dan internet.

2. Pelaksanaan: Dalam melaksanakan penyusunan silabus, penyusun silabus perlu memahami semua perangkat yang berhubungan dengan penyusunan silabus, seperti Standar Isi yang berhubungan dengan mata pelajaran yang bersangkutan dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.

3. Perbaikan: Buram silabus perlu dikaji ulang sebelum digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Pengkajian dapat melibatkan para spesialis kurikulum, ahli mata pelajaran, ahli didaktik-metodik, ahli penilaian, psikolog, guru/instruktur, kepala sekolah, pengawas, staf profesional dinas pendidikan, perwakilan orang tua peserta didik , dan peserta didik itu sendiri.

4. Pemantapan: Masukan dari pengkajian ulang dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk memperbaiki buram awal. Apabila telah memenuhi kriteria rancangan silabus dapat segera disampaikan kepada Kepala Dinas Pendidikan dan pihak-pihak yang berkepentingan lainnya.

5. Penilaian silabus: Penilaian pelaksanaan silabus perlu dilakukan secara berkala dengan mengunakaan model-model penilaian kurikulum.





III. KOMPONEN DAN LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN SILABUS

A. Komponen silabus

Silabus memuat sekurang-kurangnya komponen-komponen berikut ini.
1. Identitas Silabus
2. Standar Kompentensi
3. Kompetensi Dasar
4. Materi Pokok/Pembelajaran
5. Kegiatan Pembelajaran
6. Indikator
7. Penilaian
8. Alokasi Waktu
9. Sumber Belajar

Komponen-komponen silabus di atas, selanjutnya dapat disajikan dalam contoh format silabus secara horisontal atau vertikal sebagai berikut.

Format 1: Horizontal

SILABUS

Sekolah : SMP
Kelas : ......
Mata Pelajaran : ........
Semester : .......
Standar Kompetensi : 1...........
2............


Kompetensi
Dasar Materi
Pokok/
Pembelajaran
Kegiatan Pembelajaran Indikator Penilaian Alokasi
Waktu Sumber
Belajar
Teknik Bentuk
Instrumen Contoh
Instrumen
1.1.




















Format 2: Vertikal
SILABUS

Nama Sekolah :....................................
Mata Pelajaran :....................................
Kelas/Semester :....................................

1. Standar Kompetensi : .......................

2. Kompetensi Dasar : .......................

3.Materi Pokok/Pembelajaran : .......................

4. Kegiatan Pembelajaran : .......................

5. Indikator : .......................

6. Penilaian : .......................

7. Alokasi Waktu : .......................

8. Sumber Belajar : .......................


Catatan:
* Kegiatan Pembelajaran: kegiatan-kegiatan yang spesifik yang dilakukan peserta didik untuk mencapai SK dan KD
* Alokasi waktu: termasuk alokasi penilaian yang terintegrasi dengan pembelajaran (n x 40 menit)
* Sumber belajar: buku teks, alat, bahan, nara sumber,atau lainnya.


B. Langkah-langkah Pengembangan Silabus

1. Mengisi identitas Silabus

Identitas terdiri dari nama sekolah, kelas, mata pelajaran, dan semester. Identitas silabus ditulis di atas matriks silabus.

2. Menuliskan Standar Kompetensi

Standar Kompetensi adalah kualifikasi kemampuan peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada mata pelajaran tertentu. Standar Kompetensi diambil dari Standar Isi (Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar) Mata Pelajaran.
Sebelum menuliskan Standar Kompetensi, penyusun terlebih dahulu mengkaji Standar Isi mata pelajaran dengan memperhatikan hal-hal berikut:
a. urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau SK dan KD;
b. keterkaitan antar standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran;
c. keterkaitan standar kompetensi dan kompetensi dasar antar mata pelajaran.
Standar Kompetensi dituliskan di atas matrik silabus di bawah tulisan semester.

3. Menuliskan Kompetensi Dasar

Kompetensi Dasar merupakan sejumlah kemampuan minimal yang harus dimiliki peserta didik dalam rangka menguasai SK mata pelajaran tertentu. Kompetensi dasar dipilih dari yang tercantum dalam Standar Isi.
Sebelum menentukan atau memilih Kompetensi Dasar, penyusun terlebih dahulu mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a. urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan Kompetensi Dasar;
b. keterkaitan antar Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar dalam mata pelajaran; dan
c. keterkaitan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar antarmata pelajaran.

4. Mengidentifikasi Materi Pokok/Pembelajaran

Dalam mengidentifikasi materi pokok/pembelajaran harus dipertimbangkan:
a. relevansi materi pokok dengan SK dan KD;
b. tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spiritual peserta didik;
c. kebermanfaatan bagi peserta didik;
d. struktur keilmuan;
e. kedalaman dan keluasan materi;
f. relevansi dengan kebutuhan peseta didik dan tuntutan lingkungan; dan
g. alokasi waktu.

Selain itu harus diperhatikan:
a. kesahihan (validity): materi memang benar-benar teruji kebenaran dan kesahihannya;
b. tingkat kepentingan (significance): materi yang diajarkan memang benar-benar diperlukan oleh peserta didik diperlukan oleh peserta didik ;
c. kebermanfaatan (utility): materi tersebut memberikan dasar-dasar pengetahuan dan keterampilan pada jenjang berikutnya;
d. layak dipelajari (learnability): materi layak dipelajari baik dari aspek tingkat kesulitan maupun aspek pemanfaatan bahan ajar dan kondisi setempat;
e. menarik minat (interest): materinya menarik minat peserta didik dan memotivasinya untuk mempelajari lebih lanjut.

5. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran

Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antarpeserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar. Kegiatan pembelajaran yang dimaksud dapat terwujud melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik. Kegiatan pembelajaran memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik.

