Menjembatani Teknologi dan Pendidikan Sejak 2006
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Cara guru mengajar, cara peserta didik belajar, serta cara lembaga pendidikan mengelola pengetahuan terus berkembang mengikuti kemajuan zaman. Di tengah perubahan tersebut, kemampuan memanfaatkan teknologi secara tepat menjadi salah satu kompetensi penting bagi para pendidik.
Sejak 2006, Dedi Dwitagama telah aktif memenuhi undangan berbagai institusi untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman mengenai pemanfaatan TIK dalam dunia pendidikan. Perjalanan panjang tersebut menjadi bagian dari komitmennya untuk mendorong para pendidik agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan menggunakannya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Kini, ketika dunia pendidikan memasuki era kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), komitmen tersebut terus berlanjut.
Pada Kamis, 29 Oktober 2026, Dedi Dwitagama mendapat kehormatan untuk menjadi narasumber dalam seminar nasional yang diselenggarakan oleh KOGTIK PGRI dalam rangkaian kegiatan Indocomtech 2026. Pada kesempatan ini, materi pemanfaatan TIK dalam dunia pendidikan akan diperkaya dengan pembahasan mengenai perkembangan dan pemanfaatan AI.

Dari Pemanfaatan TIK Menuju Kecerdasan Buatan
Ketika teknologi digital mulai berkembang dan digunakan dalam kegiatan pendidikan, tantangan yang dihadapi guru adalah memahami berbagai perangkat dan aplikasi yang dapat mendukung proses pembelajaran. Teknologi tidak cukup sekadar dikenal, tetapi perlu dimanfaatkan secara tepat agar memberikan nilai tambah bagi guru maupun peserta didik.
Dalam perjalanannya sejak 2006, berbagai kesempatan berbagi pengetahuan tentang TIK telah menjadi ruang bagi Dedi Dwitagama untuk mengajak para pendidik melihat teknologi sebagai sarana pengembangan kualitas pendidikan.
Perkembangan teknologi kemudian membawa dunia pendidikan pada babak baru. Kehadiran kecerdasan buatan membuka peluang yang semakin luas untuk membantu guru menyiapkan pembelajaran, mengembangkan gagasan, menyusun bahan ajar, mengeksplorasi metode pembelajaran, serta menciptakan pengalaman belajar yang lebih beragam.
Namun, kemajuan tersebut juga menghadirkan tantangan. Guru perlu memahami cara kerja teknologi AI, mengenali keterbatasannya, memeriksa kebenaran informasi yang dihasilkan, serta mempertimbangkan aspek etika, privasi, dan tanggung jawab dalam penggunaannya.
Oleh karena itu, pembahasan mengenai AI dalam pendidikan tidak seharusnya berhenti pada pengenalan aplikasi atau demonstrasi kecanggihan teknologi. Hal yang lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut dapat digunakan untuk menjawab kebutuhan nyata dalam proses pembelajaran.
Guru Tetap Menjadi Penentu
Kehadiran AI memunculkan berbagai pertanyaan di kalangan pendidik. Apakah AI akan menggantikan peran guru? Bagaimana guru dapat memanfaatkannya tanpa kehilangan kreativitas dan kemandirian profesional? Bagaimana memastikan peserta didik tetap berpikir kritis ketika berbagai informasi dan jawaban dapat diperoleh dengan mudah melalui teknologi?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital dalam pendidikan bukan semata-mata persoalan perangkat, melainkan juga persoalan pola pikir, kompetensi, karakter, dan budaya belajar.
AI dapat membantu mempercepat pekerjaan tertentu, menyediakan alternatif gagasan, dan mendukung proses eksplorasi pengetahuan. Akan tetapi, guru tetap memiliki peran penting dalam membangun karakter, menanamkan nilai, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, serta membimbing peserta didik agar mampu menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Dengan demikian, tantangan pendidikan masa kini bukan sekadar mengajarkan cara menggunakan teknologi, melainkan membangun kemampuan untuk memilih, mengevaluasi, dan memanfaatkannya secara bijaksana.
