見出し画像

ラマダンの夜に聞いた、お金と信仰の話(Versi Bahasa Indonesia ada di bawah)

ラマダン期間中に、在日インドネシア人のムスリム向けに行われたオンラインセミナーに参加した。

以前、同じようなセミナーに会場で参加したことがある。その時のテーマは「心」だった。信仰を持って生きる上で、心をどう整えるか。そうした内容だったと記憶している。

今回も、生き方や心のありようを説く内容なのだろうと思っていた。
しかし、実際には少し違った。

主なテーマは、まさに日本に住むムスリムが、お金とどのように付き合っていくのか、というものだった。

資本主義の中で生きる私たち日本人にとって、お金を稼ぐこと自体は否定されるものではない。もちろん、行き過ぎた拝金主義には違和感を覚える人も多いだろうが、少なくとも家族を養い、生活を支え、将来に備えるために働き、収入を得ることは、ごく自然なこととして受け止められている。

では、宗教がそこに入るとどうなるのだろう。

私はどこかで、宗教とお金を結びつけると、清貧のような考え方になるのだろうかと思っていた。
しかし、それだけでは家族を食べさせていくことはできない。

そもそも、イスラムの聖地メッカ・メディナを有するサウジアラビアは、巨大な産油国でもある。中東の他のイスラム圏の国々にも、豊かな資源を背景に経済を築いてきた国は少なくない。そう考えると、イスラムが「お金を稼ぐこと」自体を否定しているとは思えない。

では、セミナーではどのように語られるのだろうか。
そこに興味があった。

話を聞いて印象に残ったのは、イスラムでは礼拝と同じように、ザカート、つまり義務としての喜捨がとても重要だということだった。

喜捨をするためには、当然ながらお金が必要になる。
つまり、お金を得ることそのものが否定されているのではない。

ただし、問われるのは、そのお金をどう得たのか。そして、どう使うのかである。

根底には、お金もまた神から与えられたものだという考え方があるように感じた。だからこそ、それを自分だけのものとして抱え込むのではなく、正しく使うことが求められる。

不正な取引や賄賂が許されないのは当然として、利子を受け取ることも避けるべきものとされる。イスラム圏には、こうした考え方に基づいた金融機関もあるようだ。

しかし、日本ではイスラム金融は一般的ではない。
生活していく上で、銀行にお金を預けることはほぼ避けられない。銀行に預ければ、たとえわずかであっても利子がつく。

では、それをどう考えるのか。

セミナーでは、そうした利子についても、自分の利益として使うのではなく、寄附など、皆の役に立つことに回すという考え方が示されていた。

私はそこに、宗教的な原則を大切にしながらも、日本で暮らす現実に向き合う知恵を感じた。

イスラムが生活の隅々まで行き渡っている国であれば、当たり前に整っている仕組みも、日本では前提が違う。そのため、日本で暮らすムスリムの方々には、日々の生活の中で戸惑うことも多いのだろう。

そうした悩みに対して、信仰の原則を踏まえながら、現実に即した答えを示してくれる場があることは、とても大切だと思った。

セミナーではこのほか、日本からインドネシアへの送金を行っている会社の紹介もあった。また、家庭内でのお金の管理についての質問にも答えていた。

単なる宗教講話ではない。
在日インドネシア人が、日本で暮らしていく中で実際に直面する、お金に関する悩みに答える場だった。

オンライン参加だったため、セミナーが終了すると画面はそこで切れた。
しかし、会場ではおそらくその後、断食明けの軽食が出され、皆で礼拝を行い、その後に食事を共にする流れがあったのではないかと思う。

学び、祈り、食事を共にする。
そうした時間を通じて、互いの絆を確認できる場があることを、少しうらやましく感じた。

そして、そうした自分たちの社会の中に、非ムスリムである日本人も迎えてくれる。
その心遣いに、改めて感謝したいと思った。


(Versi Bahasa Indonesia)

Kisah tentang Uang dan Iman yang Saya Dengarkan pada Malam Ramadan

Pada bulan Ramadan, saya mengikuti sebuah seminar daring yang diadakan untuk Muslim Indonesia yang tinggal di Jepang.

Sebelumnya, saya pernah mengikuti seminar serupa secara langsung di lokasi. Saat itu, temanya adalah tentang “hati”. Saya ingat, isi seminar tersebut membahas bagaimana seseorang menjaga dan menata hati dalam menjalani hidup dengan iman.

Karena itu, saya mengira seminar kali ini juga akan membahas cara hidup atau keadaan hati. Namun, ternyata isinya sedikit berbeda.

Tema utamanya justru tentang bagaimana Muslim yang tinggal di Jepang sebaiknya berhubungan dengan uang.

