Pertama kali minum kopi bukan seduh seperti kapal api melainkan distro seperti starbucks atau cafe mungkin semasa kuliah. Waktu itu belum tahu kenikmatan mengulik kopi hitam. Yang saya pesan tentunya kopi seperti latte hazelnut, capucino, frapucino, dan sejenisnya yang dimix dengan susu.
Beberapa waktu berlalu saya mulai mencoba kopi hitam rutin saat kerja. Saat berpindah menjadi pekerjaan desk office, tuntutan pekerjaan membuat saya harus lebih melek. Saya masih belum bisa minum kopi hitam pahit tanpa gula. Saya minta dibuatkan office boy (OB) dan hasilnya lumayan. Entah kenapa takaran kalau bikin sendiri selalu aneh dan rasanya tidak enak. Pernah suatu ketika saya minum ampas kopi saja. Aduh.
Lambat laun saya mulai disuguhkan berbagai jenis kopi single origin. Awalnya gara-gara ada dinas ke daerah daerah untuk sosialisasi aplikasi. Mulailah satu persatu menjajal kopi daerah. Kopi bangka belitung, Kopi sumatra, kopi kalimantan, kopi sulawesi. Aroma dari kopi-kopi tersebut beraneka ragam. Saya jadi tertarik mencicipi berbagai jenis single origin tersebut. Sejujurnya saya masih nggak bisa membedakan mana kopi yang mana. Kenapa kopi yang diproses dengan satu cara bisa memberikan rasa yang berbeda.
Selanjutnya saya mulai menemukenali manfaat kesehatan minum kopi hitam di waktu yang tepat. Awalnya saya pikir minum kopi buruk bagi saya yang kadang-kadang kambuhan sakit maag. Tapi dengan pemrosesan yang tepat, minum di jam yang membutuhkan kopi, serta tidak berlebihan (plus gak pakai gula). Saya mulai menikmati kopi hitam di kantoran. Masih pakai versi OB bukan versi mesin kopi. Jaman dulu, 2000 belasan, belum terkenal dan banyak dijumpai alat-alat kopi sekarang seperti french press, V60 drip, coldbrew, dan lain-lain.
Memang hobi mengulik kopi ini datangnya dari mood ya. Perlahan-lahan saya belajar betapa kompleks dunia perkopian ini. Mulai dari jenis kopi arabika v robusta, teknik pemrosesan (prosesi honey, natural, fully washed), tingkat roasting biji kopi (light, medium, dark), tingkat kehalusan penggilingan biji kopi (coarse, medium, fine grind), teknik brew dari v60, coldbrew, airpress, french press, espresso, dan lainnya. Saya sedikit-sedikit mulai membeli sendiri dari biji kopi sesuai kebutuhan, timbangan, penggiling manual, french press, dan ketel dengan termometer. Wow betapa sulit membuat kopi yang lumayan cocok di lidah.
Jika ekstraksi biji kopinya kurang (under extraction) nanti kopinya jadi asam dan asin, sebaliknya kalau kebanyakan (over extraction) nanti kopinya terlalu pahit. Mencari keseimbangan sangat susah. Jadi kupikir kopi asam itu lebih karena jenis kopinya (arabica atau robusta), tapi ternyata karena pembuat kopinya kurang mahir yang menyebabkan kopinya under extraction. Ada beberapa cara trial and error kalau hasil kopi kalian terasa asam/asin: naikan temperatur air, set waktu brewing lebih lama (lebih dari 4 menit untuk french press), pilih biji yang lebih dark roasted, atau digiling lebih halus dari sebelumnya.
So far kopi yang saya buat sendiri masih jauh dari kopi americano yang dibuat distarbuck (To be honest, espresso is too strong for me). Asam sudah berkurang, tapi masih agak asin. Masih belajar. Lagi hobby. Semoga berkah deh ya dan puas dengan kopi buatan sendiri. Terlebih dengan investasi yang kalau dihitung-hitung, kecil-kecil tapi mahal juga ya jatuhnya.
Salam, penikmat kopi.