Feb 28, 2011

adam dan hawa

dan sekarang saya memilih untuk menulis, bukannya belajar an*ena buat kuis besok. semoga bukan pilihan yang salah.

sekilas tadi baca tentang ayat yang menceritakan tentang kisah Adam dan Hawa *bukan sinetron* di Taha 115-123. tentang bagaimana mereka 'diturunkan' dari surga akibat makan buah khuldi. padahal Allah sudah memberikan jaminan kalau mereka ga akan kelaparan, telanjang, kehausan, dan ditimpa panas matahari. intinya di surga semuanya udah ada, tapi karena kesalahan yang kecil saja mereka kehilangan semua itu seketika.

saya jadi mikir, kalau sekarang kita hidup dengan nyaman sentosa di rumah kita, mau apa aja ada. makanan, hiburan, tempat tidur, internet, terus tiba-tiba kita diusir dari rumah gara-gara makan buah duku yang dilarang sama si mamah. gara-gara duku sebiji, hilang semua kenikmatan yang sebelumnya kita miliki. is it that simple?

kenapa karena kesalahan yang kecil kaya gitu akibatnya bisa sebesar itu? apakah karena buah khuldinya? apa karena buah dukunya? *oke, kalo ga suka duku boleh diganti sama buah lain* sepelit itukah Allah? sepelit itukah mamah? ngga kan? iyalah pasti ada hal lain. perintah. Allah melarang Adam dan Hawa makan buah khuldi. udah, itu aja. aturan Allah kaya gitu. mudah sebenarnya untuk diikuti, kalau tidak ada bisikan dari setan. setan juga nyuruh mereka makan buah itu bukan karena itu buah khuldi kan? tapi karena dia pengen mereka menentang Allah. dan Allah jelas marah dong karena perintah-Nya dilanggar gara-gara mereka lebih milih ajakan setan. jadi wajarlah kalau Dia ngasih hukuman buat mereka. sekali lagi, bukan karena Allah ga mau buah khuldi-Nya dimakan mereka. terus katanya Allah Maha Kuasa? bisa aja kan Dia menjaga Adam dan Hawa agar selalu nurut sama perintah-Nya? ya pastinya itu mudah saja. tapi memang Dia sudah menciptakan skenario seperti itu. kenapa? jawabannya adalah qudrat iradat Allah. Maha Kuasa dan Maha Berkehendak. itu sudah kehendak-Nya. supaya bisa jadi pelajaran buat kita kan pastinya.

jadi sebenarnya Allah ingin menguji kita, manusia, mana yang mau nurut sama Dia, mana yang ngga. makanya dibuatlah aturan-aturan yang sudah terangkum dengan jelas dan rapi. tapi ya namanya manusia, ada yang lebih menuruti Allah dan ada yang lebih tunduk sama setan. padahal hukuman-hukumannya sudah jelas juga tertulis.

baru ngeh (lagi) aja kalau dulu dengan kesalahan kecil itu Adam dan Hawa sudah 'dihukum' seperti itu, bagaimana dengan saya yang entah sudah menabung kesalahan sebanyak apa. tulisan ini bahan instrospeksi aja sih. bukan berarti yang nulis sudah 100% benar, tapi bukan juga tocab2 belaka yang nantinya cuma berakhir jadi wacana. semoga semakin hari bisa semakin bisa mengurangi kesalahan dan menambah kebaikan. amin >.<

tentang hidup

memilih adalah tentang memahami konsekuensi
memutuskan adalah tentang berani menghadapi resiko
menyikapi adalah tentang cara berpikir dan berucap
menyesal adalah tentang memutuskan untuk memilih sikap yang salah