Kriteria dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran sebagai berikut.
a. Kegiatan pembelajaran disusun bertujuan untuk memberikan bantuan kepada para pendidik, khususnya guru, agar mereka dapat bekerja dan melaksanakan proses pembelajaran secara profesional sesuai dengan tuntutan kurikulum.
b. Kegiatan pembelajaran disusun berdasarkan atas satu tuntutan kompetensi dasar secara utuh.
c. Kegiatan pembelajaran memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta didik secara berurutan untuk mencapai kompetensi dasar.
d. Kegiatan pembelajaran berpusat pada peserta didik (student-centered). Guru harus selalu berpikir kegiatan apa yang bisa dilakukan agar peserta didik memiliki kompetensi yang telah ditetapkan.
e. Materi kegiatan pembelajaran dapat berupa pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
f. Perumusan kegiatan pembelajaran harus jelas memuat materi yang harus dikuasai untuk mencapai Kompetensi Dasar.
g. Penentuan urutan langkah pembelajaran sangat penting artinya bagi KD-KD yang memerlukan prasyarat tertentu.
h. Pembelajaran bersifat spiral (terjadi pengulangan-pengulangan pembelajaran materi tertentu).
i. Rumusan pernyataan dalam Kegiatan Pembelajaran minimal mengandung dua unsur penciri yang mencerminkan pengelolaan kegiatan pembeljaran peserta didik , yaitu kegiatan dan objek belajar.

Pemilihan kegiatan pembelajaran mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
a. memberikan peluang bagi peserta didik untuk mencari, mengolah, dan menemukan sendiri pengetahuan, di bawah bimbingan guru;
b. mencerminkan ciri khas dalam pegembangan kemapuan mata pelajaran;
c. disesuaikan dengan kemampuan peserta didik , sumber belajar dan sarana yang tersedia;
d. bervariasi dengan mengombinasikan kegiatan individu/perorangan, berpasangan, kelompok, dan klasikal; dan
e. memperhatikan pelayanan terhadap perbedaan individual peserta didik seperti: bakat, minat, kemampuan, latar belakang keluarga, sosial-ekomomi, dan budaya, serta masalah khusus yang dihadapi peserta didik yang bersangkutan.

6. Merumuskan Indikator

Untuk mengembangkan instrumen penilaian, terlebih dahulu diperhatikan indikator. Oleh karena itu, di dalam penentuan indikator diperlukan kriteria-kriteria berikut ini.

Kriteria indikator adalah sebagai berikut.
a. Sesuai tingkat perkembangan berpikir peserta didik .
b. Berkaitan dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar.
c. Memperhatikan aspek manfaat dalam kehidupan sehari-hari (life skills).
d. Harus dapat menunjukkan pencapaian hasil belajar peserta didik secara utuh (kognitif, afektif, dan psikomotor).
e. Memperhatikan sumber-sumber belajar yang relevan.
f. Dapat diukur/dapat dikuantifikasikan/dapat diamati.
g. Menggunakan kata kerja operasional.

7. Penilaian

Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Di dalam kegiatan penilaian ini terdapat tiga komponen penting, yang meliputi: (a) teknik penilaian, (b) bentuk instrumen, dan (c) contoh instrumen.

a. Teknik Penilaian

Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis dan menafsirkan proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan untuk menentukan tingkat keberhasilan pencapaian kompetensi yang telah ditentukan. Adapun yang dimaksud dengan teknik penilaian adalah cara-cara yang ditempuh untuk memperoleh informasi mengenai proses dan produk yang dihasilkan pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik.

Ada beberapa teknik yang dapat dilakukan dalam rangka penilaian ini, yang secara garis besar dapat dikategorikan sebagai teknik tes dan teknik nontes.Teknik tes merupakan cara untuk memperoleh informasi melalui pertanyaan yang memerlukan jawaban betul atau salah, sedangkan teknik nontes adalah suatu cara untuk memperoleh informasi melalui pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban betul atau salah.

Dalam melaksanakan penilaian, penyusun silabus perlu memperhatikan prinsip-prinsip berikut ini.
1) Pemilihan jenis penilaian harus disertai dengan aspek-aspek yang akan dinilai sehingga memudahkan dalam penyusunan soal.
2) Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian indikator.
3) Penilaian menggunakan acuan kriteria; yaitu berdasarkan apa yang bisa dilakukan peserta didik setelah peserta didik mengikuti proses pembelajaran, dan bukan untuk menentukan posisi seseorang terhadap kelompoknya.
4) Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan. Berkelanjutan dalam arti semua indikator ditagih, kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi dasar yang telah dimiliki dan yang belum, serta untuk mengetahui kesulitan peserta didik .
5) Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindakan perbaikan, berupa program remedi. Apabila peserta didik belum menguasai suatu kompetensi dasar, ia harus mengikuti proses pembelajaran lagi, dan bila telah menguasai kompetensi dasar, ia diberi tugas pengayaan.
6) Peserta didik yang telah menguasai semua atau hampir semua kompetensi dasar dapat diberi tugas untuk mempelajari kompetensi dasar berikutnya.
7) Dalam sistem penilaian berkelanjutan, guru harus membuat kisi-kisi penilaian dan rancangan penilaian secara menyeluruh untuk satu semester dengan menggunakan teknik penilaian yang tepat.
8) Penilaian dilakukan untuk menyeimbangkan berbagai aspek pembelajaran: kognitif, afektif dan psikomotor dengan menggunakan berbagai model penilaian, baik formal maupun nonformal secara berkesinambungan.
9) Penilaian merupakan suatu proses pengumpulan dan penggunaan informasi tentang hasil belajar peserta didik dengan menerapkan prinsip berkelanjutan, bukti-bukti otentik, akurat, dan konsisten sebagai akuntabilitas publik.
10) Penilaian merupakan proses identifikasi pencapaian kompetensi dan hasil belajar yang dikemukakan melalui pernyataan yang jelas tentang standar yang harus dan telah dicapai disertai dengan peta kemajuan hasil belajar peserta didik .
11) Penilaian berorientasi pada Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar dan Indikator. Dengan demikian, hasilnya akan memberikan gambaran mengenai perkembangan pencapaian kompetensi.
12) Penilaian dilakukan secara berkelanjutan (direncanakan dan dilakukan terus menerus) guna mendapatkan gambaran yang utuh mengenai perkembangan penguasaan kompetensi peserta didik , baik sebagai efek langsung (main effect) maupun efek pengiring (nurturant effect) dari proses pembelajaran.
13) Sistem penilaian harus disesuaikan dengan kegiatan pembelajaran yang ditempuh dalam proses pembelajaran. Misalnya, jika pembelajaran menggunakan pendekatan tugas observasi lapangan, penilaian harus diberikan baik pada proses (keterampilan proses) misalnya teknik wawancara, maupun produk/hasil dengan melakukan observasi lapangan yang berupa informasi yang dibutuhkan.

