見出し画像

東京ジャーミィで見た、インドネシアと日本をつなぐ結婚式(Versi Bahasa Indonesia ada di bawah)

先日、知り合いのインドネシア人の方にお誘いいただき、インドネシア人男性と日本人女性の結婚式に同席させていただいた。

場所は、代々木上原にあるモスク、東京ジャーミィ。私自身、ほぼ毎週ここでコーランの朗読を学んでいる。そういう意味では、全く知らない場所ではない。ただ、東京ジャーミィで結婚式に参加するのは初めてだった。

集合時間の10時少し前に到着した。おそらく式は2階の礼拝所で行われるのだろうと思い、まず礼拝所に上がってみた。しかし、そこには結婚式の雰囲気はなかった。

そこで1階のホールに行くと、結婚式の案内があり、大勢の人が受付をしていた。新郎側の関係者と思われるインドネシアの方々が多くいらっしゃるように見えた。

このホールにはこれまで何度も入ったことがある。しかし、この日は結婚式の会場として整えられていた。奥には新郎新婦が並ぶひな壇があり、そこに向かって椅子が100席ほど並べられていた。

私は一番後ろの席に座り、式が始まるのを待った。

その間、新郎のご両親にご挨拶させていただいた。お二方ともインドネシアの方で、お母様は和服を着ておられ、流暢な日本語を話されていた。日本に長く住まれ、日本の社会にも自然に溶け込まれているのだろうと感じた。

時間になると、司会の方が案内を始めた。式はすべてインドネシア語で進められるとのことだった。少なくとも、インドネシア語を理解する方々が多く参加されている式なのだと感じた。

まず、新郎がご両親とともに入場した。続いて、新婦もご両親とともに入場し、ひな壇に座った。お二人とも、とてもよい笑顔をされていた。

会場内の美しい飾り付け

その後、東京ジャーミィのイマームが入って来られた。私は直接お話ししたことはないが、これまで何度かお見かけしたことのある方だった。

イマームは、新郎新婦それぞれに誓いの言葉を述べさせた。その様子は、日本でよく見る結婚式で、誓いを確認する場面と重なるものを感じた。

その後、新郎新婦は何かの書面に署名していた。私の席からは内容までははっきり見えなかったが、結婚に関する契約書、あるいは証明書のようなものではないかと思った。

続いて、新郎新婦の近くに座っていた二人の男性に対して、イマームが証人としての確認を求めていた。詳しい意味をすべて理解できたわけではないが、イスラムの結婚式では、証人の存在が大切にされるのだろうと感じた。そして、その証人と思われる方々も、同じ書面に署名していた。

その後の写真撮影では、その書面を参列者に見せるようにして撮影していた。単なる形式ではなく、二人の結婚が証人の前で確かめられ、書面としても残されるのだと感じた。

その後、指輪の交換も行われた。この点は、日本でよく見る結婚式とも重なるところがあり、少し親しみを感じた。

その後、どなたかのお話があり、続いて新郎新婦のご両親がひな壇に上がった。そして、新郎新婦がそれぞれの両親一人ひとりに感謝の言葉を述べていた。

マイクが入っていなかったため、何を話しているのかまでは分からなかった。しかし、一人ひとりにかなり時間をかけていたので、単なる形式的な挨拶ではなかったのだと思う。

その後、新郎のご両親からの挨拶があった。私は前からの予定があったため、ここで失礼させていただいた。

今回の式に参加して感じたのは、結婚という節目を迎えた二人の門出を祝うという基本の精神は、日本でもインドネシアでも変わらないということだった。

一方で、式の形には違いもあった。

私が参加していた時間には、飲食はなかった。日本では、例えば結婚式場のチャペルで式を挙げ、その後に披露宴で食事や余興を行う形が多い。私自身もそうだった。

しかし、この日の会場には椅子が並べられ、結婚の儀式とお披露目を中心にした場として整えられているように見えた。

ただ、内容を見ると、新郎新婦から両親への感謝の言葉や、両親からの挨拶など、日本では披露宴の中で行われるような要素も含まれていた。

そういう意味では、宗教的な儀式であると同時に、家族への感謝や、集まった人たちへのお披露目の場でもあったのだと思う。

横に座っていた若いインドネシア人女性とも少し話をした。その方も日本人と結婚されており、インドネシア人の知り合い向けには東京ジャーミィでお披露目をし、その後、日本人の知り合い向けには日本式の披露宴を行ったという。