Guru perlu terus belajar agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu mengarahkan pemanfaatannya untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna.
Konsistensi Berbagi Sejak 2006
Perjalanan Dedi Dwitagama dalam membahas pemanfaatan TIK di dunia pendidikan sejak 2006 memperlihatkan pentingnya konsistensi dalam mengikuti perubahan zaman. Teknologi yang digunakan pada masa awal perjalanan tersebut tentu berbeda dengan berbagai perangkat digital dan aplikasi berbasis AI yang berkembang saat ini.
Perubahan itu menuntut kemauan untuk terus belajar, memperbarui pengetahuan, dan menyesuaikan pendekatan penyampaian materi dengan kebutuhan peserta.
Bagi seorang pendidik dan narasumber, pengalaman panjang bukanlah alasan untuk berhenti belajar. Sebaliknya, pengalaman dapat menjadi modal untuk memahami perubahan sekaligus membantu orang lain menghadapinya.
Melalui berbagai forum pendidikan, pelatihan, seminar, dan kegiatan berbagi pengetahuan, Dedi Dwitagama terus mengambil bagian dalam mendorong pemanfaatan teknologi yang relevan dengan kebutuhan guru dan lembaga pendidikan.
Informasi mengenai kegiatan dan pengalamannya dalam dunia pelatihan pendidikan dapat diakses melalui blog Trainer Kita di trainerkita.wordpress.com.

Berbagi Pengetahuan di Indocomtech 2026
Undangan dari KOGTIK PGRI untuk menjadi narasumber dalam seminar nasional pada rangkaian Indocomtech 2026 menjadi salah satu kesempatan untuk melanjutkan perjalanan tersebut.
Penambahan materi AI dalam pembahasan pemanfaatan TIK menunjukkan bahwa kompetensi digital pendidik perlu terus berkembang mengikuti perubahan. Guru tidak cukup hanya mengetahui keberadaan teknologi baru, tetapi juga perlu memahami relevansi, peluang, risiko, serta cara penerapannya dalam kegiatan pendidikan.
Forum seperti ini juga menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan, memperluas wawasan, dan membangun kesadaran bersama bahwa kemajuan teknologi perlu diiringi peningkatan kompetensi manusia yang menggunakannya.
Harapannya, pembahasan mengenai TIK dan AI tidak berhenti sebagai pengetahuan yang diperoleh selama seminar, tetapi berlanjut menjadi inspirasi untuk melakukan perubahan nyata di lingkungan sekolah.
Teknologi Berubah, Semangat Belajar Harus Tetap Menyala
Perjalanan dari pemanfaatan TIK hingga eksplorasi kecerdasan buatan mengingatkan kita bahwa dunia pendidikan selalu bergerak. Teknologi yang hari ini dianggap baru, suatu saat akan menjadi bagian biasa dari kehidupan sehari-hari. Karena itu, kemampuan belajar dan beradaptasi menjadi bekal yang semakin penting bagi setiap pendidik.
Bagi Dedi Dwitagama, berbagi pengetahuan mengenai teknologi pendidikan sejak 2006 hingga kini merupakan bagian dari perjalanan untuk terus belajar bersama para guru dan insan pendidikan.
Melalui kegiatan seminar, pelatihan, dan forum pengembangan profesional, ia terus mendorong pendidik agar mampu memanfaatkan teknologi secara kreatif, kritis, etis, dan bertanggung jawab.
Sebab, pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi yang tersedia, tetapi juga oleh kemampuan manusia dalam menggunakannya untuk membangun pengetahuan, mengembangkan potensi, dan menciptakan masa depan yang lebih baik.
Teknologi akan terus berkembang. Guru yang terus belajar akan selalu memiliki kesempatan untuk tumbuh dan menginspirasi.
















































