1.349: Training Public Speaking, Ketika Kelas 7 SMP Islam PB Soedirman Bikin Trainernya Kewalahan

Reportase Training Public Speaking | SMP Islam PB Soedirman, Minggu 25 Oktober 2026

Guys, ada satu hal yang selalu bikin saya semangat: ngelihat anak-anak yang berani angkat tangan.

Minggu, 25 Oktober 2026, saya dapat kehormatan ngisi training Public Speaking di SMP Islam PB Soedirman. Pesertanya adalah murid-murid kelas 7/7IT3 (7ITFINITY3) SMP Islam PB Soedirman Bekasi. Jumlahnya 30-an lebih, dan sejak menit pertama, vibes-nya udah kerasa: hidup banget!

Oh ya, ini sesi saya yang ke-1.349. Seribu tiga ratus empat puluh sembilan, Bro dan Sis! Tapi jujur, angka segitu nggak bikin saya santai. Setiap kelas itu unik, dan kelas ini membuktikannya.

Pertanyaan yang Bikin Saya Mikir Keras

Biasanya di awal sesi, kelas itu hening dulu. Anak-anak masih malu-malu, saling lirik, nunggu siapa yang berani duluan. Nah, di kelas 7IT3 ini beda. Belum juga setengah jalan, tangan-tangan udah pada naik.

Yang bikin saya salut bukan cuma banyaknya pertanyaan, tapi kualitasnya. Pertanyaannya bukan sekadar “Kak, gimana caranya biar nggak grogi?” (walaupun itu juga penting, ya). Mereka nanya lebih dalam, lebih kritis, dan nyambung banget sama materi yang lagi dibahas.

Dan ini yang paling seru: ada satu peserta yang nanya berkali-kali, dan tiap pertanyaannya bagus! Itu tandanya apa? Dia nyimak, dia mikir, dan dia nggak berhenti penasaran. Itu mental speaker sejati, Guys. Orang yang berani bertanya itu sebenarnya sudah latihan public speaking: berani bersuara di depan banyak orang.

Pelajaran Hari Itu

Public speaking itu bukan bakat turunan dan bukan cuma buat anak yang “emang dari sananya cerewet”. Itu skill yang bisa dilatih. Kuncinya:

  • Berani mulai. Grogi itu normal, bahkan buat speaker yang udah ribuan kali tampil.
  • Siapkan isi. Percaya diri lahir dari persiapan, bukan dari nekat.
  • Latihan terus. Makin sering ngomong di depan orang, makin ringan rasanya.
  • Jangan takut salah. Salah itu bahan belajar, bukan bahan malu.

Dan hari itu, 7IT3 sudah mempraktikkan semuanya langsung lewat tanya-jawab yang daleeeem dan seru.

Terima Kasih, 7ITFINITY3!

Buat murid-murid kelas 7IT3: kalian keren! Pertahankan keberanian dan rasa ingin tahu kalian. Jangan pernah berhenti nanya, karena dari sanalah ilmu tumbuh. Terima kasih juga buat para guru dan pihak SMP Islam PB Soedirman yang sudah menyiapkan kegiatan ini dengan baik dan menyambut saya dengan hangat.

Terima kasih kepada Kepala SMP Islam Bekasi, Bapak H. Gusfian Muslim, Lc, M.Hum., Wali Kelas 7/7IT3/7ITFINITY3 SMP Islam PB Soedirman Bekasi Bapak Suhendra, SE, Bapak Ibu Guru dan para Orang Tua murid yang support dan menemani anak” hebat mengikuti pelatihan public speaking, juga terima kasih kepada Orang Tua, keluarga Faradiba yang berkenan menjadi lokasi kegiatan.

Perjalanan 1.349 panggung sejak tahun 1990 telah memberikan pengalaman empiris yang luar biasa dalam membersamai berbagai instansi, sekolah, kampus, majelis taklim, maupun perusahaan. Jika ingin tahu jejak-jejak yang lain silahkan lihat disini. Dokumentasi foto dan video kegiatan training-training dan seminar-seminar saya bisa dinikmati di akun tiktok@dwitagama, ada juga di instagram @dwitagama, ratusan foto-foto ada di fanpage facebook atau facebook saya, ada juga di Blog Trainer Kita, ratusan slide saya bisa dilihat dan diunduh di slideshare.net/dwitagama, penggemar podcast bisa simak celoteh saya Podcast Negeri Paman Besut di spotify, celoteh pribadi saya ada di blog pendidik, opini saya tersimpan dengan sangat baik di kompasiana.com/dwitagama, hasil hunting foto saya didokumentasikan di blog fotodedi, dan video-video dokumentasi kegiatan saya yang lebih 5.92 K subscribernya dan lebih dari 2.000 videonya ada di channel youtube saya @dwitagama.

Mau Anak Didik atau Timmu Jago Ngomong?

Buat Bapak/Ibu pengelola sekolah, kampus, komunitas, atau perusahaan: kalau pengen murid, mahasiswa, atau karyawannya berani tampil, percaya diri, dan jago menyampaikan gagasan, saya siap melayani.

Dengan pengalaman 1.349 sesi, saya paham cara bikin training yang hidup, interaktif, dan berbekas, bukan ceramah yang bikin ngantuk. Materi bisa disesuaikan dengan usia dan kebutuhan peserta, dari anak SMP sampai profesional.

📩 Hubungi saya untuk jadwal dan diskusi kebutuhan training Anda.

Sampai ketemu di sesi ke-1.350, dan semoga di kelas Anda! 🎤

#1.349-1990/017-2026/07-10

Guru Zaman Now vs AI: Bukan Saingan, Tapi Tim!

Coba bayangin: tugas sekolah bisa dibantu AI dalam hitungan detik. Terus guru ngapain dong?

Spoiler: guru justru makin penting. Syaratnya, gurunya paham cara “main bareng” teknologi. Nah, itu yang bakal dibahas besok di panggung nasional.

Besok, 29 Oktober 2026: Seminar Nasional di Indocomtech!

KOGTIK PGRI ngundang Dedi Dwitagama buat ngisi Seminar Nasional di rangkaian Indocomtech 2026. Temanya: pemanfaatan TIK di dunia pendidikan plus AI (Artificial Intelligence).

Kamu bakal dapet insight kayak:

  • 🧠 AI itu sebenernya apa sih? Dijelasin santai, bukan bahasa dewa.
  • 🛠️ Cara guru pakai AI buat bikin materi, soal, dan bahan ajar yang lebih kece dan hemat waktu.
  • ⚖️ Pakai AI yang bijak, biar bantu belajar, bukan bikin males mikir.
  • 🚀 Strategi pembelajaran digital yang nyambung sama gaya belajar generasi sekarang.

Siapa Sih Pak Dedi? Santai, Bukan Orang Baru!

Sejak 1990, Pak Dedi udah keliling ngisi pelatihan soal TIK di dunia pendidikan. Itu hampir 26 tahun, Gaes! Zaman masih ngomongin blog dan e-learning sampai sekarang udah era AI, beliau tetap konsisten bantu guru melek teknologi.

Pengalaman panggungnya? Tercatat lebih dari 1.348 presentasi sejak 1990. 😳 Dan bukan cuma jam terbang, prestasinya juga nggak main-main:

  • 🏆 Juara 1 Guru Berprestasi tingkat SLTA DKI Jakarta (2004)
  • 🥈 Juara 2 e-Learning Award tingkat Nasional (2008)
  • 🌟 Juara 1 Guraru Award, Guru Era Baru Award Indonesia (2012)
  • 🌏 Wakil Indonesia di Academic Leadership Training UNESCO, Seoul, Korea Selatan (2012)

Eh, Materinya Nggak Cuma TIK Doang Lho!

Selain TIK dan AI, Pak Dedi biasa bawain topik-topik ini di sekolah, kampus, komunitas, sampai perusahaan. Gayanya interaktif, banyak games, dan sesi tanya jawabnya biasanya pecah! 🔥

  • 💻 TIK & AI dalam Pendidikan: dari blog, e-learning, sampai pemanfaatan AI buat guru
  • 👑 Leadership: kepemimpinan pelajar, mahasiswa, dan dewasa (LDKS, Leadership Motivation)
  • 🎙️ Public Speaking & Komunikasi Efektif: biar nggak gugup lagi di depan umum
  • ✍️ Blogging & Creative Writing: nulis dan ngelola blog
  • 📖 Literasi: minat baca dan tulis
  • 🏷️ Personal Branding: buat pelajar, mahasiswa, guru, sampai kepala sekolah
  • 🛡️ Anti-Bullying: cegah dan atasi perundungan
  • 🚫 Pencegahan Narkoba buat remaja dan pelajar
  • 💬 Edukasi Pergaulan Remaja & HIV/AIDS: kesehatan reproduksi dan moral
  • 👨‍👩‍👧 Parenting Skill: keterampilan pengasuhan buat orang tua

Kamu bisa intip jejaknya lengkap di https://trainerkita.wordpress.com. Ada ratusan slide di slideshare.net/dwitagama, video di YouTube @dwitagama, dan konten seru di Instagram & TikTok @dwitagama.

Kenapa Harus Hadir?

Karena AI udah bukan “nanti-nanti”. Dia ada di HP kamu, di laptop, bahkan mungkin di tugas yang kamu kerjain semalam. 😅 Guru yang paham AI bisa bikin kelas lebih hidup, lebih personal, dan jelas lebih nggak ngebosenin. Plus, materinya dibawain trainer yang udah makan asam garam dunia pendidikan hampir dua dekade. Jadi bukan teori doang, tapi penuh pengalaman nyata!

Catat Ya! 📌

📅 Tanggal: 29 Oktober 2026
📍 Acara: Seminar Nasional KOGTIK PGRI, Indocomtech 2026
🎤 Pemateri: Dedi Dwitagama
🌐 Intip materi lainnya: https://trainerkita.wordpress.com

Mau Pak Dedi Mampir ke Sekolah, Kampus, atau Komunitasmu?