どの形が一般的なのかは、私にはまだ分からない。また、私自身、日本の結婚式にも最近あまり出ていないので、今の日本で何が主流なのかも分からない。

それでも、今後、日本に住む外国人がさらに増えていけば、日本で結婚する外国人、あるいは国際結婚をする人たちも増えていくだろう。

その時、結婚式の形も、今までの日本式だけではなく、それぞれの国の文化、宗教、家族観を反映したものへと少しずつ広がっていくのではないかと思う。

今回見せていただいた式は、その一つの形だった。

派手な演出や宴会ではなく、家族、信仰、証人、そして共同体の中で、二人の結婚を確かめ、祝う場。

とても真面目で、温かい結婚式だった。

(Versi Bahasa Indonesia)

Upacara Pernikahan di Tokyo Camii yang Menghubungkan Indonesia dan Jepang

Beberapa waktu lalu, atas undangan seorang kenalan dari Indonesia, saya berkesempatan menghadiri upacara pernikahan antara seorang pria Indonesia dan seorang perempuan Jepang.

Tempatnya adalah Tokyo Camii, sebuah masjid yang terletak di Yoyogi-Uehara. Saya sendiri hampir setiap minggu belajar membaca Al-Qur’an di tempat ini. Jadi, bagi saya, Tokyo Camii bukanlah tempat yang asing. Namun, ini adalah pertama kalinya saya menghadiri upacara pernikahan di sana.

Saya tiba sedikit sebelum pukul 10, sesuai waktu berkumpul. Saya mengira upacara mungkin akan dilaksanakan di ruang salat di lantai dua, sehingga saya naik terlebih dahulu ke sana. Namun, tidak terlihat suasana seperti akan ada pernikahan.

Kemudian saya turun ke aula di lantai satu. Di sana ada papan petunjuk untuk acara pernikahan, dan banyak orang sedang melakukan penerimaan tamu. Saya melihat cukup banyak orang Indonesia, terutama dari pihak mempelai pria.

Saya sudah beberapa kali masuk ke aula ini sebelumnya. Namun pada kesempatan itu, suasananya benar-benar berbeda. Aula tersebut telah ditata sebagai tempat upacara pernikahan. Di bagian depan terdapat pelaminan tempat mempelai pria dan wanita duduk, dan kursi-kursi sekitar seratus buah disusun menghadap ke arah pelaminan.

Saya duduk di kursi paling belakang dan menunggu upacara dimulai.

Sambil menunggu, saya sempat menyapa orang tua mempelai pria. Keduanya adalah orang Indonesia. Ibunya mengenakan kimono dan berbicara bahasa Jepang dengan sangat lancar. Saya merasakan bahwa beliau sudah lama tinggal di Jepang dan telah menyatu dengan masyarakat Jepang secara alami.

Ketika waktunya tiba, pembawa acara mulai memberikan penjelasan. Upacara akan dilaksanakan sepenuhnya dalam bahasa Indonesia. Dari situ saya merasa bahwa banyak hadirin dalam acara ini adalah orang-orang yang memahami bahasa Indonesia.

Pertama, mempelai pria masuk bersama kedua orang tuanya. Kemudian mempelai wanita juga masuk bersama kedua orang tuanya dan duduk di pelaminan. Keduanya tampak tersenyum dengan sangat bahagia.

Setelah itu, imam dari Tokyo Camii masuk. Saya belum pernah berbicara langsung dengan beliau, tetapi sudah beberapa kali melihat beliau sebelumnya.

Imam meminta kedua mempelai untuk mengucapkan janji masing-masing. Melihat suasana itu, saya merasa ada kesamaan dengan bagian pengucapan janji dalam upacara pernikahan yang sering saya lihat di Jepang.

Setelah itu, kedua mempelai menandatangani suatu dokumen. Dari tempat duduk saya, isi dokumen itu tidak terlihat jelas. Namun, saya menduga itu adalah semacam dokumen perjanjian atau surat keterangan yang berkaitan dengan pernikahan.