b. Bentuk Instrumen

Bentuk instrumen yang dipilih harus sesuai dengan teknik penilaiannya. Oleh karena itu, bentuk instrumen yang dikembangkan dapat berupa bentuk instrumen yang tergolong teknik:
1) Tes tulis, dapat berupa tes esai/uraian, pilihan ganda, isian, menjodohkan dan sebagainya.
2) Tes lisan, yaitu berbentuk daftar pertanyaan.
3) Tes unjuk kerja, dapat berupa tes identifikasi, tes simulasi, dan uji petik kerja produk, uji petik kerja prosedur, atau uji petik kerja prosedur dan produk.
4) Penugasan, seperti tugas proyek atau tugas rumah.
5) Observasi yaitu dengan menggunakan lembar observasi.
6) Wawancara yaitu dengan menggunakan pedoman wawancara
7) Portofolio dengan menggunakan dokumen pekerjaan, karya, dan atau prestasi peserta didik .
8) Penilaian diri dengan menggunakan lembar penilaian diri

Sesudah penentuan instrumen tes telah dipandang tepat, selanjutnya instrumen tes itu dituliskan di dalam kolom matriks silabus yang tersedia. Berikut ini disajikan ragam teknik penilaian beserta bentuk instrumen yang dapat digunakan.

Tabel 1. Ragam Teknik Penilaian beserta Ragam Bentuk Instrumennya

Teknik Bentuk Instrumen
• Tes tulis • Tes isian
• Tes uraian
• Tes pilihan ganda
• Tes menjodohkan
• Dll.
• Tes lisan • Daftar pertanyaan
• Tes unjuk kerja • Tes identifikasi
• Tes simulasi
• Uji petik kerja produk
• Uji petik kerja prosedur
• Uji petik kerja prosedur dan produk
• Penugasan • Tugas proyek
• Tugas rumah
• Observasi • Lembar observasi
• Wawancara • Pedoman wawancara
• Portofolio • Dokumen pekerjaan, karya, dan/atau prestasi peserta didik
• Angket • Kuesioner
• Penilaian diri • Lembar penilaian diri


c. Contoh Instrumen

Setelah ditetapkan bentuk instrumennya, selanjutnya dibuat contohnya. Contoh instrumen dapat dituliskan di dalam kolom matriks silabus yang tersedia. Namun, apabila dipandang hal itu menyu¬lit¬kan karena kolom yang tersedia tidak mencukupi, selanjutnya contoh instrumen penilaian diletakkan di dalam lampiran.


7. Menentukan Alokasi Waktu

Alokasi waktu adalah jumlah waktu yang dibutuhkan untuk ketercapaian suatu Kompetensi Dasar tertentu, dengan memperhatikan:
a. minggu efektif per semester,
b. alokasi waktu mata pelajaran, dan
c. jumlah kompetensi per semester.

8. Menentukan Sumber Belajar

Sumber belajar merupakan segala sesuatu yang diperlukan dalam kegiatan pembelajaran, yang dapat berupa: buku teks, media cetak, media elektronika, nara sumber, lingkungan alam sekitar, dan sebagainya.

IV. PENUTUP

Contoh silabus yang terdapat di dalam Lampiran 3 bukan contoh satu-satunya di dalam pengembangan silabus yang disusun berdasarkan Standar Isi. Untuk itu, diharapkan sekolah atau daerah dapat mengembangkan sendiri bentuk silabus yang lain.

Dalam pelaksanaan pembelajaran, silabus harus dijabarkan lebih operasional dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).








DAFTAR PUSTAKA

Brady, L. (1992). Curriculum development. (4th ed.) New York: Prentice-Hall.

Brown, D.H. (2000) Principles of Language Learning and Teaching, New York: Addison Wesley Longman Inc.

Bryce, T.G.K., McCall, J., MacGregor, J., Robertson, I.J., & Weston, R.A.J. (1990). Techniques for assessing process skills in practical science: Teacher’s guide. Oxford: Heinemann Educational Books.

BSCS (1996). Biological science: A molecular approach. Lexington, MA: D.C. Heat and Company.

Carin, A.A. dan Sund, R.B. (1989). Teaching science through discovery. Columbus: Merrill Publishing Company.

Cavendish. S. (1990). Observation activities. London: Paul Chapman Publishing Ltd.

Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama (2004). Pedoman Khusus Pengembangan Silabus Mata Pelajaran Sains.

Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama (2004). Pedoman Khusus Pengembangan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Sains.

Djohar. (2000). Struktur IPA. Yogyakarta: Jurusan Pendidikan Biologi FMIPA UNY

Gardner, H. (1993) Multiple Intelligences: From Theory to Practice. New York: Basic Books

Gronlund, N.E. (1976) Measurement & Evaluation in Teaching, New York: Macmillan publishing Co., Inc.

Mukminan dkk. (2002). Pedoman Umum Pengembangan Silabus Berbasis Kompetensi Peserta didik Sekolah Menengah Pertama (SMP). Yogyakarta: Program Pascasarjana UNY.

Piaget, J. (1970) Science of Education and the Psychology of the Child. New York: Viking.

Rezba, R.J., Sparague, C.S., Fiel, R.L., Funk, H.J., Okey, J.R., & Jaus, H.H. (1995). Learning and assessing science process skills. (3rd ed.) Iowa: Kendall/Hunt Publishing Company.

Romiszowski, A.J. (1981) Designing Instructional Systems. London:Nichols publishing.

Sprinthall, R.C dan N.A. Sprinthall (1977) Educational Psychology: A Developmental Approach, Sydney: Addison-Wesley Publishing Company

Sukmadinata, N.S. (1999). Pengembangan kurikulum: Teori dan Praktek. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Walden University. (2002). Science curriculum.