Feb 25, 2011

Petuah Berkomunikasi


Beberapa petuah dalam berkomunikasi:
  1. Jangan mengeluarkan kata-kata, baik yang halus maupun kasar dengan maksud untuk menyindir atau mengejek lawan bicara Anda dan memasang wajah tanpa ekspresi kemudian pergi begitu saja. KECUALI JIKA MEMANG PERLU. Karena hal ini hanya akan membuat lawan bicara Anda mungkin berpikir "Apaan sih ni orang" alih-alih tersindir dan memperbaiki kesalahannya. Sampaikanlah kritikan dengan baik-baik atau sambil bercanda. Kecuali pada orang-orang yang memang sudah sangat mengetahui karakter Anda dan dapat memakluminya.
  2. Jangan menginterupsi lawan bicara Anda yang sedang menceritakan sesuatu dengan kisah mengenai ANDA sendiri. Jangan mendominasi pembicaraan jika bukan Anda yang memulainya. *conditional, tergantung apa tujuan Anda berbicara*
  3. Berusahalah untuk selalu membalas pesan yang ditujukan pada Anda, sekalipun isinya hanya jarkom yang meminta konfirmasi kedatangan. Dengan tepat waktu. Tidak terlambat sehari, 2 hari, atau bahkan setelah lewat hari-H.
  4. Berkaitan dengan poin 3, pesan yang dimaksud adalah pesan yang cukup layak untuk dibalas. Diperkenankan untuk tidak membalas pesan jika hal itu akan melanggar batas-batas etika berkomunikasi dan hanya merugikan diri Anda sendiri.
  5. Berusahalah untuk selalu menatap lawan bicara Anda *dengan gender yang sama, tentunya* ketika sedang berkomunikasi secara langsung. Ini akan menunjukkan bahwa Anda antusias terhadap lawan bicara Anda.
  6. Bersikaplah tegas terhadap lawan bicara yang memang Anda harus tegas kepadanya.
  7. Jangan selalu bersikap skeptis tanpa ada dasar yang kuat. Tempatkanlah diri Anda di posisi lawan bicara Anda.
  8. Perhatikanlah selalu nada bicara Anda. Jangan terlalu keras, jangan terlalu lembut. Lihatlah siapa lawan bicara Anda.
Demikianlah beberapa poin yang dapat saya sampaikan berdasarkan pengalaman-pengalaman saya dan orang lain. Jika ada lagi diperkenankan untuk menambahkannya. Semoga setelah ini saya dan Anda tidak lupa untuk mengamalkan beberapa petuah sederhana ini. Amin.

Feb 24, 2011

fastabiqul khairat

Amal shaleh mah harus kilat teh, kan ceritanya fastabiqul khairat.. -seorang teman
 subhanallah.. memang sedang butuh banyak diingatkan seperti ini..

Feb 17, 2011

mirror mirror on the wall

mirror mirror on the wall
thanks for being my bestest friend after all

Feb 12, 2011

Refresh Your Spirit

baru-baru ini saya baca buku yang judulnya "Refresh Your Spirit" karangan Muhammad Husain Yaqub. pengen share aja dikit tentang yang saya baca.
1. Siapa Dirimu?
buku ini dimulai dengan pertanyaan 'Siapa dirimu?' sesuatu yang harus kita renungkan sebelum memberitahukannya kelak di hadapan para saksi di hari itu. kebanyakan dari kita berbuat untuk diri sendiri, lupa pada Allah yang telah menciptakan dirinya. memangnya Allah menciptakan kita tanpa ada maksud?
Apakah kamu menyangka bahwa itu semua Kami jadikan dengan sia-sia, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami ? (23:115)
sebenarnya apa sih tugas yang Allah amanahkan untuk kita? apa sih fungsi kita di dunia? apa sih peranan kita sebagai manusia?
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku (51:56)
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (2:30)
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat [1234] kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh (33:72)

[1234] Yang dimaksud dengan amanat di sini ialah tugas-tugas keagamaan.
dari ayat-ayat tersebut bisa diambil kesimpulan kalau tugas kita adalah untuk mengabdi pada-Nya (beribadah), fungsi kita adalah menjadi khalifah, dan peran kita sebagai manusia adalah untuk menegakkan Al-Quran. dan sudah sejauh mana kita menjalankan hal-hal tersebut? silakan dijawab oleh hati masing-masing.


2. Faktor Penyebab Melemahnya Komitmen

  • Hilangnya Kesungguhan Mengemban Amanat Dinul Islam
    Pertama, apa yang melatarbelakangi kita memeluk Islam? Kesenangankah? Hobikah? Keturunankah? Atau apa? Kenapa kita melaksanakan shalat? Kenapa kita mau mencari ilmu tentang Islam? Jika tidak semata-mata untuk Allah, maka itu semua ga akan diterima. Agak serem sih, selama ini kita merasa udah beribadah maksimal tapi ternyata ga dinilai sama sekali karena niat yang salah. Maka dari itu kita harus terus memurnikan niat kita, yaitu mengemban amanat Dinul Islam.
    • Kemewahan
    Ya sudah jelas, kehidupan mewah biasanya berkaitan erat dengan kenikmatan duniawi yang cuma bisa melalaikan kita dari kehidupan akhirat
      • Kerusakan Jahiliyah
      Yaitu dengan memasukkan karater jahiliyah ke dalam diri kita. Misalnya karakter cinta dunia, membanggakan diri, mencanangkan masa depan semata-mata duniawi, banyak makan dan tidur, banyak bicara, dll. Kita dapat belajar dari kisah kaum Nabi Musa. Mereka sudah diselamatkan dari Fir'aun tapi akhirnya mereka tidak mau mengikuti Nabi Musa. Mereka mempercayai Musa dalam suasana takut pada Fir'aun. Bukan karena komitmen itu sendiri sehingga itulah yang terjadi.
        3. Kiat Mengobati Lemahnya Komitmen
        1. Jujur dan Bersungguh-sungguh
        2. Melawan Keinginan Ego
        3. Menghindari Gejala Tidak Sungguh-sungguh
        4. Meningkatkan Ketaatan
        5. Tidak Mengulur-ulur Waktu
        6. Memeluk Islam Keseluruhan
        7. Setia dan Berkomitmen
        8. Tidak Banyak Mengeluh atau Mengadu dan Membesarkan Masalah
        - Penjelasan menyusul -