Kemudian, imam meminta konfirmasi kepada dua orang laki-laki yang duduk di dekat mempelai sebagai saksi. Saya tidak memahami semua maknanya secara rinci, tetapi saya merasakan bahwa dalam pernikahan Islam, keberadaan saksi memiliki arti yang penting. Para saksi tersebut juga tampaknya menandatangani dokumen yang sama.

Dalam sesi foto setelah itu, dokumen tersebut diperlihatkan kepada para hadirin saat pengambilan gambar. Saya merasa bahwa pernikahan ini bukan sekadar bentuk formalitas, tetapi benar-benar ditegaskan di hadapan para saksi dan juga dicatat dalam bentuk dokumen.

Setelah itu dilakukan pertukaran cincin. Bagian ini juga memiliki kesamaan dengan upacara pernikahan yang sering dilihat di Jepang, sehingga saya merasa sedikit akrab dengannya.

Setelah itu, ada sambutan dari seseorang. Kemudian orang tua kedua mempelai naik ke pelaminan, dan kedua mempelai menyampaikan kata-kata terima kasih kepada masing-masing orang tua.

Karena suara mikrofon tidak terdengar jelas dari tempat saya, saya tidak dapat memahami isi pembicaraan mereka. Namun, mereka berbicara cukup lama kepada setiap orang tua, sehingga saya merasa itu bukan sekadar ucapan formal.

Setelah itu, ada sambutan dari orang tua mempelai pria. Karena saya sudah memiliki rencana sebelumnya, saya pamit meninggalkan acara pada bagian ini.

Dari upacara ini, saya merasakan bahwa semangat dasar untuk merayakan dua orang yang memasuki tahap baru dalam hidup mereka tidak berbeda antara Jepang dan Indonesia.

Di sisi lain, bentuk upacaranya memang berbeda.

Selama saya mengikuti acara tersebut, belum ada makan atau minum. Di Jepang, biasanya pasangan melaksanakan upacara di kapel atau tempat pernikahan, kemudian dilanjutkan dengan resepsi yang disertai makan, minum, dan berbagai acara. Pernikahan saya sendiri dulu juga seperti itu.

Namun, pada kesempatan itu, aula disusun dengan kursi-kursi dan terlihat ditata terutama sebagai tempat untuk upacara pernikahan dan perkenalan kedua mempelai kepada para hadirin.

Meski demikian, di dalam acara tersebut terdapat juga unsur-unsur yang di Jepang biasanya muncul dalam resepsi, seperti ucapan terima kasih dari mempelai kepada orang tua, serta sambutan dari orang tua.

Dalam arti itu, acara ini bukan hanya upacara keagamaan, tetapi juga menjadi tempat untuk menyampaikan rasa terima kasih kepada keluarga dan memperkenalkan pasangan kepada orang-orang yang hadir.

Saya juga sempat berbicara sedikit dengan seorang perempuan muda Indonesia yang duduk di sebelah saya. Beliau juga menikah dengan orang Jepang. Menurut ceritanya, untuk kenalan dari Indonesia, mereka mengadakan acara perkenalan di Tokyo Camii, kemudian untuk kenalan dari Jepang, mereka mengadakan resepsi dengan gaya Jepang.

Saya belum tahu bentuk seperti apa yang paling umum. Selain itu, saya sendiri sudah lama tidak menghadiri pernikahan di Jepang, sehingga saya juga tidak tahu secara pasti bentuk pernikahan seperti apa yang sekarang menjadi arus utama di Jepang.

Namun, jika jumlah orang asing yang tinggal di Jepang terus bertambah, tentu akan semakin banyak pula orang asing yang menikah di Jepang, atau pasangan yang menikah secara internasional.

Ketika itu terjadi, bentuk pernikahan di Jepang mungkin tidak hanya terbatas pada gaya Jepang yang selama ini umum, tetapi perlahan-lahan akan berkembang dengan mencerminkan budaya, agama, dan pandangan keluarga dari masing-masing negara.

Upacara yang saya saksikan kali ini adalah salah satu bentuk dari perubahan itu.

Bukan sebuah pesta yang meriah dengan banyak pertunjukan atau jamuan besar, melainkan sebuah tempat di mana pernikahan dua orang ditegaskan dan dirayakan di tengah keluarga, iman, saksi, dan komunitas.

Itu adalah upacara pernikahan yang sangat tulus, khidmat, dan hangat.

いいなと思ったら応援しよう!