Ilmu Alamiah Dasar (IAD) 2

Drs. Abdullah Ali, Drs. Misbandono, dan Ir. Eny Rahma
Penerbit Bumi Aksara, 192 hlm., 2006, cet. ke-1

Sinopsis

Ilmu Alamiah Dasar (IAD) sebagai salah satu mata kuliah dasar umum (MKDU) yang wajib diikuti oleh setiap mahasiswa fakultas non eksakta di perguruan tinggi merupakan kumpulan pengetahuan tentang konsep-konsep dasar dalam bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan teknologi.
Pembahasan ini mencakup pengenalan IPA dan ruang lingkupnya, perkembangan teknologi dan dampaknya, serta hubungannya dengan kelangsungan hidup manusia.
Sebagai buku teks yang disajikan secara lengkap, sistematis, dan dilengkapi dengan soal latihan, buku ini cocok untuk digunakan mahasiswa sebagai pegangan serta acuan dalam mempelajari Ilmu Almiah Dasar.
Daftar Isi

BAB I PERKENALAN DENGAN ILMU PENGETAHUAN ALAM (IPA)
1. Perkembangan Pikiran Manusia
a. Sifat unik manusia
b. Rasa Ingin Tahu
c. Rasa ingin tahu menyebabkan alam pikiran manusia perkembangan
2. Mitos, Penalaran dan Pengetahuan Pangkal Kelahiran IPA
a. Mitos
b. Penalaran Deduktif(Rasionalisme)
c. Penalaran induktif
d. Pendekatan ilmiah, kelahiran IPA
3. Metode Ilmiah sebagai ciri IPA
a. Metode ilmiah
b. Pengertian IPA
c. Relativitas IPA
d. IPA bersifat dinamis
4. IPA dan Perkembangan Daya Abstraksi Manusia
a. Peranan matematika dan daya abstraksi manusia
b. Peranan matematika terhadap IPA
c. IPA kualitatif dan kuantitatif
Soal-Soal Latihan
BAB 2 RUANG LINGKUP ILMU PENGETAHUAN ALAM (IPA)
1. Alam Semesta dan Tata Surya
a. Teori terbentuknya alam semesta
b. Teori terbentuknya galaksi dan tata surya
c. Sistem Tata Surya
2. Bumi
a. Hipotesis kejadian bumi
b. Susunan lapisan bumi
c. Atmosfer, Hidrosfer, dan Lihosfer
d. Cuaca
3. Asal Mula Kehidupan Di Bumi
a. Berbagai pendapat tentang asal mula kehidupan
b. Sejarah perkembangan makhluk hidup
c. Perbedaan makhluk hidup dengan benda mati
d. Polusi atau pencemaran
Soal-Soal Latihan
BAB 3 IPA DAN PERKEMBANGAN TEKNOLOGI
1. Peranan IPA dan Teknologi dalam memenuhi kebutuhan MAnusia
a. Materi dan Energi
b. Prinsip Pembangkit listrik
c. Mesin-mesin
d. Komputer
e. Manfaat nuklir untuk kesejahteraan amnusia
f. Komunikasi
2. Perkembangan IPA dan Teknologi bagi Kehidupan Manusia
a. Perkembangan IPA dan Teknologi dalam penyediaan pangan dan sandang
b. Perkembangan IPA dan Teknologi dalam Peningkatan Kesehatan
c. Perkembangan IPA dan Teknologi dalam penyediaan energi
d. Perkembangan IPA dan Teknologi dalam perkembangan industri
3. Perkembangan IPA dan Teknologi di Berbagai Negara dalam Persfektif sejarah
a. Perkembangan IPA dan Teknologi di berbagai negara untuk memperlihatkan
hubungan antara IPA dan Teknologi
b. Permasalahan alih teknologi dari suatu negara ke negara lain
Soal-Soal Latihan
BAB 4 DAMPAK PERKEMBGANGAN IPA DAN TEKNOLGI TERHADAP KEHIDUPAN MANUSIA
1. Dampak teknologi IPA yang Berkenaan dengan kebutuhan pokok
a. Sandang(pakaian)
b. Pangan (makanan)
c. Papan (tempat tinggal)
2. Dampak terhadap pencapaian kemakmuran dan perluasan kemudahan
a. Dampak positif dalam upaya pemenuhan kebutuhan manusia
b. Dampak negatif yang menyulitkan pengendalian diri
3. Dampak Teknologi IPA terhadap Sumber Daya Alam
a. Minyak bumi
b. Batu Bara
c. Air
d. Hutan, Hewan dan ternak
e. Tanah
f. Dampak positif dan negatif
4. Dampak Teknologi IPA terhadap Industri
5. Dampak Teknologi IPA terhadap Pendayagunaan Sumber Daya Alam
a. Dampak positif
b. Dampak negatif
6. Dampak Teknologi IPA terhadap Transportasi dan Komunikasi
a. Transportasi
b. Komunikasi
7. Dampak Teknologi IPA terhadap Peningkatan Kesehatan
a. Dampak positif dalam upaya manusia memberantas penyakit menular
b. Dampak negatif secara tidak langsung membantu timbulnya penyakit tertentu
8. Dampak Teknologi IPA terhadap Sumber Daya Manusia
Soal-Soal Latihan
BAB 5 IPA, TEKNOLOGI DAN KELANGSUNGAN HIDUP MANUSIA
1. Usaha Mencari Sumber Daya Energi Non-Konvevsional
a. Energi matahari
b. Energi panas bumi
c. Energi angin
d. Energi pasang surut
e. Energi biogas
f. Energi biomassa
2. Usaha manusia untuk melestarikan hidupnya
3. Rangkuman
Soal-Soal Latihan

Rabu, 29 Oktober 2008

STANDAR ISI, STRUKTUR KURIKULUM SD/MI

Drs, Edy Maryanto,M.M
THE EDY MARYANTO CENTER
CENTER OF EXCELENT
KONSULTASI BISNIS PENDIDIKAN

DELAPAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN

  1. STANDAR ISI
  2. STANDAR PROSES
  3. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN
  4. STANDAR PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
  5. STANDAR SARANA DAN PRASARANA
  6. STANDAR PENGELOLAAN
  7. STANDAR PEMBIAYAAN
  8. STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN

STANDAR ISI

1.KERANGKA DASAR DAN STRUKTUR KURIKULUM
2.BEBAN BELAJAR
3.KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN
4.KALENDER PENDIDIKAN

1. KERANGKA DASAR & STRUKTUR KURIKULUM
 KELOMPOK MATA PELAJARAN AGAMA DAN AKHLAK MULIA
 KELOMPOK MATA PELAJARAN KEWARGANEGARAAN DAN KEPRIBADIAN
 KELOMPOK MATA PELAJARAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI
 KELOMPOK MATA PELAJARAN ESTETIKA
 KELOMPOK MATA PELAJARAN JASMANI, OLAH RAGA, DAN KESEHATAN

STRUKTUR KURIKULUM SD/MI

(tabel belum diposting)

PENGEMBANGAN DIRI

*)ekivalen 2 jam pembelejaran Bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, bakat, minat, dan kondisi masing-masing peserta didik. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan/atau dibimbing oleh guru, konselor, atau tenaga kependidikan.