Kalau sekolah, kampus, komite, ormas, atau kantor kamu lagi nyusun agenda dan butuh narasumber seru, langsung aja kontak:

📱 +62 812 8534 836
📧 dwitagama@gmail.com
📸 IG & TikTok: @dwitagama

Ajak temen sesama guru, kepala sekolah, mahasiswa keguruan, atau siapa pun yang peduli masa depan pendidikan. Yuk, belajar bareng, upgrade skill bareng, dan jadi pendidik yang nggak gaptek! ✨

Never stop empowering people… kalo kamu? 💡

1.348: Dari Leadership Games Menuju Pemimpin Muda – Keseruan Belajar Kepemimpinan di LDKS SMPN 127 Jakarta

Kepemimpinan tidak cukup dipelajari melalui teori. Calon pemimpin perlu berlatih, mengambil keputusan, bekerja sama, dan berani menyampaikan pendapat.

Pada 24 Oktober 2026, saya, Dedi Dwitagama, mendapat kehormatan untuk berdiskusi bersama para calon pengurus OSIS SMPN 127 Jakarta dalam kegiatan bertema Motivation Leadership. Kegiatan ini menjadi kesempatan untuk mengajak para calon pemimpin muda memahami bahwa kepemimpinan bukan sekadar jabatan atau posisi dalam sebuah organisasi, melainkan tanggung jawab yang harus diwujudkan melalui sikap dan tindakan nyata.

Sejak kegiatan dimulai, suasana berlangsung dinamis. Para peserta tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga terlibat aktif dalam berbagai aktivitas yang dirancang untuk memberikan pengalaman langsung mengenai praktik kepemimpinan.

Belajar Kepemimpinan Melalui Leadership Games

Dalam kegiatan ini, saya menggunakan sejumlah leadership games sebagai metode pembelajaran. Melalui permainan yang dirancang untuk melatih kerja sama, komunikasi, pengambilan keputusan, dan kemampuan menyelesaikan tantangan, peserta diajak merasakan secara langsung berbagai situasi yang dapat mereka temui ketika menjalankan tugas sebagai pengurus OSIS.

Permainan menjadi pintu masuk untuk membahas nilai-nilai kepemimpinan. Peserta dapat melihat bahwa keberhasilan sebuah tim tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan individu, tetapi juga oleh kemampuan mendengarkan, menghargai pendapat, membangun kepercayaan, dan menyatukan langkah.

Seorang pemimpin tidak harus selalu menjadi orang yang paling banyak berbicara. Ada kalanya pemimpin perlu mendengarkan dengan saksama, memberi kesempatan kepada anggota tim, dan mengambil keputusan setelah mempertimbangkan berbagai masukan.

Pengalaman melalui permainan tersebut kemudian menjadi bahan refleksi bersama. Peserta diajak menghubungkan pengalaman selama kegiatan dengan tantangan nyata yang mungkin mereka hadapi ketika menjadi pengurus OSIS.

Diskusi yang Aktif dan Penuh Antusiasme

Salah satu hal yang menggembirakan dalam kegiatan di SMPN 127 Jakarta ini adalah respons peserta yang aktif. Mereka mengajukan berbagai pertanyaan dan terlibat dalam diskusi mengenai beragam aspek kepemimpinan.

Diskusi tersebut menjadi kesempatan untuk membahas kepemimpinan dari sudut pandang yang dekat dengan kehidupan pelajar, mulai dari membangun kekompakan, menjalankan tanggung jawab, menghadapi perbedaan pendapat, hingga menggerakkan teman-teman agar bersedia bekerja sama mencapai tujuan bersama.

Bagi saya, antusiasme peserta dalam bertanya dan berdiskusi merupakan bagian penting dari proses pembelajaran. Ketika peserta berani mengajukan pertanyaan, mengemukakan pendapat, dan menanggapi gagasan orang lain, sesungguhnya mereka sedang berlatih mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan seorang pemimpin.

Kepemimpinan juga bukan tentang memerintah orang lain. Seorang pemimpin perlu memberikan teladan, menunjukkan integritas, menepati komitmen, serta bersedia bertanggung jawab atas keputusan dan tindakannya.

Nilai-nilai tersebut penting bagi calon pengurus OSIS karena organisasi siswa merupakan ruang belajar untuk mempraktikkan demokrasi, kolaborasi, pelayanan, dan tanggung jawab sejak usia sekolah.

OSIS sebagai Laboratorium Kepemimpinan

Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) memiliki peran strategis dalam membantu peserta didik mengembangkan potensi diri. Melalui berbagai program dan kegiatan organisasi, siswa dapat belajar merencanakan aktivitas, membagi tugas, mengelola waktu, menyelesaikan persoalan, serta membangun komunikasi dengan sesama siswa dan guru.

Namun, pengalaman berorganisasi akan memberikan manfaat lebih besar apabila disertai kesadaran untuk terus belajar dan melakukan refleksi.

Calon pengurus OSIS perlu memahami bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang menjadi ketua, sekretaris, bendahara, atau koordinator bidang. Setiap anggota memiliki kesempatan untuk menjadi pemimpin melalui kontribusi, kedisiplinan, kepedulian, dan kesediaan membantu tim mencapai tujuan bersama.

Kegiatan Motivation Leadership di SMPN 127 Jakarta menjadi salah satu ruang untuk menanamkan pemahaman tersebut. Melalui perpaduan pemaparan materi, leadership games, dan diskusi interaktif, peserta memperoleh kesempatan untuk mengenali sekaligus melatih keterampilan kepemimpinan dalam suasana yang menyenangkan.

Harapannya, pengalaman ini dapat menjadi bekal bagi para calon pengurus OSIS untuk menjalankan amanah organisasi secara bertanggung jawab dan memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekolah.

Menumbuhkan Pemimpin Masa Depan dari Sekolah

Setiap sekolah memiliki kesempatan untuk menumbuhkan generasi pemimpin yang berkarakter, percaya diri, komunikatif, dan mampu bekerja sama. Salah satu caranya adalah menghadirkan kegiatan pengembangan kepemimpinan yang tidak berhenti pada penyampaian teori, tetapi memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengalami, mencoba, berdiskusi, dan menarik pelajaran dari setiap aktivitas.

Sebagai pendidik, motivator, dan trainer, saya meyakini bahwa pembelajaran akan lebih bermakna ketika peserta terlibat secara aktif. Karena itu, pendekatan yang menggabungkan materi, permainan edukatif, refleksi, dan diskusi dapat menjadi alternatif untuk mengembangkan kompetensi kepemimpinan siswa sesuai dengan kebutuhan mereka.

Terima Kasih & Semangat Terus!

Terima kasih kepada keluarga besar SMPN 127 Jakarta atas kesempatan dan kepercayaan yang diberikan kepada saya untuk berbagi pengalaman serta berdiskusi bersama para calon pengurus OSIS.

Makasih banyak buat Plt Kepala SMPN 127 Jakarta Bapak H. Sugiyarto, M.Pd, Wakil Kepala SMPN 127 Jakarta Bapak Ibnu Susanto Tri Basuki. R, S.Pd yang telah mensupport saya, para pembina, dan semua peserta yang udah antusias banget. Buat calon pengurus OSIS, ingat ya: kalian nggak harus sempurna buat jadi pemimpin, yang penting mau belajar, mau peduli, dan mau bergerak. Saya tunggu kiprah kalian!

Semoga semangat yang tumbuh dalam kegiatan ini terus terpelihara dan menjadi awal bagi lahirnya pemimpin-pemimpin muda yang tidak hanya mampu menggerakkan orang lain, tetapi juga bersedia memberikan teladan melalui tindakan nyata.

Sekolah yang ingin mengembangkan potensi kepemimpinan siswa melalui kegiatan Leadership Motivation, Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS), penguatan karakter, maupun pelatihan komunikasi dan kerja sama tim dapat berdiskusi lebih lanjut dengan saya melalui Trainer Kita di https://trainerkita.wordpress.com.

Sebab, pemimpin masa depan tidak muncul begitu saja. Mereka tumbuh melalui kesempatan belajar, pengalaman, pendampingan, dan keberanian untuk mulai mengambil tanggung jawab sejak sekarang.

Ini presentasi saya yang tercatat berjumlah 1.348 sejak tahun 1990, jika ingin tahu jejak-jejak yang lain silahkan lihat disini. Dokumentasi foto dan video-video dokumentasi kegiatan saya yang lebih 5.93 K subscribernya dan lebih dari 2.000 videonya ada di channel youtube saya @dwitagama, ratusan foto-foto ada di fanpage facebook atau facebook saya, ada juga di Blog Trainer Kita, ratusan slide saya bisa dilihat dan diunduh di slideshare.net/dwitagama, slide-slide yang saya proses dengan AI (Artificial Intelligent) bisa anda lihat disini, penggemar podcast bisa simak celoteh saya Podcast Negeri Paman Besut di spotify, kegiatan training-training dan seminar-seminar saya bisa dinikmati di akun tiktok@dwitagama, ada juga di instagram @dwitagama, celoteh pribadi saya ada di blog pendidik, opini saya tersimpan dengan sangat baik di kompasiana.com/dwitagama, hasil hunting foto saya didokumentasikan di blog fotodedi.

Sampai bertemu di sessi saya berikutnya!

#1.348-1990/015-2026/06-10

1.347: Menumbuhkan Karakter Pemimpin – Cerita dari LDKS SMPN 75 Jakarta

Hai, teman-teman!

