Lompat ke isi

Bank Aladin Syariah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
PT Bank Aladin Syariah Tbk
Nama sebelumnya
PT MayBank Nusa International (1994–2000)
PT Bank Maybank Indocorp (2000–2010)
PT Bank Maybank Syariah Indonesia (2010–2019)
PT Bank Net Indonesia Syariah (2019–2021)
Jenis perusahaan
Perseroan terbatas publik, anak usaha
Kode emitenBEI: BANK
IndustriJasa keuangan
Didirikan16 September 1994; 31 tahun lalu (1994-09-16)
PendiriMaybank dan Bank Nusa
Kantor pusatCapital Place Lt. 27, Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 18
Jakarta Selatan, DKI Jakarta
Wilayah operasi
Indonesia
Tokoh kunci
Koko Rachmadi
(Direktur Utama)
Rudy Hamdani
(Komisaris Utama)[1]
Produk
PendapatanKenaikan Rp 820,58 miliar (2025)[1]
Kenaikan Rp 150,70 miliar (2025)[1]
Total asetKenaikan Rp 14,42 triliun (2025)[1]
Total ekuitasKenaikan Rp 3,28 triliun (2025)[1]
Karyawan
225 (2025)[1]
IndukPT Aladin Global Ventures (50,8%)[1]
Situs webwww.aladinbank.id

PT Bank Aladin Syariah Tbk adalah sebuah bank umum syariah swasta devisa di Indonesia yang menjalankan bisnisnya secara digital. Untuk mendukung kegiatan bisnisnya, hingga akhir tahun 2025, bank kecil beraset Rp 14 triliun ini memiliki 1 kantor yang berada di Jakarta.[1]

Anak usaha Maybank

[sunting | sunting sumber]

Pada mulanya PT Bank Aladin Syariah Tbk berdiri dengan nama PT MayBank Nusa International pada 16 September 1994[1] dan mendapatkan izin beroperasi dari Menteri Keuangan RI pada 10 November 1994.[2] Sesuai namanya, MayBank Nusa mulanya didirikan sebagai perusahaan patungan antara Malayan Banking Berhad (Maybank), BUMN perbankan Malaysia dan Bank Nusa Internasional yang merupakan anak usaha Grup Bakrie.[3] Adapun Maybank memegang 79% saham dan Bank Nusa 21% sisanya.[4] Bank ini merupakan bank pertama di Indonesia yang sahamnya dikuasai pemodal asal Malaysia.[3]

Peresmian berdirinya MayBank Nusa dilangsungkan pada 14 November 1994 melalui sebuah acara yang berlangsung di Hotel Shangri-La Jakarta, yang ikut dihadiri Perdana Menteri Malaysia (saat itu) Mahathir Mohamad. Dalam sambutannya Mahathir menyatakan harapannya MayBank Nusa bisa berkembang pesat sebagai bank terkemuka, dan meningkatkan perdagangan bilateral Indonesia-Malaysia.[3] Sedangkan operasionalnya baru mulai berjalan sejak Januari 1995.[5] Mengingat statusnya saat sebagai bank campuran, MayBank Nusa saat itu hanya berfokus pada sektor perbankan korporat dan komersial, yang masih dipertahankan hingga Maybank melepas sahamnya di tahun 2019.[1] Untuk memperkuat kerjasama dengan Bank Nusa, Maybank sempat dikabarkan akan berinvestasi di bank swasta tersebut lewat skema private placement.[6]

Adanya krisis moneter pada akhir 1990-an membuat kepemilikan MayBank Nusa berubah. Pada mulanya, seiring merger Bank Nusa Internasional dengan 3 bank Grup Bakrie lainnya (Bank Nasional, Bank Angkasa dan Bank Nasional Komersil) menjadi Bank Nusa Nasional (Bank BNN) di tahun 1998, saham Bank Nusa di MayBank Nusa pun ikut beralih ke BNN. Namun, adanya masalah BLBI yang disalurkan ke Bank BNN (ditambah kejatuhan Grup Bakrie akibat krisis) membuat saham bank tersebut terpaksa diserahkan ke Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Selanjutnya Maybank meningkatkan persentase sahamnya hingga mencapai 91%.[7]

