Kemampuan berbicara di depan umum bukan sekadar keterampilan merangkai kata, melainkan kemampuan menyampaikan gagasan, membangun kepercayaan diri, dan memengaruhi orang lain melalui komunikasi yang bertanggung jawab.
Ada hal menarik ketika saya, Dedi Dwitagama, mendapat kesempatan memberikan training public speaking kepada sekitar 30 murid kelas 7/7IT3/7ITFINITY3 SMP Islam PB Soedirman Bekasi pada 25 Oktober 2026.

Pertemuan yang berlangsung dengan suasana penuh energi itu memperlihatkan satu hal penting: ketika anak-anak diberi ruang untuk bertanya dan menyampaikan pemikiran, proses belajar bisa berkembang jauh melampaui penyampaian materi oleh seorang narasumber.
Peserta tidak sekadar hadir sebagai pendengar. Mereka terlibat aktif, mengajukan pertanyaan, dan menunjukkan rasa ingin tahu yang patut diapresiasi.
Bahkan, ada peserta yang mengajukan pertanyaan beberapa kali. Menariknya, pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan bukan sekadar untuk mendapatkan perhatian, tetapi memiliki kualitas yang menunjukkan kesungguhan dalam memahami materi.
Bagi saya, situasi seperti ini merupakan bagian penting dari pendidikan.

Public Speaking Bukan Sekadar Berani Memegang Mikrofon
Banyak orang menganggap public speaking hanya berkaitan dengan kemampuan berbicara di depan banyak orang. Padahal, keterampilan ini memiliki cakupan yang lebih luas.
Public speaking mencakup kemampuan menyusun gagasan, memahami siapa yang menjadi pendengar, memilih kata yang tepat, mengatur intonasi, menunjukkan bahasa tubuh yang sesuai, serta menyampaikan pesan secara jelas dan meyakinkan.
Keberanian berbicara memang penting, tetapi keberanian saja tidak cukup. Seseorang perlu memiliki sesuatu yang bermakna untuk disampaikan, memahami tujuan komunikasinya, dan mampu menghargai orang yang mendengarkan.
Karena itu, pembelajaran public speaking bagi murid SMP sebaiknya tidak berhenti pada latihan berdiri di depan kelas. Murid juga perlu dibiasakan berpikir kritis, menyampaikan pendapat dengan santun, mendengarkan tanggapan orang lain, serta menerima perbedaan pandangan. Keterampilan tersebut akan bermanfaat ketika mereka mengikuti diskusi kelas, melakukan presentasi kelompok, berorganisasi, mengikuti lomba, hingga kelak memasuki dunia kerja.

Pertanyaan Adalah Tanda Proses Belajar Sedang Bergerak
Salah satu bagian yang membuat training ini terasa hidup adalah interaksi peserta. Pertanyaan datang silih berganti. Ada peserta yang bertanya sekali, ada pula yang kembali mengangkat tangan untuk memperdalam pembahasan. Saya selalu menikmati situasi seperti ini.
Bagi seorang trainer, pertanyaan peserta merupakan kesempatan untuk mengetahui bagaimana mereka memahami materi, apa yang membuat mereka penasaran, dan bagian mana yang perlu dijelaskan lebih lanjut. Peserta yang bertanya berulang kali pun tidak seharusnya langsung dianggap mengganggu. Selama dilakukan dengan cara yang baik dan pertanyaannya relevan, sikap tersebut justru bisa menunjukkan rasa ingin tahu dan kemauan belajar.
Tentu, kemampuan bertanya juga perlu diimbangi dengan kemampuan mendengarkan. Komunikasi yang baik bukan hanya tentang bagaimana seseorang menyampaikan pikirannya, melainkan juga bagaimana ia memberikan ruang kepada orang lain untuk berbicara. Di sinilah public speaking bertemu dengan keterampilan komunikasi yang lebih mendasar: berpikir, berbicara, dan mendengarkan.

Sekolah Perlu Memberi Ruang untuk Berlatih
Kemampuan berbicara tidak tumbuh hanya dengan membaca teori atau menghafal definisi. Murid perlu mendapatkan kesempatan untuk berlatih secara langsung, mencoba menyampaikan gagasan, menerima masukan, lalu memperbaiki penampilannya.
Guru dapat memulainya melalui kegiatan sederhana: presentasi singkat, bercerita di depan kelas, diskusi kelompok, simulasi wawancara, debat yang sehat, atau menyampaikan pendapat terhadap suatu persoalan. Tidak semua murid langsung berani berbicara di depan banyak orang. Sebagian membutuhkan waktu lebih lama untuk mengatasi rasa gugup.
Karena itu, lingkungan belajar harus memberikan rasa aman. Jangan mempermalukan murid yang salah mengucapkan kata, lupa materi, atau belum mampu menyampaikan gagasan dengan lancar. Sebaliknya, berikan umpan balik yang membantu mereka berkembang. Tujuan akhirnya bukan membuat semua murid menjadi pembicara profesional, melainkan membekali mereka dengan kemampuan mengomunikasikan gagasan secara efektif dalam berbagai situasi.