Sabtu, 17 Oktober 2026, jadi hari yang spesial buat aku. Kenapa? Karena aku dapat kesempatan keren banget buat ketemu lagi sama anak-anak pilihan calon pengurus OSIS SMPN 75 Jakarta—dan ini pertemuan kedua kami! 🎉

Topik yang kami bahas kali ini: “Menumbuhkan Karakter Pemimpin” . Serius deh, ini bukan sekadar ceramah biasa. Ini jadi presentasi ke-1.347 aku sejak tahun 1990 (iya, angka itu beneran, bukan typo 😅). Tapi tenang, aku nggak cuma ngomong doang—aku juga bawa beberapa games seru buat kasih “feel” gimana sih rasanya jadi pemimpin dan karakter apa yang harus dikembangin.

Bukan Cuma Teori, Tapi Praktik Langsung

Jadi bayangin deh, kita nggak cuma duduk manis dengerin materi. Kita main games yang bikin otak dan hati ikut jalan. Lewat permainan-permainan ini, calon-calon pemimpin ini bisa ngerasain langsung gimana rasanya ambil keputusan, kerja sama tim, dan ngadepin tantangan. Seru banget liat mata mereka yang semangat dan penasaran! 👀

Pertanyaan Mengalir Deras

Nah, ini yang bikin aku seneng banget. Sejak awal kehadiran aku, pertanyaan dari peserta mengalir deras banget! Nggak cuma satu dua orang, tapi hampir semua pengen tahu lebih banyak. Mulai dari “gimana cara jadi pemimpin yang adil?” sampai “gimana kalau pendapat kita nggak didengerin?”—semua ditanyain. Antusiasme mereka beneran bikin aku semangat juga! 🔥

Kenapa Sih Karakter Pemimpin Itu Penting?

Mungkin kalian nanya, “Emang kenapa sih harus belajar jadi pemimpin?” Nah, gini deh—jadi pemimpin itu bukan cuma soal jabatan atau nongkrong di kursi ketua OSIS. Lebih dari itu, pemimpin yang baik itu punya karakter kuat: jujur, bisa dipercaya, peduli sama orang lain, dan berani ambil tanggung jawab. Dan semua itu bisa dilatih, kok! Nggak ada kata terlambat buat mulai belajar.

Buat Kalian yang Mau Mulai

Kalau kalian juga pengen mulai ngebangun karakter pemimpin, ini beberapa hal yang bisa kalian coba:

  • Mulai dari hal kecil—jadi ketua kelompok belajar, misalnya
  • Belajar dengerin—pemimpin yang baik itu pendengar yang baik
  • Berani salah—karena dari kesalahan kita belajar paling banyak
  • Peduli sekitar—kepemimpinan dimulai dari rasa peduli

Oh Iya, Satu Lagi…

Kalau kalian atau sekolah kalian pengen ngadain sesi kayak gini—entah itu tentang kepemimpinan, motivasi, atau topik seru lainnya— saya selalu terbuka buat berbagi. Siapa tahu aja kan, sekolah kalian jadi tempat berikutnya yang kita datengin. Yang pasti, setiap sesi selalu jadi pengalaman baru yang bikin aku belajar juga. Jadi, jangan ragu buat reach out ya!

Perjalanan 1.347 panggung sejak tahun 1990 telah memberikan pengalaman empiris yang kaya dalam membersamai berbagai instansi, sekolah, kampus, majelis taklim, maupun perusahaan. Jika ingin tahu jejak-jejak yang lain silahkan lihat disini. Dokumentasi foto dan video kegiatan training-training dan seminar-seminar saya bisa dinikmati di akun tiktok@dwitagama, ada juga di instagram @dwitagama, ratusan foto-foto ada di fanpage facebook atau facebook saya, ada juga di Blog Trainer Kita, ratusan slide saya bisa dilihat dan diunduh di slideshare.net/dwitagama, slide-slide yang saya proses dengan AI (Artificial Intelligent) bisa anda lihat disini, penggemar podcast bisa simak celoteh saya Podcast Negeri Paman Besut di spotify, celoteh pribadi saya ada di blog pendidik, opini saya tersimpan dengan sangat baik di kompasiana.com/dwitagama, hasil hunting foto saya didokumentasikan di blog fotodedi, dan video-video dokumentasi kegiatan saya yang lebih 5.92 K subscribernya dan lebih dari 2.000 videonya ada di channel youtube saya @dwitagama.

Terima kasih kepada Bapak Kepala SMPN 75 Jakarta H. Sugiyarto, M.Pd yang berkenan bersinergi dengan saya dan keluarga besar SMPN 75 Jakarta yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk berbagi.

Sampai ketemu di sesi berikutnya, dan terus tumbuh jadi pemimpin versi terbaik kalian!

1.346: Leadership Motivation di SMPN 75 Jakarta – Belajar Memimpin, Berani Bertanggung Jawab

Jumat, 16 Oktober 2026, saya mendapat kesempatan berbagi inspirasi dalam kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) di SMPN 75 Jakarta. Kegiatan ini mengangkat tema Leadership Motivation, dengan fokus pada pengembangan jiwa kepemimpinan siswa, penguatan peran OSIS dan MPK, serta pembentukan karakter yang berakhlak mulia dan bertanggung jawab.

H. Sugiyarto, M.Pd Kepala SMPN 75 Jakarta

Kegiatan ini menjadi presentasi saya yang ke-1.346, sebuah perjalanan panjang berbagi pengalaman, gagasan, dan motivasi bersama peserta didik, guru, serta berbagai komunitas pendidikan.

Bagi saya, setiap kesempatan bertemu dengan siswa selalu memberikan pengalaman tersendiri. Di balik wajah-wajah muda yang hadir, ada semangat, rasa ingin tahu, dan harapan tentang masa depan yang perlu mendapatkan ruang untuk tumbuh.

LDKS Bukan Sekadar Kegiatan Rutin

Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa merupakan salah satu kegiatan penting dalam mempersiapkan peserta didik menjalankan peran organisasi di sekolah. Namun, LDKS idealnya tidak berhenti sebagai agenda tahunan atau kegiatan di luar kelas semata.

Lebih dari itu, LDKS perlu menjadi ruang belajar untuk mengenali diri, memahami tanggung jawab, membangun kerja sama, mengambil keputusan, dan berlatih menyelesaikan persoalan bersama.

Pengurus OSIS dan MPK bukan hanya siswa yang memiliki jabatan dalam struktur organisasi. Mereka adalah peserta didik yang mendapatkan kesempatan untuk belajar menjadi teladan, menyampaikan aspirasi teman-temannya, menyelenggarakan kegiatan, serta membangun budaya sekolah yang positif.

Kepemimpinan juga tidak selalu identik dengan kemampuan memberi perintah. Seorang pemimpin perlu belajar mendengarkan, menghargai perbedaan pendapat, mengelola emosi, dan berani bertanggung jawab atas keputusan yang diambil.

Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dalam sesi Leadership Motivation di SMPN 75 Jakarta.

Games, Interaksi, dan Pertanyaan yang Mengalir Deras

Suasana kegiatan terasa hidup. Para peserta mengikuti berbagai games dengan sangat aktif dan antusias. Aktivitas ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar melalui pengalaman, bukan sekadar mendengarkan penjelasan.

Melalui games, peserta dapat berlatih berkomunikasi, bekerja sama, menyusun strategi, mengambil keputusan, serta memahami pentingnya peran setiap anggota dalam mencapai tujuan bersama.

Dalam kepemimpinan, keberhasilan kelompok tidak hanya ditentukan oleh satu orang yang paling menonjol. Setiap anggota perlu memahami tanggung jawabnya, sementara pemimpin harus mampu mengarahkan energi kelompok agar bergerak menuju tujuan yang disepakati.

Hal menarik lainnya adalah derasnya pertanyaan yang disampaikan peserta. Antusiasme tersebut membuat kegiatan lebih interaktif dan membuka kesempatan untuk membahas berbagai persoalan kepemimpinan dari sudut pandang siswa.

Bagi saya, pertanyaan merupakan bagian penting dari proses belajar. Ketika siswa berani bertanya, mereka sedang melatih kemampuan berpikir kritis, menyusun gagasan, dan mengungkapkan pendapat secara bertanggung jawab.

Kegiatan seperti ini juga menunjukkan bahwa siswa tidak cukup hanya diberi nasihat tentang kepemimpinan. Mereka perlu mendapatkan kesempatan untuk mencoba, berdiskusi, melakukan evaluasi, dan belajar dari pengalaman.

Menjadi Pemimpin yang Berkarakter

Dalam organisasi sekolah, kepemimpinan yang baik perlu dibangun di atas karakter yang kuat. Kemampuan berbicara di depan umum, mengatur kegiatan, atau menyusun program kerja akan lebih bermakna apabila disertai integritas dan kepedulian terhadap orang lain.

Pengurus OSIS dan MPK perlu memahami bahwa jabatan bukan sekadar identitas atau kebanggaan. Jabatan merupakan amanah yang menuntut komitmen dan tanggung jawab.

Seorang pemimpin siswa yang baik perlu mampu:

  • Menjadi teladan dalam sikap, kedisiplinan, dan perilaku sehari-hari.
  • Mendengarkan aspirasi teman-teman dengan terbuka.
  • Menyusun program yang bermanfaat dan realistis.
  • Bekerja sama dengan pengurus lain, guru, dan warga sekolah.
  • Menyelesaikan perbedaan pendapat secara dewasa.
  • Berani mengakui kesalahan dan memperbaikinya.

Kepemimpinan yang berakhlak mulia bukan hanya terlihat ketika seseorang berbicara di depan forum, tetapi juga ketika ia memperlakukan teman, menjalankan tugas, dan menghadapi situasi yang tidak sesuai dengan harapannya.

Karena itu, pembentukan pemimpin muda membutuhkan proses yang berkelanjutan. Semangat yang tumbuh selama LDKS perlu diteruskan melalui kegiatan organisasi, pendampingan pembina, evaluasi program, dan kesempatan nyata untuk mengambil tanggung jawab.