Bagi kita orang Jepang yang hidup di tengah sistem kapitalisme, mencari uang pada dasarnya bukanlah sesuatu yang dianggap buruk. Tentu saja, banyak orang mungkin merasa tidak nyaman terhadap sikap yang terlalu memuja uang. Namun, bekerja dan memperoleh penghasilan untuk menghidupi keluarga, menopang kehidupan, dan mempersiapkan masa depan adalah sesuatu yang dianggap sangat wajar.

Lalu, bagaimana jika agama masuk ke dalam persoalan ini?

Entah mengapa, saya sempat membayangkan bahwa ketika agama dan uang dibicarakan bersama, mungkin yang ditekankan adalah hidup sederhana dan menjauh dari kekayaan. Namun, jika hanya demikian, bagaimana seseorang bisa memberi makan keluarganya?

Arab Saudi, yang memiliki dua kota suci Islam, Mekah dan Madinah, juga merupakan negara penghasil minyak yang sangat besar. Di kawasan Timur Tengah, banyak pula negara Muslim yang membangun kekuatan ekonomi dengan latar belakang sumber daya alam yang melimpah. Jika melihat hal itu, rasanya Islam tidak mungkin menolak kegiatan “mencari uang” itu sendiri.

Lalu, bagaimana hal ini dijelaskan dalam seminar?
Saya tertarik untuk mendengarnya.

Hal yang paling berkesan bagi saya adalah penjelasan bahwa dalam Islam, zakat, yaitu sedekah wajib, sangat penting, sama halnya dengan salat.

Untuk bisa berzakat, tentu seseorang membutuhkan uang.
Dengan kata lain, memperoleh uang itu sendiri bukanlah sesuatu yang ditolak.

Namun, yang dipertanyakan adalah bagaimana uang itu diperoleh, dan bagaimana uang itu digunakan.

Saya merasakan bahwa di balik itu terdapat pandangan bahwa uang juga merupakan sesuatu yang diberikan oleh Tuhan. Karena itu, uang tidak semestinya hanya digenggam untuk diri sendiri, tetapi harus digunakan dengan cara yang benar.

Tentu saja, transaksi yang tidak jujur dan suap tidak diperbolehkan. Selain itu, menerima bunga juga dianggap sebagai sesuatu yang harus dihindari. Di negara-negara Islam, tampaknya ada lembaga keuangan yang beroperasi berdasarkan pemikiran semacam ini.

Namun, di Jepang, sistem keuangan Islam belum umum.
Dalam kehidupan sehari-hari, hampir tidak mungkin untuk sama sekali tidak menyimpan uang di bank. Jika uang disimpan di bank, meskipun jumlahnya sangat kecil, bunga tetap akan muncul.

Lalu, bagaimana hal itu sebaiknya dipahami?

Dalam seminar dijelaskan bahwa bunga seperti itu sebaiknya tidak digunakan untuk keuntungan pribadi, melainkan disalurkan untuk hal-hal yang bermanfaat bagi masyarakat, misalnya melalui donasi.

Di sana saya merasakan adanya kebijaksanaan untuk tetap menjaga prinsip-prinsip agama, sambil menghadapi kenyataan hidup di Jepang.

Di negara tempat Islam hadir dalam berbagai sisi kehidupan, mungkin hal-hal seperti ini sudah memiliki sistem dan aturan yang wajar. Namun di Jepang, dasar kehidupan masyarakatnya berbeda. Karena itu, bagi Muslim yang tinggal di Jepang, pasti ada banyak hal dalam kehidupan sehari-hari yang menimbulkan kebingungan.

Saya merasa, tempat seperti seminar ini sangat penting, karena dapat memberikan jawaban yang sesuai dengan kenyataan hidup, sambil tetap berpegang pada prinsip-prinsip iman.

Selain itu, dalam seminar juga ada pengenalan mengenai perusahaan yang menyediakan layanan pengiriman uang dari Jepang ke Indonesia. Ada pula jawaban atas pertanyaan tentang pengelolaan uang dalam rumah tangga.

Ini bukan sekadar ceramah keagamaan.
Ini adalah sebuah ruang yang menjawab persoalan nyata tentang uang yang dihadapi oleh orang Indonesia yang tinggal di Jepang.

Karena saya mengikuti secara daring, layar terputus ketika seminar selesai. Namun, mungkin setelah itu di tempat acara, mereka menyantap makanan ringan untuk berbuka puasa, lalu salat bersama, dan kemudian makan bersama.

Belajar, berdoa, dan makan bersama.
Saya merasa sedikit iri melihat adanya tempat di mana orang-orang dapat meneguhkan kembali ikatan mereka melalui waktu seperti itu.

Dan saya juga merasa bersyukur atas perhatian mereka yang bersedia menerima orang Jepang non-Muslim seperti saya ke dalam ruang komunitas mereka.


いいなと思ったら応援しよう!