        Feb 10, 2011

        ko tau?

        saya: pa, pusing..
        papa: (meriksa)
        papa: stres ini mah
        saya: hah. stres apaan?
        papa: gara-gara ga ngerjain TA
        saya: -__-

        Feb 2, 2011

        menikah?

        sebelumnya saya menyatakan bahwa saya berada dalam kondisi stabil sestabil-stabilnya saat membuat tulisan ini.
        tadi saya buka facebook terus di home saya ada note teman tentang kehidupan dia setelah menikah. setelah saya baca, agak merinding juga. terus terang saya benar-benar tidak bisa membayangkan kehidupan saya setelah menikah nanti. gimana rasanya jauh dari orang tua, gimana rasanya 'mengurus' bukan lagi 'diurus'. bahkan saya yakin mama saya pun belum bisa membayangkan gimana kalo anak perempuan satu-satunya ini pergi dari rumah. mama pernah bilang kalau saya nanti menikah, tinggalnya tetap di rumah ini aja, nanti bangun lagi ke atasnya. adik saya juga gitu, nanti bangun lagi ke atasnya. ya kali mah. lama-lama ini rumah jadi rumah susun. ya terang aja saya kurang setuju sama usul itu. tapi wallahualam, gimana nanti aja.
        ya, jauh dari orang tua otomatis mesti melakukan segala hal sendiri. maklumlah, belum pernah ngekos jadi ga tau rasanya. hal yang cukup saya khawatirkan dari sekarang adalah masalah masak-memasak. terus terang level memasak saya masih sangat beginner. wah gimana kalo dites dulu sama mertua? gimana kalo kata suami masakannya ga enak? hiii ga kebayang.
        tapi yang jauh lebih penting dari itu adalah gimana caranya menjadikan pernikahan itu sebagai ibadah. gimana dua orang yang mungkin baru kenal atau sudah kenal lama bekerja sama dalam mencapai tujuan. ya ibarat organisasi, tugasnya berat tapi hanya dipegang oleh 2 orang saja. suami otomatis yang jadi ketua. merangkap juga sebagai danus (dana usaha). tapi istri? sebagai bendahara, sekretaris, konsumsi, logistik, pendidikan, danus juga mungkin, dan masih banyak yang lainnya. huah ternyata peran istri dalam sebuah keluarga itu sangat sangat besar, apalagi kalau sudah punya anak (mama... cupmuah).
        ya, menikah itu tidak hanya 'menyatukan rasa', tapi menyempurnakan separuh dien. menyempurnakan separuh dien bukan hanya memiliki imam untuk shalat berjamaah, bukan hanya ada yang membangunkan kita malam-malam untuk tahajud bersama, bukan hanya membuat masakan sahur untuk shaum senin-kamis, atau tadarusan bersama. tapi bagaimana menegakkan dien Allah dalam ruang lingkup sekecil itu, dalam rumah tangga. yang nantinya bersama-sama berjuang menegakkan dien di muka bumi. dan tentunya untuk mencapai hal itu kita harus melihat dulu ke dalam diri kita. apakah separuh dien yang ada di diri kita sudah sempurna untuk kemudian disatukan dengan yang lain? kalau dalam diri kita saja dien itu belum tegak bagaimana caranya mencapai cita-cita tertinggi tersebut?
        saya akui saya masih jauh sekali dari mendekati kesempurnaan. saya akui saya belum siap memiliki peran seperti yang telah disebutkan di atas. menikah masih sangat jauh dari pikiran saya sekarang. begitu pula dengan perangkat2 pernikahan itu sendiri, terutama calonnya. maka dari itu saya cuma bisa berdoa semoga kami dipertemukan nanti, di waktu yang tepat, saat kami sudah siap. tidak sekarang2 agar kami tidak terjerumus pada sesuatu yang tidak Kau ridhai.
        walaupun ga ada seorang pun yang tau kapan waktu yang tepat itu.