Dari LDKS Menuju Perubahan Nyata

Saya berharap kegiatan LDKS di SMPN 75 Jakarta dapat menjadi salah satu langkah untuk membangun organisasi siswa yang lebih aktif, kreatif, inklusif, dan bertanggung jawab.

Keberhasilan LDKS tidak semata-mata diukur dari kelancaran acara atau antusiasme peserta selama kegiatan berlangsung. Hasil yang lebih penting adalah perubahan perilaku setelah kegiatan selesai.

Apakah pengurus OSIS semakin mampu bekerja sama? Apakah MPK semakin aktif menyalurkan aspirasi siswa? Apakah program organisasi semakin sesuai dengan kebutuhan warga sekolah? Apakah para pengurus semakin disiplin dan bertanggung jawab?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat menjadi bahan evaluasi agar LDKS benar-benar memberikan dampak bagi kehidupan sekolah.

Kepemimpinan tidak tumbuh dalam satu hari. Ia dibangun melalui kebiasaan, pengalaman, keberanian mengambil keputusan, dan kesediaan belajar dari kesalahan.

Siswa yang hari ini belajar memimpin kegiatan kecil di sekolah sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi tanggung jawab yang lebih besar pada masa depan.

Berbagi Inspirasi untuk Sekolah Indonesia

Terima kasih kepada Bapak Kepala SMPN 75 Jakarta H. Sugiyarto, M.Pd yang berkenan bersinergi dengan saya dan keluarga besar SMPN 75 Jakarta yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk berbagi dalam kegiatan Leadership Motivation pada 16 Oktober 2026.

Antusiasme peserta dalam mengikuti games dan derasnya pertanyaan menjadi pengalaman menyenangkan sekaligus pengingat bahwa pendidikan kepemimpinan perlu disampaikan dengan metode yang melibatkan siswa secara aktif.

Sebagai pendidik, trainer, dan konsultan pendidikan, saya meyakini bahwa kegiatan pengembangan siswa akan lebih bermakna ketika materi disesuaikan dengan kebutuhan peserta, dikemas secara interaktif, dan dihubungkan dengan tantangan nyata yang mereka hadapi.

Sekolah yang sedang merencanakan LDKS, pelatihan OSIS dan MPK, seminar motivasi, pengembangan karakter, maupun program kepemimpinan siswa dapat menjadikan kebutuhan peserta sebagai titik awal dalam merancang kegiatan.

Informasi mengenai pengalaman, materi, dan program pelatihan yang saya kembangkan dapat diakses melalui Trainer Kita.

Semoga semakin banyak sekolah yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar memimpin sejak dini, bukan hanya agar mereka mampu mengelola organisasi, tetapi juga agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang sehat, berintegritas, peduli, dan bertanggung jawab.

Sebab, pemimpin masa depan tidak lahir hanya dari jabatan yang diberikan, tetapi dari karakter yang dibangun dan tanggung jawab yang dijalankan setiap hari.

Ini presentasi saya yang tercatat berjumlah 1.346 sejak tahun 1990, jika ingin tahu jejak-jejak yang lain silahkan lihat disini. Dokumentasi foto dan video-video dokumentasi kegiatan saya yang lebih 5.93 K subscribernya dan lebih dari 2.000 videonya ada di channel youtube saya @dwitagama, ratusan foto-foto ada di fanpage facebook atau facebook saya, ada juga di Blog Trainer Kita, ratusan slide saya bisa dilihat dan diunduh di slideshare.net/dwitagama, slide-slide yang saya proses dengan AI (Artificial Intelligent) bisa anda lihat disini, penggemar podcast bisa simak celoteh saya Podcast Negeri Paman Besut di spotify, kegiatan training-training dan seminar-seminar saya bisa dinikmati di akun tiktok@dwitagama, ada juga di instagram @dwitagama, celoteh pribadi saya ada di blog pendidik, opini saya tersimpan dengan sangat baik di kompasiana.com/dwitagama, hasil hunting foto saya didokumentasikan di blog fotodedi.

Sampai bertemu di sessi saya berikutnya!

#1.346-1990/013-2026/04-10

1.345: Menumbuhkan Jiwa Kepemimpinan & Keberanian Berbicara – Pelatihan Public Speaking pada TMD MTs MA Muallimien Muhammadiyah Jakarta 2026 Bersama Dedi Dwitagama

Bogor, 8 Oktober 2026 – Perkaderan merupakan pilar utama dalam membangun generasi penerus yang berkarakter, berideologi kuat, serta memiliki jiwa kepemimpinan yang matang. Dalam rangka mewujudkan visi tersebut, kegiatan Taruna Melati Dasar (TMD) 2026 Madrasah Mu’allimien Muhammadiyah Jakarta kembali digelar sebagai wahana pembentukan kader Muhammadiyah yang berakhlak mulia, tangguh, dan bertanggung jawab.

Salah satu agenda krusial dalam rangkaian perkaderan tahun ini adalah pembekalan keterampilan komunikasi publik (public speaking). Pada kesempatan tersebut, saya dihadirkan sebagai pemateri nasional sekaligus motivator pendidikan (trainerkita.wordpress.com), yang membawakan presentasi ke-1.345 dalam rekam jejak kepelatihan saya.

Antusiasme Tinggi dan Praktik Langsung

Sesi public speaking yang berlangsung interaktif ini tidak sekadar menyampaikan teori di atas panggung, melainkan mengajak para peserta untuk turun langsung mempraktikkan teknik-teknik berbicara di depan umum. Suasana kegiatan terpantau sangat hidup dan dinamis.

Para peserta Taruna Melati Dasar menunjukkan semangat luar biasa melalui:

  • Praktik Langsung: Para peserta memberanikan diri tampil untuk melatih olah vokal, bahasa tubuh, serta penyampaian gagasan secara terstruktur di hadapan audiens.
  • Diskusi Interaktif: Antusiasme peserta terlihat jelas dari derasnya pertanyaan yang diajukan sepanjang sesi, mulai dari cara mengatasi rasa gugup hingga strategi menyampaikan pesan yang persuasif dan berdampak.

Dalam pemaparannya, saya menekankan bahwa kemampuan berbicara di depan publik bukan sekadar tentang keberanian tampil, melainkan tentang bagaimana seorang kader Muhammadiyah mampu menyampaikan ideologi, nilai-nilai kebaikan, dan gagasan kepemimpinan secara jernih serta menginspirasi.

Memperkuat Ideologi dan Karakter Kader

Melalui integrasi materi public speaking dalam perkaderan TMD 2026, diharapkan para calon pemimpin masa depan ini tidak hanya unggul secara intelektual dan ideologis, tetapi juga memiliki rasa percaya diri yang tinggi dalam menyuarakan kebenaran serta memimpin perubahan positif di masyarakat.

Keterampilan komunikasi yang efektif menjadi modal penting bagi setiap kader untuk menjalankan peran strategis di era digital yang penuh dengan dinamika informasi.

Menghadirkan Inspirasi dan Pelatihan Bermakna

Pengalaman berharga dalam sesi ke-1.345 ini kembali membuktikan betapa pentingnya metode pelatihan yang aplikatif dan menyenangkan (fun & impactful learning). Sesi yang dibawakan oleh saya semoga saja mampu menghidupkan suasana kelas, memicu partisipasi aktif, serta memberikan dampak nyata bagi pengembangan diri para peserta.

Perjalanan 1.345 panggung sejak tahun 1990 telah memberikan pengalaman empiris yang kaya dalam membersamai berbagai instansi, sekolah, kampus, majelis taklim, maupun perusahaan. Jika ingin tahu jejak-jejak yang lain silahkan lihat disini. Dokumentasi foto dan video kegiatan training-training dan seminar-seminar saya bisa dinikmati di akun tiktok@dwitagama, ada juga di instagram @dwitagama, ratusan foto-foto ada di fanpage facebook atau facebook saya, ada juga di Blog Trainer Kita, ratusan slide saya bisa dilihat dan diunduh di slideshare.net/dwitagama, slide-slide yang saya proses dengan AI (Artificial Intelligent) bisa anda lihat disini, penggemar podcast bisa simak celoteh saya Podcast Negeri Paman Besut di spotify, celoteh pribadi saya ada di blog pendidik, opini saya tersimpan dengan sangat baik di kompasiana.com/dwitagama, hasil hunting foto saya didokumentasikan di blog fotodedi, dan video-video dokumentasi kegiatan saya yang lebih 5.92 K subscribernya dan lebih dari 2.000 videonya ada di channel youtube saya @dwitagama.

Terima kasih kepada Pengurus MTs MA Muallimien Muhammadiyah Jakarta, Bapak Tri Farhandoyo, M.Pd yang telah mengontak saya, dan seluruh pihak yang telah mensupport kegiatan Taruna Melati Dasar 2026. Energi peserta yang aktif berlatih dan derasnya pertanyaan menjadi pengalaman menyenangkan

Bagi lembaga, sekolah, perguruan tinggi, maupun organisasi yang ingin meningkatkan kapasitas kepemimpinan, komunikasi, dan motivasi anggotanya melalui pelatihan yang interaktif serta berkesan, referensi materi dan portofolio kegiatan Dedi Dwitagama dapat diakses secara lengkap melalui portal resmi di trainerkita.wordpress.com.

Mari terus bergerak bersama, menginspirasi, dan melahirkan generasi pemandu zaman yang berkarakter unggul!

#1.345-1990/013-2026/03-10

LDKS SMP: Tak Cuma Pindah Kelas ke Alam Bebas! Tapi Menyiapkan Siswa jadi Pemimpin

Setiap tahun, menjelang pergantian pengurus OSIS atau setelah penerimaan murid baru, banyak sekolah mengadakan Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS). Peserta berangkat ke bumi perkemahan, mengenakan seragam lapangan, mengikuti permainan kelompok, mendengarkan ceramah, lalu pulang membawa sertifikat dan foto-foto kegiatan.