Belajar dari SMP Islam PB Soedirman Bekasi
Pertemuan bersama sekitar 30 murid SMP Islam PB Soedirman Bekasi ini kembali mengingatkan saya bahwa semangat belajar dapat tumbuh ketika peserta mendapatkan ruang untuk terlibat aktif. Pertanyaan yang terus bermunculan menjadi bagian menarik dari proses tersebut.
Bagi saya, training bukan sekadar menyelesaikan sejumlah materi dalam waktu yang telah ditentukan. Training juga merupakan proses membangun pengalaman belajar yang memungkinkan peserta menemukan pemahaman baru tentang dirinya dan kemampuan yang bisa dikembangkan. Setiap anak memiliki potensi. Tugas pendidikan adalah menyediakan kesempatan agar potensi tersebut tumbuh melalui latihan, pengalaman, pendampingan, dan keberanian untuk mencoba.
Murid yang hari ini masih gugup ketika berbicara di depan kelas mungkin suatu hari mampu memimpin diskusi, menyampaikan presentasi penting, atau mengomunikasikan gagasan yang bermanfaat bagi banyak orang. Semua itu membutuhkan proses. Dan proses tersebut bisa dimulai dari kesempatan sederhana untuk berdiri, berbicara, dan didengarkan.
Terima kasih kepada Kepala SMP Islam Bekasi, Bapak H. Gusfian Muslim, Lc, M.Hum., Wali Kelas 7/7IT3/7ITFINITY3 SMP Islam PB Soedirman Bekasi Bapak Suhendra, SE, Bapak Ibu Guru dan para Orang Tua murid yang support dan menemani anak” hebat mengikuti pelatihan public speaking, juga terima kasih kepada Orang Tua, keluarga Faradiba yang berkenan menjadi lokasi kegiatan.

Membawa Public Speaking ke Sekolah Anda
Sebagai pendidik, trainer, dan narasumber, saya, Dedi Dwitagama, senang mendapatkan kesempatan untuk berbagi pengalaman dan memfasilitasi proses belajar bersama murid, guru, maupun komunitas pendidikan. Public speaking merupakan salah satu materi yang dapat dikembangkan sesuai kebutuhan peserta, mulai dari keberanian berbicara, teknik presentasi, komunikasi efektif, hingga kemampuan menyampaikan gagasan secara meyakinkan.
Saya juga terbuka untuk berkolaborasi dalam berbagai kegiatan pendidikan, seperti pelatihan kepemimpinan, motivasi pelajar, pendidikan karakter, pengembangan kompetensi guru, dan pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran. Harapannya sederhana: setiap pertemuan memberikan manfaat yang dapat dibawa pulang dan dipraktikkan setelah kegiatan berakhir.
Jika sekolah, lembaga pendidikan, organisasi, atau komunitas Anda membutuhkan narasumber untuk kegiatan training maupun seminar, saya siap berdiskusi mengenai kebutuhan dan format kegiatan yang sesuai.

Informasi mengenai aktivitas dan pengalaman kegiatan saya dapat dibaca melalui blog Trainer Kita:
🌐 https://trainerkita.wordpress.com
Karena kemampuan berbicara bukan hanya tentang bagaimana kita terdengar oleh orang lain, tetapi juga bagaimana gagasan kita dapat dipahami, dihargai, dan memberikan manfaat.
Perjalanan 1.349 panggung sejak tahun 1990 telah memberikan pengalaman empiris yang luar biasa dalam membersamai berbagai instansi, sekolah, kampus, majelis taklim, maupun perusahaan. Jika ingin tahu jejak-jejak yang lain silahkan lihat disini. Dokumentasi foto dan video kegiatan training-training dan seminar-seminar saya bisa dinikmati di akun tiktok@dwitagama, ada juga di instagram @dwitagama, ratusan foto-foto ada di fanpage facebook atau facebook saya, ada juga di Blog Trainer Kita, ratusan slide saya bisa dilihat dan diunduh di slideshare.net/dwitagama, penggemar podcast bisa simak celoteh saya Podcast Negeri Paman Besut di spotify, celoteh pribadi saya ada di blog pendidik, opini saya tersimpan dengan sangat baik di kompasiana.com/dwitagama, hasil hunting foto saya didokumentasikan di blog fotodedi, dan video-video dokumentasi kegiatan saya yang lebih 5.92 K subscribernya dan lebih dari 2.000 videonya ada di channel youtube saya @dwitagama.
Sampai bertemu di ruang belajar berikutnya.
#1.349-1990/017-2026/07-10








