Dengan perubahan kepemilikan tersebut, nama PT MayBank Nusa International pun berganti menjadi PT Bank Maybank Indocorp sejak 11 September 2000.[1] Sama seperti sebelumnya, Bank Maybank Indocorp tetap berfokus ke sektor korporasi dan perdagangan Indonesia-Malaysia. Per tahun 2006, Maybank Indocorp memiliki 2 kantor yang berlokasi di Jakarta, dan kepemilikan sahamnya dikuasai Maybank sebesar 96,83% dan Kemenkeu RI/Perusahaan Pengelola Aset (PT PPA, d/h BPPN) sebesar 3,17%.[8]

Menjadi bank syariah

[sunting | sunting sumber]

Akuisisi Maybank pada salah satu bank swasta terkemuka di Indonesia, Bank Internasional Indonesia (BII) di tahun 2008-2009 sempat hampir memengaruhi nasib Maybank Indocorp. Mulanya Maybank mempertimbangkan rencana penggabungan BII dan Maybank Indocorp,[9] atau memisahkan unit usaha syariah BII (BII Syariah) ke bank ini sebelum akhirnya dikonversi dari bank konvensional menjadi bank syariah. Isu tersebut beredar setelah Bank Indonesia mulai menerapkan kebijakan single presence policy. Namun, belakangan rencana tersebut batal, dan keputusan yang diambil hanyalah konversi menjadi bank syariah.[10] Hal ini disebabkan perbedaan segmentasi pasar antara BII/UUS BII Syariah dan Maybank Indocorp, yaitu ritel/UMKM dengan korporasi, ditambah kinerja Maybank Indocorp yang dirasa sudah berjalan tanpa hambatan.[11]

Adapun proses konversi tersebut mulai berlangsung sejak awal 2010,[10] yang dilanjutkan pemberian persetujuan dari Menkumham RI pada 8 Juni 2010 dan Bank Indonesia pada 23 September 2010.[12] Seiring diterimanya izin dari BI, pada hari yang sama nama bank berubah dari PT Bank Maybank Indocorp menjadi PT Bank Maybank Syariah Indonesia.[1] Adapun konversi bank dari konvensional ke syariah dilakukan pada 11 Oktober 2010.[13] Akhirnya, perubahan nama dan bisnis ini diresmikan pada 17 Desember 2010,[14] menjadikan Maybank Syariah sebagai bank umum syariah pertama yang mayoritas sahamnya dimiliki pemodal asing.[15] Selanjutnya, pada 19 Desember 2011 PT PPA melepas sahamnya kepada PT Prosperindo dan Maybank, yang kemudian masing-masing memiliki 1% dan 99% saham bank ini.[13]

Dengan aset pada awal beroperasi mencapai Rp 1 triliun,[16] Maybank Syariah Indonesia berfokus pada perbankan syariah bagi nasabah high-end dan sektor yang mencatatkan pertumbuhan tinggi. Hal ini diharapkan dapat membantu mewujudkan target Maybank sebagai bank syariah No. 1 di ASEAN pada 2015.[14] Meskipun demikian, dengan cakupan bisnis yang terbatas, Bank Maybank Syariah Indonesia memiliki skala yang amat kecil jika dibandingkan dengan "saudara tiri"-nya, BII (kemudian menjadi Bank Maybank Indonesia sejak 2015). Per tahun 2018 saja, aset Maybank Syariah Indonesia hanya mencapai Rp 661 miliar,[13] jauh dibandingkan Maybank Indonesia yang sebesar Rp 163 triliun.[17] Dengan adanya dua "Maybank Syariah" yang berbeda di Indonesia (UUS Maybank Indonesia dan Maybank Syariah Indonesia), wacana penggabungan keduanya sering muncul, meskipun kebanyakan hanya berakhir sebagai wacana dan kajian semata.[18]

Pergantian pemilik dan menjadi bank digital

[sunting | sunting sumber]
Logo Bank Net Syariah (2019-2021)