Pertanyaannya, setelah LDKS selesai, apakah mereka benar-benar menjadi lebih mandiri, berani berpendapat, mampu bekerja sama, dan bertanggung jawab?

Sebagai konsultan pendidikan, saya melihat LDKS seharusnya bukan sekadar tradisi tahunan, apalagi hanya memindahkan kegiatan belajar dari ruang kelas ke alam terbuka. Anak SMP berusia sekitar 12–15 tahun sedang berada dalam masa peralihan menuju remaja. Mereka membutuhkan pengalaman belajar yang sesuai dengan perkembangan emosional, sosial, kemampuan berpikir, dan kebutuhan untuk diterima oleh kelompoknya.

Karena itu, LDKS harus dirancang sebagai laboratorium kehidupan: tempat siswa mencoba, melakukan kesalahan, berdiskusi, mengambil keputusan, dan belajar memperbaiki diri.

Leadership Motivation SMKN 37 Jakarta Ragunan Agustus 2025.

Materi LDKS yang relevan untuk siswa SMP

1. Mengenal diri dan percaya diri

Tujuan: siswa mengenali kelebihan, kekurangan, emosi, dan potensinya.

Gambaran materi: mengenali kekuatan diri, mengelola rasa malu, berani berbicara, menerima kritik, dan menghargai perbedaan.

Metode: permainan Siapa Saya?, menulis tiga kelebihan diri, berpasangan untuk saling memberikan apresiasi, lalu berbagi cerita secara sukarela. Hindari memaksa siswa menceritakan masalah pribadi di depan kelompok.

2. Kerja sama dan komunikasi efektif

Tujuan: siswa belajar bahwa keberhasilan kelompok tidak ditentukan oleh satu orang saja.

Gambaran materi: mendengarkan aktif, menyampaikan pendapat, membagi tugas, menyelesaikan perbedaan, dan membangun kepercayaan.

Metode: tantangan membangun menara dari kertas, menyusun puzzle dengan pembagian informasi, atau memecahkan masalah dalam kelompok. Setelah permainan, fasilitator bertanya: siapa yang mendominasi, siapa yang belum didengar, dan apa yang akan diperbaiki?

3. Kepemimpinan dan pengambilan keputusan

Tujuan: siswa memahami bahwa pemimpin bukan sekadar orang yang memberi perintah.

Gambaran materi: integritas, tanggung jawab, musyawarah, pembagian peran, dan keberanian mengambil keputusan.

Metode: simulasi rapat OSIS untuk merancang kegiatan sekolah dengan anggaran terbatas. Siswa bergantian menjadi ketua rapat, pencatat, penyaji gagasan, dan penanggung jawab. Hasilnya dipresentasikan dan dievaluasi bersama.

4. Empati, perundungan, dan pergaulan sehat

Tujuan: siswa mampu menghormati orang lain dan berani mengambil sikap ketika melihat perilaku yang merugikan.

Gambaran materi: mengenali bullying, tekanan teman sebaya, pengucilan, konflik pertemanan, batasan pribadi, dan cara meminta bantuan orang dewasa tepercaya.

Metode: studi kasus dan bermain peran. Misalnya, seorang teman dijadikan bahan ejekan di grup kelas. Apa yang harus dilakukan saksi? Bagaimana menolong tanpa memperburuk keadaan? Bahas solusi yang aman, bukan mempermalukan pelaku atau korban.

5. Kepemimpinan di era digital

Tujuan: siswa mampu menggunakan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.

Gambaran materi: etika bermedia sosial, jejak digital, privasi, hoaks, cyberbullying, dan penggunaan AI secara bertanggung jawab.

Metode: analisis contoh unggahan atau percakapan fiktif, permainan memilah fakta dan opini, serta tantangan membuat kampanye digital positif untuk sekolah. Tekankan bahwa pemimpin masa kini juga harus mampu menjadi teladan di ruang digital.

6. Tanggung jawab dan aksi nyata

Tujuan: siswa belajar bahwa kepemimpinan harus menghasilkan manfaat.

Gambaran materi: disiplin, kepedulian lingkungan, pelayanan, inisiatif, dan konsistensi menjalankan tugas.

Metode: setiap kelompok mengidentifikasi satu masalah nyata di sekolah, misalnya sampah, keterlambatan, atau kurangnya kepedulian terhadap teman. Mereka menyusun rencana aksi, menentukan penanggung jawab, membuat target, dan mempresentasikan solusi yang realistis.

Bagaimana LDKS sebaiknya dilaksanakan?

LDKS tidak harus selalu berlangsung dua atau tiga hari di luar kota. Sekolah bisa mengadakan kegiatan sehari di lingkungan sekolah, dilanjutkan dengan praktik kepemimpinan selama empat hingga enam minggu.

Contoh rancangan LDKS satu hari:

WaktuKegiatanMetode
08.00–08.30Pembukaan dan kontrak belajarPermainan perkenalan
08.30–09.30Mengenal diriRefleksi dan aktivitas berpasangan
09.30–10.30Komunikasi dan kerja samaTantangan kelompok
10.45–12.00Kepemimpinan dan keputusanSimulasi rapat OSIS
13.00–14.00Perundungan dan etika digitalStudi kasus dan bermain peran
14.00–15.00Merancang aksi nyataProyek kelompok
15.00–15.30Refleksi dan komitmenPresentasi dan umpan balik

Alam terbuka tetap bisa digunakan, tetapi kegiatan fisik harus aman, inklusif, sesuai kemampuan siswa, serta memiliki tujuan pembelajaran yang jelas. Hindari hukuman fisik, bentakan, permainan yang mempermalukan peserta, atau kegiatan yang mengandalkan ketahanan fisik sebagai ukuran kepemimpinan.

Jangan berhenti ketika acara selesai

Keberhasilan LDKS tidak diukur dari banyaknya permainan, kerasnya suara instruktur, lengkapnya atribut, atau megahnya lokasi kegiatan. Ukurannya adalah perubahan perilaku siswa setelah kembali ke sekolah.

Karena itu, setiap peserta sebaiknya memiliki target sederhana, misalnya berani menyampaikan pendapat dalam rapat, menuntaskan tugas kelompok tepat waktu, atau membantu menyelesaikan konflik tanpa mengejek teman.

Guru pembina kemudian melakukan pendampingan dan evaluasi setelah dua hingga empat minggu. Teman sebaya juga dapat memberikan umpan balik, sedangkan pengurus OSIS perlu diberi kesempatan mempraktikkan kepemimpinan dalam kegiatan sekolah yang sesungguhnya.

LDKS yang baik bukan kegiatan untuk mencetak siswa yang pandai memberi komando, melainkan pengalaman untuk membentuk anak yang mampu memahami orang lain, mengambil keputusan dengan bijak, bertanggung jawab, dan berani berbuat baik.

Jika setiap tahun sekolah mengadakan LDKS dengan format yang sama tanpa mengevaluasi dampaknya, kegiatan itu berisiko menjadi rutinitas. Namun, jika setiap permainan memiliki tujuan, setiap materi menjawab kebutuhan perkembangan remaja, dan setiap pelajaran dilanjutkan dengan praktik nyata, LDKS dapat menjadi titik awal tumbuhnya pemimpin muda yang berkarakter.

Sebab, kepemimpinan bukan sekadar jabatan dalam struktur OSIS. Kepemimpinan adalah kebiasaan mengambil inisiatif, menepati janji, menghargai orang lain, dan melakukan hal yang benar meskipun tidak sedang diawasi.

1.344: Santri Shalih, Cerdas, dan Berprestasi di Era Digital – Halaqah yang Penuh Pertanyaan di Ashabul Qur’an Center Bekasi

Perkembangan teknologi digital menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi dunia pendidikan, termasuk pendidikan pesantren. Santri masa kini tidak hanya dituntut memiliki pemahaman agama yang baik, tetapi juga perlu mengembangkan wawasan, kecakapan berpikir, kreativitas, serta kemampuan memanfaatkan teknologi secara bijaksana.

Dalam semangat itulah, saya mendapat kehormatan untuk berdiskusi bersama para santri Pondok Pesantren Ashabul Qur’an Center, Bekasi, pada 7 Oktober 2026, dengan topik “Santri Shalih, Cerdas, dan Berprestasi di Era Digital.”

Pertemuan ini menjadi kesempatan berharga untuk membicarakan bagaimana santri dapat tumbuh menjadi pribadi yang kokoh dalam nilai-nilai keislaman, unggul dalam pengetahuan, serta mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Halaqah yang Hidup dan Interaktif

Diskusi berlangsung dalam suasana halaqah, sebuah model pertemuan yang memberikan ruang bagi peserta untuk saling berinteraksi, menyampaikan pendapat, dan mengajukan pertanyaan.

Yang menarik, pertanyaan para santri mengalir dengan sangat deras. Mereka tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga aktif mengungkapkan rasa ingin tahu, menyampaikan persoalan, dan menggali berbagai kemungkinan tentang kehidupan santri di tengah perkembangan teknologi digital.

Bagi saya, suasana seperti ini merupakan salah satu pengalaman belajar yang menyenangkan. Ketika peserta berani bertanya, itu menunjukkan adanya keterlibatan dalam proses pembelajaran. Pertanyaan juga menjadi jalan untuk memahami apa yang sesungguhnya mereka pikirkan, rasakan, dan hadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Diskusi tidak lagi berjalan satu arah. Narasumber tidak hanya menyampaikan gagasan, sementara santri duduk mendengarkan. Sebaliknya, percakapan berkembang melalui pertanyaan, tanggapan, dan pertukaran pemikiran.