2. BEBAN BELAJAR
 BEBAN BELAJAR MENGGUNAKAN JAM PEMBELAJARAN SETIAP MINGGU SETIAP SEMESTER DENGAN:
1) SISTEM TATAP MUKA
{@ 35 (SD), 40 (SMP). 45 (SMA) menit},
2) PENUGASAN TERSTRUKTUR &
3) KEGIATAN MANDIRI TIDAK TERSTRUKTUR
2) + 3) maks 60% waktu tatap muka
BEBAN BELAJAR
KEGIATAN TATAP MUKA KESELURUHAN
(tabel belum diposting)

3. KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN
 SEKOLAH DAN KOMITE SEKOLAH MENGEMBANGKAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN DAN SILABUSNYA BERDASARKAN:
 KERANGKA DASAR KURIKULUM, DAN
 STANDAR KOMPETENSI,
DI BAWAH SUPERVISI DINAS KAB/KOTA (SD, SMP, PAKET A & B),
DAN/ATAU DINAS PROVINSI (SMA, SMK, PLB, PAKET C)

 KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN DIKEMBANGKAN SESUAI DENGAN:
 SATUAN PENDIDIKAN,
 POTENSI DAERAH/ KARAKTERISTIK DAERAH,
 SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT SETEMPAT, &
 PESERTA DIDIK

Senin, 27 Oktober 2008

STANDAR KOMPETENSI, KOMPETENSI DASAR SATUAN PENDIDIKAN SD/MI

BAB I

PENDAHULUAN

A. Rasional

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk “mencari tahu” dan “berbuat” sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar.

Kurikulum IPA menyediakan berbagai pengalaman belajar untuk memahami konsep dan proses IPA. Pemahaman ini bermanfaat bagi peserta didik agar dapat: i) menanggapi isu lokal, nasional, kawasan, dunia, sosial, budaya, ekonomi, lingkungan dan etika; ii) menilai secara kritis perkembangan dalam bidang IPA dan teknologi serta dampaknya; iii) memberi sumbangan terhadap kelangsungan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi; dan iv) memilih karir yang tepat. Oleh karena itu, kurikulum IPA lebih menekankan peserta didik untuk menjadi pebelajar aktif dan luwes.

B. Tujuan Mata Pelajaran

Mata Pelajaran IPA di SD/MI bertujuan agar peserta didik mampu:

Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaan-Nya.

Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positip dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat.

Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan.

Meningkatkan kesadaran untuk berperanserta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam.

Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan. Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/MTs.

Ruang Lingkup

Ruang Lingkup bahan kajian IPA untuk SD/MI meliputi aspek-aspek berikut:

a. Makhluk hidup dan proses kehidupan, yaitu manusia, hewan, tumbuhan dan interaksinya dengan lingkungan, serta kesehatan;

b. Benda/materi, sifat-sifat dan kegunaannya meliputi: cair, padat dan gas;

c. Energi dan perubahannya meliputi: gaya, bunyi, panas, magnet, listrik, cahaya dan pesawat sederhana;

d. Bumi dan alam semesta meliputi: tanah, bumi, tata surya, dan benda-benda langit lainnya.

IPA seharusnya dibelajarkan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiry) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta berkomunikasi sebagai salah satu aspek penting kecakapan hidup. Oleh karena itu pembelajaran IPA di SD menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah. Standar kompetensi dan kompetensi dasar dicapai oleh peserta didik melalui proses inkuiri ilmiah pada tataran discovery dengan ruang lingkup sebagai berikut.

1. Merencanakan penyelidikan ilmiah yang meliputi:

merencanakan penyelidikan sederhana,

merumuskan tujuan penyelidikan,

menentukan alat dan bahan yang dibutuhkan,

menentukan langkah-langkah kerja,

memperkirakan apa yang terjadi berdasarkan langkah kerja yang ditentukan.

Melaksanakan penyelidikan ilmiah yang meliputi:

Melakukan pengamatan suatu objek secara kualitatif dengan menggunakan seluruh indera

Membandingkan benda berdasarkan persamaan dan perbedaan ciri

Mengelompokkan benda berdasar kesamaan ciri tertentu

Menunjukkan bagian-bagian dari suatu sistem

Menggunakan bilangan dan menghitung

Melakukan pengukuran sederhana dengan menggunakan alat yang sesuai

Menarik kesimpulan

Mengkomunikasikan hasil penyelidikan ilmiah yang meliputi:

Melaporkan hasil pengamatan

Melaporkan hasil pengukuran

Melaporkan hasil membilang suatu benda

Melaporkan hasil pengamatan dan pengukuran dalam bentuk tabel atau grafik sederhana

4. Bersikap dan berperilaku ilmiah yang meliputi:

Ingin tahu

Peduli lingkungan

Kemauan bekerja sama

Jujur terhadap fakta

Tekun

Ulet

Kreatif dan inovatif

Skeptis

IPA diperlukan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan manusia melalui pemecahan masalah-masalah yang dapat diidentifikasikan. Penerapan IPA perlu dilakukan secara bijaksana agar tidak berdampak buruk terhadap lingkungan. Di tingkat SD/MI diharapkan ada penekanan pembelajaran Salingtemas (Sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat) yang diarahkan pada pengalaman belajar untuk merancang dan membuat suatu karya melalui penerapan konsep IPA dan kompetensi bekerja ilmiah secara bijaksana.


BAB. II

STANDAR KOMPETENSI DAN KOMPETENSI DASAR

Kelas : I

Semester : 1

Aspek : Makhluk Hidup dan Proses Kehidupan

STANDAR KOMPETENSI

KOMPETENSI DASAR

1. Memahami bagian anggota tubuh serta kegunaannya, kebutuhan dan cara perawatannya, serta mampu memelihara lingkungan agar tetap sehat.