Pada 15 Mei 2019, Maybank dan PT Prosperindo meneken kesepakatan untuk menjual 100% saham mereka kepada dua perusahaan, yaitu PT Aladin Global Ventures (dahulu PT NTI Global Indonesia) dan PT Berkah Anugerah Abadi (BAA). Transaksi tersebut diselesaikan per 31 Januari 2020,[1] dengan PT NTI kini menguasai 70% dan sisanya PT BAA.[19] Adapun NTI (diduga) merupakan singkatan dari Nojorono Tobacco International, salah satu perusahaan kretek terkemuka di Indonesia, dimana salah satu pimpinan perusahaan adalah John Dharma Kusuma yang merupakan generasi ketiga dari pendiri Nojorono.[20] Meskipun demikian, relasi Nojorono dan NTI hanya sebatas kesamaan pengendali.[21] Sementara itu PT BAA dikendalikan oleh Roby Tan, yang merupakan pemilik sejumlah perusahaan teknologi.[22] Namun, komposisi saham tersebut tidak bertahan lama, karena per 17 Desember 2020 NTI menaikkan kepemilikannya menjadi 97,5%, sedangkan sisanya dipegang PT Alphaplus Adiguna Asia.[19]

Pergantian kepemilikan itu dilanjutkan dengan perubahan nama perusahaan dari PT Bank Maybank Syariah Indonesia menjadi PT Bank Net Indonesia Syariah mulai 20 Desember 2019.[23] Tidak lama kemudian, Bank Net Syariah melakukan penawaran umum perdana di Bursa Efek Indonesia pada 22 Januari 2021.[1] Perusahaan melepas 34,17% sahamnya ke masyarakat dengan harga penawaran Rp 103/lembar.[24] Dua bulan setelah IPO, bank ini kembali mengganti namanya menjadi nama saat ini, yaitu PT Bank Aladin Syariah Tbk terhitung sejak 7 April 2021, dilanjutkan pergantian nama pemegang saham dari PT NTI Global Indonesia menjadi mengikuti nama anak usahanya, yaitu PT Aladin Global Ventures per 24 September 2021.[1] Meskipun demikian, pengendali Aladin tetap berada di tangan John Dharma Kusuma.[20] Adapun nama "Aladin" diambil dari paduan kata "Ala" yaitu dengan atau di atas, dan "Din" berarti jalan kehidupan atau kepercayaan. Aladin digunakan sebagai nama yang mudah diingat, serta diharapkan bisa merangkul berbagai kalangan.[25]

Untuk mempersiapkan rencana transformasi bank dari bank corporate menjadi bank syariah digital pertama, pemilik baru kemudian menunjuk pimpinan baru. Di direktur utama ditempatkan nama Dyota Marsudi, putra dari Menteri Luar Negeri (saat itu) Retno Marsudi. Sementara itu direktur lain dijabat sejumlah mantan eksekutif perusahaan dompet elektronik OVO. Belum lagi desas-desus bahwa Bank Aladin tengah didekati investor strategis seperti raksasa teknologi Sea Limited.[26] Setelah semua persiapan selesai, pada Januari 2022 perusahaan meluncurkan aplikasi perbankan digitalnya ke masyarakat. Beberapa fitur yang dihadirkan seperti Ala Dompet, Ala Impian, Ala Berbagi, penyaluran ZISWAF, dan masih banyak lagi. Demi memperkuat jangkauannya, sejak 27 Juni 2022 Bank Aladin juga menjalin kerjasama dengan minimarket Alfamart. Lewat kemitraan ini, nasabah bank bisa melakukan setor tunai melalui kasir Alfamart, begitu juga adanya program kredit yang dikembangkan dalam ekosistem raksasa ritel tersebut.[27]