Model halaqah seperti ini memberikan pelajaran penting bahwa pendidikan yang bermakna membutuhkan ruang dialog. Santri perlu memperoleh kesempatan untuk bertanya, menguji pemahaman, mengembangkan argumentasi, dan belajar menyampaikan pendapat dengan santun.

Menjadi Santri Shalih di Tengah Perubahan Zaman

Keshalihan merupakan fondasi penting bagi kehidupan seorang santri. Di tengah derasnya arus informasi, nilai-nilai agama dapat menjadi pedoman dalam menentukan pilihan, bersikap, dan bertindak.

Teknologi digital menghadirkan beragam konten yang dapat diakses dengan mudah. Ada materi pembelajaran, kajian keislaman, buku digital, video edukasi, serta berbagai sumber pengetahuan yang bermanfaat. Namun, ada pula informasi yang tidak akurat, konten yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kebaikan, dan aktivitas digital yang dapat menghabiskan waktu tanpa memberikan manfaat berarti.

Karena itu, santri perlu membangun kemampuan mengendalikan diri, memilih informasi, menjaga adab ketika berkomunikasi, serta mempertimbangkan manfaat dan dampak dari setiap aktivitas digital.

Keshalihan di era digital bukan hanya terlihat dari perilaku ketika berada di lingkungan pesantren. Ia juga tercermin dalam cara seseorang menggunakan media sosial, memperlakukan orang lain di ruang digital, menyebarkan informasi, dan menjaga kehormatan dirinya maupun orang lain.

Santri yang baik tidak sekadar mampu menghindari pengaruh negatif teknologi, tetapi juga mampu menjadikan teknologi sebagai sarana untuk memperkuat kebaikan.

Cerdas, Kritis, dan Terus Belajar

Selain keshalihan, santri perlu mengembangkan kecerdasan dan kemampuan belajar sepanjang hayat.

Perubahan teknologi berlangsung cepat. Pengetahuan yang diperoleh hari ini perlu terus diperbarui agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Oleh sebab itu, kebiasaan membaca, berdiskusi, bertanya, menulis, dan mengeksplorasi pengetahuan menjadi bagian penting dari pembentukan santri yang cerdas.

Santri juga perlu mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Tidak semua informasi yang beredar di internet benar, dan tidak semua konten yang populer layak dijadikan rujukan.

Kemampuan memeriksa sumber, membandingkan informasi, memahami konteks, serta membedakan fakta dari opini menjadi kecakapan yang semakin penting.

Kehadiran kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga membuka peluang baru dalam proses belajar. Teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk membantu memahami konsep yang sulit, memperoleh ide, menyusun rencana belajar, atau mengeksplorasi pengetahuan lebih luas.

Namun, pemanfaatannya harus tetap disertai tanggung jawab. AI sebaiknya menjadi alat bantu untuk memperkuat proses berpikir, bukan menggantikan usaha belajar, kejujuran akademik, maupun pertimbangan manusia.

Santri perlu menjadi pengguna teknologi yang cerdas, bukan sekadar pengguna yang mengikuti tren.

Berprestasi Tanpa Kehilangan Jati Diri

Prestasi santri tidak hanya diukur melalui nilai akademik atau kemenangan dalam perlombaan. Prestasi juga dapat diwujudkan melalui kemampuan menghafal dan memahami Al-Qur’an, menghasilkan karya tulis, mengembangkan keterampilan, berkontribusi kepada masyarakat, serta menciptakan solusi bagi persoalan di sekitarnya.

Era digital memungkinkan santri memperluas jangkauan karya dan kontribusinya. Tulisan yang bermanfaat dapat dipublikasikan melalui blog. Pesan-pesan kebaikan dapat disampaikan melalui video edukasi. Pengetahuan yang dipelajari dapat dibagikan melalui media sosial dengan bahasa yang santun dan mudah dipahami.

Santri yang memiliki minat pada bidang teknologi, desain, penulisan, pendidikan, atau komunikasi dapat mengembangkan keterampilannya melalui berbagai sumber belajar digital.

Dengan demikian, pesantren tidak hanya menjadi tempat untuk memperdalam ilmu agama, tetapi juga lingkungan yang mendukung pertumbuhan potensi santri secara menyeluruh.

Hal yang perlu dijaga adalah keseimbangan. Mengejar prestasi tidak semestinya membuat santri melupakan ibadah, adab, kesehatan, tanggung jawab, dan hubungan baik dengan sesama.

Prestasi yang baik adalah prestasi yang tumbuh bersama karakter dan memberikan manfaat bagi orang lain.

Pesantren dan Peluang Dakwah Digital

Pesantren memiliki modal penting untuk berkontribusi dalam ruang digital: tradisi keilmuan, pembentukan akhlak, kedisiplinan, serta nilai-nilai yang menjadi pedoman kehidupan.

Jika modal tersebut dipadukan dengan kecakapan digital, santri dapat mengambil peran lebih luas dalam menyampaikan pesan-pesan kebaikan.

Dakwah digital tidak harus selalu berupa ceramah panjang. Ia dapat hadir melalui tulisan singkat yang mencerahkan, infografik yang mudah dipahami, video yang mendidik, atau penjelasan mengenai nilai-nilai Islam yang disampaikan secara santun dan bertanggung jawab.

Tentu, konten keagamaan harus memperhatikan ketepatan sumber dan tidak disampaikan secara sembarangan. Santri perlu memahami batas kompetensinya, merujuk kepada guru atau ahli yang berwenang ketika diperlukan, serta menghindari penyebaran informasi keagamaan yang belum terverifikasi.

Dengan pendekatan tersebut, teknologi tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk belajar, berkarya, dan menyebarkan manfaat.

Belajar dari Pertanyaan Para Santri

Salah satu hal yang berkesan dalam pertemuan di Ashabul Qur’an Center Bekasi adalah derasnya pertanyaan yang disampaikan para santri.

Bagi seorang narasumber, pertanyaan peserta merupakan bagian penting dari proses belajar. Pertanyaan membantu mengidentifikasi kebutuhan, membuka sudut pandang baru, dan mengembangkan diskusi ke arah yang lebih relevan.

Saya memandang kegiatan seperti ini bukan semata-mata kesempatan untuk menyampaikan materi, melainkan juga ruang untuk bertukar pemikiran dan belajar memahami generasi yang sedang tumbuh di tengah perubahan digital.

Santri memiliki potensi besar untuk berkembang. Mereka membutuhkan lingkungan yang mendukung, kesempatan untuk mencoba, bimbingan yang tepat, serta kepercayaan untuk mengembangkan kemampuan.

Ketika santri diberi ruang untuk bertanya dan berpikir, proses pendidikan dapat bergerak melampaui kegiatan menghafal informasi. Mereka belajar memahami persoalan, menyampaikan gagasan, dan mempertimbangkan pilihan secara bertanggung jawab.

Harapannya, pengalaman diskusi ini menjadi salah satu pemantik semangat bagi para santri untuk terus memperkuat keimanan, memperluas pengetahuan, dan mengembangkan prestasi.

Ini presentasi saya yang tercatat berjumlah 1.344 sejak tahun 1990, jika ingin tahu jejak-jejak yang lain silahkan lihat disini.  Dokumentasi foto dan video-video dokumentasi kegiatan saya yang lebih 5.93 K subscribernya dan lebih dari 2.000 videonya ada di channel youtube saya @dwitagama, ratusan foto-foto ada di  fanpage facebook atau facebook saya, ada juga di Blog Trainer Kita, ratusan slide saya bisa dilihat dan diunduh di slideshare.net/dwitagama, slide-slide yang saya proses dengan AI (Artificial Intelligent) bisa anda lihat disini, penggemar podcast bisa simak celoteh saya Podcast Negeri Paman Besut di spotify, kegiatan training-training dan seminar-seminar saya bisa dinikmati di akun tiktok@dwitagama, ada juga  di instagram @dwitagama,  celoteh pribadi saya ada di blog pendidik, opini saya tersimpan dengan sangat baik di kompasiana.com/dwitagama, hasil hunting foto saya didokumentasikan di blog fotodedi, adakah wajah anda kenal atau ada wajah yang anda kenal?.

Menyiapkan Generasi Santri Masa Depan

Pertemuan bersama para santri Pondok Pesantren Ashabul Qur’an Center Bekasi mengingatkan kita bahwa tantangan pendidikan masa kini membutuhkan pendekatan yang relevan dengan kehidupan peserta didik.

Teknologi akan terus berkembang. Perangkat dan aplikasi yang digunakan hari ini mungkin akan berubah dalam beberapa tahun mendatang. Namun, nilai kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, adab, dan semangat belajar akan tetap menjadi bekal penting bagi kehidupan.

Santri masa depan diharapkan tidak hanya mampu mengikuti perubahan, tetapi juga memiliki karakter untuk mengarahkan pemanfaatan teknologi menuju hal-hal yang bermanfaat.

Mereka dapat tumbuh menjadi pribadi yang shalih dalam perilaku, cerdas dalam berpikir, berprestasi dalam karya, dan peduli terhadap masyarakat.

Terima kasih kepada Pondok Pesantren Ashabul Qur’an Center Bekasi atas kepercayaan dan kesempatan untuk berdiskusi bersama para santri. Semoga pertemuan ini membawa manfaat dan menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam menyiapkan generasi yang berakhlak baik, berpengetahuan luas, serta mampu berkontribusi positif di era digital.

Bagi sekolah, pesantren, perguruan tinggi, komunitas pendidikan, dan lembaga yang ingin menyelenggarakan seminar, diskusi interaktif, pelatihan, atau workshop tentang pengembangan karakter, motivasi belajar, kecakapan digital, pemanfaatan AI dalam pendidikan, maupun pengembangan potensi peserta didik, saya terbuka untuk berdiskusi mengenai kebutuhan kegiatan tersebut.

Informasi mengenai aktivitas dan dokumentasi kegiatan dapat ditelusuri melalui Trainer Kita.