1.1 Mengenali bagian-bagian tubuh dan kegunaannya serta menunjukkan cara perawatannya.

1.2 Menjelaskan secara sederhana kebutuhan tubuh agar tumbuh sehat dan kuat (makanan, air, pakaian, udara, lingkungan sehat) serta menerapkan kebiasaan hidup sehat.

1.3 Membandingkan lingkungan sehat dan lingkungan tidak sehat serta menceritakan perlunya merawat tanaman, hewan peliharaan dan lingkungan sekitar.

Aspek : Benda dan Sifatnya

STANDAR KOMPETENSI

KOMPETENSI DASAR

2. Memahami berbagai sifat benda dan kegunaannya melalui pengamatan dan perubahan bentuk benda.

2.1 Mendeskripsikan benda yang ada di lingkungan sekitar berdasarkan cirinya melalui pengamatan.

2.2 Mengetahui bahwa benda dapat diubah bentuknya.

2.3 Mendeskripsikan kegunaan benda di lingkungan sekitar.


Kelas : I

Semester : 2

Aspek : Energi dan Perubahannya

STANDAR KOMPETENSI

KOMPETENSI DASAR

3. Memahami berbagai bentuk energi dan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.

3.1 Membandingkan gerak benda (yang mudah bergerak

dan yang sulit bergerak) melalui percobaan

3.2 Mengetahui penyebab benda bergerak (batere, per/ pegas, dorongan tangan, dan magnet)

Aspek : Bumi dan Alam Semesta

STANDAR KOMPETENSI

KOMPETENSI DASAR

4. Mengenali berbagai benda langit serta peristiwa alam (cuaca dan musim) dan pengaruhnya terhadap kegiatan manusia.

4.1 Mengidentifikasi berbagai benda langit melalui pengamatan.

4.2 Menyebutkan keadaan cuaca di sekitar kita.

4.3 Mengenali pengaruh musim (kemarau dan hujan) terhadap kegiatan manusia (termasuk pakaian yang sesuai dikenakan) .


Kelas : II

Semester : I

Aspek : Makhluk Hidup dan Proses Kehidupan

STANDAR KOMPETENSI

KOMPETENSI DASAR

1. Memahami bagian-bagian utama tubuh hewan dan tumbuhan, pertumbuhan hewan dan tumbuhan serta berbagai tempat hidup makhluk hidup.

1.1 Mengidentifikasi bagian-bagian utama hewan dan tumbuhan di sekitar rumah dan sekolah melalui pengamatan.

1.2 Mendeskripsikan perubahan yang terjadi pada pertumbuhan hewan (dalam ukuran) dan tumbuhan (dari biji menjadi tanaman).

1.3 Mengamati dan mendeskripsikan berbagai tempat hidup

makhluk hidup (air, tanah dan tempat lainnya) serta mengenali makhluk hidup yang menguntungkan dan yang merugikan manusia.

Aspek : Benda dan Sifatnya

STANDAR KOMPETENSI

KOMPETENSI DASAR

2. Memahami berbagai bentuk benda dan kegunaannya serta perubahan wujud yang dapat dialaminya.

2.1 Mengidentifikasi ciri –ciri benda padat dan cair yang ada di lingkungan sekitar.

2.2 Menunjukkan perubahan bentuk dan wujud benda

(plastisin/tanah liat/ adonan tepung) akibat dari kondisi tertentu.

2.3 Mengidentifikasi benda-benda yang dikenal beserta kegunaannya melalui pengamatan.


Kelas : II

Semester : 2

Aspek : Energi dan Perubahannya

STANDAR KOMPETENSI

KOMPETENSI DASAR

3. Mengenali berbagai sumber energi yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari dan kegunaannya.

3.1 Mengidentifikasi sumber-sumber energi (panas, listrik,

cahaya, dan bunyi).yang ada di lingkungan sekitarnya.

3.2 Membandingkan jenis energi yang paling sering digunakan di lingkungan sekitar, alasan penggunaan dan cara menghematnya.

Aspek : Bumi dan Alam Semesta

STANDAR KOMPETENSI

KOMPETENSI DASAR

4. Memahami peristiwa alam dan pengaruh matahari dalam kehidupan sehari-hari.

4.1 Mengidentifikasi penampakan matahari pada pagi, siang dan sore hari.

4.2 Menjelaskan kegunaan panas dan cahaya matahari dalam

kehidupan sehari-hari.


kelas : III

Semester : 1

Aspek : Makhluk Hidup dan Proses Kehidupan

STANDAR KOMPETENSI

KOMPETENSI DASAR

1. Menyelidiki ciri-ciri dan kebutuhan makhluk hidup, perubahan yang terjadi pada makhluk hidup dan hal-hal yang mempengaruhinya, serta menyelidiki pengaruh kondisi lingkungan terhadap kesehatan, dan upaya menjaga kesehatan lingkungan.

1.1 Mendeskripsikan ciri-ciri dan kebutuhan makhluk hidup serta penggolongannya secara sederhana.

Menyimpulkan berdasarkan pengamatan bahwa makhluk hidup mengalami perubahan dalam rentang hidupnya dan mendeskripsikan hal-hal yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak (makanan, kesehatan, rekreasi, istirahat dan olah raga).

1.3 Mendeskripsikan ciri-ciri lingkungan sehat dan lingkungan tidak sehat berdasarkan pengamatan dan pengaruhnya terhadap kesehatan serta menerapkan cara menjaga kesehatan lingkungan sekitar.

Aspek : Benda dan Sifatnya

STANDAR KOMPETENSI

KOMPETENSI DASAR

2. Menyelidiki sifat-sifat, perubahan sifat benda dan kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari.

2.1 Mengenali sifat-sifat benda berdasarkan pengamatan

meliputi benda padat dan cair.

2.2 Mendeskripsikan perubahan sifat benda (ukuran, bentuk,

warna, atau rasa) yang dapat diamati akibat dari pemabakaran, pemanasan,

dan diletakkan di udara terbuka.

2.3 Menjelaskan kegunaan benda yang dikenalnya (plastik, kayu, kaca dan kertas).


Kelas : III

Semester : 2

Aspek : Energi dan Perubahannya

STANDAR KOMPETENSI

KOMPETENSI DASAR

3. Menyelidiki berbagai cara gerak benda, mengemukakan gagasan tentang arti energi, sumber energi, pengaruh dan kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari, serta menerapkan pengetahuannya tentang konsep energi gerak.