Lewat pengembangan fitur tersebut, Bank Aladin yang lahir di tengah gelombang perbankan digital era pandemi COVID-19 pun berhasil meraih 1,1 juta pengguna per September 2022.[28] Angka tersebut naik menjadi 2,4 juta per awal 2023, yang juga diikuti peningkatan penyaluran kredit dan dana pihak ketiga. Semua itu diraih dengan rasio kecukupan modal yang mencapai 189% dan kredit macet 0%.[29] Untuk meningkatkan kinerjanya, beberapa fitur terus diluncurkan seperti Ala Deposito dan Banking as a Service. Belum lagi kerjasama dengan Muhammadiyah dan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), dimana dengan yang terakhir ini bisa membuat Bank Aladin menerima setoran haji dan umrah.[1] Per tahun 2025, Bank Aladin mencatatkan aset Rp 14,4 triliun, pembiayaan Rp 5,2 triliun, dan nasabah 3,7 juta pengguna.[30]

Manajemen

[sunting | sunting sumber]
  • Komisaris Utama/Independen: Rudy Hamdani
  • Komisaris Independen: Fransisca Ekawati
  • Komisaris Independen: Nurhasanah
  • Direktur Utama: Koko Tjatur Rachmadi
  • Direktur: Baiq Nadea Dzurriatin
  • Direktur: Jo Anula Putra
  • Direktur: Arief Satrio Putra
  • Ketua Dewan Pengawas Syariah: Asrorun Soleh
  • Anggota Dewan Pengawas Syariah: Sholahudin Al Aiyub
  • Anggota Dewan Pengawas Syariah: Muhammad Rofiq[30]

Bank ini berpusat di Jakarta, dan hanya memiliki 1 kantor pusat dengan tidak memiliki kantor cabang.[1]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 "Laporan Tahunan 2025" (PDF). PT Bank Aladin Syariah Tbk. Diakses tanggal 21 Januari 2022.
  2. Perbankan Indonesia pasca krisis: analisis, prospek, dan profil
  3. 1 2 3 UPACARA RASMI PENUBUHAN P.T. MAYBANK NUSA INTERNATIONAL
  4. The Rise of the Corporate Economy in Southeast Asia
  5. Indonesia Bank Directory
  6. Warta ekonomi: mingguan berita ekonomi & bisnis
  7. The Role of Foreign Banks in Post-crisis Asia: The Importance of Method of Entry
  8. Indonesia Bank Directory
  9. Tempo
  10. 1 2 Maybank Indocorp Segera Berganti Menjadi Bank Umum Syariah
  11. Maybank Syariah Beroperasi Juli
  12. Perubahan nama dan kegiatan usaha
  13. 1 2 3 LapTahunan BMSI 2018
  14. 1 2 Maybank launches Syariah bank in Indonesia, eyes top Islamic bank spot in Asean
  15. Political Economy of Islamic Banking in Indonesia: The Political Superstructure of Sharia Banking Policy in 1992-2011
  16. Dapat Izin BI, Maybank Syariah Beroperasi Sejak 11 Oktober
  17. LapkeuTahunan BNII 2018
  18. Maybank Indonesia Kaji Transformasi Unit Usaha Syariah
  19. 1 2 Prospektus BANK 2021
  20. 1 2 Mengenal John Kusuma, Crazy Rich Kudus di Balik Bank Aladin
  21. Pengendali Saham Bank Aladin Ganti Nama, Siapa yang Punya?
  22. Passpod Rights Issue, Pembelinya Eks Pemilik Bank Net Syariah
  23. Pengumuman Perubahan Nama Bank
  24. Bank Net Syariah Raih Rp515 Miliar Dari IPO
  25. Anak Menlu Jadi Bos, Waspada..Saham BANK Sudah Meroket 2.800%
  26. Ngaku Didekati Shopee, Ini Sepak Terjang Bank Aladin Syariah
  27. Annual report BANK 2022
  28. Bank Aladin (BANK) Tambah 1,1 Juta Nasabah Berkat Alfamart (AMRT)
  29. Terus kuatkan perbankan digital syariah, Bank Aladin Syariah tumbuh semakin solid
  30. 1 2 Bank Aladin Syariah Gelar RUPS 2026, Catatkan Pertumbuhan Kinerja Positif dan Perkuat Strategi Ekspansi Ekosistem Digital

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]