Sebab, pendidikan bukan hanya tentang menyampaikan pengetahuan, melainkan juga membuka ruang dialog, menumbuhkan keberanian berpikir, dan menginspirasi peserta didik agar mampu memberikan manfaat bagi kehidupan.

Sampai bertemu di majelis ilmu berikutnya!

Dedi Dwitagama
Pendidik, trainer, dan narasumber pendidikan

#1.344-1990/011-2026/01-10

1.343: Saat 30 Tangan Lebih Terangkat – Sosialisasi NAPZA di SMAN 75 Jakarta Utara

JAKARTA UTARA – Di ruangan yang dipenuhi lebih dari 250 siswa kelas X, tangan-tangan terangkat bergantian. Ada yang bertanya sambil berdiri, ada yang masih setengah ragu tetapi tetap mengangkat tangan. Pada Senin (5/10/2026), sosialisasi bahaya NAPZA di SMAN 75 Jakarta Utara berubah dari penyampaian materi menjadi percakapan terbuka antara pemateri dan para pelajar.

Total ada lebih dari 30 penanya. Sebuah angka yang jarang dicapai di kegiatan sosialisasi dengan peserta sebanyak itu.

Bukan Sekadar Ceramah

NAPZA adalah singkatan dari Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya. Sosialisasi ini memperkenalkan ketiga kelompok tersebut kepada siswa, mulai dari pengertiannya dan cara kerjanya memengaruhi otak dan tubuh, hingga dampaknya pada belajar, pergaulan, keluarga, dan masa depan.

Pendekatannya sengaja dibuat dua arah. Materi disesuaikan dengan apa yang ingin diketahui para siswa, sehingga pembahasan bergerak mengikuti rasa ingin tahu mereka, bukan sekadar urutan slide.

“Suasananya seru,” tapi seruuuu, saya sukaaaaaaa. “Saya lelah, tapi senang, karena bisa masuk ke materi dari apa yang memang dibutuhkan anak-anak.”

Pertanyaan yang Muncul

Banyaknya penanya menunjukkan satu hal: remaja punya banyak pertanyaan tentang NAPZA, tetapi sering tidak tahu harus bertanya ke mana. Ruang yang aman dan tidak menghakimi membuat mereka berani bicara.

  • “Pak, kalau orang dekat kita yang pakai, kita harus gimana?”
  • “Vape itu termasuk NAPZA nggak sih?”
  • “Kenapa orang yang sudah tahu bahayanya masih mau pakai?”
  • “Kalau kita sudah kecanduan, masih bisa sembuh nggak?”
  • “Kalau rokok berbahaya buat kesehatan kenapa boleh dijual?”
  • “Bagaimana cara bilang ‘tidak’ tanpa dijauhi teman?”

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini penting karena ancaman bagi remaja sering datang dalam bentuk yang tidak terlihat berbahaya: ajakan dari teman, rasa penasaran, atau anggapan bahwa “sekali coba tidak apa-apa”.

Pesan yang Dibawa Pulang

Beberapa pesan utama yang ditekankan dalam sosialisasi ini:

  1. Zat adiktif tidak hanya narkoba yang dikenal luas. Rokok, vape, alkohol, dan penyalahgunaan obat juga termasuk dalam cakupan NAPZA.
  2. Kecanduan adalah masalah kesehatan. Pecandu butuh pendampingan dan pemulihan, bukan dijauhi.
  3. Menolak itu keren. Berkata “tidak” adalah keterampilan hidup yang bisa dilatih.
  4. Cerita kepada orang yang dipercaya. Orang tua, guru, atau konselor bisa menjadi tempat pertama untuk meminta bantuan.

Catatan untuk Sekolah dan Penyelenggara

Antusiasme siswa kelas X ini memberi pelajaran bagi sekolah dan panitia kegiatan sejenis. Sosialisasi paling efektif ketika siswa diberi ruang bertanya, materi menjawab kebutuhan nyata mereka, dan suasananya cukup santai untuk jujur. Satu sesi tidak cukup, tetapi bisa menjadi pembuka bagi program pencegahan yang berkelanjutan, seperti konseling, kegiatan ekstrakurikuler, dan pelibatan orang tua.

Bagi para siswa, pertanyaan yang diajukan hari itu semoga menjadi awal dari kebiasaan yang lebih berani: mencari tahu, memilah informasi, dan menjaga diri sendiri serta teman-temannya.

Terima kasih kepada pihak SMAN 75 Jakarta Utara, Ibu ST Muflikhatus Sukriyati, M.Pd, Kepala SMAN 75 Jakarta, Bapak Teguh Karya, S.Pd dan Bapak Dedi Azhari, S.Pd, Guru PJOK SMAN 75 Jakarta dan Bapak, Ibu Guru sudah support sessi saya di Aula dan jadi audiens yang luar biasa. Kalian hebat. Pertanyaan-pertanyaan kalian menunjukkan kalian peduli — bukan cuma pada diri sendiri, tapi pada teman-teman kalian.

Ingat satu hal: berani bertanya adalah tanda cerdas. Berani menolak ajakan yang salah adalah tanda kuat. Dan berani membantu teman yang sedang bermasalah adalah tanda sahabat sejati., dan seluruh siswa kelas X atas sambutan yang hangat.

Perjalanan 1.343 panggung sejak tahun 1990 telah memberikan pengalaman empiris yang kaya dalam membersamai berbagai instansi, sekolah, kampus, majelis taklim, maupun perusahaan. Jika ingin tahu jejak-jejak yang lain silahkan lihat disini.  Dokumentasi foto dan video kegiatan training-training dan seminar-seminar saya bisa dinikmati di akun tiktok@dwitagama, ada juga  di instagram @dwitagama, ratusan foto-foto ada di  fanpage facebook atau facebook saya, ada juga di Blog Trainer Kita, ratusan slide saya bisa dilihat dan diunduh di slideshare.net/dwitagama, slide-slide yang saya proses dengan AI (Artificial Intelligent) bisa anda lihat disini, penggemar podcast bisa simak celoteh saya Podcast Negeri Paman Besut di spotify, celoteh pribadi saya ada di blog pendidik, opini saya tersimpan dengan sangat baik di kompasiana.com/dwitagama, hasil hunting foto saya didokumentasikan di blog fotodedi, dan video-video dokumentasi kegiatan saya yang lebih 5.92 K subscribernya dan lebih dari 2.000 videonya ada di channel youtube saya @dwitagama, adakah wajah yang anda kenal atau ada wajah anda sendiri?.

Butuh Pembicara untuk Seminar Parenting, Workshop, atau Pelatihan?

Perjalanan 1.343 panggung sejak 1990 membawa saya bertemu banyak sekolah, kampus, majelis taklim, komite sekolah, instansi, dan perusahaan. Kalau sekolah, komite, ormas, atau kantor Anda sedang menyusun agenda dan mencari narasumber, mungkin kita bisa bersinergi. Topik yang biasa saya bawakan antara lain:

  • Anti-Bullying (Mencegah dan Mengatasi Perundungan)
  • Blogging – Creativ Writting (Menulis dan Mengelola Blog)
  • HIV – AIDS (Mencegah terinfeksi dan Pengobatan)
  • Leadership (Kepemimpinan Pelajar, Mahasiswa, Dewasa)
  • Literasi (Minat Baca dan Menulis)
  • Parenting Skill (Keterampilan Pengasuhan Orang Tua)
  • Pencegahan Narkoba bagi Remaja & Pelajar
  • Pendidikan Seks Bebas (Edukasi Kesehatan Reproduksi & Moral Remaja)
  • Personal Branding (Pelajar, Mahasiswa, Guru, Kepala Sekolah)
  • Public Speaking & Effective Communication

Kami siap hadir untuk berbagi ilmu dan inspirasi di tempat Anda.

#1.343-1990/011-2026/01-10

1.342: Ketika Orang Tua Ikut “Sekolah”- Seminar Parenting Skill di SMKN 8 Jakarta

Rabu, 23 September 2026. Kalau biasanya saya berdiri di depan anak-anak SMK, kali ini yang duduk di kursi aula adalah ayah dan ibu mereka.

Saya percaya satu hal: anak yang hebat tidak lahir hanya dari sekolah yang hebat. Ia tumbuh dari rumah yang mau belajar. Karena itu, undangan dari SMKN 8 Jakarta untuk mengisi Seminar Parenting Skill bagi Orang Tua Murid saya sambut dengan gembira. Ini presentasi saya yang ke-1.342 sejak tahun 1990.

Anak SMK Itu “Setengah Dewasa”

Usia SMK adalah masa yang unik. Badannya sudah mirip orang dewasa, HP-nya lebih canggih dari HP orang tuanya, pendapatnya banyak. Tapi emosinya masih naik-turun dan sangat mudah terpengaruh teman.

Di usia inilah orang tua sering merasa “kok anak saya jadi susah diatur?”

Padahal sering kali anaknya bukan susah diatur. Cara kita mengaturnya yang perlu diperbarui. Cara mengasuh anak SD tidak bisa dipakai untuk anak usia 16 tahun.