3.1 Menyimpulkan dari hasil pengamatan bahwa gerak benda dipengaruhi oleh bentuk dan ukurannya serta mengaitkan antara gerak benda dengan kegunaannya.

3.2 Mengidentifikasi dari hasil pengamatan tentang pengaruh energi dalam kehidupan sehari-hari (panas, gerak, getaran) dan mendeskripsikan arti energi.

3.3 Mengidentifikasi sumber energi dan penggunaannya serta menerapkan cara menghemat energi dalam kehidupan sehari-hari.

3.4 Merancang dan membuat kincir angin untuk menunjukkan bentuk energi angin dapat diubah menjadi energi gerak.

Aspek : Bumi dan Alam Semesta

STANDAR KOMPETENSI

KOMPETENSI DASAR

4. Memahami penampakan permukaan bumi, cuaca dan pengaruhnya bagi manusia, serta saling keterkaitan antara permukaan bumi, lingkungan, teknologi, dan masyarakat.

4.1 Mendeskripsikan penampakan permukaan

bumi (daratan dan sebaran air).

4.2 Mengaitkan antara keadaan awan dan cuaca

serta mendeskripsikan pengaruh cuaca bagi kegiatan manusia.

4.3 Mencari informasi berbagai cara manusia dalam

memelihara dan melestarikan alam.


Kelas : IV

Semester : 1

Aspek : Makhluk Hidup dan Proses Kehidupan

STANDAR KOMPETENSI

KOMPETENSI DASAR

1. Memahami kaitan antara alat/organ tubuh manusia (rangka, alat indera dan perawatannya) dan tumbuhan dengan fungsinya, penggolongan hewan, berdasarkan jenis makanannya, menyelidiki daur hidup beragam jenis makhluk hidup, serta memahami hubungan antar makhluk hidup dan antara makhluk hidup dengan lingkungannya.

1.1 Mengidentifikasi kaitan antara alat/organ tubuh manusia (rangka, alat indera, cara perawatannya) dan bagian tubuh tumbuhan dan fungsinya bagi tumbuhan itu sendiri.

1.2 Menggolongkan hewan berdasarkan jenis makanannya

1.3 Menyajikan informasi yang menggambarkan

tahapan berbagai jenis daur hidup (termasuk metamorfosis)

beberapa hewan yang dikenalnya serta mempraktikkan kepedulian

terhadap hewan.

Mendeskripsikan melalui pengamatan beberapa jenis hubungan

khas (simbiosis) dan hubungan makan dan dimakan antar

makhluk hidup (rantai makanan) dan antara makhluk hidup dan

lingkungan.

Aspek : Benda dan Sifatnya

STANDAR KOMPETENSI

KOMPETENSI DASAR

2. Menyelidiki beragam sifat dan perubahan wujud benda serta berbagai cara penggunaan benda berdasarkan sifatnya.

2.1 Menyimpulkan bahwa tiap wujud benda (padat, cair, dan gas memiliki sifat tertentu.

2.2 Mengumpulkan informasi cara-cara terjadinya perubahan wujud cair àpadat à cair; cair à gas à cair; padat à gas.

2.3 Menjelaskan hubungan antara sifat bahan dengan kegunaannya


Kelas : IV

Semester : 2

Aspek : Energi dan Perubahannya

STANDAR KOMPETENSI

KOMPETENSI DASAR

3. Menyelidiki bahwa gaya dapat mengubah gerak dan bentuk suatu benda; menyadari keberadaan energi dalam berbagai bentuk dan cara penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari.

3.1 Menyimpulkan dari hasil percobaan bahwa gaya (mencakup

dorongan dan tarikan) dapat mengubah gerak dan bentuk suatu

benda

3.2 Mengidentifikasi energi panas dan bunyi yang terdapat di

lingkungan sekitar serta mendeskripsikan sifat-sifatnya.

3.3 Mengumpulkan informasi tentang energi alternatif dan menjelaskan

berbagai cara penggunaannya.

3.4 Merancang dan membuat suatu karya/model untuk:

(a) menunjukkan perubahan energi gerak akibat pengaruh udara,

misalnya roket dari kertas/baling-baling/pesawat kertas/parasut

(b) menerapkan konsep bunyi, misalnya alat-alat musik atau

peredam suara.

Aspek : Bumi dan Alam Semesta

STANDAR KOMPETENSI

KOMPETENSI DASAR

4. Memahami adanya perubahan penampakan pada permukaan bumi dan benda langit, memahami penyebab perubahan lingkungan fisik dan pengaruhnya terhadap daratan, serta mengembangkan kemampuan mengaitkan antara sumber daya alam dan cuaca dengan lingkungan, teknologi dan masyarakat.

4.1 Mengidentifikasi dan mendeskripsikan perubahan pada penampakan permukaan bumi dan posisi bulan serta penampakan bulan dari hari ke hari.

4.2 Mendeskripsikan berbagai penyebab perubahan lingkungan fisik (angin, hujan, cahaya matahari, dan gelombang air laut ) dan pengaruhnya terhadap daratan (erosi dan abrasi) serta cara mencegahnya.

4.3 Mendeskripsikan keterkaitan antara asal sumber daya alam yang dikenalnya dan teknologi yang digunakan serta mendeskripsikan dampak pengambilan bahan alam tanpa usaha pelestarian.

Kelas : V

Semester : 1

Aspek : Makhluk Hidup dan Proses Kehidupan

STANDAR KOMPETENSI

KOMPETENSI DASAR

1. Memahami fungsi beberapa organ tubuh manusia dan hewan, cara tumbuhan hijau membuat makanan, dan mengembangkan kemampuan menyelidiki cara-cara makhluk hidup menyesuaikan diri dengan lingkungan, serta menyadari pentingnya pelestarian jenis makhluk hidup untuk mencegah kepunahan.

Mendeskripsikan fungsi organ pernapasan (manusia dan beberapa hewan : ikan dan cacing tanah), pencernaan manusia dan kaitan antara makanan serta kesehatan.

Mengenali organ peredaran darah manusia dengan berbagai media serta mengenali gangguan pada organ-organ tersebut dan cara pemeliharaannya.

1.3 Mengumpulkan informasi cara tumbuhan hijau membuat makanan dan menjelaskan secara sederhana bahwa manusia dan hewan tergantung pada tumbuhan hijau sebagai sumber makanannya.

1.4 Mendeskripsikan melalui pengamatan penyesuaian diri hewan dan tumbuhan dengan lingkungan tertentu untuk mempertahankan hidupnya.

1.5 Mencari informasi tentang jenis hewan dan tumbuhan yang mendekati kepunahan dan mendeskripsikan pentingnya pelestarian jenis makhluk hidup untuk perkembangan Ilmu Pengetahuan Alam dan kehidupan masyarakat.

Aspek : Benda dan Sifatnya

STANDAR KOMPETENSI

KOMPETENSI DASAR

2. Memahami hubungan antara sifat bahan dengan penyusunnya dan menyelidiki perubahan sifat benda sebagai hasil suatu proses.

2.1 Mencari hubungan antara sifat bahan dengan bahan penyusunnya (misal berbagai benang, kain, kertas).

Menyimpulkan berdasarkan penyelidikan bahwa benda dapat berubah sifat, baik sementara maupun tetap.


Kelas : V

Semester : 2

Aspek : Energi dan Perubahannya

STANDAR KOMPETENSI

KOMPETENSI DASAR

3. Menyelidiki kaitan antara gaya, gerak dan energi, memahami fungsi pesawat sederhana dan mengenali sifat-sifat cahaya serta penerapannya melalui kegiatan merancang dan membuat suatu karya/model.

3.1 Mendeskripsikan kaitan antara gaya, gerak dan energi melalui percobaan (gaya gravitasi, gaya gesek, gaya magnet).

3.2 Menyimpulkan bahwa pesawat sederhana membuat pekerjaan lebih mudah dan lebih cepat.

3.3 Mendeskripsikan sifat-sifat cahaya.

3.4 Merancang dan membuat suatu karya/ model , misalnya periskop atau lensa dari bahan sederhana dengan menerapkan sifat-sifat cahaya.

Aspek : Bumi dan Alam Semesta

STANDAR KOMPETENSI

KOMPETENSI DASAR

4. Memahami perubahan yang terjadi di alam dan mengaitkannya dengan penggunaan sumber daya alam.

4.1 Mendeskripsikan proses pembentukan tanah karena pelapukan, dan membandingkan jenis-jenis tanah serta mendeskripsikan struktur bumi dan susunan matahari secara sederhana.

4.2 Mendeskripsikan proses daur air dan kegiatan manusia yang dapat mempengaruhinya dan perlunya penghematan air, serta mengidentifikasi peristiwa alam yang terjadi di Indonesia serta dampaknya bagi makhluk hidup dan lingkungan.

4.3 Mengidentifikasi beberapa jenis sumber daya alam di Indonesia dan cara penggunaannya serta menjelaskan beberapa kegiatan manusia yang dapat mengubah permukaan bumi (pertanian, perkotaan, dsb)


Kelas : VI

Semester : 1

Aspek : Makhluk Hidup dan Proses Kehidupan

STANDAR KOMPETENSI

KOMPETENSI DASAR

1. Memahami kaitan antara ciri-ciri makhluk hidup dengan lingkungan tempat hidupnya dan mengenali beberapa cara perkembangbiakan makhluk hidup serta menyelidiki pengaruh kegiatan manusia terhadap keseimbangan lingkungan.

1.1 Mendeskripsikan hubungan antara ciri-ciri khusus yang dimiliki makhluk hidup (kelelawar, cicak, kaktus, dsb) dan lingkungan hidupnya.

1.2 Mendeskripsikan ciri-ciri perkembangan fisik anak laki-laki dan perempuan pada masa pubertas.

1.3 Mendeskripsikan cara perkembangbiakan makhluk hidup.

1.4 Menyimpulkan bahwa kegiatan manusia dapat mempengaruhi keseimbangan ekosistem dan menjelaskan bagian tubuh hewan dan tumbuhan yang sering dimanfaatkan manusia yang mengarah pada pemusnahan jenis dan cara penanggulangannya.

Aspek : Benda dan Sifatnya

STANDAR KOMPETENSI

KOMPETENSI DASAR

2. Memahami saling kaitan antara suhu, sifat hantaran dan kegunaan benda dan mengidentifikasi faktor penyebab perubahan benda serta kemampuan memanfaatkan keterkaitan timbal balik antara sifat benda dan kegunaannya.

2.1 Membandingkan sifat kemampuan menghantarkan panas dari berbagai benda dan pengggunaannya dalam kehidupan sehari-hari.

Menyimpulkan berdasarkan pengamatan bahwa perubahan benda (pelapukan, perkaratan, pembusukan) dipengaruhi oleh berbagai faktor.

Mengidentifikasi faktor yang menentukan dalam pemilihan benda/ bahan untuk tujuan tertentu (karet, logam, kayu, plastik) dan menjelaskan kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kelas : VI

Semester : 2

Aspek : Energi dan Perubahannya

STANDAR KOMPETENSI

KOMPETENSI DASAR

3. Memahami pola penggunaan energi dan beberapa jenis perpindahan energi serta menunjukkan kesadaran akan pentingnya penghematan energi.

3.1 Merancang dan melakukan percobaan untuk menyelidiki hubungan antara gaya dan gerak (model jungkat jungkit, katapel/ model traktor sederhana energi pegas).

Mengumpulkan dan menyajikan informasi tentang perpindahan dan perubahan energi listrik

Mengidentifikasi kegunaan energi listrik dan berpartisipasi dalam penghematannya dalam kehidupan sehari-hari.

Merancang dan membuat suatu karya/ model dengan menggunakan energi listrik (bel listrik/ alarm/ model lampu lalu lintas/ kapal terbang/ mobil-mobilan/model penerangan rumah.

Aspek : Bumi dan Alam Semesta

STANDAR KOMPETENSI

KOMPETENSI DASAR

4. Memahami matahari sebagai pusat tata surya dan interaksi bumi dalam tata surya.

4.1 Mendapatkan informasi tentang sistem tata surya dan mendeskripsikan posisi penyusun tata surya tersebut.

4.2 Mendeskripsikan peristiwa rotasi bumi, revolusi bumi dan revolusi bulan serta menjelaskan terjadinya gerhana bulan dan gerhana matahari.

4.3 Mendapatkan informasi tentang perhitungan kalender Masehi dan kalender Hijriah.