Yang Kami Bahas Bersama

Sesi berlangsung santai. Saya tidak mau orang tua pulang hanya membawa catatan, tapi membawa hal yang besok pagi bisa langsung dicoba di rumah. Beberapa poinnya:

  1. Dengarkan dulu, nasihati kemudian. Anak remaja sering berhenti bercerita bukan karena tidak percaya, tapi karena capek dihakimi. Jadilah tempat pulang yang aman, bukan ruang sidang.
  2. Teladan mengalahkan ceramah. Kita minta anak lepas dari gawai, padahal kita sendiri makan malam sambil scroll. Kita larang anak merokok, padahal asap dari teras rumah sendiri. Anak itu peniru ulung, bukan pendengar setia.
  3. Bicara dengan bahasa mereka. Bukan berarti ikut ber-“lo-gue” atau menirukan gaya Gen Z. Yang penting nada bicaranya: kalimat yang mengajak, bukan memerintah.
  4. Kenali dunia mereka. Media sosial, game, tongkrongan, sampai tren yang sedang ramai. Orang tua tidak perlu jadi ahli, cukup mau tahu.
  5. Waspadai tiga “pintu bahaya”. Narkoba, perundungan (bullying), dan pergaulan bebas. Ketiganya sering saling berkelindan: satu pintu terbuka, yang lain gampang ikut masuk. Orang tua adalah benteng pertama sebelum sekolah dan aparat.
  6. Sinergi rumah dan sekolah. Guru mendidik enam sampai delapan jam sehari, orang tua sisanya. Kalau dua-duanya jalan sendiri-sendiri, anak yang bingung.

Sesi Tanya Jawab: Selalu Jadi Bagian Terbaik

Seperti biasa, bagian yang paling hidup adalah tanya jawab. Para orang tua bertanya soal hal-hal yang benar-benar mereka hadapi di rumah: anak yang lebih percaya kata teman, anak yang tiba-tiba pendiam, anak yang susah lepas dari HP, sampai bagaimana memantau tanpa terkesan memata-matai.

Yang membuat saya terharu, banyak ayah dan ibu yang berani bilang, “Saya juga masih belajar, Pak.” Justru dari sikap itulah perubahan dimulai. Orang tua yang mau belajar akan membuat anaknya ikut mau belajar.

Terima kasih kepada Kepala SMKN 8 Jakarta Ibu Rustini, M.Pd Kepala SMKN 8 Jakarta yang berkenan bersinergi dengan saya, Ibu Paryaningsih, M.Pd, para guru, panitia, dan seluruh orang tua murid atas sambutan dan energinya. Semoga apa yang kita obrolkan hari itu benar-benar sampai ke meja makan di rumah masing-masing.

Mendidik anak itu bukan soal siapa yang paling pintar menasihati, tapi siapa yang paling sabar mendengar dan paling konsisten memberi contoh.

Butuh Pembicara untuk Seminar Parenting, Workshop, atau Pelatihan?

Perjalanan 1.342 panggung sejak 1990 membawa saya bertemu banyak sekolah, kampus, majelis taklim, komite sekolah, instansi, dan perusahaan. Kalau sekolah, komite, ormas, atau kantor Anda sedang menyusun agenda dan mencari narasumber, mungkin kita bisa bersinergi. Topik yang biasa saya bawakan antara lain:

  • Parenting Skill (Keterampilan Pengasuhan Orang Tua)
  • Public Speaking & Komunikasi Efektif
  • Literasi (Minat Baca dan Menulis)
  • Pencegahan Narkoba bagi Remaja dan Pelajar
  • Anti-Bullying (Mencegah dan Mengatasi Perundungan)
  • Edukasi Pergaulan Remaja (Kesehatan Reproduksi & Moral)

Jejak kegiatan saya yang lain bisa dilihat di blog Trainer Kita, foto dan video ada di Instagram, TikTok, dan YouTube @dwitagama, dan ratusan slide bisa diunduh di slideshare.net/dwitagama. Adakah wajah yang Anda kenal, atau jangan-jangan wajah Anda sendiri?

Kalau berminat berdiskusi, silakan kontak di +62 812 8534836 atau lewat Instagram/TikTok @dwitagama.

Ini presentasi saya yang ke-1.342 sejak tahun 1990, jika ingin tahu jejak-jejak yang lain silakan lihat disini.

Never stop empowering people… kalo kamu?

1.341: Seminar Parenting untuk Orang Tua di SMKN 8 Jakarta

Kegiatan ini terasa sangat istimewa dan memiliki makna mendalam pada tanggal 22 September 2026. Sesi di SMK Negeri 8 Jakarta ini resmi tercatat sebagai presentasi atau panggung ke-1.341 saya sejak mulai berkiprah sebagai pembicara publik dan trainer pada tahun 1990.

Antusiasme kian terasa hidup tatkala sesi tanya jawab dibuka. Banyak orang tua yang antusias berkonsultasi mengenai dinamika keseharian mendampingi anak remaja mereka di rumah. Sinergi yang kuat antara pihak sekolah dan orang tua murid terbukti menjadi kunci utama dalam mencetak generasi muda yang cerdas, berkarakter, dan berakhlak mulia.

Butuh Pembicara untuk Seminar, Workshop, atau Pelatihan?

Perjalanan 1.341 panggung sejak tahun 1990 telah memberikan pengalaman empiris yang kaya dalam membersamai berbagai instansi, sekolah, kampus, majelis taklim, maupun perusahaan. Jika ingin tahu jejak-jejak yang lain silahkan lihat disini.  Dokumentasi foto dan video kegiatan training-training dan seminar-seminar saya bisa dinikmati di akun tiktok@dwitagama, ada juga  di instagram @dwitagama, ratusan foto-foto ada di  fanpage facebook atau facebook saya, ada juga di Blog Trainer Kita, ratusan slide saya bisa dilihat dan diunduh di slideshare.net/dwitagama, slide-slide yang saya proses dengan AI (Artificial Intelligent) bisa anda lihat disini, penggemar podcast bisa simak celoteh saya Podcast Negeri Paman Besut di spotify, celoteh pribadi saya ada di blog pendidik, opini saya tersimpan dengan sangat baik di kompasiana.com/dwitagama, hasil hunting foto saya didokumentasikan di blog fotodedi, dan video-video dokumentasi kegiatan saya yang lebih 5.92 K subscribernya dan lebih dari 2.000 videonya ada di channel youtube saya @dwitagama, adakah wajah yang anda kenal atau ada wajah anda sendiri?.

Bagi institusi, sekolah, komite, ormas, atau perusahaan yang memerlukan narasumber, trainer, atau pembicara profesional untuk berbagai topik penting seperti:

  • Parenting Skill (Keterampilan Pengasuhan Orang Tua)
  • Public Speaking & Effective Communication
  • Literasi (Minat Baca dan Menulis)
  • Pencegahan Narkoba bagi Remaja & Pelajar
  • Anti-Bullying (Mencegah dan Mengatasi Perundungan)
  • Pendidikan Seks Bebas (Edukasi Kesehatan Reproduksi & Moral Remaja)

1.340: Pecah! Lebih dari 300 Siswa SMKN 8 Jakarta “Serbu” Tanya Jawab Soal Narkoba, Bullying, dan Seks Bebas

Jumat, 11 September 2026 kemarin menjadi hari yang luar biasa seru! Saya kembali mendapat kehormatan untuk berdiri di depan ratusan anak muda keren — kali ini giliran SMKN 8 Jakarta.

Siapa sangka, ini adalah presentasi saya yang ke-1.340 sejak tahun 1996. Angka yang lumayan bikin senyum-senyum sendiri sepanjang perjalanan pulang. Konsistensi yang terus berjalan karena energi luar biasa dari anak-anak didik kita di berbagai sekolah.

Tema yang diusung kali ini sebenarnya cukup “berat” dan sensitif untuk anak SMK zaman sekarang: Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba, Bullying, dan Pergaulan Bebas. Tiga topik yang kalau dipikir-pikir, saling berkelindan — satu pintu terbuka, monster yang lain gampang ikut masuk. Tapi, siapa bilang bahas topik serius harus bikin ngantuk? Bersama lebih dari 300 siswa kelas X yang memadati ruangan, suasananya justru berubah jadi super gairah dan penuh energi!

Mengapa Remaja Perlu Diberi “Vaksin” Informasi?

Usia masuk SMK adalah masa-masa transisi yang krusial. Mereka sedang asyik-asyiknya mencari jati diri. Kalau tidak dibekali benteng informasi yang kuat sejak dini, mereka gampang sekali tergelincir oleh lingkungan sekitar.

Dalam sesi kemarin, kami membedah habis tiga “monster” yang diam-diam mengintai masa depan remaja kita:

  • Narkoba: Bukan cuma merusak fisik secara perlahan, tapi langsung mematikan kreativitas dan memutus masa depan. Ingat kata pepatah lama, ujung-ujungnya pecandu itu cuma tiga hal: Ketangkep, Gila, atau Mati!
  • Bullying: Luka di fisik mungkin bisa sembuh dalam hitungan hari, tapi luka di hati karena dirundung bisa membekas seumur hidup dan merusak mental anak. Sekolah harus jadi tempat yang aman untuk dibina, bukan tempat untuk saling menyakiti!
  • Seks Bebas: Konsekuensi psikologis, kesehatan, dan hancurnya mimpi-mimpi masa depan yang dipertaruhkan hanya demi kesenangan sesaat.

Antusiasme yang “Pecah”!

Yang membuat saya paling bahagia adalah sesi tanya jawabnya. Anak-anak SMKN 8 Jakarta benar-benar berani dan kritis! Mereka “menyerbu” dengan berbagai pertanyaan riil yang sering mereka temui di tongkrongan maupun media sosial. Ruangan aula penuh dengan interaksi aktif, tawa, dan sesekali keheningan yang dalam saat mereka merenungkan poin-poin penting dari materi.

Dokumentasi foto lengkap dan video-video seru selama kegiatan berlangsung sengaja saya kumpulkan agar rekam jejak digital ini bisa terus dipelajari. Bagi yang penasaran dengan keseruannya, silakan intip album kegiatannya langsung di Facebook Album Pencegahan Narkoba SMKN 8 Jkt atau tonton cuplikan videonya di YouTube @dwitagama.

Terima kasih banyak untuk kepala sekolah, jajaran guru, dan seluruh siswa kelas X SMKN 8 Jakarta atas sambutan dan energinya yang luar biasa. Perjalanan berbagi ke-1.340 ini benar-benar menancap dalam di memori.

Never stop empowering people… kalo kamu?